Anda di halaman 1dari 24

NAMA : NUR RESKIANA S

NIM : 1512040007
KELAS : PENDIDIKAN FISIKA A

MATERI AJAR KALOR

A. PENGERTIAN KALOR
1. Pengertian Suhu
Suhu merupakan suatu besaran yang menyatakan ukuran derajat
panas atau dinginnya suatu benda. Untuk mengetahui dengan pasti dingin
atau panasnya suatu benda, kita memerlukan suatu besaran yang dapat
diukur menggunakan alat ukur. Sebagai contoh apa yang kamu rasakan
ketika kita minum es, dingin bukan, ketika kita merebus air, lama kelamaan
air yang kamu rebus akan menjadi panas bukan setelah itu bisakah kita
mengukur suhu? Bisakah tangan kita digunakan untuk mengukur panas atau
dinginnya suatu benda dengan tepat? Kita tentu memerlukan cara untuk
membedakan derajat panas atau dinginnya benda tersebut. Contoh lain
misalnya oven yang panas dikatakan bersuhu tinggi dan es yang membeku
dikatakan memiliki suhu yang rendah Untuk itu kita perlu mengetahui cara
untuk mengukur suhu secara akurat. Alat yang digunakan dalam mengukur
suhu suatu benda yaitu dengan menggunakan termometer. Ada beberapa
jenis termometer, yang prinsip kerjanya bergantung pada beberapa sifat
materi yang berubah terhadap suhu.

2. Pengertian kalor
Kalor adalah bentuk energi yang pindah karena adanya perbedaan
suhu. Dimana, secara ilmiah kalor berpindah dari benda bersuhu tinggi ke
benda bersuhu rendah. Orang beranggapan bahwa kalor merupakan zat yang
pindah dari benda bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah, sebelum
abad ke-17. Apabila kalor merupakan zat, tentu mempunyai massa. Tetapi
ternyata, benda yang suhunya naik, massa benda tersebut tidak mengalami
perubahan. Jadi, kalor bukanlah zat. Sampai sekarang banyak yang tidak
tahu perbedaan antara suhu dengan kalor, suhu merupakan nilai yang
terukur pada termometer, sedangkan kalor merupakan energi yang
berpindah atau mengalir dari satu benda ke benda lainnya. Ilmuwa dari
Amerika bernama Benjamin Thompson, mengatakan bahwa kalor bukanlah
zat yang mengalir, melainkan energi yang terjadi karena adanya proses
mekani, seperti gesekan.
Satuan untuk menyatakan kalor yaitu Joule (J) atau Kalori (kal).
Joule menyatakan satuan usaha atau energi suatu benda, dimana satuan
Joule merupakan satuan kalor yang umum digunakan dalam dunia fisika.
Sedangkan kalori menyatakan satuan dari kalor. Kalori (kal) adalah satuan
kalor yang biasa digunakan untuk menyatakan kandungan energi dalam
bahan makanan. Misalnya, sepotong roti yang memiliki kadungan energi
300 kalori dan sepotong daging sapi memiliki kandungan energi 700 kalori.
Nilai 1 kalori adalah banyakanya kalor yang diperlukan untuk memanaskan
1 kg air agar suhunya naik 1° C.
Hubungan satuan kalori dengan joule yaitu:
1 kal = 4, 2 J dan 1 J = 0,24 kal
Kalor dapat mengubah suhu suatu benda, misalnya dengan
mencampurkan air panas dengan air dingin dalam sebuah mangkuk, pada
saat kita menupahkan air panas ke air dingin, maka energi kalor mengalir
dari air panas ke air dingin, sehingga pada akhirnya kita akan mendapatkan
bahwa suhu air dalam mangkuk tersebut berada diantara suhu-suhu air
sebelum dicampurkan. Hal ini menunjukkan bahwa kalor dapat mengubah
suhu suatu benda.
Selain itu, kita sering juga jumpai dalam kehidupan sehari-hari
yaitu ketika kita mencelupkan sebuah sendok kedalam sebuah gelas yang
berisi air panas, lalu sendok menjadi terasa panas ketika dicelupkan ke
dalam air panas. Hal itu terjadi karena suhu sendok lebih rendah
dibandingkan dengan suhu air panas tersebut. Energi kalor akan mengalir
dari air menuju sendok, sehingga suhu sendok akan mengalami kenaikan.
Pemberian kalor yang menyebabkan suhu benda tersebut berubah. Semakin
banyak kalor yang diberikan kepada benda, maka suhu benda makin naik.
Hal ini berarti sebanding dengan perubahan suhu, sehingga diketahui bahwa
kalor (∆𝑄) berbanding lurus dengan massa zat (m), kenaikan suhu (∆T), dan
kalor jenis zat (c). Oleh karena itu persamaan kalor dapat dituliskan sebagai
berikut:
∆Q = m c ∆T
Dimana:
∆T = perubahan suhu (℃)
c = kalor jenis benda (J/kg ℃)
m = massa benda (kg)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah memasak air. Air


yang tadinya terasa dingin setelah dimasak beberapa saat akan terasa hangat
dan lama-kelamaan akan panas. Hal ini dapat terjadi karena selama
dimasak, aair mendapat energi dari api yang menyala. Energi yang
dihasilkan oleh api akan berpindah ke air dan berubah menjadi panas dalam
air. Bentuk energi yang berpindah akibat perbedaan suhu disebut sebagai
energi kalor. Perpindahan energi kalor selalu terjadi dari benda bersuhu
tinggi ke benda yang bersuhu rendah.
Tidak hanya zat cair yang dapat melepas dan menerima kalor,
semua benda dapt melepas maupun menerima kalor. Benda-benda yang
bersuhu lebih tinggi dari lungkungannya, akan cenderung melepaskan kalor,
demikian pula sebaliknya. Benda-benda yang bersuhu lebih rendah dari
lingkungannya, cenderung menerima kalor untuk menstabilkan kondisinya
dengan lingkungan di sekitarnya.
Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan suhu seluruh benda sebesar 1 derajat. Dengan demikian benda
yang mempunyai massa dan kalor jenis mempunyai kapasitas kalor sebesar :
Q
C = m .c atau C = ∆T
Keterangan :
C = kapasitas kalor (J/K)
m = massa benda (kg)
c = kalor jenis (j/kg.K)
∆T = perubahan suhu (℃)
Q = banyaknya kalor (Joule/kal)
B. PEMUAIAN ZAT
Pemuaian adalah bertambah besarnya ukuran suatu benda akibat
pengaruh perubahan suhu yang terjadi pada benda tersebut. Kenaikan suhu
yang terjadi menyebabkan benda tersebut mendapat tambahan energi berupa
kalor yang menyebabkan molekul-molekul pada benda tersebut bergerak lebih
cepat. Setiap zat mempunyai pemuaian yang berbeda-beda. Pemuaian terjadi
pada tiga zat yaitu pemuaian pada zat padat, zat cair, dan zat gas. Pemuaian
pada zat padat ada tiga jenis yaitu pemuaian panjang (satu dimensi), pemuaian
luas (dua dimansi), dan pemuaian volume (tiga dimensi). Pada zat cairdan zat
gas hanya terjadi pemuaian volume saja, khusus pada zat gas biasanya diambil
nilai koefisien muai volumenya yaitu 1/273.

1. Pemuaian pada zat padat


Pemuaian zat padat adalah pemuaian yang terjadi karena benda
padat tersebut mengalami perubahan suhu dari suhu rendah ke tinggi.
Pemuaian zat padat terbagi menjadi tiga, yaitu pemuaian panjang, pemuaian
luas, dan pemuaian volume. Besarnya pemuaian zat padat tergaantung dari
koefisien muai dari benda padat itu sendiri.
Hampir semua zat padat akan mengalami pemuaian jika
dipanaskan, baik itu pemuaian panjang, pemuaian luas, maupunpemuaian
volume. Hal ini karena partikel-partikel dalam benda akan bergerak lebih
cepat jika suhunya dinaikkan. Karena gerakan inilah partikel membutuhkan
ruanga yang lebih untuk bergerak. Akibatnya, volume zat padat tersebut
bertambah besar.
a. Muai Panjang Zat Padat
Muai panjang zat padat merupakan bertambahnya panjang suatu
benda padat saat dipanaskan. Muai panjang berbagai macam benda dapa
diselidiki dengan menggunakan alat Musschenbroek. Jika batang logam
yang dipasang pada alat Musschenbroek dipanaskan, maka batang logam
tersebut akan bertambah panjang. Tetapi, pertambahan panjang batan
logam yang satu dengan lainnya berbeda. Artinya bahwa tingkat
pemuaian logam-logam tersebut juga berbeda. Logam yang paling besar
pemuaiannya akan mendorong jarum penunjuk berputar paling jauh,
sedangkan logam yang pemuainnya paling kecil akan mendorong jarum
penunjuk berputar paling dekat. Apabila digunakan batang logam
aluminium, besi, dan baja, maka logam aluminium memuai paling besar,
sedangkan besi merupakan logam yang memuai paling kecil.
Alat Musschenbroek dapat menunjukkan pemuaian dan
bertambah panjangnya benda zat padat apabila dipanaskan. Pemuaian zat
padat tergantung pada jenis zat padat itu. Pemuaian zat padat sebanding
dengan kenaikan suhunya. Pada pemuaian panjang zat padat, ditentukan
oleh koefisien muai panjang zat padat itu sendiri.
Persamaan untuk pemuaian panjang zat padat yaitu :
𝑙 𝑡 − 𝑙0
𝛼 =
𝑙0 𝑡
Atau
𝑙𝑡 = 𝑙0 (1 + 𝛼𝑡)
𝑙2 = 𝑙1 {1 + 𝛼(𝑡2 − 𝑡 − 1)}
𝑙2 = 𝑙1 {1 + 𝛼. ∆𝑡}
𝛼 = koefisien muai luas
Satuan koefisien muai panjang zat padat adalah …/oC atau …/K.

b. Muai Luas Zat Padat


Pemuaian luas zat padat yaitu bertambah panjangnya, luasnya
atau melebarnya benda setelah dipanaskan. Contohnya, menghitung
pemuaian luas sebuah benda yang berupa lembaran atau plat tipis yang
berbentuk persegi panjang dengan menghitung terlebih dahulu muai
panjang dan muai lebarnya dengan menggunakan persamaan yang
berlaku pada pemuaian panjang. Jika suhu t1 luas benda adalah A1 dan
pada suhu t2 luasnya A2, maka berlaku persamaan muai luas dengan
pendekatan sebagai berikut:
A2 = A1 {1 + 2α(t 2 − t1 )}
atau
A2 = A1 {1 + β (t 2 − t1 )}
A2 = A1 {1 + β. ∆t }
β = 2α
𝛽 = koefisien muai luas
Koefisien muai luas zat padat adalah bilangan yang
menunjukkan pertambahan luas suatu benda tiap satuan luas apabila
suhunya naik 1℃
c. Muai Ruang atau Volume Zat Padat
Muai ruang atau volume zat padat adalah bertambahnya ruang
atau volume suatu benda padat ketika dipanaskan. Untuk membuktikan
adanya muai volume pada benda padat yang berbentuk bola dapat
menggunakan alat s’Gravesande.
Apabila bola dipanaskan, bola akan memuai yaitu volumenya
bertambah besar sehingga tidak dapat masuk ke dalam gelang. Beberapa
saat kemudian, gelang ikut panas sehingga bola dapat masuk kembali ke
dalam gelang. Artinya, panas pindah dari bola ke gelang dan diameter
gelang bertambah atau membesar.
Dengan gelang s’Gravesande dapat dibuktikan bahwa zat padat
apabila dipanaskan akan memuai dan volumenya bertambah besar,
pemuaian pada benda berongga akan membesar rongganya (arah
pemuainnya keluar rongga), panas dapat berpindah dari satu benda ke
benda yang lain. Pemuaian volume suatu zat tergantung jenis zat
padatnya. Sebuah benda padat pada suhu 0℃ volumenya V0 pada saat
suhu t℃, volumenya Vt. Pertambahan volume tiap satuan suhu benda
padat yaitu sebesar:
𝑉𝑡 − 𝑉0
𝛾=
𝑉0 𝑡
Bilangan yang menunjukkan pertambahan volume suatu benda
tiap satuan volume jika suhunya naik 1℃ disebut koefisien muai ruang
(𝛾). Jadi,
1 + γt 2
V2 = V1
1 + γt1
Persamaan di atas dapat dibuah menjadi persamaan:
V𝑡 = 𝑉0 (1 + 𝛾𝑡)
Untuk zat padat yang angka muainya sangat kecil, maka berlaku
persamaan:
V2 = V1 {1 + γ(t 2 − t1 )}
V2 = V1 {1 + γ∆t}
Hubungan antara koefisien muai ruang (𝛾) dengan koefisien
muai panjang (𝛼) dapat dinyatakan dalam persamaan :
𝛾 = 3𝛼
Pada konstruksi jembatan, setiap sambungan diberikan ruang
kosong (spasi) yang berfungsi untuk menghindari tekanan antara bagian
jembatan dengan jalan akibat terjadinya pemuaian zat padat.
2. Pemuaian pada Zat Cair
Pemuaian zat cair adalah pemuaian yang terjadi pada saat zat cair
dipanaskan. Pada zat cair, tidak melibatkan muai panjang ataupun muai
luas, tetapi hanya melibatkan muai ruang atau volume saja. Semakin tinggi
suhu yang diberikan pada zat cair ketika dipanaskan, maka semakin besar
muai atau bertambah volumenya. Sebagai contoh, ketika kita memanaskan
panci yang berisi penuh dengan air, apa yang terjadi pada air yang berada
dalam panci tersebut? Pada suhu yang tinggi, sebagian dari air tersebut akan
tumpah. Hal seperti ini menunjukkan bahwa volume air di dalam panci
tersebut memuai atau volumenya bertambah.
Pemuaian zat cair masing-masing jenis zat berbeda-beda,
akibatnya, walaupun mula-mula volume zat air sama akan tatapi setelah
dipanaskan, volumenya menjadi berbeda-beda.
Pemuaian pada zat cair menyangkut dimensi volume. Besarnya
nilai pemuaian beberapa jenis zat cair berbeda-beda. Pemuaian padaalkohol
lebih besar daripada pemuaian gliserin, pemuaian pada minyak parafin lebih
besar daripada pemuaian gliserin, pemuaian gliserin lebih besar daripada
pemuaian raksa. Dengan demikian bahwa, pemuaian pada zat cair
dipengaruhi oleh jenis zat cair.
3. Pemuaian pada Zat Gas
Pemuaian pada gas terjadi pada saat gas tersebut dipanaskan.
Pemuaian pada gas ini terjadi untuk semua jenis gas. Ban mobil meletus
terjadi akibat pemuaian udara atau gas di dalam ban. Pemuaian pada gas
tersebut terjadi karena adanya kenaikan suhu udara di ban mobil akibat
gesekan roda dengan aspal.
Salah satu bukti adanya pemuaian gas yaitu labu didih yang berisi
gas akan menghasilkan gelembung-gelembung udara yang keluar dari pipa
kapiler. Gelembung-gelembung udara tersebut merupakan akibat dari
pemuaian gas yang tejadi dalam labu didih yang dipanaskan. Apabila
pemanasannya dihentikan, maka suhu gas dalam labu tersebut akan turun,
yang berakibat terjadinya penyusutan gas dan air akan masuk ke dalam labu
tersebut. Besar koefisien muai untuk berbagai jenis gas adalah sama
nilainya, yaitu 1/273 K.
Persamaan untuk pemuaian pada gas yaitu:
𝑉 = 𝑉0 (1 + 𝛾∆𝑡)
𝛾 merupakan koefisien muai volume. Nila 𝛾 sama untuk semua gas,
yaitu 1/273 K
C. PERUBAHAN WUJUD ZAT DAN ASAS BLACK
1. Perubahan Wujud Zat
Kalor dapat menyebabkan perubahan wujud pada benda-benda,
seperti cokelat dan es batu. Cokelat yang digenggam dengan tangan lama
kelamaan meleleh. Hal ini terjadi akibat cokelat mendapat kalor dari tangan
kita dan udara. Demikian pula dengan es batu yang diletakkan dalam piring
di atas meja. Es batu tersebut lama-kelamaan berubah menjadi air. Logam
seperti besi dan emas juga dapat berubah wujud bila dipanaskan, hal ini
terjadi ditempat pelebutan logam.
Perubahan wujud zat yang disebabkan oleh kalor diantaranya
sebagai berikut:
a. Melebur atau Meleleh
Perubahan wujud dari padat menjadi wujud zat cair disebut melebur atau
meleleh. Contohnya yaitu:
1) Mentega berubah wujud menjadi minyak ketika dimasukkan ke
dalam penggorengan. Membutuhkan kalor (energi).
2) Es batu yang dibiarkan di tempat terbuka atau terkena udara lama-
kelamaan akan mencair. Membutuhkan kalor (energi).
3) Gula pasir yang dipanaskan akan mencair. Membutuhkan kalor
(energi).
4) Logam yang dipanaskan dengan suhu yang tinggi lama-kelamaan
akan mencair. Membutuhkan kalor (energi).
5) Cokelat padat yang dipanaskan lama-kelamaan akan mencair.
b. Membeku
Perubahan wujud dari cair menjadi wujud padat disebut membeku.
Contohnya yaitu:
1) Air menjadi es batu ketika dimasukkan dalam lemari es. Melepas
kalor (energi).
2) Aga-agar masak yang berwujud cair lama-kelamaan akan membeku.
Melepas kalor (energi).
3) Minyak goreng menjadi padat saat udara dingin. Melepas kalor
(energi).
c. Menguap
Perubahan wujud dari cair menjadi wujud gas disebut menguap.
Contohnya yaitu:
1) Air menjadi uap air ketika dipanaskan. Membutuhkan kalor (energi).
2) Minyak wangi yang semprotkan ke pakaian, lama-kelamaan wanginya
hilang karena menguap. Membutuhkan kalor (energi).
3) Minyak kayu putih dalam botol yang dibiarkan terbuka, lama-
kelamaan volumenya akan berkurang karena menguap. Membutuhkan
kalor (energi).
d. Mengembun
Perubahan wujud dari gas menjadi wujud cair disebut mengembun.
Contohnya yaitu:
1) Embun di pagi hari.
2) Dinding luar gelas basah apabila gelas berisi es.
3) Titik-titik air (embun) di dedaunan di pagi hari.
e. Menyublim
Perubahan wujud dari padat menjadi wujud gas disebut menyublim.
Contohnya yaitu:
1) Kapur barus yang diletakkan dalam ruangan, lama-kelamaan akan
habis. Membutuhkan kalor (energi).
2) Es kering yang dibiarkan ditempat terbuka, lama-kelamaan akan habis
menjadi gas. Membutuhkan kalor (energi).
f. Mengristal
Perubahan wujud dari gas menjadi wujud padat disebut mengkristal.
Contohnya yaitu :
1) Lubang knalpot menjadi kotor dan berwarna hitam akibat karbon
dioksida yang dikeluarkan menjadi padat.
2) Pembuatan es kering dari gas karbon dioksida.
3) Perubahan uap air yang menjadi salju.
Sebuah benda dapat berubah wujud ketika suhu benda tersebut
dinaikkan atau diturunkan. Misalnya, zat cait yang mendidih apabila
dipanaskan terus-menerus akan berubah menjadi uap. Bayaknya kalor yang
diperlukan untuk mengubah 1 kg zat cair menjadi uap seluruhnya pada titik
didihnya disebut dengan kalor uap (U). Sebab tidak terjadi perubahan suhu,
maka besarnya kalor uap dapa dirumuskan sebagai berikut:
𝒬 =𝑚𝑈
Dimana:
Q = kalor yang diserap/dilepaskan (joule)
M = massa zat (kg)
U = kalor uap (joule/kg)
Pada saat berubah wujud, baik itu melebur, membeku, menguap,
maupun mengembun, suhu tetap, walaupun terjadi pelepasan atau
penyerapan kalor. Oleh karena itu, ada sejumlah kalor yang dilepaskan
ataupun diserap pada saat perubahan wujud zat, akan tetapi tidak digunakan
untuk menaikkan atau menurunkan suhu. Kalor jenis ini disebut kalor laten
dan disimbol dengan huruf L. Besar kalor ini bergantung juga pada jumlah
zat yang mengalami perubahan wujud (massa benda). Jadi, kalor laten
merupakan kalor yang membutuhkan oleh suatu benda untuk mengubah
wujudnya per satuan massa.
Dengan demikian, dapat dirumuskan:
𝒬 = 𝑚𝐿
Kalor laten beku besarnya sama dengan kalor laten lebur yang
biasa disebut dengan kalor lebur. Kalor lebur Lf pada suhu dan tekanan yang
normal sebesar 334 kJ/kg. Kalor laten uap besarnya sama dengan kalor laten
embun yang biasa disebut dengan kalor uap. Kalor uap air Lv, pada suhu
dan tekanan normal sebesar 2256 Kj/kg.
2. Asas Black
Pernahkah anda melakukan kegiatan mencampurkan air biasa
dengan air panas? Mengapa lama-kelamaan suhu air panas tersebut turun
seiring dengan banyknya air biasa yang dicampurkan? Atau pernahkah anda
merasakn ketika berlama-lama di dalam ruangan yang ber-AC lalu setelah
keluar anda merasakan udara di luar sangat panas, tetapi lama-kelamaan
rasa panas itu hilang dengan sendirinya?mengap hal itu bisa terjadi?. Semua
fenomena ini banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini
mungkin sudah biasa dirasakan., namun adakah yang mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi pada peristiwa tersebut?. Semua hal tersebut akan
dibahas dalam teori Joseph Black mengenai kalor dan penerapanya dalam
kehidupan sehari-hari.
Joseph Black adalah seorang fisikawan yang lahir pada 16 April
1728 dan meninggal pada 16 Desember 1799. Pada tahun 1760, ia
mengemukakan pertama kali tentang Asas Black. Dimana ia menyatakan
bahwa “Pada pencmpuran dua zat, banyaknya kalor yang dilepas zat yang
suhunya lebih tinggi, sama dengan banyaknya kalor yang diterima zat yang
suhunya lebih rendah”. Persamaab mengenai teori ini yaitu:
Qlepas = Qterima
dimana:
Qlepas = jumlah kalor yang dilepas zat
Qterima = jumlah kalor yang diterima zat
Dilihat dari teori serta persamaan di atas, ditemukan hubungan-
hubungan seperti berikut ini:
a. Jika dua benda yang berbeda suhunya kemudian dicampurkan, maka
benda yang panas memberi kalor pada benda yang dingin sehingga suhu
akhirnya sama.
b. Jumlah kalor yang diserap benda dingin sama dengan jumlah kalor yang
dilepas oleh benda panas.
c. Benda yang didinginkan melepas kalor yang sama besar dengan kalor
yang diserap apabila dipanaskan.
Hubungan-hubungan seperti ini akan menjawab dua fenomena
diatas, yaitu mengapa air panas saat dicampurkan dengan air biasa lama-
kelamaan suhunya menjadi turun atau berkurang? Dan mengapa ketika kita
keluar dari ruangan yang ber-AC, kiat akan merasakn panas yang lebih dari
biasanya, namun lama-kelamaan panas yangkita rasakan perlahan-lahan
akan hilang. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan Asas Black.
Pada fenomena pertama dimana suhu air panas yang tinggi lama-kelamaan
akan menjadi seimbang atau sama dengan suhu air biasa, karean air biasa
akan menerima kalor yang sama dengan kalor yang dilepaskan oleh air
panas, sehingga dalam hal ini terjadi keseimbangan termal. Kemudian pada
fenomena kedua, rasa panas yang dirasakan saat keluar dari ruangan yang
ber-AC lama-kelamaan akan hilang, karena suhu tubuh akan selalu
menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya. Jadi untuk kasus ini, ketika
keluar dari ruangan yang ber-AC, kulit akan menerima kalor dari luar
hingga suhu badan menjadi setara atau seimbang dengan suhu diluar dan
akhir kembali terjadi keseimbangan termal.
Perpindahan kalor dari zat yang suhunya lebiih tinggi ke zat yang
bersuhu rendah ini sebenarnya dapat diukur dengan menetukan perubahan
suhu pada zat tersebut. Salah satu cara yang digunakan untuk mengukur
disebut denga “cara mencampurkan”. Cara ini berdasarkan atas suatu Asas
yanag menyatakan bahwa “bila dua zat yang berbeda suhunya disentuhkan
(dicampurkan), maka pada akhirnya suhu kedua zat itu akan menjadi sama.
Alat yang digunakan dalam mengukur pertukaran kalor antara zat-zat yang
dicampur adalah kalorimeter.
Secara umum, kalorimeter biasanya digunakan untuk mengukur
kalor jenis suatu zat, apabila salah satu kalor jenis suatu zat diketahui, maka
kalor jenis yang lain dapat ditentukan dengan menggunakan hukum
kekekalan energi (Asas Black). Dalam menetukan kalor jenis suatu logam
secara eksperimen dengan metode mencampur, logam sampel yang massany
diketahui yang telah dipanaskan sampai dengan suhu tertentu, kemudian
dicelupkan ke dalam air yang suhunya lebih rendah. Setelah mencapai titik
keseimbangan, air di dalam kalorimeter mendapat kalor yang dilepas oleh
logam. Kenyataan ini dapat dinyatakan dengan persamaan:
Q𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠 = Q𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎
𝑀𝑐(𝑡1 − 𝑡2 ) = (𝑚 + 𝑚1 𝑐1 )(𝑡2 − 𝑡3 )
dimana:
M = massa logam (gram)
c = kalor jenis logam sampel
t1 = suhu logam sebelum mencapai titik keseimbangan
t2 = suhu awal air dan kalorimeter
m = massa air
m1 = massa cawan kalorimeter
c1 = kalor jenis bahan pembuat cawan

D. PERPINDAHAN KALOR
Perpindahan kalor adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana
kalor berpindah atau mengalir dari tempat yang bertemperatur tinggi ke
temperatur rendah. Jadi panas dapat berpindah karena adanya beda temperatur
atau suhu. Seperti diketahui bersama bahwa yang namanya kalor itu adalah
berupa suatu energi. Berdasarkan hukum kekekalan energi, energi dapat
berpindah dari suatu tempat ke tempat lain da dapatpula berubah bentuk dari
bentuk energi satu ke bentuk energi lainnya.
Perpindahan kalor adalah suatu proses perpindahan energi panas pada
suatu zat atau dari suatu zat ke zat yang lain.kalor dapat berpindah melalui
suatu zat perantara maupun tanpa perantara. Berdasarkan daya hantar kalor,
benda dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
1. Konduktor
Konduktor adalah zat yang memiliki daya hantar kalor yang baik.
contohnya, besi, baja, aluminium, tembaga, dan lain-lain.
2. Isolator
Isolator adalah zat yang memiliki daya hantar yang kurang baik. contohnya,
kayu, kertas, plastik, kaca, dan lain-lain.
Beras yang dimasukkan ke dalam panci yang berisi air dan diletakkan
di atas kompor yang menyala, lama-kelamaan akan berubah menjadi nasi. Api
pada kompor mengeluarkan kalor yang berpindah dari panci ke air, kemudian
air menjadi panas dan memanaskan beras sehingga menjadi nasi. Kita ketahui
bahwa kalor merupakan salah satu bentuk energi dan dapat berpindah apabila
terdapat perbedaan suhu. Secara alami, kalor berpindah dari zat yang suhunya
tinggi ke zat yang bersuhu rendah. Apabila ditinjau dari perpindahannya, kalor
dapat berpindah dengan tiga cara,yaitu:
1. Perpindahan Kalor secara Konduksi
Kalor yang berpindah melalui benda, tetapi partikel-partikel benda
itu tidak megalami perpindahan tempat disebut dengan perpindahan kalor
secara konduksi atau hantaran. Contoh sederhana, ketika kita sedang duduk
di kursi paling belakang dan ingin memberikan buku paketkepada teman
kita yang duduk di kursi paling depan, apa yang kita lakukan? Tentu kita
dapat memberikan buku tersebut kepada teman kita yang duduk di depan
kita terlebih dahulu, kemudian teman kita itu lagi memberikannya kepada
teman yag duduk didepannya lagi. Demikian seterusnya sampai buku
tersebut diterima oleh teman yang dituju. Buku tersebut dapat sampai ke
teman yang dituju karena adanya perpindahan buku dari tangan ke tangan
yang lainnya. Meskipun teman-teman yang sebagai perantara yang
memberikan buku tidak ikut berpindah. Demikian pula dengan perindahan
kalor secara konduksi.
Perpindahan kalor secara konduksi biasa terjadi pada jenis zat
penghantar yang berbentuk padat, seperti besi ketika dipanaskan lalu
dipegang ujung yang lain, lama-kelamaan ujung besi yang dipegang juga
ikutan terasa panas. Kemudian sendok logam yang dimasukkan kedalam
secangkir teh yang panas, beberapa saat kemudian ujung sendok yang kita
pegang ikut panas. Hal ini disebabkan panas yang merambat pada besi atau
sendok logam tersebut, sehingga seluruh batang besi dan sendok logam
tersebut menjadi panas. Pada peristiwa perpindahan dari ujung besi dan
sendok logam kalor yang dipanaskan ke ujung besi dan sendok logam yang
dipegang, molekul-molekul besi dan sendok logam yang menghantarkan
kalor tidak ikut berpindah. Perpindahan kalor seperti inilah yang dinamakan
perpindahan kalor secara konduksi atau hantaran.
Syarat terjadinya konduksi kalor suatu benda adalah adanya
perbedaan suhu antar dua tempat pada benda tersebut. Kalor akan berpindah
dari tempat bersuhu tinggi ke tempat bersuhu rendah. Jika suhu kedua
tempat tersebut menjadi sama, maka hambatan kalor pun akan terhenti.
Setiap zat tidak semuanya dapat menghantar kalor secara konduksi.
Contohnya, ambil sepotong kayu, kemudian ujung yang satu dipanaskan,
sedangkan ujung kayu yang lainnya dipegang. Apakah ujung yang dipegang
terasa panas ternyata tidak panas. Hal ini berarti bahwa kayu tidak terjadi
perpindahan kalor secara konduksi.
Konduksi adalah proses perpindahan kalor tanpa disertai
perpindahan partikel-partikrrl dari zat itu. Sehingga diperoleh persamaan:
K. A. ∆T
P=
L
dimana:
P = Laju perpindahan kalor (watt)
k = Koefisien konduksi(w/mK
A = Luas penampang (m2)
∆T = Perubahan suhu (K)
L = Panjang/tebal (m)
2. Perpindahan Kalor Secara Konveksi
Konveksi atau aliran kalor adalah peristiwa berpindahnya kalor
dalam suatu medium atau perantara yang disertai dengan perpindahan
partikel mediumnya. Perpindahan partikel medium terjadi karena adanya
perbedaan suat massa jenis. Konveksi biasa terjadi pada medium berupa zat
cair dan zat gas. Perpindahan kalor secara konveksi dibedakan menjadi dua
yaitu:
a. Konveksi alamiah, contohnya aliran air ketika dimasak
b. Konveksi paksa, contohnya untuk mendapatkan udara dingin dalam
ruangan, dipasang AC atau kipas angin.
Konveksi terjadi karena perbedaan massa jenis zat. Kita dapat
memahami peristiwa koveksi, yaitu:
a. Pada zat cair, karena perbedaan massa jenis zat, contohnya sistem
pemanasan air, dan sistem aliran air panas.
b. Pada zat gas karena perbedaan tekanan udara, contohnya, terjadi angin
darat dan angin laut, sistem ventilasi udara, untuk mendapatakan udara
yang dingin dalam ruangan dipasang AC atau kipas angin serta cerobong
asap pabrik.
Perpindahan kalor secara konveksi terjadi karena adanya perbedaan
massa jenis dalam zat tersebut. Perpindahan kalor yang diikuti oleh
perpindahan partikel-partikel zatnya disebut dengan konveksi/aliran.
Perpindahan kalor secara konveksi terjadi karena adanya perbedaan
massa jenis dalam zat tersebut. Perpindahan kalor yang diikuti oleh
perpindahan partikel-partikel zat disebut dengan konveksi atau aliran. Selain
perpindahan kalor secara konveksi terjadi pada zat cair, ternyata konveksi
juga dapat terjadi pada zat gas atau udara. Peristiwa konveksi kalor melalui
penghantar gas sama dengan konveksi kalor yang melalui penghantar air.
Hal tersebut juga dapat digunakan untuk menjelaskan prinsip terjadinya
angin darat dan angin laut.
Angin darat terjadi pada malam hari dan berhembus dari darat ke
laut. Hal ini dapat terjadi karena pada malam hari, udara di atas laut lebih
panas dan udara di atas darat, sehingga udara di atas laut naik dan diganti
udara di atas darat. Maka terjadilah aliran udara dari darat ke laut. Angin
darat dimanfaatkan oleh para nelayan untuk menangkap ikan di laut.
Angin laut terjadi pada siang hari, kemudian berhembus dari laut
ke darat. Hal ini kemudian terjadi karena pada siang hari udara di atas darat
lebih panas daripada udara di atas laut, sehingga udara di atas darat naik
digantikan udara di atas laut. Sebab kalor jenis tanah lebih kecil daripada
kalor jenis air, akibatnya uadara di atas daratan yang lebih panas akan naik
ke atmosfir yang lebih tinggi karena tekanannya kecil. Ruang yang
ditinggalkan udara panas itu selanjutnya diisi udara yang lebih dingin dari
permukaan lautan. Aliran udara dari permukaan laut inilah yang kemudian
disebut dengan angin laut. Oleh karena itu, terjadinlah aliran udara dari laut
ke darat. Hal tersebut dimanfaatkan oleh para nelayan untuk kembali ke
darat atau pun pantai setelah menangkap ikan.
Selain contoh diatas. Masih ada contoh lain tentang peristiwa
konveksi kalor yaitu ketika kita memasak air, massa air yang berada tepat di
atas kompor yang apinya meyala, akan menerima kalor sehingga menjdi
lebih panas. Kemudian air panas ini akan bergerak ke atas hingga mencapai
permukaan air, karena massa jenisnya lebih kecil daripada massa air yang
lebih dingin. Akibat dari hal tersebut, massa air yang lebih dingin di bagian
atas akan terdesak dan bergerak turun untuk menggantikan ruang yang
sebelumnya ditinggalkan massa air yang lebih panas. Peristiwa ini berulang
secara terus-menerus hingga seluruh massa air di dalam panci tersebut
mendidih.
Konveksi adalah perpindahan kalor yang dlakukan oleh pergerakan
fluida karena perbedaan massa jenis atau proses perpindahan kalor disertai
dengan perpindahan partikel-partikel dari zat tersebut. Sehingga dapat
diperoleh persamaan:
P = h. A. ∆T
dimana:
P = Laju perpindahan kalor (watt)
h = Koefisien konveksi (w/m2K)
A = Luas penampang (m2)
∆T = Perubahan suhu (K)
3. Perpindahan Kalor Secara Radiasi (Pancaran)
Radiasi adalah perpindahan kalor dalam bentuk gelombang
elektromagnetik. Pada radiasi, kalor atau energi merambat tanpa
membutuhkan zat perantara. Berbeda halnya dengan konduksi maupun
konveksi yang selalu membutuhkan medium atau perantara. Sebenarnya,
setiap benda memancarkan dan menyerap energi radiasi. Benda panas ada
yang berpijar dan adajuga yang tidak berpijar. Kedua benda tersebut
memancarkan atau meradiasikan energi kalor dalam bentuk gelombang
elektromagnetik dengan berbagai macam panjang gelombang.
Yosef Stefan menemukan bahwa laju rambat kalor secara radiasi
atau pancaran tiap satuan luas permukaan benda bergantung pada sifat dan
suhu permukaan benda. Benda yang mengkilap lebih sukar memancarkan
kalor daripada benda yang berwarna hitam dan kusam. Keadaan tersebut
juga berlaku untuk benda yang menyerap kalor. Benda yang permukaannya
mengkilap lebih sukar menyerap kalor daripada benda yang permukaannya
hitam maupun kusam. Jadi, dapat dikatakan bahwa benda yang berwarna
hitam dan kusam merupakan pemacar dan penyerap kalor yang baik.
Contoh dari perpindahan kalor secara radiasi yaitu kalor atau pansa
dari matahari sampai ke bumi, kalor atau panas dari lampu ruangan yang
memancar ke segala arah. Dimana semua kehidupan di dunia ini bergantung
pada transfer energi dari matahari, dan energi ini ditransfer ke bumi melalui
ruang hampa udara.
Contoh lain dari perpindahan kalor secara radiasi yaitu ketika kita
mengadakan kegiatan perkemahan, di malam hari yang begitu dingin kita
menyalakan api unggun. Ketika kita berada di dekat api unggun tersebut
kita merasa hangat kerana adanya perpindahan kalor dari api unggun ke
tubuh atau badan kita secara radiasi. Walaupun disekitar kita terdapat udara
yang dapat memindahkan kalor secara konveksi, akan tetapi udara
merupakan penghantar kalor yang buruk (isolator). Apabila antara api
unggun dengan kita diletakkan sebuah penyekat atau tabir, ternyata hangat
dari api unggun tersebut tidak dapat kita rasakan lagi. Hal ini berati bahwa
tidak ada kalor yang sampai ke tubuh kita karena terhalang oleh penyekat
tersebut. Dari peristiwa api unggun, dapat disimpulkan bahwa:
a. Dalam peristiwa radiasi, kalor yang berpindah dalam bentuk cahaya,
karena cahay dapat merambat dalam ruang hampa atau kosong, maka
kalor pun dapat merambat dalam ruang hampa.
b. Radiasi kalor dapat dihalangi dengan cara memberikan tabir atau penutup
yang mampu menghalangi cahaya yang dipancarkan dari sumber cahaya.
Radiasi merupakan perpindahan kalor dalam bentuk gelombang
elektromagnetik, sehingga dapat melalui ruang hampa (vakum). Jadi dapat
diperoleh persamaan:
P = e. σ. A. T 4
dimana:
P = Laju perpindahan kalor (watt)
e = Enisivitas bahan (0 ≤ e ≤ 1)
σ = Konstanta Stevan – Boltzman (w/m2K4)
A = Luas penampang (m2)
T = Suhu mutlak (K)
Jika benda berada pada lingkungan yang memiliki suhu T0, selain
benda memancarkan kalor ke lingkunga sekitarnya, lingkungan sekitarnya
pun juga akan memancarkan kalor ke benda. Keadaan tersebut akan
berlangsung secara terus-menerus samapi mencapai kesetimbangan termal
antara benda dengan lingkungannya. Besarnya kalor yang dipancarkan oleh
benda ke lingkungannya memenuhi persamaan:
𝑊 = 𝑒𝜎(𝑇 4 − 𝑇04 )𝐴𝑡
Pendidik harus mampu memilah materi apa yang disajikan secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung maksudnya adalah pendidik
menjelaskan materi yang sulit dipahami oleh peserta didik apabila tidak dijelaskan
langsung oleh pendidik maupun memberikan percobaan atau eksperimen serta
diskusi kelompok kepada peserta didik tetapi dalam pengawasan pendidik. Secara
tidak langsung disini maksudnya adalah pendidik memberikan lembaran materi
atau ekpserimen yang langsung dapat dimengerti oleh peserta didik tanpa
dijelaskan atau diawasi oleh pendidik.
1. Materi yang Disampaikan secara langsung (dalam kelas).
Berdasarkan materi yang telah dipaparkan sebelumnya, dari keempat materi
pokok di atas, materi yang harus dijelaskan langsung oleh pendidik adalah
persamaan asas Black dan pemuaian zat.
a. Persamaan asas Black
Persamaan asas Black perlu dijelaskan oleh pendidik karena
sifatnya membuktikan apakah persaamaan maupun teori asas black adalah
benar, tidak sekadar teori belaka. Cara yang digunakan dalam membahas
materi ini adalah eksperimen atau percobaan. Karena alat yang digunakan
seperti kalorimeter sangat susah untuk dijumpai oleh peserta didik, jadi
pendidik yang harus mempersiapkan bahan tersebut. Strategi yang
digunakan dalam membahas materi ini adalha pendidik menjelaskan terlebih
dahulu tentang persamaan asas black, kemudian pendidik terebut membagi
kelompok yang terdiri dari tiga siswa. Setealah itu pendidik mengarahkan
tiap-tiap kelompok untuk melakukan percobaan sesuai dengan lembar
kegiatan siswa . Adapun lembar kegiatan siswa pada materi ini sebagai
berikut:
Judul Percobaan : perubahan Wujud Zat dan Azas Black
Tujuan Percobaan
1. Siswa mampu membuktikan teori Azas Black.
Permasalahan
1. Bagaimana cara membuktikan teori dari Azas Black?
Hipotesis
Buatlah jawaban sementara (kelompok) terhadap pertanyaan di atas.
Alat dan Bahan
1. Gelas kimia 3 buah
2. Termometer 1 buah
3. Pembakar bunsen 1 buah
4. Kaki tiga + kasa asbes 1 buah
5. Korek Api 1 buah
6. Air dingin secukupnya
7. Air panas secukupnya
Prosedur Kerja
1. Siapakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Masukkan air dingin ke dalam gelas kimia lalu ukur suhunya
menggunakan termometer
3. Masukkan air panas ke dalam gelas kimia kemudian ukur suhunya
dengan menggunakan termometer.
4. Campurkan air panas dengan air dingin tersebut, lalu ukur kembali
suhunya.
5. Ulangi langkah tersebut dengan volume yang berbeda.
6. Catat hasil yang diperoleh dalam tabel hasil pengamatan.
Tabel Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan
Suhu air dingin Suhu air panas Suhu campuran
(℃) (℃) (℃)

Pertanyaan
1. Apa yang terjadi ketika air dingin dan air panas dicampurkan?
Jawab:
......................................................................................................................
.....................................................................................................................
2. Bagaimana cara membuktikan teori Azas Black pada percobaan?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
Pembahasan
Berikan pembahasan mengenai percobaan yang telah dilakukan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
Kesimpulan
Berikan kesimpulan berdasarkan tujuan percobaan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
b. Pemuain zat
Pemuaian zat merupakan materi yang perlu dijelaskan secara
langsung oleh peserta didik. Seperti yang telah dipaparkan di atas, pemuaian
yang paling sering dikenal adalah pemuian padat zat padat yaitu pemuaian
panjang, pemuaian luas, pemuaian volume. Untuk pemuaian zat cair dan zat
gas jarang dietahui oeh peserta didik. Pendidik harus mampu memberikan
penjelasan kapan benda mengalami ketiga pemuaian terbsebut. Cara yang
palin efektif adalah dengan memberikan simulasi video mengenai
peristiwiwa pemuaian zat terutama pada pemuaian zat padat. Apabila
pendidik menggunakan metode lain seperti percobaan atau eksperimen,
waktu yang digunakan sangat lama. Hal ini dikeranakan pada zat padat
proses pemuaian membutuhkan waktu yang lama. Jadi tidak efektif untuk
menggunakan metode eksperimen. Kecuali untuk pemuaian zat cair, dapat
melalui metode ekperimen.untuk metode eksperimen langkah-langkahnya
seperti pada persaman asas Black. Kemudian membagikan lembar kerja
perserta didik melalui ekperimen sebagai berikut:
Judul Percobaan : Pemuaian Zat Cair
Tujuan Percobaan
1. Membuktikan adanya pemuaian pada zat cair.
2. Menentukan koefesien muai volume zat cair.
Permasalahan
1. Bagaimana cara membuktikan pemuaian pada zat cair?
2. Bagaimana menentukan koefisien muai volume zat cair?
Hipotesis
Buatlah jawaban sementara (kelompok) terhadap pertanyaan di atas.
Alat dan Bahan
1. Labu 1 buah
2. Wadah 1 buah
3. Air biasa secukupnya
4. Air panas secukupnya
5. Alkohol secukupnya
6. Raksa secukupnya
Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan.
2. Isi labu pertama dengan air sebanyak 50 mL, labu kedua diisi dengan
alkohol sebanyak 50 mL, dan labu ketiga diisi dengan raksa sebanyal 50
mL.
3. Masukkan labu yang telah diisi dengan air, alkohol, dan raksa ke dalam
wadah yang berisi air panas.
4. Amati perubahan yang terjadi pada setiap zat cair dalam labu tersebut.
5. Catat hasil yang diperoleh pada tabel hasil pengamatan.
Tabel Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan
Jenis Zat Cair Volume air yang tumpah (mL)
Air
Alkohol
Raksa
Pertanyaan
1. Apa yang terjadi pada setiap zat cair yang berada dalam labu ketika
dimasukkan ke wadah yang berisi air panas?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
2. Yang manakah yang mengalami pemuaian paling besar diantara ketiga
jenis zat cair tersebut?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
3. Manakah yang mememilki koefisien muai volume yang paling besar
diantara ketiga jenis zat cair tersebut?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
Pembahasan
Berikan pembahasan dari kegiatan percobaan yang telah dilakukan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan tujuan percobaan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
2. Materi yang Disampaikan Secara Tidak Langsung
a. Pengertian Kalor
Materi tentang kalor dapat disampaikan secara tidak langsung oleh
pendidik. Pendidik hanya perlu memberikan semacam lembaran materi
kepada peserta didik. Kemudian mendiskusikannya dengan teman
sebangkunya. Pengertian kalor berkaitan dengan kehidupan sehari hari-hari.
Jadi lebih mudah dipahami oleh peserta didik tanpa penjelasan terlalu rinci
dari pendidik. Materi ini juga sudah diperoleh dari smp, jadi hanya perlu
merefresh kambali pengetahuan peserta didik mengani materi ini. Materi ini
juga dapat menggunakan metode eksperimen di luar kelas, dengan cara
pendidik memberikan lembar kegiatan peserta didik yang dilakukan di
rumah. Lembar kerja peserta didik ini tidak dilakukan di luar kelas atau jam
pelajaran karena pendidik merasa bahwa peserta didik dapat melakukan
kegiatan tersebut tanpa diarahkan langsung oleh pendidik. Adapun lembar
kerja peserta didik yaitu:
Judul Percobaan : Suhu dan Kalor
Tujuan Percobaan
1. Mampu membedakan suhu suatu benda
2. Mampu mengetahui pengaruh kalor terhadap perubahan suhu suatu
benda
Permasalahan
Bagaimana pengaruh kalor terhadap perubahan suhu suatu benda?
Hipotesis
Buatlah jawaban sementara (kelompok) terhadap pertanyaan pada
permasalahan.
Alat dan Bahan
1. Baskom 3 buah
2. Air hangat secukupnya
3. Air dingin secukupnya
4. Air biasa secukupnya
Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Isi masing-masing baskom dengan air hangat, air dingin, dan air biasa
secukupnya.
3. Masukkan tangan kanan ke baskom yang berisikan air hangat.
4. Masukkan tangan kiri ke baskom yang berisikan air dingin.
5. Masukkan tangan kanan ke baskom yang berisikan air biasa.
6. Catat dalam tabel hasil pengamatan apa yang dirasakan pada saat
memasukkan tangan pada masing-masing air tersebut.
Tabel Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan
Jenis Air Hasil yang dirasakan

Pertanyaan
1. Apakah tangan anda menentukan suhu dari masing-masing air tersebut?
Jawab:
......................................................................................................................
............................................................................................................
2. Apa yang kamu amati ketika mengukur suhu dari ketiga air tersebut?
Jawab:
......................................................................................................................
..............................................................................................................
Pembahasan
Berikan pembahasan dari percobaan yang telah dilakukan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan tujuan percobaan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
b. Perpindahan Kalor
Materi tentang perpindahan kalor juga dapat disampaikan secara
tidak langsung oleh pendidik, dengan hanya memberikan semacam
lembaran materi. Hal ini karena perpindahan kalor adalah materi yang tidak
terlalu susah dipahami oleh peserta didik sebab berkaitan erat dengan
peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian pendidik membagikan
lembar kerja peserta didik untuk dikerja di luar jam pelajaran tanpa harus
dibimbing secara langsung oleh pendidik. Lembar kerja peserta didik
tersebut seebagai berikut:
Judul Percobaan : Perpindahan Kalor
Tujuan Percobaan
Siswa dapat memahami dan membedakan perpindahan kalor secara
konduksi, konveksi, dan radiasi.
Permasalahan
Bagaimana cara membedakan perpindahan kalor baik secara konduksi,
konveksi, dan radiasi ?
Hipotesis
Buatlah jawaban sementara (kelompok) terhadap pertanyaan di atas.
Alat dan Bahan
1. Lilin 1 buah
2. Sendok 1 buah
3. Korek api 1 buah
4. Kain kering 5 helai
5. Obat nyamuk 2 lempeng
6. Air secukupnya
Prosedur Kerja
Kegiatan 1
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Nyalakan lilin.
3. Pegang salah satu ujung sendok tersebut dan ujung yang satunya dibakar
diatas lilin hingga beberapa menit.
4. Catat apa yang anda rasakan dalam tabel hasil pengamatan
Kegiatan 2
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Bakar obat nyamuk yang telah tersedia, lalu letakkan di bawah kotak
konversi gas bersama dengan lilin.
3. Amati arah dari perpindahan asap dari obat nyamuk tersebut.
4. Kemudian catat apa yang anda amati dalam tabel hasil pengamatan.
Kegiatan 3
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan.
2. Ambil 2 helai kain untuk masing-masing kelompok.
3. Kain tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang berisikan air.
4. Jemur salah satu kain di luar kelas, dan kain yang satunya dijemur di
dalam kelas
5. Lima menit kemudian, amati apa yang terjadi terhadap kedua kain
tersebut.
6. Catat hasil yang anda peroleh dalam tabel hasil pengamatan.
Tabel Hasil Pengamatan
Tabel Hasil Pengamatan
No Perpindahan Kalor Hasil
1 Konduksi
2 Konveksi
3 Radiasi
Pertanyaan
1. Apa yang anda rasakan di ujung sendok yang anda pegang ketika ujung
sendok yang satu dipanaskan?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
2. Mengapa tangan anda merasakan hal tersebut ketika ujung sendok
dipanaskan?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
3. Bagaimana arah asap yang dikeluarkan oleh obat nyamuk tersebut?
Jawab:
......................................................................................................................
......................................................................................................................
4. Apakah terjadi perbedaan antara kedua kain tersebut?
Jawab:
..........................................................................................................................
....................................................................................................................
5. Apa yang menyebabkan perbedaan yang dialami kain tersebut?
Jawab:
..........................................................................................................................
....................................................................................................................
Pembahasan
Berikan pembahasan mengenai percobaan yang anda lakukan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
Kesimpulan
Berikan kesimpulan sesuai dengan tujuan percobaan.
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
c. Perubahan Wujud Zat
Materi perubahan wujud zat terjadi di kehidupan manusia. Jadi
peserta didik lebih mudah memahami materi ini tanpa dijelaskan secara
langsung oleh pendidik karena terjadi dalam kehidupan. Cukup
membagikan materi kepada peserta didik, maka peserta didik sudah mampu
memahami materi ini dengan baik.
PENILAAN MATERI AJAR
Sub Materi Tempat Model Pendekatan Metode Media Perangkat
PENGERTIAN Luar Kelas Problem Basid Saintifik Demonstrasi Video Simulasi LKPD
KALOR Treaning
PEMUAIAN Dalam Kelas Problem Based Saintifik Eksperimen Video Simulasi LKPD
ZAT Learning dan Internet
PERUBAHAN Dalam Kelas Problem Based Saintifik Demonstrasi Buku dan Internet LKPD
WUJUD ZAT Learning
DAN ASAS
BLACK
PERPINDAHAN Luar Kelas Problem Based Saintifik Eksperimen Video Simulasi LKPD
KALOR Learning dan Internet