Anda di halaman 1dari 10

Teknik dan Tahapan Komunikasi

and the last papers is coming~


Di bab sebelumnya kita udah membahas tentang komunikasi terapeutik beserta perbedaannya
dengan komunikasi sosial. Di pembahasan kali ini kita akan membahas tentang teknik dan
tahapannya.
Setiap proses komunikasi terapeutik punya teknik dan tahapan. Mulai dari fase prainteraksi,
orientasi, kerja, dan terminasi. Semuanya teratur agar mampu mencapai tujuan dalam
keperawatan. Nah, berikut makalah kami yang baru selesai minggu ini.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan bertujuan untuk membantu
penyembuhan atau pemulihan pasien. Perawat harus memiliki ketrampilan komunikasi yang bersifat
profesional dan bertujuan untuk menyembuhkan pasien. Perawat yang memiliki keterampilan
komunikasi terapeutik akan lebih mudah menjalin hubungan saling percaya dengan pasien, sehingga
akan lebih efektif dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan dan memberikan kepuasan profesional
dalam pelayanannya (Damiyanti, 2008:1).
Komunikasi efektif membutuhkan usaha sadar perawat dalam mencari cara untuk membantu pasien
dan keluarganya mengkomunikasikan pemikiran dan perasaan dengan lebih efektif. Merencanakan
tempat yang sesuai dan mengatur perawatan dengan waktu yang akurat sangat penting. Selain itu
pemberian intervensi dan teknik komunikasi yang sesuai dengan latar belakang budaya, dan umur
pasien juga harus diperhatikan.
Komunikasi menjadi tidak efektif karena kesalahan dalam menafsirkanpesan yang diterimanya.
Kesalahan dalam menafsirkan pesan bisadisebabkan karena persepsi yang berbeda, hal ini sering terjadi
pada institusipelayanan kesehatan, misal pasien sering komplain karena perawat tidakmengerti maksud
pesan yang disampaikan pasien, jika kesalahan penerimaanterus menerus dapat berakibat pada
ketidakpuasan pasien.
Kondisiketidakpuasan tersebut akan berdampak pada rendahnya mutu pelayananyang diberikan kepada
pasien dan larinya pasien ke pelayanan kesehatan lainyang dapat memberikan kepuasan (Mustikasari,
2006:1). Kepuasan pasien ialah suatu tingkat perasaan pasien yang timbulsebagai akibat dari kinerja
pelayanan kesehatan yang diperoleh setelah pasienmembandingkannya dengan apa yang
diharapkannya. Pasien baru akan merasapuas apabila kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya
sama ataumelebihi dari apa yang menjadi harapannya dan sebaliknya, ketidakpuasanakan timbul atau
perasaan kecewa pasien akan terjadi apabila kinerjapelayanan kesehatan yang diperolehnya itu tidak
sesuai dengan harapannya(Pohan, 2003:178).

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja teknik dalam komunikasi terapeutik?
2. Apa saja ketidaktepatan komunikasi terapeutik?
3. Apa saja tahapan komunikasi terapeutik?
4. Apa saja srategi pelaksanaan komunikasi terapeutik?
5. Apa saja hambatan dalam komunikasi trapeutik?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui teknik komunikasi terapeutik.
2. Untuk mengetahui ketidakpastian komunikasi terapeutik.
3. Untuk mengetahui tahapan komunikasi terapeutik.
4. Untuk mengetahui strategi pelaksanaa komunikasi terapeutik.
5. Untuk mengetahui hambatan komunikasi terapeutik.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI TEKNIK KOMUNIKASI
Teknik berbicara efektif adalah berbicara secara menarik dan jelas sehingga dapat dimengerti dan
mencapai tujuan yang diharapkan di dalam komunikasi.Teknik berbicara di dalam berkomunikasi harus
menyesuaikan diri antara komunikator dan komunikan kepada pesan (message) yang dipercakapkan.
Teknik komunikasi digunakan supaya komunikasi antar manusia terjalin secara efektif. Pengertian teknik
adalah suatu cara yang digunakan untuk melakukan sesuatu hal. Sedangkan pengertian komunikasi
adalah penyampaian informasi dari komunikator ke komunikan melalui media tertentu. Maka
pengertian teknik komunikasi adalah suatu cara yang digunakan dalam menyampaikan informasi dari
komunikator ke komunikan dengan media tertentu. Dengan adanya teknik ini diharapkan setiap orang
dapat secara efektif melakukan komunikasi satu sama lain dan secara tepat menggunakannya.
Beberapa teknik dalam komunikasi :
1. Ucapan yang jelas dan idenya tidak ada makna ganda, utuh.
2. Berbicara dengan tegas, tidak berbelit-belit
3. Memahami betul siapa yang diajak bicara, hadapkan wajah dan badan, pahami pikiran lawan bicara.
4. Menyampaikan tidak berbelit-belit, tulus dan terbuka.
5. Sampaikan informasi dengan bahasa penerima informasi.
6. Menyampaikan dengan kemampuan dan kadar akal penerima informasi
7. Sampaikan informasi dengan global dan tujuannya baru detailnya.
8. Berikan contoh nyata, lebih baik jadikan anda sebagai model langsung.
9. Sampaikan informasi dengah lembut, agar berkesan, membuat sadar dan menimbulkan kecemasan
yang mengcerahkan.
10. Kendalikan noise dan carilah umpan balik untuk meyakinkan informasi anda diterima. Contoh

dengan bertanya atau menyuruh mengulanginya.


Dengan adanya beberapa teknik komunikasi ini diharapkan hambatan-hambatan dalam komunikasi
dapat diminimalisasi. Bukan hanya komunikasi antar individu saja yang membutuhkan teknik
komunikasi, dalam berkomunikasi dengan stakeholder atau antar karyawan juga perlu teknik
komunikasi tersendiri.
Teknik komunikasi terapeutik antara lain:
1. Mendengar aktif
Kegiatan mendengar dan menggunakan konsentrasi aktif dan persepsi terhadap pesan orang lain yang
menggunakan semua indera.
2. Mendengar pasif
Kegiatan mendengar dengan menggunakan bahasa non verbal untuk pasien, misalnya dengan kontak
mata, menganggukkan kepala dan juga keikutsertaan secara verbal.
3. Penerimaan
Mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak
menilai. Penerimaan bukan berarti persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan
mendengar tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan.
4. Klarifikasi/validasi
Menanyakan kepada pasien apa yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada. Klarifikasi
dilakukan apabila pesan yang disampaikan oleh pasien belum jelas bagi perawat dan perawat mencoba
memahami situasi yang digambarkan oleh pasien.
5. Fokus
Kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga percakapan menjadi lebih
spesifik dan dimengerti.

6. Diam (memelihara ketenangan)


Dilakukan dengan tujuan mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat
bersedia untuk menunggu respon. Teknik ini bermanfaat pada saat pasien mengalami kesulitan untuk
membagi persepsinya dengan perawat. Diam tidak dapat dilakukan dalam waktu yang lama karena akan
mengakibatkan pasien menjadi khawatir. Diam dapat juga diartikan sebagai mengerti atau marah. Diam
disini juga menunjukkan kesediaan seseorang untuk menanti orang lain agar punya kesempatan berfikir,
meskipun begitu diam yang tidak tepat menyebabkan oang lain merasa cemas.

B. KETIDAKTEPATAN KOMUNIKASI
Bila teknik komunikasi yang digunakan kurang tepat, maka akan terjadi miss-komunikasi. Miss-
komunikasi yang dimaksud adalah persepsi si pengirim pesan tidak sama dengan si penera pesan.
Perbedaan ini bisa menimbulkan pertengkaran, diantara pengirim dengan penerima pesan.
Bila teknik komunikasi yang digunakan kurang tepat maka akan terjadi hambatan, komunikasi akan
berjalan tidak efektif. Hambatan tersebut berupa persepsi yang berbeda, dalam hal ini pengirim maupun
penerima harus menyatukan tujuan. Hambatan lain berupa suara yang bising pada saat kita
berkomunikasi, jarak yang jauh, dan lain sebagainya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut sebaiknya membuat suatu pesan secara berhati-hati, tentukan
maksud dan tujuan komunikasi serta komunikan yang akan dituju, meminimalkan gangguan dalam
proses komunikasi, komunikator harus berusaha dapat membuat komunikan lebih mudah memusatkan
perhatian pada pesan yang disampaikan sehingga penyampaian pesan dapat berlangsung tanpa
gangguan yang berarti, mempermudah upaya umpan balik antara si pengirim dan penerima pesan, cara
dan waktu penyampaian dalam komunikasi harus direncanakan dengan baik agar menghasilkan umpan
balik dari komunikan sesuai harapan.

C. TAHAPAN KOMUNIKASI
Hubungan saling membantu dibangun dan dipelihara oleh perawat professional.Hubungan tersebut
bersifat timbal balik (reciprocal relationship) perawat dan klien membantu hubungan diantara mereka
dan berlangsung melalui tahapan demi terciptanya hubungan yang terapeutik. Hubungan saling
membantu berlangsung terus menerus ketika mereka sedang berinteraksi, sementara perawat
memberikan proses keperawatan. Tetapi, hubungan saling membantu tidak sama dengan proses
keperawatan.
Proses keperawatan merupakan sebuah seri dari beberapa langkah yang harus ditempuh untuk
memecahkan masalah pasien, sementara hubungan saling membantu merupakan sebuah ikatan antara
perawat dank lien yang membuat perawat lebih efektif dalam rangka melaksanakan proses
keperawatan. Perawat bertanggung jawab dalam mengarahkan klien melalui tahapan dalam hubungan
saling membantu untuk meyakinkan bahwa kebutuhan klien telah dipenuhi tahapan hubungan diatas
terbagi dalam 4 fase, yaitu, Fase Pra Interaksi, Fase Orientasi, Fase Kerja dan Fase Terminasi.

1. Fase Pra Interaksi


Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien.
Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi
kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai
lawan bicaranya.Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama
dengan klien.Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau
kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan
klien.

2. Fase Orientasi (Perkenalan)


Fase ini dimulai ketika perawt dan klien bertemu untuk pertama kalinya. Fase ini mengatur suasana
untuk mengingatkan hubungan perawat-klien. Ciri hubungan fase ini masih bersifat dangkal dan sering
ditandai dengan ketidakpastian dan upaya penggalian perasaan, persepsi, pikiran, dan tindakan
klien.Biasanya, perawat dalam fase ini menggunakan teknik wawancara untuk menggali semua informasi
yang dibutuhkan.
Catatan medic dan catatan keperawatan merupakan sumber informasi tidak langsung bagi perawat
sehingga perawat dapat menggunakannya untuk merencanakan dan mengarahkan diskusi yang akan
dilakukan. Selama fase ini mereka saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya (perawat-
klien). Perawat dan klien saling bertukar pikiran dan membuat penilaian tentang prilaku masing-masing.
Komunikasi pada fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of
problems and goals, clarification of roles dan contract formation.
Komunikasi terapeutik menjadi sesuatu yang sangat membantu “Proses saling percaya” dengan catatan
bila komunikasi dilakukan secara ikhlas, empati, dan penuh dengan kehangatan. Pada fase ini pula
perawat dan klien bertemu dan saling mengidentifikasi nama masing-masing. Sangat baik dengan
memaggilnya menggunakan nama pasien, misalnya, “Selamat pagi, Pak Gino, nama saya Murni, dan
saya adalah perawat di sini yang ditugaskan untuk merawat bapak.” Dan jangan merasa sungkan jikas
setelah terbentuk “Trust”, pasien akan berbincang adan akan menanyakan sesuatu dengan cara yang
lebih informal. Misalnya, memanggil perawat dengan sebutan “Mbak” dan lagi “Ibu”. Kegagalan perawat
untuk mengidentifikasi dirinya sendiri akan menghasilkan ketidakpastian pada pasien.

3. Fase Kerja
Selama fase ini, perawat harus berusaha keras untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan dalam tahap
sebelumnya (tahap orientasi). Akan lebih baik jika mereka saling bekerja sama untuk itu. Hubungan kana
menjadi lebih dalam dan fleksibel jika perawat dan kilenmenjadi lebih merasa “saling memiliki” untuk
selanjutnya saling mencurahkan perasaan masing-masing serta mendiskusikan masalah yang merintangi
pencapaian tujuan.
Fase kerja terbagi dalam dua kegiatan pokok: menyatukan proses komunikasi dengan tindakan
keperawatan (integrating communication with nursing action) dan membangun suasan yang
mendukung untuk proses perubahan (establishing a climate for change).
Integrating communication with nursing. Perlu digarisbawahi bahwa tindakan keperawatan secara
umum terbagi menjadi 3 kelompok: fisiologis, psikologis, dan sosio-ekonomis. Bradley dan Edinburgh
(1982) mengategorikan tiga kelompok tersebut didasarkan atas tingkat kemudahannya untuk dilihat
(level of visibility).
Tindakan fisiologis yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan fisik pasien seperti nutrisi, eliminasi, dan
rasa nyaman mempunyai tingakt daya lihat yang tinggi.Sehingga perawat cenderung lebih memilih
untuk memenuhi kebutuhan fisiologis.Perawat yang mempunyai kemampuan melihat secara baik yang
dihadapi pasien dikategorikan sebagai perawt yang terampil (an adept practitioner nurse). Sebaliknya,
tindakan psikologis dan sosio-ekonomis mempunyai tingakt daya lihat yang rendah.
Tindakan psikologis biasanya ditunjukan secara nonverbal.Tindakan psikologis diarahkan untuk
memenuhi kebutuhan emosi pasien.Tindakan sosio-ekonomi seperti merujuk pasien ke tempat pelayan
kesehatan tertentu membantu klien dalam beradatasi dengan lingkungan baru yang dihadapi. Tingkat
visibilitas yang rendah tidak dapat diobservasi atau diukur secara cepat oleh orang lain. Tindakan
psikologis dan sosio-ekonomi membtuhkan pengetahuan dan keterampilan afektif yang cukup dari
perawat.

4. Fase Terminasi
Pada fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan yang telah dicapai,
agar tujuan yang tercapai kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini
adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (arwani, 2003: 61)

D. STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI PADA SAAT PERAWAT MELAKUKAN TINDAKAN


KEPERAWATAN

1. Pra Interaksi
a. Membaca catatan keperawatan
b. Mencuci tangan
c. Mempersiapkan alat

2. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik: Memberi salam kepada klien (Assalamu’alaikum atau selamat
pagi disertai dengan mengulurkan tangan)
b. Evaluasi/validasi: Menanyakan kembali tentang prosedur atau tindakan yang akan
dilakukan yaitu merubah posisi pasien (Fowler atau duduk)
c. Kontrak Topik: Merubah posisi pasien (Fowler atau duduk)
Waktu: 07.00 WIB
Tempat: Ruang rawat inap (Mawar) VIP
Tujuan: Mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan

3. Fase Kerja
Memberi penjelasan tentang materi yang ingin disampaikan yaitu merubah posisi pasien (Fowler atau
duduk)
a. Perlengkapan merubah posisi pasien (Fowler atau duduk) yaitu: Penopang/bantal
b. Persiapkan alat yang dibutuhkan
c. Tutup sampiran/tirai
d. Cuci tangan terlebih dahulu sebelum tindakan dimulai
e. Tinggikan kepala tempat tidur 45-60 derajat
f. Topangkan kepala diatas tempat tidur atau bantal kecil
g. Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan tangan bila pasien tidak dapat
mengontrolnya secara sadar atau tidak dapat menggunakan tangan dan lengan
h. Tempatkan bantal tipis di punggung bawah
i. Tempatkan bantal kecil atau gulungan handuk dibawah paha
j. Tempatkan papan kaki di dasar telapak kaki pasien
k. Turunkan tempat tidur
l. Observasi posisi kesejajaran tubuh, tingkat kenyamanan, dan titik potensi tekanan.
m. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
n. Catat prosedur, termasuk: posisi yang diterapkan, kondisi kulit, gerakan sendi,
kemampuan pasien membantu bergerak, dan kenyamanan pasien.

4. Fase terminasi
a. Evaluasi reson pasien
Menanyakan kembali kepada pasien apakah sudah mengerti atau belum dan meminta pasien
mengulang kembali materi yang telah djelaskan atau memberi kesempatan kepada untuk bertanya.
b. Rencana tindak lanjut
Mencontohkan bagaimana aplikasi dari materi yang telah diberikan ( mencontohkan merubahan posisi
pasien fowler atau posisi duduk ) dan meninta pasien untuk mengulang nya kembali.
c. Kontrak yang akan datang
1) Topik : Cara membersihkan mulut
2) Waktu : 13.00 Wib
3) Tempat : Ruang rawat inap (Mawar) VIP

E. HAMBATAN DALAM BERKOMUNIKASI


1. Kecemasan
Kecemasan komunikasi adalah perasaan takut atau tingkat kegelisahan dalam transaksi komunikasi.
Pada perspektif, kognitif, peserta didik cenderung untuk membangun perasaaan negatif serta
memperkirakan hasil-hasil yang negatif pula dari transaksi komunikasi yang dilakukan. Kecemasan dalam
berkomunikasi muncul ketika timbul perasaan cemas, dan takut terhadap penilaian negatif oranglain
terhadap apa yang dikatakan atau dikemukakan. Upaya dalam menghadapi kecemasan adalah dengan
membangun rasa positif di dalam diri, saat berkomunikasi sebaiknya mengatakan hal yang sebenarnya
sesuai dengan fakta.

2. Streotipe
Streotipe komunikasi adalah meniru perilaku atau sikap orang lain, agar dapat bisa diterima oleh
lingkungan sekitar. Perilaku tersebut digunakan sehari-hari untuk berinteraksi dengan orang lain. Upaya
dalam menghadapi hambatan streotipe ini sebaiknya jadilah diri sendiri dan kembangkan kemampuan
yang dimiliki dengan menanamkan rasa percaya diri agar tidak menimbulkan kontrak di lingkungan.

3. Pelanggaran batas
Dalam hubungan terapeutik peran perawat sebagai penolong klien maupun perawat harus menyadari
batasan ini. Pelanggaran batas terjadi jika perawat melampaui batas hubungan terapeutik terjadi
hubungan personal. Upaya mengahadapinya dengan membuat kesepakatan tentang interaksi yang akan
dilakukan dan fokus pada tujuan interaksi mengingatkan kontrak dan tujuan interaksi.
Bentuk pelanggaran
1) Menerima ajakan makan diluar/undangan
2) Menjadi hubungan sosial
3) Memberikan informasi personal pada klien
4) Klien mengenalkan perawat pd anggota klg utk tujuan hub sosial
5) Menerima hadiah dari klien
6) Menjalankan bisnis / memesan pelayanan dari klien
7) Secara rutin membelai/ memeluk klien
8) Menghadiri acara- acara sosial klien

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teknik berbicara efektif adalah berbicara secara menarik dan jelas sehingga dapat dimengerti dan
mencapai tujuan yang diharapkan di dalam komunikasi.Bila teknik komunikasi yang digunakan kurang
tepat, maka akan terjadi miss-komunikasi. Miss-komunikasi yang dimaksud adalah persepsi si pengirim
pesan tidak sama dengan si penera pesan. Perbedaan ini bisa menimbulkan pertengkaran, diantara
pengirim dengan penerima pesan.
Hubungan saling membantu dibangun dan dipelihara oleh perawat professional. Hubungan tersebut
bersifat timbal balik (reciprocal relationship) perawat dan klien membantu hubungan diantara mereka
dan berlangsung melalui tahapan demi terciptanya hubungan yang terapeutik. Strategi Pelaksanaan
Komunikasi pada saat perawat melakukan tindakan keperawatan fase pra Interaksi, fase Orientasi,
faseKerja , fase terminasi. Hambatan dalam komunikasi kecemasan, streotipe, dan pelanggaran batas.

B. Saran
Sebaiknya dalam berkomunikasi memperhatikan teknik komunikasi dan tahapan komunikasi. Agar
komunikasi berjalan dengan baik, timbul feedback(timbal balik) antara pengirim dan penerima.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arwani.(2002).Komunikasi Dalam keperawatan.Jakarta: EGC.


2. Ellis,B.Rogger.(2000).Komunikasi Interpersonal dalam keperawatan.Jakarta: EGC