Anda di halaman 1dari 153

PERTEMUAN I

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan
respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input
yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja
yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respons berupa reaksi atau
tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu, dimana terdapat
perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai
hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar dapat pula diartikan
sebagai proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun
sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah
kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang
dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di
laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku
siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa
sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.
Menurut Snelbecker belajar adalah harus mencakup tingkah laku dari
tingkat yang paling sederhana sampai yang kompleks dimana proses perubahan
tersebut harus bisa dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal
Menurut Whiterington belajar adalah suatu proses perubahan dalam
kepribadian sebagaimana dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-
pola respontingkah laku yang baru nyata dalam perubahan ketrampilan, kebiasaan,
kesanggupan, dan sikap
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya

1
dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas,
bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Menurut Gagne dalam Whandi (2007) belajar di definisikan sebagai “suatu
proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman”.
Slameto (2003: 5) menyatakan belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”.
Sedangkan Lebih lanjut Abdillah (2002) dalam Aunurrahman (2010 :35)
menyimpulkan bahwa “belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh
individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang
menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh
tujuan tertentu”.
Dapat disimpulkan Belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-
individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan
ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap,
pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan
bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju
perkembangan pribadi manusia seutuhnya.
Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa
siswa telah melakukan kegiatan belajar, yang meliputi pengetahuan, keterampilan
dan sikap-sikap yang baru. Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai
tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses
belajar (Oemar, 1999: 73). Tujuan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi
perubahan tingkah laku dari individu setelah individu tersebut melaksanakan
proses belajar. Melalui belajar diharapkan dapat terjadi perubahan (peningkatan)
bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek lainnya. Selain itu tujuan
belajar yang lainnya adalah untuk memperoleh hasil belajar dan pengalaman
hidup. Seseorang dianggap telah belajar apabila dapat menunjukkan perubahan
perilakunya, dimana dalam belajar pasti terdapat stimulus respon; kalimat tanya,
kalimat perintah, dan kalimat pujian.

2
B. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar,
di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang
berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada
pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai sasaran
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai komponen
lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran.
Arikunto (1993: 12) mengemukakan “pembelajaran adalah suatu kegiatan
yang mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan
sikap oleh subjek yang sedang belajar”. Lebih lanjut Arikunto (1993: 4)
mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah bantuan pendidikan kepada anak
didik agar mencapai kedewasaan di bidang pengetahuan, keterampilan dan
sikap”. Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor
20 tahun 2003 menyatakan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Dari berbagai pendapat pengertian pembelajaran di atas, maka dapat
ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan
yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi
pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan saling mempengaruhi
dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada
suatu lingkungan belajar.
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses
penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima
pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah
komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan
adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya
bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media.
Demikian pula kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar), tetapi bukan
berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif sedang siswa pasif.
Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama menjadi
subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru

3
sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut
mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa
melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah, maka
hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut
keaktifan guru dan siswa.
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari
oleh seseorang. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang
ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul
ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian
tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan
pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak
seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap
sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi
dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan
menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk
mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.
Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan
terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi,
persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Pengetahuan
ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran.
Pengetahuan adalah suatu keadaan yang hadir dikarenakan persentuhan kita
dengan suatu perkara. Keluasan dan kedalaman kehadiran kondisi-kondisi ini
dalam pikiran dan jiwa kita sangat bergantung pada sejauh mana reaksi,
pertemuan, persentuhan, dan hubungan kita dengan objek-objek eksternal.
Walhasil, makrifat dan pengetahuan ialah suatu keyakinan yang kita miliki yang
hadir dalam syarat-syarat tertentu dan terwujud karena terbentuknya hubungan-
hubungan khusus antara subjek (yang mengetahui) dan objek (yang diketahui)
dimana hubungan ini sama sekali kita tidak ragukan.
Tujuan pembelajaran pada hakekatnya mempunyai kedudukan yang sangat
penting. Tujuan pembelajaran ini merupakan landasan bagi penentuan isi (materi)

4
bahan ajar, penentuan dan pengembangan strategi pembelajaran, dan penentuan
dan pengembangan alat evaluasi. Tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan atas
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum adalah pernyataan umum tentang
hasil pembelajaran yang diinginkan yang mengacu pada struktur orientasi,
sedangkan tujuan khusus adalah pernyataan khusus tentang hasil pembelajaran
yang diinginkan yang mengacu pada konstruk tertentu.
Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif,
kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Siswa
dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya;
mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri
dari informasi yang dipilih tersebut. Siswa bukan penerima yang pasif, merekam
informasi yang didapat dari orang tuanya, guru, buku teks ataupun media saja. Hal
ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan
perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui
(pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa
yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti.
Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan, khususnya dalam pengembangan
psikologi kognitif, maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe
pengetahuan umum, yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif.
1. Pengetahuan Faktual
Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para
ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik, pemahaman, dan penyusunan
dimensi pengetahuan secara sistematis. Elemen-elemen ini biasanya digunakan
oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan
perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui
ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Elemen-elemen
ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa
referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting.
Pengetahuan faktual yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
a. Pengetahuan Istilah

5
Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-
simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata, bilangan-bilangan, tanda-
tanda, gambar-gambar). Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-
simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Contohnya :
1) Pengetahuan tentang alfabet.
2) Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan.
3) Pengetahuan tentang kosakata melukis.
4) Pengetahuan tentang akunting.
5) Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan.
6) Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan
pengucapan kata-kata yang tepat.
b. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya
Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan
tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan sebagainya.
Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat,
contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan
perkiraan informasi, seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang
terjadi. Contohnya:
1) Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial.
2) Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan,
kewarganegaraan, kebutuhan manusia dan ketertarikannya.
3) Pengetahuan nama-nama penting, tempat, dan peristiwa dalam berita.
4) Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap
masalah pemerintah.
2. Pengetahuan Konseptual
Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta
hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit, dalam bentuk pengetahuan
yang tersusun. Seperti, skema, model mental, atau teori implisit atau eksplisit
dalam model psikologi kognitif yang berbeda. Semua itu dipersembahkan dalam
pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan
distrukturisasikan, bagaimana bagian-bagian yang berbeda atau informasi yang

6
sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik, dan bagaimana
bagian-bagian ini saling berfungsi. Contohnya, rotasi bumi, matahari, rotasi bumi
mengelilingi matahari.
a. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori
Pengetahuan klasifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori, divisi-divisi
dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan ini
secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan
masalah mereka, dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang
telah diselesaikan. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam
mengembangkan sebuah disiplin akademik. Contohnya :
1) Pengetahuan macam-macam tipe literatur.
2) Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha.
3) Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda, kata kerja, kata sifat)
4) Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda.
5) Pengetahuan periode waktu yang berbeda.
b. Pengetahuan Dasar dan Umum
Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan
fenomena penelitian. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam
menggambarkan, memprediksikan, menjelaskan atau menentukan tindakan yang
paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Contohnya :
1) Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus.
2) Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar.
3) Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan
kesehatan.
4) Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran.
c. Pengetahuan Teori, Model dan Struktur
Pengetahuan teori, model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan
generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas, pandangan yang sistematis
dalam sebuah fenomena yang rumit, masalah, atau materi. Pengetahuan ini
merupakan formula yang abstrak. Contohnya:

7
1) Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk
teori kimia.
2) Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi, fungsi)
3) Pengetahuan evolusi.
4) Pengetahuan teori tektonik.
5) Pengetahuan model genetika (DNA).
3. Pengetahuan Prosedural
Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan
sesuatu. Seperti pengetahuan keterampilan, algoritma, teknik-teknik, dan metoda-
metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Ataupun dapat
digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah.
a. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma
Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Prosedur
perkalian dalam aritmetika, ketika diterapkan, hasil umumnya adalah jawaban
yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Walaupun hal ini
dikerjakan dalam pengetahuan prosedural, hasil dari pengetahuan prosedural ini
seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Algoritma untuk
penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2
dan 2 adalah pengetahuan prosedural, jawabannya 4 semudah pengetahuan
faktual. Sekali lagi, penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa
dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Contohnya :
1. Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air.
2. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang
didasarkan pada analisa struktur
3. Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan
persamaan kuadrat
b. Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus
Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas
dari hasil konsensus, persetujuan, atau norma-norma disiplin daripada
pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi,
eksperimen, atau penemuan. Contohnya :

8
1) Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial.
2) Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari
penyelesaian masalah.
3) Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan
4) Pengetahuan macam-macam metoda literatur.
c. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat
1) Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis
(ekspositori, persuasif).
2) Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam
menyelesaikan persamaan aljabar.
3) Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk
menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen.
4) Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan
membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air.
4. Pengetahuan Metakognitif
Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak
diketahui. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan
kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. Apabila
kesedaran ini wujud, seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang,
memantau dan menilai apa yang dipelajari. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah
pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah
satu pengertian itu sendiri
a. Pengetahuan Strategi
Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari,
memikirkan dan menyelesaikan masalah. Contohnya:
1) Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.
2) Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri
dan kesimpulan.
3) Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan.
b. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif, termasuk Pengetahuan Kontekstual
dan Kondisional

9
Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif
yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak, bisa saja membuat sistem
kognitif ataupun strategi kognitif. Contohnya :
1) Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh, jawaban singkat) yang
dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan
dengan pengenalan tugas-tugas (contoh, pilihan berganda).
2) Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan
buku biasa atau buku teks umum.
3) Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh, mengingat nomor telepon).
c. Pengetahuan Itu Sendiri
Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya
dengan pengertian dan pembelajaran. Contohnya, siswa yang mengetahui tes itu
lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essay,
karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian.
Manusia adalah mahluk yang serba terhubung, baik dengan dirinya sendiri
(hati dan pikiran), kepada Sang Pencipta, dengan orang lain maupun dengan alam.
Pada abad ke- 20 manusia mengalami krisis total. Disebut demikian karena yang
dilanda krisis bukan hanya segi-segi tertentu dari kehidupan seperti krisis
ekonomi, krisis energi, dan sebagainya, melaikan yang krisis adalah manusia
sendiri. Dalam krisis total manusia mengalami krisis hubungan dengan masyrakat,
dengan lingkunganya, dengan dirinya sendiri, dan dengan tuhannya. Tidak ada
hubungan pengenalan, pemahaman dan kemesraan dengan sesama manusia. Hal
inilah yang melanda manusia sehingga manusia semakin jauh dari kebahagian.
Dalam hubugan ini, pendidikan mempunyai peranan penting sebagai wahana
untuk mengantar peserta didik untuk mencapai kebahagiaan yaitu dengan jalan
membantu mereka meningkatakan kualitas hubungannya dengan dirinya,
lingkunganya, dan tuhannya untuk menciptakan rasa kebersamaan dengan
individu lainnya, rasa menghormati, serta menjalin hubungan yang baik.

10
PERTEMUAN II
CARA BELAJAR YANG EFEKTIF
Belajar merupakan sebuah kewajiban, kewajiban yang melekat pada
predikat yang disandangnya yaitu Pelajar. Belajar yang baik seharusnya belajar
yang dapat mendukung pencapaian tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka
panjang yang bermanfaat bagi kehidupannya.
Cara belajar efektif adalah cara belajar yang sesuai dengan kondisi
personal pembelajar, baik dari segi metode, penggunaan tempat, ataupun
penggunaan waktu. Sedangkan belajar efesien adalah cara belajar yang
meminimalkan usaha tetapi mendapatkan hasil yang maksimal. Yang diminilkan
disini juga berupa waktu, tempat, sarana dan prasarana belajar dan lain-lain.
Biasanya seseorang belajar tidak terlalu lama, tetapi sangat menguasai materi
tersebut, karena orang tersebut kemungkinan mempunyai cara efisien dalam
belajar, selain metode yang mereka gunakan dalam belajar. Yang perlu diingat
disini adalah, tidak ada orang pintar atau bodoh dalam belajar, yang ada hanyalah
orang malas, dan tak tahu cara belajar yang baik.
Cara belajar yang efektif dan efisien bagi sebagian orang adalah hal yang
sulit, bahkan menganggap hal tersebut hanyalah sebuah slogan. Hal ini dikarekan
orang tersebut belum menemukan cara belajar yang efektif dan efisien yang sesuai
dengan kondisinya secara pribadi. Memang harus diakui bahwa, cara belajar
efektif dan efisien bagi sebagian orang, belum tentu efektif dan efisien bagi
sebagian lainnya. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai cara belajar yang
efektif dan efisien, ada baiknya kita memahami dulu makna cara belajar efektif
dan efisien.
Dibawah ini adalah cara belajar yang efektif dan efisien. Cara ini sengaja
disusun secara berurutan, kapan waktunya belajar, dimana, apa yang akan
digunakan dalam pembelajaran tersebut, setelah mempelajari materi ini apa kira-
kira yang akan didapat dari materi tersebut, apakah materi ini berhubungan
dengan materi lainnya, bagaimana pemahaman orang lain terhadap materi ini, dan
membuat kesimpulan terhadap materi yang dipelajari.
1. Menentukan niat

11
Sebelum melakukan sesuatu, alangkah baiknya kita menentukan niat terlebih
dahulu karena segala sesuatu yang diawali dengan niat yang baik, tentunya akan
memperoleh hasil yang baik pula. Niat termasuk perbuatan hati maka tempatnya
adalah di dalam hati, bahkan semua perbuatan yang hendak dilakukan oleh
manusia, niatnya secara otomatis tertanam di dalam hatinya. Fungsi niat ialah
membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara
ibadah dengan kebiasaan dan membedakan tujuan seseorang dalam beribadah.
Niat merupakan perkara yang amat penting dalam Islam. Kita dapat
menyimpulkan bahwa niat akan mempengaruhi kadar pahala yang diperoleh
seseorang. Semakin murni keikhlasannya, semakin besar pahala yang akan ia
dapat, walaupun amalan yang telah ia lakukan ringan. Dan begitu pula sebaliknya;
walau amalan yang ia lakukan adalah amalan yang berpahala besar, namun bila
keikhlasan dalam hatinya kecil, maka semakin kecil pula pahala yang ia peroleh.

2. Berdoa sebelum belajar


Setelah menetapkan niat, berdoalah kepada Sang Maha Kuasa, pemilik segala
sesuatu yang terdapat di bumi ini termasuk ilmu yang akan kita pelajari agar lebih
dimudahkan untuk menyerap pelajaran tersebut. Walaupun sudah menyiapkan
bahan ujian dengan baik, kadang-kadang, kita pun dilanda ketakutan, bahwa kita
akan gagal saat ujian, sehingga membuat kita bingung dan pikiran kita tidak
tenang. Kalau itu terjadi, jangan khawatir. Berdoalah pada Tuhan, agar kita
diberikan pikiran yang tenang saat belajar, sehingga kita bisa menyerap ilmu yang
kita pelajari. Jadi berdoa bukan cuma saat menjelang ujian, berdoa juga baiknya
kita lakukan saat kita akan belajar. Kita berdoa karena kita adalah manusia yang
lemah. Dengan pertolongan Tuhan, manusia akan lebih kuat. Saat berdoa, kita
bersyukur pada Tuhan akan segala kebaikan yang kita terima, namun juga kita
meminta segala kebaikan di hari-hari yang akan dating Seorang yang rajin berdoa
akan :
 Perasaan stress atau tertekan akan berkurang
 Bisa berpikir dengan tenang
 Bisa mengembangkan kemampuan dirinya

12
 Tegar saat menghadapi kekecewaan dan kesedihan
Pada dasarnya membaca doa merupakan sebuah perwujudan dari ranah
religius, setiap orang yang beragama dan meyakini adanya tuhan pasti akan
memanjatkan doa sebagai bentuk permintaan perlindungan, permintaan
keberhasilan maupun permintaan kelancaran. Meskipun dalam pelaksanaannya,
memanjatkan doa lebih banyak dilakukan oleh manusia untuk meminta, namun
ada sebagain orang yang seringkali memanjatkan doa sebagai bentuk rasa terima
kasih dan berserah diri kepada tuhan.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan kerapkali menemui halangan, entah itu
kondisi fisik yang sedang tidak baik, kondisi psikologis yang kurang baik maupun
kemampuan menyerap pelajaran yang kurang. Doa diyakini sebagai bentuk
dukungan meskipun terkadang manfaat atau fungsinya tidak diperoleh secara
langsung, namun beberapa orang pernah merasakan indahnya manfaat yang
mereka dapatkan ketika rutin memanjatkan doa kepada tuhan. Berikut ini
beberapa manfaat doa yang akan diterima oleh siapa pun mereka yang rutin
melakukannya:
a. Memiliki hati yang tenang
Mereka yang rajin berdoa dengan membicarakan segala persoalan pada
tuhan akan memiliki hati yang lebih tenang. Mencurahkan hati dan pikiran Anda
pada manusia hampir sama dengan mencurahkan hati dan pikiran kepada tuhan,
intinya Anda bisa mengeluarkan semua ganjalan yang membuat Anda terbebani,
meskipun jawaban atau jalan keluar tidak diperoleh lebih cepat jika Anda
menceritakan persoalan dan meminta pendapat dengan seseorang. Atau bisa juga
diartikan sebagai upaya memperoleh ketenangan sebagaimana Anda menulis
catatan harian.
b. Selalu berpikir positif
Doa sesudah belajar maupun doa apa pun yang Anda panjatkan pada tuhan
dapat menyuntikan perasaan dan pikiran yang positif, Anda yang memahami
agama tentunya dapat mengerti dengan baik maksud dari manfaat doa yang satu
ini. Berpikir positif mengenai semau persoalan dan kondisi yang Anda alami saat
ini mencerminkan kepasrahan Anda pada ketentuan tuhan, bukannya Anda putus

13
asa atau hanya berdiam diri, maksudnya adalah Anda tidak berburuk sangka pada
tuhan ketika posisi Anda sedang berada dalam kondisi yang kurang baik, selalu
berpikir positif jika tuhan akan selalu ada dan membantu Anda, tentunya
seimbangkan dengan rajin berusaha dan bekeja.
c. Tingkah laku yang baik
Mereka yang mengenal dan memahami agama dengan baik tentunya akan
merasa takut untuk melakukan tindakan negatif, takut akan tuhan dan dosa.
Mereka yang rajin berdoa akan dijauhkan dari hal negatif, terutama mereka yang
rutin berdoa sesudah belajar, semua pelajaran yang diajarkan diyakini akan
diserap dengan mudah.

3. Menentukan tujuan belajar


Tentukan tujuan belajar. Pikirkan bahwa kita belajar untuk apa, untuk
mencapai, dan untuk menguasai apa. menentukan tujuan belajar akan membuat
belajarmu bisa lurus di jalurnya dan tetap fokus.
4. Jauhkan semua gangguan
Sebisa mungkin menjauhkan semua hal yang dapat mengganggu dalam proses
belajar seperti handphone, televisi, tablet dll. Handphone akan membuat kita betah
untuk chatting di social media, stalking teman, mengikuti kabar terbaru
lewat social media, dan sebagainya. Tentunya handphone ini telah banyak
menguras waktu yang seharusnya kita gunakan untuk belajar. Dampak dari
gangguan-gangguan ini adalah belajar hingga larut malam dan kemalasan.
5. Menentukan jadwal belajar rutin untuk setiap harinya
Apabila ada kegiatan lain, makan berkomitmen pada diri sendiri bahwa akan
menggantinya pada hari berikutnya. Dan apabila ada tugas, jadikan tugas tersebut
sebagai sarana belajar agar dua kegiatan bisa berjalan beriringan. Adapun cara
membuat jadwal pelajaran yang baik:
a. Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperluan-keperluan tidur, makan,
belajar, mandi, olah raga dan lain-lain.
b. Menentukan waktu yang tersedia setiap hari.
c. Merencanakan penggunaan belajar.

14
d. Jenis-jenis mata pelajarannya dan urutan yang seharusnya dipelajari.
e. Menyelidiki waktu mana yang dapat digunakan untuk belajar dengan hasil
yang baik.
f. Berhematlah dengan waktu, dan janganlah ragu-ragu untuk memulai
pekerjaan, termasuk belajar.

6. Menulis PR dan ulangan yang terjadwal


Salah satu caranya adalah dengan menempelkan sticky notes di atas buku
pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian kamu akan ingat pada ulangan
yang mendatang, sehingga kamu dapat menghindari sistem SKS (Sistem Kebut
Semalam) atau sistem H-1.
7. Belajar sesuai konteks mata pelajaran
Apabila belajar di teori, maka tandai hal-hal penting kemudian buatlah
rangkuman atau catatan mengenai inti permasalahan dari pelajaran tersebut,
sebaliknya apabila pelajaran berhitung, catat rumus penting yang sering
digunakan kemudian berlatih untuk mengerjakan soal.
8. Ciptakan kondisi belajar yang nyaman
Dengan adanya kondisi belajar yang nyaman dan rileks baik dari segi tempat
maupun hal-hal yang menjadi kebiasaan. Seperti belajar dikombinasikan dengan
mendengarkan music.
9. Istirahat
Selingi dengan istirahat, jangan jadikan belajar sebagai sebuah beban, tekanan,
dan paksaan agar terhindar dari rasa stress. Jangan lupa untuk meluangkan waktu
untuk beristirahat, meskipun hanya 10 menit. Keluarlah dari ruangan belajarmu
dan lihatlah pemandangan yang lain supaya otakmu tidak terus-menerus
memproses gambaran kertas yang berisi tulisan saja. Di tengah istirahatmu itu,
kamu bisa saja bersosialisasi dengan orang lain, makan dan minum, atau tidur
siang apabila merasa lelah sehabis pulang sekolah. Tentunya jam istirahat yang
singkat ini akan membuat dirimu lebih siap dan segar dalam menerima lebih
banyak pelajaran dibandingkan mereka yang belajar dengan istirahat yang minim.
10. Bertanya

15
Pertanyaan adalah kalimat yang kita ungkapkan untuk mendapatkan
keterangan atau informasi atas sesuatu. Jadi, bertanya adalah mengungkapkan
kalimat secara lisan atau tulisan untuk mendapatkan keterangan yang kita
perlukan. Pentingnya bertanya terletak pada alasan kita mendapatkan keterangan.
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “bertanya”
. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama yang berbasis konstektual.
Bertanyalah kepada orang lain, teman, senior, dosen atau siapa pun yang lebih
tahu. Karena akan lebih baik apabila kita mendapatkan referensi yang beragam.
11. Memilih tempat belajar
Tempat belajar juga sangat mendukung efektivitas belajar. Kondisi tempat
belajar yang tenang, sejuk, luas, dan pewarnaan dalam ruangan belajar yang bisa
memanipulasi ingatan lebih kuat (misalnya penggunaan cat), kondisi tempat
duduk, meja dan penataan buku-buku pada tempat belajar sangat membantu dalam
mengefektifkan belajar. Biasanya tempat belajar juga tergantung dengan
waktunya, karena biasanya ada tempat-tempat tertentu yang bising disiang hari
misalnya, tetapi cukup tenang dimalam hari atau dipagi hari. Silahkan sesuaikan
antara tempat belajar dengan waktu belajar.
12. Penggunaan sarana dan prasarana belajar
Sarana dan prasarana belajar disini hanya sebuah alat. Jika tersedia silahkan
digunakan, tetapi bukan merupakan prasyarat utama. Sarana belajar disini bisa
berupa video pendukung dengan apa yang sedang dipelajari, ataupun alat-alat
lainnya. Silahkan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada untuk mendukung
belajar yang efektif.
13. Membuat review materi
Membuat review materi sangat penting dalam belajar. Review disini
digunakan untuk memanggil kembali (recall) apa yang sudah dipelajari. Dengan
mereview materi, kita dapat melihat secara sistematis apa-apa yang sudah kita
pelajari. Dengan review pula, kita bisa merencanakan apa yang masih kurang dari
materi yang sudah kita pelajari, sehingga dapat menentukan langkah dan memilih
buku lain yang tepat untuk melengkapi materi yang sedang kita pelajari.
14. Mengembangkan Materi

16
Pengembangan materi ini adalah system pembelajaran lanjutan.
Pengembangan materi dengan melihat hubungan materi yang sedang kita pelajari
dengan materi-materi lain. Materi yang kita pelajari kemungkinan sama dengan
materi yang sudah kita pelajari ataupun bertentangan. Dengan membandingkan
materi-materi ini, kita bisa membuat sebuah kesimpulan-kesimpulan awal. Kalau
bisa, kesimpulan-kesimpulan awal ini dibuat dalam bentuk list (catatan) untuk
didiskusikan dengan teman-teman atau guru (tutor).

15. Belajar kelompok


Membuat kesepakatan dengan teman untuk belajar bersama, saling
mengajar dan memecahkan suatu permasalahan. Dengan hal itu, kita akan
menambah ilmu dengan terbagi pengetahuan satu sama lain.

16. Membuat kesimpulan


Pembuatan kesimpulan adalah hal yang sangat penting sebagai hasil dari apa
yang kita pelajari selama ini. Sebaiknya kesimpulan akhir ini ditulis secantik
mungkin, agar dapat dibaca dan dijadikan referensi jika kita sedang mempelelajari
hal yang sama dikemudian hari. Bahkan kesimpulan bisa merupakan kisi-
kisi/intisari dari sebuah materi.
17. Rajin membaca materi pelajaran sebelum dijelaskan, meskipun hanya sedikit demi
sedikit
Dengan membaca materi pelajaran sebelum dijelaskan di kelas, kamu akan
lebih “nyambung” ketika diterangkan. Apabila ada yang kurang dipahami, kamu
dapat langsung menanyakan pada gurumu. Istilah lainnya adalah “mencuri start”
dari orang lain.
18. Berdoa kembali
Setelah selesai belajar, berdoalah kepada sanga maha kuasa agar ilmu yang
kita dapatkan bisa membawa berkah dan bermanfaat baik untuk orang lain,
terlebih untuk diri kita sendiri
19. Belajarlah tanpa mood

17
karena kesungguhan kita untuk berubah, jangan belajar hanya dengan
berlandaskan mood saja.iya kalau pas nice mood, la kalau pas bad mood kita
jadikan alasan untuk kita tidak belajar, saya berani jamin ilmu yang anda pelajari
akan sama halnya dengan air yang menetes di lapangan panas, sangat mudah
menguap. Jadi jangan pernah belajar berdasarkan mood ya kalau ingin hasil yang
memuaskan.
20. Belajarlah di manapun anda suka
Carilah tempat yang nyaman dan dapat menenangkan pikiran kita sewaktu
belajar, dengan keadaan yang nyaman kita akan lebih mudah dalam memahami
materi.
21. Jangan belajar terlalu banyak ketika akan ujian
Inilah sebuah doktrin yang saya rasa sangat keliru, "kamu harus belajar
sungguh-sungguh, besok ada ujian"..kira-kira teman-teman sudah mendengar
ocehan yang seperti itu? Ini adalah kesalahan, sebenarnya ketika akan ujian itu
kita gunakan untuk merehat otak sekejap, justru pas hari-hari biasalah kita harus
sungguh-sungguh. Sistem KS (kebut semalam) sangat merusak cara berpikir kita,
karena hanya akan menimbulkan tekanan bukan pengetahuan.
22. Belajar sambil diskusi
Belajar secara kelompok memang dimaksudkan agar seseorang yang kurang
mampu memahami materi bisa berdiskusi dengan orang yang sudah paham.
Sehingga pertukaran ide terus berjalan, yang pintar tidak semakin pintar, begitu
pula yang bodoh tidak semakin terperosok. Semua bisa menjadi seimbang.
23. Belajar dengan diiringi musik
Musik memang bisa meningkatkan konsentrasi kita dalam belajar, namun
hal ini tidak selalu terjadi pada setiap orang. Ada beberapa orang yang malah suka
keadaan yang hening. Jadi, jika musik bisa membantumu berkonsentrasi.
24. Jangan hanya menghafal
metode menghafal mungkin bisa menyukseskan kita dalam mencari "nilai-
yang-baik", namun apakah pengetahuan kita bertambah? tidak. Pahamilah materi
dengan mempelajari konsep-konsepnya, bagaimana hal itu bisa terjadi, mengapa,
apa selanjutnya, begitulah cara berpikir yang harus dikembangkan meskipun

18
memakan waktu yang cukup lama. Sehingga kita akan tahu betapa indahnya Ilmu
Pengetahuan itu. Dalam film 3 idiots, ada sebuah quotes yang sangat mengena:
"Dengan menghafal, kamu bisa menghemat waktumu selama 4 tahun di
universitas, namun kau telah menghancurkan 40 tahun hidupmu kedepan".
25. Jangan malu-malu untuk bertanya
Bila kita ada yang belum paham mengenai materi yang diajarkan, cukup
dengan acungkan jari dan bertanyalah kepada bapak/ibu guru, jangan malu
bertanya bila kita tidak bisa, jangan jadikan gengsi "takut dibilang lambat oleh
teman2" sebagai alasan, karena hal yang seperti itu tidak masuk akal!
26. Coba dan Gagal (Trial and Error)
Dalam hidup ini, gagal adalah teman kita juga, jadi jangan pernah
menghindar darinya. Kita terjatuh, untuk apa? Agar kita tahu bagaimana cara
untuk bangun. Kita tidak akan pernah tahu yang benar itu bagaimana jika kita
tidak kenal dengan kesalahan dulu. Materi yang sesulit apapun, pasti akan bisa
kita kuasai asal tidak ada kata menyerah memahaminya. Coba terus, gagal sudah
biasa.
27. Cintailah mata pelajaran yang anda suka
Anda tidak bisa dalam fisika (misal), namun anda sangat mencintai
pelajaran yang satu ini. Maka dengan kecintaan itu, suatu saat akan menjadikan
anda seorang fisikawan hebat, karena sesuatu yang dilakukan sepenuh hati akan
menghasilkan hasil yang memuaskan. Sekarang tidak bisa, namun karena
kecintaan tersebut anda mempelajarinya setiap waktu, tunggulah hingga mimpi
indah tiba.
28. Ingatlah tujuan utama kita sekolah
Tujuan utama kita sekolah ialah untuk mencari ilmu pengetahuan, bukan
hanya menerima "cara untuk memperoleh nilai yang baik" saja. Nilai tidak akan
bisa mencerminkan kualitas seseorang, lihatlah kenyataannya. Tidak masalah kita
ada di peringkat berapapun, yang terpenting ialah belajar bukan untuk mencapai
kesuksesan..tetapi untuk membesarkan jiwa. Ini merupakan cara belajar paling
efektif yang terus saya gunakan, karena saya yakin ilmu bukan sebatas coretan
nilai, tapi banyaknya kita berbagi kepada sesama.

19
PERTEMUAN III
HAKIKAT NIAT
A. Materi Hadis, Mufradat Dan Asbab Al-Nuzul tentang niat
1. Materi Hadis
‫س ْو َل للاِ صلى للا‬ ُ ‫س ِم ْعتُ َر‬ َ : ‫ي للاُ َع ْنهُ َقا َل‬ َ ‫ض‬
ِ ‫ب َر‬ ِ ‫طا‬َّ ‫ع َم َر ب ِْن ْال َخ‬ ُ ‫ص‬ ٍ ‫َع ْن أ َ ِمي ِْر ْال ُمؤْ ِمنِيْنَ أ َ ِب ْي َح ْف‬
ُ ‫ت ِهجْ َرتُهُ ِإ َلى للاِ َو َر‬
ُ‫س ْو ِل ِه فَ ِهجْ َرتُه‬ ْ َ‫ فَ َم ْن كَان‬. ‫ئ َما ن ََوى‬ ِ ‫ ِإنَّ َما اْأل َ ْع َما ُل ِبالنِيَّا‬: ‫عليه وسلم َيقُ ْو ُل‬
ٍ ‫ت َو ِإ َّن َما ِل ُك ِل ا ْم ِر‬
. ‫ُص ْيبُ َها أ َ ْو ا ْم َرأ َ ٍة َي ْن ِك ُح َها َف ِهجْ َرت ُهُ ِإلَى َما هَا َج َر ِإلَ ْي ِه‬
ِ ‫َت هِجْ َرتُهُ ِلد ُ ْن َيا ي‬ ُ ‫ِإلَى للاِ َو َر‬
ْ ‫ َو َم ْن كَان‬،‫س ْو ِل ِه‬
‫[رواه إماما المحدثين أبو عبد للا محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو‬
]‫الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‬
Arti Hadits / ‫ ترجمة الحديث‬:
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia
berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda : Sesungguhnya setiap
perbuatan]) tergantung niatnyA). Dan sesungguhnya setiap orang (akan
dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin
mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada
(keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang
dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan
bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Hadis Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin
Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim
bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya
yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)
Adapun dalam hadits Nabi, antara lain:

‫انمااألعمال بالنيات وانمالكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته الى للا ورسوله فهجرته الى للا‬
]11[‫ورسولهومن كانت هجرته للدنيايصيبهاال امرأة ينكحها فهجرته الى ما هجر اليه‬

"Setiap perbuatan itu bergantung kepada niat-niatnya dan bagi setiap


orang sesuai dengan niatnya. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-
Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa hijrahnya
karena mengharapkan kepentingan dunia, maka ia akan mendapatkannya
danbarangsiapa berhijrah karena wanita, maka ia akan menikahinya, maka

20
hijrahnya kepada yang diniatkannya (HR. Bukhari Muslim dari 'Umar Ibn al-
Ήaṭṭâb).
2. Asbab al- wurud hadis tentang niat
Rasulullah SAW mengeluarkan hadis diatas (asbab al-wurud)-nya adalah
untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa
hijrahnya rasulullah SAW. Dari mekkah ke madinah, yang diikuti oleh sebagian
besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut serta
berhijrah. Akan tetapi, niatnya bukan untuk kepentingan perjuangan islam
melainkan hendak menikah dengan seorang wanita yang bernama Ummu Qais.
Wanita itu rupanya telah bertekad akan turut hijrah, sedangkan laki-laki tersebut
pada mulanya memilih tinggal di Mekkah. Ummu Qais hanya bersedia dikawini
ditempat tujuan hijrahnya Rasulullah SAW. yakni Madinah, sehingga laki-laki
itupun ikut hijrah ke Madinah.
Ketika peristiwa itu ditanyakan kepada Rasulullah SAW,apakah hijrah
dengan motif itu diterima (maqbul) atau tidak, Rasullah SAW menjawab secara
umum seperti disebutkan pada hadis diatas1[2].
Dalam hadis ini Rasulullah SAW menegaskan secara khusus, bahwa tiap-tiap
perbuatan bergantung kepada dorongan hati (kesengajaan) pelakunya. Kemudian
beliau mengambil contoh berupa perbuatan (amal) hijrah.
Hijrah para sahabat dan Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah adalah atas
perintah Allah. Melakukan perintah Allah adalah ibadah. Tetapi kalau di dalam
melakukan perintah Allah itu maksudnya atau kesengajaannya untuk
mendapatkan keuntungan dunia atau materi, seperti istri, harta, pangkat,
kemasyuran, pujian dan lain-lain, maka perbuatan tersebut tidak akan mendapat
pahala dari Allah. Bahkan ia akan mendapatkan dosa, sebab Allah menyatakan
bahwa tiap-tiap orang dalam melakukan perintahnya harus bersikap ikhlas, bersih
dari pamrih keduniaan.
3. Penjelasan Hadis

21
Islam adalah agama yang tidak pernah mengajarkan adanya pekerjaan sia-
sia, sehingga tidak satu pekerjaan pun yang boleh dilakukan setengah hati. Setiap
pekerjaan harus diselesaikan secara serius dengan metodologi dan orientasi yang
jelas. Dalam islam , semua kerja (amal) memiliki nilai dan akan dicatat sebagai
ibadah dihadapan Allah.
Karena itu tidak ada pekerjaan yang dilakukan tanpa niat dan perencanaan
yang jelas. Niat dalam khazanah ilmu fiqh adalah disebut pemicu ruh dan inti
ibadah. Niat menjadi tolak ukur diterima tidaknya ibadah seorang hamba. Suatu
amal yang tidak didasari niat yang benar dianggap tidak bernilai. Sebab terdapat
dua kemungkinan bagi seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan. Pertama,
ada orang yang mengerjakan suatu pekerjaan tanpa tujuan, tanpa aturan
sebagaimana layaknya robot atau mesin. Kedua, ada yang melakukan suatu
perbuatan dengan penuh kesadaran dan memiliki tujuan yang jelas. Niatlah yang
akan mengantarkan seseorang agar memasuki kelompok kedua.
B. Arti dan makna niat dalam setiap pekerjaan (amal)
Niat atau niyyat, seperti yang dikutip dalam bukunya teungku hasbi as
shidieqy (mutiara hadis 1),menurt bahasa adalah tujuan hati dan kehendak hati.
Menurut syara ialah bergeraknya hati kearah sesuatu pekerjaan untuk mencapai
keridhaan allah dan untuk menyatakan tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.
Al baidhawy berkata: niat itu ialah bergeraknya hati untuk mengerjakan
sesuatu yang dipandang baik, untuk sesuatu maksud, baik untuk menarik sesuatu
manfaat ataupun untuk menolak sesuatu mudharat, dalam waktu yang cepat atau
dalam waktu yan akan datang. Syara menentukan niat dengan iradat (kehendak
hati) yang mengarah kepada pekerjaan untuk mencari keridhaan Allah dan untuk
menuruti perintahnya.
Pengertian niat dalam ensiklopedi hukum islam secara semantis berarti
maksud, keinginan kehendak, cita-cita, tekad dan menyengaja. Secara
terminologis ulama fiqh mendifinisikan dengan “tekad hati untuk melakukan
sesuatu perbuatan ibadah dalam rangka mendekatkan diri semata-mata kepada
Allah.

22
Hakikat Niat, Umar bin Khattab r.a. meriwayatkan, Rasulullah saw.
bersabda yang artinya, "Hanyasanya amal-amal itu tergantung pada niat. Dan,
seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa niat hijrahnya
kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya pun kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang
siapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan
dinikahinya, hijrahnya pun untuk apa yang ia niatkan." (HR Bukhari dan Muslim).
Imam Syafii berkata, "Hadis ini adalah sepertiga dari ilmu."

Kalimat "Hanyasanya amal-amal itu tergantung kepada niat" berarti baiknya amal
yang dikerjakan sesuai dengan sunah itu tergantung kepada kebaikan niatnya. Ini
seperti sabda beliau yang artinya, "Hanyasanya amal-amal itu tergantung kepada
akhirnya." Kalimat "Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan"
berarti pahala amal seseorang itu tergantung kepada kebaikan niatnya. Kalimat
"Barang siapa niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya pun kepada
Allah dan Rasul-Nya.
Barang siapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita
yang akan dinikahinya, hijrahnya pun untuk apa yang ia niatkan" sesudah
disebutkannya kaidah di atas adalah sebagai contoh dari amalan-amalan yang
memiliki kesamaan bentuk pelaksanaan tetapi berbeda dalam hal hasil.
Meskipun amal seorang hamaba itu tergantung dari niatnya, bukan berarti setiap
amalan yang memiliki niat baik itu pasti hasilnya baik. Niat yang baik akan
menghasilkan kebaikan hanya pada amalan kebaikan atau ketaatan atau yang
dibolehkan oleh syariat. Oleh karena itu, niat baik itu tidak mengubah
kemaksiatan dari hakikatnya.

Tidaklah pantas seorang jahil menafsirkan keumuman sabda Rasulullah saw. di


atas bahwa kemaksiatan itu berubah menjadi ketaatan atau kebaikan karena niat
yang baik. Sabda Rasulullah saw. itu hanya berlaku untuk ketaatan dan perkara-
perkara yang mubah (yang dibolehkan).
Faktor niat memang sangat penting. Ketaatan juga bisa berubah menjadi
kemaksiatan karena niat. Begitu juga perkara yang mubah, hal itu bisa berubah

23
menjadi kemaksiatan karena niat. Jadi, pada dasarnya, keabsahan suatu ketaatan
itu terikat kepada niat.
Demikian halnya dengan berlipatgandanya pahala dari suatu amal, ia
tergantung dari niatnya. Suatu amal, meskipun sepele, tetapi diniatkan dengan niat
yang baik dan tujuan-tujuan mulia, maka amal tersebut akan mendapatkan pahala
yang berlipat ganda. Perkara-perkara yang mubah sekalipun sesungguhnya secara
keseluruhannya mengandung satu niat atau lebih. Oleh karena itu, niat-niat yang
banyak itu bisa menjadi bentuk ketaatan yang bernilai tinggi serta terdapat pula
derajat yang tinggi. Inilah pentingnya seorang hamba itu mengerti tentang hakikat
niat. Semakin mengetahui tentang hal ini, seorang hamba akan semakin
beruntung. Dengan amal ibadah yang dilakukannya, ia selalu memiliki niat-niat
yang baik dan utama, sehingga dengannya ia bisa mencapai derajat-derajat yang
utama.
C. Fungsi dan peranan niat dalam setiap amal ibadah
Niat merupakan unsur yang sangat menentukan dalam keabsahan suatu amal
ibadah dan menentukan keabsahan suatu ibadah dan beberapa jenis muamalah.
Menurut istilahnya ialah kehendak hati untuk melakukan perbuatan tertentu untuk
mencari keridhaan Allah dan meleksanakan hukumnya. Yang dikatakan niat
menurut para fuqaha ialah sesuatu kehendak untuk melaksanakan sesuatu
perbuatan berbarengan dengan pelaksanaannya.
Yusuf Qardhawy menjelaskan dalam buku “Niat dan Ikhlas”, bahwa niat itu
merupakan amal hati secara murni, bukan amal lidah, maka dari itu tidak pernan
dikenal dari Rasulullah, dari sahabat dan orang-orang salaf yang mengikuti
mereka tentang adanya niat dalam ibadah yang dilafadzkan.
Disepakati bahwa tempat niat adalah dalam hati dan dilakukan pada
permulaan melakukan perbuatan untuk tujuan amal kebajikan. Niat berperan
penting dalam ajaran islam, khususnya perbuatan yang berdasarkan perintah
syara, atau menurut sebagian ulama,dalam perbuatan yang mengandung harapan
untuk mendapatkan pahala dari Allah. Niat akan menentukan nilai, kualitas serta
hasilnya, yakni pahala yang akan diperolehnya.

24
Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapat keuntungan dunia atau
ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah
SWT. Sebaliknya kalau orang hijrah karena ingin mendapat ridha Allah maka ia
akan mendapatkannya, bahkan keuntungan dunia pun akan diraihnya.
fungsi niat itu adalah:
(1) untuk membedakan antara 'ibâdah dan adat kebiasaan,
(2) untuk membedakan kualitas perbuatan, baik kebaikan ataupun kejahatan, dan
(3) untuk menentukan sah tidaknya suatu perbuatan ibadah tertentu serta
membedakan yang wajib dari yang sunnah
Agama islam mensyariatkan niat ada dua hikmah yang terkandung
didalamnya:
a) Untuk membedakan perbuatan-perbuatan yang semata-mata berdasarkan
kebiasaan dengan perbuatan-perbuatan ibadah.
b) Untuk membedakan martabat, nilai ibadah dari perbuatan yang dilakukan oleh
seseorang.
3. Pendapat para ulama mengenai hadis tentang niat
Menurut pendapat kebanyakan ulama pensyarah hadis, hadis ini member
pengertian \bahwasanya niat itu, adalah syarat syah segala amal yang dimasud
(maqashid). Dan mereka berselisih paham tentang mensyaratkan niat dalam
urusan 9wasa-il. (yang menjadi jalan bagi muqashid atau orang yang bermaksud).
Al-Ghazaly menetapkan, bahwasanya niat pada sesuatu amalan, adalah
syarat syahnya amal, niat yang diartikan menurut makna bahasa (qashad dan
iradat).
Menurut Ash-shidieqy hadis tersebut memberi suatu pengertian yang tegas
yaitu, segala amal bedasarkan motivasi dari seesorang, kalau motivasi karena
Allah, maka dipahalai. Kalau penggeraknya bukan karena Allah tidak dipahalai
dan mungkin diganjari dengan dosa.
Lebih lanjut ash-Shidieqy menjelaskan bahwa niat adalah ruh dan amal
neracanya. Sesungguhnya tidaklah terjadi sesuatu amal ikhtisyari yang
diqashadkan (yang disengajakan) melainkan dengan adanya niat. Maka yang

25
diperoleh oleh seorang amil dari amalannya adalah apa yang mendorongnya untuk
beramal, bukan lahiriah amalan.
Menurut Hasbi As-siddiq, niat itu tebagi menjadi tiga(3), yaitu :
1. Niat ibadah, yaitu menghinakan diri untuk tunduk secara sempurna, untuk
menyatakan ketundukan serta kehinaan.
2. Niat ta’at, yaitu melaksankan apa yang Allah kehendaki.
3. Niat qurbah, yaitu melaksanakan ibadah dengan maksud mendapat pahala.
Lafal niat dalam bahasa Arab digunakan untuk
Pertama, membedakan antara suatu amal dengan amal yang lain, antara
sesuatu ibadah dengan ibadah yang lain,
Kedua, membedakan antara niat seseorang dengan niat seseorang yang lain.
Al-imam Ibnu Katsir brkata, bahwa hadis nabi saw
ِ ‫إِنَّ َما اْأل َ ْع َما ُل بِالنِيَّا‬
‫ت‬
“sesungguhnya segala amal itu dengan niat”
Yang memberi pengertian bahwa amal yang dipandang disisi Allah,
hanyalah amal yang disertai niat, adalah karena tidak ada sesuatu yang
tersembunyi dari Allah, baik dibumi maupun dilangit. Dan bukanlah kenyataan
(rupa) amal yang berharga di sisi-Nya. Allah menghargai amal seseorang menurut
niat yang menggerakannya.
Hal- hal yang tidak memerlukan niat yaitu:
1. Sesuatu perbuatan yang sudah jelas-jelas ibadah, bukan adat, sehingga tidak
bercampur dengan yang lain. Dalam hal ini tidak diperlukan niat, seperti iman
kepada Allah, ma'rifat, ḣauf, raja', iqâmah, aźân, źikir, dan membaca Quran
kecuali apabila membacanya dalam rangka naźar;
2. Tidak diperlukan niat di dalam meninggalkan perbuatan, seperti meninggalkan
perbuatan zina dan perbuatan-perbuatan lain yang dilarang (harâm) karena dengan
tidak melakukan tersebut, maksudnya sudah tercapai;

3. Keluar dari shalat tidak diperlukan niat, karena niat diperlukan dalam melakukan
suatu perbuatan, bukan untuk meninggalkan suatu perbuatan
Intisari hokum dari hadis tentang niat

26
Adapun hokum-hukum yang dapat diambil dari materi hadis tentang niat
antara lain:
a) Para ulama mengambil dalil dengan hadis ini untuk melarang seseorang
mengerjakan sesuatu amal sebelum diketahui hokumnya yang pasti. Karena hadis
ini memberi pengertian bahwasanya sesuatu amal tidaklah dipandang ada (sah)
kalau kosong dari niat dan tidaklah dihukum sahnya niat kecuali sesudah
mengetahui hukumnya.
b) Para ulama mengambil dalil pula dengan hadis ini untuk menetapkan bahwa
orang yang ceroboh tidak ada taklif 9beban hukum) atasnya, karena sesuatu qasad
menghendaki supaya kita mengetahui yang kita maksudkan, sedang orang
ceroboh tidak berniat.
c) Para ulama mengambil dalil dengan mafhum hadis ini bahwa sesuatu yang
bukan amal tidaklah disyaratkan niat, seperti jamak taqdim (jamak shalat seperti
menjamak shalat zuhur dengan ashar diwaktu zhuhur).

Harus kita pahami bersama, bahwa kesempurnaan ketaatan kepada Allah


dan besarnya pahalanya mempunyai ikatan erat dengan niat. Pada hakekatnya,
seseorang yang ingin beramal kebaikan, hendaknya ia mengharapkan pahala dari
Allah –subhanahu wa ta’ala– semata. Maka, apabila seseorang meniatkan suatu
amalan, dia niatkan untuk Riya’, maka amalan tersebut akan berubah menjadi
sebuah kemaksiatan, padahal amalan tersebut dipandang sebagai amalan yang
terpuji.
Menurut Ibnu Rajab pada "Komentar hadits ke-40 Imam Nawawi: Hadits
#1", tindakan dinilai menurut niat, "Umar bin Khattabmeriwayatkan bahwa nabi
berkata, 'Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan
sesuai niatnya. Sejalan dengan itu, niat atau maksud seseorang adalah sangat
penting di antara sebuah tindakan dalam beribadah. Ada perdebatan mengenai
perlu atau tidaknya sebuah niat diucapkan. Kebanyakan ulama setuju bahwa niat
hanya dilakukan dalam hati atau membatinkan, dan tidak perlu diucapkan,
termasuk para ulama bermahzab Syafi'iyyah. Selain itu tidak ada bukti

27
bahwa Nabi Muhammad atau para sahabat pernah mengucapkan niat ketika
hendak salat atau ibadah lainnya.
Pendapat pertama
Di antarasekelompok muslim ada yang melafalkan niat adapula yang
tidak, dan menurut pendapat mayoritas ulama adalah tidak melafalkan. Kemudian
pendapat pertama ini diperkuat dengan hadits dari ‘Aisyah yang dinukilkan
oleh Imam Syafi'i dan dicatat oleh Imam Muslim,
bahwa Nabi Muhammad memulai salat dengan takbir. Abdullah bin Umar pun
mengatakan hal yang sama. Qadhi Abu Rabi’ As Syafi'i seorang pembesar
ulama bermahzab Syafi'i mengatakan, “Mengeraskan niat dan bacaan di belakang
imam bukanlah bagian dari sunnah. Bahkan ini adalah sesuatu yang dibenci, jika
ini mengganggu jamaah shalat yang lain maka hukumnya haram. Niat termasuk
perbuatan hati maka tempatnya adalah di dalam hati, bahkan semua perbuatan
yang hendak dilakukan oleh manusia, niatnya secara otomatis tertanam di dalam
hatinya. Menurut pendapat pertama ini adalah setiap ibadah seharusnya mengikuti
tuntunan dari Nabi Muhammad. Maka setiap ibadah yang diadakan secara baru
yang tidak pernah diajarkan atau dilakukan (bid'ah) oleh Nabi Muhammad maka
ibadah itu tertolak, walaupun pelakunya tadi seorang muslim yang niatnya ikhlas
karena Allah dalam beribadah (mukhlis).
Pendapat kedua
Pendapat kedua membolehkan adanya pelafalan niat dalam melaksanakan
salat baik wajib ataupun sunnah. Pendapat ini dari ulamamazhab Syafi'i yang
lainnya. Mereka menyatakan perlunya menyertakan pengucapan dalam niat shalat.
Ulama itu adalah Syaikh Salim bin Samir Al-Hadlrami dan Syaikh Abu Abdil
Mu’thi Muhammad Nawawi Al-Jawi, mereka berpendapat "...dan tempatnya niat
adalah hati dan pengucapan niat hukumnya sunah..." Sementara alasannya hanya
dengan penjelasan bahwa "Pengucapan niat dengan lisan untuk membantu
kemantapan hati".
Pendapat kedua memakai hadits dalil analogi (qiyas) ketika Nabi Muhammad
sedang melakukan ibadah haji
Menurut pendapat kedua niat memiliki aspek niat, di antaranya itu ada 3 hal:

28
1. Diyakini dalam hati;
2. Diucapkan dengan lisan (tidak perlu keras sehingga dapat mengganggu orang lain
atau bahkan menjadi ijma);
3. Dilakukan dengan amal perbuatan.
Jadi niat akan lebih kuat bila ke tiga aspek diatas dilakukan semuanya, sebagai
contoh saya berniat untuk salat, hatinya berniat untuk salat, lisannya
mengucapkan niat untuk salat dan tubuhnya melakukan amal salat. Demiikian
pula apabila kita mengimani segala sesuatu itu haruslah dengan hati yang yakin,
ucapan dan tindakan yang selaras.
Sesuai dengan akronim yang telah digagas oleh ketua Jurusan Fisika, Dr.
M. Agus Martawijaya melalui namanya sendiri yakni M berarti Minasa Patuju
yang bermakna Niat. A berarti Ada Patuju yang bermakna Tata Bahasa. G berarti
Gau Patuju yang bermakna Tingkah Laku. U berarti Uki Patuju yang bermakna
Tulisan. S berarti Sabbi yang bermakna Saksikan, dan M berarti Marennu yang
bermakna Penghargaan.

29
PERTEMUAN IV
PEMBELAJARAN DAN PENDIDIK

A. Hakekat Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan


sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan
pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Pembelajaran adalah wujud nyata dari pendidikan yang merupakan suatu


proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik serta sumber belajar pad
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan,
penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan
pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk
membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan


pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam
konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan
menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan
(aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif),
serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses
pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu
pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya
interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar


dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang
dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa
pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur

30
melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain
pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan
kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target
belajar.

B. Prinsip Pembelajaran
1. Perhatian dan Motivasi
Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang
dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan perhatian dan juga motivasi
untuk mempelajarinya. Apabila dalam diri siswa tidak ada perhatian
terhadap pelajaran yang dipelajari, maka siswa tersebut perlu dibangkitkan
perhatiannya. Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang
besar pengaruhnya, kalau peserta didik mempunyai perhatian yang besar
mengenai apa yang dipelajari peserta didik dapat menerima dan memilih
stimuli yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak
stimuli yang datang dari luar. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk
mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan; melihat masalah-masalah
yang akan diberikan; memilih dan memberikan fokus pada masalah yang
harus diselesaikan. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan
penting dalam kegiatan belajar.
Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat.
Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu
cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasi untuk
mempelajarinya. Misalnya, siswa yang menyukai pelajaran matematika
akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih
giat, karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap
positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya. Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong yang
menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya
tidaknya motivasi dalam diri peserta didik dapat diamati dari observasi

31
tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi, ia akan
bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa
ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar; berusaha keras
dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut;
Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.

2. Keaktifan

Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa
dilimpahkan pada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak
mengalami sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah
menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka
inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing
dan pengarah. Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa
yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak hanya
menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi. Menurut teori ini anak
memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak
mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah
diperolehnya.

3. Keterlibatan Langsung/Pengalaman

Belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah


mengalami dan tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Dalam belajar
melalui pengalaman langsung siswa tidak hanya mengamati, tetapi ia harus
menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab
terhadap hasilnya. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang
menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri.
Dalam konteks ini, siswa belajar sambil bekerja, karena dengan bekerja
mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengalaman serta dapat
mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat.
Sesungguhnya anak mempunyai kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba,
menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri.

32
Dengan demikian, segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan
pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja
sendiri, dengan fasilitas yang diciptakan sendiri. Pembelajaran itu akan lebih
bermakna jika siswa "mengalami sendiri apa yang dipelajarinya" bukan
"mengetahui" dari informasi yang disampaikan guru, sebagaimana yang
dikemukakan Nurhadi bahwa siswa akan belajar dngan baik apabila yang
mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta
proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di
sekolah. \

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori


psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada
pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat,
mengkhayal, merasakan, berfikir dan sebagainya. Dengan mengadakan
pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang, seperti halnya
pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya yang dilatih dengan
pengadaan pengulangan-pengulangan akan sempurna. Dalam proses belajar,
semakin sering materi pelajaran diulangi maka semakin ingat dan melekat
pelajaran itu dalam diri seseorang. Mengulang besar pengaruhnya dalam
belajar, karena dengan adanya pengulangan "bahan yang belum begitu
dikuasai serta mudah terlupakan" akan tetap tertanam dalam otak seseorang.
Mengulang dapat secara langsung sesudah membaca, tetapi juga bahkan
lebih penting adalah mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah
dipelajari misalnya dengan membuat ringkasan.

4. Balikan dan Penguatan

Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat


hasil yang baik. Apabila hasilnya baik akan menjadi balikan yang
menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun
dorongan belajar itu tidak saja dari penguatan yang menyenangkan tetapi
juga yang tidak menyenangkan, atau dengan kata lain adanya penguatan
positif maupun negatif dapat memperkuat belajar. Siswa yang belajar

33
sungguh-sungguh akan mendapat nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang
baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat
merupakan operan conditioning atau penguatan positif begitupun
sebaliknya.

5. Perbedaan Individual

Siswa merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-


masing mempunyai perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi,
minat bakat, hobi, tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam
hal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi dan keadaan orang tuanya.
Guru harus memahami perbedaan siswa secara individu, agar dapat
melayani pendidikan yang sesuai dengan perbedaannya itu. Siswa akan
berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

C. Syarat seorang pendidik


1. Mengetahui secara luas tentang pendidikan
2. Paham akan agama sebagai tolak ukur dari semua aspek
3. Filsafat dan Sosiologi sebagai ilmu interaksi sosial
4. Psikologi dan Antropologi
5. Ekologi dan Hukum sebagai aturan formal dalam pendidikan
6. Bidang studi yang menjurus ke satu pelajaran tertentu
Semua poin di atas merupakan satu kesatuan yang harus dibingkai
dengan nilai estetika (keindahan). Selain itu, kecakapan dan pengetahuan dasar
haruslah dimiliki oleh pendidik,
Mengacu pada ungkapan di atas bahwa pendidik adalah bukan asal
pandang saja, melainkan dia harus menyadari akan tugas dan tanggung jawab
yang berat. Dia harus berkompeten di bidangnya, dia harus memiliki
kecakapan dan pengetahuan dasar yang cukup dan sebagainya. Untuk itu
seorang pendidik harus memenuhi berbagai persyaratan baik persyaratan fisik,
psikis, mental, moral maupun intelektual yang terangkum dalam persyaratan
profesionalnya.

34
Pendidikan adalah proses manusia dewasa yang telah sadar akan
kemanusiaannya dalam membimbing, melatih dan menanamkan nilai-nilai dan
dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda yang nanti sadar akan
tugasnya sebagai manusia. Pendidikan juga merupakan penumbuhan
kecerdasan pengembangan karakter Pancasila. Di sisi lain, Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan
juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu
pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
Gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan :
1. Daya taqwa
2. Daya cipta
3. Daya karsa
4. Daya rasa
5. Daya karya
Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk
setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah
konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan
yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik.
Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik
peserta didik, kemampuan awal. Kompetensi yang harus diwujudkan dalam
kurikulum:
1. Kompetensi sikap keagamaan (spiritual), yakni menghargai dan menghayati
ajaran agama yang dianut. Contoh indikator:
a. Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu.
b. Menjalankan ibadah tepat waktu.
c. Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang
dianut.

35
d. Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;
e. Mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri
2. Kompetensi sikap sosial
a. Jujur adalah perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan
pekerjaan.
Contoh indikator:
1) Tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan
2) Tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya orang lain tanpa
menyebutkan
sumber)
3) Mengungkapkan perasaan apa adanya
b. Disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan. Contoh indikator:
1) Datang tepat waktu
2) Patuh pada tata tertib atau aturan bersama/ sekolah
3) Mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang
ditentukan
4) Mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar
c. Tanggungjawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang
Maha Esa. Contoh indikator:
1) Melaksanakan tugas individu dengan baik
2) Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan
3) Tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat
d. Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar
belakang, pandangan, dan keyakinan. Contoh indikator:
1) Tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat
2) Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan pendapatnya
3) Dapat menerima kekurangan orang lain

36
e. Gotong royong adalah bekerja bersama-sama dengan orang lain untuk
mencapai tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong menolong
secara ikhlas. Contoh indikator:
1) Terlibat aktif dalam bekerja bakti membersihkan kelas atau sekolah
2) Kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan
3) Bersedia membantu orang lain tanpa mengharap imbalan
4) Aktif dalam kerja kelompok
f. Sopan dan santun adalah sikap baik dalam pergaulan baik dalam berbahasa
maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif, artinya yang
dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa berbeda pada
tempat dan waktu yang lain. Contoh indikator:
1) Menghormati orang yang lebih tua.
2) Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur.
3) Tidak meludah di sembarang tempat.
g. Percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang yang
memberi keyakinan kuat untuk berbuat atau bertindak. Contoh indikator:
1) Berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu.
2) Mampu membuat keputusan dengan cepat
3) Tidak mudah putus asa

Pengetahuan Faktual berisi konvensi (kesepakatan) dari elemen-elemen


dasar berupa istilah atau simbol (notasi) dalam rangka memperlancar pembicaraan
dalam suatu bidang disiplin ilmu atau mata pelajaran (Anderson, L. & Krathwohl,
D. 2001). Pengetahuan faktual meliputi aspek-aspek pengetahuan istilah,
pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan
tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan sebagainya.
Sebagai contoh dari pengetahuan faktual adalah sebagai berikut:
1) pengetahuan tentang langit, bumi, dan matahari;
2) pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan pranata sosial;
3) pengetahuan tentang karya tulis ilmiah dalam bentuk buku dan jurnal;
4) pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta;

37
5) pengetahuan tentang matahari yang mengeluarkan sinar panas;
Pengetahuan Konseptual memuat ide (gagasan) dalam suatu disiplin ilmu
yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan sesuatu objek itu contoh
atau bukan contoh, juga mengelompokkan (mengkategorikan) berbagai
objek. Pengetahuan konseptual meliputi prinsip (kaidah), hukum, teorema, atau
rumus yang saling berkaitan dan terstruktur dengan baik(Anderson, L. &
Krathwohl, D. 2001). Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan klasifikasi
dan kategori, pengetahuan dasar dan umum, pengetahuan teori, model, dan
struktur. Contoh pengembangan konsep yang relevan misalnya sebagai berikut:
1) pengetahuan tentang teori evolusi dan rotasi bumi;
2) pengetahuan tentang macam-macam hubungan interaksi dan sistem sosial;
3) pengetahuan tentang struktur kalimat yang benar dan bagian-bagiannya;
4) pengetahuan tentang fungsi peta dalam geografi;
5) pengetahuan tentang hukum-hukum fisika dasar;
Pengetahuan Prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana urutan
langkah-langkah dalam melakukan sesuatu beserta proses bagaimana bias terjadi.
Pengetahuan prosedural meliputi pengetahuan dari umum kekhusus dan algoritma,
pengetahuan metode dan teknik khusus dan pengetahuan kriteria untuk
menentukan penggunaan prosedur yang tepat (Anderson, L. & Krathwohl, D.
2001). Contoh pengetahuan prosedural antara lain sebagai berikut:
1) pengetahuan tentang prosedur pemanfaatan panas matahari sebagai
sumber tenaga;
2) pengetahuan tentang prosedur pendirian organisasi sosial;
3) pengetahuan tentang mengartikan kata yang didasarkan pada analisis
struktur kalimat;
4) pengetahuan tentang langkah-langkah pembuatan gambar peta;
5) pengetahuan tentang langkah-langkah pengukuran tegangan listrik;
Kompetensi keterampilan. Penilaian pencapaian kompetensi keterampilan
merupakan penilaian yang dilakukan terhadap peserta didik untuk menilai sejauh
mana pencapaian SKL, KI, dan KD khusus dalam dimensi keterampilan. SKL
dimensi keterampilan untuk satuan pendidikan tingkat SMP/MTs/SMPLB/Paket

38
B adalah lulusan memiliki kualifikasi kemampuan pikir dan tindak yang efektif
dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain sejenis (Permendikbud 54 tahun 2013 tentang SKL).
SKL ini merupakan tagihan kompetensi minimal setelah peserta didik menempuh
pendidikan selama 3 tahun atau lebih dan dinyatakan lulus. Kelompok KD
(Kompetensi Dasar) keterampilan dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti
keterampilan (KI-4). Rumusan kompetensi dasar dikembangkan dengan
memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu
mata pelajaran. Ranah keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati,
menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Teknik dan bentuk
instrumen penilaian kompetensi keterampilan:

a. Teknik penilaian kompetensi keterampilan. Berdasarkan Permendikbud


nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian, pendidik menilai kompetensi
keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta
didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes
praktik, projek, dan penilaian portofolio.
1) Tes praktik
Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa
keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuaidengan
tuntutan kompetensi. Tes praktik dilakukan dengan mengamati kegiatan
peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian digunakan untuk
menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan
tugas tertentu seperti: praktik di laboratorium, praktik salat, praktik
olahraga, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca
puisi/deklamasi, dan sebagainya.
2) Projek
Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang
meliputikegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secaratertulis
maupun lisan dalam waktu tertentu. Penilaian projek merupakan kegiatan
penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode

39
atau waktu tertentu.Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari
perencanaan, pengumpulan, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian
data.Penilaian projek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman,
kemampuan mengaplikasikan, penyelidikan dan menginformasikan
peserta didik pada mata pelajaran dan indikator/topik tertentu secara
jelas. Pada penilaian projek, setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu
dipertimbangkan:
 kemampuan pengelolaan: kemampuan peserta didik dalam memilih
indikator/topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan
data serta penulisan laporan,
 relevansi, kesesuaian dengan mata pelajaran dan indikator/topik,
dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan dalam pembelajaran, dan
 keaslian: proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil
karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa
petunjuk dan dukungan terhadap projek peserta didik.
3) Penilaian portofolio
Penilaian Portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara
menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalambidang tertentu yang
bersifat reflektif-integratif untukmengetahui minat, perkembangan,
prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan
kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya. Penilaian portofolio
merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan
informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik
dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta
didik atau hasil ulangan dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik
oleh peserta didik. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan
dan dinilai oleh guru.Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru
dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta
didik dan terus melakukan perbaikan.

40
PERTEMUAN V
KEMAMPUAN, EVALUASI DAN APLIKASI
Pada hakikatnya aktivitas pendidikan selalu berlangsung dengan melibatkan
unsur subyek atau pihak-pihak sebagi aktor penting. Subyek penerima adalah
peserta didik sedangkan subyek pemberi adalah pendidik. Seseorang yang
menginginkan menjadi pendidik maka ia dipersyaratkan mempunyai kriteria yang
di inginkan oleh duni pendidikan. Orang yang merasa terpanggil untuk mendidik
maka ia mencintai peserta didiknya dan memiliki perasaan wajib dalam
melaksanakan tugasnya disertai dengan dedikasi yang tinggi atau
bertanggungjawab.
A. KEMAMPUAN
Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam
tugas dalam suatu pekerjaan dan menjadi sebuah penilaian terkini atas apa yang
dapat dilakukan seseorang. Dalam hal ini banyak para ahli mengartikan
kemampuan secara bervariasi akan tetapi pada dasarnya masih memiliki konteks
yang sama, yakni sebagai berikut:
Menurut Stephen P. Robins (2006,46) Kemampuan (ability) adalah kapasitas
individu untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu. Seluruh
kemampuan seorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua perangkat factor
yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Sedangkan menurut Mc
Shane dan Glinow dalam Buyung (2007:37) kemampuan adalah kecerdasan-
kecerdasan alami dan kapabilitas dipelajari yang diperlukan untuk menyelesaikan
suatu tugas. Kecerdasan adalah bakat alami yang membantu para karyawan
mempelajari tugas-tugas tertentu lebih cepat dan mengerjakannya lebih baik.
Soelaiman (2007:112) kemampuan adalah sifat yang dibawa lahir atau
dipelajari yang memungkinkan seseorang yang dapat menyelesaikan
pekerjaannya, baik secara mental ataupun fisik. Karyawan dalam suatu organisasi,
meskipun dimotivasi dengan baik, tetapi tdak semua memiliki kemampuan untuk
bekerja dengan baik. Kemampuan dan keterampilan memainkan peranan utama
dalam perilaku dan kinerja individu. Keterampilan adalah kecakapan

41
yangberhubungan dengan tugas yang di miliki dan dipergunakan oleh seseorang
padawaktu yang tepat.
Menurut Robert Kreitner (2005:185) yang dimaksud dengan kemampuan
adalah karakteristik stabil yang berkaitan dengan kemampuan maksimum phisik
mental seseorang.
Pada dasarnya kemampuan terdiri atas dua kelompok faktor, yaitu:
1. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk
melakukan maupun mengerjakan berbagai aktivitas mental-berpikir, menalar, dan
memecahkan masalah. Individu dalam sebagian besar masyarakat
menempatkan kecerdasan, dan untuk alasan yang tepat, pada nilai yang
tinggi. Individu yang cerdas juga lebih mungkin menjadi pemimpin dalam suatu
kelompok. Tujuh dimensi yang paling sering disebutkan yang membentuk
kemampuan intelektual adalah:
a. kecerdasan angka (kecerdasan matematis-logis) adalah kecerdasan yang
melibatkan keterampilan mengolah angka dengan baik dan atau kemahiran
menggunakan penalaran atau logika dengan benar. Kecerdasan ini meliputi
kepekaan pada hubungan logis, hubungan sebab akibat, dan logika-logika
lainnya. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis-logis ini antara
lain klasifikasi (penggolongan/pengelompokan), pengambilan kesimpulan dan
perhitungan.
b. pemahaman verbal adalah kemampuan membentuk ide-ide atau gagasan baru,
serta mengkombinasikan ide-ide tersebut kedalam sesuatu yang baru
berdasarkan informasi atau unsur-unsur yang sudah ada, yang mencerminkan
kelancaran, kelenturan, orisinalitas dalam berpikir divergen yang terungkap
secara verbal.
c. kecepatan persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih,
mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal.
Dengan kata lain persepsi adalah cara kita mengubah energi – energi fisik
lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna.
d. penalaran induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa
prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang

42
bersifat khusus. Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau
hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil
pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai
semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik
kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus
yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara
gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-
akibat.
e. penalaran deduktif merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-
pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat
khusus. Corak berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme
hipotesis, silogisme alternatif. Dalam penalaran ini tedapat premis, yaitu
proposisi tempat menarik kesimpulan. Untuk penarikan kesimpulannya dapat
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penarikan kesimpulan
secara langsung diambil dari satu premis,sedangkan untuk penarikan
kesimpulan tidak langsung dari dua premis.
f. visualisasi spasial merupakan kemampuan untuk memanipulasi gambaran dua-
dimensional dan tiga-dimensional secara mental. Biasanya diukur dengan tes
koginitif sederhana dan diprediksi dengan kemampuan pengguna dengan
beberapa pendekatan tata muka.
2. Kemampuan fisik adalah kemampuan tugas-tugas yang menuntut stamina,
keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa.Penelitian terhadap berbagai
persyaratan yang dibutuhkan dalam ratusan pekerjaan telah mengidentifikasi
sembilan kemampuan dasar yang tercakup dalam kinerja dari tugas-tugas
fisik. Setiap individu memiliki kemampuan dasar tersebut berbeda-beda.
B. EVALUASI
Evaluasi dapat diartikan sebagai sebagai suatu kegiatan yang terencana
untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan
hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu
kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan

43
untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan
keputusan.
Sesuai pendapat Grondlund dan Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi
pembelajran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan
menginterpretasi informasi secaras sistematik untuk menetapkan sejauh mana
ketercapaian tujuan pembelajaran. Untuk memeperoleh informasi yang tepat
dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran
merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan
atau gejala berdasarkan atura-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan
yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan
pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi. Evaluasi adalah proses
mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang
bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang
dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian
belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup
kegiatan pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi
pembelajaran dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif
dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan
atas evaluasi konteks, input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan
melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan
pelaporan. Adapun jenis evaluasi pembelajaran yakni sebagai berikut:
a. Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya
yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Tujuan
aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan
intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan
menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari
untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah

44
subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal
dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Ranah kognitif memiliki enam jenjang atau aspek, yaitu:
1) Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge) adalah kemampuan
seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali
tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan
kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah
merupakan proses berfikir yang paling rendah. Salah satu contoh hasil belajar
kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat menghafal kosa kata,
menerjemahkan dan menuliskannya secara baik dan benar, sebagai salah satu
materi pelajaran kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Bahasa
Inggris di sekolah.
2) Pemahaman (comprehension) kemampuan seseorang untuk mengerti atau
memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain,
memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari
berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia
dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal
itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang
kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini
misalnya: Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat
menguraikan tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-
‘Ashar secara lancar dan jelas.
3) Penerapan (application) adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau
menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip,
rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan
kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi
ketimbang pemahaman. Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang
penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan
konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik
dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

45
4) Analisis (analysis) kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan
suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu
memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu
dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi
ketimbang jenjang aplikasi. Contoh: Peserta didik dapat merenung dan
memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa
dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah
masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.
5) Sintesis (syntesis) kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses
berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-
bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola
yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis
kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu hasil
belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis
karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh
islam.
6) Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation) merupakan jenjang berpikir paling
tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini
merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap
suatu kondisi, nilai atau ide. Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang
evaluasi adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang manfaat
yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat
menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa
seseorang yang bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya
sampai pada kesimpulan penilaian, bahwa kwdisiplinan merupakan perintah
Allah SWT yang wajib dilaksanakan dalam sehari-hari.
b. Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan
perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi.

46
Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai
tingkah laku. Tujuan dilaksanakannya penilaian hasil relajar afektif ádalah untuk
mengetahui capaian hasil belajar dalam hal penguasaan domain afektif dari
kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh setiap peserta didik setelah kegiatan
pembelajaran berlangsung. Teknik pengukuran dan penilaian hasil belajar afektif
terdiri atas dua yakni teknik testing, yaitu penilaian yang menggunakan tes
sebagai alat ukurnya, dan teknik non- testing, yaitu teknik penilaian yang
menggunakan bukan tes sebagai alat ukurnya. Ranah afektif menjadi lebih rinci
lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
a. Receiving atau attending (menerima atua memperhatikan) adalah kepekaan
seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada
dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam
jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima
stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang
datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai
kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang
ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai
yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri kedalam
nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil belajar
afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di
tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh.
b. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi
kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang
untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan
membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada
jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta
didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih
dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.
c. Valuing (menilai atau menghargai) artinya mem-berikan nilai atau memberikan
penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu
tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing

47
adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan
responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini
tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah
berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk.
Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk
mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah
menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam
dirinya.
d. Organization (mengatur atau mengorganisasikan) artinya memper-temukan
perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa
pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan
pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya
hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai yang
telah dimilikinya.
e. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai
atau komplek nilai) yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki
oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu
hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah
mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi,
karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki
phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah
memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu
waktu yang lama, sehingga membentu karakteristik “pola hidup” tingkah
lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.
c. Psikomotorik
Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan
(skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar
tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil
belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru
tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah

48
psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat,
melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1)
pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses
pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu
dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan,
keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan
kelak dalam lingkungan kerjanya.
C. APLIKASI
Banyak orang yang beranggapan bahwa Fisika hanya sekedar ilmu biasa yang
hanya mempelajari ilmu alam tanpa ada penerapannya. Terutama masih banyak
orang yang beranggapan bahwa Fisika hanya mempelajari rumus. Dan tak sedikit
yang tidak menyadari bahwa banyak peristiwa bahkan hal-hal yang sangat dekat
dengan kita melibatkan ilmu Fisika. Bahkan Fisika merupakan ilmu dasar yang
sangat dibutuhkan oleh cabang ilmu-ilmu lain. Mengapa Fisika sangat penting
dalam kehidupan kita? Tentu karena banyak peristiwa dalam kehidupan kita yang
melibatkan ilmu Fisika baik kita sadari maupun tan.pa kita sadari. Semakin kita
memahami Fisika kita akan mengetahui bahwa Fisika mempunyai cakupan yang
luas. Berikut adalah contoh aplikasi ilmu Fisika dalam kehidupan sehari-hari.
1. Gerak Lurus Beraturan
Gerak Lurus Beraturan (GLB) merupakan gerak yang memiliki kecepatan
yang konstan. Walaupun GLB sulitditemukan dalam kehidupan sehari-hari,
karena biasanya kecepatan gerak benda selalu berubah-ubah. Misalnya ketika
mengendarai sepeda motor atau mobil, laju mobil pasti selalu berubah-ubah.
Ketika ada kendaraan di depan, pasti kecepatan kendaraan akan segera
dikurangi. Hal ini agar kita tidak tabrakan dengan pengendara lain, terutama
jika kondisi jalan yang ramai. Lain lagi jika kondisi jalan yang tikungan dan
rusak.
2. Hukum Newton

49
Hukum 1 newton : sebuah benda selalu mempertahankan kedudukannya.
Contoh : jika kita dalam sebuah mobil dan mobil tersebut tiba-tiba maju badan
kita juga ikut terdorong ke belakang.
Hukum 2 newton : apabila kita berada dalam lift
Hukum 3 newton : ini merupakan gaya aksi = reaksi. Contoh : saat kita
menekan papan tulis (aksi) maka papan tulis memberikan reaksi, bila aksi lebih
besar dari pada reaksi maka papan tulis akan rusak dan sebaliknya.
3. Gerak Lurus Berubah Beraturan
GLBB merupakan gerak lurus berubah beraturan. Berubah beraturan
maksudnya kecepatan gerak benda bertambah secara teratur atau berkurang
secara teratur. Perubahan kecepatan tersebut dinamakan percepatan. Secara
awam sangat r menemukan benda yang melakukan gerak lurus berubah
beraturan. Pada kasus kendaraan beroda misalnya, ketika mulai bergerak dari
keadaan diam, pengendara biasanya menekan pedal gas (mobil dkk) atau
menarik pedal gas (motor dkk). Pedal gas tersebut biasanya tidak ditekan
atau ditarik dengan teratur sehingga walaupun kendaraan kelihatannya mulai
bergerak dengan percepatan tertentu, besar percepatannya tidak tetap alias
selalu berubah-ubah.
Contoh GLBB yang selalu kita jumpai dalam kehidupan hanya gerak jatuh
bebas. Pada gerak umit menemukan aplikasi GLBB dalam kehidupan sehari-
hari.jatuh bebas, yang bekerja hanya percepatan gravitasi dan besar percepatan
gravitasi bernilai tetap. Tapi dengan penerapa ilmu fisika, GLBB dapat
ditemukan dalam kegiatan kita sehari-hari. Contohnya buah mangga yang lezat
atau buah kelapa yang jatuh dari pohonnya.Jika kita pernah jatuh dari atap
rumah tanpa sadar kita juga melakukan GLBB.
4. Gelombang Elektromagnetik
Saat ini hampir semua orang memiliki peralatan yang satu ini. Dia begitu kecil
yang bisa dengan nyaman diletakkan di dalam saku, namun dianggap memiliki
fungsi yang sangat besar terutama untuk berkomunikasi. Benda itu adalah
sebuah ponsel (telepon seluler). Saat ini ponsel tidak hanya digunakan untuk
menelpon saja tetapi juga untuk fungsi lain seperti mengirim dan menerima

50
pesan singkat (sms), mendengarkan musik, atau mengambil foto. Bagaimana
perangkat ponsel dapat terhubung dengan perangkat ponsel yang lain padahal
mereka saling berjauhan? Konsep yang bisa menjelaskan fenomena ini adalah
konsep gelombang elektromagnetik. Konsep gelombang elektromagnetik
ternyata sangat luas tidak hanya berkaitan dengan TV atau ponsel saja,
melainkan banyak aplikasi lain yang bisa sering kita temukan sehari-hari di
sekitar kita. Aplikasi tersebut meliputi microwave, radio, radar, atau sinar-x.
Selain itu karya Röntgen yang mengantarkan dirinya mendapatkan hadiah
nobel fisika pada 1901 ini akan menjadi sebuah alat yang sangat berguna sekali
dalam kedokteran. Sinar-X itulah sebuah fenomena yang ditemukan oleh
Roentgen pada laboratoriumnya. Sebuah fenomena yang kemudian menjadi
awal pencitraan medis (medical imaging) pertama, tangan kiri istrinya menjadi
uji coba eksperimen penemuan ini. Inilah menjadi titik awal penggunaan
pencitraan medis untuk mengetahui struktur jaringan manusia tanpa melalui
pembedahan terlebih dahulu. Penemuan ini juga menjadi titik awal
perkembangan fisika medis di dunia, yang menkonsentrasikan aplikasi ilmu
Fisika dalam bidang kedokteran.
5. Energi (Nuklir)
Teknologi dan teknik penggunaan nuklir dapat memberikan manfaat dan
kontribusi yang besar untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Misalnya, nuklir dapat digunakan di bidang pertanian, seperti pemuliaan
tanaman Sorgum dan Gandum dengan melalui metode induksi mutasi dengan
sinar Gamma. Di bidang kedokteran, teknik nuklir memberikan kontribusi
yang tidak kalah besar, yaitu, terapi three dimensional conformal radiotherapy
(3D-CRT), yang dapat mengembangkan metode pembedahan dengan
menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya. Dengan teknik ini,
kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah
konvensional menjadi dapat diatasi, bahkan tanpa merusak jaringan lainnya. Di
bidang energi, nuklir dapat berperan sebagai penghasil energi Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). PLTN dapat menghasilkan energi yang lebih
besar dibandingkan pembangkit.

51
PERTEMUAN VI
KETERAMPILAN PROSES

A. Pendidikan Fisika

Para ahli Fisika atau yang sering disebut sebagai Fisikawan mempelajari
perilaku dan sifat dari benda yang mana dalam Fisika lebih dikenal dengan
sebutan materi (anorganik/benda tak hidup) dalam bidang yang sangat beragam
dan luas. Fisika mempelajari materi dari tingkat mikroskopis yang menyusun
segala sesuatu (Fisika partikel) sampai tingkat makroskopis bahkan sampai
alam semesta sebagai kesatuan kosmos (astro Fisika). Fisika mempelajari
beberapa sifat yang sebenarnya telah ada dalam suatu benda seperti energi,
massa, jumlah zat, dan lain-lain. Karena cakupannya yang luas, penelitian
dalam Fisika menjadi pelajaran dalam bidang kajian ilmu yang
lain. Keterkaitan ilmu Fisika dengan bidang ilmu pengetahuan yang lain dapat
terjadi secara langsung maupun tidak langsung.

Kita dapat memaknai pendidikan Fisika dari uraian di atas bahwa,


pendidikan Fisika adalah sebuah pengajaran ilmu Fisika yang mengajarkan
manusia untuk survive untuk hidup di alam dan mendapatkan kehidupan yang
lebih baik serta mengajarkan manusia untuk belajar dari alam sebagai hikmah
untuk bersikap kepada alam itu sendiri baik hewan, tumbuhan dan lingkungan,
sesama manusia dan kepada sang pencipta. Oleh karena itu, secara ideologis
pendidikan Fisika mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan.
Seperti yang kita ketahui, peranan Fisika dalam bidang teknologi sangat besar.
Dalam bidang komunikasi, gelombang elektromagnetik yang memungkinkan
untuk terciptanya telegram, telepon, handphone dan sekarang handphone
dengan kemampuan mirip dengan computer. Pendidikan Fisika haruslah
menjadi suatu bagian yang mengajarkan seseorang untuk dapat menggunakan
teknologi tersebut untuk keperluan yang bermanfaat.

Pendidikan Fisika memiliki makna dari gabungan dua kata


tersebut. Oleh karena itu, pendidikan Fisika dapat diartikan sebagai suatu

52
bentuk pembelajaran untuk memahami alam anorganik Physic dan
menggunakan ilmu yang telah dipelajari dalam kaitannya dengan perilaku
individu. Fisika mengajarkan kepada seorang individu untuk mendapatkan
beberapa keterampilan Fisika seperti keterampilan sikap ilmiah dan
keterampilan berpikir. Secara tidak langsung Fisika mengajarkan kepada
seseorang untuk dapat bertahan di alam dengan segala fenomenanya bahkan
dapat hidup dengan lebih baik dengan teknologi-teknologi yang
dikembangkan. Pendidikan mengajarkan kepada seseorang bagaimana dia
bersikap kepada alam baik hewan dan tumbuhan, sesama manusia, dan kepada
sang pencipta. Pendidikan Fisika dapat dikatakan mengajarkan keduanya yaitu
bagaimana seorang individu dapat survive hidup di alam dan berperilaku
dengan bijak.

Sebagai seorang pendidik, ada banyak sekali model yang dapat


digunakan dalam metode pembelajaran, salah satunya yaitu model
pembelajaran 5M. model pembelajaran 5M meliputi berbagai cara yang
digunakan dalam proses pembelajaran, seperti mengamati, menanya, menalar,
mencoba, mencoba.

Model pembelajaran 5M menjadikan siswa atau pserta didik mandiri.


Model pembelajaran 5 M, yaitu meliputi :

1. Mengamati

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran


(meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti
menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang,
dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka
pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan
matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan
mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran. Kegiatan mengamati dalam
pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut
ini.

53
a) Menentukan objek apa yang akan diobservasi.
b) Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan
diobservasi.
c) Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik
primer maupun sekunder.
d) Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi.
e) Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk
mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.
f) Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi ,
seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video
perekam, dan alat-alat tulis lainnya. Kegiatan observasi dalam proses
pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung.

2. Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk


meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia
membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika
guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong
asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Kegiatan
menanya dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-
langkah seperti berikut ini.
a) Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik
tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
b) Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta
mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.

3. Menalar

Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-
kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa
pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski
penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Kesiapan diidentifikasi

54
berkaitan langsung dengan motivasi peserta didik. Kesiapan itu harus ada
pada diri guru dan peserta didik. Guru harus benar-benar siap mengajar dan
peserta didik benar-benar siap menerima pelajaran dari gurunya. Sejalan
dengan itu, segala sumber daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara
baik dan saksama.
1. Metode menalar induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir
dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang
disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis
yang belum diteliti.
2. Metode menalar deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-
hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam
bagian-bagiannya yang khusus.
4. Mencoba

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik
harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau
substansi yang sesuai.
5. Menyajikan
Menyajikan data yang telah di kelompokan atau yang telah di proleh
untuk di diskusikan dengan siswa yang lain. Kegiatan menyajikan dalam
pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut
ini.
1. Mempersiapkan dulu bahan yang akan di sajikan.
2. Menyususn rencana untuk menyajikan.
3. Membuat rencana penyajian
4. Merangkum hasil.
Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali
melalui peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu
bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat
penting artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan
hidup di masa depan. Manusia yang dapat bergumul dalam masa dimana dunia
semakin sengit tingkat kompetensinya adalah manusia yang berkualitas. Manusia

55
demikianlah yang diharapkan dapat bersama-sama manusia yang lain turut
bepartisipasi dalam percaturan dunia yang senantiasa berubah dan penuh teka-
teki (Isjoni, 2008:vii).

Berangkat dari pemikiran tersebut, Persarikatan Bangsa-Bangsa (PBB)


melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural
Organization)mencanangkan empat pilar pendidikan, yakni: (1) Learning to know,
(2) Learning to do, (3) Learning to live together, dan (4) Learning to be.

MAKNA EMPAT PILAR PENDIDIKAN MENURUT UNESCO

1. Learning to Know (Belajar Untuk Menguasai)


Tidak hanya memperoleh pengetahuan tapi juga menguasai teknik
memperoleh pengetahuan tersebut. Pilar ini berpotensi besar untuk mencetak
generasi muda yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang
tinggi.
Secara implisit, learning to know bermakna belajar sepanjang hayat(Life
long education). Asas belajar sepanjang hayat bertitik tolak atas keyakinan
bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup, baik
didalam maupun diluar sekolah. Sehubungan dengan asas pendidikan seumur
hidup berlangsung seumur hidup, maka peranan subjek manusia untuk
mendidik dan mengembangkan diri sendiri secara wajar merupakan
kewajiban kodrati manusia.
Dengan kebijakan tanpa batas umur dan batas waktu untuk belajar, maka
kita mendorong supaya tiap pribadi sebagai subjek yang bertanggung jawab
atas pedidikan diri sendiri menyadari, bahwa:

1) Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak dalam


kandungan hingga manusia meninggal.

2) Bahwa untuk belajar, tiada batas waktu. Artinya tidak ada kata
terlambat atau terlalu dini untuk belajar.

56
3) Belajar/ mendidik diri sendiri adalah proses alamiah sebagai bagian
integral/ totalitas kehidupan (Burhannudin Salam, 1997:207).

Menurut Isjoni (2008:47), guru adalah orang yang identik dengan


pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab membentuk karakter generasi
bangsa. Di tangan gurulah tunas-tunas bangsa ini terbentuk sikap dan
moralitasnya, sehingga mampu memberikan yang terbaik untuk anak negeri
ini di masa yang akan datang.

Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan


kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru
harus memikirkan dan membuat perencanaan secara saksama dalam
meningkatkan kemampuan belajar bagi siswanya, dan memperbaiki kualitas
mengajarnya. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam
pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar-
mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses
belajar-mengajar.

Guru bisa dikatakan unggul dan profesional bila mampu


mengembangkan kompetensi individunya dan tidak banyak bergantung pada
orang lain. Konsep learning to know ini menyiratkan makna bahwa pendidik
harus mampu berperan sebagai berikut:

a. Guru berperan sebagai sumber belajar


Peran ini berkaitan penting dengan penguasaan materi pembelajaran.
Dikatakan guru yang baik apabila ia dapat menguasai materi pembelajaran
dengan baik, sehingga benar-benar berperan sebagi sumber belajar bagi
anak didiknya.
b. Guru sebagai Fasilitator
Guru berperan memberikan pelayanan memudahkan siswa dalam kegiatan
proses pembelajaran.
c. Guru sebagai pengelola

57
Guru berperan menciptakan iklim blajar yang memungkinkan siswa dapat
belajar secara nyaman. Prinsip-prinsip belajar yang harus diperhatikan
guru dalam pengelolaan pembelajaran, yaitu:

a) Sesuatu yang dipelajari siswa, maka siswa harus mempelajarinya


sendiri.

b) Setiap siswa yang belajar memiliki kecepatan masing-masing.

c) Siswa akan belajar lebih banyak, apabila setiap selesai melaksanakan


tahapan kegiatan diberikan reinforcement.

d) Penguasaan secara penuh.

e) Siswa yang diberi tanggung jawab, maka ia akan lebih termotivasi


untuk belajar.

d. Guru sebagai demonstrator

Guru berperan untuk menunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang


dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang
disampaikan.

e. Guru sebagai pembimbing


Siswa adalah individu yang unik. Keunikan itu bisa dilihat dari adanya
setiap perbedaan. Perbedaan inilah yang menuntut guru harus berperan
sebagai pembimbing.

f. Guru sebagai mediator

Guru selain dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang media


pendidikan juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan
media dengan baik.

g. Guru sebagai Evaluator

58
Yakni sebagai penilai hasil pembelajaran siswa. Dengan penilaian
tersebut, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan,
penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan/ keefektifan metode
mengajar (Fakhruddin, 2010:49-61).

2. Learning to Do (Belajar Untuk Menerapkan)


Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi
lebih jauh untuk terampil berbuat/ mengerjakan sesuatu sehingga
menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Sasaran dari pilar
kedua ini adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan
memasuki ekonomi industry (Soedijarto, 2010). Dalam masyarakat industri
tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan keterampilan motorik yang
kaku melainkan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan
seperti “controlling, monitoring, designing, organizing”. Peserta didik
diajarkan untuk melakukan sesuatu dalam situasi konkrit yang tidak hanya
terbatas pada penguasaan ketrampilan yang mekanitis melainkan juga
terampil dalam berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, mengelola
dan mengatasi suatu konflik. Melalui pilar kedua ini, dimungkinkan mampu
mencetak generasi muda yang intelligent dalam bekerja dan mempunyai
kemampuan untuk berinovasi.
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar hendaknya memfasilitasi
siswanya untuk mengaktualisasikan ketrampilan yang dimiliki, serta bakat
dan minatnya agar “Learning to do” dapat terealisasi. Secara umum, bakat
adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang. Sedangkan minat adalah
kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu. Meskipun bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun
tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada
lingkungan . Lingkungan disini dibagi menjadi dua yaitu:
1) Lingkungan sosial

59
Yang termasuk dalam lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan
tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa
tersebut. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan
belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri.
2) Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah
dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-
alat belajar, dan keadaan cuaca. Faktor-faktor ini dipandang turut
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa (Muhibbin
Syah, 2004:138).
Sekolah juga berperan penting dalam menyadarkan peserta didik bahwa
berbuat sesuatu begitu penting. Oleh karena itulah peserta didik mesti terlibat
aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Tujuannya adalah agar
peserta didik terbiasa bertanggung jawab, sehingga pada akhirnya, peserta
didik terlatih untuk memecahkan masalah.
3. Learning to Live Together (Belajar Untuk Dapat Hidup Bersama)
Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah
dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antar manusia
yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. Di zaman yang semakin
kompleks ini, berbagai konflik makin merebak seperti konflik nasionalis, ras
dan konflik antar agama. Apapun penyebabnya, semua konflik itu didasari
oleh ketidakmampuan beberapa individu atau kelompok untuk menerima
suatu perbedaan. Pendidikan dituntut untuk tidak hanya membekali generasi
muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan
masalah, melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain
yang berbeda dengan penuh toleransi, danpengertian.
Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk memberikan
pengetahuan dan kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi
dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Itulah sebabnya Learning to
live together menjadi pilar belajar yang penting untuk menanamkan jiwa
perdamaian. Peserta didik diajarkan untuk melakukan sesuatu dalam situasi

60
konkrit yang tidak hanya terbatas pada penguasaan ketrampilan yang
mekanitis melainkan juga terampil dalam berkomunikasi, bekerjasama
dengan orang lain, mengelola dan mengatasi suatu konflik. Melalui pilar
kedua ini
4. Learning to Be (Belajar Untuk Menjadi)
Tiga pilar pertama ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu
mencari informasi dan/ menemukan ilmu pengetahuan, yang mampu
melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah, dan mampu bekerjasama,
bertenggang rasa, dan toleran terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil
dengan memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada
masing-masing peserta didik.
Konsep Learning To Be perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk
melatih siswa agar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan
merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam
masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian
dari proses menjadi diri sendiri (learning to be) (Atika, 2010). Menjadi diri
sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri.
Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di
masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan
proses pencapain aktualisasi diri. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
pendidikan menurut Djamal (2007:101) yaitu:

1) Motivasi yaitu kondisi fisiologi dan psikologis yang terdapat dalam diri
seseorang yang mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu guna
mencapai suatu tujuan/ kebutuhan.
2) Sikap yaitu suatu kesiapan mental atau emosional dalam berbagai jenis
tindakan pada situasi yang tepat.
3) Minat
4) Kebiasaan belajar
Berbagai hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil belajar
mempunyai kolerasi positif dengan kebiasaan atau study habit. Kebiasan

61
merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara
berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat
otomatis.
5) Konsep diri
Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri
yang menyangkut perasaannya, serta bagaimana perilakunya tersebut
berpengaruh terhadap orang lain. Makna pilar ke empat ini adalah muara
akhir dari tiga pilar pendidikan diatas. Dengan pilar ini , peserta didik
berpotensi menjadi generasi baru yang berkepribadian mantap dan
mandiri (Aezacan, 2011).
Keterampilan-keterampilan Proses Sains adalah keterampilan-
keterampilan yang dipelajari siswa pada saat mereka melakukan inquiri ilmiah.
Pada saat mereka terlibat aktif dalam penyelidikan ilmiah, mereka menggunakan
berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal.
Keterampilan-keterampilan proses sains dikembangkan bersama-sama dengan
fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip sains. Menurut Nur (Khaeruddin
dan Sujiono Eko Hadi, 2005 : 34) keterampilan proses tersebut adalah
pengamatan (observasi), pengklasifikasian, penginferensian, peramalan,
pengkomunikasian, pengukuran, penggunaan bilangan, penginterpretasian data,
melakukan eksperimen, pengontrolan variabel, perumusan hipotesis, dan
pendefenisian secara operasional.

62
PERTEMUAN VII
STRUKTUR PEMBELAJARAN

Pemahaman terhadap sistem juga bermanfaat untuk merancang atau


merencanakan sustu proses pembelajaran. Perencanaan sendiri adalah merupakan
proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan
(Ely (1979) dalam Sanjaya (2008). Proses perencanaan pembelajaran yang
sistematis memiliki beberapa keuntungan antara lain : Melalui sistem
pembelajaran yang matang guru akan terhindar dari keberhasilan secara untung-
untungan.
Melalui sistem pembelajaran yang sistematis, setiap guru dapat menggambarkan
berbagai hambatan yang mungkin akan dihadapi sehingga dapat menentukan
berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Melalui sistem pembelajaran, guru dapat menentukan berbagai langkah dalam
memanfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk ketercapaian.
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling
berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan
secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Sistem memiliki
karakteristik yakni setiap sistem pasti memiliki suatu tujuan dan sistem selalu
mengandung suatu proses. Sistem bukan hanya merupakan cara, tetapi ia
mencakup keterlibatan seluruh komponen-komponen pembentuknya, yang
diarahkan untuk mencapai tujuan. Suatu sistem memiliki ukuran dan batas relatif.
Dapat terjadi suatu sistem tertentu pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu
sistem yang lebih luas.
Pembelajaran yang dilaksanakan seorang pendidik, pada dasarnya adalah
sebuah sistem, karena pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bertujuan, yaitu
kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Proses pembelajaran merupakan
rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai berbagai komponen.Hal ini perlu
dipahami, karena melalui pemahaman terhadap sistem pembelajaran, minimal
guru akan memahami tentang tujuan pembelajaran atau hasil yang diharapkan,
proses kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan, pemanfaatn setiap kmponen

63
dalam proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana
mengetahui keberhasilan pencapaian tersebut.
Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih
objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini
penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada
sebab akibat. Sedangkan interaksi dalam proses pembelajaran adalah hubungan
timbal balik atau komunikasi baik melalui lisan, simbol maupun fisik antara
pendidik dan peserta didik yang melibatkan sumber belajar.
Interaksi dalam sistem pembelajaran akan menciptakan struktur
pembelajaran yang mampu diterima oleh peserta didik. Struktur pembelajaran
terbagi tiga, yakni :
1. Pembelajaran Kompetitif. Pada struktur pembelajaran kompetitif
penekanannya pada kompetisi. Dalam pembelajaran seperti ini pasti akan ada
yang menang dan yang kalah. Ini membuat berkotak-kotak dan menimbulkan
persaingan tidak sehat. Jadi rasa kesetiakawanan-persaudaraan menipis karena
dalam hal ini semua berpacu untuk menang. Namun dalam mengukur
kemampuan cara ini akan lebih baik karena mengeluarkan seluruh kemampuan
yang ada -baik dalam berkompetisi berupa lomba dan olimpiade.
2. Pembelajaran Mandiri dengan Modul. Dalam struktur pembelajaran mandiri
dengan modul, anak dituntut untuk maju sesuai dengan kemampuan. Karena
sesuai azaz pembelajaran ini yaitu, ‘MAJU SEARAH’. Anak terpacu belajar
sendiri, namun kelemahannya terdapat pada anak yang kurang mampu atau
pun kurang motivasi. Misalnya sulit memahami modul. Jangankan anak-anak,
orang dewasa saja kadang merasa kesulitan dalam memahami modul. Salah
satu faktor lain yang membuat pembelajaran mandiri dengan modul ini tidak
berjalan dengan baik adalah ketika pengguna modul punya kendala atau punya
kekeliruan dalam memahami isi modul, kepada siapa mereka akan meminta
penjelasan. Dalam hal ini menjadi tugas penulis modul untuk membuat modul
yang efektif meski tidak mudah menulis modul yang efektif tersebut. Namun
tetap, pembelajaran ini sama dengan kompetitif karena bagaimananya kondisi
belajar tidak bisa dikontrol.

64
3. Pembelajaran Kooperatif. Dari dua struktur pembelajaran di atas, muncullah
pembelajaran kooperatif. Dimana dalam pembelajaran ini, orang belajar dalam
kelompok kecil yang heterogen. Ada lima unsur pembelajaran kooperatif;
 bergantung positif
 tanggung jawab
 komunikasi antar kelompok
 tatap muka
 evaluasi

Dalam struktur pembelajaran, terdapat tujuan belajar yang berarti


tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti
kegiatan pembelajaran Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau
deskripsi yang spesifik. Tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk
tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran
seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan). Upaya merumuskan tujuan
pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa.
Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari
tujuan pembelajaran, yaitu:

1. Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar


mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan
belajarnya secara lebih mandiri;
2. Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
3. Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media
pembelajaran;
4. Memudahkan guru mengadakan penilaian.

Dalam pendekatan masalah khusus dalam pembelajaran atau sering di


kenal dengan istilah SME, mendeskripsikan bahwa pendekatan ini akan
menciptakan pembelajaran yang spesifik sesuai dengan bidangnya. Pendekatan ini
lebih mempertimbangkan apa yang harus dipelajari tentang materi tersebut. Tidak
bisa dipungkiri bahwa identifikasi tujuan pembelajaran melalui pendekatan

65
masalah khusus dalam pembelajaran, mengandung makna sebagai pengetahuan
dan pengertian berdasarkan informasi yang diterima.

Pendekatan berikutnya yaitu pendekatan penguraian isi pembelajaran.


Pendekatan ini lebih menetapkan berdasarkan fakta-fakta dari masalah yang di
tampilkan, tapi sebuah asumsi menyatakan bahwa frekuensi akan mempengaruhi
masalah seperti siswa yang berada dalam kelas unggul tetapi tidak belajar dengan
tipe yang benar atau yidak sesuia dengan isi pembelajaran. Pendekatan ini sering
terjadi jika ”tipe yang benar dan sesuai dengan isi pembelajaran” sesuai denga isi
standar kurikulum dan bagan kerja, perangkat pembelajaran, pelatihan manual,
dan lain sebagainya. Masalah pada pendekatan ini, harus sesuai dengan standar isi
dimana tidak banyak yang sesuai atau tidak ada jalan keluar yang cukup mampu
untuk organisasi atau kebutuhan sosial.

Tujuan khusus melalui pendekatan tugas akan valid jika melalui


perencanaan yang tepat dan melalui latihan dengan petugas yang ahli dalam
pelatihan tersebut atau jika pendesain pembelajaran dapat melatih pemahaman dan
kecakapan untuk mengkonfirmasi atau mengubah tujuan pembelajaran setelah
menemukan fakta. Pendekatan yang keempat yaitu pendekatan pada teknologi
penampilan, dimana dalam tujuan pembelajaran disusun dalam menanggapi
masalah atau kesempatan dalam sebuah struktur. Tidak ada pertimbangan atas
gagasan sebelumnya dari apa yang harus dipelajari dari apa yang akan termasuk
dalam tujuan pembelajaran atau dalam kenyataan adanya kebutuhan untuk semua
pembelajaran. Pendesain terlibat dalam analisis pelaksanaan dan proses asesmen
kebutuhan untuk mengidentifikasi masalah dengan tepat, dimana hal tersebut
bukanlah tugas yang mudah.

Kegiatan menyusun rencana pembelajaran merupakan salah satu tugas


penting guru dalam memproses pembelajaran siswa. Dalam perspektif kebijakan
pendidikan nasional yang dituangkan dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008
tentang Standar Proses disebutkan bahwa salah satu komponen dalam penyusunan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yaitu adanya tujuan pembelajaran yang

66
di dalamnya menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Agar proses pembelajaran dapat terkonsepsikan dengan baik, maka


seorang guru dituntut untuk mampu menyusun dan merumuskan tujuan
pembelajaran secara jelas dan tegas. Dengan harapan dapat memberikan
pemahaman kepada para guru agar dapat merumuskan tujuan pembelajaran secara
tegas dan jelas dari mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap


pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan
perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner
pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 kemudian
sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di
seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.

Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan


beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962)
mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai
atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi
tertentu. Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan
pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau
penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil
belajar yang diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran
adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara
itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu
deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah
berlangsung pembelajaran.
Dalam proses belajar siswa mengalami perubahan baik aspek kognitif
yang berkaitan dengan otak, yang mengakibatkan perubahan dalam kemampuan
berfikir, afektif berkaitan dengan tingkah laku dan psikomotorik yaitu berkaitan
dengan ketrampilan yang dimiliki oleh siswa. Belajar adalah suatu proses yang

67
dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan
siswa untuk memperoleh pengalaman dan interaksi dalam lingkungannya yang
berupa perubahan tingkah laku baik secara individu maupun keseluruhan.
Dalam arti luas belajar diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke
perkembangan pribadi seutuhnya. Dalam hal ini dimaksudkan belajar berarti
usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada
individu. Individu yang belajar perubahan tidak hanya berkaitan dengan
penambahan suatu ilmu, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap,
pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri. Belajar merupakan
proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya
mengingat akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. “Hasil belajar bukan
suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan”. Jadi belajar
merupakan proses merubah seseorang dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari
yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari yang tidak bisa menjadi bisa. Seseorang
dikatakan belajar apabila dalam dirinya mengalami proses perubahan tingkah
laku.
Dalam proses pembelajaran akan terjadi interaksi antara guru dengan
murid serta antara murid dengan murid. Keberlangsungan pembelajaran akan
bervariasi tergantung pada situasi pembelajaran. Empat pola interaksi yang terjadi
yaitu: 1) interaksi individual–individual, 2) individual-kelompok, 3) kelompok-
individual, 4) kelompok-kelompok.
Proses pembelajaran tidak terjadi dalam suatu keadaan yang vakum
melainkan terjadi dalam suatu lingkungan yang ikut memberikan pengaruh. Guru
diharapkan mampu mengenal berbagai unsur yang ada dalam lingkungan baik
individual maupun kelompok. Keberhasilan guru ditentukan oleh suatu hubungan
yang baik dengan siswa. Dalam kaitannya dengan hasil belajar sebagai salah
satu produktivitas atau prestasi intelektual kehadiran bahan bacaan yang
mengarah terhadap pembentukan prestasi sangat dibutuhkan.

68
Salah satu pengembangan sistem belajar yang sering diterapkan adalah
sistem belajar kelompok. “Strategi belajar kelompok adalah suatu cara mengajar
bahwa siswa di dalam kelas itu dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi
menjadi beberapa kelompok, mereka bekerja sama dalam memecahkan masalah,
atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang
telah ditentukan pula oleh guru. Manfaat belajar kelompok dan pengaruhnya
terhadap hasil belajar dapat dilihat setelah belajar kelompok berjalan sesuai
dengan rencana. Belajar kelompok perlu mendapatkan bimbingan dari pengawas
yang bersangkutan. Selama ini belajar kelompok cenderung hanya membiarkan
siswa untuk melakukan belajar dengan sesama teman dengan tanpa pengawasan
yang baik, sehingga hasil belajar yang diperoleh tidak bisa maksimal dan bahkan
tidak mengalami perubahan yang berarti. Strategi belajar kelompok mudah
diterapkan sesuai dengan materi.
Berdasarkan sistem dan keberlangsungan belajar, guru menjadi tolak ukur
yang paling penting demi kelancaran proses pembelajaran. Guru memiliki banyak
peranan, salah satu dari sekian banyak peran yang dimiliki guru adalah guru
sebagai pengelola atau manager atau organisator dalam pembelajaran. Dalam
peranannya ini guru memiliki tugas dan kewajiban untuk mengelola pembelajaran
dengan baik. Pengelolaan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan termasuk juga
melakukan evaluasi agar terorganisir dengan baik. Pengelolaan pembelajaran ini
akan membawa proses pembelajaran terlaksana dengan lancar yang dapat
memudahkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Tak hanya melaksanakan dan mengelola pembelajaran saja, namun guru
juga harus mengelola kelas dan siswa serta segala hal yang diperlukan dalam
proses belajar mengajar ataupun segala sesuatu yang mampu mempermudah dan
mempengaruhi pembelajaran. Untuk melaksanakan peran sebagai seorang
manager atau pengelola pembelajaran(learning manager) maka guru harum
memahami konsep, prinsip, hakikat, serta pengetahuan tentang pembelajaran,
bukan hanya tentang bagaimana dalam mengajar namun juga segala sesuatu
tentang belajar.

69
Sebagai manager guru mempunyai beberapa fungsi umum yang harus
dilakukan guru agar mampu melaksanakan peran sebagai pengelola
pembelajaran dengan baik. Sanjaya (2008: 24) menyebutkan fungsi-fungsi guru
secara umum, antara lain yaitu:
1. Merencanakan tujuan belajar
2. Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan
belajar
3. Memimpin, yang meliputi memberikan motivasi, mendorong, dan
memberikan stimulus pada siswa
4. Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestinya
atau belum dalam rangka pencapaian tujuan
5. Mengelola struktur pembelajaran
6. Menempatkan dirinya sebagai Raja/Jendral
7. Memahami ekologi untuk menghadapi era globalisasi

Tugas seorang guru jika di kelompokkan terbagi menjadi tiga jenis, yakni
tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas dalam bidang
kemasyarakatan. Guru merupakan profesi / jabatan yang memerlukan keahlian
khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang
orang di luar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih dilakukan orang
diluar pendidikan itulah sebabnya jenis profesi ini palin mudah terkena
pencemaran.tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.
Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai- nilai hidup. Mengajar
berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi.sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan –
keterampilan pada siswa.
Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk
mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai
suatu profesi. Guru hendaklah dapat membantu anaka didiknya meneruskan dan
mengembangkan nilai- nilai hidup, mengembangkan ilmu pengetahuan dan

70
teknologi, dan mengembangkan serta menerapkannya dalam kehidupan demi
masa depan mereka.
Tugas guru dalam bidang kemanusian disekolah harus dapat menjadikan
dirinya sebagai orang tua kedua.ia harus mampu menarik simpati sehingga ia
menjadi idola para siswannya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat
menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam
penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama ia tidak akan dapat
menanamkan benih pengajaranya itu kepada siswanya. Para siswa akan enggan
mengahadapi guru yang tidak menarik. Pelajaran tidak dapat diserap sehinnga
setiap lapisan masyarakat (homo ludens, homopuber, dan homo sapiens) dapat di
mengerti bila mengahadapi guru.
Selain memiliki tugas, guru juga memiliki fungsi yang tidak kalah
pentingnya dalam dunia pendidikan. Peran dan kompetensi guru dalam proses
belajar mengajar meliputi banyak hal, diantaranya adalah :

a. Guru sebagai demonstrator


Melalui perannya sebagai demonstrator, guru hendaknya senantiasa
menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa
mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuan dalam hal ilmu
yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang
dicapai oleh siswa
b. Guru sebagai penegelola kelas
Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu
mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari
lingkungan sekolah yang perlu diorganisasikan
c. Guru sebagai mediator atau fasilitator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki penegtahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena pendidikan
merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar
mengajar.
d. Guru sebagai evaluator

71
Guru hendaknya mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan
tercapai atau belum, dan apakah materi yang telah diajarkan sudah cukup tepat
dan dapat di pahami oleh siswannya.
Disamping fungsi- fungsi yang telah diutarakan diatas, ada beberapa lagi
fungsi guru sebagai pendidik atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi
guru, yaitu :
a. Korektor. Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang
baik dan mana nilai yang buruk. Nilai yang berbeda ini harus betul- betul
dipahami dalam kehidupan masyarakat.
b. Informator. Sebagai informotory, guru harus dapat memberikan informasi
perkembangan ilmu penegtahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan
pelajaran untuk setiap mata pelajaranyang telah diprogramkan dalam
kurikilum.
c. Motivator. Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik
agar bergairah dan aktif belajar.
d. Inisiator. Dalam fungsinya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi
pencetus ide- ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
e. Pembimbing. Peran guru yang tidak kalah penting dari semua peran yang
telah disebutkan diatas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih
dipentingkan, karena kehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing
anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap
f. Supervisor. Sebagai supervior, guru hendaknya dapat membantu,
memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.

Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu
bangsa yang sedang membangun, terlebih- lebih bagi keberlangsungan hidup
bangsa di tengah tengah lintasan perjalan zaman dengan teknologi dan segala
perubahan serta pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada
kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat
mengadaptasikan diri.

72
PERTEMUAN VIII
( JUJUR, INGIN TAHU, DISIPLIN, TEGUH, TELITI)

A. JUJUR
Jujur adalah sifat terpuji yang merupakan faktor terbesar tegaknya agama
dan dunia. Kehidupan dunia tidak akan baik, dan agama juga tidak bisa tegak
di atas kebohongan, penghianatan serta perbuatan curang. kejujuran berarti
dapat dipercaya, setia, adil, dan tulus. Kejujuran dihargai di banyak budaya
etnis dan agama.

Dalam bahasa Arab, jujur merupakan terjemahan dari kata shidikq yang
artinya benar, dapat di percaya. Dengan kata lain, jujur adalah perkataan dan
perbuatan sesuai dengan kebenaran. Jujur merupakan induk dari sefat-sifat
terpuji (mahmuda). Jujur juga disebut dengan benar atau sesuai dengan
kenyataan. Jujur adalah mengatakan sesuatu apa adanya. Jujur lawannya dusta.
Berdusta adalah menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan
sebenarnya. Adapula yang berpendapat bahwa jujur itu tengah-tengah antara
menyembunyikan dan terus terang. Dengan demikian, jujur berarti keselarasan
antara berita dengan kenyataan yang ada.

Jujur adalah sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu degan
sesungguhnya dan apa adanya, tidak di tambahi ataupun tidak dikurangi. Sifat
jujur ini harus dimiliki oleh setiap manusia, karena sifat dan sikap ini
merupakan prinsip dasar dari cerminan akhlak seseorang. Jujur juga dapat
menjadi cerminan dari kepribadian seseorang bahkan kepribadian bangsa. Oleh
sebab itulah kejujuran bernilai tinggi dalam kehidupan manusia. Kejujuran
banyak dicontohkan langsung oleh Rasulullah. Dapat kita ambil keteladanan
dari Rasul kita Nabi Muhammad saw. Yang memiliki sifat wajib bagi Rasul,
salah satunya “amanat” yang berarti dapat dipercaya. Mengapa dapat dipercaya
? Jawabannya karena kejujuran. Allah menyuruh kita untuk menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya. Amanat berarti kepercayaan. Jujur
memang suatu kegiatan yang mudah, apalagi bagi kita yang memiliki iman dan
ketakwaan yang kuat kepada Allah. Tapi sangat sulit bagi mereka yang

73
makanan sehari-harinya berbohong . Kebohongan hanya akan membawa
malapetaka bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Sekali
berbohong ketahuan, maka jangan heran jka kepercayaan orang akan luntur
kepada kita.
Berperilaku jujur, tidak akan merugikan kita. Justru banyak hal yang
dapat kita ambil dari kejujuran. Kejujuran membawa manfaat yang begitu
banyak, antara lain dapat membuat seseorang menjadi dapat dipercaya,
disenangi orang lain, mudah mendapat lapangan pekerjaan, dan yang paling
penting adalah dicintai oleh Allah swt. Kejujuran dapat memudahkan
seseorang dalam mendapatkan pekerjaan karena kejujuran adalah poin penting
dari kepribadiaan seseorang yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan
semua pekerjaannya.
Sifat jujur yang merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan dapat kita
ambil dari begitu banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hidup ini
banyak sekali contoh kejujuran yang dapat kita terapkan, antara lain:
1 . Melaksanakan amanat seseorang.
Secara tidak disangka-sangka orang lain kadang –kadang menitipkan
sesuatu kepada kita baik berupa pesan, uang, barang, atau yang lainnya
untuk disampaikan kepada orang lain yang berhak menerimanya, atau hanya
sekedar dititipkan sampai waktunya barang atau uang tersebut diambil
kembali. Apabila menerima titipan seperti itu, titipan tersebut harus betul-
betul dilaksanakan sesuai dengan yang dipesankan. Kalau berupa pesan
maka pean tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi. Demikian pula
kalau berupa uang atau barang harus jga dijaga dengan baik supaya tidak
hilang atau rusak.
2 . Menyimpan rahasia orang yang harus dijaga.
Dalam hidup ini banyak yang harus kita bicarakan, tetapi ada pula yang
tidak boleh kita bicarakan kepada orang lain atau harus dirahasiakan.
Misalnya ada seorang anak yang dikejar dan akan dibunuh orang dengan
sadis dan kejam. Tiba-tiba anak tersebut bersembunyi di salah satu rumah
dan kita mengetahuinya Orag yang mengejar kehilangan jejak kemudian

74
bertanya, “Apakah Anda melihat seorang anak berlari dan bersembunyi di
sekitar sini?” Kita jawab “Tidak!” Maka kita telah menolong dan
menyelamatkan jiwa anak tersebut.
3 . Tidak menyontek ketika mendapat tugas pelajaran di sekolah.
Mencontoh atau mencontek ketika mendapat tugas pelajaran di sekolah
adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Sebab tugas pelajaran tersebut
adalah tugas perorangan yang tidak boleh satu sama lain mencontoh. Andai
saja dari hasil mencontoh mendapat nilai bagus sesungguhnya yang
mendapat nilai bagus tersebut bukanlah kita tetapi orang lain tempat kita
mencontoh . Pendek kata perbuatan mencontoh adalah perbuatan yang tidak
jujur dan menipu diri sendiri.
4 . Melaksanakan tugas dengan baik dan tanggung jawab.
Orang jujur sekali ia mendapat atau menerima tugas, tugas tersebut pasti di
kerjakan secara maksimal dan penuh tanggung jawab. Sebaliknya jika ia
merasa tidak sanggup atau tidak bersedia, sebelumnya pasti ia katakan tidak
atau belum mau menerima tugas itu Sebab orang jujur, tidak akan berkata
“ya” jika dalam hatinya “tidak”.Orang yang jujur, tidak akan bersifat
munafik di hadapan orang lain.
B. RASA INGIN TAHU
Manusia adalah makhluk yang diciptakan secara lengkap, dengan
kepunyaan akalnya dan kemampuan berpikir, berimajinasi dan
mewujudkannya..manusia adalah makhluk luar biasa sehingga manusia diberi
rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap sesuatu. Rasa ingin tahu itu
terkadang menjurus pada dua cabang pembelokkan dua sisi, yaitu positif dan
negatif. Rasa ingin tahu positif akan memberikan dampak yang berguna apakah
itu untuk dirinya sendiri ataupun orang banyak.
Rasa ingin tahu positif yang kuat adalah modal untuk para ilmuwan
untuk menjadi seorang ahli di bidangnya. Rasa ingin tahu positif yang kuat ini
terkadang menjadi sebuah pendorong bahkan ketika kegagalan terjadi. Dengan
rasa ingin tahu positif yang kuat, kegagalan hanyalah menjadi kerikil untuk
mencapai sebuah gunung raksasa. Rasa ingin tahu positif inilah yang menjadi

75
awal dari sebuah fantasi, imajinasi yang pada akhirnya menghasilkan karya-
karya besar.
Rasa ingin tahu negatif, seringkali menimbulkan kerugian pada diri
manusia itu sendiri, padahal percikan rasa ingin tahu negatif seharusnya dapat
dihindarkan dengan pengalihan pikiran dan pengacuhan timbulnya rasa ingin
tahu tersebut. Pada saat rasa ingin tahu negatif telah terpuaskan (yaitu dengan
“mengetahui” apa yang ingin diketahui tersebut), efek samping lainnya lalu
muncul, yaitu keresahan. Pikiran-pikiran negatif yang tak kunjung usai yang
bermula dari rasa ingin tahu berubah menjadi sebuh rantai yang bila tidak cepat
diputus akan menimbulkan terkurasnya energi yang sangat besar. Pada
kenyataannya manusia akan tetap mengklik-nya dan penasaran dengan hal
tersebut. Hal ini menyiratkan bahwa rasa ingin tahu manusia terhadap apapun
baik hal yang cenderung negatif, secara natural begitu besar. Rasa ingin tahu
negatif tersebut memang terkadang menyenangkan, terutama bagi sebagian
orang, layaknya detektif Sherlock Homes atau Conan..:P ; tetapi bila rasa ingin
tahu tersebut menjurus langsung pada kehidupan kita, hal tersebut hanya akan
membuat kita kehabisan waktu dan tenaga untuk memikirkannya. Berikut lima
manfaat mengejutkan rasa ingin tahu :
1. Dapat memperkuat hubungan Rasa ingin tahu tentang orang-orang dan
lingkungan sekitar dapat membuat kehidupan sosialmu lebih kaya. Jika kau
menunjukkan minat pada apa yang seseorang katakan dan memiliki cara
mendiskusikan hal-hal yang menarik dengan orang lain, mungkin mereka
bisa menikmati menghabiskan waktu denganmu. Orang-orang yang
memiliki rasa ingin tahu sering dianggap sebagai pendengar yang baik dan
cakap berbicara. Pada awal hubungan, kita cenderung berbicara tentang
minat atau hobi kita. Satu alasan untuk ini ialah, orang cenderung sama-
sama "memiliki banyak ketertarikan" yang menarik dan untuk banyak
alasan. Orang yang memiliki rasa ingin tahu cenderung membawa
kesenangan dan kebaruan dalam hubungan.
2. Dapat membantu melindungi otak Pernahkah kau mendengar kalau teka-teki
silang dapat membantu mencegah penyakit Alzheimer? Menginginkan

76
pengalaman-pengalaman baru tentu tak akan menyakitkan. Menjaga otakmu
terstimulasi secara mental adalah tugas seumur hidup. Jika seseorang dapat
tetap aktif secara intelektual dan terstimulasi sepanjang usianya, ini
merupakan perlindungan melawan demensia. Oleh karena itu, tetap aktif
secara mental bagus untuk.
3. Membantu mengatasi rasa cemas merupakan hal normal jika kau cemas atau
gugup sebelum menghadapi hari besarmu. Namun, rasa ingin tahu dan
kegembiraan tentang sesuatu misanya, tentang orang baru, mungkin bisa
mendorong pergi kecemasanmu. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan
psikolog, Todd Kashdan dalam Journal of Anxiety Disorders, diketahui,
orang-orang yang menderita kecemasan sosial dan memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi mungkin lebih cenderung terlibat dalam perilaku yang
menghindari konflik.
4. Berhubungan dengan kebahagiaan. Salah satu teori tentang kebahagiaan
adalah mengembangkan poin kebahagian sejak dini. Menurut Kashdan,
tingkat kebahagiaan naik dan turun tergantung peristiwa positif dan negatif
yang dialami. Dia mengatakan, rasa ingin tahu dapat meningkatkan
kebahagiaan beberapa derajat. Saat kita merasa ingin tahu, kita bersedia
meninggalkan kehidupan yang akrab dengan kita dan mengambil risiko
sekalipun iu membuat kita merasa cemas dan tak nyaman. Alih-alih
berusaha mati-matian menjelaskan dan mengendalikan dunia kita, seorang
penjelajah yang ingin tahu akan merangkul ketidakpastiaan dan melihat
kehidupan sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dijelajah, dipelajari.
5. Dapat membantumu belajar Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam
jurnal Neuron menemukan, akan lebih mudah untuk mempelajari hal-hal
yang tidak menarik saat rasa ingin tahumu terusik. Misalnya, saat kau
mencoba mempelajari sesuatu, cobalah menonton acara televisi favoritmu
dulu selama 10 menit. Hal ini akan memberimu masa istirahat yang cukup
dan akan mengusik rasa ingin tahumu tentang hal yang sedang kau coba
pelajari sekaligus merangsang pusat kesenangan di otakmu.

77
C. DISIPLIN
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang
dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung
jawabnya. Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun
pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan.
Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti
untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan
pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Disiplin diri merujuk pada pelatihan
yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk
mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang
melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak
melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan
membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan
uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih
penting. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang
berarti Pengikut.
Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami
perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut
tata tertib. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan.
disiplin diri dapat bermula pada suatu hal yang kecil, contoh : bagi pelajar yang
mampu membagi waktu belajar, membagi waktu beribadah sehingga tak
menimbulkan suatu pertabrakan kegiatan pada waktu yang sama.disiplin diri
juga bisa kita lihat dengan contoh sederhana yaitu mengerjakan pr dengan dan
dikumpulkan tepat pada waktunya.
Disiplin diri akan terasa manfaatnya jika kita memiliki suatu impian dan
cita – cita yang ingin dicapai. Kita harus mendisiplinkan ( melatih ) diri untuk
mengerjakan hal – hal yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh
karena itu, di dunia ini dibuat peraturan – peraturan yang disertai hukuman
yang setimpal. Hal ini tidak lain agar setiap manusia mau belajar hidup disiplin
dan menaati aturan yang ada sehingga dunia tidak kacau balau dan seseorang
tidak dapat berbuat sekehendak hatinya.

78
Kebiasaan yang kita lakukan akan menentukan masa depan kita.
Kebiasaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, begitupun
sebaliknya, namun untuk membiasakan kebiasaan baik itu tidak mudah.
Mengapa demikian ?
1. Manusia memiliki sifat – sifat mendasar seperti : cenderung bermalas -
malasan, ingin hidup seenaknya mengikuti keinginan hatinya dan keinginan
untuk melanggar peraturan – peraturan yang ada.
2. Kita selalu menganggap pekerjaan sebagai suatu kewajiban apapun beban
yang harus dilakukan, bukan sebagai kesenangan. Pepatah mengatakan “
kita akan lebih mudah menerapkan disiplin diri jika kita mencintai apa yang
kita kerjakan ”.
3. Manusia cenderung cepat bosan jika melakukan kegiatan yang sama dalam
jangka waktu lama.
Tips untuk dapat hidup dengan disiplin, dengan cara :
1. Kalahkan diri sendiri.
2. Lakukan kegiatan selingan sesekali di luar rutinitas.
3. Fokuskan fikiran pada tujuan akhir yang ingin dicapai.
Tips untuk meningkatkan disiplin diri, dengan cara :
1. Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.
2. Buat urutan prioritas hal – hal yang ingin kita lakukan.
3. Buat jadwal kegiatan secara tertulis.
4. Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan
terlalu kaku.
5. Berusahalah untuk selalu dsiplin dengan jadwal program kegiatan yang
sudah kita susun sendiri.
Disiplin diri merupakan suatu siklus kebiasaan yang kita lakukan secara
berulang – ulang dan terus menerus secara berkesinambungan sehingga
menjadi suatu hal yang biasa kita lakukan. Disiplin diri dalam melakukan suatu
tindakan yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan akan manjadi
suatu kebiasaan yang mengarah pada tercapainya keunggulan. Keunggulan

79
membuat kita memiliki kelebihan yang dapat kita gunakan untuk meraih
tujuan hidup yang menentukan masa depan kita.
D. TELITI
Teliti berarti cermat dan saksama dalam menjalankan sesuatu. Orang
yang teliti ditunjukkan dengan cermat, penuh minat, dan berhati-hati dalam
menjalankan sesuatu agar tidak terjadi kesalahan. Lawan dari sifat teliti dan
tekun adalah ceroboh atau teledor. Orang yang bersifat teliti selalu sabar dan
tidak asal cepat dalam mengerjakan sesuatu. Termasuk dalam berbicara, kita
tidak boleh ceroboh, tetapi harus cermat.
Diingatkan dalam Surah al-Hujurat [49] ayat 6 yang artinya, ”Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu
membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak
mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya
kamu menyesali perbuatanmu itu.” Syarat tersebut memberi pesan kepada kita
untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati, termasuk dalam berucap. Sikap
ceroboh dan teledor hanya menjadikan sesuatu tidak selesai dengan sempurna.
Sifat teliti sangat penting dalam hidup karena mengandung beberapa manfaat
sebagai berikut.
a. Terhindar dari kesalahan atau kekeliruan dalam melakukan sesuatu.
b. Terhindar dari sifat suuzan atau buruk sangka terhadap orang lain. Orang
yang teliti, ketika menghadapi kegagalan tidak cepat-cepat menyalahkan
orang lain.
c. Meningkatkan kesempurnaan setiap pekerjaan. Orang yang teliti tidak suka
menyelesaikan pekerjaan dengan setengah-setengah.
d. Terhindar dari penyesalan akibat kegagalan yang disebabkan ketergesa-
gesaan.
e. Bersikap Teliti dalam Keseharian
Sikap teliti secara umum dapat diwujudkan ketika berkata dan
mengerjakan sesuatu. Teliti dalam berbicara atau berkata, caranya antara lain
sebagai berikut.
a. Tidak berbicara yang dapat menyinggung orang lain.

80
b. Menyampaikan informasi yang kebenarannya tidak diragukan lagi.
c. Tidak berlebihan dalam berbicara.
d. Tidak menuruti hawa nafsu ketika berbicara.
e. Istiqamah dan tidak munafik.
f. Bersikap teliti dalam mengerjakan sesuatu antara lain ditunjukkan dengan
cara-cara sebagai berikut.
g. Konsentrasi ketika bekerja.
h. Menyelesaikan segala urusan dengan tuntas.
i. Berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.
j. Memiliki rencana matang dan prinsip yang baik dalam bekerja.
k. Mendahulukan pekerjaan yang lebih penting daripada yang tidak perlu.
Supaya terbiasa teliti atau cermat dalam sesuatu, lakukanlah beberapa hal
berikut ini:
a. Biasakan rapih dan teratur dalam mengerjakan sesuatu.
b. Jangan mudah terpengaruh orang lain.
c. Lakukanlah check and recheck sebelum memutuskan suatu masalah
d. Sebaiknya hati-hati dalam segala hal.
e. Percayalah kepada diri sendiri.
f. Biasakan menyenangi keteraturan dan ketertiban.
E. TEGUH
Sebagai manusia kita harus punya pendirian yang kuat, yang kita jadikan
sebagai pegangan dalam mengarungi hidup ini. Pendirian inilah yang dinilai
oleh orang lain. Orang disebut teguh pendirian jika ia mempunyai pendapat
yang tidak mudah berubah, dan disebut orang yang tidak mempunyai pendirian
jika ia mudah sekali merubah pendapatnya, bahkan mudah sekali dipengaruhi
oleh pendapat orang lain.
Pendirian seseorang berkembang sesuai dengan tingkat kedewasaannya,
dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, dipengaruhi pula oleh tingkat
pendidikannya. Sehingga kadang pendirian seseorang akan berubah sesuai
dengan kedewasaannya dalam mencerna keadaan lingkungannya dan
pendidikannya, sehingga orang yang teguh pendirian sekalipun dapat berubah

81
pendapatnya tentang sesuatu, hanya saja perubahan itu tidaklah drastis dan
tiba-tiba, tetapi berproses secara wajar, dan kearah yang lebih baik.
Orang yang teguh pendiriannya belum tentu mempunyai pendapat yang
baik. Biasanya orang akan sangat terpengaruh oleh orang yang teguh pendirian,
oleh karena itu akan sangat berbahaya jika orang yang teguh pendiriannya
adalah orang yang tidak baik dan membawa orang lain ke arah yang tidak baik
pula.
Orang baik yang teguh pendirian adalah orang yang sangat diharapkan
ada ditengah-tengah masyarakat, hanya saja sangat sedikit orang yang
demikian. Wibawa orang seperti ini akan sangat positif bagi kebaikan
masyarakat kita yang sekarang ini sedang sakit karena banyak mengidap
berbagai penyakit masyarakat.
Teguh pendirian atau istiqomah artinya tetap dan tidak berubah hati, serta
memegang teguh apa yang menjadi pendapatnya. Istiqamah adalah lawan
dari tughyan (pengimpangan atau melampaui batas).
Ciri-ciri orang yang beristiqamah, antara lain:
1. Memegang teguh kebenaran;
2. Bersungguh-sungguh dalam beribadah;
3. Selalu memenuhii janjinya;
4. Ikhlas dalam melaksanakan ibadah.
Cara beristiqamah
1. Beramal dengan sungguh-sungguh;
2. Tidak berlebihan dalam melakukan suatu kegiatan;
3. Ikhlas dalam beramal;
4. Selalu mengikuti sunnah Rosul.
Keutamaan istiqamah
1. Dicintai Allah dan Rasulnya
2. Menjadi anak yang pemberani;
3. Mendapat ketenangan hidup;
4. Selalu optimis;
5. Dikagumi oleh yang lain.

82
PERTEMUAN IX
MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW

Model pembelajaran diartikan secara luas sebagai prosedur sistematis


dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama
dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak
dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai
model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu
dalam penerapannya.
Teori Model Pembelajaran menurut para ahli :
1. Model pembelajaran menurut Kardi dan Nur ada lima model pemblajaran yang
dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran langsung;
pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah; diskusi; dan
learning strategi.
2. Menurut Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega (1990) mengetengahkan 4
(empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2)
model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model
modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah
model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
3. Menurut E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang
dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran
(Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and
Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran
dengan Modul (Modular Instruction).
4. Menurut Joyce dan Weil (1986: 14-15) mengemukakan bahwa setiap model
belajar mengajar atau model pembelajaran harus memiliki empat unsur berikut.
a. Sintak (syntax) yang merupakan fase-fase (phasing) dari model yang
menjelaskan model tersebut dalam pelaksanaannya secara nyata (Joyce dan

83
Weil, 1986:14). Contohnya, bagaimana kegiatan pendahuluan pada proses
pembelajaran dilakukan? Apa yang akan terjadi berikutnya?
b. Sistem sosial (the social system) yang menunjukkan peran dan hubungan
guru dan siswa selama proses pembelajaran. Kepemimpinan guru sangatlah
bervariasi pada satu model dengan model lainnya. Pada satu model, guru
berperan sebagai fasilitator namun pada model yang lain guru berperan
sebagai sumber ilmu pengetahuan.
c. Prinsip reaksi (principles of reaction) yang menunjukkan bagaimana guru
memperlakukan siswa dan bagaimana pula ia merespon terhadap apa yang
dilakukan siswanya. Pada satu model, guru memberi ganjaran atas sesuatu
yang sudah dilakukan siswa dengan baik, namun pada model yang lain guru
bersikap tidak memberikan penilaian terhadap siswanya, terutama untuk
halhal yang berkait dengan kreativitas.
d. Sistem pendukung (support system) yang menunjukkan segala sarana,
bahan, dan alat yang dapat digunakan untuk mendukung model tersebut.
5. Menurut Toeti Soekamto dan Winataputra (1995:78) mendefinisikan ‘model
pembelajaran’ sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur
yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa
untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa model-model
pembelajaran merupakan kerangka konseptual sedangkan strategi lebih
menekankan pada penerapannya di kelas sehingga model-model pembelajaran
dapat digunakan sebagai acuan pada kegiatan perancangan kegiatan yang
sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa.

A. MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW


Metode Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran yang saat ini
sedang marak diterapkan oleh para pendidik. Berdasarkan etimologinya, kata
“Jigsaw” merupakan kata yang berasal dari Bahasa Inggris dengan terjemahan

84
dalam Bahasa Indonesia yakni “gergaji”. Pembelajaran model Jigsaw
menyerupai pola cara penggunaan sebuah gergaji, yaitu peserta didik
melakukan aktivitas belajar dengan melakukan kerja sama dengan peserta didik
lain dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bersama.
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh
Elliot Aronson’s, (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and SNAPP, 1978). Model
pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa
terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa
tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap
memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga
baik kemampuan secara kognitif maupun social siswa sangat diperlukan.
Model pembelajaran Jigsaw ini diladasi oleh teori belajar humanistic, karena
teori belajar humanistic menjelaskan bahwa pada hakekatnya setiap manusia
adalah unik, memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk
berkembang dan menentukan perilakunya.
Model pembelajaran Jigsaw bisa juga dikatakan sebagai suatu teknik
pembelajaran kooperatif dimana peserta didik yang memiliki tanggung jawab
lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun tujuan dari model
pembelajaran Jigsaw ini mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar,
serta menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh
bila peserta didik mencoba untuk mempelajari semua materi secara sendirian.
Model pembelajaran ini akan menjadi sebuah solusi yang efektif apabila
diterapkan dalam pengajaran terhadap materi ajar yang dapat dibagi menjadi
beberapa bagian dan materi ajar tersebut tidak harus urut dalam
penyampaiannya.
Teknik mengajar Jigsaw sebagai metode pembelajaran kooperatif bisa
digunakan dalam pengakaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun
berbicara. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis,
mendengarkan dan berbicara sehingga dapat digunakan dalam beberapa mata
pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, agama, dan
bahasa. Teknik ini cocok untuk semua kelas/tingkatan.

85
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model
pembelajaran dimana peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri
dari 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan
setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari
materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota
kelompok yang lain.
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok
ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal peserta didik
terdiri dari berapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan
memperhatikan keragaman dan latar belakang. Sedangkan kelompok ahli, yaitu
kelompok peserta didik yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok
asal) yang ditugaskan untuk mendalami topik tertentu untuk kemudian
dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok
ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Kunci tipe Jigsaw ini
adalah interdependen setiap peserta didik terhadap anggota tim yang
memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para peserta didik harus
memiliki tanggung jawab dan kerja sama yang positif dan saling
ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang
diberikan.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan Model Pembelajaran tipe
Jigsaw adalah sebagai berikut:

1. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Sebuah


bagian dapat disingkat seperti sebuah kalimat atau beberapa halaman.
2. Hitung jumlah bagian belajar dan jumlah peserta didik. Dengan satu cara
yang pantas, bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang
berbeda.
3. Setelah selesai, bentuk kelompok Jigsaw Learning. Setiap kelompok ada
seorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas.
4. Kemudian bentuk kelompok peserta didik Jigsaw Learning dengan jumlah
sama.

86
Berikut ini disajikan diagram tahapan pembelajaran model Jigsaw:

Diagram 1. Urutan Pertama Penjelasan Semua Kelompok

Diagram di atas menggambarkan guru membagi kelompok ke dalam tiga


kelompok yang berbeda dan masing-masing kelompok terdiri dari empat orang
siswa (ditandai dengan warna yang berbeda-beda).

Diagram 2. Urutan Kedua Kelompok Belajar

Untuk diagram kedua menggambarkan masing-masing kelompok


mendiskusikan materi yang berbeda.

Diagram 3 Urutan Ketiga Kelompok Belajar Kolaboratif

Diagram di atas adalah pembentukan kelompok baru yang anggota


kelompoknya terdiri atas anggota utusan dari masing-masing kelompok
sebelumnya (diagram kedua).

Secara umum, terdapat beberapa kelebihan diterapkannya metode


pembelajaran Jigsaw, yakni:
1. Dalam proses belajarnya dapat bekerja secara bebas
2. Memberi semangat untuk berinisiatif, kreatif, dan aktif

87
3. Rasa percaya diri peserta didik dapat lebih meningkat
4. Dapat belajar untuk memecahkan, menangani suatu masalah
5. Mengembangkan antusiasme dan rasa peserta didik pada Fisika
6. Meningkatkan belajar bekerja sama
7. Belajar berkomunikasi baik dengan teman sendiri maupun pendidik
8. Belajar berkomunikasi yang baik secara sistematis
9. Belajar menghargai pendapat orang lain
10. Meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan
11. Peserta didik terlatih untuk mempertanggungjawabkan jawaban yang
diberikan
12. Mengembangkan dan melatih keterampilan Fisika dalam berbagai bidang
13. Lebih merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaannya
14. Mengecek kebenaran jawaban yang telah dibuat
15. Selalu berpikir tentang cara atau strategi yang digunakan sehingga didapat
suatu kesimpulan yang berlaku umum.
Dalam penerapannya, tidak hanya terdapat kelebihan namun sering pula
dijumpai beberapa permasalahan, yaitu :
1. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung
mengontrol jalannya diskusi.
2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan
mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai
tenaga ahli.
3. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
4. Pembagian kelompok yang tidak heterogen, dimungkinkan kelompok yang
anggotanya lemah semua.
5. Penugasan anggota kelompok untuk menjadi tim ahli sering tidak sesuai
antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
6. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti
proses pembelajaran.
Beberapa hal yang bisa menjadi kelemahan aplikasi model ini di
lapangan, menurut Roy Killen, 1996, adalah :

88
1. Prinsip utama pembelajaran ini adalah ‘peer teaching’, pembelajran oleh
teman sendiri, ini akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam
memahami konsep yang akan diskusikan bersama siswa lain.
2. Apabila siswa tidak memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi
menyampaikan materi pada teman.
3. Rekod siswa tentang nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah
dimiliki oleh guru dan biasanya butuh waktu yang sangat lama untuk
mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut.
4. Butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model
pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.
5. Aplikasi metode ini pada kelas yang lebih besar (lebih dari 40 siswa)
sangatlah sulit.
Diskusi dalam kelompok ini, untuk mengatasi masalah atau kelemahan
yang muncul dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw,
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pengelompokan dilakukan terlebih dahulu, mengurutkan kemampuan
belajar siswa dalam kelas.
2. Sebelum tim ahli, misalnya ahli materi pertama kembali ke kelompok asal
yang akan bertugas sebagai tutor sebaya, perlu dilakukan tes penguasaan
materi yang menjadi tugas mereka.

Setelah melihat beberapa penalaran di atas, saya dapat menyimpulkan


bahwa metode pembelajaran Jigsaw cocok diterapkan pada pelajaran Fisika
karena secara umum, metode Jigsaw lebih mengarah ke diskusi dan pemecahan
suatu masalah sehingga dapat digunakan untuk membantu dalam penyelesaian
soal sehingga peserta didik dapat membuktikan ataupun menemukan konsep-
konsep Fisika. Di sisi lain, juga membantu peserta didik dalam menumbuhkan
kemampuan kerja sama, berpikir kritis dan mengembangkan sikap sosialnya
serta mengoptimalkan kemampuan kognitif peserta didik. Dengan model ini
diharapkan para peserta didik aktif saling melengkapi dan memahami materi
yang sedang dipelajari di kelas, dengan demikian melalui pembelajaran dengan

89
tipe jigsaw ini diharapkan motivasi belajar peserta didik dapat meningkat dan
lebih mempermudah tugas seorang pendidik untuk menemukan titik kesulitan
peserta didik dalam pelajaran Fisika. Metode Jigsaw ini juga lebih menstruktur
kepada pemberian motivasi, menyampaikan tujuan pembelajaran, menstimulus
siswa dalam mengajukan pertanyaan, menyampaikan materi, memimpin
diskusi, membimbing siswa dalam menyelesaikan soal, melakukan konfirmasi,
memberikan penilaian dan membuat kesimpulan.
Dengan demikian, semangat dan motivasi belajar peserta didik dapat
dibangkitkan dengan penerapan model cooperatif learning khususnya metode
jigsaw dalam pembelajaran. Penerapan metode Jigsaw dalam pembelajaran Fisika
terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik dan kepercayaan diri
mereka dalam menghadapi permasalahan Fisika.
Disamping model pembelajaran, terdapat pula gaya belajar yang dapat
didefinisikan sebagai cara seseorang dalam menerima hasil belajar dengan tingkat
penerimaan yang optimal dibandingkan dengan cara yang lain dan tentunya setiap
orang memiliki gaya belajar masing-masing.
Pengertian Gaya Belajar dan Macam-macam Gaya Belajar:
1. VISUAL (Visual Learners)
Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman
penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu
agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau
melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada
beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya
belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu
(informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau
memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap
warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah
artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara
langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran
secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Ciri-ciri gaya belajar visual ini yaitu :

90
a. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
b. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
c. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat
teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
d. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang
lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
e. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
f. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
g. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu
2. AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada
pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model
belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama
menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru
kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama
orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa
diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap
informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga
memiliki kesulitan menulis ataupun membaca. Ciri-ciri gaya belajar Auditori
yaitu :
a. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi
yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
b. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/
radio
c. Cenderung banyak omong
d. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik
karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
e. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
f. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
g. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti
hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

91
3. KINESTETIK (Kinesthetic Learners)
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu
yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu
agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model
belajar seperti ini yang tak semua orang bisa
melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat
penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan
memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya ini bisa menyerap
informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Ciri-ciri gaya belajar
Kinestetik yaitu :
a. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
b. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
c. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh:
saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya
asyik menggambar
d. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
e. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
f. Menyukai praktek/ percobaan
g. Menyukai permainan dan aktivitas fisik

92
PERTEMUAN X
BELAJAR BERMAKNA

Belajar bermakna (meaningful learning) adalah suatu proses pembelajaran


dimana siswa lebih mudah memahami dan mempelajari, karena guru mampu
dalam memberi kemudahan bagi siswanya sehingga mereka dengan mudah
mengaitkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya.
Sehingga belajar dengan “membeo” atau belajar hafalan (rote learning) adalah
tidak bermakna (meaningless) bagi siswa.
Belajar hafalan terjadi karena siswa tidak mampu mengaitkan pengetahuan
baru dengan pengetahuan yang lama.Dalam belajar bermakna, memiliki Paham
berpendapat bahwa siswa mengkonstruksikan pengetahuan atau menciptakan
makna sebagai hasil dari pemikiran dan berinteraksi dalam suatu konteks sosial.
Teori belajar ini merupakan teori tentang penciptaan makna. Selanjutnya, teori ini
dikembangkan oleh Piaget (Piagetian Psychological Constructivism) yang
menyatakan bahwa setiap individu menciptakan makna dan pengertian baru
berdasarkan interaksi antara apa yang telah dimiliki, diketahui dan dipercayai
dengan fenomena, ide atau informasi baru yang dipelajari. Piaget menjelaskan
bahwa setiap siswa membawa pengertian dan pengetahuan awal yang sudah
dimilikinya ke dalam setiap proses belajar yang harus ditambahkan, dimodifikasi,
diperbaharui, direvisi, dan diubah oleh informasi yang dijumpai dalam proses
belajar. Itulah sebabnya Vygotsky menyatakan bahwa proses belajar tidak dapat
dipisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi karena persepsi dan aktivitas berjalan
seiring secara dialogis.

Belajar merupakan proses penciptaan makna sebagai hasil dari pemikiran


individu dan melalui interaksi dalam suatu konteks sosial. Penciptaan makna
terjadi pada dua jenjang, yaitu pemahaman mendalam (inert understanding) dan
pemahaman terpadu (integrated understanding). Hal demikian bisa terwujud
melalui partisipasi aktif antara guru dan siswa, saling menghormati dan
menghargai. Setiap individu dapat belajar, menciptakan makna, dan berkreasi
berdasarkan konteks komunitas budayanya masing-masing. Dalam kaitan ini,
Brooks (1993) berpendapat bahwa melalui pembelajaran berbasis budaya, guru
akan mampu menciptakan makna yang konstruktif dan terpadu. Dalam hubungan
ini, David Ausubel (1963) mengklasifikasikan belajar dalam dua dimensi.
Pertama, menyangkut cara penyajian materi diterima oleh peserta didik.Melalui
dimensi ini, peserta didik memperoleh materi/informasi melalui penerimaan dan
penemuan.

Maksudnya peserta didik dapat mengasimilasi informasi/materi pelajaran


dengan penerimaan dan penemuan. Dimensi kedua, menyangkut cara bagaimana

93
peserta didik dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran dengan struktur
kognitif yang telah ada. Jika peserta didik hanya mencoba-coba menghafalkan
informasi atau materi pelajaran baru tanpa menghubungkannya dengan konsep-
konsep atau hal lainnya yang ada dalam struktur kognitifnya, maka terjadilah yang
disebut dengan belajar hafalan.Sebaliknya jika peserta didik menghubungkan
informasi atau mata pelajaran dengan konsep-konsep atau hal lain yang telah ada
dalam struktur kognitifnya, maka terjadilah yang disebut dengan belajar
bermakna.

Belajar bermakna menurut Ausubel (1963) merupakan proses mengaitkan


informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur
kognitif. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kebermaknaan dalam suatu
pembelajaran, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan . Ausubel
membedakan belajar menjadi belajar menerima dan belajar menemukan. Pada
belajar menerima, bentuk akhir dari sesuatu yang diajarkan itu diberikan,
sedangkan belajar menemukan bentuk akhir itu harus dicari peserta didik. Selain
itu Ausubel juga membedakan antara belajar bermakna dan belajar menghafal.
Belajar bermakna adalah suatu proses di mana informasi baru dihubungkan
dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar.
Sedangkan belajar menghafal diperlukan untuk memperoleh informasi baru
seperti definisi. Menurut teori belajar bermakna, belajar menerima dan belajar
menemukan keduanya dapat menjadi belajar bermakna apabila konsep baru atau
informasi baru dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur
kognitif peserta didik.
Belajar bermakna akan terjadi apabila informasi yang baru diterima pelajar
mempunyai kaitan erat dengan konsep yang sudah ada / diterima sebelumnya dan
tersimpan dalam struktur kognitifnya (Andriyani, 2008, 3.20-3.21). Lebih lanjut
Andriyani menyatakan bahwa informasi baru ini juga dapat diterima atau
dipelajari pelajar tanpa menghubungkannya dengan konsep atau pengetahuan
yang sudah ada. Cara belajar ini disebut belajar menghapal.

Kedua dimensi di atas dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

94
Bentuk-Bentuk Belajar

Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar


bermakna Ausubel adalah sebagai berikut

1. Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan


yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau
sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa
yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan
pengetahuan yang sudah ada.
2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang
dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan
yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.

95
3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran
yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk
akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan
pengetahuan lain yang telah dimiliki.
4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi
pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa
sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu
dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia
miliki.
pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.
Sehubungan dengan hal ini, Dahar (1996) mengemukakan dua prasyarat
terjadinya belajar bermakna, yaitu (1) materi yang akan dipelajari harus bermakna
secara potensial, dan (2) anak yang akan belajar harus bertujuan belajar bermakna.
Kebermaknaan potensial materi pelajaran bergantung kepada dua faktor, yaitu (1)
materi itu harus memiliki kebermaknaan logis, dan (2) gagasan-gagasan yang
relevan harus terdapat dalam struktur kognitif peserta didik
Menciptakan pembelajaran bermakna, dimana Pembelajaran yang
berlangsung di ruang kelas menjadi bermakna bagi siswa apabila dirasakan
manfaatnya dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Maka tidaklah mengherankan,
sebagian siswa melakukan perilaku menyimpang sebagai sebuah respons terhadap
pembelajaran yang berlangsung. Ini menjadi indikator awal bahwa pembelajaran
yang berlangsung terasa hampa dan monoton.

Berdasar pengalaman emperis, tidak mudah untuk menciptakan


pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Guru sering mengalami kendala
berkaitan dengan masalah pengelolaan pembelajaran dan pembelajaran efektif dan
efisien. Namun demikian, bukan mustahil hal itu dapat diwujudkan. Syaratnya,
selalu melakukan analisa terhadap proses dan hasil belajar yang dicapai. Dengan
landasan ini guru akan dapat menarik kesimpulan, mengapa pembelajaran tidak
bermakna.

menciptakan,pembelajaran,bermakna merupakan suatu analisis terhadap kegiatan


pembelajaran mutlak dilakukan oleh setiap guru. Analisis dilakukan terhadap
proses pembelajaran maupun hasil belajar yang diperoleh siswa. Analisis ini tidak
selalu dilakukan dalam bentuk kegiatan penilaian.

Agar prinsip belajar bermakna bagi siswa dapat diwujudkan, paling tidak ada 5
hal hal yang perlu kita upayakan:

96
1.Sikap mengajar.

Sikap guru dalam mengajar tidak bisa dianggap sepele. Sikap guru sangat
berpengaruh terhadap suasana pembelajaran di ruang kelas. Guru hendaknya
menunjukkan sikap yang demokratis dan simpati. Dua sikap ini dirasakan
berpengaruh besar terhadap suasana belajar. Boleh jadi sikap demokratis dan
simpati akan menjadi senjata ampuh bagi guru untuk menarik perhatian siswa
untuk mengikuti pelajaran.

2.Penyampaian materi pelajaran.

Dalam belajar, sesungguhnya siswa membutuhkan kepastian akan


kebenaran materi pelajaran yang mereka terima. Oleh sebab itu guru perlu
menguasai materi dengan baik dan disampaikan dengan lancar, tidak tersendat-
sendat.

3.Penggunaan strategi dan metode mengajar.

Barangkali tidak satupun metode mengajar yang dianggap paling baik.


Dalam hal ini dibutuhkan strategi untuk menentukan dan memilih metode
mengajar yang sesuai dengan kondisi terkini di ruang kelas. Sesuai dengan daya
tangkap siswa, relevans dengan materi dan didukung oleh sarana belajar yang
tersedia.

4.Penggunaan media belajar.

Media belajar adalah semua alat bantu yang digunakan untuk


mempermudah guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Jika tidak memiliki
media belajar yang memadai, paling tidak guru membuat charta atau gambar
sederhana di papan tulis untuk menjelaskan materi pelajaran.

5.Link materi dan pengetahuan siswa.

Materi pelajaran yang disampaikan perlu dikaitkan dengan pengetahuan


dan pengalaman siswa sehari-hari. Jika materi pelajaran dirasa jauh dengan
pengetahuan dan pengalaman siswa, guru perlu memodifikasi materi pelajaran
menjadi bentuk sederhana. Membuat contoh-contoh sederhana sesuai dengan
kehidupan sosial dan lingkungan alam siswa. Diyakini memang, masih banyak
upaya lain yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan pembelajaran
bermakna bagi siswa. Namun hal ini disesuaikan kondisi masing-masing guru
dan lingkungan mengajarnya.

Salah satu realisasi pembelajaran kreatif dan bermakna dilaksanakan


melalui pembelajaran berbasis budaya. Hal itu sangat beralasan karena (1)

97
pembelajaran berbasis budaya menjadikan pembelajaran bermakna kontekstual
yang sangat terkait dengan komunitas budaya, dan (2) pembelajaran berbasis
budaya menjadikan pembelajaran menarik dan menyenangkan.
Pembelajaran kreatif dan bermakna ini erat kaitannya dengan teori
konstruktivisme pemikiran Vygotsky (Social and Emancipator Constructivism). \
Langkah-langkah kegiatan yang mengarah pada timbulnya pembelajaran
bermakna adalah sebagai berikut.
1. Orientasi mengajar tidak hanya pada segi pencapaian prestasi akademik,
melainkan juga diarahkan untuk mengembangkan sikap dan minat belajar
serta potensi dasar siswa.

2. Topik-topik yang dipilih dan dipelajari didasarkan pada pengalaman anak


yang relevan. Pelajaran tidak dipesepsi anak sebagai tugas dari atau
sesuatu yang dipaksakan oleh guru, melainkan sebagai bagian dari atau
sebagai alat yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.

3. Metode mengajar yang digunakan harus membuat anak terlibat dalam


suatu aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan.

4. Dalam proses belajar perlu diprioritaskan kesempatan anak untuk bermain


dan bekerjasama dengan orang lain.

5. Bahan pelajaran yang digunakan hendaknya bahan yang konkret .

6. Dalam menilai hasil belajar siswa, para guru tidak hanya menekankan
aspek kognitif dengan menggunakan tes tulis, tetapi harus mencakup
semua domain perilaku anak yang relevan dengan melibatkan sejumlah
alat penilaian.

Pembelajaran kreatif dan bermakna bisa terjadi jika relevan dengan


kebutuhan peserta didik, disertai motivasi instrinsik dan kurikulum yang tidak
kaku. Kejadian belajar bermakna didorong oleh hasrat dan intensitas
keingintahuan peserta didik tentang bidang studi tertentu. Dalam hubungan ini,

98
Rogers (1969) mengemukakan tentang iklim kelas yang memungkinkan
terjadinya belajar bermakna, yaitu sebagai berikut.

1. Terimalah peserta didik apa adanya.

2. Kenali dan bina peserta didik melalui penemuannya terhadap diri sendiri.

3. Usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh peserta didik untuk
dapat memlilh dan menggunakannya

4. Gunakan pendekatan iquiry-discovery.

5. Tekankan pentingnya pendekatan diri sendiri dan biarkan peserta didik


mengambil tanggung jawab sendiri untuk memenuhi tujuan belajarnya.
Jadi belajar bermakna (meaningful learning) itu sendiri dapat diartikan
sebagai suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai
hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-
aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen
yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar
menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan
menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh,
sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah
dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus
selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki
siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut
dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami
langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera
daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. Pembelajaran itu sendiri
pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak
dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan
menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan
memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan
kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan
perkembangannya dan lingkungannya.

99
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang berupa pengetahuan,
sikap, dan keterampilan. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang
terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. Proses belajar bersifat
individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai
dengan perkembangannya dan lingkungannya. Pembelajaran adalah sesuatu yang
dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antara anak


dengan lingkungannnya baik antar anak dengan anak, anak dengan sumber
belajar, maupun anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi
bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan
memberikan rasa aman bagi anak. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya
pendidik untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar,
demi mencapai hasil belajar yang memuaskan (Isjoni, 2009).

Muchlas Samani (2007) mengemukakan bahwa apapun metode


pembelajarannya, maka harus bermakna (meaningfull learning). Pembelajaran
bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-
konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif
ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah
dipelajari dan diingat siswa.

Suparno (1997) mengatakan, bahwa pembelajaran bermakna adalah suatu


proses pembelajaran dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur
pengertian yang sudah dipunyai seorang yang sedang dalam proses pembelajaan.
Pembelajaran bermakan terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena
baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan pelajaran itu harus
cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang
dimiliki siswa. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep
yang sudah dimilki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar
terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual emosional siswa terlibat
dalam kegiatan pembelajaran.

Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang menyenangkan yang akan


memiliki keunggulan dalam meraup segenap informasi secara utuh sehingga
konsekuensi akhir meningkatkan kemampuan siswa. Pembelajaran bermakna
merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Pembelajaran bermakna ditandai
oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau
situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif
siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta
belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk

100
menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan
dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi
belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali
konsep-konsep yang telah dimiliki peserta didik dan membantu memadukannya
secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan
diajarkan. Jadi belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa
yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya
mendengarkan orang/guru menjelaskan. Belajar bermakna memiliki kondisi-
kondisi sebagai berikut:

 Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan-bahan baru dengan bahan-


bahan lama.Lebih dahulu memberikan ide yang paling umum kemudian
hal-hal yang lebih terperinci
 Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan
lama
 Mengusahan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnyasebelum ide
yang baru disajikan.

Menurut Nana (2005) dalam pembelajaran terdapat syarat-syarat yang dapat


menunjang terciptanya pembelajaran bermakna yaitu:

 Bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara


substansial dan degan beraturan.
 Siswa memiliki konsep yang sesuai dengan bahan yang akan
dihubungkan.
 Siswa harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep tersebut
dengan struktur kognitifnya secara substansial dan beraturan pula.

101
PERTEMUAN X1
MODEL PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013

A. Kompetensi Inti Kurikulum 2013

Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan


rencana pendidikan yang panjang untuk pencapaiannya. Sekali lagi, teori
manajemen mengajarkan, untuk memudahkan proses perencanaan dan
pengendaliannya, pencapaian jangka panjang perlu dibagi-bagi jadi beberapa
tahap sesuai dengan jenjang kelas di mana kurikulum tersebut diterapkan.

Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi SKL dalam


bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan
pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu,
gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek
sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang
harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata
pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang
antara pencapaian hard skills dan soft skills.

Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element)


kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan
pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar.
Organisasi vertikal Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten
Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di
atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang
berkesinambungan antara konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal
adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu mata pelajaran dengan
konten Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu
pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling
memperkuat.

102
Sejalan dengan UU, kompetensi inti ibarat anak tangga yang harus
ditapak peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan
pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring meningkatnya usia peserta
didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas.

Melalui kompetensi inti, sebagai anak tangga menuju ke kompetensi


lulusan, integrasi vertikal antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan
peningkatan kemampuan peserta dari kelas ke kelas dapat direncanakan.
Sebagai anak tangga menuju ke kompetensi lulusan multidimensi, kompetensi
inti juga memiliki multidimensi. Untuk kemudahan operasionalnya,
kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual
terkait tujuan membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan
kompetensi sikap sosial terkait tujuan membentuk peserta didik yang berakhlak
mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, melainkan untuk dibentuk


melalui pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang relevan. Setiap mata
pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah dirumuskan. Dengan
kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada kelas
tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi inti.

Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi


yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran. Di sini
kompetensi inti berperan sebagai integrator horizontal antarmata pelajaran.

Dengan pengertian ini, kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran
karena tidak mewakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan
kebutuhan kompetensi peserta didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan
kompetensi dasar yang akan diserap peserta didik melalui proses pembelajaran
yang tepat, menjadi kompetensi inti. Bila pengertian kompetensi inti telah
dipahami dengan baik, tentunya tidak akan ada kritikan bahwa Kurikulum
2013 adalah salah dengan alasan pada “Kompetensi Inti Bahasa Indonesia”
tidak terdapat kompetensi yang mencerminkan kompetensi Bahasa Indonesia,

103
karena memang tidak ada yang namanya kompetensi inti Bahasa Indonesia,
sebagaimana yang dipertanyakan Acep Iwan Saidi, “Petisi untuk Wapres”
(Kompas, 2/3).

Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata pelajaran


diuraikan menjadi kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan
menjadi empat. Ini sesuai dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya,
yaitu dalam kelompok kompetensi sikap spiritual, kompetensi sikap sosial,
kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan.

Uraian kompetensi dasar sedetil ini adalah untuk memastikan bahwa


capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus
berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap.

Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap bukanlah untuk


peserta didik, karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan, tidak
diujikan, tapi sebagai pegangan bagi pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata
pelajaran tersebut, ada pesan-pesan sosial dan spiritual yang terkandung dalam
materinya. Apabila konsep pembentukan kompetensi ini dipahami, dapat
mengurangi bahkan menghilangkan kegelisahan.

Rumusan Kompetensi inti menggunakan notasi berikut ini.


1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial.
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

Uraian tentang Kompetensi Inti adalah sebagai berikut:


1.Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya
diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.
3. Memahami pengetahuan faktual denagn cara mengamati dan menanya

104
berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan
tempat
bermain.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan
logis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan
yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
Kompetensi dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Rumusan
Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta
didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar
dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti
sebagai berikut:
1. Kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka
1. menjabarkan KI-1;
2. Kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka
menjabarkan
3. KI-2;
3. Kelompok 3: kelompok kompetensi dasasr pengetahuan dalam rangka
4. menjabarkan KI-3;
5. 4. Kelompok 4: kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan
KI-4.
Penjabaran lengkap mengenai kompetensi dasar per jenjang kelas dan
per mata
pelajaran dapat dilihat dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah .

1. Kedudukan Bahasa dalam Kompetensi Inti

Uraian rumusan kompetensi seperti itu masih belum cukup untuk


dapat digunakan, terutama saat merancang kurikulum SD (jenjang sekolah
paling rendah), tempat dimana peserta didik mulai diperkenalkan banyak

105
kompetensi untuk dikuasai. Pada saat memulainya pun, peserta didik SD
masih belum terlatih berfikir abstrak. Dalam kondisi seperti inilah, maka
terlebih dahulu perlu dibentuk suatu saluran yang menghubungkan sumber-
sumber kompetensi, yang sebagian besarnya abstrak, kepada peserta didik
yang masih mulai belajar berfikir abstrak.

Di sini peran bahasa menjadi dominan, yaitu sebagai saluran


mengantarkan kandungan materi dari semua sumber kompetensi kepada
peserta didik.

Usaha membentuk saluran sempurna (perfect channels dalam


teknologi komunikasi) dapat dilakukan dengan menempatkan bahasa
sebagai penghela mata pelajaran-mata pelajaran lain. Dengan kata lain,
kandungan materi mata pelajaran lain dijadikan sebagai konteks dalam
penggunaan jenis teks yang sesuai dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Melalui pembelajaran tematik integratif dan perumusan kompetensi inti,
sebagai pengikat semua kompetensi dasar, pemaduan ini akan dapat dengan
mudah direalisasikan.

Dengan cara ini pula, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dapat


dibuat menjadi kontekstual, sesuatu yang hilang pada model pembelajaran
Bahasa Indonesia saat ini, sehingga pembelajaran Bahasa Indonesia kurang
diminati oleh pendidik maupun peserta didik.

Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, peserta


didik sekaligus dilatih menyajikan bermacam kompetensi dasar secara logis
dan sistematis. Mengatakan kompetensi dasar Bahasa Indonesia SD, yang
memuat penyusunan teks untuk menjelaskan pemahaman peserta didik,
terhadap ilmu pengetahuan alam sebagai mengada-ada (Acep Iwan Saidi,
“Petisi untuk Wapres”), sama saja dengan melupakan fungsi bahasa sebagai
pembawa kandungan ilmu pengetahuan.

106
Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah
digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi
belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rumusannya
berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis
materi, sehingga sangat dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang
bagaimana kurikulum seharusnya dirancang. Perbedaan ini menyebabkan
munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan kurikulum
berbasis materi. Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu terhadap
konstruksi kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah
digariskan UU Sisdiknas, sebelum mengkritik. (***)

B. Perencanaan Model Pembelajaran

Dalam usaha menciptakan sistem perencanaan, pelaksanaan, dan


pengendalian yang baik, proses panjang tersebut dibagi menjadi beberapa
jenjang, berdasarkan perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Setiap
jenjang dirancang memiliki proses sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta
didik sehingga ketidakseimbangan antara input yang diberikan dan kapasitas
pemrosesan dapat diminimalkan..

Dalam teori manajemen, sebagai sistem perencanaan pembelajaran yang


baik, kurikulum harus mencakup empat hal. Pertama, hasil akhir pendidikan
yang harus dicapai peserta didik (keluaran), dan dirumuskan sebagai
kompetensi lulusan. Kedua, kandungan materi yang harus diajarkan kepada,
dan dipelajari oleh peserta didik (masukan/standar isi), dalam usaha
membentuk kompetensi lulusan yang diinginkan. Ketiga, pelaksanaan
pembelajaran (proses, termasuk metodologi pembelajaran sebagai bagian dari
standar proses), supaya ketiga kompetensi yang diinginkan terbentuk pada diri
peserta didik. Keempat, penilaian kesesuaian proses dan ketercapaian tujuan
pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan
keluaran tersebut sesuai dengan rencana.

107
Dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi, tak tepat jika ada yang
menyampaikan bahwa pemerintah salah sasaran saat merencanakan perubahan
kurikulum, karena yang perlu diperbaiki sebenarnya metodologi pembelajaran
bukan kurikulum. Hal ini menunjukkan belum dipahaminya secara utuh bahwa
kurikulum berbasis kompetensi termasuk mencakup metodologi pembelajaran.

Tanpa metodologi pembelajaran yang sesuai, tak akan terbentuk


kompetensi yang diharapkan. Sebagai contoh, dalam Kurikulum 2013,
kompetensi lulusan dalam ranah keterampilan untuk SD dirumuskan sebagai
“memiliki (melalui mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji,
menalar, mencipta) kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif,
dalam ranah konkret dan abstrak, sesuai dengan yang ditugaskan kepadanya.”

Kompetensi semacam ini tak akan tercapai bila pengertian kurikulum


diartikan sempit, tak termasuk metodologi pembelajaran. Proses pembentukan
kompetensi itu, sudah dirumuskan dengan baik melalui kajian para peneliti,
dan akhirnya diterima luas sebagai suatu taksonomi.

Pemikiran pengembangan Kurikulum 2013 seperti diuraikan di atas


dikembangkan atas dasar taksonomi-taksonomi yang diterima secara luas,
kajian KBK 2004 dan KTSP 2006, dan tantangan Abad 21 serta penyiapan
Generasi 2045. Dengan demikian, tidaklah tepat apa yang disampaikan Elin
Driana, “Gawat Darurat Pendidikan” (Kompas, 14/12/2012) yang
mengharapkan sebelum Kurikulum 2013 disahkan, baiknya dilakukan evaluasi
terhadap kurikulum sebelumnya.

Belum lagi rumusan kompetensi yang belum sesuai dengan tuntutan UU


dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi matapelajaran dan
tumpang tindih yang tidak diperlukan pada beberapa materi matapelajaran,
kecepatan pembelajaran yang tidak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya
materi, proses, dan penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang
dilatih bernalar dan berfikir.

108
C. PENDEKATAN SAINTIFIK Kurikulum 2013
Ada lima kegiatan utama di dalam proses pembelajaran menggunakan
pendekatan saintifik, yaitu:
1. Mengamati
Mengamati dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan mencari informasi,
melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
2. Menanya
Menanya untuk membangun pengetahuan peserta didik secara faktual,
konseptual, dan prosedural, hingga berpikir metakognitif, dapat dilakukan
melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan diskusi kelas.
3. Mencoba
Mengeksplor/mengumpulkan informasi, atau mencoba untuk meningkatkan
keingintahuan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitas, dapat
dilakukan melalui membaca, mengamati aktivitas, kejadian atau objek
tertentu, memperoleh informasi, mengolah data, dan menyajikan hasilnya
dalam bentuk tulisan, lisan, atau gambar.
4. Mengasosiasi
Mengasosiasi dapat dilakukan melalui kegiatan menganalisis data,
mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan
memprediksi/mengestimasi.
5. Mengkomunikasikan
Mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil
konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau
grafik, dapat dilakukan melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau
unjuk kerja.

D. MODEL PEMBELAJARAN Kurikulum 2013

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari


awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Model pembelajaran
merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik

109
pembelajaran. Ada banyak model pembelajaran dan beberapa yang disarankan
di dalam kurikulum 2013 diantaranya adalah:

1. Inquiry Based Learning


2. Discovery Based Learning
3. Project Based Learning
4. Problem Based Learning

Langkah-langkah dari tiap model pembelajaran.


1. Inquiry Based Learning:
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Observasi/Mengamati
b) Mengajukan pertanyaan
c) Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban/ mengasosiasi atau
melakukan penalaran
d) Mengumpulkan data yang terakait dengan dugaan atau pertanyaan yang
diajukan/memprediksi dugaan
e) Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah
atau dianalisis, mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya.
2. Discovery Based Learning:
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Stimulation (memberi stimulus); bacaan, atau gambar, atau situasi, sesuai
dengan materi pembelajaran/topik/tema.
b) Problem Statement (mengidentifikasi masalah); menemukan
permasalahan menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah.
c) Data Collecting (mengumpulkan data); mencari dan mengumpulkan
data/informasi, melatih ketelitian, akurasi, dan kejujuran, mencari atau
merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah
d) Data Processing (mengolah data); mencoba dan mengeksplorasi
pengetahuan konseptualnya, melatih keterampilan berfikir logis dan
aplikatif.

110
e) Verification (memferifikasi); mengecek kebenaran atau keabsahan hasil
pengolahan data, mencari sumber yang relevan baik dari buku atau
media, mengasosiasikannya menjadi suatu kesimpulan.
f) Generalization (menyimpulkan); melatih pengetahuan metakognisi
peserta didik.
3. Problem Based Learning;
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Orientasi pada masalah; mengamati masalah yang menjadi objek
pembelajaran.
b) Pengorganisasian kegiatan pembelajaran; menyampaikan berbagai
pertanyaan (atau menanya) terhadap malasalah kajian.
c) Penyelidikan mandiri dan kelompok; melakukan percobaan (mencoba)
untuk memperoleh data dalam rangka menyelesaikan masalah yang
dikaji.
d) Pengembangan dan Penyajian hasil; mengasosiasi data yang ditemukan
dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.
e) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah;
4. Project Based Learning;
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek; langkah awal agar
peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul
dari fenomena yang ada.
b) Mendesain perencanaan proyek; menyusun perencanaan proyek bisa
melalui percobaan.
c) Menyusun jadwal sebgai langkah nyata dari sebuah proyek.
d) Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek; mengevaluasi proyek
yang sedang dikerjakan.
e) Menguji hasil; Fakta dan data dihubungkan dengan berbagai data lain.
f) Mengevaluasi kegiatan/pengalaman; mengevaluasi kegiatan sebagai
acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau
mata pelajaran lain.

111
PERTEMUAN XII
KESIAPAN BELAJAR

Dalam belajar sangatlah dibutuhkan persiapan diri untuk menghadapinya.


Belajar adalah cara seseorang untuk mengetahui suatu perihal yang belum bisa
dilakukan. Seseorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila dalam dirinya
sudah terdapat “Readiness” untuk mempelajari sesuatu itu. Karena dalam
kenyataannya setiap individu mempunyai perbedaan individu, maka masing-
masing individu mempunyai latar belakang perkembangan yang berbeda-beda.
Hal ini menyebabkan adanya pola pembentukan readiness yang berbeda-beda
pula di dalam diri masing-masing individu. Begitu pula readiness dalam belajar
sangatlah berpengaruh pada perkembangan pribadi seseorang untuk mematangkan
kesediaannya dalam belajar tersebut dengan begitu seseorang akan mudah dan
siap menerima sesuatu yang akan dipelajari dalam pembelajarannya itu sendiri.

INPUT PROSES OUTPUT

Tinggi Rendah
Sedang

Masukan Siap
Ya Fungsional Ya
Materi Output
30 orang 20

Tidak 10 Tidak

? ?

Keluar
?
112
A. Pengertian Kesiapan
Secara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk
mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Kesiapan sering kali
disebut dengan “readiness”. Seorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di
dalam dirinya sudah terdapat “readiness” untuk mempelajari sesuatu itu.
Pengertian Kesiapan menurut beberapa ahli adalah :
1. Menurut Slameto mengemukakan kesiapan adalah keseluruhan kondisi
seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon/jawaban di dalam
cara tertentu terhadap suatu situasi. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan
berpengaruh atau kecenderungan untuk memberi respon. Kondisi mencakup
setidak-tidaknya tiga aspek, yaitu:
a. Kondisi fisik, mental, dan emosional
b. Kebutuhan-kebutuhan, motif, dan tujuan
c. Keterampilan, pengetahuan, dan pengertian yang lain yang telah
dipelajari.
2. Menurut Hamalik kesiapan adalah keadaan kapasitas yang ada pada diri siswa
dalam hubungan dengan tujuan pengajaran tertentu.
3. Menurut Soemanto (ada orang yang mengartikan readiness sebagai kesiapan
atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Seorang ahli bernama
Cronbach memberikan pengertian tentang readiness sebagai segenap sifat atau
kekuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu
4. Menurut Djamarah kesiapan untuk belajar merupakan kondisi diri yang telah
dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan.
Dari gambaran di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa kesiapan
belajar adalah suatu keadaan siswa yang sudah siap atau sedia untuk melakukan
aktivitas dengan penuh kesadaran untuk memperoleh hasil yang berupa perubahan
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, kebiasaan, nilai, dan sikap dengan cara
mengamati, meniru, latihan, menyelidiki, serta masuknya pengalaman baru pada
diri siswa.

113
Secara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk
mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Kesiapan sering kali
disebut dengan “readiness”. Seorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di
dalam dirinya sudah terdapat “readiness” untuk mempelajari sesuatu itu.
Menurut Djamarah (2002:35) readiness sebagai kesiapan belajar adalah
suatu kondisi seseorang yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan.
Maksud melakukan suatu kegiatan yaitu kegiatan belajar, misalnya
mempersiapkan buku pelajaran sesuai dengan jadwal, mempersiapkan kondisi
badan agar siap ketika belajar di kelas dan mempersiapkan perlengkapan belajar
yang lainnya.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar


Adapun faktor-faktor yang menentukan readiness,yaitu :
1. Kematangan (maturation)
Kematangan adalah suatu proses pertumbuhan yang ditentukan oleh proses
pembawaan. Proses kematangan ini belajar tanpa adanya usaha usaha yang
disengaja untuk mempercepat proses ini,dan proses kematangan ini juga berjalan
jika ada usaha-usaha untuk tantangan (challenges). Dalam hampir semua
perubahan dalam kelakuan seseorang,ada dua tenaga yaitu : proses belajar dan
kematangan.
Kematangan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan
perkembangan struktur fisiologis dengan system saraf, otak, dan indera sehingga
semua itu memungkinkan individu matang mengadakan reaksi-reaksi terhadap
setiap stimulus lingkungan.
Kematangan ialah kedaan atau kondisi bentuk, struktur, dan fungsi yang
lengkap atau dewasa pada suatu organisme, baik terhadap suatu sifat, bahkan
seringkali semua sifat.
Dalam proses kematangan terdapat tiga hal pokok:
a. Kematangan mengandung arti bahwa tidak semua perubahan dan kemajuan
yang kita lihat pada anak terjadi karena pengaruh lingkungan, terutama

114
pendidikan dan pengajaran, tetapi sebagian besar terjadi karena perkembangan
dari dalam diri anak.
b. Proses kematangan terjadi melalui beberapa tingkat atau fase terlepas dari
bakat dan individu yang bersangkutan tidak ada fase yang tidak muncul atau
bertukar nomir dalam urutannya.
c. Sebagian besar dari proses perkembangan psikis pada anak hendaklah
dipandang sebagai suatu kerjasama yang kompleks antara kematangan
batiniah dan hasil belajar yang diberikan oleh lingkungannya.
Kematangan membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi
dengan cara tertentu, yang disebut “readiness”. Readiness yang dimaksud yaitu
readiness untuk bertingkahlaku, baik tingkahlaku yang instingtif (melalui proses
hereditas), maupun tingkahlaku yang dipelajari.

2. Pengalaman (eksperince)
Pengalaman adalah kejadian yang pernah dialami (dijalani, dirasai,
ditanggung dsb) baik yang sudah lama atau baru saja terjadi.
Sebelum seseorang dapat mengerjakan suatu tugas yang kompleks,ia harus
dahulu mempunyai kecakapan dasar,misalnya : bila seorang anak belum
mempunyai readiness untuk membaca,maka ia tentu belum dapat membaca
sesuatu.
Jika seorang murid belum memiliki pengalaman,maka sukar menelaah
materi yang disampaikan oleh gurunya. Dengan memiliki pengetahuan yang
banyak,seorang murid juga perlu memiliki banyak pengalaman seperti ilmu
terapan dan membaca buku.

3. Kesesuaian bahan dengan metode pengajaran (subject and teaching method


accordance)
Kalau kita bandingkan cara dan bahan pengajaran dengan kemampuan
seorang anak sejak lahir, maka dengan mudah kita dapat memilih metode apa sih
yang digunakan agar siswa sesuai mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam hal
ini,kita harus melihat sejauh mana kesiapan seorang siswa dalam menerima
pembelajaran. Dengan begitu seorang pengejar juga akan lebih mudah

115
menentukan cara apa/metode apa yang harus digunakan,dan melalui bahan yang
sesuai untuk di ajarkan.
Untuk pengajaran yang bersifat skill (kecakapan) harus dihubungkan
dengan sesuatu objek yang mempunyai arti (meaningfull),misalnya kecakapan
harus yang berhubungan dengan sesuatu mata pelajaran.

4. Sikap emosional dan penyesuaian diri (emotional attitude and self adjucment)
Sikap emodianal adalah suatu kemampuan yang dapat mengerti emosi diri
sendiri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi diri sendiri
terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis sebagai kekuatan pribadi.
Sebagian murid sulit untuk melakukan hal ini. Sikap emosional seorang
murid dalam belajar sangat mempengaruhi kesiapan belajarnya (readiness for
learning). Menurut penelitian,sperlima dari murid-murid yang terbelakang
membaca,disebabkan adanya ketegangan emosionalnya. Ketegangan-ketegangan
emosi (emotional tension) ini kerap kali merupakan sebab dan akibat dari
kegagalan belajar anak.
Hal-hal yang menimbulkan ketegangan emosi itu antara lain disebabkan
oleh :
a. Kebutuhan yang tidak terpenuhi
b. Anak-anak yang terlalu dilindungi (over protection)
c. Rejection (sikap antagonist terhadap orang lain. Anak yang diterima dengan
tidak senang hati oleh orang tuanya)
d. Pengalaman kegagalan di luar sekolah
e. Kesulitan-kesulitan diluar sekolah
Penyuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri
sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati,
pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif sebagai respon
pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas,
menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk

116
harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara
moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai
sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan
mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik,
kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
Beberapa kejadian yang mengurangi kepercayaan terhadap diri pribadi
anak (self confidence) yaitu adanya sisnisme terutama di hadapan,orang banyak.
Juga kompetisi yang terlalu erat antara teman-teman kelompoknya menimbulkan
ketegangan emosional dan mengembangkan kepercayaan terhadap diri anak
tersebut.
Menurut Djamarah (2002:35) faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan
belajar meliputi:
a. Kesiapan fisik
Kesiapan fisik berkaitan erat dengan kesehatan yang akan berpengaruh
pada hasil belajar dan penyesuaian sosial individu. Individu yang kurang sehat
mungkin kurangnya vitamin, badanya kurang energi untuk belajar. Hal ini dapat
mempengaruhi pada kelancaran proses belajar. Begitupun sebaliknya jika badan
tidak sakit (jauh dari gangguan lesu mengantuk, dan sebagainya). Hal ini akan
memudahkan untuk belajar karena tidak ada gangguan dari kondisi fisiknya.
b. Kesiapan psikis
Kesiapan psikis berkaitan dengan kecerdasan, daya ingat tinggi, kebutuhan
yang terpuaskan, ada hasrat atau motivasi untuk belajar, dapat berkonsentrasi, dan
ada perhatian
c. Kesiapan Materiil
individu dalam mempelajari materi tentunya harus mempunyai bahan yang
dapat dipelajari atau dikerjakan, misalnya buku bacaan, buku paket dari sekolah
maupun diktat lain yang relevan digunakan sebagai bahan acuan belajar,
mempunyai buku catatan dll. Dengan di dukung dengan berbagai sumber bacaan
maka akan memberikan pengetahuan dan akan membantu siswa dalam merespon
atas pertanyaan-pertanyaan dari guru terkait dengan pelajaran.

117
C. Prinsip dan aspek kesiapan Belajar
Prinsip-prinsip kesiapan menurut Soemanto meliputi :
a. Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk readiness
b. Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu
c. Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi
kepribadian individu, baik jasmaniah maupun rohaniah
d. Apabila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri
seseorang, maka saat- saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan
masa formatif bagi perkembangan pribadinya.
Sedangkan Slameto mengemukakan prinsip–prinsip readiness :
a. Semua aspek perkembangan saling berinteraksi (saling pengaruh
mempengaruhi)
b. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh manfaat dari
pengalaman
c. Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesiapan

d. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periode tertentu


selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.
Berdasarkan prinsip tersebut jelaslah bahwa apa yang telah dicapai oleh
seseorang pada masa lalu akan mempunyai arti bagi aktivitas-aktivitasnya
sekarang. Apa yang telah terjadi sekarang akan memberikan sumbangan terhadap
readiness individu di masa mendatang.

D. Pembentukan Kesiapan dalam Belajar


Dalam pembentukan readiness meliputi :
a. Prinsip-prinsip Readiness dalam belajar yang melibatkan beberapa faktor yang
bersama-sama membentuk readiness yaitu :
1. Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis, ini menyangkut pertumbuhan
terhadap kelengkapan pribadi seperti tubuh yang umumnya, alat-alat indra
dan kapasitas intelektual.

118
2. Motivasi yang menyangkut kebutuhan, minat serta tujuan-tujuan individu
untuk mempertahankan serta mengembangkan diri. Motivasi berhubungan
dengan sistem kebutuhan dalam diri manusia serta tekanan-tekanan
lingkungan.
Dengan demikian, readiness seseorang itu senantiasa mengalami
perubahan setiap hari sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan
fisiologis individu. perkembangan readiness terjadi dengan mengikuti prinsip-
prinsip tertentu. Adapun prinsip-prinsipnya yaitu :
1. Semua aspek berinteraksi dan bersama-sama membentuk readiness
2. Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis
individu
3. Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-
fungsi kepribadian individu, baik jasmaniah maupun yang rohaniah.
4. Apabila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada
diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang
merupakan masa formatif bagi perkembangan pribadinya.

b. Kematangan sebagai dasar dari pembentukan Readiness


Individu mengalami pertumbuhan materiil jasmaniah bahwa pertumbuhan
pada masing-masing individu tidak sama. Perbedaan itu dapat disebabkan oleh
pengaruh fisiologis, psikologis dan bahkan sosial. Antara kondisi fisik dan
kehidupan sosial terdapat hubungan timbal balik.
Superioritas jasmanilah tidak mesti berarti menjadikan superioritas tingkah
laku. Sering orang beranggapan, apabila seseorang memiliki kondisi fisik yang
menonjol seperti bertubuh gemuk, kuat, cantik atau tampan dan sebagainya dapat
menunjukkan pola tingkah laku yang dipuji oleh orang lain. Pengaruh kondisi
jasmaniah terhadap pola tingkah laku atau pengakuan sosial sangat tergantung
kepada :
a. Pengakuan individu yang bersangkutan terhadap diri sendiri (self concept)
b. Pengakuan dari orang lain atau kelompoknya. Masing-masing individu
mempunyai sikap tersendiri terhadap keadaan fisiknya.

119
Perubahan jasmaniah memerlukan bantuan “motor learning” agar
pertumbuhan itu mencapai kematangan. Kematangan ataupun kondisi baru akan
memperoleh pengakuan sosial, apabila individu yang bersangkutan mengusahakan
“sosial learning”. Dengan demikian sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhannya,
berlajarnya, dan lingkungan sosialnya.
1. Dasar-Dasar Biologis Tingkah Laku
Tingkah laku individu didasari oleh pertumbuhan biologisnya. Sistem
syaraf merupakan penggerak tingkah laku manusia secara biologis. Pusat sistem
syaraf terdiri dari otak dan sum-sum tulang belakang. Itulah yang berfungsi
sebagai pengatur gerakan jasmaniah pada tubuh. Tingkah laku manusia dapat
terbagi atas dua macam reaksi yaitu ;
a. Respondent behavior, yaitu tingkah laku bersyarat dan tidak sengaja selalu
tergantung kepada stimuli
b. Operant behavior, yaitu tingkah laku disengaja dan tidak selalu tergantung
pada stimuli.
c. Setiap jenis tingkah laku, baik yang disengaja maupun tidak, memerlukan
kematangan fungsi jasmaniah, terutama fungsi-fungsi sistem syaraf dan
fungsi-fungsi vital jasmaniah.
2. Perubahan-perubahan dalam otak yang menimbulkan kematangan
Setelah otak menjadi matang mengalami perubahan fisik pada manusia.
Perubahan ini dapat menimbulkan tingkah laku baru tak terduga sebelumnya.
Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hampir
sempurna pada saat anak tiba masuk sekolah dasar. Pada umur-umur setelah 6
tahun, terjadilah perubahan-perubahan penting dalam struktur otak, namun
perkembangan kapasitas mental lebih banyak diakibatkan oleh pengalaman atau
belajar. Perkembangan prestasi akademik pada anak-anak sesudah mencapai masa
remaja lebih banyak dipengaruhi oleh faktor motivasi dan belajar.

3. Kematangan membentuk Readiness


Perubahan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan
perkembangan struktur fisiologis dalam sistem saraf, otak dan indra sehingga

120
semua itu memungkinkan individu matang mengadakan reaksi-reaksi terhadap
setiap stimulus lingkungan.
Kematangan ialah keadaan atau kondisi bentuk struktur dan fungsi yang
lengkap atau dewasa pada suatu organisme, baik terhadap satu sifat, bahkan
seringkali semua sifat. Kematangan (Maturity) membentuk sifat dan kekuatan
dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu, yang disebut “readiness”.
Rediness yang dimaksud yaitu readiness untuk bertingkah laku, baik tingkah laku
yang instingtif, maupun tingkah laku yang dipelajari.

4. Lingkungan atau kultur sebagai penyumbang pembentukan Readiness


Memang, anak mengalami pertumbuhan, dan pertumbuhan fisiknya
merupakan penyumbang terpenting bagi pembentukan readiness. Perkembangan
mereka tergantung pada pengaruh lingkungan dan kultur disamping akibat
tumbuhnya pada pola jasmaniah. Stimulasi lingkungan serta hambatan-hambatan
mental individu mempengaruhi perkembangan mental, kebutuhan, minat, tujuan-
tujuan, perasaan, dan karakter individu yang bersangkutan.
Dalam perkembangan kehidupan individu, lingkungan yang dihadapi atau
direaksi semakin luas. Meluasnya lingkungan dapat melalui beberapa cara antara
lain :
a. Perluasan paling nyata adalah dalam arah stimuli fisik anak. Makin tua umur
manusia, makin luas pula medan geografis yang dihadapi dan arah stimulasinya
semakin melebar pula.
b. Manusia yang mengalami perkembangan kapasitas intelektual dan disamping
itu pemikirannya meningkat, maka dalam hidupnya terjadi banyak perubahan
lingkungan. Dan perkataan lain lingkungan banyak mengalami perubahan di
dalam diri manusia, misalnya di dalam pengamalannya, kesan-kesannya,
ingatannya, imajinasinya dan yang terlebih penting adalah dalam pemikirannya.

Perubahan lingkungan di dalam kemampuan individu membuat keputusan.


Dengan adanya lingkungan dalam diri manusia ini, maka manusia pun menjadi
lebih bebas menggunakan dunia untuk tujuan-tujuan manusia. Perubahan
lingkungan ini terjadi akibat belajar serta bertambahnya kematangan manusia.

121
PERTEMUAN XIII
MENEMUKAN MAKNA BELAJAR

Belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Belajar Anda lakukan


seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat
ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya.
Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan
membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar
seperti Anda.
Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan
keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah.
Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang
menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya
jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif
singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.
Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses?
Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah
diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak,
menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak
jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam.
Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari
koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil
melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang
dibutuhkan.
Sedikitnya ada dua hal yang membuat sang bayi berhasil. Pertama, ia tidak
pemah mengenal konsep kegagalan. Ia hanya tahu untuk mencoba dan mencoba
belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak mau tersungkur untuk selama-
lamanya.Kedua, sang bayi selalu mendapat dukungan positif. Ketika ia jatuh
orangtuanya berkata, “Ayo nak berdiri lagi. Mama akan membantumu.” Dan
ketika ia berhasil, semua orang bergembira dan memberi selamat atas
keberhasilannya.

122
Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda
sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah
berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin
dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat
menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda
akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di
perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian
berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah
beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi.
Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar.
Cara dan gaya Anda belajartidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh
seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara
dan gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas
belajar yang membosankan.
Setelah lulus apa yang terjadi? Ternyata pasar tenaga kerja sering kesal
dengan para fresh graduate ini. Para lulusan dianggap tidak memiliki pengetahuan
dan ketrampilan yang cukup untuk menghadapi dunia nyata yang harus
dihadapinya. Anda harus ditraining kembali untuk bekerja. Padahal Anda telah
belajar bertahun-tahun. Enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SMP, tiga tahun
untuk SMA dan sekitar empat sampai enam tahun di perguruan tinggi.
Tapi itulah yang terjadi. Hasil belajar Anda tidak dihargai. Anda hanya
dihargai dari selembar ijazah sebagai prasyarat untuk melamar kerja. Selebihnya,
Anda harus bersaing lagi, Anda harus dites lagi dan akhirnya, Anda malah di-
trainingkembali.
Temyata, ada yang salah dalam proses pendidikan kita sekarang. Seorang
sarjana teknik jadi pengusaha. Lulusan ekonomi jadi wartawan. Tamatan ilmu
komputer bekerja di bank. Memang hal itu sah-sah saja, tapi rasanya ilmu yang
didapatkan menjadi kurang berguna.
Kita perlu mengubah semua kejadian tadi. Kita perlu belajar kembali
tentang bagaimana caranya belajar. Belajar harus menjadi hal yang

123
menyenangkan. Anda belajar bukan kerena terpaksa tetapi karena belajar memang
menyenangkan dan Anda mencintainya.
Bobbi de Porter memberikan pemecahan alternatif dengan
metode Quantum Learning. Nama Quantum sendiri menunjukkan adanya
lompatan besar terhadap cara pandang kita selama ini tentang belajar. Dengan
berbagai keterampilan teknis seperti membaca cepat, teknik mencatat, bagaimana
berpikir logis dan kreatif, serta menghilangkan mitos “Aku tidak
bisa”. Perubahan paradigma ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata
terhadap kesuksesan Anda.
Anda pasti kenal Aristoteles, seorang ahli hikmah dari Yunani. Anda juga
perlu merujuk pada ilmuwan muslim masa lalu. Al-Farabi yang ahli fisika, Ibnu
Sina yang ahli kedokteran, atau Jabir bin Hayyan yang ahli kimia serta banyak
lagi lainnya. Mereka adalah para ahli multi disiplin ilmu. Mereka sekaligus
spesialis tak tertandingi di bidangnya. Satu hal yang seringkali kita lupa bahwa
kita pun merniliki potensi yang sama dengan mereka. Hanya saja, mereka
memanfaatkan potensi tersebut sedangkan kita mengabaikannya.
Apa yang membedakan mereka dari kita? Tampaknya hanya satu hal yakni
paradigma atau cara pandang mereka terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka
belajar dengan cara menemukan lebih dahulu apa manfaat dan bidang-bidang
yang mereka kuasai. Mereka tidak ingin sekedar prestise yang diperoleh dari
selembar ijazah tapi ingin penguasaan yang menyeluruh. Dengan demikian,
mereka belajar dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka akan terus menggali ilmu
dengan kesungguhan sampai maut memisahkan.
Agama menyuruh umatnya untuk giat menuntut Ilmu. Al-Qur’an
mengatakan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu lebih
tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Nabi mengajarkan untuk menuntut
ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Ilmu laksana hikmah yang harus terus
dicari, digali, dieksplorasi dan akhimya diambil dan dimanfaatkan demi kebaikan.
Betapa banyak ayat-ayat Al-Qn’an yang menyuruh kita menggunakan akal untuk
berpikir, menggunakan hati untuk merenung, serta memanfaatkan potensi diri
sebesar-besarnya.

124
Sebagai seorang calon intelektual kegiatan belajar merupakan makanan
sehari-hari bagi Anda. Akan tetapi, sudahkah Anda memiliki motivasi yang tepat,
niat yang benar serta mampu melihat manfaat dari setiap bidang yang Anda
pelajari? Wallahu a’lam.
Dengan mengubah cara pandang tentang belajar maka belajar Anda akan
menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anda tidak akan pernah lagi merasakan
belajar sebagai sebuah beban melainkan melihatnya sebagai sebuah tantangan.
Anda akan memasuki wilayah eksplorasi ilmu yang tiada habis-habisnya. Anda
akan merasakan indahnya ilmu Allah SWT yang saling terkait satu sama lain.
Anda akan terus-menerus menemukan manfaat dan minat-minat baru dalam
belajar. Anda tidak akan pernah puas mereguk lautan ilmu. Semakin banyakAnda
mereguknya, Anda hanya akan semakin haus. Dan akhirnya Anda akan menjadi
seorang pelajar Quantum. Seorang yang belajar kapan saja, di mana saja, dari
siapa saja dan dengan cara apa saja. Anda bisa belajar di ruang kelas, di kamar
pribadi, di bus, atau di jalanan. Anda dapat memperoleh ilmu dari dosen, teman,
tukang ojek, atau bahkan anak-anak. Andajuga dapat belajar dengan cara
membaca buku, berdialog dengan orang lain, belajar dari pengalaman pribadi dan
pengalaman orang lain, atau belajar dan alam semesta dengan melihat tanda-tanda
kebesaran-Nya. Belajar Anda tidak lagi mengenal batasan tempat dan waktu.
Dalam pikiran kebanyakan praktisi pendidikan, makna dan hakikat belajar
seringkali hanya diartikan sebagai penerimaan informasi dari sumber informasi
(guru dan buku pelajaran). Akibatnya, guru masih memaknai kegiatan mengajar
sebagai kegiatan transfer informasi (baca: penuangan ‘air’ informasi) dari guru ke
siswa. Untuk keperluan implementasi KBM yang bernuansa KBK, guru perlu
melakukan pembalikan makna dan hakikat belajar. Pada pandangan dan
paradigma ini, makna dan hakikat Belajar diartikan sebagai proses membangun
makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun
makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses
itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa.
Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru.

125
Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat
pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang berupa pengetahuan,
sikap, dan keterampilan. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang
terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. Proses belajar bersifat
individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai
dengan perkembangannya dan lingkungannya. Pembelajaran adalah sesuatu yang
dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antara anak
dengan lingkungannnya baik antar anak dengan anak, anak dengan sumber
belajar, maupun anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi
bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan
memberikan rasa aman bagi anak. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya
pendidik untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar,
demi mencapai hasil belajar yang memuaskan (Isjoni, 2009).
David Ausubel (1963) seorang ahli psikologi pendidikan menyatakan bahwa
bahan pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ (meaningfull). Pembelajaran
bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-
konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seorang. Struktur kognitif
ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah
dipelajari dan dingat siswa. Belajar bermakna menurut Ausubel (1963) merupakan
proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah
ada dalam struktur kognitif. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kebermaknaan
dalam suatu pembelajaran, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas dan
kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.
Sehubungan dengan hal ini, Dahar (1996) mengemukakan dua prasyarat
terjadinya belajar bermakna, yaitu: (1) materi yang akan dipelajari harus
bermakna secara potensial, dan (2) anak yang akan belajar harus bertujuan belajar
bermakna. Di samping itu, kebermaknaan potensial materi pelajaran bergantung
kepada dua faktor, yaitu (1) materi itu harus memiliki kebermaknaan logis, dan

126
(2) gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif peserta
didik.
Muchlas Samani (2007) mengemukakan bahwa apapun metode
pembelajarannya, maka harus bermakna (meaningfull learning). Pembelajaran
bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-
konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif
ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah
dipelajari dan diingat siswa.
Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang menyenangkan yang
akan memiliki keunggulan dalam meraup segenap informasi secara utuh sehingga
konsekuensi akhir meningkatkan kemampuan siswa. Pembelajaran
bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-
konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Pembelajaran
bermakna ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep,
informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam
struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep
atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-
konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang
dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan
demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha
mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki peserta didik dan
membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan
pengetahuan baru yang akan diajarkan. Jadi belajar akan lebih bermakna jika anak
mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak
indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. Belajar bermakna
memiliki kondisi-kondisi sebagai berikut:
a. Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan-bahan baru dengan bahan-
bahan lama.Lebih dahulu memberikan ide yang paling umum kemudian
hal-hal yang lebih terperinci
b. Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan
bahan lama

127
c. Mengusahan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnyasebelum ide
yang baru disajikan.
Menurut Nana (2005) dalam pembelajaran terdapat syarat-syarat yang
dapat menunjang terciptanya pembelajaran bermakna yaitu:
1. Bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif
secara substansial dan dengan beraturan.
2. Siswa memiliki konsep yang sesuai dengan bahan yang akan
dihubungkan.
3. Siswa harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep tersebut
dengan struktur kognitifnya secara substansial dan beraturan pula.
Ausubel dalam Dahar (1989) menggemukakan tiga kebaikan dari belajar
bermakna yaitu:
a. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
b. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar
berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
c. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-
hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Pembelajaran bermakna erat kaitannya dengan teori konstruktivisme
pemikiran Vygotsky (Social and Emancipator Constructivism). Paham ini
berpendapat bahwa siswa mengkonstruksikan pengetahuan atau menciptakan
makna sebagai hasil dari pemikiran dan berinteraksi dalam suatu konteks sosial.
Teori belajar ini merupakan teori tentang penciptaan makna. Selanjutnya, teori ini
dikembangkan oleh Piaget (Piagetian Psychological Constructivism) yang
menyatakan bahwa setiap individu menciptakan makna dan pengertian baru
berdasarkan interaksi antara apa yang telah dimiliki, diketahui dan dipercayai
dengan fenomena, ide atau informasi baru yang dipelajari. Piaget menjelaskan
bahwa setiap siswa membawa pengertian dan pengetahuan awal yang sudah
dimilikinya ke dalam setiap proses belajar yang harus ditambahkan, dimodifikasi,
diperbaharui, direvisi, dan diubah oleh informasi yang dijumpai dalam proses
belajar. Itulah sebabnya Vygotsky menyatakan bahwa proses belajar tidak dapat
dipisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi karena persepsi dan aktivitas berjalan

128
seiring secara dialogis. Belajar merupakan proses penciptaan makna sebagai hasil
dari pemikiran individu dan melalui interaksi dalam suatu konteks sosial.
Penciptaan makna terjadi pada dua jenjang, yaitu pemahaman mendalam (inert
understanding) dan pemahaman terpadu (integrated understanding).
Hal demikian bisa terwujud melalui partisipasi aktif antara guru dan siswa,
saling menghormati dan menghargai. Setiap individu dapat belajar, menciptakan
makna, dan berkreasi berdasarkan konteks komunitas budayanya masing-masing.
Dalam hubungan ini, David Ausubel (1963) mengklasifikasikan belajar dalam dua
dimensi. Pertama, menyangkut cara penyajian materi diterima oleh peserta
didik.Melalui dimensi ini, peserta didik memperoleh materi/informasi melalui
penerimaan dan penemuan. Maksudnya peserta didik dapat mengasimilasi
informasi/materi pelajaran dengan penerimaan dan penemuan. Dimensi kedua,
menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi atau materi
pelajaran dengan struktur kognitif yang telah ada. Jika peserta didik hanya
mencoba-coba menghafalkan informasi atau materi pelajaran baru tanpa
menghubungkannya dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang ada dalam
struktur kognitifnya, maka terjadilah yang disebut dengan belajar
hafalan.Sebaliknya, jika peserta didik menghubungkan informasi atau materi
pelajaran baru dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang telah ada dalam
struktur kognitifnya, maka terjadilah yang disebut dengan belajar bermakna.
Ausubel membedakan belajar menjadi belajar menerima dan belajar
menemukan. Pada belajar menerima, bentuk akhir dari sesuatu yang diajarkan itu
diberikan, sedangkan belajar menemukan bentuk akhir itu harus dicari peserta
didik. Selain itu Ausubel juga membedakan antara belajar bermakna dan belajar
menghafal. Belajar bermakna adalah suatu proses di mana informasi baru
dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang
sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal diperlukan untuk memperoleh
informasi baru seperti definisi. Menurut teori belajar bermakna, belajar menerima
dan belajar menemukan keduanya dapat menjadi belajar bermakna apabila konsep
baru atau informasi baru dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam

129
struktur kognitif peserta didik. Langkah-langkah kegiatan yang mengarah pada
timbulnya pembelajaran bermakna adalah sebagai berikut:
a. Orientasi mengajar tidak hanya pada segi pencapaian prestasi akademik,
melainkan juga diarahkan untuk mengembangkan sikap dan minat
belajar serta potensi dasar siswa.
b. Topik-topik yang dipilih dan dipelajari didasarkan pada pengalaman
anak yang relevan. Pelajaran tidak dipersepsi anak sebagai tugas atau
sesuatu yang dipaksakan oleh guru, melainkan sebagai bagian dari atau
sebagai alat yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.
c. Metode mengajar yang digunakan harus membuat anak terlibat dalam
suatu aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan.
d. Dalam proses belajar perlu diprioritaskan kesempatan anak untuk
bermain dan bekerjasama dengan orang lain.
e. Bahan pelajaran yang digunakan hendaknya bahan yang konkret
f. Dalam menilai hasil belajar siswa, para guru tidak hanya menekankan
aspek kognitif dengan menggunakan tes tulis, tetapi harus mencakup
semua domain perilaku anak yang relevan dengan melibatkan sejumlah
alat penilaian.
Pembelajaran bermakna bisa terjadi jika relevan dengan kebutuhan peserta
didik, disertai motivasi instrinsik dan kurikulum yang tidak kaku. Kejadian belajar
bermakna didorong oleh hasrat dan intensitas keingintahuan peserta didik tentang
bidang studi tertentu. Dalam hubungan ini, Rogers (1969) mengemukakan tentang
iklim kelas yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna, yaitu sebagai
berikut:
1. Terimalah peserta didik apa adanya.
2. Kenali dan bina peserta didik melalui penemuannya terhadap diri
sendiri.
3. Usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh peserta didik
untuk dapat memlilh dan menggunakannya.
4. Gunakan pendekatan iquiry-discovery.

130
5. Tekankan pentingnya pendekatan diri sendiri dan biarkan peserta didik
mengambil tanggung jawab sendiri untuk memenuhi tujuan belajarnya.
Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi
baru pada konsep konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Ausubel dan Robinson dalam Sukmadinata (2003: 188) memberikan batasan
antara belajar bermakna (meaningful learning) dengan belajar menghafal (rote
learning). Dalam belajar bermakna ada dua hal penting, ”pertama bahan yang
dipelajari, dan yang kedua adalah struktur kognitif yang ada pada individu”. Yang
dimaksud dengan struktur kognitif adalah jumlah, kualitas, kejelasan dan
pengorganisasian dari pengetahuan yang sekarang dikuasai oleh individu. Dalam
belajar menghafal, siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan
oleh guru atau yang dibaca tanpa makna.
Implikasi pembelajaran bermakna adalah terjadinya konflik kognitif. Karli
dan Sriyuliariatiningsih (2004: 3) mengungkapkan bahwa, ”konflik kognitif
terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan
fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja”, sehingga diperlukan
perubahan atau modifikasi stuktur kognitif (skemata) untuk mencapai
keseimbangan. Peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan selama siswa
menerima pengetahuan baru.

131
PERTEMUAN XIV
TEKNIK PENGELOMPOKAN

A. Hakikat Pengelompokan dalam Belajar


1. Pengertian Kelompok belajar
Fred Percival & Henry Ellington (1988 78) menayatakan ; “Kelompok
belajar adalah suatu tehnik yang dapat dieprgunakan untuk meningkatkan
mutu belajar secara kelompok. Kelompok belajar merupakan kegiatan
belajar yang diikuti lebih dari satu orang, dalam memecahkan masalah yang
dihadapi bersama untuk melakukan perubahan-perubahan bersifat
pengetahuan, keterampilan maupun nilai sikap untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi oleh kelompok belajar. Fred Percival & Henry
Ellington (1988 78) menayatakan ; “Kelompok belajar adalah suatu tehnik
yang dapat dieprgunakan untuk meningkatkan mutu belajar secara
kelompok.
Dari uraian diatas dapat dapat disimpulakan bahwa kelompok belajar
adalah suatu tehnik yang dapat dipergunakan oleh sekelompok individu
yang sedang belajar untuk melakukan perubahan¬perubahan baik
pengetahuan maupun keterampilan serta nilai sikap untuk mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi dalam belajar.

B. Teknik Pengelompokan Belajar


Dalam proses belajar mengajar (pbm) kadang diperlukan
pengelompokkan siswa, baik itu untuk pbm di kelas (diskusi sampai dengan
presentasi) maupun di luar kelas (survey, observasi, penelitian, percobaan,
praktikum, dll). Tehnik pengelompokkan yang baik akan membantu siswa
dalam :
a. Mengenal lebih dekat karakter teman hingga bisa belajar toleransi
b. Belajar bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya.
c. Mengurangi gap antar teman (jika ada)
d. Mendalami materi ajar

132
Ada beberapa cara yang dapat dipergunakan dalam teknik
pengelompokan belajar antara lain : berdasarkan kemampuan siswa,
berdasarkan teman bergaul dan berdasarkan kesamaan minat dan bakat.
Adapun alasan -alasan tiap-tiap system dapat diikuti uraian sebagai berikut :
a. Pembentukan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan berbeda.
Pembentukan kelompok belajar berdasarkan tingkat kemampuan ini,
siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dibagi dan disebar keseluruh
kelompok. Hal ini dimaksudkan agar siswa yang berkemampuan tinggi
dapat membantu belajar siswa -siswa yang berkemampuan sedang dan
rendah. Pembentukan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan ini, harus
dibuat oleh guru atau pembimbing, sebab kalau hal itu disusun oleh siswa
sendiri, maka siswa yang pandai cenderung memilih teman-teman yang
berkemampuan tinggi, agar mereka lebih memperoleh kemudahan dalam
memecahkan masalah dalam belajar.
b. Pembentukan kelompok belajar berdasarkan kesukaan dalam bergaul.
Pembentukan kelompok berdasarkan kesukaan dalam bergaul akan
bermanfaat sekali dalam kegiatan kelompok belajar. Hal ini didasrkan
bahwa setiap individu dalam kelompok akan mendapatkan kebebasan untuk
melakukan interaksi dalam belajar. Dalam hal ini setiap individu kelompok
lebih terbuka dalam menyampaikan berbagai kesulitan yang dihadapi.
Keterbukaan ini karena keakraban mereka dalam bergaul dalam setiap
harinya, sehingga dalam kelompok tersebut terjadi hubungan erat yang
saling membantu dan saling membutuhkan. Dalam pembentukan kelompok
belajar berdasarkan kesukaan bergaul ini, kelompok disusun oleh siswa
sendiri sebab yang mengetahui teman akrab dalam bergaul adaalah siswa-
siswa itu sendiri. Namun demikian, guru harus memperhatikan apabila
secara kebetulan kelompo itu tersusun dari teman bergaul yang tingkat
kemampuannya rendah, maka akan dapat menghambat slswa dalam
kelancara belajar, dan sebaliknya apabila secara kebetulan terbentuk dari
kelompok teman bergaul yang taraf kemampuannya tinggi justru akan

133
memperlancar dalam proses belajar, sebab dalam kelompok tersebut akan
muncul kecenderungan aktivitas belajar untuk bersaing.
c. Pembentukan kelompok belajar atas dasar minat dan bakat.
Dalam pembentukan kelompok belajar berdasarkan minat dan bakat ini akan
lebih efektif. Sebab minat merupakan suatu bentuk kecenderungan yang
terdapat pada individu untuk melakukan sesuatu guna mencukupi atau
memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya minat pada setiap individu
maka baakat-bakat yang ada pada setiap individu akan berkembang dengan
baik. Kalau hal itu dilakukan dalam sekelompok individu yang mempunyai
minat dan bakat yang sama, maka akan dapat menhasilkan kegiatan belajar
yang lebih sempuma. Sebab dengan adanya minat yang sama berarti setiap
individu telah termotivasi oleh dirinya, sehingga akan timbul semangat
belajar yang tinggi dan dapat menghasilkan pre stasi belajar yang tinggi
pula. Dengan adanya bakat yang sama, maka dalam kelompom tersebut juga
akan memperoleh keahlian yang sama.
Dalam pembentukan kelompok belajar berdasarkan minat dan bakat yang
sama ini, kelompok haruslah disusun oleh guru, sebab yang lebih
mengetahui minat dan bakat dari setiap individu siswa adalah guru. Oleh
karena itu, sebaiknya diawal Tahun Pelajaran baru, siswa yang baru masuk
dikelas satu perlu diadakan tes bakat dan minat agar hasilnya dapat
dipergunakan sebagai dasar dalam pembentukan kelompok belajar.
d. Informasi dari bahan ajar sesuai bahan yang sedang diajarkan , misalnya
dalam pelajaran biologi kelas VII SMP bisa berdasarkan klasifikasi
tumbuhan atau hewan, di kelas VIII bisa berdasarkan nama-nama alat
metabolisme tubuh manusia, dst. Atau dalam pelajaran matematika kelas
VII semester satu berdasarkan jenis bilangan, nama operasi hitung dan
sebagainya.

Dengan cara ini diharapkan mereka bisa saling mengenal lebih dalam dan
menambah keakraban diantara mereka sehingga dapat juga mengatasi kesulitan
belajar antar teman.

134
Dalam pengelompokkan berdasarkan bahan ajar, guru perlu menyiapkan
sedikit properti atau alat bantu secara khsusus. Misalnya untuk matematika
kelas VII semester dua sedang membahas jenis bidang datar dan telah tau jenis
himpunan bilangan, maka tehnik pengelompokkan bisa menggunakan data-data
itu. Caranya dengan menuliskan data tersebut pada kertas karton putih (agar
tidak mudah rusak, dan bisa digunakan lagi di lain kesempatan ) berukuran
4cm x 2cm atau sesuai keinginan anda. Untuk efisiensi, dalam satu kertas bisa
ditulis tiga jenis data agar dapat digunakan untuk tiga kali pengelompokkan.
Dengan melibatkan data-data bahan ajar pada tehnik pengelompokkan ini,
diharapkan siswa pun dapat terlibat lebih dalam dengan materi ajar itu sendiri
dan mengenal secara konsep.
Penggantian anggota kelompok, perlu dilakukan secara berkala agar siswa
dapat belajar menerima teman dari berbagai latar belakang, jadi tidak memilih-
milih teman. Dengan cara ini diharapkan akan dapat mengurangi kemungkinan
adanya siswa yang minder atau pun yang over confiden.

C. Cooperative Learning
1. Pengertian Cooperative Learning
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu
sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Cooperative learning
adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif
sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.
Menurut Agus Suprijono cooperative learning atau disebut
pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis
kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau
diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih
diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-
pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang
untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.

135
Guru biasanya menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir
tugas.Pembelajaran kooperative merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem pengelompokkan/tim kecil, yaitu antara empat sampai
enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaian
dilakukan terhadap kelompok. Setiap anggota kelompok akan mempunyai
ketergantungan positif.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat dikatakan bahwa belajar
kooperatif mendasarkan pada suatu ide bahwa siswa bekerja sama dalam
belajar kelompok dan sekaligus masing-masing bertanggung jawab pada
aktivitas belajar anggota kelompoknya. Sehingga seluruh anggota kelompok
dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.
Pembelajaran kooperatif menekankan kerjasama antara siswa dalam
kelompok. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa siswa lebih mudah
menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka saling mendiskusikan
masalah tersebut dengan temannya. Banyak anggota suatu kelompok dalam
belajar kooperatif, biasanya terdiri dari empat sampai enam orang dimana
anggota kelompok yang terbentuk diusahakan heterogen berdasarkan
kemampuan akademik, jenis kelamin dan etnis.
Kegiatan siswa dalam belajar kooperatif antara lain mengikuti
penjelasan guru secara aktif, menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok,
memberikan penjelasan kepada teman sekelompoknya, mendorong teman
kelompoknya untuk berpartisipasi secara aktif, dan berdiskusi. Agar
kegiatan siswa berlangsung dengan baik dan lancar diperlukan
keterampilan-keterampilan khusus, yang disebut keterampilan kooperatif.
Keterampilan kooperatif dapat dibangun dengan mengembangkan
komunikasi dan pembagian tugas antara anggota kelompok.

2. Konsep Strategi Cooperative Learning


Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai

136
tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting
dalam cooperative learning, yaitu :
Pertama, adanya Peserta dalam Kelompok. Peserta adalah siswa yang
melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar.
Pengelompokkan siswa bisa ditetapkan berdasarkan beberapa pendekatan,
diantaranya pengelompokkan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa,
pengelompokkan yang didasarkan atas latar belakang kemampuan,
pengelompokkan yang didasarkan atas campuran ditinjau dari kemampuan.
Pendekatan apapun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi
pertimbangan utama.
Kedua, adanya Aturan Kelompok. Aturan kelompok adalah segala
sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik sisnwa
sebagai peserta didik maupun siswa sebagai anggota kelompok.Ketiga,
adanya Upaya Belajar Setiap Anggota Kelompok. Upaya belajar adalah
segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah
dimiliki maupun kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek
pengetahuan, sikap maupun keterampilan.
Keempat, adanya Tujuan yang Harus Dicapai. Aspek tujuan
dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi. Melalui tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat
memahami sasaran setiap kegiatan belajar.

3. Unsur-unsur Cooperative Learning


Pada pembelajaran kooperatif terdapat beberapa unsur yang saling
terkait satu dengan lainnya. Menurut Bennet dan Jacobs menjelaskan unsur-
unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut :
Pertama, saling ketergantungan secara positif adalah perasaan antar
kelompok siswa untuk membantu setiap orang dalam kelompok tersebut.
Saling ketergantungan berarti bahwa anggota-anggota kelompok merasakan
bahwa mereka tenggelam atau berenang bersama. Saling ketergantungan
akan muncul apabila kelompok membagi tujuan bersama. Saling

137
ketergantungan secara positif dalam kelompok meliputi tujuan,
penghargaan, peranan, sumber dan indentitas. Sehingga dengan rasa
ketergantungan ini maka setiap anggota membutuhkan anggota lain dalam
kelompoknya.
Kedua, adanya tanggung jawab individu. Satu hal yang sering terjadi
pada saat siswa bekerja dalam kelompok adalah adanya beberapa anggota
kelompok yang mengakhiri semua pekerjaannya, hal ini dapat terjadi karena
beberapa siswa mencoba menghindari bekerja atau karena yang lain ingin
mengerjakan semua pekerjaan kelompok. Jadi, mendorong setiap orang
dalam kelompok untuk berpartisipasi dan belajar adalah suatu unsur yang
sangat real. Untuk melakukan hal ini memerlukan setiap orang merasakan
bertanggung jawab secara individual untuk keberhasilan kelompok mereka.
Unsur ketiga yaitu pengelompokkan heterogen. Pengelompokkan para
siswa secara heterogen menurut prestasi, kecerdasan, etnik dan jenis
kelamin dapat dilakukan oleh guru. Mencampurkan siswa berdasarkan
prestasi didorong untuk mempromosikan sistem tutor teman sebaya,
mengelompokkan siswa yang berpartisipasi rendah dengan model kebiasaan
yang baik, dan memperbaiki hubungan antar para siswa. Namun apabila
para siswa memilih sendiri kelompoknya, mereka sering memilih orang
yang paling mereka senangi. Hal ini dapat mengarahklan pada kelompok-
kelompok yang tidak sehat.
Keempat, adanya keterampilan-keterampilan kolaboratif. Kebanyakan
para guru di sekolah menyarankan para siswanya untuk belajar dalam
kelompok, karena guru sangat mengetahui bahwa para siswanya kurang
memiliki keterampilan-keterampilan untuk bekerjasama dalam belajar
secara efektif berkaitan dengan konten akademik. Guru hendaknya
menyadari pentingnya keterampilan-keterampilan kolaboratif untuk dimiliki
oleh setiap siswa, tidak hanya untuk memperoleh kesuksesan mencapai
prestasi maksimal di sekolah, tetapi juga untuk mencapai sukses dalam karir
di luar sekolah bersama teman dan keluarga maupun dengan orang lain.

138
Unsur selanjutnya adalah pemrosesan interaksi kelompok. Pemrosesan
interaksi kelompok memiliki dua aspek yaitu menjelaskan tentang
keberfungsian kelompok. Kedua, kelompok akan mendiskusikan apakah
interaksi mereka perlu diperbaiki. Pemrosesan interaksi kelompok adalah
suatu kunci pembelajaran kooperatif, karena memberikan siswa manfaat
balikan mengenai keterampilan kelompok dan memperkenalkan kepada para
siswa bahwa suatu hal yang penting adalah bagaimana sebaiknya mereka
bekerja secara bersama.
Keenam, interaksi tatap muka. Para siswa akan berinteraksi secara
langsung antara satu dengan yang lain sementara mereka bekerja. Mereka
mungkin berkomunikasi secara verbal atau non verbal. Interaksi akan terjadi
antar siswa. Ketika para siswa ditanyakan untuk bekerja secara independen
untuk seperangkat masalah, mereka secara riil mencari dan menemukan
jawaban sendiri-sendiri dan kemudian berjumpa dalam kelompok untuk
mendiskusikan jawaban-jawaban tersebut. Teknik ini mencirikan interaksi
tatap muka, yang sekaligus membedakannya dengan iklim pembelajaran
individualistik.

4. Tujuan Cooperative Learning


Pembelajaran model cooperative learning dikembangkan untuk
mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang
dirangkum Ibrahim, yaitu:
Pertama, dalam cooperative learning meskipun mencakup beragam
tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis
penting lainnya. Beberapa ahli berpendsapat bahwa model ini unggul dalam
membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Model struktur
penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar
akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
Kedua, tujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan
secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas
sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif
memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk

139
bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui
struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama
lain.
Ketiga, tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan
kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-
keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda
masih kurang dalam keterampilan sosial.

5. Keunggulan dan Kelemahan Cooperative Learning


a. Keunggulan Cooperative Learning
Proses pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu
menggantungkan pada guru akan tetapi dapat menambah kepercayaan
kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber
dan belajar dari siswa yang lain. Selain itu, dapat mengembangkan
kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata verbal
dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
Cooperative learning dapat membantu anak untuk respek pada
orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima
segala perbedaan. Karena dalam kelompoknya memiliki perbedaan
kemampuan, jenis kelamin dan cara belajar. Dengan demikian dapat
membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab
dalam belajar.
Peningkatan prestasi akademik dan kemampuan sosial juga
merupakan keunggulan yang luar biasa. Para siswa dapat berlatih hidup
bersama orang lain dengan mengemban tujuan yang sama mencapai
kesuksesan dalam kelompok. Bagaimanapun juga manusia adalah
makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan
bantuan orang lain.
Kemampuan siswa dapat dikembangkan untuk menguji ide dan
pemahamannya sendiri karena walaupun proses pembelajaran dengan
bekerjasama dalam kelompok kooperatif namun pada akhirnya ada
tanggung jawab individu yang harus dilaksanakan dan dikuasai.

140
Keunggulan lainnnya yaitu meningkatkan motivasi dan
memberikan rangsangan untuk berpikir. Pembelajaran kooperatif dapat
melatih cara berpikir seseorang disebabkan oleh adanya rasa
kebersamaan dalam suatu kelompok.

b. Kelemahan Cooperative Learning


Kekurangan dari pembelajaran kooperatif adalah kontribusi dari
siswa berprestasi rendah menjadi kurang dan siswa yang memiliki
prestasi tinggi akan mengarah kepada kekecewaan, hal ini disebabkan
oleh peran anggota kelompok yang pandai lebih dominan. Johnson dkk.
Menyatakan bahwa beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para
ahli pendidikan ditemukan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi
merasakan kekecewaan ketika mereka harus membantu temannya yang
berkemampuan rendah. Mereka mengatakan bahwa efek yang harus
dihindari dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya pertentangan
antar kelompok yang memiliki nilai lebih tinggi dengan kelompok yang
memiliki nilai rendah.
Selain itu untuk menyelesaikan suatu materi pelajaran dengan
pembelajaran kooperatif akan memakan waktu yang relatif lebih lama
dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, bahkan dapat
menyebabkan materi tidak dapat disesuaikan dengan kurikulum yang ada
apabila guru belum berpengalaman. Dari segi keterampilan mengajar,
guru membutuhkan persiapan yang matang dan pengalaman yang lama
untuk dapat menerapkan belajar kooperatif dengan baik

6. Manfaat Cooperative Learning


Cooperative learning mempunyai beberapa manfaat yaitu :
a. Terjadi pengembangan kualitas diri peserta didik.
b. Mereka belajar saling terbuka, saling percaya dan rileks.
c. Mereka belajar bertukar pikiran dalam suasana penuh keakraban.
d. Materi pelajaran dapat lebih dipahami karena mereka mencoba membahas
bersama serta memecahkan permasalahan yang diajukan oleh guru.

141
e. Mendorong tumbuhnya tanggung jawab sosial, meningkatkan kegairahan
belajar.
f. Muncul sifat kesetiakawanan dan keterbukaan di antara siswa.
g. Berkembangnya perilaku demokratisasi dalam kelas.
h. Meningkatkan prestasi siswa jika model belajar ini betul-betul diterapkan
secara tepat.
i. Memberi kesempatan siswa untuk berinteraksi secara aktif dalam
kelompok.
j. Terbentuk keterampilan berpikir kritis dan kerjasama.
k. Muncul persatuan, hubungan antar pribadi yang positif, menghargai
bimbingan dari teman, menghargai nilai-nilai.

Ringkasan Tafsir surah As Shaff, ayat 2 dan 3 dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir
Al Qurthubi
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (As Shaff:2-3)
Kandungan :
Ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang membuat janji
atau mengatakan sesuatu dan tidak melaksanakannya, Oleh karena itu diantara
ulama salaf ada yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa memenuhi janji itu
wajib secara mutlak, baik janji tersebut mengakibatkan hukuman bagi yang
berjanji, ataupun tidak.l Mereka juga beralasan dengan hadits yang tercatat dalam
ash-Shahiihain, dimana Rasulullah SAW telah bersabda, "Tanda-tanda orang
munafik itu tiga, : bila berjanji dia ingkar, bila berkata dia dusta, dan bila
dipercaya dia khianat"
Dalam hadis lain disebutkan, "Ada empat perkara yang apabila
(semuanya) ada pada diri seseorang, maka ia menjadi munafiq tulen. Dan barang
siapa salah satunya ada padanya, maka (dikatakan) ia memiliki satu ciri dari orang
munafiq, hingga dia meninggalkannya" (HR. Muttaffaq alaih)
Diantara para ulama ada juga yang berkata, "Ayat in diturunkan berkenaan

142
dengan peperangan. Seorang laki-laki mengatakan bahwa dirinya telah berperang,
padahal dia tidak melakukannya. Ia mengatakan bahwa dirinya telah menikam
musuh, padahal ia tidak melakukannya. Ia katakan bahwa dirinya telah bersabar
tetapi dia tidak melakukannya."
Kita lihat, saat ini banyak manusia sering untuk menyuruh yang ma'ruf
maupun meninggalkan yang munkar, namun mereka sendiri tidak melaksanakan
apa yang mereka perintahkan/anjurkan. Misalnya banyak para pemimpin (baik
politik, perusahaan, dll) mengatakan, marilah kita bekerja sama memberantas
korupsi..namun seringkali mereka yang menganjurkan untuk memberantas
korupsi.juga terlibat dalam korupsi.. Ada juga anjuran dilarang untuk mencuri,
namun justru merekalah yang malah mencuri..
Asbabun nuzul ayat , Abdullah bin Salam berkata, "Sekelompok sahabat
Rasulullah SAW mempersilahkan kami mampir, kemudian kami berdiskusi. Kami
berkata, 'Seandainya kami mengetahui amalan apakah yang paling disukai oleh
Allah Ta'ala, niscaya kami akan mengerjakannya. 'Allah Ta'ala kemudian
menurunkan ayat ini...."Telah Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit
dan......."dst sampai akhir ayat ke 3.'
Qatadah dan Adh-Dhahak berkata, "Ayat ini turun pada kaum yang
berkata, 'Kami akan berjihad dan kami akan mati.' Namun mereka tidak
melakukan (hal itu)
Ayat ini mewajibkan semua orang yang telah mewajibkan dirinya
mengerjakan sebuah amalan ketaatan, bahwa dia harus memenuhi hal itu.

143
PERTEMUAN XV
PERSIAPAN SEORANG PENDIDIK

A. Persiapan seorang pendidik


Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan
pendidikan menengah
Ternyata tugas guru tidak hanya terkait dengan tugas kedinasan saja, tapi juga
tugas di luar kedinasan dalam bentuk pengabdian. Tugas guru dapat kita
kelompokkan menjadi tiga jenis, yakni tugas di bidang profesi, tugas di bidang
kemanusiaan dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih.
Mendidik adalah mengembangkan segi afektif atau nilai-nilai hidup kepada para
siswanya. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi (kognitif) sesuai dengan kemajuan zaman. Sedangkan melatih
berarti mengembangkan potensi keterampilan-keterampilan pada siswa
(psikomotor).
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah adalah seorang guru harus
mampu menjadi orang tua ke dua, fasilitator dan motivator bagi siswa dalam
belajar. Langkah awal dalam menyampaikan pelajaran bahwa seorang guru harus
dapat menarik minat siswa, baik kemampuan mau pun penampilan. Bila seorang
guru dalam penampilannya saja sudah tidak menarik, maka hal itu akan dikuti
oleh kegagalan-kegagalan berikutnya. Siswa enggan untuk mengikuti pelajaran
yang diberikan yang akan berakibat pada gagalnya tujuan pengajaran yang
diharapkan.
Dalam masayarakat, guru di tempatkan pada posisi yang lebih terhormat.
Karena masyarakat berharap banyak dari seorang guru. Mulai dari seorang teladan
sampai pada sumber pengetahuan dan informasi bagi masyarakat. Jadi, intinya
guru sangat mempunyai banyak peranan dalam berbagai bidang. Contohnya:
1. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan
dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas

144
pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan
dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-
aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas
ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak
untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan
kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas
tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar,
persiapan untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-
hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu, tugas guru dapat
disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab
pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat
laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
2. Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan
guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu,
tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus
sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara.
Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka
tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
3. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar.
Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain
di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga,
hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih
pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab
sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas
sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang
dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan
dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan
kemampuannya lebih lanjut.
4. Peran guru sebagai pelajar (learner). Seorang guru dituntut untuk selalu
menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan
keterampilan yang dimilikinya tidak ketinggalan zaman. Pengetahuan dan

145
keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang
berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas
kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
5. Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru
diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam
mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui
pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
6. Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru
diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang
sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-
bidang dikuasainya.
7. Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan
pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan
pengajaran. Oleh karena itu, seorang guru dituntut bekerja secara administrasi
teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar
perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti
membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan
dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Tugas Guru sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya,
guru khususnya ia dibekali dengan ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula
denganseperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia
belajar memersonalisasikan sikap keguruan yang diperlukanya. Seorang yang
berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap dan keterampilan
keguruan yang akan ditrasformasikan kepada anak didik atau siswanya.

Guru yang memahami fungsi dan tugasnya tidak hanya sebatas dinding
sekolah saja, tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang
juga memiliki beberapa tugas menurut Rostiyah(dalam djramah,2000; 36)
menemukan bahwa tugas guru prifesional adalah :
1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan
dan pengalaman-pengalaman.

146
2. Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan dasar Negara
kita pancasila.
3. Menyiapakan anak menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan undang-
undangpendidikan yang merupakankeputusan MPR No. 2 Tahun 1983.
4. Sebagai prantara dalam belajar.
5. Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak didik kearah
dewasaan.
6. Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
7. Sebagai penengak disiplin. Guru member contoh dalam segala hal, tata tertib
dapat berjalan apabila guru menjalaninya terlebih dahuli.
8. Sebagai administrator dan manager guru sebagai perencanaan kurikulum.
9. Guru sebagai pemimpin.
10.Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak anak.
Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan
juga fungsi sebagai pembimbing, dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana
dan serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan. Membimbing dalam hal ini
dapat dikatakan sebagai kegiatan menuntun anak didik dalam perkembanganya
dengan jelas dalam memberikan langakah dan arah yang sesuai dengan tujuan
pendidikan.
Ada beberapa kemampuan dan sikap yang harus dimiliki guru dalam
melaksanakan tugasnya:
1. Menguasai Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai peranan dan
kedudukan yang sangat penting dalam keseluruhan kegiatan pendidikan.
Kurikulum adalah pemandu program belajar mengajar, pelaksanaan dan hasil
belajar yang hendak dicapai. Tanpa berpegang pada kurikulum, maka proses
belajar mengajar tidak memiliki arah dan tujuan. Karena itu guru yang
profesional memiliki penguasaan yang sangat mendalam terhadap kurikulum.
Mereka mengetahui cakupan materinya, mengetahui tujuan yang hendak
dicapai, mengetahui tata urutan penyajian dan porsi waktu yang diperlukan.
Guru juga hendaknya mengetahui bagaimana mengimplementasikan kurikulum

147
dalam program tahunan, program-program semester dan persiapan mengajar
yang efektif untuk menyerap kurikulum. Kurikulum diikuti dengan perangkat
pedoman pelaksanaan. Pedoman-pedoman tersebut dilandasi oleh dasar-dasar
didaktik dan metodik. Guru yang profesional selain menguasai pedoman
tersebut juga memiliki kreatifitas untuk mengembangkannya. Guru yang
berhasil dalam pengajaran adalah guru yang mampu mempersiapkan siswa
mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam kurikulum.
2. Menguasai Materi
Sebagai pengajar, guru hendaknya menguasai bahan atau materi
pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkan dan
meningkatkan kemampuannya. Karena itu sebenarnya guru sendiri adalah
seorang pelajar yang belajar secara terus-menerus. Guru adalah tempat
menimba ilmu bagi para siswanya. Sebagai pengajar ia harus membantu
perkembangan anak didiknya untuk memahami, dan menguasai ilmu
pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk
senantiasa belajar pada berbagai kesempatan. Kemampuan ini tidak hanya
berdasarkan teori-teori yang diperoleh dari bangku pendidikan, melainkan
harus dihayatinya dan disikapi sebagai suatu seni. Seperti kita ketahui guru SD
tidak saja harus menguasi salah satu bidang studi pelajaran, melainkan seluruh
mata pelajaran. Karena itu belajar secara terus menerus untuk mendalami
bahan pengajaran tak dapat dielakkan.
3. Menguasai Metode dan Teknik Penilaian
Seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik bila ia
menguasai dan mampu melaksanakan keterampilan mengajar dengan
menggunakan metode yang sesuai dengan pelajaran, tujuan dan pokok bahasan
yang diajarkannya. Bahan belajar yang telah dikuasainya belum tentu dapat
dicerna oleh siswa bila tidak disampaikan dengan baik. Proses penyampaian ini
memerlukan kecakapan khusus. Dengan demikian perlu penguasaan guru
terhadap metode penyampaian agar para siswa tidak pasif, melainkan terlibat
secara aktif dalam interaksi belajar mengajar.

148
Seorang guru yang cakap dan disegani adalah guru yang menguasai
setiap metode sehingga para siswa terangsang untuk terus belajar. Guru
hendaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang alat-alat
dan media sebagai alat bantu komunikasi guna lebih mengefektifkan proses
belajar mengajar. Tidak setiap media/alat sesuai dengan setiap kondisi belajar
mengajar, sehingga diperlukan pula keterampilan untuk memilih dan
menggunakan serta mengusahakan media dengan baik. Memilih media
pendidikan harus sesuai dengan tujuan, materi, metode serta kemampuan guru
dan minat siswa.
Hal ini penting untuk diketahui karena metode mengajar bersifat
individual, artinya seorang guru mungkin dapat menggunakan suatu metode
dengan baik sementara guru yang lain belum tentu demikian. Karena itu
penggunaan suatu metode ataupun perangkat peralatan tidak dapat dipaksakan
pada seorang guru. Yang terpenting adalah bagaimana gaya interaksi pribadi
itu dapat mencapai tujuan melalui tumbuhya hubungan yang positif dengan
para siswa. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk
mengusahakan berbagai sumber belajar yang menunjang dalam proses belajar
mengajar.
4. Komitmen Terhadap Tugas
Ciri pokok profesionalisme adalah apabila seseorang memiliki komitmen
yang mendalam terhadap tugasnya. Kecintaan terhadap tugas diwujudkan
dalam bentuk curahan tenaga, waktu, dan pikiran. Profesi guru sangatlah
berlainan dengan profesi lainnya, karena pekerjaan guru menyangkut
pertumbuhan, perkembangan fisik dan intelektual seorang anak manusia.
Segala kegiatan belajar mengajar harus disiapkan secara matang. Untuk itu
guru harus benar-benar menyatu, menjiwai dan menghayati tugas-tugas
keguruannya. Guru yang demikian akan mencintai siswa dan tugasnya.
Hasilnya dapat dipastikan akan jauh lebih baik dan lebih bermakna.
5. Disiplin
Pendidikan adalah suatu proses, bersama proses itu anak tumbuh dan
berkembang dalam belajar. Pendidik dengan sengaja mempengaruhi arah

149
proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan diterima serta
berlaku dalam masyarakat. Kuat lemahnya pengaruh itu sangat bergantung
pada tata disiplin yang ditetapkan dan dicontohkan oleh guru. Di kelas guru
adalah pemimpin yang menjadi teladan dan panutan siswa-siswanya. Oleh
sebab itu, disiplin bagi seorang guru merupakan bagian penting dari tugas-
tugas kependidikan. Dalam hal ini tugas guru bukan saja melatih sikap disiplin
pada anak didiknya tetapi juga lebih penting adalah mendisiplinkan diri sendiri
sebagai ciri khas seorang guru.

B. Tugas Dan Tanggung Jawab Seorang Guru


1. Seorang Guru harus dapat meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.
Guru harus mampu berperan sebagai pendidik dan dapat mengubah perilaku
murid sesuai dengan ajaran yang baik dan benar. Bagaimana guru mendidik
para siswanya agar menjadi manusia yang yang cerdas dan dapat berguna bagi
nusa dan bangsa.
2. Seorang Guru harus dapat meneruskan dan dapat mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang baik dan benar. seorang guru dalam
memberikan pengajaran terhadap materi yang benar-benar ia kuasai. Selain
memberikan pengajaran terhadap materi, seorang guru juga memberikan
pengajaran mengenai berbagai pengalaman diluar pelajaran tersebut yang
mungkin berkaitan dengan hidup bermasyarakat.
3. Seorang Guru harus dapat melakukan Pengembangan metode Kependidikan
serta penelitian khusunya dibidang pendidikan. Dalam memberikan pelajaran
dan pendidikan guru harus dapat memberikan materi dengan metode baru dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh adalah bagaimana seorang
guru dalam mengajarkan metode dan cara meningkatkan daya ingat otak dalam
menerima pelajaran. Mengembangkan ilmu yang dikuasai merupakan tugas
guru dan tenaga pendidik lainnya. Mungkin dalam era modern sekarang ini
masih banyak yang tidak peduli mengenai hal ini, Guru harus dituntut untuk
rajin belajar sebab ilmu baru dan pengetahuan baru sebab ilmu pengetahuan
semakin hari semakin berkembang dan seorang guru tidak mungkin

150
memberikan pengajaran dan pendidikan terhadap murid dengan pengetahuan
dan ilmu yang sudah using alias ketinggalan zaman.
4. Seorang Guru harus mampu memberikan motivasi pada setiap siswa yang
mereka didik, guru harus dapat memberikan semangat dan menjadi sumber
energi untuk para muridnya. Bagi murid yang sedang lesu dan lemas, maka
guru harus memberikan solusi sebagai penyemangat agar proses belajar
mengajar akan sangat efektif dan efisien.
5. Seorang Guru guru harus dapat berperan sebagai pendamping, yang artinya
seorang guru dapat menganti peran orang tua. Ia harus dapat memberikan
solusi dan jalan ketika muridnya ingin melakukan sesuatu dan ingin
mengembangkan serta berpartisipasi dalam acara serta kejuaraan tertentu.
Sosok Seorang guru tidak peduli apakah ia wanita atau pria, dan harus menjadi
teladan yang baik untuk untuk seluruh siswanya. Karena ia berhadapan
langsung dengan mereka yang otomatis menjadi contoh dalam berperilaku dan
bertata karma dan mempunyai rasa soan santun terhadap sesama.Seorang Guru
harus mampu menjadi wali yang baik untuk muridnya, ia harus berusaha
mengetahui kondisi para muridnya dan berperan aktif untuk mencari solusi atas
kesulitan tersebut. Ia harus memberikan solusi seperti cara menghindari stress
saat belajar dan berbagai masalah lain yang muridnya hadapi. Tugas guru
sebenarnya adalah menjadi orang tua wali yang baik bagi siswanya.
6. Seorang Guru akan mendapatkan tempat yang lebih terhormat di
lingkungannya karena dari seorang gurulah masyarakat dapat memperoleh
pengetahuan. Ini berarti bahwa guru memiliki kewajiban untuk mencerdaskan
masyarakat dan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya. Karenanya
pantaslah seorang guru dalam masa pembangunan diatakan sebagai “pengabdi
masyarakat”.
7. Seorang Guru perlu manatap dirinya dan memahami konsep dirinya. seorang
guru harus mampu berkaca pada dirinya sendiri. Bila ia berkaca pada dirinya,
ia akan melihat bukan satu pribadi, tetapi ada tiga pribadi, yaitu: Saya dengan
konsep diri saya (self concept), Saya dengan ide diri saya (self idea), Saya
dengan realita diri saya (self reality).

151
8. Dalam penampilan, guru harus mampu menarik simpati para siswanya, karena
apabila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka
kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih
pengajarannya kepada para siswanya. Maka guru harus memahami hal ini dan
berusaha mengubah dirinya menjadi simpatik. Demikian juga dalam hal
kepribadian lainya.
9. Misi yang diemban seorang guru adalah misi kemanusiaan, yaitu
“pemanusiaan manusia”- dalam artian transformasi diri dan auto-identifikasi
peserta didik sebagai manusia dewasa yang utuh. sebab di sekolah, guru harus
dapat menjadikan dirinya sebagai “orang tua kedua” bagi peserta didik, dan di
masyarakat sebagai figur panutan.

Pendidikan dalam arti luas mencakupseluruh proses dan segenap bentuk


interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, informal
maupun non formal dalam rangka mewujudkan dirinya seseuai dengan tahap
perkembangannya secara optimal sehingga ia mampu mencapai taraf
kedewasaan tertentu. Dalam konteks ini peranan guru memiliki tugas dan
peranan sebagai berikut :
a) Konsenvator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan suber norma
kedewasaan dan inovator (pengembang) sistem ilmu pengetahuan;
b) Transmitor (penerus) sistem – sistem nilai tersebut pada sasaran didik;
c) Transformator (penerjemah) sistem – sistem nilai tersebut melalui
penjelmaan dalam pribadinya dalam prilakunya melalui proses
interaksinya dengan sasaran didik;
d) Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat
dipertanggungjawabkan baik secara formal (kepada pihak yang
mengangkat dan mengeaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran
didik, serta Tuhan Yang Menciptakannya).
Pendidikan dalam arti sempit
Pendidikan merupakan salah satu proses interaksi belajar mengajar dalam bentuk
formal yang dikenal sebagai pengajaran (Instructional), Gage and Berliner

152
menjelaskan bahwa dalam konteks ini guru berperan, bertugas dan bertanggung
jawab sebagai:
1) Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di
dalam proses belaja – mengajar (pre- teaching problems)
2) Pelaksana (organizer) yang harus menciptakan situasi, memimpin, merangsang,
menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar – mengajar sesuai dengan
rencana; guru bertindak sebagai seorang sumber (resource person), Konsultan
kepemimpinan (leader) yang demokratis dan humanistic (manusiawi) selama
proses berlangsung.
3) Penilai (evaluator) mengumpulkan, menganalisis menafsirkan, dan akhirnya
memberikan pertimbangan (judgement) atas tingkat keberhasilan belajar –
mengajar (PMB) tersebut berdasarkan criteria yang ditetapkan mengenai aspek
keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produk (output)-nya.

153