Anda di halaman 1dari 8

BAB III

DASAR TEORI

Survey tambang merupakan kegiatan pendukung yang sangat penting dalam


pertambangan, baik pada tahap persiapan (eksplorasi), selama kegiatan operasional,
maupun penutupan tambang. Pada kegiatan persiapan seperti pemetaan topografi,
perencanaan desain tambang dan pembangunan fasilitas tambang. Ilmu ukur
tambang adalah salah satu aplikasi dari ilmu geodesi dan rekayasa yang berhubungan
dengan masalah pertambangan. Tujuan ilmu ukur tambang, menyajikan secara grafis
(rencana atau bagian dari rencana) bentuk dan kejadian gambaran penyebaran bahan
galian serta struktur yang ada dari kenampakan permukaan bumi.
Pengukuran tambang selama kegiatan tambang berlangsung (operasional)
misalnya pada pengukuran volume penggalian, volume disposal, dan volume
stockpile. Sedangkan pada penutupan tambang, data survey tambang digunakan
untuk pembuatan dasar rencana reklamasi.
Untuk melakukan sebuah pengukuran diperlukan perencanaan dan persiapan
terlebih dahulu agar hasil yang diperoleh dapat digunakan secara efektif dengan
waktu, biaya dan tenaga pengukuran yang efisien.
Pengukuran (survey) adalah sebuah teknik pengambilan data yang
dapat memberikan nilai panjang, tinggi dan arah relatif dari sebuah obyek ke obyek
lainnya. Hasil penelitian geodesi dipakai sebagai dasar referensi pengukuran,
kemudian hasil pengolahan data pengukuran adalah dasar dari pembuatan peta
(Wongsotjitro, 1985).
Kegiatan pengukuran (survey) dilakukan dalam proses tahapan-tahapan
sebagai berikut :
1. Eksplorasi
2. Pengukuran Luasan Tambang
3. Studi Geoteknik dan Geohidrologi / Hidrologi
4. Studi Kelayakan
5. Perencanaan Tambang

3-1
6. Penambangan (Produksi – Eksploitasi - Pengolahan – Pemurnian)
7. Pengangkutan dan Penjualan
8. Penutupan Tambang

3.1. Metode Pemetaan Topografi


Secara garis besarnya, metode pemetaan topografi dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu metode teristris dan metode fotogrametris.
1. Metode Teresteris
Dalam metode ini, semua pekerjaan pengukuran topografi dilaksanakan di
lapangan dengan menggunakan peralatan ukur, seperti theodolit, waterpas, alat ukur
jarak, serta peralatan ukur modern lainnya (GPS, total station, dan lain-lain).
Pengukuran topografi adalah pengukuran posisi dan ketinggian titik kerangka
pemetaan serta pengukuran detail topografi (semua objek yang terdapat di
permukaan bumi). Yang dimaksud dengan kerangka pemetaan adalah jaringan titik
kontrol tanah (X dan Y) dan height (Z) yang akan digunakan sebagai referensi atau
acuan pengukuran dan titik kontrol pengukuran.
Setelah semua data lapangan terukur secara akurat, maka data-data tersebut
kemudian diolah dalam data processing. Pengolahan data ini terdiri atas perhitungan
data kerangka pemetaan dan data detail topografi, penggambaran detail topografi,
serta proses kartografi. Hasil akhir dari pengolahan data ini adalah berupa peta
topografi. Secara garis besar, langkah-langkah pemetaan secara terestris adalah
sebagai berikut :
a. Persiapan, yang meliputi peralatan, perlengkapan dan personil.
b. Survei pendahuluan (reconaisance survey), maksudnya peninjauan lapangan lebih
dahulu untuk melihat kondisi medan secara menyeluruh, sehingga dari hasil ini
dapat ditentukan :
1) Teknik pelaksanaan pengukurannya.
2) Penentuan posisi titik-titik kerangka peta yang representatif dalam arti
distribusinya merata, intervalnya seragam, aman dari gangguan, mudah
didirikan alat ukur, mempunyai kapabilitas yang baik untuk pengukuran detail,
saling terlihat dengan titik sebelum dan setelah detail.

3-2
b. Survei pengukuran, meliputi :
1) Pengukuran kerangka peta (misalnya poligon) meliputi sudut, jarak, dan beda
tinggi.
2) Pengukuran detail
3) Pengukuran khusus
c. Pengolahan data
1) Perhitungan kerangka peta (X, Y, Z)
2) Perhitungan detail (X, Y, Z) atau cukup sudut arah/azimutnya, jarak datar, dan
beda tinggi, dari titik ikat.
d. Plotting atau penggambaran, meliputi:
1) Plotting kerangka peta dan detail
2) Penarikan garis kontur dan Editing

2. Metode Fotogrametris
Pengukuran detail topografi (disebut pengukuran situasi) selain dapat
langsung dikerjakan di lapangan, dapat pula dilakukan dengan teknik pemotretan dari
udara, sehingga dalam waktu yang singkat dapat terukur atau terpotret daerah yang
seluas mungkin. Dalam metode fotogrametri ini, pengukuran lapangan masih
diperlukan dalam proses fotogrametris selanjutnya.
Pada dasarnya, metode fotogrametri ini mencakup fotogrametris metrik dan
interpretasi citra. Fotogrametris metrik merupakan pengenalan serta identifikasi
suatu objek pada foto. Dengan metode ini, pengukuran tidak perlu dilakukan
langsung di lapangan, tetapi cukup dilaksanakan di laboratorium melalui pengukuran
pada citra foto. Untuk melaksanakan pengukuran tersebut, diperlukan beberapa titik
kontrol pada setiap foto udara. Titik kontrol ini dapat dihasilkan dari proses
fotogrametris selanjutnya, yaitu proses triangulasi udara yang bertujuan
memperbanyak titik kontrol foto berdasarkan titik kontrol yang ada (Subagio, 2000).
Pekerjaan survey pada tahapan kegiatan tambang dapat dikategorikan sebagai
pekerjaan geodesi rendah (Plane Geodesi). Pada umumnya wilayah tambang tidak
mencakup areal yang terlalu luas sehingga kelengkungan bumi dapat diabaikan.
Aspek ketelitian survey dan pemetaan pada kegiatan penambang, yang diharapkan
masih dalam ketelitian fraksi desimeter-meter, kecuali untuk pekerjaan yang

3-3
berhubungan dengan konstruksi infrastruktur atau bangunan dan pengukuran
deformasi lereng (Basuki, 2006).
Perkembangan teknologi dan pemetaan yang dalam kurun waktu terakhir
meningkat sangat cepat juga menuntut beberapa dunia tambang untuk meningkatkan
produktifitas penambangannya dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada bidang
survey pemetaan, misalnya :
1. Pemetaan topografi original menggunakan teknologi Laser Scanner atau
menggunakan metode fotogrametris seperti LIDAR (Light Detection and
Ranging).
2. Pengunaan satelit positioning selain (Global Positioning System) GPS untuk
pemetaan pada model tambang dalam untuk tambang bijih.
3. Pengunaan teknologi Robotic Monitoring System untuk pemantauan kestabilan
lereng seperti Laser Scanner.
4. Penggunaan teknologi (Geografhic Information System) GIS dan (Global
Positioning System) GPS untuk memantau posisi dan kondisi alat produksi.
5. Penggunaan GIS untuk membantu kegiatan pembebasan lahan, pemantauan
lingkungan dari aspek penambangan dan pemantauan Community Development.
Dalam beberapa kasus, kesalahan dalam pekerjaan survey dan pemetaan di
tambang akan sangat erat dengan tujuan penambangan itu sendiri, yakni dalam
pelaksanaan investigasi kandungan tambang (eksplorasi) dan tahap pengambilan
material tambang (eksploitasi). Kesalahan-kesalahan dalam pekerjaan tambang akan
menyebabkan beberapa hal dibawah ini :
1. Kesalahan data-data survey dalam kegiatan eksplorasi akan menyebabkan
kesalahan dalam membuat model cadangan bahan tambang, serta menentukan
besaran cadangan terkira dan terukur suatu tambang.
2. Kesalahan ini akan menyebabkan analisa dalam studi kelayakan tambang, dan
analisa ekonomi tambang.
3. Kesalahan dalam pembuatan model cadangan bahan tambang akan
mengakibatkan kesalahan pada kesalahan pembuatan desain dan kesalahan pada
penentuan metode penambangan.

3-4
4. Kesalahan pada pembuatan model akan mengakibatkan kesalahan dalam
perencanaan tambang dan produksi penambangan sehingga cadangan yang
berada dibawah tanah tidak didapat diambil seluruhnya.
5. Kesalahan dalam pengukuran pemasangan patok oleh survey akan meyebabkan
salahnya penggalian yang berdampak pada :
a. Volume galian perencanaan tidak sama dengan aktual sehingga cost dari
penambangan akan bertambah.
b. Terganggunya stabilitas atau kemantapan lereng karena perubahan geometri
lereng.
c. Terganggunya sequence penambangan sehingga target produksi mengalami
perlambatan.
d. Kesalahan dalam melakukan pengukuran topografi original atau topografi
progress tambang akan mengganggu proses penyaliran tambang (drainase
tambang) sehingga akan menganggu proses produksi dari aspek sequence
tambang dan terganggunya proses penyaliran tambang juga akan
menganggu kestabilan lereng.
e. Sedangkan kegiatan pemetaan merupakan proses pembuatan peta berdasarkan
pengolahan data hasil pengukuran. Bidang ilmu yang mempelajari pembuatan
peta ini disebut dengan kartografi, sedangkan ahlinya adalah kartografer.

3.2. Survey dan Pemetaan Tambang


Survey tambang merupakan kegiatan pendukung yang sangat penting dalam
pertambangan, baik pada tahap persiapan (eksplorasi), selama kegiatan operasional,
maupun penutupan tambang (pasca operasi). Pada kegiatan persiapan seperti
pemetaan topografi, perencanaan desain tambang dan pembangunan fasilitas
tambang. Pengukuran tambang selama kegiatan tambang berlangsung (operasional)
misalnya pada pengukuran volume penggalian, volume disposal, dan volume
stockpile. Sedangkan pada penutupan tambang, data survey tambang digunakan
untuk pembuatan dasar rencana reklamasi. Standart of Procedure kegiatan survey
pada PT Laskar Semesta Alam dapat dilihat pada gambar 3.1.

3-5
Persiapan & pengecekan
alat-alat
4. survey

5.
Ke lokasi

Instrumen man 6. Support man


(1 orang) (3 orang)
7.
- Mendirikan Total - Menyiapkan prisma
Station 8. dan stick
- Setting Total Station Pengambilan Data : - Pengecekan lokasi
- Backsight - Titik9.detail pengambilan data
- Stake Out - Crest10.
& toe - Pembagian posisi
- Alat standby - Roof & floor BB - Stickman siap
11.

Ruang Data:
- Download data
- Input data
- Pengolahan data

Hasil

Sumber: PT Laskar Semesta Alam


Gambar 3.1.
SOP Survey

Pekerjaan survey atau pemetaan sendiri adalah suatu teknik dan ilmu untuk
menentukan posisi titik dalam suatu ruang 3D, menentukan jarak dan sudut diantara
titik-titik tersebut dengan teliti. Orang yang melakukan survey dan pemetaan disebut
surveyor. Dalam rangka memenuhi sasaran dan maksud dari pekerjaan survey,
seorang surveyor harus tahu prinsip geometri (ilmu ukur) dan matematika.

3-6
3.3. Penentuan Luas dan Volume

Penentuan luas dan volume tanah sangat erat kaitannya dengan rekayasa,
seperti halnya dalam penentuan ganti rugi dalam hal pembebasan tanah untuk
keperluan suatu proyek, penentuan volume galian dan timbunan, penentuan volume
bendung, dan lain-lain yang erat kaitannya dengan biaya suatu pekerjaan rekayasa.
3.3.1. Penentuan Luas
Yang dimaksud luas di sini adalah luas yang dihitung dalam peta, yang
merupakan gambaran permukaan bumi dengan proyeksi orthogonal, sehingga selisih
tinggi dari batas-batas yang diukur diabaikan. Luas suatu bidang tanah dapat
ditentukan dengan salah satu cara di bawah ini, tergantung dari data dasar yang
tersedia.
a. Penentuan luas cara numerik
Dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1) Dengan memakai koordinat, apabila titik koordinatnya diketahui.
2) Dengan ukuran dari batas-batas tanah, jika batas-batas diukur langsung.
b. Penentuan luas secara grafis
Cara ini dilakukan apabila gambar tanah hanya diketahui skalanya saja tanpa
dukungan data lain seperti angka ukur dan lain-lain, serta batas tanah berupa garis-
garis lurus. Untuk itu diperlukan piranti pengukur jarak dalam gambar seperti mistar
skala, jangka tusuk, dan sebagainya. Penentuan luas secara grafis dapat dilakukan
dengan tiga cara, yaitu:
1) Dengan membagi gambar menjadi bentuk-bentuk geometris yang lebih sederhana,
sehingga dengan penjangkaan atau pengukuran beberapa sisinya dapat dihitung
luasannya.
2) Dengan mengubah bentuk gambar menjadi bentuk geometri yang lebih sederhana
dengan luas yang sama, sehingga dengan penjangkaan beberapa sisinya dapat
dihitung luasnya.
3) Dengan menggunakan mal grid yang terbuat dari kertas transparan misalnya
milimeter kalkir, sehingga luas tanah yang akan diukur dihitung dengan kelipatan
dari jala-jala grid.

3-7
c. Penentuan luas secara grafis mekanis
Cara ini dipakai apabila batas-batas gambar tanah dibatasi oleh garis-garis
nonlinier (tidak lurus), yaitu berupa garis lengkung atau kurva. Cara ini
menggunakan peralatan yang dinamakan planimeter.
3.3.2. Penentuan Volume
Dalam perencanaan rekayasa, penentuan volume tanah adalah suatu hal yang
sangat lazim. Seperti halnya pada perencanaan pondasi, galian dan timbunan pada
rencana irigasi, jalan raya, jalan kereta api, penanggulangan sepanjang aliran sungai,
penghitungan volume tubuh bendung, dan lain-lain, tanah harus digali dan ditimbun
ke tempat lain, atau sebaliknya, harus diambil dari tempat lain untuk ditimbun di
lokasi proyek. Kegiatan menggali, mengangkut, dan menimbun serta
memadatkannya membutuhkan biaya yang cukup besar. Biaya tersebut dapat
dirancang apabila perencanaan dapat menghitung lebih dulu berapa volume tubuh
tanah yang dibutuhkan atau yang dipindahkan secara tepat.
Pada dasarnya penentuan volume tubuh tanah dapat dilakukan dengan salah
satu dari tiga cara atau metode, yaitu:
a. Dengan penampang melintang (cross section),
b. Dengan garis kontur (conturing).
c. Dengan sipat datar dan penggalian (spot level)

3-8