Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM PENGAUDITAN DAN PDE

(EKA447 BP)
Dosen Pengampu: Dr. Drs. Herkulanus Bambang Suprasto, M.Si., Ak., CA

Disusun Oleh:

Ida Ayu Tari Purnama Sasti


1506305018
Absen 03

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
BALI
2018
1. Kode Etik Akuntan Profesional
Kode Etik Akuntan Profesional merupakan adopsi dari Handbook of the Code of
Ethics for Professional Accountants 2016 Edition yang dikeluarkan oleh International
Ethics Standards Board for Accountants of The International Federation of Accountants
(IESBA-IFAC). Dalam proses penyusunannya, IAI melakukan koordinasi dengan Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dan Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) sesuai
Nota Kesepahaman antara IAI, IAPI dan IAMI tentang Kerjasama Pengembangan Profesi
Akuntan di Indonesia. Tujuannya supaya terjadi sinergi antar organisasi profesi akuntan
dan menciptakan keseragaman ketentuan etika bagi seluruh akuntan di Indonesia. Kode
Etik Akuntan Profesional telah disetujui dalam Rapat Komite Etika pada 30 November
2016 dan telah disahkan oleh Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia pada 5
Desember 2016 dan berlaku efektif pada 1 Januari 2017. Kode Etik Akuntan Profesional
terdiri dari tiga bagian, yaitu sebagai berikut :

1.1 Bagian A : Prinsip Dasar Etika


1.1.1 Seksi 100 Pendahuluan dan Prinsip Dasar
Ciri pembeda profesi akuntansi adalah kesediaannya menerima tanggung jawab
untuk bertindak bagi kepentingan publik. Tanggung jawab Akuntan Profesional tidak
hanya terbatas pada kepentingan klien atau pemberi kerja. Jika Akuntan Profesional
dilarang oleh hukum atau peraturan untuk mematuhi bagian tertentu dari Kode Etik ini,
Akuntan Profesional tetap mematuhi bagian lain dari kode etik.
a) Kerangka Konseptual
Bagian A memberikan kerangka konseptual yang akan diterapkan Akuntan
Profesional dalam:
(1) Mengidentifikasi ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika.
(2) Mengevaluasi signifikansi ancaman tersebut.
(3) Menerapkan perlindungan yang tepat untuk menghilangkan atau mengurangi
ancaman tersebut sampai ke tingkat yang dapat diterima.

1
b) Prinsip Dasar
Lima prinsip dasar etika yang wajib dipatuhi Akuntan Profesional, yang akan
dijelaskan pada: (1) Seksi 110 Integritas; (2) Seksi 120 Objektivitas; (3) Seksi 130
Kompetensi dan kehati-hatian profesional; (4) Seksi 140 Kerahasiaan; (5) Seksi 150
Perilaku Profesional
c) Ancaman dan Perlindungan
Ancaman dapat dikategorikan menjadi:
(1) Ancaman kepentingan pribadi (self-interest threat), yaitu ancaman yang terkait
dengan kepentingan keuangan atau kepentingan lain yang akan memengaruhi
pertimbangan atau perilaku Akuntan Profesional secara tidak layak.
(2) Ancaman telaah pribadi (self-review threat), yaitu ancaman yang terjadi akibat
dari Akuntan Profesional tidak dapat sepenuhnya melakukan evaluasi atas
pertimbangan yang dilakukan atau jasa yang diberikan oleh Akuntan Profesional
lain pada Kantor Akuntan atau organisasi tempatnya bekerja yang akan
digunakan oleh Akuntan Profesional untuk melakukan pertimbangan sebagai
bagian dari jasa yang sedang diberikan.
(3) Ancaman advokasi (advocacy threat), yaitu ancaman yang terjadi ketika Akuntan
Profesional akan mempromosikan posisi klien atau organisasi tempatnya bekerja
sampai pada titik yang dapat mengurangi objektivitasnya.
(4) Ancaman kedekatan (familiarity threat), yaitu ancaman yang terjadi ketika
Akuntan Profesional terlalu bersimpati pada kepentingan klien atau organisasi
tempatnya bekerja, atau terlalu mudah menerima hasil pekerjaan mereka, karena
hubungan yang dekat dan telah berlangsung lama dengan klien atau organisasi
tempatnya bekerja.
(5) Ancaman intimidasi (intimidation threat), yaitu ancaman yang terjadi ketika
Akuntan Profesional dihalangi untuk bertindak secara objektif karena tekanan
yang nyata atau dirasakan, termasuk upaya memengaruhi Akuntan Profesional
secara tidak sepantasnya.

2
Perlindungan adalah tindakan atau upaya lain yang dapat menghilangkan atau
mengurangi ancaman sampai ke tingkat yang dapat diterima. Perlindungan dibagi
dalam dua kategori berikut: (1) Perlindungan yang diciptakan oleh profesi,
perundang-undangan, atau peraturan; (2) Perlindungan dalam lingkungan kerja.
d) Benturan Kepentingan
Benturan kepentingan menciptakan ancaman terhadap objektivitas dan mungkin
menciptakan ancaman terhadap prinsip dasar etika lainnya. Ancaman ini dapat timbul
ketika:
(1) Akuntan Profesional melakukan kegiatan profesional yang terkait dengan
permasalahan tertentu untuk dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan
yang saling berbenturan terkait dengan permasalahan tersebut; atau
(2) Kepentingan Akuntan Profesional terkait dengan permasalahan tertentu
berbenturan dengan kepentingan pihak lain yang menggunakan jasa Akuntan
Profesional.
e) Penyelesaian Konflik Etika
Ketika Akuntan Profesional memulai proses penyelesaian benturan terkait kepatuhan
pada prinsip dasar etika maka faktor berikut ini digunakan dalam proses
penyelesaian benturan: (1) Fakta yang relevan; (b) Isu etika yang terkait; (c) Prinsip
dasar etika yang terkait dengan hal yang dipermasalahkan; (d) Prosedur internal yang
berlaku; dan (e) Alternatif tindakan.
f) Komunikasi dengan Penanggung Jawab Tata Kelola
Akuntan Profesional atau Kantor Akuntan menentukan orang yang tepat untuk
berkomunikasi di dalam struktur tata kelola organisasi, setelah mempertimbangkan
sifat dan pentingnya keadaan dan permasalahan tertentu yang akan dikomunikasikan.

1.1.2 Seksi 110 Integritas


Prinsip integritas mewajibkan setiap Akuntan Profesional untuk bersikap lugas dan
jujur dalam semua hubungan profesional dan hubungan bisnisnya. Integritas juga berarti
berterus terang dan selalu mengatakan yang sebenarnya. Akuntan Profesional tidak boleh
terkait dengan laporan, pernyataan resmi, komunikasi, atau informasi lain ketika Akuntan

3
Profesional meyakini bahwa informasi tersebut terdapat: (a) kesalahan yang material atau
pernyataan yang menyesatkan; (b) pernyataan atau informasi yang dilengkapi secara
sembarangan; atau (c) penghilangan atau pengaburan informasi yang seharusnya
diungkapkan sehingga akan menyesatkan.

1.1.3 Seksi 120 Objektivitas


Prinsip objektivitas mewajibkan semua Akuntan Profesional untuk tidak
membiarkan bias, benturan kepentingan, atau pengaruh tidak sepantasnya dari pihak lain,
yang dapat mengurangi pertimbangan profesional atau bisnisnya.

1.1.4 Seksi 130 Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional


Diwajibkan setiap Akuntan Profesional untuk: (a) Memelihara pengetahuan dan
keahlian profesional pada tingkat yang dibutuhkan untuk menjamin klien atau pemberi
kerja akan menerima layanan profesional yang kompeten; dan (b) Bertindak cermat dan
tekun sesuai dengan standar teknis dan profesional yang berlaku ketika memberikan jasa
profesional.
Jasa profesional yang kompeten mensyaratkan pertimbangan yang cermat dalam
menerapkan pengetahuan dan keahlian profesional untuk jasa yang diberikan. Kompetensi
profesional dapat dibagi menjadi dua tahap yang terpisah yaitu: (a) Pencapaian
kompetensi profesional; dan (b) Pemeliharaan kompetensi profesional.

1.1.5 Seksi 140 Kerahasiaan


Diwajibkan setiap Akuntan Profesional untuk tidak melakukan hal berikut: (a)
Mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan profesional dan
hubungan bisnis kepada pihak di luar Kantor Akuntan atau organisasi tempatnya bekerja
tanpa diberikan kewenangan yang memadai dan spesifik, kecuali jika terdapat hak atau
kewajiban secara hukum atau profesional untuk mengungkapkannya; dan (b)
Menggunakan informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan profesional dan hubungan
bisnis untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga.

4
1.1.6 Seksi 150 Perilaku Profesional
Diwajibkan setiap Akuntan Profesional untuk mematuhi ketentuan hukum dan
peraturan yang berlaku serta menghindari setiap perilaku yang Akuntan Profesional tahu
atau seharusnya tahu yang dapat mengurangi kepercayaan pada profesi. Hal ini termasuk
perilaku, yang menurut pihak ketiga yang rasional dan memiliki informasi yang cukup,
setelah menimbang semua fakta dan keadaan tertentu yang tersedia bagi Akuntan
Profesional pada waktu itu, akan menyimpulkan, yang mengakibatkan pengaruh negatif
terhadap reputasi baik dari profesi.
Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya, Akuntan
Profesional dilarang mencemarkan nama baik profesi. Akuntan Profesional bersikap jujur
dan dapat dipercaya, serta tidak: (a) Mengakui secara berlebihan mengenai jasa yang
ditawarkan, kualifikasi yang dimiliki, atau pengalaman yang diperoleh; atau (b) Membuat
referensi yang meremehkan atau membuat perbandingan tanpa bukti terhadap pekerjaan
pihak lain.

1.2 Bagian B: Akuntan Profesional di Praktik Publik


1.2.1 Penerapan Kerangka Konseptual bagi Akuntan Profesional di Praktik Publik
Bagian B mengacu pada Bagian B kode etik yang dikeluarkan oleh Institut Akuntan
Publik Indonesia (IAPI). Jika tidak diatur, maka mengacu pada Handbook of the Code of
Ethics for Professional Accountants 2016 edition yang dikeluarkan oleh International
Ethics Standards Board for Accountants of The International Federation of Accountants
(IESBA-IFAC).

1.2.2 Kode Etik Profesi Akuntan Publik – IAPI


Dari segi sistematika isi yaitu sama dengan Handbook of the Code of Ethics for
Professional Accountants 2016 Edition yang dikeluarkan oleh IESBA-IFAC, kecuali
untuk Seksi 290. Seksi 290 pada Kode Etik Profesi Akuntan Publik adalah Independensi
dalam Perikatan Assurance. Handbook of the Code of Ethics for Professional Accountants
2016 Edition yang dikeluarkan oleh IESBA-IFAC mengembangkan Section 290 menjadi
Section 290 untuk Independence - Audit and Review Engagement, dan 291 untuk
Independence – Other Assurance Engagement.

5
Beberapa paragraf penting pada awal Seksi 290 antara lain yaitu independensi yang
diatur dalam Kode Etik ini mewajibkan setiap Praktisi untuk bersikap:
a. Independensi dalam pemikiran, yaitu sikap mental yang memungkinkan pernyataan
pemikiran yang tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat menganggu pertimbangan
profesional.
b. Independensi dalam penampilan, yaitu sikap yang menghindari tindakan atau situasi
yang dapat menyebabkan pihak ketiga meragukan integritas, objektivitas, atau
skeptisisme profesional dari anggota tim assurance, KAP, atau Jaringan KAP.

1.2.3 Pemberian Jasa Non-Assurance


Pembahasan mengenai pemberian jasa non-assurance dibahas dalam Seksi 290 dan
291 sebagai bagian dari pembahasan mengenai Independensi. Seksi 290.154 sampai
290.214 membahas mengenai pemberian jasa non-assurance untuk klien audit, Seksi
291.138 sampai 291.147 membahas pemberian jasa non-assurance untuk klien assurance.
Jasa non-assurance yaitu sebagai berikut tanggung jawab manajemen, administrative
services, penyusunan catatan akuntansi dan laporan keuangan, jasa penilaian, jasa
perpajakan, jasa audit internal, jasa sistem IT, jasa hukum, dan jasa perekrutan.

1.3 Bagian C : Akuntan Profesional di Bisnis


1.3.1 Seksi 300 Pendahuluan
Bagian ini menjelaskan penerapan kerangka konseptual di Bagian A oleh Akuntan
Profesional di Bisnis dalam situasi tertentu. Bagian ini tidak menjelaskan semua keadaan
dan hubungan yang mungkin dihadapi oleh Akuntan Profesional di Bisnis yang
memunculkan atau dapat memunculkan ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar
etika. Dengan demikian, Akuntan Profesional di Bisnis dianjurkan untuk mewaspadai
keadaan dan hubungan tersebut. Akuntan Profesional di Bisnis dapat bertanggung jawab
dalam mengelola keuangan secara efektif dan memberi nasihat yang kompeten dalam
beragam permasalahan terkait bisnis. Akuntan Profesional lebih bertujuan untuk
menjelaskan keadaan yang dapat mengurangi kepatuhan pada prinsip dasar etika. Selain
itu dijelaskan juga contoh keadaan yang dapat memunculkan ancaman – ancaman (yang
telah disebutkan pada bagian A) bagi Akuntan Profesional di Bisnis.

6
1.3.2 Seksi 310 Benturan Kepentingan
Saat munculnya benturan kepentingan, hal yang harus dilakukan adalah :
a. Mengidentifikasi keberadaan atau munculnya kemungkinan benturan kepentingan.
Akuntan Profesional di Bisnis mengambil langkah-langkah yang rasional untuk
menentukan sifat kepentingan dan hubungan antara para pihak yang terkait; dan sifat
kegiatan dan dampaknya terhadap pihak yang terkait.
b. Jika benturan kepentingan teridentifikasi, Akuntan Profesional di Bisnis mengevaluasi
signifikansi kepentingan atau hubungan yang terkait; dan signifikansi ancaman yang
muncul dari pelaksanaan kegiatan profesional.
c. Akuntan Profesional di Bisnis menerapkan perlindungan yang mungkin tepat yaitu:
(1) Merestrukturisasi atau memisahkan tanggung jawab dan tugas tertentu; (2)
Mendapat pengawasan yang tepat; (3) Menarik diri dari proses pembuatan keputusan
terkait dengan permasalahan yang memunculkan benturan kepentingan; (4)
Berkonsultasi dengan pihak ketiga, seperti Ikatan Akuntan Indonesia, penasihat
hukum, atau Akuntan Profesional lain.

1.3.3 Seksi 320 Penyusunan dan Pelaporan Informasi


Akuntan Profesional di Bisnis mengambil langkah rasional untuk memelihara
informasi yang menjadi tanggung jawabnya dengan cara: (a) Menjelaskan dengan
gamblang mengenai sifat sebenarnya dari transaksi bisnis, aset, atau liabilitas; (b)
Mengklasifikasikan dan mencatat informasi secara tepat waktu dan dengan cara yang
tepat; dan (c) Menyajikan fakta secara akurat dan lengkap dalam semua hal yang material.

1.3.4 Seksi 330 Bertindak dengan Keahlian yang Memadai


Prinsip kompetensi dan kehati-hatian profesional mensyaratkan Akuntan
Profesional di Bisnis hanya melaksanakan tugas signifikan ketika memiliki, atau dapat
memperoleh, pelatihan atau pengalaman tertentu yang memadai. Akuntan Profesional di
Bisnis tidak boleh dengan sengaja menyesatkan pemberi kerja mengenai tingkat keahlian
atau pengalaman yang dimilikinya, ataupun gagal memperoleh nasihat dan bantuan ahli
ketika diperlukan.

7
1.3.5 Seksi 340 Kepentingan Keuangan, Kompensasi, dan Insentif Terkait dengan
Pelaporan Keuangan dan Pengambilan Keputusan
Akuntan Profesional di Bisnis mungkin mempunyai kepentingan keuangan
termasuk kepentingan keuangan yang timbul dari program kompensasi atau insentif, atau
mungkin mengetahui kepentingan keuangan dari anggota keluarga batih atau keluarga
sedarah dan semenda, yang dalam keadaan tertentu dapat memunculkan ancaman
terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika.
Akuntan Profesional di Bisnis tidak memanipulasi atau menggunakan informasi
rahasia bagi keuntungan pribadi atau bagi keuntungan keuangan orang lain. Semakin
tinggi posisi Akuntan Profesional di Bisnis, semakin besar kemampuan dan
kesempatannya untuk memengaruhi pelaporan dan pengambilan keputusan keuangan dan
semakin besar tekanan yang mungkin berasal dari atasan dan rekan kerja untuk
memanipulasi informasi. Dalam situasi demikian, Akuntan Profesional di Bisnis waspada
terutama terhadap prinsip integritas yang mewajibkan Akuntan Profesional di Bisnis
untuk bersikap lugas dan jujur dalam semua hubungan profesional dan bisnis.

1.3.6 Seksi 350 Bujukan


a. Menerima Penawaran
Bujukan dapat memunculkan ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika.
Ketika Akuntan Profesional di Bisnis atau anggota keluarga batih atau keluarga
sedarah dan semenda ditawari bujukan, maka dilakukan evaluasi atas situasi
tersebut. Ancaman kepentingan pribadi terhadap prinsip kerahasiaan atau
objektivitas muncul ketika bujukan diberikan dalam upaya untuk memengaruhi
tindakan atau keputusan, mendorong perilaku ilegal atau tidak jujur, atau
memperoleh informasi rahasia. Ancaman intimidasi terhadap prinsip objektivitas
atau kerahasiaan muncul jika bujukan tersebut diterima dan diikuti dengan ancaman
untuk mempublikasi dan merusak reputasi, baik Akuntan Profesional di Bisnis
maupun anggota keluarga batih atau keluarga sedarah dan semenda.
b. Memberi Penawaran

8
secara tidak pantas keputusan profesional dari pihak ketiga. Ketika tekanan untuk
menawarkan bujukan yang tidak beretika berasal dari dalam organisasi tempatnya
bekerja, maka Akuntan Profesional mengikuti prinsip dan panduan mengenai
penyelesaian benturan etika yang diatur di Bagian A.

1.3.7 Seksi 360 Merespons Ketidakpatuhan pada Hukum dan Peraturan


Tujuan dari Seksi ini adalah untuk menetapkan tanggung jawab Akuntan
Profesional ketika menghadapi adanya ketidakpatuhan atau dugaan ketidakpatuhan
tersebut, serta memberikan panduan bagi Akuntan Profesional dalam menilai implikasi
dari permasalahan dan tindakan yang mungkin dilakukan ketika menanggapinya.
Manajemen dan penanggung jawab tata kelola juga bertanggung jawab untuk
mengidentifikasi dan mengatasi setiap ketidakpatuhan yang dilakukan oleh organisasi
tempatnya bekerja atau individu yang bertanggung jawab oleh tata kelola entitas, anggota
manajemen, atau individu lain yang bekerja untuk, atau di bawah arahan dari, organisasi
tempatnya bekerja.
Jika dalam rangka melaksanakan kegiatan profesional, Akuntan Profesional Senior
menyadari informasi mengenai kejadian ketidakpatuhan atau dugaan ketidakpatuhan,
maka Akuntan Profesioanal tersebut harus memperoleh pemahaman atas permasalahan
tersebut. Jika Akuntan Profesional Senior mengidentifikasi atau mencurigai bahwa
ketidakpatuhan telah terjadi atau mungkin terjadi, maka tunduk pada paragraf 360.11,
Akuntan Profesional Senior membahas permasalahan tersebut dengan atasan langsung,
jika ada, yang memungkinkan dibuatnya suatu penetapan bagaimana cara mengatasi
permasalahan. Jika atasan langsungnya kemungkinan terlibat dalam permasalahan ini,
maka Akuntan Profesional membahas permasalahan ini dengan atasan berikutnya yang
memiliki otoritas lebih tinggi di dalam organisasi tempatnya bekerja.
Selain merespons permasalahan sesuai dengan ketentuan dari Seksi ini, Akuntan
Profesional Senior harus menentukan perlu tidaknya mengungkapkan permasalahan
tersebut kepada auditor eksternal dari organisasi tempatnya bekerja, jika ada, sesuai
dengan tugas atau kewajiban hukum Akuntan Profesional untuk menyediakan semua
informasi yang diperlukan yang memungkinkan auditor untuk melakukan audit.

9
2. Standar Audit
Standar auditing merupakan panduan audit atas laporan keuangan historis. Standar
auditing terdiri dari sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing
(PSA). Standar auditing ditetapkan dan disahkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia
(IAPI) yang meliputi tiga bagian yaitu sebagai berikut:
a. Standar Umum
Standar ini mengatur tentang mutu profesional auditor independen atau persyaratan
pribadi auditor. Standar ini mencakup tiga bagian diantaranya:
1) Audit harus dilakukan oleh orang yang sudah mengikuti pelatihan dan memiliki
kecakapan teknis yang memadai sebagai seorang auditor.
Standar ini menuntut seorang auditor untuk memiliki kompetensi teknis dalam
melaksanakan audit. Kompetensi tersebut ditentukan oleh tiga faktor:
(i) Pendidikan formal dalam bidang akuntansi di suatu perguruan tinggi termasuk
ujian profesi auditor.
(ii) Pelatihan yang bersifat praktis dan pengalaman dalam bidang auditing.
(iii) Pendidikan profesional yang berkelanjutan selama menekuni karir auditor
profesional.
Bila seseorang tidak memiliki pendidikan dan pengalaman memadai dalam bidang
auditing, ia tidak memenuhi persyaratan sebagai auditor meskipun ia ahli sangat ahli
dalam bidang bisnis dan keuangan. Melalui pendidikan, pelatihan, dan
pengalamannya dalam bidang auditing dan akuntansi yang memadai, auditor menjadi
orang yang ahli dalam bidang akuntansi, memiliki kemampuan untuk menilai secara
obyektif dan mempergunakan pertimbangan tidak memihak terhadap informasi
akuntansi yang dihasilkan sistem akuntansi atau informasi lain yang berhasil
diungkapkan melalui audit yang dilakukannya.
2) Auditor harus mempertahankan sikap mental yang independen dalam semua hal yang
berhubungan dengan audit.
Seorang auditor belum cukup jika hanya memiliki kompetensi saja namun auditor
juga dituntut bersikap independen (bebas dari pengaruh klien) dalam melaksanakan
auditing dan melaporkan temuan serta dalam memberikan pendapat. Auditor tidak

10
dibenarkan menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan apabila
ia tidak independen terhadap klien. Terdapat tiga aspek independensi yaitu :
(i) Independensi senyatanya (independence infact), auditor benar-benar tidak
mempunyai kepentingan ekonomis dalam perusahaan yang dilihat dari keadaan
yang sebenarnya.
(ii) Independensi dalam penampilan (independence in appearance), kebebasan
yang dituntut bukan saja dari fakta yang ada, tetapi juga harus bebas dari
kepentingan yang kelihatannya cenderung dimilikinya dalam perusahaan
tersebut.
(iii) Independensi dari keahlian atau kompetensinya (independence in competence),
independensi dari sudut pandang keahlian berkaitan erat dengan kecakapan
profesional auditor dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya.
3) Auditor harus menerapkan kemahiran profesional dalam melaksanakan audit dan
menyusun laporan.
Standar ini menuntut auditor untuk cermat dan seksama dalarn melaksanakan audit dan
dalam mengeluarkan laporan atas temuan-temuannya. Oleh karena itu, auditor yang
berpengalaman harus mengkaji secara kritis pekerjaan dan judgement yang dibuat oleh
para stafnya. Kualitas jasa yang diberikan auditor sangat tergantung pada
kecermatan dan keseksamaan dalam melaksanakan audit dan dalam menyusun
laporan audit. Seorang auditor harus menggunakan seluruh kemampuan,
kompetensi, dan keahliannya dalam melaksanakan tugasnya.

b) Standar Pekerjaan Lapangan


Standar ini mengatur mengenai pertimbangan-pertimbangan yang harus digunakan
dalam pelaksanaan audit. Standar ini mencakup tiga bagian diantaranya:
1) Auditor harus merencanakan pekerjaan secara memadai dan mengawasi semua
asisten sebagaimana mestinya.
Pekerjaan mengaudit harus direncanakan secara memadai agar audit dapat
dilaksanakan secara efisien dan efektif. Perencanaan meliputi pengembangan strategi
audit dan perancangan program audit untuk melaksanakan audit. Meskipun auditor

11
boleh mempekerjakan para asisten, tetapi tanggung jawab atas pekerjaan tersebut
tetap berada di tangan auditor. Oleh karena itu, auditor harus mengarahkan,
mengendalikan, dan mengawasi para asistennya.
2) Auditor harus memperoleh pemahaman yang cukup mengenai pengendalian internal
untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, waktu, serta luas pengujian yang
akan dilaksanakan.
Struktur pengendalian intern merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam
audit. Keandalan data keuangan yang dihasilkan sistem akuntansi dan terjaga
tidaknya keamanan aset sangat ditentukan rancangan dan keefektifan struktur
pengendalian internal. Oleh karena itu, auditor harus mempunyai pemahaman yang
memadai mengenai struktur pengendalian intern klien untuk merencanakan audit.
Pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien akan digunakan untuk:
(i) Mengidentifikasi salah saji yang potensial
(ii) Memperfimbangkan faktor yang mempengaruhi risiko salah saji yang material
(iii) Merancang pengujian substantif
3) Auditor harus memperoleh cukup bukti audit yang tepat dengan melakukan inspeksi,
observasi, tanya-jawab, dan konfirmasi agar memiliki dasar yang layak untuk
memberikan pendapat menyangkut laporan keuangan yang diaudit.
Audit harus menghimpun evidential matter (hal-hal yang membuktikan) dan tidak
sekedar evident atau bukti konkrit sebagai dasar untuk rnenyatakan pendapat atas
laporan keuangan klien. Yang dimaksud dengan evidential matter misalnya
pengetahuan yang ada di pikiran auditor rnengenai uang yang sebenarnya dikeluarkan
untuk membeli suatu aktiva.

c. Standar Pelaporan
Standar ini mengatur tentang pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam
penyusunan laporan audit. Standar ini mencakup empat bagian diantaranya:
1) Laporan harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan
prinsip - prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).

12
Standar ini mengharuskan auditor untuk mengidentifikasikan dan menggunakan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia sebagai kriteria yang dipakai
untuk mengevaluasi asersi-asersi yang dibuat oleh manajemen. Prinsip akuntansi
berlaku umum lebih luas daripada Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984 maupun
Standar Akuntansi Keuangan sebagai pengganti PAI. Perkembangan dunia bisnis
yang pesat menuntut dunia akuntansi untuk selalu menyesuaikan diri dan
mengembangkan diri. Suatu kejadian ekonomi yang baru maupun alat finansial yang
baru terkadang tidak diatur dengan jelas dalam prinsip atau standar akuntansi
keuangan tertulis.
2) Laporan harus mengidentifikasikan keadaan di mana prinsip - prinsip tersebut tidak
secara konsisten diikuti selama periode berjalan jika dikaitkan dengan periode
sebelumnya.
Konsistensi rnerupakan suatu konsep di dalam akuntansi yang menuntut
diterapkannya standar secara terus-menerus, tidak diubah-ubah kecuali dengan alasan
yang dapat dibenarkan misalnya agar laporan keuangan dapat menyajikan posisi
keuangan perusahaan yang sebenamya dan untuk menghindari informasi yang
menyesatkan. Konsistensi sangat diperlukan untuk mendukung komparabilitas
laporan keuangan dari suatu periode ke periode berikutnya. Bila laporan keuangan
telah menerapkan konsistensi sebagaimana mestinya maka laporan audit tidak perlu
menyebutkan frase konsistensi ini.
3) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan dianggap sudah memadai, kecuali
dinyatakan sebaliknya dalam laporan auditor.
Standar ini berkaitan erat dengan informasi tambahan sebagai pendukung dan
pelengkap laporan keuangan. Informasi tambahan tersebut dapat dinyatakan dalam
bentuk catatan atas laporan keuangan maupun bentuk pengungkapan lainnya.
Laporan audit tidak perlu menyatakan hal ini apabila pengungkapan informatif sudah
memadai.
4) Laporan auditor harus berisi pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan, secara
keseluruhan, atau asersi bahwa suatu pendapat tidak bisa diberikan. Jika tidak dapat
menyatakan satu pendapat secara keseluruhan, auditor harus menyatakan alasan -

13
alasan yang mendasarinya. Dalam semua kasus, jika nama auditor dikaitkan dengan
laporan keuangan, laporan itu harus dengan jelas menunjukkan sifat pekerjaan
auditor, jika ada, serta tingkat tanggung jawab yang dipikul auditor.
Standar pelaporan keempat ini bertujuan untuk mencegah terjadinya salah tafsir
tentang tingkat tanggungjawab yang dipikul auditor bila namanya dikaitkan dengan
laporan keuangan. Auditor harus menyatakan bahwa ia tidak dapat memberikan
pendapatnya atas laporan keuangan yang tidak diaudit tetapi namanya dikaitkan
dengan laporan keuangan tersebut. Auditor juga harusmenyatakan bahwa ia tidak
dapat memberikan pendapatnya meskipun seandainya melakukan beberapa prosedur
audit apabila ia tidak independen terhadap klien.

Dari kesepuluh standar tersebut jika dihubungkan dengan konsep auditing maka
standar umum didasari konsep kehati-hatian, independensi, dan etika. Standar pekerjaan
lapangan didasari konsep bukti, dan standar pelaporan didasari konsep penyajian atau
pengungkapan yang wajar.

3. Standar Pengendalian Mutu


Standar pengendalian mutu memberikan panduan bagi kantor akuntan publik di dalam
melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi
berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik dan
Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Kompartemen Akuntan
Publik, Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam perikatan jasa profesional, kantor akuntan publik
bertanggungjawab untuk mematuhi berbagai standar relevan yang telah diterbitkan oleh
Dewan dan Kompartemen Akuntan Publik. Dalam pemenuhan tanggungjawab tersebut,
kantor akuntan publik wajib mempertimbangkan integritas stafnya dalam menentukan
hubungan profesionalnya; bahwa kantor akuntan publik dan para stafnya akan independen
terhadap kliennya sebagaimana diatur oleh Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik dan
bahwa staf kantor akuntan publik kompeten, profesional, dan obyektif serta akan
menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama (due professional
care). Oleh karena itu, kantor akuntan publik harus memiliki sistem pengendalian mutu

14
untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan
berbagai standar dan aturan relevan yang berlaku. Sebagai pedoman, IAASB telah
menerbitkan International Standard on Quality Control (disingkat ISQC) No. 1 yang mulai
berlaku tanggal 1 Januari 2009. Secara garis besar struktur ISQC adalah sebagai berikut: (1)
Pendahuluan yang terdiri dari lingkup, otoritas, dan tanggal efektif; (2) Tujuan; (3) Definisi
; (4) Ketentuan; (5) Penerapan dan Penjelasan Lain .

3.1 Lingkup ISQC


a) ISQC berhubungan dengan tanggung jawab KAP untuk sistem pengendalian mutu
untuk audit dan review atas laporan keuangan dan penugasan asurans serta jasa lain
yang bersangkutan. ISQC harus dibaca dalam kaitannya dengan ketentuan etik yang
relevan.
b) Pernyataan IAASB lain menetapkan standar dan pedoman lain mengenai
tanggungjawab personel KAP tentang prosedur pengendalian mutu untuk tipe
penugasan spesifik. Sebagai contoh, ISA 220 menyangkut prosedur pengendalian
mutu untuk audit atas laporan keuangan.
c) Sistem pengendalian mutu terdiri dari kebijakan yang dirancang untuk mencapai
tujuan serta prosedur yang diperlukan untuk mengimplementasikan dan memantau
kesesuaian dengan kebijakan tersebut.

3.2 Otoritas ISQC


ISQC berlaku bagi semua KAP akuntan profesional datam kaitannya dengan audit dan
review laporan keuangan dan penugasan asurans dan jasa lain yang berhubungan. Sifat dan
luas kebijakan dan prosedur yang dikembangkan oleh seorang individu KAP agar sesuai
dengan ISQC akan tergantung pada berbagai faktor, seperti besarnya dan karakteristik
operasi KAP dan apakah KAP tersebut merupakan bagian dari jaringan kantor akuntan.

3.3 Tujuan
Tujuan KAP menetapkan dan memelihara suatu sistem pengendalian mutu adalah
untuk memberikan asurans yang layak bahwa:

15
(a) KAP dan personalianya mematuhi standar profesional serta ketentuan perundang
undangan dan peraturan yang berlaku; dan
(b) Laporan yang diterbitkan KAP atau partnernya sudah tepat sesuai dengan situasi
yang dihadapi.

3.4 Ketentuan
ISQC memuat 47 ketentuan (ISQC 1.13 — ISQC 1.59) yang terbagi dalam beberapa
kategori sebagai berikut: (a) Penerapan, dan kepatuhan dengan ketentuan yang relevan; (b)
Elemen sistem pengendalian mutu; (c) Tanggungjawab kepemimpinan untuk mutu dalam
KAP; (d) Ketentuan etika yang relevan; (e) Penerimaan klien dan keberlanjutan hubungan
dengan klien serta penugasan khusus; (f) Sumber daya manusia; (g) Pelaksanaan penugasan
(h) Dokumentasi sistem pengendalian mutu.

3.5 Elemen Sistem Pengendalian Mutu


KAP harus menetapkan dan memelihara suatu sistem pengendalian mutu yang
mencakup kebijakan dan prosedur yang mengatur setiap elemen berikut: (a)
Tanggungjawab kepemimpinan untuk mutu dalam KAP; (b) Ketentuan etika yang relevan;
(c) Penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien penugasan tertentu; (d)
Sumberdaya manusia; (e) Pelaksanaan penugasan (f) Pemantauan.

Tabel 3.1 Elemen Pengendalian Mutu

Elemen Ringkasan Ketentuan Contoh Prosedur


Tanggung jawab KAP harus mendorong terciptanya Program pelatihan yang
kepemimpinan untuk suatu budaya bahwa mutu penting diselenggarakan KAP
mutu dalam KAP dalam melaksanakan penugasan menekankan pentingnya mutu
dan harus menetapkan kebijakan pekerjaan dan ini diperkuat
dan prosedur yang mendukung dalam evaluasi pelaksanaan
budaya tersebut. (ISQC 1.18) dan keputusan kompensasi.
Ketentuan etika yang KAP harus menetapkan kebijakan Setiap partner dan karyawan
relevan dan prosedur yang dirancang untuk harus menjawab "daftar
mendapatkan keyakinan memadai pertanyaan tentang

16
bahwa KAP, para personelnya, dan independensi" setiap tahun,
bila perlu subyek lain berkenaan yang bersangkutan dengan
dengan ketentuan independensi, kepemilikan saham dan
menjaga independensi apabila keanggotaan dalam dewan
diwajibkan oleh ketentuan etika komisaris
yang relevan. (ISQC 1.21)
Penerimaan dan KAP harus menetapkan kebijakan Untukv klien baru, harus
keberlanjutan dan prosedur untuk penerimaan dan dibuat formulir evaluasi
hubungan dengan keberlanjutan hubungan dengan tentang klien yang berisi hal-
klien dan penugasan klien serta penugasan tertentu yang hal seperti misalnya komentar
tertentu dirancang agar KAP mendapatkan auditor pendahulu dan
keyakinan memadai bahwa klien evaluasi tentang manajernen,
akan diterima atau hubungan atau sebelum klien tersebut
penugasan akan dilanjutkan diterima.
apabila:
(a) Kompeten untuk melaksanakan
penugasan dan memiliki
kapabilitas, termasuk tersedianya
waktu dan sumberdaya untuk
melaksanakan penugasan tersebut.
(b) Dapat mematuhi ketentuan etika
yang relevan.
(c) Telah mempertimbangkan
integritas klien, dan tidak memiliki
informasi yang dapat mengarah
pada kesimpulan bahwa integritas
klien rendah. (ISQC 1.26)
Sumber daya manusia KAP harus menetapkan kebijakan Setiap profesional harus
dan prosedur yang dirancang untuk dievaluasi untuk setiap

17
mendapatkan keyakinan memadai penugasan dengan
bahwa KAP memiliki personel menggunakan laporan
yang cukup dengan kompetensi, evaluasi penugasan individual
kapabilitas, dan komitmen terhadap yang disiapkan oleh KAP.
prinsip-prinsip etika yang
diperlukan untuk:
(a) Melaksanakan penugasan sesuai
dengan standar profesional dan
ketentuan perundang-undangan dan
peraturan yang berlaku; dan
(b) Menjadikan KAP dan partner
yang ditunjuk dalam penugasan
untuk menerbitkan laporan yang
sesuai dengan situasi yang
dihadapi. (ISQC 1.29)
Pelaksanaan KAP harus menetapkan kebijakan Direktur akuntansi dan
Penugasan dan prosedur yang dirancang untuk auditing KAP siap untuk
mendapatkan keyakinan memadai memberi konsultasi dan
bahwa penugasan dilaksanakan memberi persetujuan atas
sesuai dengan standar profesional semua penugasan sebelum
dan ketentuan perundang-undangan dinyatakan selesai.
serta peraturan yang berlaku, dan
bahwa KAP atau partner yang
bertugas menerbitkan laporan yang
sesuai dengan situasi yang di-
hadapi. Kebijakan dan prosedur
tersebut harus mencakup:
(a) Ha1-hal yang relevan untuk
mendorong konsistensi dan

18
pelaksanaan penugasan berkualitas.
(b) Tanggungjawab supervisi; dan
(c) Tanggungjawab review.
(ISQC 1.32)
Pemantauan KAP harus menetapkan kebijakan Partner pengendalian mutu
dan prosedur yang diperlukan untuk harus menguji prosedur
dokumentasi yang tepat sebagai pengendalian mutu sekurang-
bukti beroperasinya setiap elemen kurangnya setahun sekali
sistem pengendalian mutu. (ISQC untuk memastikan bahwa
1.57) KAP melaksanakan
pengendalian mutu.

4. Laporan Keuangan dan Laporan Auditor Independen (PT Bank CIMB Niaga
Tbk)

4.1 Sekilas Tentang Informasi Umum Perusahaan


PT Bank CIMB Niaga Tbk didirikan dengan nama Bank Niaga yang didirikan pada
tanggal 26 September 1955 . Pada awal pendiriannya, fokus utama Bank Niaga adalah
membangun nilai-nilai inti dan profesionalisme di bidang usaha layanan perbankan. CIMB
Niaga menyediakan beragam produk dan layanan yang lengkap dan inovatif mulai dari
perbankan konsumer, perbankan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), perbankan
komersial, hingga perbankan korporasi, yang didukung dengan kapabilitas tresuri serta
Transaction Banking dan jaringan branchless banking yang mumpuni. CIMB Niaga
memiliki produk dan layanan komersial dan syariah melalui Unit Usaha Syariah CIMB
Niaga Syariah.

4.1 Laporan Keuangan Konsolidasian


Pada laporan keuangan konsolidasian PT Bank CIMB Niaga Tbk untuk tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2016 terdapat laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, serta catatan

19
atas laporan keuangan yang terdapat informasi umum, kebijakan akuntansi, penggunaan
estimasi dan pertimbangan akuntansi yang penting, kas, giro pada Bank Indonesia, giro
pada Bank lain, penempatan pada Bank lain dan Bank Indonesia, efek-efek, obligasi
pemerintah, efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali dan yang dijual dengan janji
dibeli kembali, tagihan dan liabilitas derivatif, kredit yang diberikan, piutang pembiayaan
konsumen, piutang sewa pembiayaan, tagihan dan liabilitas akseptasi, penyertaan, aset
tetap, aset tidak berwujud, aset yang diambil alih, pendapatan yang masih harus diterima,
beban di bayar di muka, aset lain-lain, liabilitas segera, simpanan dari nasabah, efek-efek
yang diterbitkan, pinjaman yang diterima, pajak penghasilan, beban yang masih harus
dibayar dan liabilitas lain-lain, pinjaman subordinasi, modal saham dan tambahan modal
disetor, penggunaan laba bersih, pendapatan bunga dan syariah, beban bunga dan syariah,
provisi dan komisi lainnya dan lain-lain.

4.2 Laporan Auditor Independen


Laporan keuangan PT Bank Cimb Niaga Tbk untuk tahun yang berakhir pada 31
Desember 2016 telah diaudit oleh kantor akuntan publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis &
Rekan yang berafiliasi dengan PWC (PricewaterhouseCoopers), yang dimana bentuk
laporan audit adalah wajar tanpa pengecualian yang terdiri dari judul, pihak yang dituju,
pelaporan atas laporan keuangan,tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan,
tanggung jawab auditor, opini, laporan atas ketentuan perundang-undangan lain, tanda
tangan auditor, tanggal laporan auditor serta alamat auditor. Opini audit terhadap laporan
keuangan konsolidasian PT Bank Cimb Niaga Tbk adalah telah menyajikan secara wajar
dalam semua hal yang material dan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di
Indonesia.

20
DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul. 2008. Auditing 1 (Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan). Yogyakarta: STIE
YKPN.

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2016. Kode Etik Akuntan Profesional.


http://iaiglobal.or.id/v03/files/file_berita/KODE_ETIK_2016.pdf. Diakses 14 Februari 2018

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2017. Standar Profesi Jasa Akuntansi Standar Pengendalian Mutu 1.
http://iaiglobal.or.id/v03/files/file_publikasi/Panduan%20SPM%20KJA/#/24 . Diakses 14
Februari 2018.

Jusup, Al. Haryono. 2014. Auditing (Pengauditan Berbasis ISA) Edisi 2. Yogyakarta : STIE
YKPN.

www.idx.co.id. Diakses pada 15 Februari 2018.

21