Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN

DAN LAJU FOTOSINTESIS TANAMAN CABE MERAH


(Capsicum annuum L) SEBAGAI SALAH SATU
SUMBER BELAJAR BIOLOGI

Mustofa Khoiri
Guru MAN 2 Metro dan Dosen Pendidikan Biologi FKIP
Universitas Muhammadiyah Metro, E-mail: mustofahel@yahoo.com

Abstrak: This research aim to know the effect of wings of to growth and
photosynthesis speed at red pepper crop. The result of the research indicates
that wings of to red pepper crop from aspect morfologis haves an in with plant
height and plane flattened dry weight, but at leaf wide, leaves, and effect leaf
length wings of doesn't significan influence compared with control. From
physiological aspect, wings of at red pepper crop influences value quantum
yield, photochemical quenching, and non photochemical quenching, but at
value Q max doesn't show real influence. In aspect ecophyisiologic, wings of
triggering produce of prolin and ascorbic acid which significan. Inferential that
red pepper Capsicum annuum L very responsive in process of adaptation to
environmental change for example grasp in the form of low light intensity. The
result of the research gives contribution as source of teaching material in
biology learning.

Kata kunci: Naungan, Capsicum annuum L, aspek ekofisiologis.

Cabe merah (Capsicum annuum L) kekurangan unsur hara besi (Fe).


termasuk ke dalam famili Solanaceae. Sebaliknya apabila pH kurang dari lima
Terdapat sekitar 20 – 30 spesies yang tanaman juga akan kerdil karena
termasuk ke dalam genus Capsicum kekurangan unsure calsium (Ca) dan
diantaranya adalah lima spesies yang Magnesium (Mg) atau keracunan
telah dibudidayakan yaitu Capsicum aluminium atau mangan (Sumarni,
baccatum, Capsicum pubescens, 1996).
Capsicum annuum, Capsicum chinense, Pertumbuhan akan optimal apabila
Capsicum frutescent. Tanaman cabe semua komponen tersedia dalam jumlah
dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. yang seharusnya. Suhu ,ketersediaan
Tanah yang paling ideal untuk tanaman CO2, dan cahaya merupakan unsur
cabai adalah yang mengandung bahan dalam kegiatan fotosintesis. Pada
organic sekurang kurangnya 1.5 % dan umumnya tumbuhan daerah tropis tidak
mempunyai pH antara 6.0-6.5. Keadaan mampu melakukan fotosintesis pada
pH tanah sangat penting karena erat suhu 5oC, maka meskipun sinar ada, CO2
kaitannya dengan ketersediaan unsur terpenuhi kegiatan fotosintesis akan
hara Apabila ditanam di tanah dengan terhambat dalam hal ini dapat dikatakan
pH lebih dari 7 tanaman cabe akan bahwa temperatur merupakan faktor
menunjukkan gejala klorosis , yakni penghambat (limiting factor). Demikian
tanaman akan kerdil dan daun akan pula CO2 terpenuhi, suhu optimum
menguning yang disebabkan oleh (antara 10-35 oC) tetapi sinar kurang
banyak maka fotosintesis juga akan pelepasan penyerapan cahaya dalam
menjadi terhambat, hal ini dikatakan bentuk panas dan bisa diukur sebagai
bahwa sinar juga menjadi faktor nonfhotochemical quenching dari
penghambat proses fotosintesis fluorosence klorofi. Fungsi biologis
(Dwijoseputro, 1990). Faktor cahaya, ascorbic peroksidase (APX) adalah
suhu, CO2 ,air dan zat hara mencegah akumulasi H2O2 dan enzim
mempengaruhi laju fotosintesis tanaman mengkatalisasi suatu reaksi di mana
(Treshow, 1970) dan berpengaruh pada askorbat bertindak sebagai donor
kepadatan kanopi ,ukuran dan bentuk elektron dan H2O2 mengalami reduksi
daun serta sudut letak daun (Hughes, menjadi air (Ayhan, 2000).
1965). Apabila lingkungan subur, air Laju fotosintesis tanaman salah satunya
tersedia dan suhu yang sesuai ,maka bisa diukur dari fluorescence klorofil
radiasi merupakan faktor utama yang yang terjadi pada awal periode
mempengaruhi pertumbuhan dan hasil fotosintesis. Tiap quantum cahaya yang
tanaman (Fisher, 1975) dan terdapat diserap oleh molekul klorofil akan
hubungan yang erat antara radiasi meningkatkan elektron dari kondisi
dengan fotosintesis bersih (Wilson, ground state ke excited state. Secara
1980). umum, fluorescence yield tinggi ketika
Terdapat perbedaan morfologi reaksi fotokimia dan pelepasan dalam
daun yang berhubungan dengan proses bentuk bahang rendah. Oleh karena itu
fotosintesis: ketebalan daun, kloroplas, perubahan fluorescence yield
anatomi daun, dan enzim siklus Calvin. mencerminkan perubahan efisiensi
perubahan ini di respon tumbuhan fotokimia dan perubahan pelepasan
dengan laju fotosintesis turun, dalam bentuk bahang.
berfotosintesis dengan laju tinggi
walaupun dengan cahaya rendah, titik METODE
kompensasi cahayanya sangat rendah
sehingga pertumbuhannya sangat lambat Penelitian ini dilaksanakan di
(Salisbury dan Rose, 1991). green hause selama 21 hari dengan
Sel tumbuhan tertentu yang yang menggunakan tanaman cabe merah
terpapar kondisi lingkungan yang kurang (Capsicum annuum, L) yang ditanam di
cocok misalnya kekeringan, kadar polibag dengan media tanam tanah dan
garam, temperatur rendah, dan naungan kompos 2 : 1, dengan rancangan acak
akan menghasilkan prolin untuk menjaga lengkap dan 5 kali ulangan. Data
keseimbangan osmotik sel. Hal ini morfologi diperoleh dari pengamatan
dilakukan untuk mengatur tekanan jumlah daun, lebar daun, panjang daun,
osmotik pada kondisi cekaman (osmotic dan tinggi batang. Data ini diambil pada
adjustment). Gen yang menyandi saat menjelang perlakuan dan dianggap
proline dehydrogenase yang adalah sebagai data T0. Setelah hari ke 8 dalam
bertanggung jawab untuk oksidasi perlakuan dilakukan kembali
proline sebagai regulator terhadap pengambilan data morfologis. Pada
cekaman (Leegood, 2001). pengukuran akhir aspek morfologi tidak
Asam askorbat memenuhi selengkap seperti pada data awal (T0),
banyak fungsi penting pada biologi hal ini disebabkan pada pengukuran
tanaman Asam askorbat juga digunakan jumlah laju fotosintesis menggunakan
sebagai ko-faktor untuk violaxantin daun sebagai bahan uji. Pada akhir
deoxidase pada siklus xanthopyl. Proses sebelum penyimpanan dilakukan
ini dilibatkan dalam perlindungan
penimbangan pada bobot kering akar dan daun ( 5gr ) digerus dalam 10 ml asam
tajuk. metafosforik 5%. Hasil gerusan disaring
dengan filter Wathman no1. Filtrat yang
Analisis Prolin diperoleh ditritasi dengan
dichlorofhenol-indophenol (DCIP) 0.8 gr
Analisis prolin dilakukan dengan l-1. Titrasi dihentikan ketika filtrate tepat
menggunakan spectrophotometer: berwarna pink. Standar asam askorbat
Sebanyak 0.5 g sample daun digerus diketahui dengan mentritasi asam
dengan 10 ml asam sulfosalisilik 3% askorbat murni yaitu 1 ml larutan yang
kemudian hasil gerusan disaring dengan mengandung asam askorbat (4.0 mg l-1)
filtrat Wathman no 42. Sebanyak 2 ml dan 9 ml asam metaphosphorik 5 %
filtrate direaksikan dengan 2 ml asam ditritasi dengan dichlorophenol-
ninhydrin (mengandung 1.25 g indophenol ( DCIP) 0.8 g l-1
ninyhidrin dihangatkan (suhu 60 o C) Kandungan ASA diperoleh dengan
dalam 2 ml asam asetat glacial di dalam rumus sebagai berikut:
tabung reaksi. Larutan tersebut di oven a. Untuk standarisasi larutan ASA ( 4
100 o C selama 1 jam.kemudian larutan mg ASA murni equivalent dengan 1 ml
didinginkan segera dalam ice bath dye ASA (mg) = 4 mg ASA Murni 1 ml
sampai beberapa menit ( dingin ). dye yang ditritasi (ml)
Tambahkan 4 ml toluene ke dalam
tabung reaksi, vortek sekitar 15 sampai b.Untuk mengetahui kandungan ASA
20 detik sampai terlihat adanya daun tanaman (ASA 100 g-1 jaringan
pemisahan larutan ,ambil larutan yang daun): mg ASA per aliquot x [total
bagian atas (terlihat agak merah muda) volume ekstrak (ml) /volume aliquot
masukkan ke dalam tabung (ml)]x [100/berat sample]
spectrophotometer. Hasil pemisahan
larutan tersebut dispectro pada panjang Pengukuran laju fotosíntesis
gelombang 520 nm, dan sebagai
blangkonya dipakai toluene. Standar Pengukuran laju fotosintesis
prolin diperlukan untuk mengetahui diukur dengan menggunakan perangkat
prolin murni pada berbagai konsentrasi quibet system. Daun tanaman diletakkan
prolin dengan menggunakan kurva pada ”kuvet”. Daun diututup dengan
standar prolin. Sample diganti dengan kain hitam selama lebih kurang 20
prolin murni yang dilarutkan dalam asam menit. Saturating flash dinyalakan,
sulfosalisilik 3 % dengan konsentrasi 20, fluorescence akan meningkat dari nilai
10, 5, 2.5 , 1.25, 0.625 ppm. ground state (Fo) ke nilai maksimum
Konsentrasi prolin ditentukan dari (Fm). Dari sini diperoleh efisiensi
kurva standar dan dihitung berdasarkan quantum maksimum dengan rumus:
berat segar yaitu: (µg prolin /ml toluene) Fv/Fm = (Fm-Fo)/Fm. Actinic light
/ 115.5 µg / µmol (g sample) / 5 = µ mol dinyalakan, pada kondisi ini
prolin / g bobot basah bahan. fluorescence yield meningkat yaitu pada
kondisi nilai steady state (Ft). Saturating
Analisis Asam askorbat flash dinyalakan interval 20 detik, akan
meningkatkan fluorescence yield pada
Metode yang dipakai adalah kondisi maksimum (Fm’) (nilainya akan
metode titrasi asidialkali, berdasarkan lebih rendah dari kondisi gelap (tanpa
perubahan asam menjadi basa dengan actinic light on). Maka diperoleh
langkah langkah sebagai berikut: Sampel photochemical quenching (qP) = (Fm’-
Ft)/(Fm’-Fo), non photochemical tanaman, banyak daun, dan panjang
quenching (NPQ)=(Fm-Fm’)/Fm’ dan daun. Hasil pengamatan menunjukkan
quantum yield dari transfer elektron pada rata-rata ada perbedaan peningkatan
PSII (ФPSII)=(Fm’-Ft)/Fm’ dan yang tinggi tanaman. Pada control,
terakhir diperoleh Fv’/Fm’[(Fm’- peningkatan rata rata tinggi tanaman
Fo’)/Fm’]. sekitar 1 cm yaitu dari 4.7 cm menjadi
5.7 cm. Sedangkan pada perlakuan
HASIL naungan peningkatan tinggi tanaman
lebih besar yaitu 3.1 cm dari 2 cm
Data morfologis yang diambil menjadi 5,1 cm.
dalam penelitian ini adalah tinggi
grafik Q max pengaruh naungan terhadap tanaman cabe

Tabel 1. Nilai rata rata pengaruh naungan 0.8

terhadap panjang akar,tajuk, serta 0.7

Q m ax /chl (m mol mol-1 s-1


berat kering akar dan tajuk 0.6

0.5

Parameter Kontrol Naungan


0.4

Panjang akar 19.80 cm 18.10 cm 0.3

Panjang Tajuk 13.88 cm 12.18 cm 0.2

Berat Kering Akar 0.209 gr 0.102 gr kontrol


Berat Kering 0.119 gr 0.062 gr
0.1
A naungan

Tajuk 0
0 2 4 6 8 10 12 14

lama hari setelah perlakuan

pengaruh naungan terhadap kandungan prolin Grafik quantum yield pengaruh naungan pada tanaman cabe
0.8
2
1.8
quantum yield (m ol CO2 per absorbed

kontrol
0.7
1.6 naungan

1.4
kandunganprolin

0.6
1.2
1
m ol quanta)

0.5
0.8
0.6 0.4

0.4
0.2 0.3

0
0.2
0 5 10 15
pengamatan hari ke

Gambar 1.Pengaruh naungan terhadap prolin 0.1 B kontrol

naungan
0.0
0 2 4 6 8 10 12 14

hari ke setelah perlakuan


Grafik Kandungan ASA Pengaruh Tanaman Terhadap Naungan
900

800 Grafik Fhotoquenching Pengaruh Naungan TerhadapTanaman Cabe


kontrol
700 1
naungan
0.98
Kandungan ASA

600 kontrol
500 0.96 naungan
400 0.94
Nilai Fhotoquenching

300 0.92
200
0.9
100
0.88
0
0 2 4 6 8 10 12 14 0.86
Hari Pengamatan
0.84
Gambar 2. Pengaruh naungan terhadap asam 0.82 C
askorbat 0.8
0 2 4 6 8 10 12 14
hari setelah perlakuan
Grafik Non Fhotoquenching Pengaruh naungan pada tanaman cabe
berat kering tajuk dapat dilihat dalam
0.5 tabel berikut :
0.45 Dari data panjang dan berat
0.4
kering antara akar dan tajuk, perlakuan
0.35
naungan memiliki nilai rata rata panjang
N ila i N o n F h o to q u e n c h in g (q N )

0.3
dan berat kering lebih rendah
0.25
dibandingkan dengan kontrol, naungan
0.2
menyebabkan titik kompensasi cahaya
0.15

0.1
kontrol
naungan
sangat rendah dan menyebabkan
0.05 D pertumbuhannya sangat lambat
0
(Salisbury dan Rose, 1991). Produksi
0 2 4 6 8 10 12 14

Hari setelah perlakuan biomassa mengakibatkan bobot, dapat


diikuti dengan pertambahan lain yang
dapat dinyatakan secara kuantitatif.
PEMBAHASAN Oleh karena itu pengukuran biomassa
total tanaman akan merupakan parameter
Tanaman cabe yang dinaungi yang paling baik digunakan sebagai
memiliki rata rata peningkatan tinggi indikator pertumbuhan tanaman. Bahan
tanaman lebih tinggi dibandingkan kering tanaman dipandang sebagai
dengan tanaman cabe yang tidak manisfestasi dari semua proses dan
dinaungi . Hal ini sesuai dengan hasil peristiwa yang terjadi dalam
penelitian Darmijati (1992) pada pertumbuhan tanaman. Karena itu
tanaman kedelai varietas orba tinggi variabel ini dapat digunakan sebagai
tanaman pada perlakuan naungan lebih ukuran global pertumbuhan tanaman
tinggi dari pada tanaman tanpa naungan. dengan segala peristiwa yang dialaminya
Adaptasi tanaman terhadap naungan (Sitompul dan Guritno, 1995).
akan mempengaruhi morfologi ,
anatomi, dan fisiologi tanaman, Analisis Prolin
diantaranya dapat melalui peningkatan
luas daun dan tinggi tanaman sebagai Sel tumbuhan yang terpapar
upaya mengurangi penggunaan kondisi lingkungan yang kurang cocok
metabolit, dan mengurangi cahaya yang misalnya kekeringan, kadar garam,
ditransmisikan dan direfleksikan (Hale temperatur rendah, dan naungan akan
dan Oreutt, 1970) menghasilkan prolin untuk menjaga
Pada pengamatan banyaknya keseimbangan osmotik sel. Mengatur
daun, naungan mempengaruhi tekanan osmotik pada kondisi cekaman
terbentuknya daun pada kelompok atau dikenal dengan osmotic adjustment
perlakuan. Pada tanaman cabe naungan akan menghasilkan senyawa terlarut
mempunyai rata-rata jumlah daun yang yang diakumulasi selama proses osmotic
lebih tinggi dari tanaman cabe kontrol. adjustment seperti senyawa gula dan
Hal ini berkaitan dengan adanya usaha asam prolin. Kandungan prolin tanaman
untuk meningatkan laju fotosintesis. cabe pada perlakuan kontrol mengalami
Tumbuhan pada naungan akan penurunan sampai pengamatan terakhir.
meningkatkan laju fotosintesis Sedangkan pada perlakuan naungan
diantaranya dengan memperbanyak kandungan prolin mengalami
jumlah kloroplas (Lambers, 1998). peningkatan yang tajam dari pada
Untuk pengamatan panjang akar, pengamatan hari ke 8, kemudian
panjang tajuk serta berat kering akar dan mengalami penurunan sampai
pengamatan terakhir (Gambar 1). elektronnya ke radikal x-tocopheroxyl
Peningkatan kandungan prolin adalah dan aktifitas-trans-membran plasma
mekanisme osmotic adjustment terhadap oksidoreduktase. Recycling x-
intensitas cahaya kurang akibat tocopheroxyl dapat membantu
perlakuan naungan. Pada akhir melindungi membran plasma dari
pengamatan kandungan prolin untuk peroksidasi (Anonym, 2007).
kedua perlakuan mendekati angka yang
sama, karena tanaman cabe pada Laju Fotosintesis
perlakuan naungan sudah mengalami
proses adaptasi terhadap intensitas Fotosintesis dapat berjalan
cahaya rendah. dengan optimal apabila semua
komponen tersedia dalam jumlah yang
Analisis Asam Askorbat seharusnya. Suhu, ketersediaan CO2,
cahaya merupakan unsur yang berperan
Asam askorbat merupakan asam dalam kegiatan fotosintesis. Maka untuk
organik dengan kemampuan antioksidan mengetahui laju fotosintesis dapat dilihat
yang mudah larut dalam air dan sangat dari nilai Q mak (quantum maksimal),
mudah dioksidasi sebagai senyawa photochemical quenching (PQ), dan non
reduktan. Asam askorbat akan rusak bila photochemical quenching (NPQ).
ditempatkan pada cahaya atau panas Dari grafik A diperoleh nilai Q
yang akan berubah dalam bentuk max pada perlakuan naungan terjadi
teroksidasi yaitu asam dehidroaskorbat peningkatan dari hari ke 0 sampai hari
(Anonym, 2007). Fungsi biologis ke 8, setelah itu menunjukkan penurunan
askorbat peroksidase (APX) adalah sampai pengamatan terakhir hari ke 12.
mencegah akumulasi H2O2 dan, enzim Sedangkan pada perlakuan kontrol
mengkatalisasi suatu reaksi di mana terjadi penurunan dari hari ke 0 sampai
ascorbat bertindak sebagai donor hari ke 12. Naungan secara langsung
elektron dan H2O2 mengalami reduksi berpengaruh terhadap intensitas cahaya
menjadi air (Ayhan, 2000). yang sampai dipermukaan tajuk
Hasil pengamatan menunjukkan tanaman. Dari grafik B diperoleh nilai
tanaman kontrol mengalami penurunan Quantum yield pada perlakuan naungan
di awal dan mengalami peningkatan terjadi peningkatan dari hari ke 0
pada hari ke 8 sampai pengamatan sampai hari ke 8, setelah itu
terakhir (Gambar 2). Sedangkan pada menunjukkan penurunan sampai
perlakuan naungan kandungannya terus pengamatan terakhir hari ke 12.
mengalami penurunan dari awal Sedangkan pada perlakuan kontrol
pengamatan sampai hari terakhir. Hal ini terjadi penurunan dari hari ke 0 sampai
sesuai dengan fungsi asam askorbat bagi hari ke 12. Naungan secara langsung
tumbuhan sebagai ko-faktor untuk berpengaruh terhadap intensitas cahaya
violaxantin deoxidase pada siklus yang sampai dipermukaan tajuk
xanthopyl. Proses ini berperan dalam tanaman. .Pemberian naungan pada
perlindungan pelepasan penyerapan tnaman selain mengurangi intensitas
cahaya dalam bentuk panas dan bisa cahaya juga spektrum cahaya yang
diukur sebagai nonfhotochemical diterima daun dibawah naungan akan
quenching dari fluorosence klorofil. berbeda dengan spectrum cahaya
Asam askorbat sebagai senyawa langsung (Edmond et al,1983).
antioksidan dapat berinteraksi dengan Dari grafik C nilai photochemical
membran plasma dan mendonorkan quenching untuk perlakuan kontrol
terjadi penurunan dari hari ke 0 sampai daun, dan panjang daun pengaruh
pengamatan terakhir hari ke 12, naungan tidak mempengaruhi secara
sedangkan pada perlakuan naungan signifikan dibandigkan dengan kontrol.
terjadi penurunan qP pada pengamatan Dari tinjauan laju fotosintesis naungan
dari hari ke 0 sampai hari ke 8, pada tanaman cabe mempengaruhi pada
selanjutnya nilai qP mengalami nilai quantum yield, photochemical
peningkatan sampai pengamatan hari ke quenching, dan non photochemical
12, hal ini berarti mulai terjadi aklimasi quenching tetapi pada nilai Q mak tidak
terhadap perubahan cahaya rendah. Pada memperlihatkan pengaruh yang tidak
akhirnya nilai qP antara pada nyata. Tanaman cabe adalah tanaman
pengamatan terakhir antar perlakuan yang relatif lebih rentan terkena dampak
kontrol dan naungan mendekati nilai dari naungan. Dari tinjauan aspek
yang sama ekofisiologis perlakuan pemberian
Dari grafik D nilai NPQ untuk naungan telah memicu produksi prolin
perlakuan kontrol dan naungan pada dan asam askorbat yang cukup
pengamatan hari ke 0 sampai hari ke 8 signifikan. Tanaman cabe merah
tidak mengalami perubahan. Pada Capsicum annuum L sangat responsif
perlakuan naungan setelah hari ke 8 dalam proses adaptasi terhadap
mengalami peningkatan yang nyata, perubahan lingkungan misalnya
sedangkan pada perlakuan kontrol tidak cekaman berupa intensitas cahaya yang
mengalami perubahan sampai pada rendah.
pengamatan hari terakhir.
Sebagai salah satu sumber belajar Saran
biologi, kajian ini mendukung materi Dalam rangka meningkatkan hasil
pokok pertumbuhan dan perkembangan. dari budidaya tanaman cabe maka perlu
Guru biologi dapat memanfaatkan diperhatikan bahwa untuk mendapatkan
metode maungan dalam kegiatan hasil optimal maka harus diperhatikan
eksperimen bagi siswa. Perangkat beberapa faktor. Selain memenuhi unsur
pendukung yang dibutuhkan adalah hara tanah, maka harus diupayakan agar
petunjuk praktikum dan lokasi kegiatan proses fotosintesis sebagai proses utama
praktikum (green house atau kebun dalam menghasilkan buah cabe yang
sekolah). Pemanfaatan hasil penelitian berkualitas harus diusahakn seoptimal
ini secara langsung, sebagai suplemen mungkin dengan cara menghindarkan
materi pokok pertumbuhan dan dari naungan yang berlebihan.
perkembangan dengan memasukkannya Sebagai sumber belajar biologi,
sebagai informasi pengayaan materi kajian ini mendukung materi pokok
pembelajaran biologi. pertumbuhan dan perkembangan.
Kepada guru biologi disarankan untuk
KESIMPULAN DAN SARAN mengembangkan perangkat
pembelajaran dengan memasukkan
Kesimpulan informasi hasil penelitian ini, sehingga
Berdasarkan hasil dan pembahasan memperkaya pengetahuan siswa tentang
dapat disimpulkan bahwa pemberian pertumbuhan dan perkembangan. Selain
naungan pada tanaman cabe merah itu, langkah-langkah metode penelitian
Capsicum annuum L dari aspek ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan
morfologis berpengaruh pada tinggi eksperimen.
tanaman dan rata rata berat kering secara
nyata, tetapi pada lebar daun, banyak
DAFTAR RUJUKAN Leegood. C.Peter J.Lea. 2001. Plant
Biochemistry And Molecular
Anonim.2007. Petunjuk Praktikum Biology.Second edition. John Wiley
Metabolisme Tumbuhan, FMIPA and Sons
Biologi, Bogor: IPB.
Sitompul, S.M. dan B.Guritno. 1995.
Agne ,S Gigon. 2004. Effect of Drought Analisis Pertumbuhan Tanaman.
Stress on Lipid Metabolism in the Yogyakarta: Gajah Mada University
Leaves of Arabidopsis thaliana Press.
(Ecotype Columbia)
Sumarni. 1996. Teknologi Bertanam
Ayhan Celik, 2000. Catalyticoxidation Cabe. Yogyakarta: Gajah Mada
of p-Cresl by Ascorbate feroksidase. Univercity Press.
Archive of Biochemistry and
Treshow. K.M. 1970. Environment and
Biophysics 373 :175-181
Plant Response. Mc Graw Hill
Chang .Je –Hu .1968. Climate and Book Company 422 pp.
Agriculture .An Ecological Survey.
Aldine Publishing Company.
Darmijati .S.1992. Pengaruh Naungan
Terhadap Pertumbuhan Kedelai dan
Kacang Tanah. Journal Agroment
VIII 1.32-40.
Dwijoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi
Tumbuhan Jakarta: Penerbit
Gramadia.
Edmond J B. Senn A M . Andrews F A.
1983. Fundamental of Holticulture.
New Delhi . Mc Graw Hill.
Ensiklopedia Pangan Plus. 2007.
Pengaruh Pengolahan terhadap
Biovalabilitas zat Besi Pangan.
pluss All Right Reserved.
Salisbury, F.B. Clean W Ross .1991
Fisiologi Tumbuhan. Bandung:
ITB.
Hughes .R. 1965. Climatic factors in
relation to growth and survival of
pasture Plants. J .Britt .grassal. Soc.
20:263-272.
Jones H G 1992 . Plants and
Microclimate . Cambridge Univ Pr .
411p.
Lambers. H. Stuart, F.C. Thijs. 1998.
Plant Physiological Ecology.
Springer