Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN

PAPHIOPEDILLUM JAVANICUM (Reinw. ex Lindl.) Pfitzer


Oleh I G.Tirta1

Abstrak: Paphiopedillum javanicum (Reinw. ex Lindl.) Pfitzer me-


miliki bunga menarik sehinga merupakan tanaman hias yang mem-
punyai nilai ekonomi tinggi. Jenis anggrek ini merupakan anggrek
yang langka. Anggrek terestrial yang pertumbuhannya lambat,
dalam konservasi eks-situ di Kebun Raya Bali masih ada masalah,
yaitu tingginya kematian koleksi P. javanicum. Penelitian ini, bertu-
juan untuk mengetahui iklim mikro anggrek P. javanicum. Hasil per-
cobaan menunjukkan bahwa suhu maksimum rata-rata 19.75oC dan
suhu minimum rata-rata 11.04oC. Kelembaban maksimum rata-rata
91.75% dan kelembaban minimum rata-rata 65.45%. Pengaruh suhu
dan kelembaban terhadap laju pertumbuhan dan jumlah daun P.
javanicum tidak berpengaruh nyata. Pada suhu minimum yang
ekstrem (8 oC) pertumbuhan P. javanicum terhenti. Penelitian ini
perlu dilanjutkan untuk mengetahui laju pertumbuhan P. javanicum
dengan menggunakan perlakuan zat pengaruh tumbuh.

Kata kunci: Iklim mikro, Paphiopedillum javanicum, Bali Botanical


Garden.

PENDAHULUAN
Paphiopedillum javanicum (Reinw.ex Lindl.) Pfitzer merupakan tumbuhan terna
terestrial, batang pendek, rumpun tumbuh di atas rimpang yang pendek, diameter akar 2-3
cm, akar berbentuk galah berwarna coklat, tidak mempunyai umbi semu. Daun berseling,
melanset, tersusun rapat, berwarna hijau keabuan totol-totol hijau tua, panjang 15-30 cm,
dan lebar 3,5-5,5 cm. Bunga satu kuntum, bunga bergaris tengah 8-10 cm; daun kelopak
bundar melonong, ujung lancip, berwarna kehijauan dengan garis-garis hijau tua, dua
lateral bersatu; daun mahkota berbentuk pita, ujung lancip, melengkung ke bawah, bagian
bawahnya berbulu, berwarna hijau terang berbintik-bintik ungu; bibir mengarah ke bawah,
berbentuk kantung yang menyerupai kasut, berwarna hijau kecoklatan dengan bintik-bintik
ungu (Tirta, 2006).
Di Asia Tenggara Marga Paphiopedillum terdapat sekitar 80 jenis dan beberapa
jenis di antaranya tanaman endemik. Di Indonesia tumbuhan ini dapat tumbuh secara alami
di kawasan hutan alam seperti di Bali, Flores, Jawa, Sumatra, Kalimantan dan sampai ke

1
I G. Tirta adalah UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali-LIPI.
52

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012


Papua. Persebarannya di Negara Asia Tenggara, India utara dan India Timur, Filipina, me-
lalui Semenanjung Malaya ke Papua Nugini dan kepulauan Solomon. Di Cina tersebar 8
jenis, mencakup di Hainan dan kepulauan Laut Cina Selatan (Djadja dkk., 2006).
Secara geografis, anggrek tersebar dari Benua Arktik hingga Patagonia dan ditemu-
kan di seluruh bagian bumi. Secara topografis, habitatnya tersebar dari pegunungan, dataran
hingga berbukit. Paphiopedillum dapat tumbuh di tanah (terestrial), pada tanaman lain,
biasanya pohon (epifit), pada batuan (litofit atau saksatilik), semi akuatik (berair, namun
tidak berada di bawah permukaan air), rawa, mesic, dan xeric (Arditti, 1977). Anggrek
dapat ditemukan di padang rumput, hutan tropis, hutan berkabut, padang pasir ataupun
daerah kering, pada pohon ataupun batu karang di tepi pantai, di bawah tanah, vegetasi ter-
apung di danau, ataupun habitat lainnya yang mendukung tumbuhan berbunga pada umum-
nya.
Secara alami anggrek (suku Orchidaceae) hidup epifit pada pohon dan ranting-
ranting tanaman lain, namun dalam pertumbuhannya anggrek dapat ditumbuhkan dalam pot
yang diisi media tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman,
seperti faktor lingkungan, antara lain sinar matahari, kelembaban dan temperatur serta pe-
meliharaan seperti: pemupukan, penyiraman serta pengendalian hama dan penyakit. Pada
umumnya anggrek-anggrek yang dibudidayakan memerlukan temperatur 28 °C dengan
temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah pada umumnya lebih tahan panas daripada
anggrek pot. Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat meng-
hambat pertumbuhan tanaman (Anonim, 2007). Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan
untuk anggrek berkisar antara 60–85 %. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman
antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban
dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas
muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedang-
kan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian
semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer (Anonim,
2007).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembaban ter-
hadap laju pertumbuhan dan jumlah daun tanaman Anggrek P. javanicum di Kebun Raya
“Eka Karya” Bali.

METODE
Percobaan ini menggunakan metode deskriptip terhadap 54 spesimen tumbuhan
yang masih muda dengan jumlah 4 helai daun dengan asumsi spesimen tersebut homogen.
53

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012


Parameter yang diamati: kelembaban udara minimum dan maksimum (%), temperatur mi-
nimum dan maksimum (˚C), pengamatan pertumbuhan: tinggi tanaman (cm), dan jumlah
daun. Anggrek P. javanicum ditanam pada media kulit pinus+arang+pakis (1 : 1 : 1). Pene-
litian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Desember 2007, di rumah kaca anggrek
Kebun Raya “Eka Karya” Bali.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Selama penelitan berlangsung (9 bulan) gangguan bibit tumbuhan anggrek tidak
mengalami gangguan hama maupun penyakit. Hasil pencatatan suhu maksimum rata-rata
di dalam rumah kaca 19,75 ˚C dan suhu minimum rata-rata 11,04˚C. Kelembaban rata-rata
maksimum di dalam rumah kaca tercatat 91,75 %, dan kelembaban minimum rata-rata
65,45 %.

Hubungan Laju Pertumbuhan Tanaman dengan Suhu


Laju pertumbuhan pada awalnya sangat lambat dari minggu ke empat sampai
minggu ke 9 belum menunjukkan peningkatan, tapi setelah minggu sepuluh laju pertum-
buhan mulai perlahan naik dengan meningkatnya suhu minimum, pada minggu ke 11 suhu
minimum malah mengalami penurunan yang sangat ekstrem mencapai minus 8, hal ini
juga berdampak terhadap laju pertumbuhan agak terhenti hingga minggu ke 12 (Gambar 1).
Minggu ke 13 suhu minimum dan maksimum mengalami peningkatan diikuti pula dengan
bertambahnya laju pertumbuhan. Menurut Salisbury dan Ross (1995) perubahan suhu be-
berapa derajat dapat menyebabkan perubahan yang nyata dalam laju pertumbuhan tanaman.
Pada tahap tertentu dalam daur hidup tanaman dan pada kondisi kajian tertentu, tiap jenis
atau varietas mempunyai suhu minimum, optimum dan maksimum. Di bawah suhu mini-
mum tumbuhan tidak akan tumbuh, pada rentang suhu optimum laju pertumbuhan paling
tinggi, sedangkan di atas suhu maksimum, tumbuhan tidak tumbuh bahkan mati.
Menurunnya laju pertumbuhan diduga bukan karena bibit mengalami penuaan hal ini ke-
mungkinan aktivitas enzim pada saat suhu turun terhambat. Begitu juga peningkatan per-
tumbuhan diikuti dengan bertambahnya laju pertumbuhan secara perlahan. Menurut
Anonimus (2006), suhu minimum untuk pertumbuhan anggrek adalah 12,7 oC. Jika suhu
udara malam berada di bawah 12,7 oC, maka daerah tersebut tidak dianjurkan untuk di-
tanami anggrek, jenis Anggrek Paphiopedillum, Cymbidium, Oncidium dan Miltonia sebe-
narnya masuk dalam kategori anggrek dataran tinggi, dapat tumbuh dengan baik dengan
suhu dingin berkisar 15-21°C pada siang hari dan 10-13°C pada malam hari dengan ke-
tinggian tempat 2000-4000 m dpl.
54

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012


8
6
Laju Pertumbuhan dan Suhu

4
2
0
-2 4 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
-4
-6

-8
-10
M inggu k e -

Laju pert. Suhu max Suhu min

Gambar 1. Hubungan antara laju pertumbuhan dengan suhu.

Hubungan Laju Pertumbuhan Tanaman dengan Kelembaban


Hubungan laju pertumbuhan dengan kelembaban, hubungan jumlah daun dengan
suhu, serta hubungan jumlah daun dengan kelembaban tampaknya tidak menunjukan hu-
bungan yang nyata terhadap laju pertumbuhan bibit anggrek Paphiopedillum javanicum
yang diamati di dalam rumah kaca anggrek. Fluktuasi perubahan kelembaban dan suhu
yang terjadi siang maupun malam tampaknya belum banyak berpengaruh (Gambar 2, 3,
dan 4).
Kelembaban rata-rata yang ideal untuk pertumbuhan anggrek adalah sekitar 70%-
80% (Anonim, 2006). Kalau dibandingkan hasil pengamatan kelembaban dengan teori me-
nunjukan kelembaban di dalam rumah kaca sudah ideal untuk ditanami anggrek jenis P.
javanicum, selain faktor lainnya seperti sirkulasi udara adalah komponen yang penting
juga untuk mendapatkan perhatian. Penggunaan kipas angin (fan) untuk menjaga udara
tetap mengalir di sekitar tanaman.

55

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012


Laju Pertumbuhan & Kelembaban 8
6
4
2
0
-2 4 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
-4
-6
-8
-10
-12
Minggu ke-

Laju pert. Rata-rata Rh

Gambar 2. Hubungan antara laju pertumbuhan dengan rata-rata kelembaban.

10
Jumlah daun dan suhu

0
4 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

-5

-10
Minggu ke-

Jlh daun Suhu max Suhu min

Gambar 3. Hubungan jumlah daun dengan suhu.

56

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012


Jumlah dan & rata-rata
10
5
kelembaban

0
-5 4 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
-10
-15
Minggu ke-

Jlh daun Rata-rata Rh

Gambar 4. Hubungan jumlah daun dengan kelembaban.

SIMPULAN
Penelitian ini merupakan uji pendahuluan untuk mengetahui sebagian kecil faktor
lingkungan yang berpengaruh terhadap laju pertumbuhan anggrek Pahiopedillum
javanicum di Kebun Raya “Eka Karya” Bali. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan
laju pertumbuhan dan jumlah daun terhadap suhu dan kelembaban belum menunjukan hu-
bungan yang nyata. Pertumbuhan tampak meningkat pada minggu ke-10, peningkatan laju
pertumbuhan sangat lambat walaupun ada peningkatan. Perlu diadakan penelitian lanjutan
dengan waktu yang lebih lama dan perlakuan ZPT misalnya, untuk meransang pertumbuh-
an yang lebih cepat. Hasil pencatatan suhu maksimum rata-rata di dalam rumah kaca
19,75˚C dan suhu minimum rata-rata tercatat 11,04˚C. Kelembaban rata-rata maksimum di
dalam rumah kaca tercatat 91,75 %, dan kelembaban minimum rata-rata 65,45%.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Info Anggrek. www.anggrek.info/index1.php?topik=basic. Diakses tanggal
19 November 2007.
Anonim. 2006. BudidayaAnggrek.
http://www.pustakatani.org/Portals/0/Pustaka/BUDI%20DAYA%20TANAMAN%
20ANGGREK.doc. Diakses tanggal 8 sept 07.
Anonim. 2006. Iklim untuk Pertumbuhan Anggrek.
http://www.nenganggrek.com/news_tips/tanaman_anggrek/. Diakses tanggal 25
Oktober 2007.

57

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012


Anonim. 2006. Paphiopedillum.
http://www.anggrek.info/index1.php?topic=genus&section=paph diakses tg. 7
Januari 2008
Anonim. 2007. Melirik Konservasi Anggrek Vanda tricolor di Merapi.
http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/. Di akses tanggal 19 Nopember 2007
Arditti.J. 1977. Fundamentals Of Orchid Biology. Departement Of Developmental and Cell
Biology University Of California. P: 587.
Djadja Siti Hazar Hoesen, Tirta .I.G., Siti Fatimah hanum, 2006. Prosea. Tanaman Hias
dalam Ruangan di Indonesia. Sumber Daya Nabati No. 20.1. Hal. 94
Salisbury F.B. dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, terjemahan Diah R. Lukman
dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung. 173 hal.
Tirta .I G, 2006. Prosea. Tanaman Hias dalam Ruangan di Indonesia. Sumber Daya Nabati.
No. 20.1. hal. 102.

58

WIDYATECH Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 11 No. 3 April 2012