Anda di halaman 1dari 6

Tema : Kisah Di Sekolah

Judul :

Apa kabar ayah? Ayah, diri ini amat rindu padamu. Bolehkah aku merindukanmu? Rasa rindu
sekaligus sakit ini kurasakan menyatu dalam kalbu. Menimbulkan goresan luka yang cukup sakit
kurasakan. Lihatlah, Ayah! Rasa iri timbul dalam hati di saat aku melihat kawanku bercanda
dengan ayahnya. Aura bahagia nampak berbinar terang di bola mata keduanya. Mereka dengan
leluasa bisa bercanda dengan ayah mereka, sedangkan aku hanya bisa menatap sebuah buku
tentang memori keluarga kita. Tahukah ayah? Album kenangan itu seperti bercerita tentang
kebersamaan indah. Rasa itu menyelinap masuk begitu saja ke alam bawah sadarku tanpa
permisi. Aku rindu sosok ayah yang selalu ada untukku, rindu yang sebenarnya melukai hati
kami, aku dan ibu. Cerita kepergianmu masih teringat jelas di memori. Bukan karena pergi
meninggalkan dunia ini, hanya wanita yang Ayah rasa lebih cantik daripada Ibu penyebabnya.

''Ibu, aku berangkat sekolah dulu, ya! Assalamu'alaikum.'' Ucapku sambil mencium lembut
tangan ibu yang amat aku sayangi. Hanya beliaulah yang kumiliki sekarang.

''Iya, Nak! Waalaikumussalam. Hati - hati di jalan!''

Pilihan jurusan farmasi di sekolah kejuruan Sidoarjo sudah menjadi cita - citaku. Dari sekolah
ini, aku belajar lebih banyak daripada siswa lain di sekolah umum. Termasuk karya ilmiah yang
seringkali menyeret namaku dalam berbagai lomba hingga tingkat nasional. Ya, walaupun belum
pernah sekalipun aku menjadi juara 1.

Namaku termasuk dalam daftar salah satu siswi berprestasi sehingga sekolah mengapresiasiku
dengan memberikan potongan biaya SPP selama 8 bulan. Dalam bidang prestasi, aku memiliki
satu kompetitor yang selalu membuatku jengkel. Namanya Rama. Dia seangkatan denganku.
Dan untungnya, dia beda jurusan denganku. Rama mengambil jurusan rekam medik. Aku tak
sanggup membayangkan jika Rama juga mengambil jurusam yang sama denganku. Kami akan
selalu bersaing baik dalam bidang karya ilmiah dan pelajaran sekolah. Sampai kapanpun, misiku
adalah mengalahkan Rama dalam bidang akademik. Seorang Rama harus menjadi nomor dua
dan aku sebagai juara!
Setiap kelas pasti memiliki penanggungjawab yang biasa disebut wali kelas. Coba tebak siapa
wali kelasku! Wali kelasku adalah Bu Efi, guru kimia satu - satunya di sekolah ini.
Perawakannya yang sedikit gemuk dan memiliki kegemaran memberikan siswa yang
terperangkap remidi kimia soal segudang yang jawabannya esai semua. Dan parahnya, soal
remidi dan jawabannya ditulis manual di kertas folio bergaris! Hingga jemari ini rasanya seakan
keriting seperti mie instant. Well, setiap guru pasti memiliki keunikan karakter masing - masing
bukan?

''Sebelum memulai pelajaran, ibu akan menyampaikan satu hal penting dari pihak sekolah untuk
kalian.'' Ucap Bu Efi sambil memegang selembar kertas yang aku tak tau isinya apa.

''Iya, bu!'' Jawab kami serentak.

''Tanggal 20 Nopember besok akan diadakan ujian akhir semester. Syarat untuk mengikuti ujian
harus melunasi SPP hingga Bulan Nopember. Bagi yang belum sanggup membayar, diharapkan
orangtua datang ke sekolah.'' Terang Bu Efi memberikan pengumuman. ''Nanti saya akan
membagikan surat edaran dari sekolah untuk disampaikan kepada orangtua kalian.''

''Iya, bu!''

Mendengar pengumuman dari Bu Efi, pikiranku langsung menerawang jauh kepada ibuku.
Bagaimana caraku menyampaikan surat edaran sekolah kepada ibu? Sedangkan yang kutahu ibu
sedang tak memiliki uang karena beberapa hari ini dagangannya tidak selaris biasanya.

''Saras, kok ngelamun ? ''Tanya Bu Efi yang sedari tadi ternyata memerhatikanku.

''Oh maaf, Bu.'' Kataku sambil mengusap wajah.

''Baiklah, ibu lanjutkan penjelasannya, ya!''

''Iya, Bu!''

Siang pun berlalu berganti sore. Waktu mengantarkan diriku sampai azan asar terdengar. Memori
ingatan kalbu menerawang jauh mengantarkan alam bawah sadarku pada masa saat ayah masih
bersama kami, tanpa sengaja aku memecahkan piring. Teringat jelas saat itu, pertama kalinya
diriku belajar mencuci piring. Niat hati meringankan pekerjaan rumah ibu, malah membuatnya
marah karena diri ini kurang berhati - hati saat memegang piring berbusa. Ayah, menghiburku
dikala aku menangis dimarahi ibu. Untuk menghiburku agar tidak menangis kembali, ayah
berjanji membelikanku buku cerita pengantar tidur dan membacakannya untukku. Mendengar
janji itu, dengan hidung berwarna merah dan mata sembab aku tersenyum dengan bahagianya.
Benar - benar kenangan indah.

Mataku tertuju pada ibu yang sedang asyik membaca koran harian. Mungkin ini saat yang tepat
untuk menyampaikan surat edaran sekolah mengenai persyaratan mengikuti ujian.

''Bu, bagaimana hasil ibu jualan hari ini?'' Tanyaku memulai percakapan untuk memecahkan
keheningan yang ada.

''Alhamdulillah, Nak. Meskipun hasilnya cukup untuk makan sehari - hari kita.'' Jawab ibu
sambil tersenyum kepadaku. Aku tau, ibu hanya menutupi kesedihannya dengan sebuah
senyuman agar aku tak turut merasakan kesedihannya.

''Ibu, aku hanya ingin menyampaikan surat ini dari sekolah.'' Kataku sambil menyodorkan
selembar surat edaran yang kuterima dari Bu Efi tadi.

Ibu pun membuka lipatan edaran yang baru saja kuberikan. Aku berharap, kesedihan ibu tidak
bertambah dengan membaca surat ini.

''Maafkan ibu, Nak. Sepertinya ibu belum bisa membayar biaya uang sekolahmu selama 3 bulan.
Sedangkan jika ibu datang ke sekolah tanpa membawa uang sepeserpun, pihak sekolah akan
tetap tidak mengijinkanmu mengikuti ujian karena persyaratan administrasimu belum lunas.''
Kata ibu sambil mengusap air matanya. Ya Allah, aku sungguh tak tega melihat ibu seperti ini.
''Tapi ibu akan berusaha agar bisa membayar biaya sekolahmu. Nanti ibu akan coba meminjam
uang tetangga sebelah.''

''Tidak usah, Bu!'' Kataku sambil memeluk ibu dengan erat. ''Aku tidak mau membuat ibu malu
karena menghutang tetangga. Biar aku saja yang mengurus ujianku. Ibu berjualan saja. Doakan
aku bisa mengikuti ujian.''

''Lalu uang darimana kamu membayarnya? Jangan pernah menggunakan uang haram, Nak!''
''Aku akan berusaha mencari uang dengan cara halal, Bu. Mungkin dengan bekerja paruh waktu
menjadi pelayan rumah makan.'' Jelasku pada ibu agar beliau tak berpikiran buruk tentang
bagaimana caraku mendapat uang. Aku terpaksa berbohong, padahal sebenarnya aku sama sekali
belum tau akan melakukan apa. Maksud hati agar beban ibu tak bertambah dan jatuh sakit karena
memikirkan hal ini. Ampunilah hamba Ya Allah..

''Maafkan ibu, Nak. Gara - gara ibu kau harus bekerja untuk membiayai sekolahmu.'' Kata Ibu
sambil mengelus kepalaku dengan lembut.

Sepertiga malam terakhir kupaksakan diri untuk melaksanakan sholat tahajud. Biarpun mata
masih ingin dipejamkan dan tempat tidur bergambar bunga - bunga memanggil untuk tidur
kembali. Air dingin dini hari membuatku langsung sadar dari rasa kantuk yang sedari tadi
menggelayuti agar kembali bermimpi. Kupanjatkan doa agar Allah Swt. Memberikan kemudahan
agar bisa mengikuti ujian. Berharap akan ada peri yang datang membawakan diriku uang untuk
membayar administrasi sekolah. Meskipun hal itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Keesokan harinya, saat istirahat sekolah, aku mencoba menemui Bu Septy untuk membicarakan
tentang masalah administrasiku yang belum bisa terlunasi. Bu Septy adalah salah satu guru
bahasa inggris yang ada di sekolahku. Selain itu, beliau bertugas sebagai Asisten Humas.

''Assalamu'alaikum, Bu. Maaf mengganggu.''

''Wa'alaikumussalam. Ada apa Saras?'' Jawab Bu Septy dengan wajah datarnya. Mungkin beliau
sudah tau maksud kedatanganku ke sini untuk meminta kebijaksanaan agar aku tetap bisa
mengikuti ujian meskipun belum menyelesaikan administrasi. Beliau pasti sudah hapal denganku
gara - gara masalah ini. Hufftttt..

''Maafkan saya, Bu. Orangtua saya masih belum sanggup membayar uang spp saya. Bisakah saya
mendapat kebijakan dari pihak sekolah untuk tetap bisa ikut ujian?''

Bu Lely diam sejenak setelah mendengar penuturanku. Aku pun sudah siap mendengar semua
ucapan yang keluar dari bibir beliau. Sudah kutebak pasti akan memarahiku.

''Saras, itu sudah aturan dari sekolah. Kamu harus melunasi administrasi agar bisa mendapatkan
kartu ujian. Itu syarat mutlak. Setidaknya kamu harus mencicil biaya administrasi agar kamu bisa
mendapatkan kartu ujian sementara.'' Terang Bu Septy dengan wajah datarnya. Aku tau, dibalik
wajah datarnya tersimpan sebuah perasaan jengkel padaku karena tidak bisa membayar
administrasi. ''Jika kamu belum membayar administrasi paling lambat hari ini, kamu terancam
tidak bisa ikut ujian. Jadi persiapkan saja semuanya!''

''Iya, Bu. Maaf saya permisi dulu.''

Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan Bu Septy. Bersamaan dengan langkahku terdapat
rintihan hati yang tidak bisa kuucapkan dengan kata apapun. Ya Allah, bantulah hamba agar bisa
mengikuti ujian. Tanpa bantuanmu, hamba tidak bisa melakukan apa - apa. Cukup, aku sudah
tidak bisa menahan rasa yang amat menyesakkan dada. Rasa sedih, kecewa, putus asa bercampur
jadi satu. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa ikut ujian? Menangis? Hanya itu yang bisa
aku lakukan saat ini. Dan tempat ini, pojok laboratorium farmasi, menjadi tempatku
menumpahkan kesedihan ini melalui air mata.

''Kenapa kamu nangis, Saras? Nggak seharusnya kamu nangis di sini!''

Aku kenal suara itu. Suara yang saat aku mendengarnya selalu memunculkan rasa persaingan
antara aku dengannya. Ya, itulah dia. Rama.

''Ngapain kamu ke sini? Nggak usah sok peduli !'' Teriakku sambil menahan isak tangis.

''Halah, aku tau kenapa kamu nangis. Sudah nggak usah nangis. Tadi aku nggak sengaja
mendengarmu bicara dengan Bu Septy. Aku sudah ijin orangtuaku ingin membantumu. Soalnya
kamu itu temanku, Saras!'' Tutur Rama menjelaskan kronologi dirinya mengetahui sebab aku
menangis. ''Boleh kan aku membantumu?''

''Benarkah? Terus bagaimana aku membayarnya?'' Kataku sambil mengusap air mata dengan
lengan bajuku.

''Kamu bayar sebisanya aja! Aku nggak akan memaksa.''

Semenjak saat itu, cara pandangku terhadap Rama mulai berubah. Dia yang selama ini kuanggap
sebagai kompetitorku dalam bidang akademik, ternyata mau membantuku yang sedang dalam
dilema. Ya, dilema karena aku terancam tak bisa ikut ujian. Kata pepatah, terkadang apa yang
kau anggap baik justru buruk untukmu. Sebaliknya, yang kau anggap buruk justru membawa
berkah untukmu. Ya Allah, terima kasih karena engkau telah membuktikan pepatah itu padaku.