Anda di halaman 1dari 11

Topik-topik relevan dengan materiResum

yang dikaji
Materi I
Judul resume : Perkembangan dan permasalahan kurikulum di Indonesia
Keperluan ditulisnya resume : Untuk memenuhi tugas terstruktur matakuliah
Problematika Pendidikan Biologi
Nama penulis resume : Mushoffa / Offering C – 170341864553
Tempat dan waktu penulisan resume : Malang, 30 Januari 2017

A. Topik-Topik Relevan yang Dikaji


Kurikulum merupakan suatu rencana yang berfungsi sebagai pedoman atau acuan dalam
proses belajar mengajar. Kurikulum juga diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelanggaraan kegiatan pembelajaran. Kurikulum dalam dunia pendidikan dapat berubah
sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa
kurikulum bersifat dinamis karena harus disesuaikan dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi
di masyarakat. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami perubahan
kurikulumdari waktu ke waktu, namun semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan
landasan yang sama, yaitu Pancasila danUUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari
tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. Berikut perubahan dan
permasalahan kurikulum di Indonesia dari waktu ke waktu.
. 1. Kurikulum 1947
Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama Rencana Pembelajaran
1947. Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda
karena pada saat itu masih dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri
utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang
berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.
Kurikulum 1947 pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan.
Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa
Inggris). Dengan demikian, kurikulum 1947 lebih menekankan pada pembentukan karakter
manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain, namun permasalahannya adalah
kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan
Jepang.
2. Kurikulum 1952
Tahun 1952 terdapat penyempurnaan kurikulum sebelumnya yakni kurikulum 1947
“Rencana Pelajaran” diubah menjadi “Rencana Pelajaran terurai” (kurikulum 1952). Kurikulum
ini menekankan bahwa setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan
dengan kehidupan sehari-hari. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan
moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi:
moral, kecerdasan, emosional/ artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Berdasarkan
hal tersebut dapat dinyatakan bahwa kurikulum 1952 merupakan kurikulum yang sudah
mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Permasalahan yang dihadapi pada
implementasi kurikulum 1952 adalah kurangnya tenanga pengajar dan tidak didukung dengan
fasilitas yang memadai.
3. Kurikulum 1964
Tahun 1964 Indonesia kembali menyempurnakan kurikulumnya yakni menjadi “Rencana
Pendidikan 1964”, kurikulum tersebut memiliki konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif,
dan produktif. Konsep pembelajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu
memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem solving). Pokok-pokok pikiran kurikulum
1964 adalah pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik
untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program
Pancawardhana yang meliputi pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral.
Matapelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keterampilan, dan jasmani. Pendidikan dasar lebih menekankan pada
pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
4. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya
perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan
dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum
1968 ditandai dengan pendekatan pengorganisasian materi pelajaran dengan pengelompokan
suatu pelajaran yang berbeda, yang dilakukan secara korelasional (correlated subject
curriculum), yaitu mata pelajaran yang satu dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain,
pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan
kecakapan khusus. Kurikulum 1968 bersifat politis yakni mengganti Rencana Pendidikan 1964
yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968
bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati,
kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi
pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
5. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menekankan pada tujuan, agar
pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang
manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito,
Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Kurikulum tahun 1975 sebagai upaya
untuk mewujudkan strategi pembangunan di bawah pemerintahan orde baru dengan program
Pelita dan Repelita.
Kurikulum 1975 pada setiap bidang studi dicantumkan tujuan kurikulum, sedangkan pada
setiap pokok bahasan diberikan tujuan instruksional umum yang dijabarkan lebih lanjut dalam
berbagai satuan bahasan yang memiliki tujuan instruksional khusus. Dalam proses pembelajaran,
guru harus berusaha agar tujuan instruksional khusus dapat dicapai oleh peserta didik, setelah
mata pelajaran atau pokok bahasan tertentu disajikan oleh guru. Metode penyampaian satun
bahasa ini disebut prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Melalui PPSI ini dibuat
satuan pelajaran yang berupa rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Ciri-ciri kurikulum 1975:
 Berorientasi pada tujuan
 Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan
peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuantujuan yang lebih integratif.
 Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
 Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan
 Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah
kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk
tingkah laku siswa.
 Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon
(rangsang-jawab) dan latihan (drill).
Permasalahan yang dihadapi pada kurikulum ini adalah guru dibuat sibuk menulis rincian
apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran sehingga kurikulum ini banyak sekali
mendapatkan kritikan.

6. Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 merupakan penyemkpurnaan dari kurikulum 1975, Asumsi yang
mendasari penyempurnaan kurikulum 1975 adalah bahwa kurikulum merupakan wadah atau
tempat proses belajar mengajar berlangsung yang secara dinamis, perlu senantiasa dinilai dan
dikembangkan secara terus menerus sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat.
Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
 Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif
(CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan
siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif,
afektif, maupun psikomotor.
 Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah
pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan
keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan
luas materi pelajaran yang diberikan.
 Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan

7. Kurikulum 1994
Pada kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang
berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran.
Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada
saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum
di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak
kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan
mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak. Adanya kurikulum 1994 sebagai
penyempurnaan kurikulum 1984 ini maka akan memicu penggunaan strategi yang melibatkan
siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan social, selain itu pengajaran dari hal yang
konkret ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dari hal yang sederhana ke
hal yang kompleks. Kekurangan dari kurikulum 1994 ini adalah aspek yang di kedepankan
dalam kurikulum 1994 terlalu padat, konsep pengajaran satu arah, dari guru ke murid, beban
belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi
setiap mata pelajaran, materi pelajaran yang dianggap terlalu sukar karena kurang relevan
dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan
aplikasi kehidupan sehari-hari, pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu
dilakukan untuk pemantapan pemahaman.

7. Kurikulum 2004 (KBK)


Perkembangan kurikulum (1975-1994) berorientasi pada pencapaian tujuan dan
berimpilkasi pada penguasaan kognitif lebih dominan namun kurang dalam penguasaan
keterampilan (skill). Sehingga lulusan pendidikan kita tidak memiliki kemampuan yang
memadai terutama yang bersifat aplikatif, sehingga diperlukan kurikulum yang berorientasi pada
penguasaan kompetensi secara holistik. Oleh sebab itu pada tahun 2004 dilakukan
oenyempurnaan kurikulum yakni menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan
pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar
performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan
terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan,
pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu
dalam bentuk keahlian, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses pembelajaran dipandang
merupakan wilayah otoritas guru, yang terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai
kompetensi yang diharapkan. Kompetensi dimaknai sebagai perpaduan pengetahuan,
keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir, dan bertindak.
Kelebihan Kurikulum 2004 (KBK) ini adalah dalam pembelajaran adanya komunikasi dua arah
antara guru dan siswa sehingga pembelajaran dapat berpusat pada siswa, penggunaan pendekatan
dan metode yang bervariasi, sumber belajar yang bervariasi. Namun, permasalahan yang
dihadapi adalah kurangnya sumber manusia yang potensial dalam menjabarkan KBK dengan
kata lain masih rendahnya kualitas sorang guru, karena dalam KBK seorang guru dituntut untuk
lebih kreatif dalam menjalankan pendidikan.

9. Kurikulum 2006 (KTSP)


Tahun 2006 terbentuklah sebuah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
merupakan peneyempurnaan kueikulum dari tahun-tahun sebelumnya yang disarankan untuk
dijadikan rujukan oleh para pengembang kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di
masingmasing satuan pendidikan di Indonesia. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun
ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
untuk pendidikan dasar dan menengah. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan
kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan,
struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan
silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang memuat: kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum
tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan kalender
pendidikan. SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik
dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok
mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Secara umum, tujuan memberlakukan KTSP pada setiap jenjang pendidikan adalah untuk
memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan
(otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan
keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.
KTSP merupakan kurikulum yang menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa,
baik secara individual, maupun klasikal, selain itu kurikulum ini berorientasi pada hasil belajar
(learning out comes) dan keberagaman, penyampaian dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan dan metode yang bervariasi. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber
belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif, Penilaian menekankan pada proses dan hasil
belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Dengan demikian seorang
guru harus benar-benar digerakkan menjadi manusia yang professional yang menuntut
kekereatifitasan. Permasalahan yang dihadapi pada KTSP ini adalah minimnya sosialisasi dan
kesiapan sarana dan prasarana pendukung pendidikan dan terutama sekali kesiapan guru dan
sekolah untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri.

10. Kurikulum 2013


Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru di Indonesia yang merupakan
penyempurnaan dari kurikulum KTSP namun dalam pelaksanaanya masih terkendala hingga saat
ini. Prinsip pengembangan Kurikulum 2013 adalah menekankan pada dimensi pedagogik
modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah
(scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya,
mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran.
Kegiatan pembelajaran dalam kurikulumn 2013 meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk
menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa dapat
mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam
proses pembelajaran atau dalam proses penguasaan pengalaman belajar (learning experience)
siswa. Kegiatan penutup ditujukan untuk validasi terhadap konsep, hukum atau prinsip yang
telah dikonstruk oleh siswa dan pengayaan materi pelajaran oleh siswa Pada kurikulum KTSP
pembelajaran mengacu pada dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL), namun pada kurikulum 2013 dikembankan kembali menjadi Standar Nasional
Pendidikan (SKL, SI, Standar Proses, Standar Penilaian), yakni:
 Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan.
 Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang
bebas mata pelajaran, Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang
ingin dicapai. Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas).
 Standar Proses dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar
Isi. Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kurikulum 2013 tataran proses pembelajaran adalah dengan pendekatan ilmiah
(scientific), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata
pelajaran) akan mengupayakan agar para guru mampu menerapkan pembelajaran
berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning).
 Standar Penilaian kurikulum 2013 berdsarkan pada mengukur tingkat berfikir siswa
mulai dari rendah sampai tinggi, menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan
pemikran mendalam (bukan hanya sekedar hafalan), mengukur proses kerja siswa (bukan
hanya hasil kerja siswa), menggunakan portofolio pembelajaran siswa.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru yang merupakan penyempurnaan dari
kurikulum-kurikulum tahun sebelumnya, namun kurikulum ini memiliki banyak
permasalahan yakni:
 Tidak ada kajian terhadap penerapan Kurikulum 2006 yang berujung pada
kesimpulan urgensi perpindahan kepada Kurikulum 2013.
 Tidak ada evaluasi menyeluruh terhadap uji coba penerapan Kurikulum 2013
setelah setahun penerapan di sekolah-sekolah yang ditunjuk.
 Penjelasan poin ini adalah, Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159
Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum untuk mendapatkan
informasi mengenai: Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;
Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum; Kesesuaian antara
Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan Kesesuaian antara Ide
Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.
 Kenyataannya, Kurikulum 2013 diterapkan di seluruh sekolah sebelum dievaluasi
kesesuaian antara ide, desain, dokumen hingga dampak kurikulum.
 Penyeragaman tema di seluruh kelas, sampai metode, isi pembelajaran dan buku
yang bersifat wajib sehingga terindikasi bertentangan dengan UU Sisdiknas.
 Penyusunan konten Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang tidak seksama
sehingga menyebabkan ketidakselarasan.
 Kompetensi Spiritual dan Sikap terlalu dipaksakan sehingga menganggu substansi
keilmuan dan menimbulkan kebingungan dan beban administratif berlebihan bagi
para guru.
 Metode penilaian sangat kompleks dan menyita waktu sehingga membingungkan
guru dan mengalihkan fokus dari memberi perhatian sepenuhnya pada siswa.
 Ketidaksiapan guru menerapkan metode pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang
menyebabkan beban juga tertumpuk pada siswa sehingga menghabiskan waktu
siswa di sekolah dan di luar sekolah.
 Ketergesa-gesaan penerapan menyebabkan ketidaksiapan penulisan, pencetakan dan
peredaran buku sehingga menyebabkan berbagai permasalahan di ribuan sekolah
akibat keterlambatan atau ketiadaan buku.
 Berganti-gantinya regulasi kementerian akibat revisi yang berulang.

B. PERTANYAAN YANG MUNCUL


1. Aspek-aspek apasajakah yang diperhatikan dari perkembangan kurikulum di Indonesia?
2. Bagaimanakah cara untuk mengevaluasi sebuah kurikulum yang diterapkan di Indonesia?
3. Siapakah yang harus benar-benar dilibatkan dalam pembuatan kurikulum dalam rangka
penyempurnaan kurikulum sehingga terhindar dari permasalahan-permasalahan?

DAFTAR RUJUKAN
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 2006. Sejarah Perkembangan Kurikulum di
Indonesia. Online. http://kuliahdaring.dikti.go.id/materiterbuka/open/dikti/
Revisi_Bahan_Ajar_Cetak/BAC_Pengkur_SD/UNIT4_PERKEMBANGAN_KURIKULUM.pdf
Direktorat Tenaga Kependidikan. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Departemen Pendidikan Nasional
Ilham, Waris. 2014. Standar Proses Pendidikan Nasional dan Penerapannya dalam Sistem
Pendidikan di Sekolah
(online): http http://www.kompasiana.com/arits.ilham/standar-proses-pendidikannasional-dan-
penerapannya-dalam-sistem-pendidikan-disekolah_54f73fffa33311590f8b47ab (diakses
tanggal 22 Januari 2016)
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Paparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
RI: Implementasi Kurikulum 2013
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Permasalahan Implementasi Kurikulum 2013.
Online. http://news.okezone.com/read/2014/ 12/11/65/1077829/10-masalah-utama-
kurikulum-2013 (diakses tanggal 22 Januari 2016)

KRITERIA PENILAIAN RESUME


MATAKULIAH PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN BIOLOGI
SEMESTER GASAL 2017-2018
Nama Penilai : Ahamad Mundzir R
NIm : 170341964552
Penilaian
No. Elemen Skor Maks
Teman Dosen
I. Identitas Resume
1 Judul resume 5 5
2 Keperluan ditulisnya resume 2 2
3 Nama penulis resume 2 2
4 Tempat dan waktu penulisan resume 1 1
II. Bagian Teks Utama Resume
5  Topik-topik relevan dengan materi yang dikaji 15 15
 Berisi pokok-pokok pikiran penting yang 20 18
berkaitan dengan materi yang dikaji
 Pokok-pokok pikiran dieksplor dari banyak 20 17
sumber (> 5 sumber buku atau artikel)
 Gambar/diagram/foto yang disertakan dilengkapi 15 15
dengan penjelasan yang sesuai dengan materi
yang dikaji
 Memunculkan pertanyaan-pertanyaan konvergen 20 17

92
Jumlah Skor Maksimal 100