Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ASWAJA


Ahlussunah Waljamaah terdiri dari kata :

1. “Ahlun“ artinya golongan, keluarga atau orang yang mempunyai atau


menguasai
2. “As-sunnah“ artinya apa saja yang datang dari Rosululloh saw, yang
meliputi perkataan (sabda) perbuatan (af-al) dan ketepatan (taqrir)
3. “Jamaah” artinya kumpulan atau kelompok. Yang dimaksud jamaah di
sini adalah para sahabat nabi terutama khulafaurrosyidin yaitu : Abu
Bakar Siddiq, Umar Bin khotob, Usman bin Afan dan Ali bin Abi Tholib.

Menurut istilah Ahlussunah Waljamaah berarti kaum atau golongan


yang menganut serta mengamalkan ajaran islam yang murni sesuai yang
diajarkan dan diamalkan oleh rosululloh saw dan para sahabatnya.
Karakteristik ASWAJA (Mabadi Khaira Ummah) adalah prinsip-prinsip
dasar yang melandasi terbentuknya umat yang terbaik, yaitu suatu umat
yang mampu melaksanakan tugas-tugas WAL JAMAAH yang merupakan
bagian yang terpenting dari kiprah NU.

Tujuan dan isi Mabadi Khaira Ummah adalah :


1. Mengarahkan warga untuk mendukung program pembangunan ekonomi
NU.
Program ini menjadi perhatian yang serius sebagaimana hasil
keputusan Muktamar NU ke 28 di Yogyakarta tahun 1989 yang
mengamanatkan kepada pengurus besar NU agar menangani masalah
sosial dan ekonomi dengan bersungguh-sungguh.
2. Membina warga dalam manajemen organisasi.
Manajemen organisasi yang baik membutuhkan sumber daya
manusia yang tidak saja terampil, tetapi juga harus berkarakter terpuji
dan bertanggung jawab. Sumber daya manusia dapat dikembangkan
melalui gerakan pembinaan organisasi NU akan menjadi kader-kader
unggul yang siap berkiprah aktif dalam mengikhtiarkan kemaslahatan
umat, bangsa, dan negara pada umumnya.

Gerakan Mabadi Khaira Ummah kembali dimunculkan ke permukaan


yang pada asalnya hanya terdiri atas tiga prinsip yaitu Asshidqu, Alamanah/
Alwafa bil Ahdi, dan Attaawun sebagaimana yang dirumuskan oleh KH.
Mahfudz Shiddiq selaku Ketua PBNU pada tahun 1935. Tiga prinsip tersebut
ditambahkan lagi dua poin dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU, yakni
Aladalah dan Alistiqomah, sehingga menjadi lima prinsip dan disebut juga
sebagai “ Mabadi’ul Khamsah”. Pembahasan ini akan menguraikan salah satu
prinsip ASWAJA, yaitu Asshidqu (memiliki integritas kejujuran).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Asshidqu ?
2. Bagaimana implementasi Asshidqu dalam kehidupan sehari-hari (terhadap
Allah SWT, terhadap diri sendiri, dan terhadap sesama) ?
3. Bagaimana penerapan Asshidqu dalam bidang kefarmasian ?

C. TUJUAN MAKALAH
1. Mengetahui pengertian Asshidqu
2. Mengetahui sikap-sikap dalam mengimplementasikan dalam kehidupan
sehari-hari (terhadap Allah SWT, terhadap diri sendiri, dan terhadap
sesama)
3. Mengetahui sikap dalam mengimplementasikan dalam bidang
kefarmasian.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ashidqu
Kata Ash-shidqu adalah mashdar dari fi’il shodaqo-yashduqu-
shidqon. Shodaqo lawan katanya adalah kadzaba. Kadzaba maknanya
adalah mengabarkan sesuatu (sehingga berbentuk kabar, berita, ungkapan,
perkataan, dll) yang tidak sebagaimana ada nya alias dusta, bohong. Maka
ash-shidqu maknanya adalah kebenaran atau hal/perkara yang benar. Dan
ada pula kata asdaqu (isim tafdhilnya) yang maknanya adalah lebih benar
atau paling benar.
Asshidqu adalah kesesuaian ucapan hati dengan sesuatu yang
dikabarkan secara bersamaan. Asshidqu memiliki keutamaan yang agung,
pahala yang besar, serta kedudukan yang mulia. Asshidqu merupakan
kebalikan dari Al-Kizbu (bohong/ dusta) yang merupakan sifat yang tidak
terpuji dan termasuk diantara kemunafikan. Sesuai dengan sabda
Rosulullah saw : “Jauhilah sifat dusta karena dusta itu menunjukkan
durhaka, dan durhaka menunjukkan kepada neraka. Seorang laki-laki
senantiasa dusta dan mencari kedustaan sampai dicatat di sisi Allah
sebagai orang yang dusta.” (Muttafaq alaih).
Asshidqu mengandung arti kebenaran . kebenaran atau kejujuran
merupakan kesesuaian kata dengan perbuatan, ucapan serta pikiran. Apa
yang diucapkan sesuai dengan yang dibatin. Jujur maksudnya adalah tidak
plin plan dan tidak sengaja memutarbalikkan fakta atau memberikan
informasi yang menyesatkan, dan tentu saja jujur pada diri sendiri. Sesuai
dengan sabda Rosulloh saw : “ Tetaplah kamu jujur (benar), karena jujur
menunjukkan kepada kebaktian, dan kebaktian itu menujukkan kepada
surga. Seorang laki-laki senantiasa jujur dan mencari kejujuran sampai
dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.”(H. Muttafaq alaih).
Asshidqu mengandung arti kesungguhan artinya berusaha dengan
sungguh-sungguhdalam melaksanakan berbagai ikhtiar dan tugas, baik
yang berhubungan dengan tugas Allah SWT (hablum minallah), maupun
tugas kemasyarakatan (hablum minannas).
Asshidqu mengandung arti keterbukaan. Sikap ini lahir dari
kejujuran demi menghindari saling curiga, kecuali dalam hal-hal yang
memang harus dirahasiakan karena alasan pengamanan dan karena tidak
semua keadaan harus diberitakan. Keterbukaan ini dapat menjadi faktor
yang ikut menjaga kohesivitas organisasi dan segaligus menjamin
berjalanyya fungsi kontrol. Namun dalam hal – hal tertentu memang
diperbolehkan untuk menyembunyikan keadaan sebenarnya atau
menyembunyikan informasi seperti setelah disinggung diatas.