Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pterygium adalah semacam pelanggaran batas suatu pinguecula

berbentuk segitiga berdaging di kornea, umumnya disisi nasal, secara

bilateral. Pterygium banyak terjadi pada mereka yang banyak

menghabiskan waktu di luar rumah dan banyak terkena panas terik

matahari. Faktor resiko terjadinya pterygium adalah tinggal di daerah yang

banyak terkena sinar matahari, daerah yang berdebu, berpasir atau

anginnya besar. Penyebab paling umum adalah exposure atau sorotan

berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik

Ultraviolet-A ataupun Ultraviolet-B, dan angin (udara panas) yang

mengenai konjungtiva bulbi berperan penting dalam hal ini. Pterygium

Sering ditemukan pada petani, nelayan dan orang-orang yang tinggal di

dekat daerah khatulistiwa dan jarang mengenai anak-anak. Pterygium

lebih sering terjadi pada usia diatas 40 tahun, dengan prevalensi tertinggi

yaitu pada rentang usia 20-40 tahun (IIyas, 2011).

Penyakit ini terjadi di seluruh dunia dengan tingkat prevalensi yang

bervariasi mulai dari 1,2% sampai 23,4%. Pada beberapa pulau-pulau

tropis di Indonesia dilaporkan memiliki tingkat prevalensi hingga 17% dan

hal yang sama juga dijumpai di daerah Papua Nugini. Sehingga dapat

1
2

disimpulkan terdapat asosiasi yang kuat antara paparan sinar matahari

dengan terjadinya pterygium (Meseret, dkk. 2008).

Di Indonesia, pterygium tercatat sebagai angka kesakitan tersering

nomor dua penyakit mata setelah katarak. Departemen Kesehatan

Republik Indonesia mencatat jumlah pengidap penyakit pterygium di

Indonesia mencapai 1,5% pada tahun 2011. Pada studi yang dilakukan

Gazzard di indonesia (kepulauan riau) yang menyebutkan derajat

pterygium pada usia dibawah 21 tahun sebesar 10% dan diatas 40 tahun

sebesar 16,8%, pada perempuan 17,6% dan laki-laki 16,1% (Gazzard, dkk.

2002).

Prevalensi pterygium secara nasional adalah 8,3%. Prevalensi

pterygium tertinggi ditemukan di provinsi Bali (25,2%), diikuti di provinsi

Maluku (18,0%) dan provinsi Nusa Tengggara Barat (17,0%). Sedangkan

provinsi DKI Jakarta mempunyai prevalensi pterygium terendah yaitu

(3,7%) diikuti oleh provinsi Banten (3,9%) (Riskesdas, 2013).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi

Lampung menunjukan bahwa pada tahun 2013 didapatkan kasus

Pterygium menempati peringkat ke-8 dengan 1.138 kasus di bawah

konjungtivitis, hordeolum, kelainan refraksi, katarak, glaucoma,

pterygium, dan kalazion. (Dinkes Prov. Lampung, 2014).

Mengingat tingginya angka pterygium di Indonesia dan salah satu

faktor resikonya dapat dipengaruhi oleh adanya usia dan aktivitas, maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Usia dan


3

Aktivitas Dengan Kejadian Pterygium Pada Pasien Yang Berobat Di

Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Tahun 2017”.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang tersebut diatas maka, rumusan

masalah yang diteliti adalah : Adakah Hubungan Usia Dan Aktivitas

Dengan Kejadian Pterygium Pada Pasien Yang Berobat Di Rumah Sakit

Pertamina Bintang Amin Tahun 2017?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan

Usia Dan Aktivitas Dengan Kejadian Pterygium Pada Pasien Yang Berobat

Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui distribusi usia pasien Pterygium di Rumah Sakit

Pertamina Bintang Amin tahun 2017.

2. Untuk mengetahui distribusi aktivitas pasien Pterygium di Rumah

Sakit Pertamina Bintang Amin tahun 2017.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat bagi Peneliti

Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan

ilmu yang didapat selama pendidikan serta menambah pengetahuan dan

pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah, menambah pengetahuan


4

dan pengalaman peneliti tentang penyakit pterygium serta hubungannya

dengan usia dan aktivitas.

1.4.2 Manfaat bagi Universitas

Sebagai bahan referensi ilmu pengetahuan khususnya dibidang ilmu

penyakit mata.

1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi

dan pengetahuan kepada masyarakat terkait hubungan usia dan aktivitas

dengan kejadian pterygium.


1.4.4 Manfaat bagi Penelitian selanjutnya
Sebagai acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai

hubungan usia dan aktivitas dengan kejadian pterygium.

1.5 Ruang Lingkup

1. Judul : Hubungan Usia Dan Aktivitas Dengan Kejadian

Pterygium Pada Pasien Yang Berobat Di Rumah

Sakit Pertamina Bintang Amin Tahun 2017

2. Waktu penelitian : Maret 2017

3. Tempat penelitian: Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin

Bandar Lampung

4. Metode penelitian: Deskriptif analitik