Anda di halaman 1dari 9

Definisi Sistem

Sistem merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari dua atau lebih komponen atau
subsistem yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Suatu sistem dapat terdiri
dari sistem-sistem bagian (subsystems). Sebagai misal, komputer dapat terdiri dari
subsistem perangkat keras dan subsistem perangkat lunak. Masing-masing subsistem
dapat terdiri dari subsistem-subsistem yang lebih kecil lagi atau terdiri dari komponen
– komponen. Subsistem perangkat keras (hardware) dapat terdiri dari alat masukan,
alat pemroses, alat keluaran dan simpanan luar. Subsistem – subsistem saling
berinteraksi dan saling berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga tujuan atau
sasaran sistem tersebut dapat tercapai. Interaksi dari subsistem – subsistem sedemikian
rupa, sehingga dicapai suatu kesatuan yang terpadu atau terintegrasi (integrated).

Sistem adalah kumpulan unsur atau komponen yang terorganisasi, berinteraksi dan
tergantung satu sama lain. Sistem adalah Kumpulan komponen yang saling berkaitan
dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Sistem menurut Peter Senge


Learning Organization atau Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi
dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self
leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’
dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Peter Senge adalah salah satu tokoh
penting yang membuat teori Learning Organization (LO). Dia melontarkan gagasannya
dalam buku Fifth Disipline (1990).

Menurut Peter senge, Organisasi belajar adalah organisasi dimana orang


mengembangkan kapasitas mereka secara terus-menerus untuk menciptakan hasil yang
mereka inginkan, dimana pola pikir yang luas dan baru dipelihara, dimana aspirasi
kolektif dipoles, dimana orang-orang belajar tanpa henti untuk melihat segala hal
secara bersama-sama.

Menurut Peter Senge ada Lima disiplin (lima pilar) yang membuat suatu organisasi
menjadi organisasi pembelajar.

1. Personal Mastery (Penguasaan Pribadi) – belajar untuk memperluas


kapasitas personal dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan, dan
menciptakan lingkungan organisasi yang menumbuhkan seluruh
anggotanya untuk mengembangkan dirimereka menuju pencapaian sasaran
dan makna bekerja sesuai dengan harapan yang mereka pilih.
2. Mental Models (Model Mental) – proses bercermin, sinambung
memperjelas, dan meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar, dan
melihat bagaimana mereka membentuk keputusan dan tindakan kita.
3. Shared Vision (Visi bersama) – membangun rasa komitmen dalam suatu
kelompok, dengan mengembangkan gambaran bersama tentang masa depan
yang akan diciptakan, prinsip dan praktek yang menuntun cara kita
mencapai tujuan masa depan tersebut.
4. Team Learning (Belajar beregu) – mentransformasikan pembicaraan dan
keahlian berfikir (thinking skills), sehingga suatu kelompok dapat secara
sah mengembangkan otak dan kemampuan yang lebih besar dibanding
ketika masing-masing anggota kelompok bekerja sendiri.
5. Berpikir sistem - Berpikir sistemik adalah landasan konseptual (The Fifth
Discipline) dari pendekatannya. Ini merupakan disiplin yang
mengintegrasikan orang lain, menggabungkan mereka menjadi suatu tubuh
yang koheren antara teori dan praktek. Kemampuan sistem teori untuk
memahami dan mengatasi keseluruhan, dan untuk memeriksa keterkaitan
antara bagian-bagian yang menyediakan, baik insentif dan sarana untuk
mengintegrasikan disiplin ilmu. Peter Senge berpendapat bahwa salah satu
masalah utama yang banyak yang ditulis, dan dilakukan atas nama
manajemen, adalah bahwa kerangka kerja yang agak sederhana diterapkan
untuk sebuah sistem yang kompleks. Orang cenderung untuk berfokus pada
bagian parsial daripada melihat keseluruhan, dan gagal untuk melihat
organisasi sebagai proses dinamis. Dengan demikian argumen tidak
berjalan, apresiasi yang lebih baik dari sistem akan tidak mengarah pada
tindakan yang lebih tepat.

Untuk menjelaskan lebih dalam tentang berpikir sistem (system thinking) dalam
organisasi belajar, Peter Senge menguraikannya dalam 11 hukum disiplin kelima dalam
satu bab khusus. Kesebelas hukum disiplin kelima tersebut diuraikan sebagai berikut
berdasarkan pandangan saya setelah membaca The Fifth Discipline: The Art & Practice
of The Learning Organization (Peter Senge, 1996). Berikut kajian saya atas 11 Hukum
Disiplin Kelima Peter Senge.

1. Today’s problems come from yesterday’s solutions

Permasalahan hari ini sebenarnya merupakan dampak dari pemecahan


masalah yang telah dilakukan pada saat sebelumnya.
Biasanya dalam memecahkan masalah kita hanya melihat dalam satu sisi saja, sehingga
pada saat permasalahan itu hilang sebenarnya sumber masalahnya belum terselesaikan
secara tuntas, sehingga masalah baru akan muncul bisa saja di tempat yang berbeda.

Dalam memecahkan masalah kita sering hanya mengulang cara lama yang pernah
dilakukannya, sehingga tetap tidak dapat menyelesaikan permasalahan. Sebagai contoh
Penggunaan antibiotik dimasa lalu yang tidak terkontrol justru menimbulkan bakteri
yang resistensi terhadap penyakit. Bakteri tersebut dapat membentuk ketahanan khusus
terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan orang yang terkena
penyakit tersebut. Dari contoh ini jelaslah bahwa Peter Senge mengingatkan bahwa
dalam berfikir sistem kita hendaknya memperhatikan berbagai aspek yang terkait, baik
pemecahan masalah saat ini yang harus dipersiapkan dampaknya dimasa mendatang.
Solusi yang dilakukan secara menyeluruh dalam sistem akan mengantisipasi
munculnya permasalahan lain yang akan terjadi sebagai dampak dari tindakan yang
dilakukan.

2. The harder one pushes, the harder the sistem pushes back

Semakin besar usaha yang kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan, maka
tanpa atau dengan kita sadari akan semakin kuat pula masalah tersebut menekan
kita.

Dalam kondisi ini, Senge menekankan perlunya ST. Jika kita mengatasi atau menekan
permasalahan yang kita hadapi tanpa pikiran jernih, maka kita akan terjebak ke dalam
situasi “serangan balik” yang siap dilancarkan dan membahayakan pertahanan kita
yang dilakukan oleh situasi yang kita tekan. ST dengan memperhatikan setiap
subsistem yang muncul dalam setiap permasalahan yang kita tekan adalah hal yang
perlu dilakukan.

Contoh dari poin ini cukup banyak, misalnya dalam intervensi yang dilakukan
pemerintah untuk mendapat mangsa umpan balik dari kompensasi. Pada tahun 1960
ada program besar untuk membangun perumahan bagi mereka yang berpenghasilan
rendah dan meningkatkan keterampilan kerja di pusat kota tua di Amerika Serikat.
Banyak dari kota-kota ini bahkan lebih buruk dari tahun 1970 di samping kemurahan
dari bantuan pemerintah. Mengapa? Salah satu alasan adalah bahwa masyarakat
berpenghasilan rendah bermigrasi dari kota-kota lain dan dari daerah pedesaan ke kota-
kota dengan program-program bantuan terbaik. Akhirnya, unit rumah baru menjadi
penuh sesak dan program pelatihan kerja itu kebanjiran pelamar. Sementara itu, basis
pajak kota terus tergerus meningkat, sehingga lebih banyak orang terjebak di daerah-
daerah ekonomi tertekan.

3. Behavior grows better before it grows worse.

Perilaku tampak lebih baik sebelum dia menjadi buruk.

Ketika kita menciptakan solusi dari sebuah permasalahan awalnya terlihat bahwa apa
yang kita lakukan sudah baik. Efek yang singkat ini memberikan kesan bahwa
semuanya akan berjalan dengan baik. Kadang-kadang apa yang nampak baik pada hari
ini justru akan memberikan dampak yang buruk dikemudian hari. Sebagai contoh
ketika perusahaan kekurangan modal, perusahaan akan mengajukan pinjaman kepada
pihak pembiayaan dengan bunga tinggi. Awalnya masalah teratasi namun dikemudian
hari perusahaan akan terbebani dengan bunga pinjaman yang harus dibayarkan.

4. The easy way out usually leads back in

Jalan keluar yang mudah biasanya akan mengarahkan kita pada jalan kembali.
Hukum ini sering terjadi pada setiap individu, yang tidak mau keluar dari zona yang
nyaman. Oleh karena itu dalam menyelesaikan permasalahan yang akan muncul
sebagai alternative pemecahan adalah tindakan yang pernah kita lakukan. Namun
ternyata apa yang pernah kita lakukan belum tentu akan menyelesaikan permasalahan
yang muncul saat ini, dan bahkan sudah tidak sesuai lagi dengan kompleksitas
masalahnya. Jika kita tetap melakukannya karena itu yang kita ketahui merupakan
cara yang terbaik, maka kemungkinan masalahnya tidak akan terpecahkan. Senge
mengatakan bahwa semakin kuat kita berusaha dan berfikir secara sistemik maka kita
akan menemukan cara yang lebih efektif memiliki daya ungkit yang lebih besar. Oleh
karena itu janganlah kita memilih solusi hanya karena cara tersebut sudah pernah kita
lakukan sehingga lebih mudah. Kenyataan tindakan tersebut hanya akan menimbulkan
kegagalan karena kita tidak melihat kondisi sistem yang dihadapi sekarang.

5. The cure may be worse than the disease.

Obat bisa jadi lebih buruk dari pada penyakitnya.

Solusi yang biasa digunakan, bila di berikan tidak sesuai maka akan menimbulkan
ketidak berdayaan suatu individu atau organisasi dalam memecahkan
permasalahannya. Tindakan tersebut bahkan akan menimbulkan ketergantungan
sehingga dirinya tidak mampu. Sebagai contoh penggunaan konsultan dapat
menyebabkan ketidak mampuan anggota organisasi tersebut untuk menyelesaikan
permasalahan yang di hadapi oleh organisasi itu sendiri. Maka untuk menghindari
dampak buruk tersebut harus digunakan obat lain atau cara lain yang lebih ampuh dan
efketif untuk penyelesaian masalah yang ada, dengan melihat konteks permasalahan
tersebut dari kondisi sistem yang ada.

Dalam konsep berpikir sistem, maka mengobati suatu penyakit harus benar-benar
memperhatikan side efeck atau dampak sampingan dari obat yang diberikan. Ibarat
kita minum obat, maka kita harus membaca terlebih dahulu petunjuk dan kontra
indikasi dari penggunaan obat tersebut. Berpikir sistem menghendaki, bahwa dalam
mengobati suatu persoalan/penyakit perlu dilakukan proses berpikir sebab-akibat. Jika
tidak, maka kita bukan mengobati, tetapi membuat penyakit baru yang jauh lebih
kronis.

6. Faster is slower

Percepatan merupakan perlambatan.

Ketika kita melihat keberhasilan kita di depan mata kita melakukannya dengan
kecepatan penuh tanpa hati-hati maka proses pertumbuhan kita akan malah menjadi
lambat dibandingkan dengan yang seharusnya artinya sesuatu yang instan dan tanpa
melalui proses yang selayaknya, sebenarnya adalah mengalami perlambatan. Analogi
dari hukum ini sebagai berikut,

Keinginan membersihkan KKN di pemerintah yang tergesa-gesa dan tidak sistemik,


sehingga terlihat hanya tebang pilih dan penyelesaiannya sangat lambat bahkan jalan
di tempat.

Promosi yang berlebihan tanpa disertai dengan perbaikan kualitas pelayanan yang
memadai

Penambahan banyak orang dalam proyek yang telah berhasil sebelumnya malah akan
menjadi lambat karena komunikasi yang kurang efektif (overhead) dan hilangnya
koherensi tim.

7. Cause and effect are not closely related in time and space

Sebab akibat tidak muncul berdampingan dalam ruang dan waktu.

Dalam prinsip ini Senge menegaskan bahwa sebab akibat tidak muncul dalam waktu
bersamaan atau dalam tempat yang sama, karena hakekat sebuah sistem antara bagian
yang satu dan yang lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Oleh karena
itu permasalahan pada satu bagian tidak selalu menimbulkan dampak pada bagian
tersebut tetapi bisa menimbulkan dampak pada bagian sistem yang lainnya, atau
bahkan berpengaruh pada sistem secara menyeluruh. Maka dalam hal ini, untuk
menyelesaikan masalah jangan hanya mencari akar penyebab dari tempat munculnya
gejala atau satu masalah saja, namun harus mengidentifikasi masalah atau gejala lain,
kemudian dianalisa keterkaitan semua gejala tersebut dari seluruh sistem. Kita bisa
menggali lebih jauh apa yang merupakan akar permasalahan yang ada dalam sistem
tersebut, sehingga solusi yang akan diberikan benar-benar memecahkan permasalahan
yang ada.

Kita selalu menyandingkan kata sebab akibat sebagai sesuatu yang muncul secara
bersamaan dalam ruang dan waktu. Hal ini selalu kita benarkan, ketika kita menemukan
suatu akibat selalu kita mencari penyebabnya. Jika kita menghadapi suatu persoalan di
tempat kerja kita, selalu saja kita mencari penyebabnya di luar diri kita. Jika seorang
kepala sekolah menghadapi persoalan dengan anjloknya nilai hasil ujian para siswa, ia
selalu berusaha mencari penyebabnya kepada guru-guru atau faktor lain dari luar
dirinya.

8. Small changes can produce big results, but the areas of highest leverage are
often the least obvious

Perubahan kecil dapat menghasilkan akibat yang besar, tetapi area yang sangat
signifikan sering tidak terlihat jelas.

Masalah dapat diselesaikan dengan membuat perubahan kecil untuk bagian yang
tampaknya tidak berhubungan dengan sistem. Tindakan kecil namun terfokus
dapat menghasilkan peningkatan signifikan dan tetap, apabila diterapkan ditempat
yang tetap. Dalam konteks ini, maka berpikir sistem adalah kunci untuk mencapai
kesuksesan organisasi belajar. Orang tidak dapat langsung berpikir suprasistem untuk
menyelesaikan suatu persoalan atau berbuat sesuatu. Tetapi, harus terlebih dahulu
dimulai dari subsistem-subsistem atau hal-hal yang kecil terlebih dahulu sebagai
pengungkit. Jika itu dilakukan dengan benar dan sistematis, maka hal yang besar akan
dapat dilakukan.

9. You can have your cake and eat it too – but not at once

Anda dapat memiliki kue anda dan memakannya, tetapi tidak sekaligus.
Makna dari hukum kesembilan ini menyatakan bahwa kalau memiliki dua keinginan
yang ingin di capai dalam waktu yang bersamaan itu tidaklah mudah. Itu memerlukan
suatu tahapan yang harus dilalui. Tidak serta merta akan diraih semuanya. Berfikir
sistem merupakan hal yang penting dalam melaksanakan proses tersebut. Dalam
berfikir sistem sebenarnya kita bisa memiliki kedua-duanya namun
memerlukan proses, sehingga mendapatkannya secara bertahap. Pemikiran untuk
mendapatkan segala sesuatu secara bertahap melalui proses merupakan kekuatan
dalam berfikir sistem.

10. Dividing an elephant in half does not produce two small elephants

Membelah seekor gajah menjadi dua bagian tidak akan menghasilkan dua gajah
kecil. Menurut Senge sistem kehidupan memiliki integritas. Karakter mereka
tergantung dari keseluruhan. Hal yang sama berlaku untuk organisasi; guna memahami
konteks manajerial yang menantang membutuhkan keseluruhan sistem yang
membangkitkan. Analogi Senge tentang “Membelah Seekor Gajah Menjadi Dua, Tidak
Menghasilkan Dua Gajah yang Kecil”, mengggambarkan, bahwa untuk menyelesaikan
suatu persoalan dalam suatu organisasi tidak diperlukan membagi persoalan tersebut,
sebab itu justru hanya akan menghasilkan masalah baru dan berbuah kekacauan. Hal
ini disebabkan tidak akan ditemukan pengungkit yang tepat untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Setiap fungsi akan berpengaruh pada kemajuan system, oleh karena
itu beberapa hal dapat dipahami dengan melihat hanya pada fungsi utama, sementara
sebagian lain penting untuk melihat kekuatan sistemik dalam area fungsional.

11. There is no blame

Tidak menyalahkan. Ketika ada masalah dalam organisasi kita cenderung


menyalahkan pihak luar untuk masalah kita sendiri. Kita menyalahkan pesaing, pers,
pelanggan, pemerintah dan lain-lain. Namun jika kita berfikir sistem maka tidak ada
yang perlu disalahkan. Kita dan penyebab permasalahan merupakan bagian
dari sistem. Obatnya terletak pada hubungan kita dengan pesaing/musuh kita. Berpikir
sistem menunjukkan bahwa setiap orang dan sebab masalah merupakan bagian dari
sistem, sehingga harus disadari bahwa akar masalah besar kemungkinan berasal dari
internal.
Karakteristik Sistem

1. Komponen

Elemen-elemen yang lebih kecil yang disebut sub sistem, misalkan sistem komputer
terdiri dari sub sistem perangkat keras, perangkat lunak dan manusia.

Elemen-elemen yang lebih besar yang disebut supra sistem. Misalkan bila perangkat
keras adalah sistem yang memiliki sub sistem CPU, perangkat I/O dan memori, maka
supra sistem perangkat keras adalah sistem komputer.

2. Boundary (Batasan Sistem)

Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem
yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu
sistem dipandang sebagai suatu kesatuan. Batas suatu sistem menunjukkan ruang
lingkup dari sistem tersebut.

3. Environment (lingkungan Luar Sistem)

Lingkungan dari sistem adalah apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi
operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat menguntungkan dan dapat juga
bersifat merugikan sistem tersebut. lingkungan luar yang mengutungkan merupakan
energi dari sistem dan dengan demikian harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedang
lingkungan luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak akan
mengganggu kelangsungan hidup dari sistem.

4. Interface (Penghubung Sistem)

Penghubung merupakan media perantara antar sub sistem. Melalui penghubung ini
memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem
lainnya. Output dari satu sub sistem akan menjadi input untuk subsistem yang lainnya
dengan melalui penghubung. Dengan penghubung satu subsistem dapat berinteraksi
dengan sub sistem yang lainnya membentuk satu kesatuan.

5. Input (Masukan)

Masukan adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan dapat


berupa maintenance input dan sinyal input. Maintenance input adalah energi yang
dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Sinyal input adalah energi yang
diproses untuk didapatkan keluaran.

6. Output (Keluaran)

Keluaran adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran
yang berguna dan sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan masukan untuk
subsistem yang lain atau kepada supra sistem.

7. Proses (Pengolahan Sistem)

Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah atau sistem itu sendiri sebagai
pengolahnya. Pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran. Suatu sistem
produksi akan mengolah masukan berupa bahan baku dan bahan-bahan yang lain
menjadi keluaran berupa barang jadi.

8. Objective and Goal (Sasaran dan Tujuan Sistem)

Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Kalau suatu sistem tidak
mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem
sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan
dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau
tujuannya.