Anda di halaman 1dari 66

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang

mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh

karena itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai

sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara.

Begitu pun juga, Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang

penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi pembukaan UUD 1945 alenia IV

yang menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah

mencerdaskan kehidupan bangsa.1

Salah satu komponen penting dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut

adalah guru. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap

terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu upaya

perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak

akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang

profesional dan berkualitas. Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan

salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Kinerja guru

dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, merupakan faktor utama

dalam pencapaian tujuan pengajaran, keterampilan peguasaan proses

pembelajaran ini sangat erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru

1
Kunandar, 2007. Guru Profesional; Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada) hal. V.

1
sebagai pengajar dan pendidik. Secara sempit dapat diinterprestasikan sebagai

pembimbing atau belajar fasilitator belajar siswa.

Adanya peningkatan dalam mutu pendidikan tidak terlepas dari peran guru

sebagai unsur utama dalam keseluruhan proses pendidikan. Guru mempunyai

tugas untuk membimbing, mengarahkan dan juga menjadi teladan yang baik bagi

para peserta didiknya, maka dari itu, dengan setumpuk tugas serta tanggung jawab

yang diembannya guru mampu menunjukkan bahwa dia mampu menghasilkan

kinerja yang baik demi terciptanya pendidikan yang baik.

Guru secara khusus sering diibaratkan sebagai jiwa bagi tubuh pendidikan,

karena pendidikan tidak akan berarti tanpa kehadiran guru, apapun model

kurikulum dan paradigma pendidikan yang berlaku, gurulah pada akhirnya yang

menentukan tercapai tidaknya program tersebut. Demikian juga sebaliknya ketika

terjadi kemerosotan kualitas pendidikan yang ada, guru tentunya mengambil peran

atasnya.2

Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya

yang diselengarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan

keberhasilan peserta didik, terutama kaitannya dengan proses belajar-mengajar.

Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses

dan hasil pendidikan yang berkualitas.3

Meningkatkan kualitas pembelajaran dalam pendidikan merupakan salah satu

upaya yang sedang diprioritaskan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada proses

2
Depag RI, Standar Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum Dan
Madrasah, (Jakarta: Depag, RI), hal. 1
3
E. Mulyasa, 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya) hal. 5.

2
kegiatan pembelajaran dimasa lalu banyak yang berjalan secara searah. Dalam hal

ini fungsi dan peranan guru menjadi amat dominan, guru sangat aktif tetapi

sebaliknya siswa menjadi sangat pasif dan tidak kreatif dan kadang siswa juga

dianggap sebagai obyek bukan sebagai subyek, sehingga siswa kurang dapat

dikembangkan potensinya. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang

dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan

sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan

berkualitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari

guru dan berujung pada guru pula.

Kompetensi adalah kecakapan atau kemampuan berupa pengetahuan

ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan

bertindak. Menurut UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 10

disebutkan “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan

perilaku yang harus dimilki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam

melaksanakan tugas keprofesionalannya“.4

Tanpa kompetensi yang jelas maka akan sulit untuk mengharapkan hasil

optimal dari suatu kegiatan maupun program yang akan dilakukan oleh seseorang

dalam hal ini pendidik karena itu, seseorang yang ditugaskan pada suatu jabatan

haruslah yang dipandang cakap dalam bidang tersebut termasuk tugas sebagai

guru baik guru di madrasah maupun guru pendidikan Islam di sekolah umum.5

Tanggung jawab guru pendidikan agama Islam sangat berat karena di

samping ia dituntut memiliki keempat kompetensi tersebut ia juga harus

4
Ibid, hal 23
5
Ibid, hal. 1

3
mempunyai kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam artian, selain

tuntutan akan kompetensi yang terkait dengan kode etik keguruan sebagaimana

pada umumnya, ia juga dituntut untuk memiliki kepribadian utama (kepribadian

muslim) dengan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Agama Islam merupakan sebutan yang diberikan pada salah satu

subyek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa muslim dalam menyelesaikan

pendidikannya pada tingkat tertentu. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan

dari kurikulum suatu sekolah sehingga merupakan alat untuk mencapai salah satu

aspek tujuan sekolah yang bersangkutan.

Pendidikan Islam merupakan suatu sistem pendidikan yang dimaksudkan

untuk membentuk manusia Muslim sesuai dengan cita-cita pandangan Islam.

Sebagai suatu sistem pendidikan, Pendidikan Islam memiliki komponen-

komponen atau faktor-faktor pendidikan yang secara keseluruhan mendukung

terwujudnya pembentukan sosok Muslim yang diidealkan. Lebih lanjut,

Pendidikan Keislaman merupakan salah satu macam pendidikan keagamaan,

yakni pendidikan yang secara khusus dimaksudkan untuk memberikan bekal

professional dibidang keagamaan kepada peserta didik.

Tugas Guru Pendidikan Agama Islam adalah berusaha secara sadar untuk

membimbing, mengajar dan/atau melatih siswa agar dapat:

1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaanya kepada Allah SWT yang telah

ditanamkan dalam lingkungan keluarga.

4
2. Menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta

mengembangkanya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk

dirinya sendiri daan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.

3. Memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-

kelemahanya dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan Islam dalam

kehidupan sehari-hari.

4. Menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan, paham atau

budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan

siswa.

5. Menyesuaikan diri dengan lingkunganya, baik lingkungan fisik maupun

lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam.

6. Menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai

kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

7. Mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh

sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.

Oleh karena itu, keberadaan guru yang profesional tidak bisa ditawar-tawar

lagi. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki sejumlah kompetensi yang

dapat menunjang tugasnya.

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, jelaslah bahwa profesionalisme

guru agama sebagai tenaga pendidik sangat diperlukan mengingat besar

pengaruhnya terhadap perkembangan para siswa dalam menanamkan nilai-nilai

kehidupan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis mencoba meneliti

Korelasi Antara Kompetensi Guru Terhadap Kualitas Pembelajaran Pendidikan

5
Agama Islam (PAI) di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun

Pelajaran 2013/2014.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi identifikasi masalah

dalam penelitian ini adalah:

1. Kompetensi guru PAI yang ada di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut

Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014.

2. Kualitas pembelajaran guru PAI yang ada di MTs. Parmiyatu Wasa’adah

Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014.

3. Korelasi kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran guru

PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran

2013/2014

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada pemikiran di atas, maka untuk penelitian yang lebih lanjut

peneliti dapat merumuskan masalah yaitu:

1. Bagaimana kompetensi guru PAI yang ada di MTs. Parmiyatu Wasa’adah

Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014?

2. Bagaimana kualitas pembelajaran guru PAI yang ada di MTs. Parmiyatu

Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014?

6
3. Seberapa besar korelasi kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas

pembelajaran guru PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan

Tahun Pelajaran 2013/2014?

4. Apa yang menjadi problema kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas

pembelajaran guru PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan

Tahun Pelajaran 2013/2014?

5. Bagaimana cara penanggulangan terhadap problema yang ada berkaitan

dengan kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran guru

PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran

2013/2014?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana kompetensi guru PAI yang ada di MTs.

Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014.

2. Untuk mengetahui bagaimana kualitas pembelajaran guru PAI yang ada di

MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran

2013/2014.

3. Untuk mengetahui seberapa besar korelasi kompetensi guru terhadap

peningkatan kualitas pembelajaran guru PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah

Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014.

7
E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

a. Dapat memperluas wawasan, pengaturan dan pengolahan ke dalam

bidang sesungguhnya.

b. Sebagai aplikasi dari ilmu yang diperoleh peneliti selama

perkuliahan.

c. Untuk memperoleh pengalaman yang sifatnya praktis, menambah

pengetahuan dan wawasan.

2. Bagi Lembaga

a. Sebagai sumber informasi dikemudian hari bagi mereka yang

mengadakan penelitian.

b. Sebagai bahan masukan untuk mengevaluasi sejauh mana

kurikulum yang diberikan mampu memahami kebutuhan tenaga kerja

yang terampil dibidangnya.

3. Bagi MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan.

Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan sebagai bahan masukan untuk

mengevaluasi terhadap kompetensi guru dalam meningkatkan kualitas

pembelajaran PAI.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Kompetensi Guru

a. Pengertian Kompetensi Guru

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kompetensi adalah

(kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal.6

Sedangkan Muhammad Uzer memberikan pengertian bahwa kompetensi

adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seorang,

baik kualitatif maupun kuantitatif. Sedangkan guru merupakan jabatan atau

profesi yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan ini tidaklah dapat

dikerjakan oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian, sebagai seorang

guru diperlukan syarat-syarat khusus. Apalagi untuk menjadi guru

profesional, ia harus mengetahui seluk beluk pendidikan dan pengajaran

dengan berbagai pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan

melalui mata pendidikan tertentu, masa pendidikan tertentu atau masa

pendidikan pra jabatan.7

Sementara Muhamad Zaini mengemukakan kompetensi sebagai

gambaran suatu kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang setelah

mengalami proses pembelajaran tertentu.8

6
Purwadarminta, 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: PT. Erlangga) hal.321
7
Moh. Uzer Usman, 2006. Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya)
hal. 4-5
8
Muhammad Zaini, 2006. Pengembangan Kurikulum (Surabaya:eLKAF) hal.115

9
Dari uraian di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa

“kompetensi guru” adalah suatu perbuatan yang dapat diamati dan sejumlah

konsep atau pengetahuan yang dimiliki oleh guru dalam hubungannya dengan

tugasnya sebagai seorang pengajar dan sekaligus pendidik atau mentransfer

ilmu pengetahuan dalam rangka membantu anak menuju kedewasaan baik

rohani maupun jasmani.

b. Kompetensi Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Guru

Menurut Baharuddin Harahap ada beberapa kompetensi yang harus

dimiliki oleh seorang guru agar tugas-tugasnya bisa berjalan dengan lancar,

yaitu:

1) Menguasai bahan pelajaran sesuai dengan kurikulum

a) Menguasai metodologi dalam pelajaran, jika guru akan

mengajarkannya, umpamanya guru harus mendemonstrasikan cara

sholat dan murid-muridnya mengikutinya atau menirunya.

b) Menguasai bahan pendalaman, guru harus mempelajari bahan lain di

luar buku teks.

2) Mengelola proses belajar mengajar

a) Merumuskan tujuan instruksional

b) Mengenal dan menggunakan metode pengajaran

c) Menyusun dan melaksanakan proses belajar mengajar

d) Mengenal kemampuan anak didik.

3) Mengelola kelas, menciptakan iklim belajar yang serasi

10
4) Menggunakan media (sumber belajar)

a) Mengenal, memilih dan menggunakan media

b) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar

5) Mengelola interaksi belajar mengajar

a) Cara memotivasi siswa untuk belajar

b) Menguasai macam bentuk pernyataan

c) Menguasai cara-cara berkomunikasi

6) Menilai prestasi belajar

a) Menguasai teknik dan prosedur penilaian dan penggunaannya

b) Menggunakan hasil penelitian untuk pengajaran selanjutnya

7) Mengenal fungsi dan program pelajaran bimbingan dan penyuluhan serta

penyelenggaraannya.

8) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah yang efektif yaitu

menguasai peraturan-peraturan tata usaha yang berlaku.9

c. Karakteristik Kompetensi Guru

Seorang guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan

keahlian dalam bidang keguruan atau dengan kata lain ia telah terdidik dan

terlatih dengan baik. Terdidik dan terlatih bukan hanya memperoleh

pendidikan formal saja akan tetapi juga harus menguasai berbagai strategi

9
Baharuddin Harahap, 1983. Supervisi Pendidikan yang Dilakukan Guru Kepala Sekolah,
Penilik dan Pengawas Sekolah, (Jakarta: PT. Damai Jaya) hal. 19-20

11
atau teknik didalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-

landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru.10

Untuk melihat apakah seorang guru dikatakan profesional atau tidak,

dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama dilihat dari tingkat pendidikan

minimal dari latar pendidikan untuk jenjang sekolah tempat dia menjadi guru.

Kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola kelas,

mengelola proses pembelajaran, pengelolaan siswa, dan melakukan tugas-

tugas bimbingan dan lain-lain.11

Menurut Gordon sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa, bahwa ada

enam aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi, yaitu

sebagai berikut :

1) Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif,

misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan Identifikasi

kebutuhan belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap

peserta didik sesuai dengan kebutuhannya.

2) Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dfan afektif yang

dimiliki oleh individu, misalnya seorang guru yang akan melaksanakan

pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik

dan kondisi peserta didik, agar melaksanakan pembelajaran berjalan

secara efektif dan efesien.

3) Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk

melakuakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, misalnya

10
Usman Uzer, 1995. Menjadi Guru Profesional (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya) hal. 15
11
Sudarwan Denim, 2002. Inovasi Pendidikan, (Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme
Tenaga Kependidikan) (Bandung : PT. Pustaka Setia) hal. 30

12
kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana

untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik.

4) Nilai (value), adalah suatu atandar perilaku yang telah diyakini dan

secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, misalnya standar

perilaku guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis,

dan lain-lain)

5) Sikap (attitude) yaitu perasaan (senang, tak senang, suka-tidak suka) atau

reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, reaksi terhadap

krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan lain-lain.

6) Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan

sesuatu perbuatan, misalnya minat untuk melakukan sesuatu atau untuk

mempelajari sesuatu.12

Lebih janjut Cece Wijaya memperinci jenis-jenis kompetensi antara lain:

1) Kompetensi personal.

Dalam proses belajar mengajar, guru memegang peranan yang sangat

penting karena pada gurulah terletak keberhasilan proses belajar

mengajar. Untuk itu guru merupakan faktor yang sangat dominan dan

menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di samping faktor yang

lain. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, guru harus memiliki

kemampuan dasar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan personal guru itu

sendiri.

12
E. Mulyasa, Op. Cit. Hal. 38

13
Adapun kompetensi atau kemampuan personal guru dalam proses belajar

mengajar, antara lain:

a) Kemantapan dan integritas pribadi.

b) Peka terhadap perubahan dan pembaharuan

c) Berpikir alternatif.

d) Adil, jujur dan objektif.

e) Berdisiplin dalam melaksanakan tugas.

f) Ulet dan tekun bekerja.

g) Berupaya memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya.

h) Simpatik dan menarik, luwes, bijaksana dan sederhana dalam

bertindak.

i) Bersifat terbuka.

j) Kreatif.

k) Berwibawa.

2) Kompetensi sosial

Guru merupakan tokoh dan tipe makhluk yang diberi tugas dan

tanggungjawab, membina dan membimbing masyarakat ke arah norma

yang berlaku. Untuk itu maka guru perlu memiliki kemampuan sosial

dengan masyarakat dalam rangka menyelenggarakan proses belajar

mengajar yang efektif. Karena dengan kemampuan sosial yang dimiliki

guru tersebut, secara otomatishubungan sekolah dengan masyarakat akan

berjalan beriringan dengan lancar. Sehingga bila ada permasalahan antara

sekolah dan masyarakat (orang tua atau wali) tidak merasa kesulitan

14
dalam mencari jalan penyelesaiannya Kompetensi sosial yang harus

dimiliki oleh seorang guru antara lain:

a) Terampil berkomunikasi dengan siswa.

b) Bersikap simpatik.

c) Dapat bekerjasama dengan BP-3.

d) Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.

3) Kompetensi profesional.

Selain kompetensi personal dan sosial tersebut di atas, guru juga dituntut

memilikiki kompetensi profesional. Profesional merupakan modal dasar

bagi seorang guru yang harus dimiliki dan tertanam dalam perilaku

kepribadiannya setiap hari baik didalam lingkungan sekolah maupun

masyarakat.13 Sementara itu Proyek Pembinaan Guru (P3G) ada 10

(Sepuluh) kompetensi yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan

pendidikan. Kompetensi tersebut adalah:

a) Menguasai bahan.

b) Mengelola program belajar mengajar.

c) Mengelola kelas.

d) Menggunakan media atau sumber belajar.

e) Menguasai landasan kependidikan.

f) Mengelola interaksi belajar mengajar.

g) Menilai prestasi belajar siswa.

h) Mengenal fungsi dan layanan BP.

13
Cece Wijaya, Tabrani Rusyan, 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam PBM, (Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya) hal. 13-23

15
i) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.

j) Memahami dan menafsirkan hasil penelitian.14

Dari uraian mengenai kompetensi guru di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa untuk menjadi guru yang profesional, ia harus benar-benar memiliki

dan menguasai sepuluh kompetensi yaitu : menguasai bahan atau materi

pelajaran, mampu mengelola program belajar mengajar, mampu mengelola

kelas dengan baik, mampu mengelola dan menggunakan media yang baik,

menguasai landasan kependidikan, mampu mengelola interaksi belajar

mengajar dengan baik, menilai prestasi belajar siswa, mengenal fungsi

layanan BP, mampu menyelenggarakan administrasi sekolah.

d. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kompetensi Guru

Dalam rangka membina dan meningkatkan kompetensi guru, seringkali

dihadapkan pada beberapa faktor yang memengaruhi, yaitu:

1) Kurang adanya inovasi

Para guru sepertinya menyadari bahwa menduduki jabatan sebagai guru

semata-mata menuntut pelaksanaan menuntut pelaksanaan tugas

sebagaimana adanya, tetapi juga mempedulikan apa yang seharusnya

dicapai oleh pelaksanaan tugasnya. Dengan adanya kepedulian

diharapkan pelaksanaan tugasnya akan tumbuh sikap inovatif, yakni

kecenderungan untuk selalu meningkat.

14
Sardiman AM, 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada) hal. 163-179.

16
2) Lemahnya motivasi untuk meningkatkan kemampuan

Dorongan untuk meningkatkan kemampuan melaksanakan tugas

profesional sebagai guru sepatutnya dari dalam dirinya sendiri, lemahnya

dorongan untuk meningkatkan kemampuan menjadi hambatan terhadap

kemampuan profesional khususnya dalam melaksanakan pengajaran.

3) Ketidakpedulian terhadap perkembangan

Para guru yang mempunyai kepedulian rendah terhadap berbagai

perkembangan dan kemajuan, beranggapan bahwa semua kemajuan yang

dicapai tidak mempunyai arti bagi dirinya maupun siswanya. Dengan

demikian ia cenderung mempertahankan pola kerja yang selama ini

dipegangnya.

4) Kurangnya sarana dan prasarana

Permasalahan yang berkaitan dengan sarana dan prasarana untuk

meningkatkan kemampuan dalam proses belajar merupakan suatu

kegiatan terpadu dari seluruh masalah yang dihadapinya. Betapa pun

lengkap dan canggihnya sarana yang tersedia, bila permasalahan yang

menyangkut faktor guru seperti sikap konservatif. Lembaga motivasi dan

ketidakpedulian terhadap perkembangan itu belum disingkirkan adanya

kecenderungan pengadaan sarana dan prasarana kurang bermanfaat untuk

menunjang keberhasilan.

17
Setelah kita mengetahui hambatan-hambatan tersebut di atas, upaya-

upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut adalah:

1) Menambah kreativitas guru

Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

a) Iklim kerja yang memungkinkan para guru meningkatkan

kemampuan dan kecakapan melakukan tugas.

b) Kerjasama yang cukup baik antara berbagai personal pendidikan

dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya.

c) Pemberian kepercayaan kepada guru untuk meningkatkan diri dan

menunjukkan karya dan gagasan kreatifnya

d) Melimpahkan wewenang yang cukup besar kepada para guru dalam

melaksanakan tugasnya dan memecahkan permasalahan yang

dihadapi dalam pelaksanaan tugas.

e) Pemberian kesempatan kepada guru untuk merumuskan kebijakan-

kebijakan yang merupakan bagian dalam kebijakan-kebijakan yang

berhubungan dengan kegiatan pendidikan.

2) Penataran dan lokakarya.

3) Supervisi

Supervisi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan

dalam proses belajar mengajar melalui upaya menganalisa berbagai

bentuk tingkah laku pada saat melakukan proses belajar mengajar.

18
4) Pengajaran mikro

Pengajaran mikro secara praktek untuk melatih kemampuan

melaksanakan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan oleh

sekelompok guru (biasanya antara 5 dan 10 orang) di suatu sekolah.15

Meski kompetensi guru adalah salah satu faktor yang memengaruhi

prestasi belajar siswa, namun kompetensi guru sendiri tidaklah berdiri sendiri,

tetapi juga dipengaruhi oleh faktor latar belakang pendidikan dan pengalaman

mengajar.

Latar belakang pendidikan seorang guru dari guru lainnya terkadang

tidak sama dari pengalaman pendidikan yang pernah dimasuki selama jangka

waktu tertentu. Perbedaan latar belakang pendidikan ini dilator belakangi oleh

jenis dan penjenjangan dalam pendidikan.

Menurut Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional

Bab V, Pasal 12, bahwa “ jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan

sekolah terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan

tinggi”.

Konstitusi tersebut adalah bersifat umum dan memerlukan penjelasan.

Untuk itu jenjang pendidikan dan kebudayaan adalah mulai dari sekolah dasar

(SD), SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Sedangkan jenjang pendidikan yang

berada di bawah wewenang Departemen Agama adalah mulai dari Madrasah

Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Perguruan Tinggi

Agama.

15
Cece Wijaya, Tabrani Rusian, 1991. Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar
Mengajar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya) hal. 188 -193

19
Perbedaan latar belakang pendidikan akan memengaruhi kegiatan guru

dalam melaksanakan kegiatan interaksi belajar mengajar. Guru alumnus FKIP

atau Fakultas Tarbiyah dan guru alumnus FISIP akan berbeda cara mengajar

mereka. Sebab guru alumnus FKIP atau fakultas Tarbiyah telah memiliki

sejumlah pengalaman teoretis di bidang keguruan, sedangkan guru alumnus

FISIP tidak pernah menerima pengalaman di bidang keguruan. Dari kedua

orang sarjana dari alumnus suatu Perguruan Tinggi yang berbeda inilah sudah

terlihat perbedaannya. Apalagi bila dibandingkan antara guru alumnus SMA

dengan guru alumnus suatu Perguruan Tinggi.

Profesi keguruan yang sesuai dengan disiplin keilmuan ditukar dengan

yang bukan ahlinya, maka akan merugikan kegiatan pengajaran. Sebab

mereka kurang mampu melaksanakan kegiatan interaksi belajar mengajar

dengan baik. Jangankan untuk seorang guru yang bukan bidangnya, untuk

seor ang guru yang sesuai dengan bidangnya pun belum tentu dapat

mengajarkannya dengan baik dan benar. Jadi pengalaman mengajar

diperlukan guru dalam interaksi belajar mengajar.

Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa latar belakang pendidikan

seorang guru akan mempengaruhi kompetensinya dalam interaksi belajar

mengajar.16

16
Syaiful Bahri, 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: PT. Usaha Nasional)
hal. 130- 132

20
2. Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

a. Pengertian Kualitas

Secara etimologi ‘Kualitas’ mempunyai pengertian sebagai tingkat baik

buruknya sesuatu, kadar, derajat, taraf, dan mutu sesuatu. Jika digabungkan

dengan kata ‘Pendidikan Agama Islam’ maka akan menjadi ‘Kualitas

Pendidikan Agama Islam’ yang mengandung pengertian bahwa baik

buruknya kadar, derajat atau taraf pendidikan agama Islam yang telah

dihasilkan oleh sebuah lembaga pendidikan.

Davis dalam Yamit membuat definisi kualitas yang lebih luas

cakupannya yaitu kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang

berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang

memenuhi atau melebihi harapan.17

Pandangan tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan yang berkualitas

adalah pendidikan yang efisien dan efektif. Jika berpegang pada paham

bahwa pendidikan adalah suatu sistem yang terdiri dari masukan-proses dan

lulusan (hasil), maka dikatakan bahwa pendidikan yang berkualitas apabila

masukkan, proses dan lulusan (hasil) dengan secara efesien dan efektif. Dan

peningkatan hasil yang berkualitas adalah dimana lulusan atau hasil tersebut

telah mampu mencapai efisiensi dan efektivitas proses pendidikan yang telah

diselenggarakan.

17
http://smileboys.blogspot.com/2008/07/pengertian-kualitas.html (diakses pada 05 April 2013
pukul. 15.45 Wib)

21
Guru kreatif, professional, dan menyenangkan harus memiliki berbagai

konsep dan cara untuk mendongkrak kualitas pembelajaran. Beberapa jurus

jitu untuk mendongkrak kualitas pembelajaran, antara lain dengan

mengembangkan kecerdasan emosi (emotional quotient), mengembangkan

kreativitas (creativity quotient) dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta

didik dengan kasih sayang, membangkitkan nafsu belajar, memecahkan

masalah, mendayagunakan sumber belajar, dan melibatkan masyarakat dalam

pembelajaran.18

Bagaimanapun istilah kualitas ini mengandung dua hal. Dari kedua

pandangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa output atau hasil yang

berkualitas adalah hasil yang secara internal telah mencapai tujuan atau

setidak-tidaknya mencapai target yang minimal. Pendidikan yang telah

ditetapkan dan yang secara eksternal apa yang telah dicapai dalam proses

pendidikan yang telah dilakukan baik berupa pengalaman, ilmu pengetahuan,

nilai-nilai dan sebagainya itu dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Jika berpijak pada pengertian di atas, maka pengertian kualitas

pendidikan adalah apabila output atau hasil itu mampu mencapai tujuan yang

telah diselenggarakannya dalam program pendidikan, setelah apa yang

diperoleh baik berupa ilmu pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai, dan

sebagainya dapat berguna dan bermanfaat bagi semua manusia termasuk pada

dirinya.

18
E. Mulyasa, 2007. Menjadi Guru Profesional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya) hal.161

22
b. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Salah satu tugas guru adalah penyelenggaraan pembelajaran, menurut

Muhibbin Syah belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan tingkah

laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi

dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.19

Adapun pembelajaran berasal dari kata dasar “ajar” yang artinya

petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/diturut. Kata kerja

“belajar” yang berarti memperoleh kepandaian atau ilmu. Kata

“pembelajaran” berasal dari kata “belajar” yang mendapat awalan “pe” dan

akhiran “an”, yang mempunyai arti proses.20

Definisi pembelajaran menurut Degeng dan Muhaimin, pembelajaran

(ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya “pengajaran”) adalah upaya untuk

membelajarkan siswa.21 Dan pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan

yang terdiri atas unsur-unsur yang terpadu dan saling berinteraksi secara

fungsional.22

Sedangkan Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana

dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati

hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan

ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur'an dan hadits,

19
Muhibbin Syah, 2004. Psikologi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya) hal. 92
20
Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1998. Kamus Besar
Indonesia (Jakarta: PT. Balai Pustaka) hal. 13
21
Muhaimin, 2002. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam Di Sekolah (Bandung, PT. Remaja Rosda Karya) hal. 183
22
Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan
Pengembangan Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan (Bandung, PT. Nuansa) hal.74

23
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan

pengalaman. Dibarengi tuntutan untuk menghormati menganut agama lain

dalam masyarakat hingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.23

Dengan demikian yang dimaksud pembelajaran Pendidikan Agama Islam

(PAI) adalah “Suatu upaya membelajarkan peserta didik agar dapat belajar,

butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar dan tertarik terus menerus

mempelajari agama Islam, baik untuk kepentingan mempengaruhi bagaimana

cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai

pengetahuan.”24

Dan Pendidikan Agama Islam adalah merupakan salah satu bidang studi

yang harus dipelajari dalam rangka menyelesaikan pendidikan pada tingkat

tertentu, yang didesain dan diberikan kepada siswa yang beragama Islam

dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan keberagamaannya.25

c. Tujuan Pembelajaran PAI

Tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat penting, sebab tujuan

merupakan sesuatu yang hendak dituju oleh suatu pendidikan. Demikian pula

hanya dengan pendidikan Islam, maka tujuan pendidikan Islam itulah yang

hendak dicapai dalam kegiatan atau pelaksanaan pendidikan agama Islam.

Pusat kurikulum Depdiknas mengemukakan bahwa pendidikan agama

Islam di Indonesia adalah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan

23
H. Syueb Kurdi, Abdul Aziz, 2006. Model Pembelajaran Efektif Pendidikan Agama Islam di
SD dan MI, (Bandung: PT. Pustaka Bani Quraisy) hal. 1-7
24
Muhaimin, Op.Cit., hal. 183
25
Irpan Abd. Gafar, Muhammad Jamil B., 2003. Reformasi Rancangan Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Nur Insani) hal. 70

24
keimanan, peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan,

penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama

Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal

keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT.26 Serta berakhlak mulia dalam

kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Peserta didik yang telah mencapai tujuan pendidikan agama Islam dapat

digambarkan sebagai sosok individu yang memiliki keimanan, komitmen,

ritual dan sosial pada tingkat yang diharapkan. Dengan demikian, pendidikan

agama Islam di samping bertujuan menginternalisasi (menanamkan dalam

pribadi) nilai-nilai Islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu

mengamalkan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas

konfigurasi idealitas wahyu Tuhan.

Dalam arti, pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik

anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam berpikir,

beriman, dan bertakwa kepada Allah SWT.

Sebagaimana Islam telah memberi jawaban yang tegas dalam hal ini,

seperti firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat : 56 yang berbunyi:

  


  

Artinya :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

26
Depdiknas. 2004. Kurikulum Nasional. Jakarta. hal. 40

25
3. Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Peningkatan Kualitas

Pembelajaran PAI

Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki guru agar

tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik. Kompetensi berasal dari

bahasa Inggris, yakni “competence”, yang berarti kecakapan, kemampuan.

Menurut kamus bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan)

untuk menentukan (memutuskan) sesuatu.

Guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap

pendidikan murid- murid, baik secara individual atau klasikal, baik di sekolah atau

di luar sekolah, seorang guru minimal memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai

wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugasnya. Dengan demikian,

kompetensi guru berarti pemikiran pengetahuan keguruan, dan pemikiran

keterampilan serta kemampuan sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya.

Guru sangat menentukan kualitas kader bangsa. Tugas guru sangat berat

bukan hanya mengajar tetapi mendidik agar anak didik menjadi manusia dewasa

dan mandiri, bertanggung jawab.

Untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru, pemerintah Indonesia

melaksanakan suatu kebijakan baru dengan mengadakan pemilihan guru teladan,

baik tingkat daerah atau pun nasional. Dengan harapan agar guru dapat

meningkatkan mutu keilmuan mereka dengan berusaha membenahi kualitas diri

sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai segi

kehidupan. Dan melahirkan guru-guru teladan yang baru dengan wajah baru.

Dengan demikian usaha ini akan membawa prospek yang lebih baik dalam

26
pendidikan. Proses interaksi belajar mengajar akan lebih baik, yang pada

gilirannya akan memengaruhi prestasi belajar anak didik.27

Ada beberapa indikator dalam peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan

Agama Islam sebagai berikut:

a. Prestasi Siswa Meningkat

Prestasi siswa dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan Pendidikan Agama

Islam. Namun selama ini Pendidikan Agama Islam yang berlangsung

cenderung mengedepankan aspek kognitif (pengetahuan) saja dari pada aspek

afektif (rasa) dan psikomotorik (tingkah laku).28

b. Siswa Mampu Bekerjasama

Di dalam pembelajaran diperlukan suatu kerja sama antar siswa ataupun

siswa dengan guru. Dengan adanya kekompakan dan keharmonisan akan

timbul suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan.

Keharmonisan perlu dijaga dan dipelihara dengan mewujudkan sikap: 1)

adanya saling pengertian untuk tidak saling mendominasi, 2) adanya saling

menerima untuk tidak saling berjalan menurut kemauan sendiri-sendiri, 3)

adanya saling percaya untuk tidak saling mencurigai, 4) adanya saling

menghargai untuk tidak saling truth claim (kalim kebenaran), 5) saling

kasih sayang untuk tidak saling membenci dan iri hati.29

27
Syaiful Bahri Djamarah, 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Jakarta : PT. Rineka
Cipta) hal. 32-62
28
Maftuh Basuni, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada) hal. 23
29
Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar, Op Cit. hal. 26

27
c. Adanya Pembelajaran yang Menyenangkan

Pembelajaran yang menyenangkan sangat diperlukan untuk membantu siswa

dalam menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru. Karena

apabila siswa tidak mampu menyenangi pembelajaran maka materi yang

disampaikan tidak akan membekas pada diri siswa. Pembelajaran yang

menyenangkan ini biasanya dengan menggunakan metode yang variatif dan

pembentukan suasana kelas yang menarik.

d. Mampu Berinteraksi dengan Pelajaran Lain

Problematika dunia tidak hanya ada pada masalah keagamaan saja, akan

tetapi lebih banyak dalam bidang-bidang keduniaan. Namun Pendidikan

Agama Islam bisa saja menjadi solusi dari semua bidang- bidang tersebut

asalkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan mampu

beriteraksi dengan mata pelajaran lain.

e. Mampu Mengkontekstualkan Hasil Pembelajaran

Pembelajaran kontekstual sangat diperlukan untuk membiasakan dan melatih

siswa dalam bersosial, bekerjasama dan memecahkan masalah. Belajar akan

lebih bermakna apabila anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya,

bukan “mengetahuinya”.

f. Pembelajaran yang Efektif di Kelas dan Lebih Memberdayakan Potensi

Siswa

Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil

pendidikan. Dan secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan

28
pembelajaran yang efektif di kelas dan lebih memberdayakan

potensi siswa. Ketiga hal itulah yang menjadi fokus pendidikan di Indonesia.

g. Pencapaian Tujuan dan Target Kurikulum

Pencapaian tujuan dan target kurikulum merupakan tugas yang harus

dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam setiap pembelajarannya. Tujuan dan

target tersebut bisa dijadikan tujuan minimal maupun maksimal yang harus

dicapai tergantung kepada kemampuan pihak sekolah yang terdiri dari

guru dan unsur-unsur lain sekolah yang melaksanakannya

Untuk mendongkrak kualitas pembelajaran, Mulyasa mengemukakan bahwa

disamping penyediaan lingkungan yang kreatif, guru dapat menggunakan

pendekatan sebagai berikut:

a. Self Esteem approach. Dalam pendekatan ini guru dituntut lebih

mencurahkan perhatiannya pada pengembangan self esteem (kesadaran akan

harga diri), guru tidak hanya mengarahkan peserta didik untuk mempelajari

materi, tetapi pengembangan sikap harus mendapat perhatian secara

proporsional.

b. Multiple talent approach. Pendekatan ini mementingkan upaya

pengembangan seluruh potensi peserta didik, karena manifestasi

pengembangan potensi akan membangun self concept yang menunjang

kesehatan mental.

c. Synestis approach. Pada hakikatnya pendekatan ini memusatkan perhatian

pada kompetensi peserta didik untuk mengembangkan berbagai bentuk

29
metaphor untuk membuka intelegensinya dan mengembangkan

kreativitasnya.30

Guru-guru yang mengajar atau mendidik sudah tentu harus menjadikan

dirinya sebagai sarana penyampaian cita-cita kepada anak yang telah diamanatkan

kepadanya, bahkan guru agama pada khususnya harus lebih dari itu semua, yakni

harus sanggup menjadi pendukung sebenar-benarnya akan kebenaran cita-cita

yang diajarkannya. Itulah sebabnya guru sebagai pendidik di sekolah harus

memenuhi syarat-syarat yang dipertanggungjawabkan dalam pendidik baik dari

segi jasmaniah maupun rohaniah.

Untuk menentukan seorang guru yang baik adalah sangat sukar, sebab

mengajar yang baik ditentukan oleh beberapa faktor yang berlainan. Guru yang

baik di kelas rendah, belum tentu baik di kelas tinggi, dan sebaliknya. Walaupun

seorang guru mengajar di satu kelas, anak-anak setiap tahun berbeda dari tahun ke

tahun, sehingga tidak dapat dipakainya setiap tahun dengan cara yang sama.

Memang mengajar bukanlah suatu pekerjaan yang rutin, sesuatu yang mekanis,

guru bukanlah suatu piringan hitam yang mendengarkan lagu yang sama dari

tahun ke tahun.

Dengan demikian kompetensi guru, besar pengaruhnya terhadap pola

mengajar yang digunakan untuk peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan

Agama Islam (PAI).31

30
Mulyasa, 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya) hal. 93-94
31
Nana Sudjana, 2008. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: PT. Sinar Baru
Algensindo) hal. 41-42

30
B. Kerangka Berpikir

Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini, yaitu :

Kompetensi Guru Kualitas Pembelajaran PAI


1. Menguasai bahan. 1. Prestasi Siswa Meningkat
2. Mengelola program belajar 2. Siswa Mampu Bekerjasama
mengajar. 3. Adanya Pembelajaran yang
3. Mengelola kelas. Menyenangkan
4. Menggunakan media atau 4. Mampu Berinteraksi dengan
sumber belajar. Pelajaran Lain
5. Menguasai landasan 5. Mampu
kependidikan. Mengkontekstualkan Hasil
6. Mengelola interaksi belajar Pembelajaran
mengajar. 6. Pembelajaran yang Efektif
7. Menilai prestasi belajar siswa. di Kelas dan Lebih
8. Mengenal fungsi dan layanan Memberdayakan Potensi
BP. Siswa
9. Mengenal dan 7. Pencapaian Tujuan dan
menyelenggarakan administrasi Target Kurikulum
sekolah.
10. Memahami dan menafsirkan
hasil penelitian
C. Penelitian Yang Relevan

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh AFNI MUFAIDAH dengan judul

“Studi Korelasi Antara Kompetensi Guru Dengan Kualitas Pembelajaran

Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Aliyah Negeri Babat”, beliau berpendapat

bahwa kompetensi guru PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan

tergolong dalam kategori cukup, hal ini berdasarkan hasil penelitian dengan

menggunakan rumus prosentase dan didukung hasil observasi dengan hasil 73 %

yang berarti cukup. Sedang kualitas pembelajaran guru PAI tergolong cukup juga,

dengan hasil pe nelitian 73 %. Sebagai hasil akhir dari penelitian ini,

menunjukkan bahwa kompetensi guru berpengaruh terhadap kualitas

pembelajaran PAI hal berdasarkan hasil penelitian dengan rumus product moment

31
dengan hasil 0,53. Jika dikonsultasikan dengan t table product moment dengan

df= 8 pada taraf signifikansi 5 % = 0,334, maka hipotesis kerja yang diajukan

dalam penelitian ini diterima, berarti ada pengaruh kompetensi guru terhadap

kualitas pembelajaran PAI d di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan

dengan tingat pengaruh yang sedang atau cukup.

D. Hipotesa

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban/kesimpulan sementara terhadap

masalah yang diteliti dan diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan

penelitian.32

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah

ada korelasi antara kompetensi guru terhadap kualitas pembelajaran PAI di MTs.

Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014.

32
Suharsimi Arikunto, 1993. Prosedur Penelitian , (Jakarta : Rineka Cipta) hal. 70

32
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Untuk mancapai hasil yang optimal, sistematis, serta dapat dipertanggung

jawabkan secara ilmiah, maka sebuah penelitian harus mempunyai metode

tertentu sebagai suatu sistem atau aturan dalam menentukan jalan guna mencapai

pengertian baru pada bidang ilmu pengetahuan.

Secara definitif, metode penelitian adalah suatu cara bertindak menurut

sistem aturan tertentu. Jadi metode penelitian adalah cara mencari kebenaran dan

asas-asas gejala alam, masyarakat/kemanusiaan, berdasarkan disiplin ilmu yang

bersangkutan.33 Maksud metode ialah supaya kegiatan praktis terlaksana secara

rasional dan terarah, agar mencapai hasil yang optimal. Dengan kata lain, metode

sebagai cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang

bersangkutan.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research),

yaitu penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan di lapangan dengan

menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik tentang keadaan objek

penelitian.34

33
Depdikbud, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka) hal. 581
34
Sarjono, dkk, 2004. Panduan Penulisan Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama
Islam Fak. Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) hal. 21

33
B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut

Sei Tuan Tahun Pelajaran 2013/2014.

C. Metode Penentuan Subyek

Subyek penelitian adalah sumber utama penelitian, yaitu orang yang memiliki

data mengenai variabel-variabel yang diteliti.35 Adapun yang dimaksud dengan

metode penentuan subyek atau sering disebut dengan metode penentuan sumber

data ialah cara yang lazim digunakan dalam suatu penelitian, untuk menempatkan

populasi sementara.

Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah:

a. Kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam, dan staf madrasah yang

berada di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran

2013/2014.

b. Siswa MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran

2013/2014.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data ialah suatu cara yang digunakan oleh peneliti

untuk mengumpulkan data.36 Sesuai dengan jenis penelitiannya, maka

pengumpulan data yang digunakan adalah:

35
Syaifuddin Azwar, 1999. Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) hal.34
36
Suharsimi Arikunto, 1998. Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta) hal. 134

34
a. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa

catatan, buku, majalah, dan lain-lain.37 Metode ini juga digunakan untuk

mendapatkan data-data gambaran umum juga.

Penulis menggunakan metode ini karena metode ini merupakan metode

pengumpulan data dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.

Adapun data-data yang dapat dikumpulkan melalui metode ini adalah

mengenai keadaan MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan, Kepala

Madrasah, Guru, Struktur Organisasi, Staf Pengajar dan Tenaga Administrasi,

maupun para siswanya.

b. Metode Wawancara

Metode ini juga sering disebut dengan istilah metode interview yang

berbentuk pengajuan pertanyaan-pertanyaan secara lisan kepada sumber data

dan dilakukan dalam suatu bentuk tanya jawab secara sistematis dan

berlandaskan tujuan penelitian.38 Dalam hal ini peneliti/pewawancara

mengajukan pertanyaan kepada responden untuk dijawab guna menggali hasil

jawaban secara mendalam.39 Metode ini digunakan untuk mendapatkan

informasi dari kepala madrasah, guru agama Islam, siswa, dan karyawan

tentang kompetensi guru pendidikan agama Islam di MTs. Parmiyatu

Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan.

37
Suharsimi Arikunto, 2002. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek, Edisi V (Jakarta: PT.
Rineka Cipta) hal. 206
38
Ibid., hal. 193.
39
Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 1989. Metode Penelitian Survai (Jakarta: LP3ES)
hal. 192

35
c. Metode Observasi

Metode observasi adalah metode pengamatan dan pencatatan yang sistematis

terhadap gejala-gejala yang diteliti. Dalam penggunaanya yang terpenting

ialah mengandalkan pengamatan dan ingatan peneliti.40

Metode ini digunakan untuk mengamati perilaku guru agama Islam di dalam

kelas, antara lain:

1) Kemampuan guru agama Islam dalam melakukan interaksi dengan siswa.

2) Kemampuan guru agama Islam dalam menyampaikan pelajaran.

3) Kemampuan guru agama Islam dalam mengelola kelas, termasuk

metode, motivasi dan media yang digunakan.

4) Gaya mengajar guru.

5) Suasana kelas pada umumnya.

Adapun observasi yang dilakukan di luar kelas meliputi pengamatan terhadap

keadaan madrasah pada umumnya (letak geografis, sarana prasarana, situasi

dan kondisi lingkungan madrasah) dan kemampuan guru Pendidikan Agama

Islam dalam berinteraksi dengan peserta didik di luar kelas, karyawan, teman

sejawat dan masyarakat.

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Teknik analisis data merupakan cara yang digunakan untuk menguraikan

keterangan-keterangan atau data yang diperoleh agar data tersebut dapat dipahami

bukan saja oleh orang yang mengumpulkan data tapi juga oleh orang lain.

40
Husaini Usman & Purnomo Setiady Akbar, 1996. Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: PT.
Bumi Aksara) hal.54.

36
Untuk mengolah data hasil penelitian, penulis melakukan langkah-langkah

sebagai berikut:

1. Editing

Dalam mengolah data, pertama kali yang harus dilakukan adalah editing,

yaitu melakukan edit, memilih atau meneliti angket satu persatu tentang

kelengkapan dan kebenaran pengisian angket, sehingga terhindar dari

kekeliruan dan kesalahan.

2. Skoring

Setelah melewati tahap editing, maka selanjutnya penulis memberikan skor

tehadap butir-butir pertanyaan yang terdapat dalam angket. Butir jawaban

yang terdapat dalam angket ada empat, yaitu a,b,c dan d.

Adapun pemberian skor untuk tiap jawaban adalah:

Senang (S) 4

Tidak Senang (TS) 3

Kurang Senang (KS) 2

3. Tabulating

Tabulasi adalah perhitungan terhadap data yang sudah diberikan skor

berdasarkan jenis data yang dikumpulkan yaitu data kualitatif yang kemudian

diubah menjadi kuantitatif, maka teknik yang digunakan adalah analisis

statistik, yaitu dengan menggunakan rumus statistik (prosentase) yang

digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian dengan rumus sebagai

berikut:

37
f
P= x 100 %
N

P = Prosentase Jawaban

F = frekuensi

N = Number of Cases (banyaknya responden)

Setelah prosentase diperoleh, selanjutnya angka-angka tersebut diinterpretasikan

menurut standar kualifikasi sebagai berikut:

< 40% : Kategori Rendah

40% - 55% : Kategori Kurang Baik

56% - 76% : Kategori Cukup

76% - 100% : Kategori Baik

4. Analisa Product Moment

Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi kompetensi guru dengan

peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs.

Parmiyatu Wasa’adah Kecamatan Percut Sei Tuan maka penulis

menggunakan rumus product moment.

𝑛Σ 𝑥𝑦 − (Σx)(Σy)
𝑟𝑥𝑦 =
√{𝑛Σx 2 − (Σx)2 }{𝑛Σy 2 − (Σy)2 }

Keterangan :

rxy : Koefisien validitas test

X : Skor yang diperoleh

Y : Skor total

N : Jumlah yang mengikuti test

38
F. Tahap-Tahap Penelitian

Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan penelitian:

a. Tahap Pra Lapangan

1) Memilih lapangan penelitian, dengan pertimbangan bahwa MTs.

Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan adalah salah satu sekolah /

Madrasah yang menerapkan kualitas pembelajaran PAI.

2) Mengurus perijinan, baik secara formal maupun informal

3) Melakukan penjajakan lapangan, dalam rangka penyesuian dengan MTs.

Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan selaku objek penelitian.

b. Tahap Pekerjaan Lapangan

1) Mengadakan observasi langsung MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut

Sei Tuan terhadap penerapan pembelajaran PAI, dengan melibatkan

beberapa informasi untuk memperoleh data.

2) Memasuki lapangan, dengan mengamati berbagai fenomena proses

pembelajaran dan wawancara dengan beberapa pihak yang bersangkutan.

3) Berperan serta sambil mengumpulkan data.

4) Penyusunan laporan penelitian berdasarkan hasil data yang diperoleh.

Dengan rancangan penyusunan laporan sebagaimana telah tertera dalam

sistematika penulisan laporan.

39
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Objek Penelitian

1. Sejarah Singkat Berdirinya MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei

Tuan

MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan berdiri pada tahun 1984,

yang didirikan oleh H. Parlaungan Lubis.

2. Visi dan Misi

Adapun Visi dan Misi dari MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan,

yaitu :

 Visi

Mempersiapkan generasi yang beriman dan bertaqwa, cerdas, terampil,

berkepribadian dan berakhlak mulia serta mempunyai wawasan kebangsaan.

 Misi

- Membekali siswa dasar-dasar keimanan dan keislaman yang kuat

- Menerapkan ajaran Islam dengan penuh keyakinan

- Cerdas berkepribadian luhur, berakhlak mulia dan mempunyai wawasan

yang baik

40
3. Struktur Organisasi

Yusuf, S.Ag
Kepala Madrasah

Endang Susilawati, S.Pd


Tata Usaha

Drs. A. Handani Batubara


Komite Madrasah

Abdul Haris Nasution, S.Pd


PKM I

Endang Susilawati, S.Pd Indriani, S.Pd Isna Wahyudi


Bimbingan & Konseling Kepala Perpustakaan Kepala UKS

Asliyudin, S.Pd Mukti Ali, S.Pd Mursiah, S.Pd


Ramaina Nst, S.Pd Zar’an, S.Pd Siti Lulut, S.Pd
Suriadi, S.Pd Budi Harto, S.Pd Mahmuda, S.Pd

41
4. Keadaan Guru

Untuk memperjelas keadaan guru, yang ada di MTs. Parmiyatu Wasa’adah

Kec. Percut Sei Tuan pada Tahun Ajaran 2013-2014 penulis uraikan keadaan

sebagai berikut :

Tabel. 4.1
Keadaan Guru di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan
Tahun Ajaran 2013-2014

No Nama Guru L/P Guru Bidang Studi


1 Asliyudin, S.Pd L Akidah Akhlak
2 Mukti Ali, S.Pd L Fiqih
3 Mursiah, S.Pd P Bahasa Indonesia
4 Ramaina Nst, S.Pd P Al-Quran Hadits
5 Zar’an, S.Pd L SKI
6 Siti Lulut, S.Pd P Geografi
7 Suriadi, S.Pd L Ekonomi
8 Budi Harto, S.Pd L Pkn
9 Mahmuda, S.Pd L Penjaskor
10 Endang Susilawati, S.Pd P Bahasa Inggris
11 Drs. A. Handani Batubara L Sejarah
12 Abdul Haris Nasution, S.Pd L Matematika
13 Indriani, S.Pd P Biologi
14 Isna Wahyudi L Bahasa Arab
Sumber : Dokumentasi MTs. Parmiyatu Wasa’adah

5. Keadaan Siswa

Adapun keadaan siswa di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan

Tahun Ajaran 2013-2014 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel. 4.2
Keadaan Siswa di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan
Tahun Ajaran 2013-2014

No Kelas L P Jumlah
1 VII 48 48 96
2 VIII 32 38 70
3 IX 31 32 63
Sumber : Dokumentasi MTs. Parmiyatu Wasa’adah

42
B. Penyajian dan Pembahasan Data

Fakta yang telah penulis gali di lapangan untuk selanjutnya akan disajikan

sebagai data dalam penelitian ini. Dalam penggalian data tersebut, penulis

menggunakan beberapa metode yaitu metode observasi, interview, angket dan

dokumentasi.

Guru yang obyek penelitian dalam hal ini adalah guru-guru MTs. Parmiyatu

Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan, untuk mengetahui sejauhmana korelasi

kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama

Islam (PAI) di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan, maka observasi

dilaksanakan di dalam ruangan Guru.

Berikut ini akan dijabarkan analisis data hasil observasi :

1. Penyajian dan analisis pada hasil observasi

Tabel. 4.3
Pedoman Observasi MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan
Tahun Ajaran 2013-2014

Skala
No Komponen Penilaian
Baik Cukup Kurang
1 Guru memotivasi siswa √
2 Guru menyampaikan tujuan √
pembelajaran
3 Guru mengetahui kemampuan siswa √
4 Guru memberikan penghargaan √
5 Guru menguasai cara-cara mengajar √
sebagai dasar kompetensi
6 Guru menguasai cara-cara mengajar √
sebagai dasar kompetensi
7 Guru memberikan tugas lanjutan √
8 Interaksi guru terhadap siswa √
9 Guru melaksanakan tugasnya sebagai √
pendidik

43
Adapun kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran PAI

dapat digambarkan sebagai berikut:

Di setiap pelajaran guru mengajak siswa berdo'a, baru kemudian

menyampaikan indikator-indikator pembelajaran, serta menjelaskan sedikit

tentang hubungan kompetensi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran

PAI, kemudian guru memberikan sedikit gambaran riil yang berhubungan dengan

materi kompetensi guru. Dengan begitu guru telah memotivasi para siswanya, dan

telah menyampaikan tujuan pembelajaran.

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru hendaknya mengetahui

kemampuan para siswa dan selalu mengamati jalannya pembelajaran. Oleh karena

itu data mengenai pembelajaran ini didasarkan pada hasil peneliti dan pengamat.

Bagi siswa yang berprestasi hendaknya seorang guru memberikan penghargaan

kepada siswa yang berprestasi atau yang mempunyai kemampuan dan keahlian

tinggi. Dengan begitu disinilah kompetensi dalam arti kemampuan mutlak

diperlukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

Dalam kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah,

seorang guru minimal memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai wewenang dan

kemampuan dalam menjalankan tugas. Untuk itu seorang guru perlu memiliki

kepribadian, menguasai cara-cara mengajar sebagai dasar kompetensi. Bila guru

tidak memiliki kepribadian, tidak menguasai bahan pelajaran dan cara-cara

mengajar sebagai dasar kompetensi. Bila guru tidak memiliki kepribadian, tidak

menguasai bahan pelajaran dan cara-cara mengajar, maka guru gagal menunaikan

tugasnya, sebelum berbuat lebih banyak dalam pendidikan pengajaran. Oleh

44
karena itu, kompetensi nutlak dimiliki guru sebagai kemampuan, kecakapan atau

keterampilan dalam mengelola kegiatan pendidikan. Dengan demikian

kompetensi guru berarti pemilik an pengetahuan keguruan, dan penilikan

keterampilan serta kemampuan sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya.

Berikut ini hasil observasi :

a. Menurut pengamat guru yang biasanya biasa saja pada saat pembelajaran,

menjadi berubah lebih semangat dan antusias dalam menjawab pertanyaan

dari seorang pengamat.

b. Guru mulai senang dengan materi Pendidikan Agama Islam tertentu bahwa

tidak ada satupun guru yang tidak mendapat skor, semua guru berlomba

untuk mendapatkan skor tertinggi.

c. Menurut pengamat, kompetensi guru mengajarkan guru untuk bisa mengukur

kemampuan dalam diri siswa baik kualitatif maupun kuantitatif.

d. Guru sudah bisa mengikuti alur pembelajaran dengan baik dan mengingat

materi pembelajaran dengan mudah tanpa adanya paksaan.

e. Dalam proses interaksi belajar mengajar guru adalah orang yang memberikan

pelajaran dan siswa adalah orang yang menerima pelajaran.

2. Penyajian dan analisis data hasil interview

Untuk mengetahui lebih jauh data yang diperoleh dari hasil interview dapat

penulis sajikan sebagai berikut:

45
a. Perhatian guru dalam kegiatan pembelajaran. Pada saat berlangsungnya

kegiatan pembelajaran, semua guru mengikuti proses belajar mengajar secara

baik dan penuh kedisiplinan.

b. Kualitas guru di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah Setiap guru

memiliki kepribadian yang berbeda, ada yang memiliki kualitas tinggi dalam

mengajar ada juga yang biasa-biasa saja.

c. Pengaruh kuat kompetensi yang dimiliki seorang guru dengan kualitas

pembelajaran PAI. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak

dimiliki guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Oleh karena itu kompetensi berpengaruh kuat dalam diri seorang guru.

d. Menjalin kerjasama dan interaksi dengan guru lain Kerjasama dan interaksi

antar guru sangatlah penting, untuk kelancaran kegiatan belajar mengajar di

lingkungan sekolah, disamping itu juga menjaga keharmonisan antar guru,

sehingga peningkatan kualitas pembelajaran PAI di MTs. Parmiyatu

Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan.

e. Kepribadian sebagai guru. Kepribadian sebagai guru dapat dikatakan

berbeda-beda banyak dari guru-guru tersebut memiliki kualitas pembelajaran

PAI, akan tetapi ada pula yang tidak meningkatkan kualitas pembelajaran

PAI.

f. Menyusun program pengajaran. Dalam menyusun program pengajaran dapat

dikatakan guru telah menyusun program pengajaran dengan baik dan penuh

dengan kedisiplinan.

46
g. Melaksanakan proses belajar mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar,

guru telah melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik dan disiplin.

h. Melaksanakan bimbingan. Di luar jam sekolah guru juga mengadakan

bimbingan belajar atau les, agar para siswa benar-benar mengerti akan

pelajaran PAI, karena begitu pentingnya Pendidikan Agama Islam dalam diri

siswa.

i. Menguasai bahan pelajaran Dalam kegiatan pembelajaran, semua guru telah

menguasai bahan materi yang akan diajarkan, karena mata pelajaran yang

diajarkan sesuai dengan bidang materi yang telah dikuasainya.

3. Penyajian dan analisis dari hasil angket

Dalam sub bahasan ini penulis sajikan hasil angket yang telah penulis

sebarkan pada 10 responden yaitu tentang korelasi kompetensi guru dengan

peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs.

Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan.

Untuk mendapatkan jawaban hasil angket, langkah yang telah ditempuh

adalah menyebar angket kepada responden yang sebanyak 10 guru. Setelah angket

disebarkan dan dijawab oleh responden, maka pada tahap berikutnya adalah

penarikan angket dan diabaikan penilaian masing-masing alternatif dengan

ketentuan sebagai berikut:

a. Pilihan (a) dengan pilihan nilai 3

b. Pilihan (b) dengan pilihan nilai 2

c. Pilihan (a) dengan pilihan nilai 1

47
Responden angket penelitian dalam penelitian adalah 10 guru, kemudian hasil

jawaban angket di analisa dengan 2 langkah analisa prosentase dua analisa

statistik (product moment).

a. Analisa prosentase

1) Data Angket Tentang Kompetensi Guru

Tabel 4.4
Guru Menguasai Landasan Pendidikan
No Alternatif Jawaban N F P
1 a. Senang 8 80 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 1 10 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa guru senang akan

menguasai landasan pendidikan dalam hal kompetensi peningkatan kualitas.

Pembelajaran, terbukti 8 guru (80%) menjawab senang, 1 guru (10%)

menjawab tidak senang, dari 1 guru (10%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.5
Guru Menguasai Bahan Pengajaran
No Alternatif Jawaban N F P
2 a. Senang 9 90 %
b. Tidak Senang 10 - -
c. Kurang Senang 1 10 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa guru dapat menguasai

bahan pengajaran, karena dalam penguasaannya guru dikatakan baik, terbukti

9 guru (90%) menjawab senang, dan 1 guru (10%) menjawab kurang senang.

48
Tabel 4.6
Guru Mengajar Dengan Menyusun Program Pengajaran
No Alternatif Jawaban N F P
3 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 2 20 %
c. Kurang Senang 1 10 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa guru dapat menyusun

program pengajaran, karena dalam pe nyusunan itu proses belajar mengajar

dapat berjalan dengan lancar sehingga dapat dikatakan cukup, terbukti 7 guru

(70%) menjawab senang, 2 guru (20%) menjawab tidak senang, sedangkan

yang menjawab kurang senang 1 guru (10%).

Tabel 4.7
Guru Melakukan Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar

No Alternatif Jawaban N F P
4 a. Senang 8 80 %
b. Tidak Senang 10 - -
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa senang dengan melakukan

penilaian hasil proses belajar mengajar, sehingga dalam melakukan penilaian

hasil proses belajar mengajar guru dikatakan baik, terbukti 8 guru (80%)

menjawab senang, dan 2 guru (20%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.8
Guru Senang Mengadakan Program Bimbingan Bagi Siswa
Yang Mengalami Kesulitan Belajar Dan Keahlian Khusus
No Alternatif Jawaban N F P
5 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

49
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa guru senang mengadakan

program bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar dan

keahlian khusus. Sehingga hal itu dapat dikatakan cukup, terbukti 7 guru

(70%) menjawab senang, 1 guru (10%) menjawab tidak senang, dan 2 guru

(20%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.9
Dalam Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Berinteraksi
dengan Teman Sejawat dan Masyarakat

No Alternatif Jawaban N F P
6 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dalam peningkatan

kemampuan profesional guru selalu berinteraksi dengan teman sejawat dan

masyarakat, sehingga hal itu dapat dikatakan cukup, terbukti 7 guru (70%)

menjawab senang, 1 guru (10%) menjawab tidak senang, sedangkan 2 guru

(20%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.10
Guru Menyelenggarakan Penelitian untuk Keperluan Pengajaran
No Alternatif Jawaban N F P
7 a. Senang 5 50 %
b. Tidak Senang 10 3 30 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa guru selalu

menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran,

sehingga hal itu dapat dikatakan kurang baik, terbukti 5 guru (50%)

50
menjawab senang, 3 guru (30%) menjawab tidak senang, sedangkan 2 guru

(20%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.11
Guru Menggunakan Media Sumber Belajar dalam Pengajarannya

No Alternatif Jawaban N F P
8 a. Senang 9 90 %
b. Tidak Senang 10 - -
c. Kurang Senang 1 10 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas mayoritas guru menggunakan media sumber

belajar dalam pengajarannya, sehingga hal itu dapat dikatakan baik, terbukti 9

guru (90%), dan 1 guru (10%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.12
Guru Melaksanakan dan Mengelola dalam Proses Belajar mengajar

No Alternatif Jawaban N F P
9 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 2 20 %
c. Kurang Senang 1 10 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas guru selalu melaksanakan dan mengelola dalam

proses belajar mengajar, sehingga hal itu dapat dikatakan cukup, terbukti 7

guru (70%) menjawab senang, dan 2 guru (20%) menjawab tidak senang,

sedangkan 1 guru (10%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.13
Guru Mengenal dan Menyelenggarakan Administrasi Sekolah

No Alternatif Jawaban N F P
10 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 2 20 %
c. Kurang Senang 1 10 %
Jumlah 10 10 100 %

51
Berdasarkan tabel di atas guru selalu mengenal dan menyelenggarakan

administrasi sekolah, sehingga dapat dikatakan cukup, terbukti 6 guru (60%)

menjawab senang, dan 1 guru (10%) menjawab tidak senang, sedangkan 3

guru (30%) menjawab kurang senang.

Setelah mendata jumlah setiap bobot jawaban A, maka untuk mengetahui

kompetensi guru pada bidang studi PAI, kita lakukan perhitungan dengan

menggunakan rumus prosentase ini:

F
p= x 100 %
N

8+9+7+5+4+9+7+3
p= x 100 %
10
73
p= x 100 %
10

p=73 %

Dan hasil prosentase tiap-tiap pertanyaan dapat dikemukakan bahwa

prosentase alternative jawaban yang terbanyak adalah skor ideal dengan

prosentase sebesar 73 % hasil prosentase tersebut dihargai dengan standar

prosentase sehingga diketahui bahwa kompetensi guru cukup baik di mana

harga prosentase 73 % terletak di antara 55 – 75 %.

52
Berikut ini kami sajikan rekapitulasi data angka tentang implementasi

kompetensi guru.

Tabel 4.14
Rekapitulasi Hasil Angket tentang Kompetensi Guru di MTs. Parmiyatu
Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Ajaran 2013-2014

2. Data Angket Tentang Kualitas Guru

Tabel 4.15
Di awal Proses Belajar Guru Memulainya dengan Pretest

No Alternatif Jawaban N F P
1 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru di awal

proses belajar memulainya dengan pr etest, sehingga hal itu dapat dikatakan

cukup, terbukti 7 guru (70%) menjawab senang, dan 1 guru (10%) menjawab

tidak senang, dan 2 guru (20%) menjawab kurang senang.

53
Tabel 4.16
Mayoritas Guru Memenuhi Target dalam Pengajaran

No Alternatif Jawaban N F P
2 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 - -
c. Kurang Senang 3 30 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru telah

memenuhi tarjet dalam pengajaran, hal ini berdasarkan hasil jawaban

responden, 7 guru (70%) menjawab senang, dan 3 guru (30%) menjawab

kurang senang, hal ini berarti pemenuhan tarjet pembelajaran guru dapat

dikatakan cukup.

Tabel 4.17
Mayoritas Guru Menggunakan Pretest Dalam Suatu Pembelajaran

No Alternatif Jawaban N F P
3 a. Senang 6 60 %
b. Tidak Senang 10 2 20 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru di awal

proses belajar memulainya dengan pr etest, sehingga hal itu dapat dikatakan

cukup, terbukti 6 guru (60%) menjawab senang, 2 guru (20%) menjawab

tidak senang, dan 2 guru (20%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.18
Guru Merencanakan Kebutuhan Sebelum Pembelajaran Dimulai

No Alternatif Jawaban N F P
4 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

54
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru di awal

proses belajar guru telah merencanakan kebutuhan sebelum proses

pembelajaran dilaksanakan. Hal ini berdasarkan jawaban responden 7 guru

(70%) menjawab senang, 1 guru (10%) menjawab tidak senang, dan 2 guru

(20%) menjawab kurang senang, sehingga hal itu dapat dikatakan cukup.

Tabel 4.19
Variasi Dalam Pembelajaran PAI

No Alternatif Jawaban N F P
5 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru dalam

pelaksanaan pembalaran PAI telah menggunakan metode pembelajaran yang

bervariasi, sehingga hal itu dapat dikatakan cukup, terbukti 7 guru (70%)

menjawab senang, 1 guru (10%) menjawab tidak senang, dan 2 guru (20%)

menjawab kurang senang.

Tabel 4.20
Kepuasan Guru terhadap daya serap siswa

No Alternatif Jawaban N F P
6 a. Senang 6 60 %
b. Tidak Senang 10 2 20 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru merasa

puas terhadap daya serap siswa dalam pembelajaran PAI. Berdasarkan

jawaban responden 6 guru (60%) menjawab senang, 2 guru (20%) menjawab

55
tidak senang, dan 2 guru (20%) menjawab kurang senang, hal ini dapat

dikatakan baik.

Tabel 4.21
Guru Menjalin Kerjasama dan Interaksi Terhadap Guru lain
No Alternatif Jawaban N F P
7 a. Senang 10 100 %
b. Tidak Senang 10 - -
c. Kurang Senang - -
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru menjalin

kerjasasama dan interaksi dengan guru lain, terbukti 10 guru (100%), hal ini

berarti kerja sama antar guru PAI di MAN baik.

Tabel 4.22
Guru Melaksanakan Bimbingan
No Alternatif Jawaban N F P
8 a. Senang 6 60 %
b. Tidak Senang 10 1 10 %
c. Kurang Senang 3 30 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru telah

melaksanakan bimbingan terhadap siswa, sehingga hal itu dapat dikatakan

cukup, terbukti 6 guru (60%) menjawab senang, 1 guru (10%) menjawab

tidak senang, dan 3 guru (30%) menjawab kurang senang.

Tabel 4.23
Guru Menindaklanjuti hasil Penelitian Belajar Siswa
No Alternatif Jawaban N F P
9 a. Senang 7 70 %
b. Tidak Senang 10 - -
c. Kurang Senang 3 30 %
Jumlah 10 10 100 %

56
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru

menindaklanjuti hasil penelitian belajar siswa, sehingga hal itu dapat

dikatakan cukup, terbukti 7 guru (70%) menjawab senang, dan 3 guru (30%)

menjawab kurang senang.

Tabel 4.24
Pemahaman Guru Terhadap Wawasan Kependidikan
No Alternatif Jawaban N F P
10 a. Senang 6 60 %
b. Tidak Senang 10 2 20 %
c. Kurang Senang 2 20 %
Jumlah 10 10 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas guru

memahami wawasan kependidikan, sehingga hal itu dapat dikatakan cukup,

terbukti 6 guru (60%) menjawab senang, 2 guru (20%) menjawab tidak

senang, dan 2 guru (20%) menjawab kurang senang.

Setelah prosentase diperoleh, selanjutnya angka-angka tersebut

diinterpretasikan menurut standar kualifikasi sebagai berikut:

76 % - 100 % : Kategori baik

56 % - 76 % : Kategori cukup

40 % - 55 % : Kategori kurang baik

kurang dari 40 % : Kategori tidak baik

Sementara itu untuk mengetahui data tentang kualitas guru maka peneliti

menggunakan:

57
F
p= x 100 %
N
7+7+6+7+7+6+10+6+7+6
p= x 100 %
10

69
p= x 100 %
10

p=69 %

Hasil tersebut kemudian sesuai dengan hasil standar menempati posisi

antara 56 – 75 % adalah tergolong cukup. Berdasarkan hal di atas, dapat

dikatakan bahwa kualitas pembelajaran guru PAI di MAN Babat dikatakan

baik. Adapun rekapitulasi nilai-nilai jawaban yang pada variable yaitu

kualitas guru adalah sebagai berikut:

Tabel 4.25
Rekapitulasi Hasil Angket tentang Kualitas Guru MTs. Parmiyatu
Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan Tahun Ajaran 2008-2009

b. Analisa Product Moment

Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi kompetensi guru dengan

peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah

58
Aliyah Negeri Babat Lamongan, maka penulis menggunakan rumus product

moment.

𝑛Σ 𝑥𝑦 − (Σx)(Σy)
𝑟𝑥𝑦 =
√{𝑛Σx 2 − (Σx)2 }{𝑛Σy 2 − (Σy)2 }

Adapun langkah yang digunakan dalam mencari korelasi antara variable x

(hasil angket tentang kompetensi guru pada bidang studi Pendidikan Agama

Islam) dan variabel y (hasil angket tentang peningkatan kualitas pembelajaran)

dapat dilihat pada tabel kerja korelasi product moment sebagai berikut:

Tabel 4.26
Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Peningkatan
Kualitas Pembelajaran

Langkah perhitungan pada tabel 3.25 berturut-turut sebagai berikut:

1. Menjumlahkan subyek penelitian (kolom 1), diperoleh N= 10.

2. Menjumlahkan skor x (kolom 2), diperoleh åx = 271.

3. Menjumlahkan skor y (kolom 3), diperoleh å y = 276

4. Memperkalikan skor x dan skor y (kolom 4), setelah selesai dijumlahkan

sehingga diperoleh å xy = 7487.

59
5. Mengkuadratkan seluruh skor x (kolom 5), setelah selesai dijumlahkan dan

diperoleh å x2 = 7353

6. Mengkuadratkan seluruh skor y (kolom 6), setelah selesai dijumlahkan

sehingga diperoleh å y2 = 7640

Langkah selanjutnya adalah mencari angk a indeks korelasi "r" product

moment antara variabel x dan variabel y (yaitu rxy) sebagai berikut:

Dari perhitungan di atas telah diperoleh rxy sebesar 0,53. Kemudian untuk

mengetahui sejauh mana hubungan program kompetensi guru dengan peningkatan

kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs. Parmiyatu Wasa’adah

Kec. Percut Sei Tuan diketahui dengan jalan membandingkan hasil penelitian rxy

= 0,53 dengan interpretasi nilai rxy Dari tabel di atas (interpretasi) dapat dik

etahui bahwa rxy = 0,53 terletak antara 0,40 – 0,70 yang menyatakan Antara

variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sedang atau cukup. Apabila

60
dikonsultasikan pada tabel nilai “r” tabel product moment dengan memerhatikan

responden dengan taraf signifikan 5% dan 1% dengan terlebih dahulu mencari

derajat bebasnya (db) atau degress of fredomnya (df) dengan rumus :

df = N - nr

Keterangan :

df = degrees of freedom

N = number of cases

nr = banyaknya variabel yang dikoreksi

maka diperoleh df = N - nr

df = 10 - 2

df =8

Dengan diketahuinya hasil rxy = 0,53, maka langkah selanjutnya adalah

mengkonsultasikan dengan harga t pada tabel (sebaga i terlampir) dengan df = 8

kemudian db/df tersebut dinilai pada tabel “r” product moment yang menunjukkan

bahwa pada taraf signifikansi 5% diperoleh r tabel = 0,334, sedangkan pada taraf

signifikansi 1% diperoleh r tabel = 0,430.

Berarti rxy > r tabel (rxy > dari r tabel) baik pada taraf siginifikansi 5%

maupun 1% sebagai konsekuensinya maka hipotesa no l atau nihil (Ho) yang

berbunyi “tidak ada korelasi kompetensi dengan kualitas guru Pendidikan Agama

Islam di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan” ditolak, dan hipotesa

alternatif atau hipotesa kerja (Ha) yang berbunyi “ada korelasi kompetensi dengan

kualitas guru pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di MTs. Parmiyatu

Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan” diterima dan disetujui.

61
Berdasarkan hasil analisis data tersebut di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa kompetensi guru terdapat korelasi (hubungan) dengan peningkatan kualitas

pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec.

Percut Sei Tuan dengan pengaruh yang sedang atau cukup.

62
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, baik yang bersifat teoretis

maupun yang bersifat empiris, maka penulis dapat menarik suatu kesimpulan dan

memberikan beberapa saran-saran yang akan penulis kemukakan pada bab ini.

1. Kompetensi guru Agama Islam di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut

Sei Tuan termasuk dalam kategori cukup, hal ini dapat dilihat dari hasil

analisis data melalui prosentase sebesar 73 % yang berada di antara 56-75 %.

2. Kualitas pembelajaran guru PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut

Sei Tuan termasuk dalam kategori cukup, hal ini dapat dilihat dari hasil

analisis data melalui prosentase diperoleh sebagai 69 % yang berada di antara

56 % - 75 %.

3. Ada korelasi antara kompetensi guru dengan peningkatan kualitas

pembelajaran guru PAI di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan.

Hal ini dapat dibuktikan dari hasil rxy = 0,53. Jika dikonsultasikan dengan

tabel “t” product moment dengan df = 8 pada taraf signifikasi 5% = 0,334 ,

sedangkan pada taraf signifikasi 1 % = 0,430. Berarti rxy > rtabel (rxy >

rtabel) baik pada taraf signifikasi 5 % maupun 1%, maka sebagai

konsekuensinya hipotesis 0 (Ho) yang berbunyi “tidak adanya korelasi

kompetensi guru di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan”

ditolak, dan hipotesa alternatif atau hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi “ada

63
korelasi kompetensi di MTs. Parmiyatu Wasa’adah Kec. Percut Sei Tuan”

diterima. Adapun tingkat pengaruhnya tergolong cukup atau sedang.

B. Saran

Berdasarkan temuan dalam penelitian ini dikemukakan saran-saran bagi:

1. Guru

a. Guru dalam hal ini perlu mengetahui dan memahami kompetensi dengan

segala seluk beluknya. Mengabaikannya, kemungkinan besar akan

menemui kesulitan dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran.

b. Guru dalam pembelajaran ini harus bisa menciptakan kemampuan

hubungan sosial yang baik dengan para siswa.

c. Seorang guru harus menampilkan kepribadian yang baik, tidak saja

ketika melaksanakan tugasnya di sekolah, tetapi di luar sekolah pun harus

menampilkan kepribadian yang baik.

d. Kepribadian guru akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam

membina dan membina dan membimbing anak didik, oleh karenanya hal

itu cukup menentukan keakraban hubungan guru dan anak didik.

e. Sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan

profil dan idola, yang seluruh dari kehidupannya adalah figur paripurna.

2. Bagi Praktisi Pendidikan

Bagi praktisi pendidikan diharapkan kompetensi guru dalam hal ini berperan

untuk mendorong meningkatkan prestasi belajar, lebih jauh lagi termotivasi agar

lebih aktif dan bersemangat belajar. Disamping itu untuk perbaikan proses

64
pembelajaran ke depan diharapkan para praktisi pendidikan memberikan suatu

training dan workshop kepada para guru mengenai kualitas pembelajaran

Pendidikan Agama Islam.

3. Bagi mahasiswa

Bagi mahasiswa kompetensi guru ini dapat dijadikan sebagai acuan atau

bahan yang dapat digunakan pada saat terjun dalam dunia pendidikan dan

penelitian, merekomendasikan kepada para mahasiswa untuk meningkatkan

kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar kompetensi guru berperan

untuk mendorong meningkatkan prestasi belajar siswa.

65
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. Pendidikan Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya, 2006.

Amirul Hadi. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Pustaka Setia,


1998.

Arifin, H. M. Ilmu Pendidikan Agama Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis


Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta : PT. Bumi Aksara,
1999.

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1993.

Baharuddin Harahap. Supervisi Pendidikan yang Dilakukan Guru Kepala


Sekolah, Penilik dan Pengawas Sekolah. Jakarta: PT. Damai Jaya, 1983.

Cece Wijaya, Tabrani Rusian, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar
Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991.

Depag RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya, Jakarta: PT. Balai Pustaka, 1989.

E. Mulyasa. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,


2006.

Farida Sarimaya. Sertifikasi Guru. Bandung: PT. Irama Widya, 2008.

Gafar, Irpan Abd., Muhammad Jamil B.. Reformasi Rancangan Pembelajaran


Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Nur Insani, 2003.

Oemar Hamanik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Bina Aksara, 2003.

Suparlan. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: PT. Hikayat Publishing, 2005.

Usman, Uzer. Menjadi Guru Profesional, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,


2006.

66