Anda di halaman 1dari 50

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya
Pedoman Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM) ini dapat selesai dan menjadi pedoman di
Rumah Sakit Harapan Jayakarta.

Pedoman Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM) ini disusun dalam rangka memberikan
acuan bagi seluruh jajaran SDM RS Harapan Jayakarta dalam menunjang pencapaian pelayanan
yang baik dan bermutu. Melalui pedoman ini diharapkan seluruh karyawan dapat berkarya sesuai
dengan profesi, pendidikan serta kemampuan yang dimiliki, membantu proses pelayanan pada
customer di rumah sakit sehingga mendapat kepuasan.

Akhir kata kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
terwujudnya Pedoman Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM) di Rumah Sakit Harapan
Jayakarta.

Jakarta, ..... November 2016


Direktur Rumah Sakit Harapan Jayakarta

Dr. Suhermi Yenti


DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Kebijakan Direktur tentang Pedoman Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM) di Rumah
Sakit Harapan Jayakarta.

BAB I PENDAHULUAN:
A. Latar Belakang
B. Tujuan Pedoman
C. Ruang Lingkup Pelayanan
D. Batasan Operasional
E. Landasan Hukum
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
B. Distribusi Ketenagaan
C. Pengaturan Jaga
BAB III STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
B. Standard Fasilitas
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN
BAB V LOGISTIK
BAB VI KESELAMATAN PASIEN
BAB VII KESELAMATAN KERJA
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU
BAB IX PENUTUP
LAMPIRAN
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT HARAPAN JAYAKARTA
Nomor :

TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

DIREKTUR RUMAH SAKIT HARAPAN JAYAKARTA

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah


Sakit Harapan Jayakarta maka diperlukan Pedoman
Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM).
b. Bahwa agar pelaksanaan tata kelola bagian Sumber Daya
Manusia (SDM) di RS Harapan Jayakarta dapat terlaksana
dengan baik, perlu adanya kebijakan Direktur RS Harapan
Jayakarta sebagai landasan dalam melaksanakan Pedoman
Bagian Sumber Daya Manusia (SDM)
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b diatas, perlu ditetapkan dengan Surat
Keputusan Direktur RS Harapan Jayakarta.
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan.
2. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan.
3. Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 772/MENKES/SK/
VI/2002 Tahun 2002 tentang Pedoman Peraturan Internal
Rumah Sakit.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 631/MENKES/SK/
IV/2005 tahun 2005 tentang Pedoman Peraturan Internal Staf
Medis (Medical Staff Bylaws).
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
755/ MENKES /Per/IV/2011 Tentang Penyelenggaraan
Komite Medis Di Rumah Sakit.
MEMUTUSKAN:

MENETAPKAN : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT HARAPAN


JAYAKARTA TENTANG PELAYANAN SUMBER DAYA
MANUSIA (SDM)
Kesatu : Memberlakukan Pedoman Pelayanan Sumber Daya Manusia
(SDM) RS Harapan Jayakarta sebagaimana terlampir dalam
surat keputusan ini

Kedua : Kebijakan Pedoman Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM)


sebagaimana yang dimaksud terlampir dalam buku Pedoman
Pelayanan Sumber Daya Manusia (SDM).

Ketiga : Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan


apabila dikemudian hari ternyata terdapat hal-hal yang perlu
penyempurnaan akan diadakan perbaikan dan penyesuaian
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : ..........
Direktur RS Harapan Jayakarta

Dr. Suhermi Yenti

Tembusan :
1. Semua unit pelayanan
2. Komite Medik
3. Arsip
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bagian Sumber Daya Manusia adalah suatu bagian dari rumah sakit yang
memberikan pelayanan pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia khususnya
tenaga kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan mempunyai kompetensi
yang dapat dipertanggungjawabkan. Seleksi tenaga kesehatan tersebut harus dapat
memenuhi permintaan atau kebutuhan dari setiap unit kerja yang ada di rumah
sakit.
Untuk dapat menunjang pencapaian pelayanan maka dalam proses manajemen
sumber daya manusia diperlukan sebuah pedoman kerja sehingga didapatkan hasil
yang baik dan bermutu. Pelayanan yang bermutu di rumah sakit akan membantu
setiap karyawan untuk dapat bekerja sesuai dengan profesi, pendidikan serta
kemampuan yang dimiliki, membantu proses pelayanan bagi pengunjung di rumah
sakit sehingga pengunjung yang datang berobat ke rumah sakit merasa puas terhadap
pelayanan yang diberikan, yang berarti pula pengunjung tersebut nantinya akan
menjadi sarana dalam mempromosikan rumah sakit. Keuntungan lain jika pasien
cepat sembuh maka mereka dapat segera kembali mencari nafkah untuk diri dan
keluarga.
Pelayanan manajemen tersebut adalah rangkaian kegiatan mengelola dan
mengatur hak dan kewajiban karyawan, serta merupakan salah satu upaya
peningkatan sumber daya manusia untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik
sesuai dengan standar rumah sakit.
Bentuk penyelenggaraan pelayanan untuk karyawan di rumah sakit dapat
berupa pengangkatan tetap, kontrak dan Pekerja Harian Lepas (PHL).
Penyelenggaraan pelayanan untuk karyawan dilakukan dengan cara merekrut sendiri
sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh rumah sakit.
Pendidikan atau pelatihan adalah alat untuk mengubah keterampilan ataupun kemampuan
perorangan, kelompok dan organisasi, sehingga menjadi lebih terampil dan ahli sesuai
dengan profesinya. Dalam manajemen sumber daya manusia juga dibahas tentang pelatihan
dan pengembangan sehingga dapat kita simpulkan bahwa pelatihan dan pengembangan
merupakan salah satu penunjang untuk mencapai mutu pelayanan suatu rumah sakit
menjadi lebih optimal.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan Umum
Tujuan pedoman ini adalah untuk membantu rumah sakit dalam terwujudnya
Rencana Penyediaan dan Kebutuhan SDM (staf medis, staf keperawatan dan
praktisi pelayanan kesehatan lainnya).
2. Tujuan Khusus
a. Tercapainya produktivitas kerja serta kesejahteraan SDM.
b. Terwujudnya acuan dalam melaksanakan tugas di rumah sakit.
c. Terjaminnya mutu pelayanan serta keselamatan pasien rumah sakit.
d. Tercapainya pengembangan dan pemutakhiran ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang kesehatan dengan cara menguasai dan memahami
pendekatan, metode dan kaidah ilmiahnya disertai dengan ketrampilan
penerapannya di dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya
manusia kesehatan.
e. Terlaksananya peningkatan kinerja profesional yang ditunjukkan dengan
ketajaman analisis permasalahan kesehatan, merumuskan dan melakukan
advokasi program dan kebijakan kesehatan dalam rangka pengembangan
dan pengelolaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup kegiatan pokok pelayanan untuk karyawan di Rumah Sakit
Harapan Jayakarta terdiri dari:
1) Penyediaan dan penambahan tenaga kerja.
Penyediaan dan penambahan tenaga kerja meliputi pemasangan iklan, proses
seleksi dan orientasi tenaga kerja. Rangkaian kegiatan tersebut untuk
memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan rumah sakit di semua unit
kerjanya.
2) Pemberian upah dan THR.
Penyelenggaraan upah dan THR meliputi pemberian upah sesuai dengan
standar rumah sakit dan pemerintah. Rangkaian kegiatan tersebut adalah untuk
memenuhi hak-hak karyawan sesuai dengan standar rumah sakit dan pemerintah.
3) Kesejahteraan karyawan (cuti, izin dan jaminan sosial).
Kesejahteraan karyawan meliputi semua hak-hak yang harus diterima oleh
karyawan yaitu untuk hak cuti, izin dan jaminan sosial. Rangkaian kegiatan
tersebut adalah untuk memenuhi hak-hak karyawan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
4) Pengembangan karir.
Pengembangan karir meliputi pemindahan karyawan dari satu unit kerja ke unit
kerja yang lain atau dari satu jabatan di unit kerja ke jabatan lain di unit kerja
yang berbeda tetapi setaraf. Selain itu juga untuk pemindahan karyawan dari satu
jabatan ke jabatan lainnya yang lebih tinggi dari sebelumnya dikarenakan
prestasi, kemampuan dan pendidikan yang dimiliki. Rangkaian kegiatan ini
adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi dan
kompetensi profesi pada masing-masing unit kerja.
5) Pengembangan kemampuan (pelatihan dan pendidikan).
Pengembangan kemampuan meliputi memberikan pelatihan bagi karyawan lama
sebagai upaya refresh sehingga kemampuan yang sudah dimiliki akan makin
terasah dan bagi karyawan baru sebagai upaya pengenalan lingkup dan uraian
tugas dalam suatu pekerjaan di unit kerja. Seiain itu juga untuk pendidikan bagi
karyawan lama yang harus mempunyai sertifikasi ataupun pendidikan lebih
tinggi dari yang dimiliki untuk menunjang pekerjaan yang dilakukan. Rangkaian
kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan kerja karyawan sesuai
dengan profesi dan sertifikasi rumah sakit.

D. BATASAN OPERASIONAL
Sumber Daya Manusia RS H Jayakarta terdiri dari tenaga kesehatan dan non
kesehatan. Dalam hal ini tenaga kesehatan terdiri dari dokter spesialis, dokter umum,
dokter gigi, perawat, bidan, perawat gigi, apoteker, asisten apoteker, sanitarian,
tenaga gizi, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga keterapian fisik, dan tenaga
keteknisian medis.

E. LANDASAN HUKUM
- Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
- Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
- Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
- Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 772/MENKES/SK/VI/2002 Tahun 2002
tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit.
- Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 631/MENKES/SK/IV/2005 tahun 2005
tentang Pedoman Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws).
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 755/ MENKES/Per/
IV/2011 Tentang Penyelenggaraan Komite Medis Di Rumah Sakit.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. KUALIFIKASI SDM
Pola Ketenagaan Dan Kualifikasi Bagian SDM
No Pendidik Kebutu
Nama Jabatan Sertifikat
. an han
1 Manajer SDM S1 Manajemen SDM dan Training 1 orang
Kepala Unit Manajemen SDM dan Training
2 D-III 1 orang
Kepegawaian
3 Kepala Unit Diklat D-III Manajemen SDM dan Training 1 orang
4 Staf D-III Manajemen SDM dan Training 1 orang
Jumlah 4 orang

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Tugas dan tanggung jawab Bagian Sumber Daya Manusia terbagi atas :
a) Manager SDM : bertanggung jawab atas keberlangsungan unit
b) Kepala Unit Kepegawaian : penanggung jawab seluruh kegiatan kepegawaian
c) Kepala Unit Diklat : penanggung jawab pendidikan dan pelatihan
d) Staf

C. PENGATURAN JAGA
Hari kerja karyawan non shift di Rumah Sakit Harapan Jayakarta adalah 5
(lima) hari kerja dan jam kerja standar rumah sakit adalah 40 jam seminggu. RS
Harapan Jayakarta merupakan rumah sakit yang melayani masyarakat umum
selama 24 jam setiap harinya.
Bagi karyawan yang bekerja secara shift, maka waktu kerjanya akan diatur
tersendiri oleh Rumah Sakit dan tetap mengacu pada jam kerja standar. Untuk
karyawan yang waktu kerjanya melebihi jam kerja standar, maka kelebihan waktu
kerjanya akan diperhitungkan sebagai lembur.
Adapun untuk tata tertib jam kerja sebagai berikut :
- Karyawan harus sudah berada di tempat kerja 15 menit sebelum jam kerja
dimulai.
- Apabila keterlambatan terjadi 3 (tiga) kali dalam 1 (satu) minggu, akan
diberikan evaluasi disiplin berupa teguran dari atasan langsung.
- Apabila terjadi keterlambatan 5 (lima) kali dalam 1 (satu) bulan maka akan
diberikan Surat Peringatan.

Pengaturan tenaga kerja di Rumah Sakit Harapan Jayakarta ini berdasarkan


shift dan non shift.
1. Jam kerja non shift : Senin-Jumat : 08.00-17.00 wib
2. Jam kerja shift : a. 07.00-14.00 wib
b. 14.00-21.00 wib
c. 21.00-07.00 wib

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANGAN
Dengan adanya denah ruangan untuk bagian SDM, maka dengan jelas dapat
diketahui letak dan posisi serta penempatan semua karyawan yang ada di Unit
SDM. Adapun perinciannya sebagai berikut :
1. Ruang Unit SDM
2. Ruang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan

Gambar 1.
Denah Ruang SDM dan Ruang Diklat

Gambar 2.
Denah Ruang SDM
B. STANDAR FASILITAS
Agar kegiatan penyelenggaraan pelayanan terhadap karyawan yang diselenggarakan
oleh bagian SDM Rumah Sakit Harapan Jayakarta dapat berjalan optimal, maka perlu
didukung dengan sarana, peralatan dan perlengkapan yang memadai baik.
1. Fasilitas Ruang bagian SDM
Ruang Unit SDM RS H Jayakarta terletak di Lantai 2 yaitu dengan luas 20 m2
terdiri dari :
a. 3 meja
b. 1 lemari
c. 3 filing kabinet
d. 5 kursi
e. 1 unit pesawat telepon
f. 3 unit komputer
g. 1 brankas
h. 1 unit AC
2. Fasilitas di Ruang Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan
Ruang Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Rumah Sakit Harapan Jayakarta
terletak di Lantai 2 di depan ruangan Klinik Mata dengan luas 32 m2 yang dapat
memuat sampai 30 buah kursi.
BAB IV
TATALAKSANA PELAYANAN

A. Arus Kerja Bagian SDM


Permintaan pelayanan untuk karyawan dilakukan berdasarkan Peraturan Internal
Kepegawaian yang berlaku di RS Harapan Jayakarta.

B. Arus Kerja Unit Kepegawaian

C. Arus Kerja Unit Diklat


Unit diklat akan mendata tentang segala sesuatu berkaitan dengan kompetensi
karyawan. Kemudian melakukan penilaian atas kebutuhan rumah sakit dan riwayat
perkembangan karyawan. Dari hasil penilaian tersebut Kepala Unit Diklat akan
menyusun rencana 1 (satu) tahun dan memberikan kepada atasan.
Unit diklat melaporkan rencana diklat yang akan diakomodir untuk para
karyawan pada Program Kerja Tahunan. Kemudian pada saat jatuh tanggal yang
ditentukan, kepala unit diklat akan mengajukan pengajuan permintaan dana untuk
pelatihan dan pengembangan karyawan tersebut.

D. Analisa Ketenagaan
Untuk mengelola seluruh karyawan Rumah Sakit Harapan Jayakarta yang
berjumlah 185 orang, maka dibutuhkan 3 (tiga) orang tenaga SDM. Pengadaan,
pembinaan dan pengembangan karyawan di RS H Jayakarta memerlukan waktu dan
biaya yang cukup banyak, oleh karena itu maka diperlukan suatu perencanaan
sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan kebutuhan per unit kerja di rumah sakit.
Penerimaan calon karyawan adalah kegiatan yang dilakukan untuk
mengundang para pelamar sebanyak mungkin sehingga bagian SDM memiliki
kesempatan yang luas untuk menentukan calon yang paling sesuai dengan
kualifikasi posisi yang diinginkan. Penerimaan calon karyawan dapat dilakukan
melalui Internal dan Eksternal Resources.
Internal Resources adalah proses rekrutmen dari dalam rumah sakit, dimana
pelamar adalah sudah menjadi karyawan rumah sakit namun ingin mencoba di unit
yang berbeda atau karyawan yang memang dipromosikan oleh atasan langsung
untuk dapat menempati jabatan tertentu sebagai upaya untuk peningkatan karir.
Sedangkan untuk Eksternal Resources adalah proses rekrutmen dari luar Rumah
Sakit, dimana pelamar adalah dari orang luar rumah sakit. Proses rekrutmen
dapat dilakukan melalui iklan, sosial media, lembaga pendidikan. Adapun proses
rekrutmen tersebut pada tiap unit mempunyai kualifikasi sendiri berdasarkan unit
kerjanya.

E. Penetapan Standar Kualifikasi


Kualifikasi Umum :
1. Dokter UGD
- Pendidikan minimal Lulusan S-1 Kedokteran
- Mempunyai sertifikat ACLS, ATLS, PPGD/GELS yang masih berlaku
- Memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) yang masih berlaku
2. Bagian Keperawatan
- Pendidikan minimal lulusan D-3 Keperawatan
- Memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) yang masih berlaku
- Memiliki sertifikat BTCLS yang masih berlaku
- Memiliki sertifikat tambahan seperti OK/ICU/NICU/Hemodialisa
3. Bagian Keuangan
- Pendidikan minimal SLTA
- Berpenampilan menarik dan interaksi sosial yang baik
- Pengalaman minimal 2 tahun di bagian Keuangan
- Menguasai program komputer khususnya Excell
4. Unit Radiologi
- Pendidikan minimal D-3 ATRO (Akademi Teknik Rontgen)
- Memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) yang masih berlaku
- Petugas Proteksi Radiasi (PPR)
5. Unit Laboratorium
- Pendidikan minimal D-3 Analis Kesehatan
- Memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) yang masih berlaku
6. Unit Farmasi
- Pendidikan minimal S-1 Apoteker untuk Apoteker
- Pendidikan minimal SMF (Sekolah Menengah Farmasi)/D-3 Farmasi untuk
Asisten Apoteker dan Juru Resep
- Apoteker memiliki STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker) dan Asisten
Apoteker memiliki STRTTK (Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis
Kefarmasian), yang masih berlaku.
7. Unit Rekam Medik
- Pendidikan minimal D-3 Rekam Medis
- Diutamakan yang bersertifikat
- Berpenampilan menarik dan interaksi sosial yang baik
8. Tim Public Relations
- Pendidikan minimal S-1, diutamakan Jurusan Public Relation
- Dapat berkomunikasi dan berbahasa Inggris dengan baik
- Memiliki kemampuan analisa dengan baik dan ide-ide untuk promosi
- Berpenampilan menarik dan elegan
- Pengalaman minimal 2 tahun di bidang marketing
9. Subunit FO, Kasir dan Billing
- Pendidikan minimal SLTA
- Berpenampilan menarik dan interaksi sosial yang baik
- Pengalaman minimal 2 tahun
10. Bagian SDM
- Pendidikan minimal D3 Akutansi/Manajemen
- Mengerti dan memahami tentang Manajemen SDM
- Berpenampilan menarik dan interaksi sosial yang baik
- Pengalaman minimal 2 tahun di unit kerjanya
11. Umum
- Pendidikan minimal SLTA sederajat
- Pengalaman minimal 1 tahun di unit kerjanya
12. Tekhnisi
- Pendidikan minimal STM/SMK
- Pengalaman minimal 1 tahun di unit kerjanya

Kualifikasi Khusus
Setiap unit kerja mempunyai kualifikasi khusus untuk tenaga kerja yang
diperlukannya, khususnya tenaga kesehatan harus berdasarkan profesinya masing
masing. Standar Profesi adalah batasan-batasan yang harus diikuti oleh tenaga
kesehatan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada klien/pasien secara
profesional. Standar Profesi tersebut terdiri dari:
1. Standar Kompetensi, yaitu semua hal yang mencakup tentang pelaksanaan
tugas seorang tenaga kesehatan mulai dari pengetahuan, sikap, dan ketrampilan
dalam mengerjakan dan menyelesaikan di tempat kerja serta menerapkannya
dalam situasi dan lingkungan yang berbeda.
2. Etika Profesi, yaitu semua hal yang mencakup tentang hak dan kewajiban yang
harus dijalankan oleh seorang tenaga kesehatan.

F. Rekrutmen Dan Seleksi


1. Rekrutmen (Penerimaan) Calon Karyawan
Rekrutmen merupakan suatu cara mengambil keputusan perencanaan
manajemen sumber daya manusia mengenai jumlah karyawan yang dibutuhkan,
kapan diperlukan, serta kriteria apa saja yang diperlukan dalam suatu organisasi.
Rekrutmen pada dasarnya merupakan usaha mengisi jabatan atau pekerjaan
yang kosong di lingkungan suatu organisasi atau perusahaan, untuk itu ada dua
sumber tenaga kerja yakni sumber dari luar (eksternal) organisasi dan sumber
dari dalam (internal) organisasi.
Rekrutmen adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan
induksi untuk mendapatkan karyawan yang efektif dan efisien guna
tercapainya tujuan rumah sakit. Penerimaan calon karyawan atau rekrutmen
dilakukan berdasarkan analisa kebutuhan tenaga dimana ditentukan
berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan.
Dilihat dari sumbernya penerimaan calon karyawan dibagi menjadi dua yaitu:
a. Dari dalam RS Harapan Jayakarta sendiri (Internal Resources).
Menerima calon dari dalam RS Harapan Jayakarta sendiri memiliki
keuntungan lebih yaitu calon sudah dikenal dan proses dapat dilakukan
dengan lebih cepat dibanding dengan mengambil calon dari luar RS
Harapan Jayakarta. Calon karyawan nantinya akan masuk ke Unit SDM
akibat mutasi atau promosi.
Untuk mendapatkan calon pelamar dapat melalui:
- Komunikasi internal, verbal
- Pemberitahuan ke seluruh unit kerja akan adanya kebutuhan tenaga.
b. Dari luar RS Harapan Jayakarta (Eksternal Resources)
Proses penerimaan calon dari luar RS Harapan Jayakarta, ini dapat
dilakukan dengan cara :
- Komunikasi internal, verbal
- Berkas-berkas pelamar yang datang sendiri
- Iklan
- Lembaga-lembaga pendidikan
- Sosial Media

3. Seleksi (Penyaringan) Calon Karyawan


a. Seleksi Umum
Proses seleksi calon karyawan baru adalah proses penyaringan dan
pemilihan pelamar yang dilaksanakan oleh bagian SDM dan bagian terkait
di RS Harapan Jayakarta yang meliputi seleksi administratif berupa
pemeriksaan dokumen lamaran (curiculum vitae, dll). Penerimaan
karyawan baru di rumah sakit diadakan dua tahun sekali atau sewaktu-
waktu disesuaikan dengan kebutuhan tenaga di setiap unit kerja, sehingga
tidak terjadi kekosongan atau pemborosan dalam hal ketenaga-kerjaan.
Proses seleksi tersebut meliputi dari beberapa hal, yaitu :
1) Pemeriksaan dokumen, yaitu proses pengecekan kelengkapan surat
lamaran/curiculum vitae (Ijazah, KTP, Pas Foto, Sertifikat Pelatihan,
Surat Ijin Profesi).
2) Pengisian Formulir lamaran, yaitu proses pengisian formulir lamaran
di rumah sakit.
3) Wawancara yaitu proses wawancara pada pelamar sesuai dengan
rekomendasi unit kerja yang membutuhkan.
4) Pemeriksaan Kesehatan (Medical Check Up) yaitu proses tes kesehatan
baik jasmani dan rohani pada diri pelamar.
b. Seleksi Khusus
Setelah para pelamar lulus proses seleksi secara umum maka para
pelamar diseleksi secara khusus oleh semua unit kerja dengan
berkoordinasi dengan Unit SDM. Hal ini menyangkut pengetahuan dan
kemampuan dalam menjalankan tugas sesuai dengan profesi, standar
kompetensi dan kode etik masing-masing serta upah yang diterima oleh
karyawan sesuai dengan peraturan dan standar yang berlaku di pemerintah
dan rumah sakit.
Sedangkan bentuk tes khusus yang dilakukan bagi semua calon
karyawan di setiap unit kerja, terdiri dari :
1) Test Ketrampilan Teknis (Tes tertulis), yaitu proses tes untuk
kemampuan dan ketrampilan sesuai dengan unit kerjanya. Tes tulis
dengan materi yang meliputi : Pengetahuan, Ketrampilan, Sikap dan
Wawasan yang harus dimiliki calon karyawan.
2) Wawancara Pendahuluan, yaitu proses wawancara pada pelamar
sesuai dengan curriculum vitae yang dikirimkan dan unit kerja yang
membutuhkan. Tes ini dilakukan untuk mengetahui peminatan ter-
hadap karyawan yang akan bekerja di salah satu unit kerja yang ada
di rumah sakit sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan di unit kerja
tersebut dan berdasarkan kemampuan dan kualitas calon karyawan.
3) Kredensial, yaitu proses evaluasi terhadap tenaga tenaga kesehatan
untuk menentukan kelayakan pemberian kewenangan.

G. Program Orientasi
Program Orientasi merupakan salah satu program di bagian Sumber Daya
Manusia dalam memberikan pengarahan dan bimbingan serta mempersiapkan para
karyawan baru agar dapat bekerja cepat, tepat dan efisien sesuai dengan peran dan
fungsinya.
Program Orientasi di RS Harapan Jayakarta terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Orientasi Umum
Program orientasi umum adalah proses pengenalan secara umum tentang
organisasi, tanggung jawab, hak dan kewajiban untuk calon karyawan.
Masa Orientasi Umum diadakan selama ± 2 hari.
2. Orientasi Khusus
Program orientasi khusus adalah proses pengenalan secara khusus tentang
organisasi, tanggung jawab, hak dan kewajiban, standar prosedur per unit kerja
untuk calon karyawan berdasarkan profesi.
Masa Orientasi Khusus diadakan selama 4 hari kemudian dilanjutkan dengan
On the Job Training sampai dengan selama 3 (tiga) bulan pertama sesuai
dengan pengalaman yang dimiliki.
Setelah menjalani masa orientasi khusus selama 3 (tiga) bulan pertama, maka
Manajer di unit kerja memberikan penilaian terhadap calon karyawan. Jika
memenuhi standar per unit kerja maka calon karyawan dinyatakan lulus oleh
Manajer di unit kerja.

H. Pelayanan Untuk Karyawan


1. Pemenuhan SDM
a. Penggantian/Penambahan Karyawan
Permintaan akan penyediaan karyawan baik untuk penggantian atau
penambahan harus menggunakan form khusus untuk permintaan karyawan
berdasarkan Analisa Beban Kerja yang ada di semua unit kerja (form
terlampir).
b. Permohonan Cuti/Izin
1) Cuti Tahunan
Semua karyawan yang telah menjalani tugas/kerja selama 12 bulan
berturut-turut atau 1 (satu) tahun terhitung mulai pertama kali kerja
maka akan mendapatkan hak cuti selama 12 hari kerja. Adapun jangka
waktu cuti tahunan adalah tahun berikutnya. Maka jika karyawan ingin
menggunakan hak cuti tahunan dapat mengajukan permohonan cuti
tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku (form terlampir).
2) Cuti Sakit
Semua karyawan akan mendapatkan ijin cuti sakit sesuai dengan surat
dari dokter yang ditunjuk oleh rumah sakit. Apabila terdapat karyawan
yang sakit selama 3 bulan berturut-turut maka Unit SDM berhak
menanyakan secara langsung pada dokter yang terkait tentang masalah
kesehatan yang telah dialami oleh karyawan tersebut. Dan apabila
diketahui bahwa karyawan tersebut sudah tidak layak untuk bekerja
dengan alasan kesehatan maka akan diproses sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
3) Cuti Melahirkan
Semua karyawan wanita yang telah bekerja selama 1 tahun, maka akan
mendapatkan hak cuti melahirkan selama 1½ bulan menjelang kelahiran
dan 1½ bulan sesudah melahirkan berdasarkan perhitungan/perkiraan
dokter kandungan yang ditunjuk oleh rumah sakit. (form cuti melahirkan
sama dengan form cuti tahunan).
4) Izin Meninggalkan Pekerjaan
Rumah sakit memberikan ijin kepada karyawan yang meninggalkan
pekerjaan untuk keperluan-keperluan tertentu sesuai dengan ketentuan
yang berlaku dan mendapatkan upah penuh. Adapun ketentuannya
sebagai berikut :
a) Pernikahan karyawan sendiri 3 hari kerja.
b) Pernikahan anak karyawan 2 hari kerja.
c) Khitanan/pembaptisan/upacara 2 hari kerja.
d) Istri karyawan melahirkan 2 hari kerja.
e) Suami/istri/anak/orang tua/ mertua meninggal dunia 2 hari kerja.
f) Anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia 1 hari kerja.
5) Izin Meninggalkan Tugas
Memberikan ijin kepada karyawan yang meninggalkan pekerjaan untuk
keperluan-keperluan tertentu mendadak 2 jam sebelum meninggalkan
tugas.
6) Izin Terlambat Kerja
Memberikan ijin kepada karyawan yang terlambat kerja untuk
keperluan-keperluan tertentu yang mendadak.
c. Permohonan Pengunduran Diri
Semua karyawan yang ingin mengajukan pengunduran diri harus sudah
mengajukan surat pengunduran diri 1 bulan sebelumnya.
2. Kesejahteraan Karyawan
a. Penggajian
Penetapan gaji pada dasarnya ditetapkan berdasarkan pada keahlian,
kecakapan, prestasi kerja, kondite, jabatan, kualifikasi dan kompetensi dari
masing-masing karyawan.
Peninjauan gaji dilakukan setiap satu tahun sekali dan peninjauan gaji
karyawan ini tidak dilakukan secara otomatis, tetapi berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan atas kemampuan rumah sakit, prestasi dan
kondite masing-masing karyawan.
Gaji karyawan paruh waktu akan dihitung dan diberikan oleh rumah sakit
sesuai dengan jumlah waktu kerjanya di rumah sakit sesuai gaji dan waktu
kerja yang ditetapkan oleh rumah sakit.

Rumah sakit tidak akan membayar gaji kepada karyawan yang :


- Tidak masuk tanpa pemberitahuan selama 5 (lima) hari berturut-turut.
- Melakukan unjuk rasa :
1) Pada hari karyawan yang bersangkutan melakukan unjuk rasa.
2) Selama ketidakhadiran kerja karyawan sebagai akibat dari proses
dan tindakan hukum yang dikenakan kepada karyawan yang
bersangkutan.
- Skorsing oleh rumah sakit sebagai akibat dari tindakan
ketidakdisiplinan atas peraturan tata tertib.

Penggajian terdiri dari :


1) Gaji pokok dan Transport.
2) Tunjangan jabatan (hanya bagi karyawan yang memangku jabatan),
yaitu : Manajer, Kepala Unit, Koordinator.
3) Tunjangan Lain-lain (bila ada)
Tunjangan lain-lain adalah setiap tunjangan yang diberikan kepada
karyawan dan bersifat tidak mengikat atau permanen, sehingga
sewaktu-waktu dapat dicabut kembali oleh rumah sakit.

b. Pemberian Makanan Tambahan.


Pemberian makanan tambahan diberikan pada karyawan yang berdinas
malam/shift malam, yaitu berupa berupa mie dan telur. Dalam
mempersiapkan konsumsi makanan tambahan tersebut maka Bagian SDM
berkoordinasi dengan Unit Gizi.

c. Jaminan Sosial
Menggunakan jaminan kesehatan nasional yang dikelola oleh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

d. Medical Check Up Karyawan


Kinerja dari pekerja merupakan resultante dari 3 (tiga) komponen
kesehatannya, yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang
dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ke 3 (tiga) komponen
tersebut serasi, maka dapat dicapai suatu derajat kesehatan yang optimal dan
peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak sesuaian dapat
menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan
akibat kerja yang dapat menurunkan produktivitas.
Penatalaksanaan medical check up karyawan dilakukan secara berkala setiap
1 tahun sekali.
Termasuk imunisasi bagi karyawan juga diberikan demi menjaga kekebalan
tubuh karyawan. Dan program ini dilakukan setiap 1 tahun sekali.

3. Beban Kerja
Pelayanan rumah sakit menuntut adanya pola kerja bergilir/shift/tugas jaga
malam. Tenaga yang bertugas jaga malam dapat mengalami kelelahan yang
meningkat akibat terjadinya perubahan bioritmik.

4. Lingkungan Kerja
Lingkungan kegiatan rumah sakit dapat mempengaruhi kesehatan kerja dalam 2
bentuk yaitu kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Pekerja Rumah Sakit adalah pekerja di lingkungan Rumah Sakit terdiri dari :
a. Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang dimaksud tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan, memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan
di bidang kesehatan yang memerlukan kewenangan dalam menjalankan
pelayanan kesehatan.
b. Tenaga kesehatan yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2) sampai dengan ayat (8)
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
terdiri dari :
1) Tenaga medis terdiri dari dokter dan dokter gigi;
2) Tenaga keperawatan terdiri dari perawat dan bidan;
3) Tenaga kefarmasian terdiri dari apoteker, analis farmasi dan asisten
apoteker;
4) Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan,
entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan,
administrator kesehatan dan sanitarian;
5) Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien;
6) Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, okupasiterapis dan
7) terapis wicara;
8) Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi
gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien,
othotik prostetik, teknisi tranfusi dan perekam medis.
c. Dalam UU Praktik Kedokteran yang dimaksud dengan ”Petugas” adalah
dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayanan
langsung kepada pasien.
Semua pekerja rumah sakit sebelum diterima sebagai calon karyawan akan
menjalani tes kesehatan untuk mengetahui sejauh mana kondisi kesehatan calon
karyawan tersebut. Tes kesehatan tersebut meliputi :
1. Pemeriksaan fisik /tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, berat badan, dll)
2. Pemeriksaan thorax
3. Pemeriksaan HbSAg

Apabila pada hasil pemeriksaan terdapat adanya kelainan akibat suatu penyakit
maka karyawan tersebut tidak dapat diterima sebagi calon karyawan.
Adapun standar untuk pemeriksaan kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Calon karyawan tidak terindikasi penyakit TBC
2. Calon karyawan tidak terindikasi penyakit Hepatitis

Untuk pemeriksaan Medical Chek Up Karyawan rutin diberlakukan pada tenaga


kerja yang beresiko terpapar zat-zat berbahaya atau kuman penyakit akibat
memberikan pelayanan kesehatan. Apabila pada hasil pemeriksaan Medical Cek
up terdapat indikasi karyawan terkena Penyakit Akibat Kerja maka diberikan
penangangan secara tepat dan cepat dengan berkoordinasi pada Panitia Kesehatan
Keselamatan Kerja di Rumah Sakit.

I. Pendidikan Dan Pengembangan Karyawan


1. Tujuan
Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja karyawan secara optimal dan
perkembangan karir karyawan, maka rumah sakit akan memberi kesempatan
kepada karyawan yang berpotensi untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan
sesuai dengan :
a. Perkembangan rumah sakit atau organisasi rumah sakit.
b. Lowongan atau pemindahan tugas
2. Waktu
a. Pendidikan/pelatihan karyawan harus dilakukan diluar jam kerja, kecuali untuk
jenis pelatihan on-job training.
b. Pendidikan/pelatihan karyawan tidak diperhitungkan sebagai jam kerja di
rumah sakit, kecuali on-job training, atau karena sesuatu hal terpaksa diadakan
di jam kerja karyawan.
3. Kewajiban atasan terhadap bawahannya
a. Atasan karyawan dan Unit Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) berkewajiban
untuk memantau dan mengevaluasi kinerja karyawan untuk menentukan jenis
pendidikan dan atau pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan karyawan, serta kualitas dan produktifitas kerja
karyawan.
b. Atasan karyawan berkewajiban untuk menjadi tenaga pendidik dan pelatih.
c. Modul pendidikan dan atau pelatihan bagi pengembangan karyawan
disesuaikan dengan kebutuhan unit kerja dimana karyawan tersebut berada,
dimana jenis modul dan pelaksanaan pendidikan dan atau pelatihan harus
dibuat atau mendapat persetujuan terlebih dahulu dari unit Pedidikan dan
Pelatihan (Diklat).
4. Kewajiban karyawan untuk mengikuti diklat
a. Setiap karyawan wajib untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang telah
ditetapkan dan disediakan oleh rumah sakit.
b. Bagi karyawan yang telah dipilih dan ditetapkan untuk mengikuti
pendidikan/pelatihan dan tidak dapat hadir, harus memberikan alasan tertulis
yang disahkan oleh atasannya. Karyawan yang lalai melaksanakan hal tersebut
dapat diberi surat peringatan I (pertama) dan dikenakan sangsi administratif.
5. Syarat dan ketentuan.
Untuk mengikuti pendidikan/pelatihan, setiap karyawan wajib memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. Tujuan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.
b. Prestasi kerja.
c. Masa kerja minimal 1 tahun.
d. Usia dengan memperhatikan kecukupan waktu pasca pendidikan untuk
mengabdikan keahliannya bagi kepentingan rumah sakit.
e. Menyerahkan seluruh materi pendidikan kepada Bagian SDM.
f. Mengajar dan mengalihkan pengetahuan (transfer knowledge) kepada
karyawan yang ditunjuk rumah sakit.
Bagi karyawan yang mengikuti diklat, jika :
- Waktu kerjanya kurang dari waktu kerja standar rumah sakit, maka upah
karyawan yang bersangkutan akan dibayar secara proporsional, atau
mendapatkan upah penuh atas persetujuan rumah sakit.
- Menurut penilaian rumah sakit pekerjaannya menjadi terganggu, maka rumah
sakit dapat melakukan pemindahan tugas atau demosi dan menyesuaikan upah
sesuai dengan tugas dan posisi yang baru, atau kepada karyawan yang
bersangkutan dapat diberi ijin meninggalkan pekerjaan tanpa mendapatkan
upah selama menjalankan masa pendidikan.
Pendidikan dan Pelatihan dilakukan sebagai sarana untuk menunjang
karir/pekerjaan dari karyawan di unit kerja. Pendidikan dan pelatihan tersebut diatur
dengan ketentuan yang berlaku dan setiap peserta yang dikirim untuk pelatihan
diajukan oleh manajer per unit kerja (form terlampir)

J. Kedisiplinan Karyawan
1. Tujuan dari tindakan kedisiplinan adalah agar :
a. Setiap karyawan mewujudkan kewajiban dan tanggung jawabnya, mengerti
apa yang harus dan tidak seharusnya dikerjakan satu dan lain sesuai ketentuan
rumah sakit dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk apa yang
benar dihati nurani.
b. Terciptanya budaya kerja yang selaras dengan RS Harapan Jayakarta.
c. Mayoritas karyawan yang memiliki etos kerja baik jangan sampai
terpengaruh oleh minoritas karyawan dengan etos kerja buruk. Sedangkan
bagi karyawan yang dinilai mempunyai etos kerja buruk akan diberi
kesempatan untuk introspeksi dan memperbaiki sikap dan perilakunya sampai
dengan batas waktu tertentu, atau diambil langkah-langkah lain yang
diperlukan sesuai dengan bobot pelanggarannya.
2. Setiap pimpinan, yaitu mulai dari jabatan Manajer sampai dengan Kepala
Unit/Ruangan/Koordinator, berwenang, berkewajiban dan bertanggung jawab
untuk melaksanakan tindakan kedisiplinan bagi setiap karyawan dibawah
pimpinannya yang telah melakukan pelanggaran Tata Tertib yang berlaku di
Rumah sakit atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
3. Pengenaan tindakan disiplin didasarkan pada :
a. Jenis dan besar kecilnya masing-masing pelanggaran.
b. Frekwensi pelanggaran.
c. Unsur-unsur kesengajaan.
4. Jenis tindakan kedisiplinan adalah :
a. Peringatan/teguran tertulis.
Teguran ini diberikan apabila karyawan tidak mengikuti aturan-aturan kerja
dan atau melanggar tata tertib rumah sakit, yang dilakukan tidak berulang
kali. Teguran lisan hanya dilakukan bagi jenis pelanggaran ringan dan sedang
sebanyak maksimal 2 (dua) kali, dan lebih dari itu wajib diberikan Surat
Peringatan.
b. Surat Peringatan.
Surat Peringatan adalah surat resmi yang dikeluarkan oleh Direktur Rumah
Sakit karena adanya tindakan atau perbuatan yang melanggar tata tertib atau
peraturan yang berlaku, atau karena diabaikannya teguran lisan.
Surat Peringatan tersebut terdiri dari :
1. Surat Peringatan Pertama.
2. Surat Peringatan Kedua.
3. Surat Peringatan Ketiga.
Pemberian surat peringatan ini tidak harus dilakukan secara bertahap, akan
tetapi disesuaikan dengan jenis dan bobot pelanggaran yang dilakukan
karyawan.
Atasan masing-masing unit kerja berwenang, berkewajiban dan bertanggung
jawab untuk membuat, menandatangani dan menyampaikan surat peringatan
kepada setiap karyawan yang melakukan pelanggaran Tata Tertib. Setiap
surat peringatan yang dibuat harus berdasarkan hasil pengamatannya sendiri
atau perintah/usulan tertulis dari Direktur. Selanjutnya karyawan yang
bersangkutan wajib menerima dan menandatangani surat peringatan tersebut.
c. Skorsing.
Skorsing adalah pembebasan tugas sementara. Skorsing dapat dikenakan
kepada karyawan yang melakukan pelanggaran berat atau melakukan
pelanggaran setelah mendapat teguran, surat peringatan atau tindakan yang
merugikan rumah sakit. Jangka waktu skorsing paling lama 1 (satu) bulan.
d. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Pemutusan Hubungan Kerja dapat dilakukan oleh rumah sakit, sanksi atas
pelanggaran berat yang dilakukan karyawan. Dilihat dari tindakan
pelanggarannya yang dilakukan oleh karyawan, maka tindakan PHK dapat
dibagi dalam 2 kategori :
1) Pelanggaran yang tidak termasuk dalam wilayah hukum pidana, maka
akan ditempuh prosedur PHK sesuai dengan Peraturan Rumah sakit.
2) Pelanggaran yang termasuk wilayah hukum pidana, maka dapat ditempuh
prosedur PHK sesuai dengan prosedur hukum pidana yang berlaku secara
paralel.
d. Wewenang melakukan tindakan PHK.
PHK terhadap jabatan Manajer ke atas harus atas persetujuan Dewan
Pengawas terlebih dahulu, sedangkan PHK terhadap setiap karyawan rumah
sakit lainnya harus atas persetujuan Direktur terlebih dahulu.

K. Sistem File
Semua file yang berhubungan dengan karyawan disimpan bagian SDM dan bersifat
rahasia. File karyawan tersebut tidak boleh dipinjam atau dipindah tangan oleh pihak
lain kecuali oleh staf SDM yang berwenang. Pengecekan file calon karyawan
dilaksanakan pada tahap awal sebelum menjalani proses rekruitmen. Setelah menjalani
proses rekruitmen dan dinyatakan karyawan tersebut diterima maka dilakukan proses
verifikasi data. Proses verifikasi data dilaksanakan berdasarkan pendidikan terakhir
dan surat referensi kerja calon karyawan yang bersangkutan. Karyawan yang sudah
lulus pada semua tahapan seleksi tersebut kemudian dilaporkan pada Direktur yang
kemudian dikeluarkan Surat Penugasan sesuai dengan jabatan dan posisi unit kerja
tersebut. Untuk mengetahui kompetensi profesi khususnya untuk tenaga kesehatan
dilaksanakan kredensial pada calon karyawan yang kemudian disahkan dengan adanya
Surat Rincian Kewenangan Klinis berdasarkan kompetensi karyawan tersebut.
Dengan adanya proses rekrutmen dan pengunduran diri karyawan serta banyaknya
dokumen yang berhubungan dengan karyawan makin bertambah dan memerlukan
tempat penyimpanan yang lebih luas, sehingga untuk efisiensi dan utilitas ruangan
yang ada maka ada proses retensi/pemusnahan dokumen atau berkas karyawan setiap
5 (lima) tahun sekali yang disertai dengan berita acara.
BAB V
LOGISTIK

A. Kebutuhan Alat Tulis Kantor


Pemenuhan akan kebutuhan alat tulis ataupun cetakan dapat diperoleh dari
Logistik, dengan menggunakan form yang tersedia. Permintaan barang untuk bagian
SDM baik untuk unit Kepegawaian maupun Unit Diklat harus dipisahkan sehingga
pengendalian untuk hal tersebut mudah.
Permintaan barang dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah diatur oleh Unit
Logistik. Selain itu untuk permintaan barang diluar keperluan sehari-hari seperti
seragam dan sepatu untuk karyawan dapat langsung ke bagian Keuangan sehingga
dapat langsung di realisasikan sesuai dengan jumlah permintaan yang ada.

B. Permintaan Ke Logistik
Prosedur permintaan ke logistik adalah suatu permintaan alat tulis kantor yang
akan digunakan untuk pelayanan pada karyawan dan dibuat oleh petugas yang sedang
bertugas, serta diserahkan ke Unit Logistik.
Adapun prosedurnya sebagai berikut:
- Petugas mencatat keperluan alat tulis kantor yang sudah digunakan atau yang
dibutuhkan untuk pelayanan terhadap karyawan pada formulir permintaan
rangkap 2 (putih dan merah).
- Formulir tersebut diberikan pada petugas Unit Logistik untuk dilakukan
pendataan. Sebagai bukti pengambilan maka formulir yang berwarna putih
diserahkan ke Unit Logistik untuk pengambilan barang yang sudah digunakan
atau yang sedang dibutuhkan dan formulir berwarna merah disimpan sebagai
arsip.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN / PATIENT SAFETY

Pasien yang dirawat di rumah sakit sangat rentan terhadap infeksi rumah sakit yang
dapat terjadi karena tindakan perawatan selama pasien dirawat di rumah sakit , kondisi
lingkungan disekitar rumah sakit, dan daya tahan tubuh pasien. Penularan dapat terjadi
dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau
keluarga maupun dari petugas kepada pasien Infeksi rumah sakit ini dapat memperpanjang
lama rawat, meningkatkan morbiditas dan mortalitas, serta menambah biaya rumah sakit
(Damani, 2003).
Salah satu strategi pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit adalah
dengan penerapan kewaspadaan standar untuk memutus rantai penularan. Tahap
kewaspadaan standar yang paling efektif dalam pencegahan dan pengendalian infeksi
adalah hand hygiene (Damani, 2003).
Kegagalan melakukan hand hygiene yang baik dan benar dianggap sebagai
penyebab utama infeksi rumah sakit dan penyebaran mikroorganisme multiresisten di
fasilitas pelayanan kesehatan dan telah diakui sebagai kontributor yang penting terhadap
timbulnya wabah (Boyce dan Pittet, 2002)
Upaya pencegahan dan pengendalian infeksi ini tentu saja melibatkan semua
unsur, mulai dari unsur pimpinan sampai kepada staf. Peran pimpinan yang diharapkan
adalah menyiapkan sistem, sarana dan prasarana penunjang lainnya, sedangkan peran
petugas kesehatan adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya pencegahan dan
pengendalian infeksi sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

A. PENGERTIAN PATIENT SAFETY


Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan
pasien di rumah sakit menjadi lebih aman.
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

B. Tujuan Keselamatan Pasien / Patient Safety


1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS Harapan Jayakarta
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunnya angka Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD)
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
KTD.

C. Langkah-langkah Keselamatan Pasien

1) Sembilan solusi Keselamatan Pasien di rumah sakit (WHO Collaborating


Centre for Patient Safety, 2 May 2007), yaitu:
1. Pastikan identifikasi pasien
2. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
3. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
4. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names)
5. Kendalikan cairan elektrolit pekat
6. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
7. Hindari salah kateter dan salah sambung slang
8. Gunakan alat injeksi sekali pakai
9. Tingkatkan kebersihan tangan (hand hygiene) untuk pencegahan
infeksi nosokomial / HAIs (Healthcare Associated Infections)

2) Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada “Hospital Patient Safety


Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of
Health Organizations, Illinois, USA, tahun 2002),yaitu:
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien.

3) Tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit (berdasarkan KKP-


RS No.001-VIII-2005) sebagai panduan bagi staf Rumah Sakit:
1. Membangun kesadaran akan nilai Keselamatan Pasien, “ciptakan
kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil”
2. Memimpin dan mendukung karyawan membangun komitmen dengan
fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan Pasien
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko.
Mengembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta melakukan
identifikasi dan asesmen hal yg potensial bermasalah.
4. Mengembangkan sistem pelaporan.
Memastikan karyawan agar dengan mudah dapat melaporkan
kejadian/insiden. Rumah sakit mengatur pelaporan kpd KKP-RS”
5. Melibatkan karyawan berkomunikasi secara terbuka dengan pasien.
6. Pembelajaran berbagi pengalaman tentang Keselamatan Pasien.
Memotivasi staf agar mampu melakukan analisis akar masalah utk belajar
bagaimana & mengapa kejadian itu timbul
7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem Keselamatan Pasien,
dengan menggunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk
melakukan perbaikan pada sistem pelayanan

4) Tata laksana Keselamatan Pasien di RS Harapan Jayakarta


1. Rumah sakit membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dengan
susunan organisasi sebagai berikut:
a. Ketua : dokter,
b. Anggota : dokter, dokter gigi, perawat, tenaga
kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya.
2. Rumah sakit mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan
internal tentang insiden
3. Rumah sakit melakukan pelaporan insiden ke Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (KKPRS) secara rahasia
4. Rumah Sakit memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit dan
menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.

Manajemen Keselamatan Pasien / Patient Safety


Pelaksanaan Patient Safety ini dilakukan dengan sistem Pencacatan dan Pelaporan serta
Monitoring dan Evaluasi

D. Pencatatan dan Pelaporan


1. Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan
keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan
dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah
sakit.
2. Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan
keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan
dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada
formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
3. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab
masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja
4. Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien
Rumah Sakit merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil
solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan rumah sakit.
5. Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya
insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang bersifat rahasia.

E. Monitoring dan Evaluasi


Pimpinan Rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah
sakit, terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. Pengertian
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian dari kegiatan yang berkaitan
erat dengan kejadian yang disebabkan akibat kelalaian petugas yang dapat
mengakibatkan penyakit akibat kerja atau kecelakaan kerja. Dan kondisi yang dapat
mengurangi bahaya dan terjadinya kecelakaan dalam proses pelayanan terhadap
karyawan ataupun penyelenggaraan pelatihan adalah pekerjaan yang terorganisir
dengan baik, dikerjakan sesuai dengan prosedur, tempat kerja yang aman dan terjamin
kebersihannya serta istirahat yang cukup.

B. Tujuan
Menurut Undang-Undang Keselamatan Kerja tahun 1970, Syarat-syarat keselamatan
kerja meliputi seluruh aspek pekerjaan yang berbahaya, dengan tujuan :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
3. Mencegah dan mengurangi bahaya ledakan.
4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian lain yang berbahaya.
5. Memberi pertolongan pada kecelakaan.
6. Memberi perlindungan pada pekerja.
7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban,
debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara
dan getaran.
8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik/psikis,
keracunan, infeksi dan penularan.
9. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
10. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
11. Memperoleh kebersihan antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya.

C. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip keselamatan kerja di Unit SDM adalah :
1. Pengendalian Teknis, mencangkup :
- Letak, bentuk dan konstruksi alat sesuai dengan kegiatan dan memenuhi
syarat yang telah ditentukan.
- Ruangan harus cukup luas, denah sesuai dengan arus kerja dan ruangan dibuat
dari bahan-bahan atau konstruksi yang memenuhi syarat.
- Perlengkapan alat kecil yang cukup disertai tempat penyimpanan yang
praktis.
- Penerangan dan ventilasi yang cukup memenuhi syarat.
2. Adanya pengawasan kerja yang dilakukan oleh penanggungjawab dan
terciptanya kebiasaan kerja yang baik oleh karyawan.
3. Pekerjaan yang ditugaskan hendaknya sesuai dengan kemampuan kerja dari
karyawan tersebut.
4. Volume kerja yang dibebankan sesuai dengan jam kerja yang telah ditetapkan.
5. Perawatan pada peralatan dilakukan secara berkelanjutan sehingga peralatan
tetap dalam kondisi yang layak.
6. Adanya pelatihan mengenai keselamatan kerja bagi karyawan.
7. Adanya fasilitas pelindung dan peralatan pertolongan pertama yang cukup.
8. Adanya petunjuk penggunaan peralatan keselamatan kerja.

D. Tatalaksana Keselamatan Kerja


1. Ruang Pelayanan Karyawan
Keamanan kerja di ruang pelayanan karyawan ini terlaksana apabila sesuai
prosedur kerja sebagai berikut:
- Menggunakan alas kaki/sepatu agar tidak tersengat listik/bagian dari alat yang
tajam, misalnya isi streples, paku payung.
- Barang yang berat selalu ditempatkan di bagian bawah dan angkatlah dengan
alat pengangkut yang tersedia untuk barang tersebut.
- Semua peralatan listrik yang tidak dipergunakan termasuk lampu harus
dimatikan bila tidak diperlukan.
- Semua kabel-kabel harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak melukai,
tidak membuat tersandung, tidak membuat tersengat petugas ataupun
karyawan yang lain.
- Tidak mengangkat barang berat, bila tidak sesuai dengan kemampuan.
- Tidak mengangkat barang dalam jumlah besar yang dapat membahayakan
badan dan kualitas barang.
- Menyimpan file karyawan pada lemari yang telah disediakan dengan cara
menutup secara perlahan-lahan, sehingga jari tangan tidak terjepit lemari.
- Membersihkan bahan yang tumpah atau keadaan lantai yang licin akibat
pekerjaan rutin pemeliharaan sarana RS (pembersihan AC).
- Tersedia alat pemadam kebakaran yang berfungsi baik di tempat yang mudah
dijangkau.

2. Ruang Penyelenggaraan Pelatihan


Keamanan kerja di ruang penyelenggaraan pelatihan ini terlaksana apabila sesuai
prosedur kerja sebagai berikut:
- Menggunakan alas kaki/sepatu agar tidak tersengat listik/bagian dari alat yang
tajam, misalnya isi staples, paku payung.
- Barang yang berat selalu ditempatkan di bagian bawah dan angkatlah dengan
alat pengangkut yang tersedia untuk barang tersebut.
- Semua peralatan listrik yang tidak dipergunakan termasuk lampu harus
dimatikan bila tidak diperlukan.
- Semua kabel-kabel harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak melukai,
tidak membuat tersandung, tidak membuat tersengat petugas ataupun
karyawan yang lain.
- Tidak mengangkat barang berat, bila tidak sesuai dengan kemampuan.
- Tidak mengangkat barang dalam jumlah besar yang dapat membahayakan
badan dan kualitas barang.
- Meletakkan sarana untuk pelatihan dengan teratur dan rapi (Laptop, LCD di
lemari)
- Menyusun kursi yang tidak terpakai untuk pelatihan dengan tidak terlalu
tinggi sehingga tidak menimpa orang yang lewat.
- Menyimpan buku-buku perpustakaan pada lemari yang telah disediakan
dengan cara menutup secara perlahan-lahan, sehingga jari tangan tidak
terjepit lemari.
- Membersihkan bekas makanan atau minuman yang tumpah di meja ataupun
di lantai sehingga lantai dalam kondisi bersih dan tidak licin.
- Tersedia alat pemadam kebakaran yang berfungsi baik di tempat yang mudah
dijangkau.
BAB VII
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MUTU

A. Pengertian Pengawasan
Pengawasan merupakan suatu kegiatan yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana
sesuai dengan standar, pedoman, rencana, instruksi, peraturan serta hasil yang telah
ditetapkan sebelumnya agar mencapai tujuan yang diharapkan.
Pengawasan terhadap pelayanan karyawan harus selalu dikomunikasikan pada
manajer bagian dan kepala unit kerja, terutama masalah Cuti/Izin serta absensi
sehingga bagian SDM dapat menjalankan pelayanan tersebut sesuai dengan peraturan
yang berlaku.

B. Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu merupakan suatu kegiatan yang mengusahakan agar pekerjaan
yang terlaksana sesuai dengan standar, pedoman, rencana, instruksi, peraturan serta
hasil yang ditetapkan sebelumnya agar tidak terdapat keterlambatan dalam pelayanan.

Penggajian
Pengendalian dalam memberikan gaji/upah untuk karyawan harus terus dilakukan
sehingga karyawan dapat mendapatkan haknya sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan. Adapun standar pelayanan sebagai berikut :
1. Pembagian Gaji/upah setiap bulannya paling lambat tanggal 27.
2. Pembagian THR dilakukan paling lambat 2 minggu sebelum hari raya.

Pendidikan dan Pelatihan


Pengendalian terhadap pelaksanaan pendidikan dan pelatihan harus selalu
dikomunikasikan terhadap manager bagiannya sehingga Unit Diklat dapat mengontrol
proses pelaksanaan serta peserta pelatihan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

C. Tujuan
1. Umum
Sebagai dasar acuan dalam melaksanakan dan meningkatkan mutu pelayanan
bagian SDM di RS Harapan Jayakarta.
2. Khusus
a. Tersusunnya sistem monitoring pelayanan bagian SDM melalui indikator
mutu pelayanan.
b. Mengetahui cara-cara/langkah-langkah dalam upaya meningkatkan mutu
pelayanan bagian SDM.
c. Peningkatan mutu pelayanan bagian SDM dapat dilakukan secara paripurna
dan berkesinambungan serta efisien dan efektif.

D. Manfaat
Adapun manfaat adanya pengawasan dan pengendalian mutu adalah sebagi berikut :
1. Untuk meningkatkan pelayanan bagian SDM RS Harapan Jayakarta.
2. Untuk mencegah dan menghindari masalah-masalah yang berkaitan dengan
pelayanan bagian SDM sebagai support pelayanan kesehatan seperti : komplain
karyawan.

E. Sasaran, Waktu Dan Petugas Pelaksanaan


Adapun sasarannya pengawasan dan pengendalian mutu adalah :
1. Semua petugas bagian SDM.
2. Karyawan.
Kegiatan pengendalian mutu dilaksanakan setiap bulan. Petugas pelaksana adalah tim
pengendali mutu pelayanan yang ditunjuk berdasarkan SK Direktur Rumah Sakit.

F. Langkah – Langkah
Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan bagian SDM maka perlu ditetapkan
langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :
1. Tim Pengendali Mutu mempunyai tugas menyusun rencana program penilaian
mutu pelayanan bagian SDM selama periode tertentu, menyusun kriteria
indikator pengendalian mutu pelayanan bagian SDM, melaksanakan monitoring
dan evaluasi dari suatu penilaian pengendalian mutu bagian SDM.
2. Bentuk kegiatan dari Tim Pengendali Mutu SDM yaitu melaksanakan
pengelolaan mutu kinerja pelayanan bagian SDM.
3. Kegiatan dilakukan 1 bulan sekali :
Studi dokumentasi untuk evaluasi kelengkapan dokumen pelaporan:
Unit Kepegawaian : Melalui Laporan Tahunan
Unit Diklat : Melalui Laporan Tahunan
4. Hasil pengendalian mutu pelayanan bagian SDM dilaporkan pada Tim Pengedali
Mutu.
BAB VIII
PENUTUP

Dengan pelayanan yang baik terhadap hak dan kewajiban Sumber Daya Manusia
tentunya akan menunjang karir atau pekerjaan yang dilakukan. Sehingga akan terkumpul
sebuah Sistem Infomasi Sumber Daya Manusia dimana di dalamnya terdapat suatu
prosedur sistematik pengumpulan, penyimpanan, pemeliharaan dan perolehan semua data-
data tentang semua karyawan.
Perencanaan Sumber Daya Manusia akan terus berorginisir dengan baik sehingga
jika terjadi permintaan ataupun penambahan karyawan perunit kerja sudah tersedia Sumber
Daya Manusia yang berkualitas sesuai dengan standar perunit kerja yang ada di rumah
sakit.
Bagian Sumber Daya Manusia harus terus selalu memperbaharui sistem dan selalu
mendokumentasikan estimasi kebutuhan tenaga yang ada untuk mendukung semua proses
pelayanan di rumah sakit. Sehingga proses pelayanan terhadap customer dapat berjalan
dengan baik dan lancar.
LAMPIRAN
1. Form permohonan karyawan
2. Form permohonan cuti
3. Form Cuti melahirkan
4. Form Cuti tahunan
5. setiap peserta yang dikirim untuk pelatihan diajukan oleh manajer perunit kerja
6. Pemenuhan akan kebutuhan alat tulis ataupun cetakan dapat diperoleh dari
Logistik Umum, dengan menggunakan form yang tersedia.
7. Formulir permintaan logistik rangkap 2 (putih dan merah).
8. Formulir lamaran
Formulir2 untuk Keselamatan Pasien

Ingatkan Direktur untuk mengeluarkan Edaran dokter yang ditunjuk pabali karyawan
ada yang sakit
Formulir punya RSHJ....