Anda di halaman 1dari 11

HUKUM ISLAM TENTANG HAID

(PERSPEKTIF IMAM SYAFI’I)


Sejak awal kehadiran Islam menegaskan bahwa sama sekali tidak dapat ditolerir segala bentuk tindakan asusila ataupun asosial yang
dilakukan terhadap kaum wanita, sebab telah lama Islam menyuarakan dengan lantang; wanita adalah makluk Allah yang harus dihargai
dan dihormati. Mereka punya hak aktif dan peran strategis baik diwilayah domistik maupun diwilayah publik. Perjuangan Islam akan hak-
hak ini didasari oleh betapa kuminitas wanita diperlakukan dengan tidak manusiawi hanya karena qodratnya. Mereka bukan hanya
dimarginalkan, bahkan mereka pun sering mendapatkan perlakuan diskriminatif yang artinya
Mereka bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di
waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah
kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.1
Ayat ini merupakan jawaban reaktif dari Islam terhadap segala perlakuan marginal dan diskriminasi yang telah dilakukan oleh orang-
orang Nasrani dan Yahudi terhadap istri tatkala sedang haidh. Mereka tidak hanya menjauhi saat makan dan minum, tapi mereka juga
mengusirnya dari rumah.
Untuk itu Islam meletakan dasar-dasar emensipasi yang sampai saat ini menjadi isu hangat dalam berbagai diskusi. Ironisnya, keasyikan
berdikusi tentang hak-hak reproduksi wanita, lebih-lebih dalam masalah haidh. Akibatnya, banyak diantara kaum hawa yang justru
mengalami sendiri, tak mengerti apa yang mesti dilakukan, sehingga problema seputar masalah haidh terkesan menjadi materi yang sulit
dan rumit untuk dipelajari.Wanita merupakan makhluk ciptaan Allah yang unik, mulai awal penciptaannya saja sudah tergolong unik.
Adam diciptakan dari saripati tanah, sedangkan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Keunikan itulah yang selalu menjadikan wanita
sebagai obyek penelitian.
Haidh atau yang sering disebut dengan istilah menstruasi merupakan pelepasan lapisan dalam (endometrium) yang disertai pendarahan,
terjadi berulang setiap bulan secara periodik. Selain itu merupakan salah satu keunikan wanita sekaligus sebagai permasalahan yang
cukup rumit. Setiap wanita wajib mempelajari dan mengetahui hukum dan cara menghadapinya. Dari sekian banyak muslimah,
kemungkinan yang mengetahui permasalahan haidh tersebut hanya beberapa persen saja, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui
permasalahan haidh secara penuh. Tidak sedikit diantara wanita terjebak dalam doktrin dan persepsi yang salah “ Setiap darah adalah
Haidh dan Haidh adalah darah ” sebuah ungkapan yang tidak sepenuhnya benar .
Kita bisa menganalisa masih banyak orang sudah dewasa bahkan suami istri tidak mengerti tentang masalah Haidh seperti contoh
mereka tidak tahu bagaimana tata cara mandi yang benar ? Bagaimana shalat dan puasa yang wajib di qadha’i ? Hal ini sangat
membutuhkan perhatian kita semua. Lebih – lebih akhir ini banyak sekali wanita yang haidhnya tidak teratur ( tidak normal ). Bagaimana
dengan mereka yang tidak mengetahui permasalahan ini ? Bukankah mempelajari permasalahan haidh adalah wajib bagi setiap wanita
yang sudah baligh ? Ironisnya, mereka yang tidak begitu tahu permasalahan haidh tersebut berasal dari responden yang latar belakang
pendidikannya berbasis Islam. Jika yang berlatar belakang pendidikan Islam saja tidak tahu, bagaimana dengan mereka yang sama
sekali tidak mempelajarinya? Lantas siapakah yang bertanggung jawab dan berdosa terhadap semua ini? Ini adalah tanggungan kita
umat islam untuk senantiasa belajar tentang masalah haidh. Kehadiran ARTIKEL ini yang bertemakan ” Hukum-Hukum Haidh Menurut
Perspektif Imam Syafi’i ” mampu menjadi batu loncatan untuk memahami masalah-masalah wanita baik dari sisi tinjauan kesehatan maupun
kajian Fiqihnya.
HUKUM HAID MENURUT IMAM SYAFI’I
1. Hukum Mempelajari Ilmu Haidh.
Mengingat permasalahan haidh selau bersentuhan dengan rutinitas ibadah setiap hari, maka seorang wanita dituntut untuk mengetahui
hukum-hukum permasalahan yang dialaminya, agar ibadah yang dilakukan sah dan benar menurut syara’. Untuk mengetahui
permasalahan tersebut, maka tidak ada jalan lain kecuali belajar. Sedang ketentuan hukum mempelajarinya sebagai berikut :
1. Fardhu Kifayah Bagi Wanita Yang Sudah Baligh
Wajib bagi setiap wanita yang sudah baligh untuk belajar dan mengerti permasalahan yang berhubungan dengan haidh, nifas dan
Istihadhah. Sebab mempelajari hal-hal yang menjadi syarat keabsahan dan batalnya seseuatau ibadah adalah fardhu’ain. Sehingga
setiap wanita wajib keluar dari rumah untuk mempelajari hal tersebut sedangakan bagi suami atau mahram tidak boleh untuk
mencegahnya, manakala mereka tidak mampu mengajarinya. Jika mampu mengajarinya maka wajib bagi mereka memberi penjelasan
dan diperbolehkan baginya untuk mencegah wanita tersebut keluar dari rumah. 2
2. Fardhu Kifayah Bagi Laki-Laki
Mengingat permasalahan haidh, nifas dan istihadhah tidak bersentuhan langsung dengan rutinitas ibadah kaum laki-laki, maka hukum
mempelajarinya adalah fardhi kifayah. Sebab mempelajari ilmu-ilmu yang tidak berkaitan langsung dengan amaliyah ibadah yang harus
dilakukan, hukumnya adalah Fardhu Kifayah. Hal ini untuk menegakan agama dan untuk keperluan fatwa. 3
1. Sejarah dan Pandangan Orang Yahudi dan Nasrani Terhadap Wanita Haidh
2. Sejarah Haidh
Wanita yang pertama kali mengeluarkan darah haidh adalah Siti Hawa a.s.-nenek moyang manusia setelah dia diturunkan ke bumi. Hawa
diturunkan bersama Adam ke bumi dikarenakan telah melanggar larangan Allah SWT. Telah melarang Adam dan Hawa untuk mendekati
pohon huldi. Namun, rupanya Hawa tergoda oleh bujuk-rayu setan yang terus menerus. Dia pun memetik buah dari pohon itu sehingga
mengeluarkan getah. 4
Secara analogis, getah pohon memiliki kesamaan ‘sebab’ dengan darah haidh. Getah pohon dapat menghasilkan buah, meskipun
terkadang membuat orang merasa jengkel karena terkena getah. Begitu juga dengan darah haidh, ia dapat membantu pembuahan
embrio (janin) dalam rahim wanita, meskipun terkadang membuat suami kesal karena terhalang untuk bersetubuh. 5
2. Pandangan Orang Yahudi Dan Nasrani Terhadap Wanita Yang Haidh.
Haidh menurut Orang Yahudi dianggap sesuatu yang menjengkelkan, mereka selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan istri-istri
mereka. Sebaliknya orang Nasrani, sikap mereka bertolak belakang dengan sikap orang Yahudi. Bagi orang Nasrani, persoalan haidh
bukanlah suatu halangan untuk menggauli istri-istrinya. Mereka tetap menggauli istrinya meskipun dalam keadaan haidh.
Berbeda halnya dengan apa yang dilakukan oleh orang arab jahiliyah. Mereka tidak mau mengumpuli istri-istri mereka yang dalam
keadaan haidh. Selain itu, mereka juga tidak mau makan, minum, duduk dalam satu majlis, dan tinggal seatap bersama istrinya yang
sedang haidh. Perlakuan mereka terhadap istri-istrinya yang sedang haidh sama dengan perlakuan orang-orang Yahudi. Mereka
mengucilkan istri-istrinya layaknya membuang sampah atau kotoran. Al-Mujahid mengatakan orang-orang Arab Jahiliyah pada saat itu,
jika mendapati istrinya sedang haidh, maka mereka akan menjauhi istrinya. Selama istrinya tersebut haidh, mereka akan menyetubuhi
istrinya melalui anusnya.6
1. Pembahasan Tentang Haidh
2. Pengertian Haidh
Haidh atau bisa disebut menstruasi, secara harfiyah mempunyai arti mengalir. Sedangkan menurut syar’i adalah darah yang keluar dari
alat kelamin wanita yang sudah mencapai usia 9 tahun kurang dari 16 hari ( usia 8 tahun 11 bulan 14 hari ) dan keluar secara alami
(tabiat perempuan) bukan disebabkan melahirkan istihadhah.7
Yang dimaksud awal usia 9 tahun disini adalah tahun hijriyah, bukan tahun masehi sebab antara keduanya ada perbedaan. Agar lebih
jelas dapat dilihat pada keterangan dibawah ini : 9 tahun H = 8 bulan 23 hari 19 jam 12 menit.Jadi dapat disimpulkan, masuk usia haidh
dalam penaggalan masehi adalah : umur 8 tahun M 8 bulan 7 hari 19 jam 13 menit 8
2. Ketentuan-Ketantuan Darah Haidh.9
Darah yang keluar dihukumi haidh apabila memenuhi 4 syarat :
1. Darah keluar dari wanita yang usianya 9 tahun kurang 14 hari
2. Darah yang keluar minimal sehari semalam jika keluar terus menerus atau berjumlah 24 jam jika keluar terputus-putus dan masih dalam waktu 15 hari dari
keluarnya darah yang pertama.
3. Tidak lebih dari 15 hari 15 malam jika keluar terus menerus
4. Keluar setelah masa minimal suci, yakni 15 hari 15 malam dari haidh sebelumnya.
Darah haidh itu paling sedikit sehari semalam( 24 jam) baik keluarnya secara terus menerus atau tidak yang masih dalam lingkup 15
hari maka darah tersebut dikatakan haidh seperti contoh seorang wanita mengeluarkan darah sebagai berikut :
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Keluar 24
Darah Jam

Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Keluar 4 4 4 4 4
Darah Jam Jam Jam Jam Ja

JADWAL UKURAN HAIDL DAN SUCI 12


Batasan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Ketera

1 Hari
MinimalHaidl Jam)

Maksimal 15 Ha
Malam

Umumnya 6 Hari

Umumnya 7 Hari

3 Har

Tidak masuk 4 Hari


aqol; aktsar ;
dan Gholib 2 Hari

Jadi Masa berhentinya darah yang terjadi disela-sela haidh menurut pendapat Qaul Shahbi ( Pendapat yang bisa dijadikan pegangan .
Oleh karena itu shalat atau puasa yang dijalankan pada masa tersebut dinyatakan tidak sah. Jadi kalau puasa yang dijalankan pada
bulan ramadhan, tetap wajib diqadha meskipun sudah dijalankan dengan sempurna dan sehari penuh darah tidak keluar sama sekali. 10
Mengeluarkan darah melebihi 15 hari
Diatas sudah dijelaskan bahwa haidh itu paling lama 15 hari, itu bukan berarti seandainya keluar darah melebihi 15 hari, maka haidhnya
15 dalam lebihnya istihadhah seperti gambar dibawah ini
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Keluar Darah
Lalu untuk menentukan berapa berapa haidhnya dan berapa istihadhahnya terlebih dahulu kita harus mengetahui perincian-perincian
atau penjelaskan yang akan diterangkan pada bab istihadhah dibelakang.
a)Masa suci diantara dua haidh
Masa suci diantara dua haidh itu paling sedikit 15 hari. Umumnya masa suci itu 24 atau 23 hari apabila haidnya 6/7 hari. Batasan
maxsimal suci tidak terbatas. Jadi kalau ada wanita belum mencapai 15 hari, tiba-tiba keluar darah lagi jelas ini bukan darah haidh tetapi
darah istihadhah. Seperti contoh dibawah ini.
b)Suci belum sampai 15 hari sudah keluar darah lagi
Sudah diterangkan masa suci diantara dua haidh paling sedikit 15 hari maka kalau suci belum mencapai 15 hari tiba-tiba keluar darah
lagi jelas ini bukan darah haidh tetapi darah istihadhah.Demikian tadi apabila keluarnya darah yang kedua itu setelah 15 hari terhitung
dari hari pertama haidh yang baru saja dijalankan (baru suci) sebab masa tersebut adalah masa boleh haidh. Masa tidak dapat haid
adalah mulai setelah 15 hari terhitung dari darah darah yang awal haidh yang baru selesai sampai dengan 15 hari terhitung dari akhir
tersebut.
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Keluar Darah

Kemudian kalau darah yang keluar pada masa tidak boleh haidh ini terus berlangsung sampai dengan masa boleh haidh ( masa suci
setelah mencapai 15 hari ). Adapun darah yang keluar pada masa tidak boleh haidh adalah istihadhah sedangkan darah yang keluar pada
masa boleh haidh adalah darah haidh jika memenuhi persyaratan darah haidh.
Contoh :
Har 1 1 1 1 1 1 1 2 2
i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 2 5

Kel
uar

Dar
ah
1. Istihadhah
Istihadhah adalah darah yang keluar darai kemaluan wanita diluar ketentuan haidh dan nifas. Wanita yang mengeluarkan darah tersebut
dihukumi daimul hadats (orang yang selalu hadats , sehingga wanita tersebut boleh disetubuhi namun wajib berpuasa dan shalat dengan
cara membersihkan najis sekitar kemaluan, kemudian menyumbat dengan kapas sampai masuk kedalam vagina yang tidak wajib ketika
istinjak., kecuali dia sedang berpuasa walaupun puasa sunnah. 11
Apabila dia sudah sesuai dengan ketentuan diatas maka sudah dianggap cukup maka segera melakuakan wudhu dengan niat :
‫نويت الوضؤألستباحة الصالة فرضا هلل تعالى‬
Dan setelah itu segera melaksanakan shalat fardhu( satu wudhu untuk satu fardhu walaupun walaupun ia mempunyai hadats lain.
Masalah Istihadhah sangat erat kaitanya dengan kuat dan lemahnya darah yang dipengaruhi oleh warna dan sifat darah.
Warna darah sesui dengan urutan yang paling kuat :
1. Hitam
2. Merah
3. Kekuning-kuningan
4. Kuning
5. Keruh
Sifat-Sifat darah
1. Kental, cair
2. Berbau dan tidak berbau
Warna nomor 1 lebih kuat dari pada nomor 2, warna nomor 2 lebih kuat dari pada nomor 3. begitu seterusnya.12
Apabila masing-masing darah mempunyai warna dan sifat yang sama-sama kuat maka yang dihukumi darah kuat adalah darah yang
lebih dahulu keluar.
Macam-Macam Musthahadhah
Wanita yang mengalami istihadhah terbagi menjadi 7 macam
1. Mubtadi’ah Mumayyizah yaitu wanita yang baru pertama kali haidh serta bisa dibedakan darah kuat dan darah lemah dengan memenuhi persyaratan sebagai
berikut
2. Darah kuat tidak kurang dari sehari semalam (24 Jam)
3. Darah kuat tidak melebihi 15 hari.
4. Darah lemah (yang kleuar antara darah kuat ) tidak kurang dari lima belas hari.
5. Darah lemah harus terus menerus dalam arti kedua darah tidak keluar secara silih berganti.12
Bagi wanita yang demikian ini drah yang dihukumi haidh adalah darah yang kuat meskipun darah tersebut keluar lebih akhir.
Contoh seorang wanita yang belum pernah haidh mengluarkan darah sebagai berikut :
Har 1 1 1 1 1 1 1 2 2
i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 2 5

Kel
uar

Dar
ah
Keterangan :
Darah Kuat
Darah Lemah
Perincian hukum = Mandi Hari ke 15 , Qadha Shalat 10 hari, Haidh = 5 hari, Istihadhah = 20 hari.
Contoh 2 seorang wanita mengeluarkan darah kuat 3 hari sedangkan darah lemah 20 hari maka perincian hukumnya 3 hari haidh 20
istihadhah namun untuk bulan pertama harus menunggu 15 hari kemudian bulan berikutnya dia wajib mandi disaat darah kuat berubah
menjadi darah lemah
2. Mubtadi’ah Ghoiru Mumayyizah adalah wanita yang baru pertama kali mengeluarkan darah melebihi dari 15 hari dan dia tidak bisa membedakan darah kuat dan
darah lemah atau bisa namun tidak memenuhi persyaratan pada golongan yang pertama maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam dan sisanya dihukum
istihadhah 13contoh seorang wanita baru pertama kali mengeluarkan darah melebihi 15 hari dengan satu macam warna darah.
Har 1 1 1 1 1 1 1 2 2 3
i 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 2 5 0

Kel
uar
Dar
ah
Perincian hukumnya haid= 1 hari satu malam=, mandi = hari ke 16 , istihadhah = 29 hariPada golongan yang kedua ini mandinya untuk
bulan pertama harus menunggu 15 hari unutk bulan selanjutnya tidak menunggu 15 hari tapi begitu darah keluar 14 jam dia wajib
mandi.
3. Mu’tadah Mumayyizah adalah wanita yang sudah pernah haidh kemudian mengalami istihadhah serta dia bisa membedakan darah kuat dan darah lemah serta 3
ketentuan pertama maka darah kuat dihukumi haidh dan darah lemah dihukumi istihadhah . Kecuali apabila antara kebiasaannya haidnya(adat) dan darah kuat
dipisah oleh darah 15 hari maka masa yang sesuai sesuai dengan adat dihukumi haidh begitu juga dengan darah kuat sedangkan darah lemah yang memisah
diantara keduanya dihukumi istihadhah (masa suci).
Contoh wanita yang sudah pernah haid mengeluarkan darah sebagai berikut
Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 21 22

adat
haidh

Keluar
darah
Keterangan
Darah Kuat
Darah Lemah
Perincian hukumnya= Haidh = 4 hari, Mandi = hari ke 16, Istihadhah= 18 hari, Qadha Shalat = 12 hari.
Wanita mempunyai adat 8 hari mengeluarkan darah 28 hari, 25 darah lemah darah kuat 3 hari maka 8 hari diawal dihukumi haidh
karena disamakan dengan adat sebelumnya, begitu juga 3 hari diakhir sedangkan 19 hari dihukumi istihadhah 19 hari pemisah dihukumi
istihadhah (suci ).
4. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li’adatiha Qadran wa Waqtan adalah wanita yang sudah pernah haidh kemudian mengalami is14tihadhah namum ia
tidak bisa membedakan darah kuat dan lemah atau bisa membedakan tapi tidak memenuhi 3 syarat yang terdapat pada golongan pertama dan ia masih ingat
kebiasaan lamanya dan mulai nya haidh yang pernah ia alami maka haidh dan sucinya disamakan dengan adat haidh dan suci sebelumnya sedangkan ketentuan
adat yang dijadikan standar sebagai berikut :
5. Apabila adat haidh dan suci tidak berubah rubah maka haidh dan sucinya disamakan dengan sebelumnya.
Contoh Bulan pertama haidh 7 hari, kemudian mengelami istihadhah 3 bulan dengan ketentuan diatas maka 7 hari awal dari tiap-tiap
bulan dihukumi haidh dan sisanya istihadhah.
1. Apabila adat haidh dan sucinya berubah-rubah secara runtut, samapi dua putaran maka haidh dan sucinya disamakan dengan adat sebelumnya sesuai dengan
urutan putaranya
Bulan I : haidh 6 hari
Bulan II : haidh 7 hari
Bulan III : haidh 6 hari
Bulan IV : haidh 7hari
Kemudian bulan ke V – VIII maka haidhnya :
Bulan V : haidh 6 hari
Bulan VI : haidh 6 hari
Bulan VII : haidh 6 hari
Bulan VIII : haidh 6 hari
1. Apabila adatnya mencapai dua putaran, tapi tidak berurutan maka haidnya disamakan dengan adat bulan sebelum istihadhah.
Contoh
Bulan I : haidh 7 hari
Bulan II : haidh 6 hari
Bulan III : haidh 6 hari
Bulan IV : haidh 7hari
Kemudian istihadhah berbulan-bulan maka haidhnya untuk tiap bulannya 7 hari
1. Apabila adatnya tidak mencapai dua putaran maka haidhnya disamakan dengan bulan sebelumnya istihadhah.
Contoh
Bulan I : haidh 7 hari
Bulan II : haidh 6 hari
Kemudian mengalami istihadhah maka haidhnya 6n hari tiap-tiap bulan.
5. 5. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Nasiyah Li’adatiha Qodron wa Waktan adalah wanita yang sudah pernah haidh kemudia mengalami istihadhah, dia tidak bisa
membedakan darah kuat dan lemah atau tidak memenuhi 3 syarat pada golongan pertama dia juga lupa kebiasaandan mulai haid yang pernah dia alami, maka dia
dihukumi sebagian orang yang suci sebagian orang yang haidh.maka haram baginya melakukan hal-hal sebagai berikut :15
6. bersentuhan kulit antara pusar samapi lutut.
7. menyentuh dan membaca al qur’an dilaur shalat.
8. masuk masjid , baik diam atau sekedar lewat apabila khawatir darahnya menetes. Dan dia dihukumi seperti orang yang suci boleh melakukan hal – hal sebagai
berikut :
shalat, thawaf, dan i’tikaf
berpuasa
thalaq
mandi
Dia harus mandi tiap-tiap akan melakukan shalat setelah masuk waktu, kalau ia memang tidak ingat, maka khusus pada waktu tersebut
dia wajib mandi disamping beberapa syarat yang terdapat pada mustahadhah.
6. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li’adatiha Qodron la Waktan adalah Wanita yang sudah pernah haidh, kemudian dia mengalami istihadhah serta dia
tidak bisa membedakan darah kuat dan lemah, atau bisa tapi tidak memenuhi awal dan dia masih mengingat kebiasaan lamanya masa haidh, namun dia lupa
kapan mulainya maka ketentuanya sebagai berikut :
hari yang diyakini haidh dihukumi seperti orang yang haidh. Hari yang diyakini usci dihukumi orang yang suci. Dari hari yang
dimungkinkan suci dan mungkin haidh maka hukumnya disamakan dengan golongan yang kelima.
Contoh. Wanita sudah pernah haidh kemudian mengeluarkan darah lebih 15 hari ia masih ingat masa haidh sebelumnya semisal 5 hari
dalam 10 hari awal bulan, namun dia lupa kapan persisnya tanggal mulai haidh dan ia hanya ingat pada tanggal 1 suci, maka :
Tanggal 1 dihukumi yakin suci.
Tanggal 2 sampai lima mungkin haidh dan mungkin suci .
Tanggal 6 yakin haidh
Tanggal 7 sampai 10 mungkin haidh dan mingkin suci dan mungkin mulai putusnya haidh.
Tanggal 11 sampai akhir bulan yankin suci.
7. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li’adatiha Waktan la Qadran adalah wanita yang sudah pernah haidh kemudian mengalami istihadhah dan dia tidak
bisa membedakan darah kuat dan lemah atau bisa membedakan tapi tidak memenuhi syarat yang telah disebutkan serta dia ingat kebiasaan waktu mulainya haidh
tapi dia lupa lamanya haidh maka hukumnya sama dengan golongan pada nomor 6 .
contoh wanita sudah pernah haidh kemudian dia mengalami istihadhah dan dia ingat kalau tanggal 5 mulai haidh, namun dia tidak ingat
sampai kapan haidh itu berhenti, maka :16
tanggal 5 yakin haidh
tanggal 6 samapi 19 mungki haidh mungkin suci dan mungkin putusnya haidh
tanggal 20 yakin haidh sampai tanggal 4 bulan berikutnya yakin suci.
1. Hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan bagi wanita haidl.
Syeh Ibrahim Al Bajuri dalam kitabnya menyebutkan 8 perkara yang tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid antara lain : 17
1. Sholat.
Bagi wanita yang sedang haidl, diharamkan melakukan sholat ( baik sholat Fardlu atau sholat sunnat, karena memang pada dasarnya ia
tidak diwajibkan untuk melakukannya, dan setelah ia suci tidak diwajibkan mengqodho , karena andaikan diwajibkan untuk mengqodho
ia akan memberatkan, namun berarti ia meninggalkan, berakibat ia berakiabat tidak mendapatkan pahala sebeb pahala bias
mendapatkan jika ia meniati menuruti perintah syar’i.
2 Puasa ( Baik Fardlu atau sunnah )
Hal ini dikarena syaratnya sahnya puasa harus suci dari haidl, namun jika haidl terjadi pada bulan Ramadhon, ia harus mengqodho pada
bulan-bulan yang lain , alas an diwajibkan untuk mengqodlo , karena jika hal tersebut diwajibkan untuk mengqodho, tidak begitu
dirasakan berat oleh mereka, berbeda dengan sholat.
3. Membaca Al Qur’an.
Keharaman membaca Al Qur’an bagai wanita yang haidl, didasari dari sabda Nabi Muhammad SAW. Yang artinya bagi orang yang
menjalani haidl dan junub tidak diperkenankan membaca Al Qur’an.
4. Menyentuh atau membawa Al Qur’an
Bagi orang yang menjalani haidl haram baginya menyentuh Al qur’an, didasari Firman Alloh yang artinya “ tidak beloh menyentuh
kecuali bagi orang yang suci.
5. Berdiam diri dimasjid.
Jika sekedar lewat ia diperbolehkan dengan catatan tidak ada kekewatiran mengotori masjid sedangkan dasar keharaman kerdiam diri
masjid bagi orang yang haidl adalah sabda Nabi yang berbunyi Tidak Halal bagi orang yang junub dan orang yang haidl.
6. Melakukan hubungan layaknya suami istri ( bersetubuh)
Wanita yang sedang menjalani haidl diharamkan bersetubuh, dikarenakan firman Alloh SWT. Yang artinya : “ Jauhilah wanita yang
sedang menjalani haidl ”
7. Bermesraan dengan bersentuhan kulit antara pusar lutut.
Keharaman ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari sahabat mu’adz yang pernah bertanya kepada beliau sebenarnya sebatas
manakah anggota yang dihalalkan untuk suami disaat istrinya menjalani haidl dari pertanyaan itu Rosulloh menjawab bahwa yang halal
bagi suami adalah antara pusar dan lutut.
8. Thowaf.
Ibadah thowaf, haram dilakukan bagi orang yang haidl, berdasarkan dari sabda nabi Muhammad SAW. Pada sayyidah ‘Aisah yang artinya
“ lakukan apa saja bagi orang yang haji hanya saja kamu jangan melakukan thowaf.
Sealain dilarang melakukan aktifitas tertentu, dia juga dibenarkan melakukan aktifitas berikut:
1.Wanita yang sedang haid boleh mendengarkan pengajian Alquran.
2.Wanita yang sedang haid boleh membuat makanan.
3.Wanita yang sedang haid dibenarkan makan bersama suaminya.
4.Wanita yang sedang haid juga dibenarkan membesuk orang sakit atau melayat orang meninggal dunia.
5. Wanita yang sedang haid dibenarkan membaca salawat, zikir, tasbih, atau ayat Alquran.
Adapun Ayat Alquran yang dibenarkan untuk dibaca adalah (a) ayat yang digunakan untuk zikir, seperti kalimat ”Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi
Raji’un”; (b) ayat yang biasa digunakan untuk berdoa, seperti kalimat doa ketika naik kendaraan ”Subhana-L-Lazi Sakhkhara Lana Hadza Wa Ma
Kunna Lahu Muqrinin”; (c) ayat yang digunakan sebagai doa untuk memuji Allah Swt., seperti kalimat ’Alhamdulillah Rabbil Alamin”; (d) ayat
yang digunakan untuk memulai semua pekerjaan, seperti kalimat ”bismillahirrahmanirrahim.” Ayat-ayat doa tersebut dibenarkan dibaca
bila sengaja diniatkan untuk berdoa atau berzikir. Namun, jika diniatkan untuk membaca Alquran, maka hukumnya haram.
Wanita yang sedang haid boleh bercumbu denga suaminya, bahkan sampai suaminya mengeluarkan sperma, kecuali bercumbu pada
bagian antara pusar sampai lutut.Wanita yang sedang haid boleh jadi pengantin. Perlu diketahui, haid tidak menjadi penghalang
keabsahan nikah. Jika dia dicerai, maka yang terkena hukum haram adalah suaminya. 15
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Menurut Pandangan imam syafi’i bahwa seorang wanita dikatakan orang haidh apalabila mengeluarkan darah memenuhi 4 syarat antara lain :
2. Darah keluar dari wanita yang usianya 9 tahun kurang 14 hari
3. Darah yang keluar minimal sehari semalam jika keluar terus menerus atau berjumlah 24 jam jika keluar terputus-putus dan masih dalam waktu 15 hari dari
keluarnya darah yang pertama.
4. Tidak lebih dari 15 hari 15 malam jika keluar terus menerus
5. Keluar setelah masa minimal suci, yakni 15 hari 15 malam dari haidh sebelumnya.
Apabila tidak memenuhi persyaratan diatas maka darah tersebut dikatakan darah istihadhah(suci).
2. Wanita yang sedangan menstruasi dilarang melakukan ibadah berupa shalat, puasa,membaca al-qur’an, menyetuh al qur’an, berdiam diri dimasjid, bersetubuh,
bermesraan dengan sentuhan kulit antara pusar dan lutut dan melakukan thawaf.
3. Istihadhah adalah darah yang keluar diluar masa haidh dan nifas sedangkan hukumnya mustahadhah disamakan dengan orang suci yakni berkewajiban puasa dan
shalat 5 waktu adapun tatacaranya :
1. Apabila diantara waktu shalat ada kemungkinan berhentinya darah maka wajib menantinya dan melakukan shalat pada waktu putus darah tersebut.
2. Jika ada kemungkinan putus darah diantara waktu shalat (darah keluar terus menerus maka setiap akan melakukan shalat fardhu mustahahah harus membersihan
kemaluan, membalut kemaluan kemudian melakuakn shalat dengan segera.