Anda di halaman 1dari 8

Reichman and

Hershfield's Tuberculosis: A
Comprehensive, International Approach
diedit oleh Mario C. Raviglione Saturday, April 21, 2007

FAKTOR KEBERHASILAN KONVERSI PADA PENDERITA TB PARU


FAKTOR KEBERHASILAN KONVERSI PADA PENDERITA TB PARU
DI PUSKESMAS JONGAYA TAHUN 2006
(Studi Kasus evaluasi program TB )

Ridwan Amiruddin*)
Rasmaniar **). Sintha Lisa Purimahua***)

*). Bagian Epidemiologi FKM Unhas, Makassar


**).Staf Politeknik Kesehatan Kendari
***).FKM Undana Kupang, NTT.

ABSTRAK

Penyakit TBC di Indonesia merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Tahun 1995 , hasil
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab
kematian nomor 3 (tiga) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada
semua kelompok usia, dan nomor 1 (satu) dari golongan penyakit infeksi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor keberhasilan konversi pada akhir
pengobatan fase intensif penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Jongaya Kota Makassar tahun
2006.
Desain penelitian ini adalah observasional study dengan pendekatan deskriptif. Sampel adalah
penderita TBC Paru BTA positif baru yang terjadi konversi (telah menjadi BTA negative) dan masih
menjalani pengobatan fase lanjutan , tercatat berobat pada bulan September sampai bulan
November tahun 2006 sebanyak 17 orang. Teknik Sampling adalah purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan Hasil pemeriksaan laboratorium, terdapat 94,1 % (n= 16) yang
dinyatakan BTA ( -) atau mengalami konversi dan 5,89% (n=1) masih tetap BTA (+). Terdapat 94,1%
(n= 16) penderita TB konversi yang patuh berobat dan 5,89 % (n=1) tidak patuh minum obat.
Terdapat 47,06 % ( n= 8 ) yang mengalami keluhan efek samping obat, dan 52,94% ( n=9 ) yang tidak
mengalami gangguan / keluhan pada saat minum Obat Anti Tuberculosis ( OAT). Kehadiran petugas
pada saat penderita mengambil OAT di Puskesmas adalah 100%. Terdapat 88,2 % ( n=15 ) penderita
yang diawasi terus menerus selama minum OAT , dan 11, 8% (n=2) yang tidak diawasi terus
menerus.
Rekomendasi kepada pengelola TB di Puskesmas untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman penderita tentang penyakit TBC Paru, cara pencegahan dan pengobatan yang baik.
Pihak Puskesmas diharapkan melakukan screening TB kepada kelompok masyarakat yang berisiko
tinggi tertular penyakit TBC Paru.

Kata Kunci. TB Paru , Konversi


The Factors Conversion Success in Sufferer Lung TB
At Puskesmas Jongaya Year 2006
( A case study of program evaluation tb)

Ridwan Amiruddin*)
Rasmaniar **). Sintha Lisa Purimahua***)

*). Bagian Epidemiologi FKM Unhas, Makassar


**).Staf Politeknik Kesehatan Kendari
***).FKM Undana Kupang, NTT.

abstract

TBC desease in Indonesia be society well-being main problem. year 1995, result survey household
well-being (SKRT) shows that tbc desease is number 3 cause of death, after disease cardiovaskuler
and bronchi disease at all of age group, and number 1 (one) from infection disease group.
Researcgh aim to detects factor - conversion success factor by the end of sufferer intensive phase
therapy lung TB at puskesmas Jongaya City Makassar year 2006.
Research Design was observasional study with approaches descriptive. sample tuberculosis sufferer
paru bta new positive that conversion (has haved BTA negative) and still to endure continuation
phase therapy, recorded teraphy in September until November year 2006 as much as 17 person.
technique sampling purposive sampling.
Research result shows that, laboratory investigation result, found 94,1 % (n= 16) that declared BTA (-
) or experience conversion and 5,89% (n=1) still permanent bta found 94,1% (n= 16) sufferer TB
obedient conversion theraphy and 5,89 % (n=1) not obedient take medicine. found 47,06 % (n= 8)
that experience medicine side effects complaint and 52,94% (n=9) doesn't experience disturbance /
complaint at the (time) of take medicine to counter tuberculosis (oat). operator presence at the
(time) of sufferer takes OAT at puskesmas 100%. found 88,2 % (n=15) sufferer that supervised then
through during drink OAT and 11, 8% (n=2) is not supervised.
Recommendation to manager TB at puskesmas to increase education and tuberculosis pandemic
sufferer comprehension paru, prevention manner and good therapy. side puskesmas supposed do
screening tb to society group have risk communicable of TB..

Key word. Lung TB, Conversion.

Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis paru telah dikenal lebih dari satu abad yang lalu, yakni sejak ditemukannya
kuman penyebab Tuberkulosis oleh Robert Koch tahun 1882, namun sampai saat ini penyakit
Tuberkulosis tetap menjadi masalah kesehatan di tingkat dunia maupun di Indonesia (1).
Kematian TBC di Negara-negara berkembang merupakan 25% dari seluruh kematian, yang
sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang, 75%
penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15– 50 tahun). Munculnya epidemic HIV/ AIDS di
dunia, diperkirakan penderita TBC akan meningkat (2).
Penyakit TBC di Indonesia merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Tahun 1995 , hasil
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab
kematian nomor 3 (tiga) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada
semua kelompok usia, dan nomor 1 (satu) dari golongan penyakit infeksi. Tahun 1999 WHO
memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC dengan kematian TBC sekitar 140.000.
Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TBC paru
BTA positif. Penyakit TBC menyerang sebagian besar kelompok usia kerja belum dapat menjangkau
seluruh Puskesmas . Demikian juga Rumah Sakit pemerintah swasta dan unit pelayanan kesehatan
lainnya. Tahun 1995 – 1998 cakupan penderita TBC dengan strategi DOTS baru mencapai sekitar 10%
dan error rate pemeriksaan laboratorium belum dihitung dengan baik meskipun cure rate lebih
besar dari 85% (2).
Strategi DOTS ada 5 elemen yang saling terkait yaitu adanya komitmen politis yang kuat dari
pemerintah daerah dan sektor lain, diagnosis yang baik dengan menggunakan mikroskop binokuler,
pengadaan dan distribusi obat yang cukup dan tidak terputus, adanya pengawas menelan obat bagi
setiap penderita dengan dukungan adanya system pencatatan dan pelaporan yang baku. Dengan
pelaksanaan strategi DOTS yang baik maka diharapkan angka konversi pada akhir pengobatan tahap
intensif minimal 80% dan angka kesembuhan minimal 85% dari kasus baru BTA positif (2).
Berdasarkan buku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis tahun 2002, pengobatan
penderita TBC diberikan dalam dua tahap yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Pada tahap
intensif penderita harus minum OAT setiap hari sebanyak 8 butir dari 4 jenis OAT (HRZE) selama dua
bulan (60 hari). Kemudian akhir bulan kedua dievaluasi berupa pemeriksaan dahak penderita
sehingga dapat diketahui BTA dahak penderita telah konversi (dari BTA positif berubah menjadi BTA
negative) atau mengalami kegagalan konversi (dari BTA positif tetap BTA positif). Hasil evaluasi akhir
bulan kedua tersebut menentukan paket OAT penderita fase lanjutan, menghitung cakupan angka
konversi dan menilai kinerja petugas TBC paru Puskesmas dan Kota .
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa faktor-faktor risiko terjadinya kegagalan konversi
disebabkan oleh beberapa hal diantaranya pengetahuan dan tingkat pendidikan penderita, peran
penyuluhan kesehatan, ketersediaan obat, Pengawas Menelan Obat (PMO), kepatuhan berobat,
efek samping obat dan merasa sehat (2).
Berdasarkan laporan Puskesmas Jongaya tahun 2006, terdapat 17 orang penderita baru TBC Paru
BTA (+), 16 orang mengalami konversi, sedangkan 1 (satu) orang mengalami gagal konversi /
penderita sisipan (3).
Tujuan Penelitian ini terdiri dari :
Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor – faktor keberhasilan konversi pada akhir pengobatan fase intensif
penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif baru di Puskesmas Jongaya Kota Makassar.

Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui manfaat kepatuhan berobat terhadap keberhasilan konversi pada akhir fase
intensif, penderita Tuberkulosis Paru BTA positif baru
b. Untuk mengetahui efek samping obat terhadap keberhasilan konversi pada akhir fase intensif,
penderita Tuberkulosis Paru BTA positif baru.
c. Untuk mengetahui kehadiran petugas terhadap keberhasilan konversi pada akhir fase intensif,
penderita Tuberkulosis Paru BTA positif baru .
d. Untuk mengetahui peran Pengawas Menelan Obat terhadap keberhasilan konversi pada akhir fase
intensif, penderita Tuberkulosis Paru BTA positif baru.

Psychiatric Nursing: Contemporary


Practice
Lippincott's Manual of Psychiatric Nursing
Care Plans
Contemporary Psychiatric-Mental Health
Nursing
Psychiatric Nursing / Edition 6
 by
 Norman L. Keltner,
 Carol E. Bostrom,
 Teena McGuinness

Introductory Mental Health Nursing /


Edition 2
 by
 Donna Womble

Essentials of Psychiatric Mental Health


Nursing: A Communication Approach to
Evidence-Based Care / Edition 2
 by
 Elizabeth M. Varcarolis
Manual of Psychiatric Nursing Care
Planning: Assessment Guides, Diagnoses,
Psychopharmacology / Edition 5
 by
 Elizabeth M. Varcarolis

Psychiatric Mental Health Nursing Success:


A Q&A Review Applying Critical Thinking
to Test Taking / Edition 2
 by
 Cathy Melfi Curtis,
 Audra Baker,
 Carol Norton Tuzo

Essentials of Psychiatric Mental Health


Nursing: Concepts of Care in Evidence-
Based Practice / Edition 6
 by
 Mary C. Townsend

Psychiatric Mental Health Nursing:


Concepts of Care in Evidence-Based
Practice / Edition 7
 by
 Mary C. Townsend

Psychiatric Mental Health Nursing /


Edition 5
 by
 Katherine M. Fortinash,
 Patricia A. Holoday-Worret
Principles and Practice of Psychiatric
Nursing / Edition 10
 by
 Gail Wiscarz Stuart

Contemporary Issues in Mental Health


Nursing / Edition 1
 by
 Jonathon Lynch,
 Steve Trenoweth