Anda di halaman 1dari 7

RESUM GENETIKA LANJUT

Plasmid & Episom

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Genetika Lanjut Yang Dibimbing Oleh

Prof. Dr. A.D. Corebima, M. Pd.

The Learning University

Oleh:

Mushoffa (1703864553)

Off C

PENDIDIKAN BIOLOGI PROGRAM MAGISTER


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Februari 2018
A. Resum Genetika
1. Plasmid

Dalam Gardner (1991) diterangkan bahwa plasmid merupakan replicon (sebuah unit
dari materi genetik yang mampu melakukan replikasi secara sendiri) yang diwariskan secara
stabil (dipertahankan tanpa seleksi tertentu) dan berada di luar kromosom (extra-chromosmal).
Plasmid merupakan molekul DNA ekstra kromosom atau “minichromosome” yang dapat
mereplikasi sendiri dari kromosom sel utama. Plasmid adalah salah satu vektor yang biasa
digunakan dalam proses pengklonan gen. Peran penting plasmid telah semakin dikenal selama
dua dekade terakhir. Plasmid telah teridentifikasi dalam hampir semua unsur bakteri yang di uji.
Mereka diketahui memiliki signifikansi praktik yang besar dalam dua area : (1) penyebaran
beberapa antibiotik dan resistansi obat pada bakteri patogen dan (2) instabilitas mikroorganisme
yang penting dalam industri.
Karakteristik yang penting dari plasmid adalah dapat melakukan replikasi, terdapat di
luar kromosom, dan secara genetik dapat ditransfer dengan stabil. Plasmid terdapat di dalam
sitoplasma, dan dapat melakukan replikasi secara autonom. Satu sel dapat mengandung lebih dari
satu kopi plasmid. Plasmid berukuran 1 – 300 kb, sehingga dapat dibedakan dengan mudah dari
kromosom bakteri yang berukuran 3000 – 5000 kb. Plasmid yang terlibat dalam proses konjugasi
(plasmid F) biasanya berukuran besar. Untuk replikasi plasmid dapat berada dalam keadaan
terpisah dari kromosom (non-integratif) dan terintegrasi dalam kromosom bakteri (episom).

Gambar model replikasi plasmid untai ganda. Gambar model replikasi plasmid untai tunggal
Gambar model replikasi plasmid linier

Plasmid bakteri diklasifikasi dalam berbagai cara, satu klasifikasi berdasarkan macam
informasi genetik khusus yang dibawa plasmid. Pada plasmid ini, terdapat plasmid yang
membawa gen-gen resistensi antibiotika yang dikenal sebagai plasmid R dan plasmid yang
menspesifikasi protein, dikenal sebagai plasmid kol dan terdapat dalam gandaan di dalam sel.
Replikasi plasmid tipe pertama tidak berhubungan dengan proses replikasi kromosomal dan
pembelahan sel, memiliki jumlah gandaan yang banyak, meskipun ada beberapa pengontrol
dalam replikasi plasmid. Replikasi plasmid tipe pertama tidak berhubungan dengan proses
replikasi kromosomal dan pembelahan.
Sedangkan plasmid yang kedua didasarkan pada kenyataan bahwa beberapa ada yang
konjugal dan yang lainnya non-konjugal (tidak dapat ditransmisi). Contoh dari plasmid
konjugatif adalah yang digolongkan ke dalam. Plasmid tipe ini plasmid replikasinya dikontrol
dengan cara yang sama seperti pada kromosom.
Ada 3 macam plasmid :
a. Plasmid F : Berfungsi dalam proses konjugasi dan dikenal pada berbagai bakteri. Plasmid
memiliki faktor F yang merupakan faktor konjugatif. Plasmid F terdiri dari sekitar 25 gen,
sebagian besar diperlukan untuk memproduksi pilli seks. Ahli-ahli genetika menggunakan
simbol F+ untuk menyatakan sel yang mengandung plasmid F (sel jantan). Plasmid F
bereplikasi secara sinkron dengan DNA kromosom dan pembelahan satu sel F+ biasanya
menghasilkan dua keturunan yang semuanya merupakan F+. Sel-sel yang tidak memiliki
faktor F diberi simbol F- dan berfungsi sebagai resipien DNA (betina) selama konjugasi.
Plasmid F bereplikasi di dalam sel jantan dan sebuah salinannya ditransfer ke sel betina
melalui saluran konjugasi yang menghubungkan sel-sel tersebut. Sel-sel E. coli yang
mengandung unsur F atau F+ memiliki sejumlah sifat fenotip yaitu :
1. Dapat mentransfer DNA plasmidnya ke sel-sel resipien ( F-),
2. Peka terhadap infeksi faga-faga berbenang tunggal,
3. Menahan pertumbuhan faga-faga betina seperti T3 dan T7,
4. Tidak menyertakan unsur tambahan
5. Dapat diubah menjadi sel-sel Hfr bila unsur F yang menyisip ke dalam kromosom bakteri
utama.
b. Plasmid R : Faktor R pertama kali ditemukan di Jepang pada strain bakteri enterik yang
mengalami resistensi terhadap sejumlah antibiotik (multipel resisten). Munculnya resistensi
bakteri terhadap beberapa antibiotik, sangat berarti dalam dunia kedokteran, dan
dihubungkan dengan meningkatnya penggunaan antibiotik untuk pengobatan penyakit
infeksi. Sejumlah perbedaan gen-gen resisten antibiotik dapat dibawa oleh faktor R. Resisten
terhadap antibiotik ini tampak perlahan-lahan mulai berkembang pada strain-strain shigella
(bakteri patogen) tertentu. Peneliti mulai mengidentifikasi gen-gen spesifik yang
menimbulkan resistensi antibiotik pada shigella dan bakteri patogenik lainnya. Beberapa gen
tersebut mengkode enzim yang spesifik menghancurkan beberapa antibiotik tertentu, seperti
tetrasiklin atau ampisilin.
Suatu populasi bakteri dengan suatu antibiotik spesifik baik dalam kultur
laboratorium maupun di dalam organisme inang akan membunuh bakteri yang sensitif
terhadap antibiotik, namun hal tersebut tidak berlaku untuk bakteri yang memiliki plasmid R.
Teori seleksi alam memprediksi bahwa bakteri-bakteri yang mempuyai gen-gen yang
resisiten tersebut akan semakin banyak. Hal tersebut membuat pengobatan bakteri tertentu
semakin sulit. Hal tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa plasmid R seperti plasmid F,
dapat berpindah dari satu sel bakteri ke sel bakteri lainnya.
c. Plasmid kol : sebelumnya disebut faktor kolisinogenik, sel-sel bakteri yang mengandung
plasmid yang mengkode untuk kolisin, yang dimana adalah protein yang membunuh sel-sel
E. coli sensitif. Bakteri semacam ini juga mensintesis protein imunitas yang membuat sel-sel
yang mengandung Kol tidak peka terhadap pengaruh bakteri kolisin yang dihasilkannya, hal
ini menunjukkan bagaimana sel-sel E. coli mampu membawa plasmid-plasmid kol pada
awalnya.
2. Episom
Episom merupakan unsur-unsur genetik bebas yang telah dapat berkembang biak
dalam sel bakteri baik dalam keadaan autonom (menggandakan diri dan dipindahkan tanpa
bergantung kepada kromosom bakteri) maupun pada keadaan integrasi (melekat pada
kromosom bakteri, berperan serta bersamanya dalam rekombinasi genetika dan dipindahkan
bersama kromosom bakteri tersebut).
Episom merupakan elemen genetik yang memiliki dua alternatif cara replikasi. (1)
sebagai ada yang terintegrasi dalam kromosom utama dan (2) sebagai elemen genetik autonom
yang independen (berdiri sendiri) dari kromosom utama. Dalam kamus britanica terdapat
informasi tambahan bahwa dalam konjugasi bakteri, sel bakteri yang memiliki episom bertindak
seolah-olah sebagai ‘pejantan’nya, sebab di dalam proses tersebut terjadi transfer episom atau
episom beserta gen yang ditempelinya ke sel yang lain.

Plasmid dan Episom

Seperti halnya plasmid episom seringkali digunakan untuk menyuntikkan gen-gen


tertentu ke dalam kromosom sel target sehingga, dengan demikian sel target akan memiliki sifat-
sifat yang dibawa gen tadi. Dalam hal ini, penggunaan episom memberikan hasil yang sedikit
berbeda dengan plasmid, dimana gen yang disuntikkan akan bergbung bersama pada DNA utama
pada sel target.

Pertanyaan :
1. Bagaimana plasmid R dapat bersifat resisten terhadap antibiotik ?
Faktor R pertama kali ditemukan di Jepang pada strain bakteri enterik yang mengalami
resistensi terhadap sejumlah antibiotik (multiple resisten). Munculnya resistensi bakteri terhadap
beberapa antibiotik, sangat berarti dala dunia kedokteran dan dihubungkan dengan meningkatnya
penggunaan antibiotik untuk pengobatan penyakit infeksi. Sejumlah perbedaan gen-gen resisten
antibiotik dapat dibawa oleh factor R. Resisten terhadap antibiotik ini tampak perlahan-lahan
mulai berkembang pada strain-strain bakteri patogen tertentu. Beberapa gen tersebut mengkode
enzim yang spesifik menghancurkan beberapa antibiotik tertentu seperti tetrasiklin atau
ampisilin.
2. Bagaimana proses replikasi pada plasmid?
Contoh bakteri yang mengalami replikasi plasmid yaitu E.Coli, yang terdiri atas dua tipe
yaitu tipe ColE1 berukuran relatif kecil (kurang dari 10 kb) dan terdapat dalam kopian berganda
di dalam sel. Kelompok plasmid kedua digolongkan ke dalam plasmid F, yang berukuran lebih
besar (lebih besar dari 30 kb, plasmid sendiri berukuran 100 kb). Plasmid ini hanya memiliki
satu atau dua kopian per sel. Plasmid ini juga dikenal dengan plasmid konjugatif.
Replikasi plasmid tipe pertama tidak berhubungan dengan proses replikasi kromosomal
dan pembelahan sel (oleh sebab itu memiliki jumlah kopian yang banyak). Meskipun ada
beberapa pengontrol dalam replikasi plasmid. Sedangkan plasmid tipe kedua, replikasinya
dikontrol dengan cara yang sama seperti pada kromosom. Karenanya, ketika kromosom diinisiasi
untuk bereplikasi, maka replikasi plasmid ini pun akan terjadi. Oleh karena itu plasmid tipe ini
tidak bisa diamplifikasi (perbanyakan).
3. Bagaimanakah replikasi plasmid pada E.Coli yang memiliki 2 tipe plasmid? apakah
kedua tipe tersebut melakukan replikasi yang sama?
Jawab : Plasmid pa E.Coli memiliki 2 tipe yaitu tipe pertama disebut ColE1 berukuran kecil dan
terdapat kopian berganda di dalam sel. Kelompok plasmid kedua digolongkan ke dalam plasmid
F yang berukuran lebih besar. Plasmid ini memiliki hanya satu atau dua kopian sel. Replikasi
plasmid yang pertama tidak berhubungan dengan proses replikasi kromosomal dan pembelahan
sel (oleh sebab itu memiliki jumlah kopian yang banyak) meskipun ada beberapa pengontrol
dalam replikasi plasmid. Sedangkan plasmid yang kedua replikasinya dikontrol dengan cara yang
sama seperti pada kromosom sehingga ketika kromosom diinisiasi untuk bereplikasi maka
replikasi plasmid ini pun akan terjadi, oleh karena itu tipe plasmid ini tidak bias diperbanyak.

Daftar Rujukan
Gardner. 1991. Principles of Genetiks Eighth Edision. New York: John Wiley & Sons Peter J.
Snustad, D. Peter., Michael J. Simmons. 2012. Principles of genetics 6th ed. New York: John
Wiley & Sons