Anda di halaman 1dari 21

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Konjungtiva

Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan

dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata

(konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva

bulbaris). Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak

mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus,

konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan

membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris.

Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbital di forniks dan

melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata

bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik (Vaughan,

2010).

Konjungtiva adalah selaput lendir atau disebut lapisan mukosa.

Konjungtiva melapisi permukaan sebelah dalam kelopak mulai tepi

kelopak (margo palpebralis), melekat pada sisi dalam tarsus, menuju ke

pangkal kelopak menjadi konjungtiva forniks yang melekat pada jaringan

longgar dan melipat balik melapisi bola mata hingga tepi kornea.
6

Konjungtiva dibagi menjadi 3 bagian :

1) Konjungtiva palpebra,

2) Konjungtiva forniks,

3) Konjungtiva bulbi (Al Ghozie, 2002).

Gambar 2.1 Anatomi Konjuntiva

Sumber : Gambar Bola Mata (duniamata.blogspot.com)

Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima

lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal (Junqueira,

2007). Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval

yang mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel

epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan

dapat mengandung pigmen (Vaughan, 2010).

Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisialis) dan

satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan

limfoid dan tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan.
7

Lapisan fibrosa tersusun dari

jaringan penyambung yang

melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada mata (Vaughan,

2010).

Gambar 2.2 Histologi Konjungtiva

Sumber : Gambar Bola Mata (duniamata.blogspot.com)

Konjungtiva dibasahi oleh air mata yang saluran sekresinya bermuara

di forniks atas. Air mata mengalir dipermukaan belakang kelopak mata dan

tertahan pada bangunan lekukan di belakang kelopak mata tertahan di

belakang tepi kelopak. Air mata yang mengalir ke bawah menuju forniks

dan mengalir ke tepi nasal menuju punctum lakrimalis (Al Ghozie, 2002).

Kedudukan konjungtiva mempunyai resiko mudah terkena

mikroorganisme atau benda lain. Air mata akan melarutkan materi

infektius atau mendorong debu keluar. Alat pertahanan ini menyebabkan

peradangan menjadi self-limited disease. Selain air mata, alat pertahanan

berupa elemen limfoid, mekanisme eksfoliasi epitel dan gerakan

memompa kantong air mata. Hal ini dapat dilihat pada kehidupan
8

mikroorganisme patogen untuk saluran genitourinaria yang dapat tumbuh

di daerah hidung tetapi tidak berkembang di daerah mata (Al Ghozie,

2002).

Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria

palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama

dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular konjungtiva

yang sangat banyak. Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan

pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit (Vaughan, 2010).

2.2 Definisi Pterygium

Pterygium berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pteron” yang artinya

sayap (wing). Pterygium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan

fibrovaskuler pada subkonjungtiva dan tumbuh menginfiltrasi permukaan

kornea, umumnya bilateral di sisi nasal, biasanya berbentuk segitiga

dengan kepala/apex menghadap ke sentral kornea dan basis menghadap

lipatan semilunar pada cantus (Vaughan, 2010).


Pterygium adalah kelainan pada konjungtiva bulbi, pertumbuhan

fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif.

Pertumbuhan ini biasanya terdapat pada celah kelopak bagian nasal

ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah kornea (Pope, 2009).


Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di

daerah kornea. Pterygium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka

bagian pterygium akan berwarna merah. Pterygium sering mengenai kedua

mata (Ilyas, 2009).

2.3 Etiologi Pterygium


9

Hingga saat ini etiologi pterygium masih belum diketahui secara pasti.

Beberapa faktor resiko pterygium antara lain adalah paparan ultraviolet,

mikro trauma kronis pada mata, infeksi mikroba atau virus. Selain itu

beberapa kondisi kekurangan fungsi lakrimal film baik secara kuantitas

maupun kualitas, konjungtivitis kronis dan defisiensi vitamin A juga

berpotensi menimbulkan pterygium (Laszuarni, 2009).


Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa etiologi pterygium

merupakan suatu fenomena iritatif akibat pengeringan dan lingkungan

dengan banyak angin karena sering terdapat pada orang yang sebagian

besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin, penuh sinar matahari,

berdebu dan berpasir. Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota

keluarga dengan pterygium dan berdasarkan penelitian menunjukkan

riwayat keluarga dengan pterygium, kemungkinan diturunkan autosom

dominan (Caldwell, 2011).


Terdapat banyak perdebatan mengenai etiologi atau penyebab

pterygium. Disebutkan bahwa radiasi sinar Ultraviolet B sebagai salah

satu penyebabnya. Sinar Ultraviolet-B merupakan sinar yang dapat

menyebabkan mutasi pada gen suppressor tumor p53 pada sel-sel benih

embrional di basal limbus kornea. Tanpa adanya apoptosis (program

kematian sel), perubahan pertumbuhan faktor Beta akan menjadi

berlebihan dan menyebabkan pengaturan berlebihan pula pada sistem

kolagenase, migrasi seluler dan angiogenesis. Perubahan patologis tersebut

termasuk juga degenerasi elastoid kolagen dan timbulnya jaringan

fibrovesikular, seringkali disertai dengan inflamasi. Lapisan epitel dapat


10

saja normal, menebal atau menipis dan biasanya menunjukkan dysplasia

(Anonimus, 2009).
Terdapat teori bahwa mikrotrauma oleh pasir, debu, angin, inflamasi,

bahan iritan lainnya atau kekeringan juga berfungsi sebagai faktor resiko

pterygium. Orang yang banyak menghabiskan waktunya dengan

melakukan aktivitas di luar ruangan lebih sering mengalami pterygium dan

pinguekula dibandingkan dengan orang yang melakukan aktivitas di dalam

ruangan. Kelompok masyarakat yang sering terkena pterygium adalah

petani, nelayan atau olahragawan (golf) dan tukang kebun. Kebanyakan

timbulnya pterygium memang multifaktorial dan termasuk kemungkinan

adanya keturunan (faktor herediter) (Anonimus, 2009).


Pterygium banyak terdapat di nasal daripada temporal. Penyebab

dominannya pterygium terdapat di bagian nasal juga belum jelas diketahui

namun kemungkinan disebabkan meningkatnya kerusakan akibat sinar

ultraviolet di area tersebut. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kornea

sendiri dapat bekerja seperti lensa menyamping (side-on) yang dapat

memfokuskan sinar ultraviolet ke area nasal tersebut (Anonimus, 2009).


Teori lainnya menyebutkan bahwa pterygium memiliki bentuk yang

menyerupai tumor. Karakteristik ini disebabkan karena adanya

kekambuhan setelah dilakukannya reseksi dan jenis terapi yang diikuti

selanjutnya (radiasi, antimetabolit). Gen p53 yang merupakan penanda

neoplasia dan apoptosis ditemukan pada pterygium. Peningkatan ini

merupakan kelainan pertumbuhan yang mengacu pada proliferasi sel yang

tidak terkontrol dari pada kelainan degenerative (Skuta, 2008).

1. Paparan sinar matahari (UV)


11

Paparan sinar matahari merupakan faktor yang penting dalam

perkembangan terjadinya pterygium. Hal ini menjelaskan mengapa

insidennya sangat tinggi pada populasi yang berada pada daerah dekat

equator dan pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu di

lapangan.

2. Iritasi kronik dari lingkungan (udara, angin, debu)

Faktor lainnya yang berperan dalam terbentuknya pterygium adalah

alergen, bahan kimia berbahaya, dan bahan iritan (angin, debu, polutan).

Ultraviolet-B merupakan mutagenik untuk p53 tumor supressor gen pada

stem sel limbal. Tanpa apoptosis, transforming growth factor-beta over

produksi dan memicu terjadinya peningkatan kolagenasi, migrasi seluler,

dan angiogenesis. Selanjutnya perubahan patologis yang terjadi adalah

degenerasi elastoid kolagen dan timbulnya jaringan fibrovaskuler

subepitelial. Kornea menunjukkan destruksi membran Bowman akibat

pertumbuhan jaringan fibrovaskuler.

2.4 Faktor Resiko


Faktor risiko yang mempengaruhi antara lain :

a. Usia

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menentukan prevalensi

pterygium, dimana terjadi peningkatan angka kejadian pterygium sesuai

dengan meningkatnya usia dimana dijumpai adanya hubungan yang

erat, resiko meningkat dan mencapai puncak pada usia 70-81 tahun.
12

Beberapa teori menyatakan ada hubungan usia dengan kejadian

pterygium. Tetapi mekanisme pastinya belum diketahui. Jarang sekali

orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun. Untuk pasien

umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi,

sedangkan pasien yang berumur 20-40 tahun dilaporkan mempunyai

insidensi pterygium yang paling tinggi (Gazzard, 2011).

b. Aktivitas

Meskipun etiologi dari pterygium masih belum diketahui secara

pasti, namun pterygium meningkat pada orang yang memiliki aktivitas

di luar ruangan. Hal ini terjadinya akibat orang yang memiliki aktivitas

diluar ruangan lebih banyak terpapar oleh sinar Utraviolet, dimana sinar

Ultraviolet merupakan salah satu penyebab timbulnya pterygium. Selain

sinar ultraviolet, orang-orang yang lebih banyak beraktivitas diluar

ruangan juga rentan terpapar oleh debu, angin dan pasir.


Aktivitas diluar ruangan >8 jam dalam sehari dapat meningkatkan

terjadinya pterygium. Orang-orang yang bekerja diluar ruangan seperti

petani, buruh, dan pedagang lebih beresiko mengalami pterygium

karena memiliki aktivitas diluar ruangan yang lama (Gazzard, 2011).


Jam Kerja, waktu Istirahat kerja, waktu lembur diatur dalam pasal

77 sampai pasal 85 Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan. Di beberapa perusahaan, jam kerja,waktu istirahat dan

lembur dicantumkan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) (Dinas

Ketenagakerjaan, 2016).
Sungguh melelahkan bukan, bila kita diharuskan bekerja berjam-

jam di dalam dan di luar kantor sehari-hari, bahkan ada yang sampai
13

kerja lembur. Bagaimana dengan upah lembur kita? Berapa sih upah

yang sesuai untuk jam kerja kita tersebut? Belum lagi, di sela-sela jam

kerja itu, karyawan juga berhak untuk mendapat jam istirahat dan waktu

untuk beribadah. Pertanyaan – pertanyaan tersebut pasti sering terlintas

di pikiran (Dinas Ketenagakerjaan, 2016).


Untuk karyawan yang bekerja 6 hari dalam seminggu, jam

kerjanya adalah 7 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu.

Sedangkan untuk karyawan dengan 5 hari kerja dalam 1 minggu,

kewajiban bekerja mereka 8 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1

minggu (Dinas Ketenagakerjaan, 2016).

c. Tempat tinggal

Gambaran yang paling mencolok dari pterygium adalah distribusi

geografisnya. Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei

yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di

khatulistiwa memiliki angka kejadian pterygium yang lebih tinggi.

Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama

kehidupannya pada garis lintang kurang dari 300 memiliki risiko

penderita pterygium 36 kali lebih besar dibandingkan daerah yang lebih

selatan (Gazzard, 2011).

d. Jenis kelamin

Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan.


e. Herediter
Pterygium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara

autosomal dominan.
f. Infeksi
14

Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab

pterygium.
g. Faktor risiko lainnya
Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel

tertentu seperti asap rokok, pasir merupakan salah satu faktor risiko

terjadinya pterygium (Skuta, 2008).


2.5 Klasifikasi Pterygium
Pterygium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe,

stadium, progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah

episklera , yaitu:
1. Berdasarkan Tipenya pterygium dibagi atas 3 bagian, yaitu :
a. Tipe I : Pterygium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada

limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja. Lesi

meluas < 2 mm dari kornea. Stocker’s line atau deposit

besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala

pterygium. Lesi sering asimptomatis, meskipun sering

mengalami inflamasi ringan. Pasien yang memakai lensa

kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat.


b. Tipe II : di sebut juga pterygium tipe primer advanced atau

ptrerygium rekuren tanpa keterlibatan zona optik. Pada

tubuh pterygium sering nampak kapiler-kapiler yang

membesar. Lesi menutupi kornea sampai 4 mm, dapat

primer atau rekuren setelah operasi, berpengaruh dengan

tear film dan menimbulkan astigmat.


c. Tipe III : Pterygium primer atau rekuren dengan

keterlibatan zona optik. Merupakan bentuk pterygium

yang paling berat. Keterlibatan zona optik membedakan


15

tipe ini dengan yang lain. Lesi mengenai kornea > 4 mm

dan mengganggu aksis visual. Lesi yang luas khususnya

pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis

subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya

menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta

kebutaan (Vaughan, 2000).

2. Berdasarkan stadium pterygium dibagi ke dalam 4 stadium yaitu:


a. Stadium I : jika pterygium hanya terbatas pada limbus

kornea
b. Stadium II : jika pterygium sudah melewati limbus

dan belum mencapai pupil, tidak lebih dari 2 mm

melewati kornea.
c. Stadium III : jika pterygium sudah melebihi stadium II tetapi tidak

melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya

normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm).


d. Stadium IV : jika pertumbuhan pterygium sudah

melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan

(Vaughan, 2000).

Gambar 2.3 Derajat Pterygium

3. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, pterygium dibagi menjadi 2 yaitu:


a. Pterygium progresif : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di
kornea di depan kepala pterygium (disebut cap
dari pterygium).

b. Pterygium regresif : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi


16

bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang.


4. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterygium dan

harus diperiksa dengan slit lamp pterygium dibagi 3 yaitu:


a. T1 (atrofi) : pembuluh darah episkleral jelas terlihat.
b. T2 (intermediet) : pembuluh darah episkleral sebagian terlihat.
c. T3 (fleshy, opaque) : pembuluh darah tidak jelas.

2.6 Gejala Pterygium

Pasien yang menderita pterygium sering mempunyai berbagai macam

keluhan, mulai dari tidak ada gejala yang berarti sampai mata menjadi

merah sekali, pembengkakan mata, mata gatal, iritasi, dan pandangan

kabur disertai dengan jejas pada konjungtiva yang membesar (Fisher dan

Trattler, 2013).
Menurut Aminlari,dkk (2010) gejala klinis pada tahap awal biasanya

ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali. Beberapa keluhan yang

sering dialami pasien seperti mata sering berair dan tampak merah, merasa

seperti ada benda asing, dapat timbul astigmatisme akibat kornea tertarik,

pada pterigium lanjut stadium 3 dan 4 dapat menutupi pupil dan aksis

visual sehingga tajam penglihatan dapat menurun.


Sedangkan menurut Wijaya (1993), bila masih baru, banyak

mengandung pembuluh darah, sehingga warnanya menjadi merah,

kemudian menjadi membran tipis berwarna putih yang stationer. Bagian

sentral melekat pada kornea dapat tumbuh memasuki kornea kemudian

menggantikan epitel dan membrana Bowman, dengan jaringan elastik dan

hyaline.

2.7 Patofisiologi Pterygium


17

Terjadinya pterigium berhubungan dengan paparan dari luar seperti

sinar ultraviolet, angin, dan debu. Paparan tersebut dapat mengiritasi

permukaan mata, kemudian akan mengganggu proses regenerasi jaringan

konjungtiva dan diganti dengan pertumbuhan berlebih dari jaringan

fibrous yang mengandung pembuluh darah. Akibatnya terjadi perubahan

degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular.

Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastoid dan proliferasi

jaringan granulasi fibrovaskular di bawah epitel yaitu substansia propia

yang akhirnya menembus kornea. Kerusakan kornea terdapat pada lapisan

membran Bowman yang disebabkan oleh pertumbuhan jaringan

fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi ringan. Kerusakan

membran Bowman ini akan mengeluarkan substrat yang diperlukan untuk

pertumbuhan pterigium (Caldwell, 2011).


Epitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia. Epitel

merupakan lapisan sel yang meliputi permukaan luar mata. Epitel pada

mata lebih sensitif dibanding dengan epitel bagian tubuh lain khususnya

terhadap respon kerusakan jaringan akibat paparan ultraviolet karena epitel

pada lapisan mata tidak mempunyai lapisan luar yang disebut keratin

(Laszuarni, 2009).
Jika sel-sel epitel dan membran dasar terpapar oleh ultraviolet secara

berlebihan maka radiasi tersebut akan merangsang pelepasan enzim yang

akan merusak jaringan dan menghasilkan faktor pertumbuhan yang akan

menstimulasi pertumbuhan jaringan baru. Jaringan baru yang tumbuh ini

akan menebal dari konjungtiva dan menjalar ke arah kornea. Kadar enzim
18

tiap individu berbeda, hal inilah yang menyebabkan terdapatnya perbedaan

respon tiap individu terhadap paparan radiasi ultraviolet yang

mengenainya (Fisher dan Trattler, 2013).

2.8 Diagnosis Pterygium

1. Anamnesis

Pada anamnnesis didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata merah,

gatal, mata sering berair, ganguan penglihatan. Selain itu perlu juga

ditanyakan adanya riwayat mata merah berulang, riwayat banyak bekerja

di luar ruangan pada daerah dengan pajanan sinar matahari yang tinggi,

serta dapat pula ditanyakan riwayat trauma sebelumnya.

2. Pemeriksaaan fisik
Pada inspeksi pterygium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada

permukaan konjuntiva. Pterygium dapat memberikan gambaran yang

vaskular dan tebal tetapi ada juga pterygium yang avaskuler dan flat.

Perigium paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi

ke kornea nasal, tetapi dapat pula ditemukan pterygium pada daerah

temporal.

3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterygium adalah

topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa

astigmtisme ireguler yang disebabkan oleh pterygium (Dushku, dkk,

2001).

2.9 Penatalaksanan Pterygium

1. Non Farmakologis
19

a. Sarankan pasien untuk melindungi diri dari sinar Ultraviolet:

memakai topi, memakai kacamata anti sinar Ultraviolet. Hal ini

dapat mengurangi resiko progesifitas pterygium dan terjadinya

inflamasi dan iritasi.


b. Monitor progress, ukur dan gambar diagram pertumbuhan

pterygium.
c. Rujuk ke dokter spesialis mata jika: aksis visual terkena, terjadi

astigmatisme yang menyebabkan gangguan visus, iritasi tidak

mereda dengan pengunaan obat tetes, gangguan kosmetik tidak dapat

ditoleransi.
d. Kompres dingin ketika terjadi inflamasi (Dushku, dkk, 2001)
2. Farmakologis

Pasien dengan pterygium hanya diobservasi kecuali lesi telah

mencapai kornea atau ada gejala kemerahan, ketidaknyamanan, dan

perubahan fungsi visual yang signifikan. Terapi farmakologis untuk

pterygium antara lain tetes air mata buatan (artificial tears) dan tetes

mata kortikosteroid jika terjadi peradangan.

Pada pterygium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterygium

derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes

mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari.

Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan

pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami

kelainan pada kornea (Vaughan, 2010).

3. Tindakan Operatif
20

Indikasi untuk eksisi antara lain adalah gangguan penglihatan karena

pertumbuhan jaringan ke kornea, astigmatisme, keterbatasan gerak

mata, penampakan atipik yang menjurus ke arah neoplasma skuamosa,

iritasi mata signifikan yang tidak mereda dengan terapi farmakologis,

gangguan kosmetik. Tujuan pembedahan pada pterygium adalah untuk

mencegah kekambuhan dan pengembalian intregitas permukaan okular.

Indikasi Operasi:

a. Pterygium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus

b. Pterygium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi

pupil

c. Pterygium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan

silau karena astigmatismus

d. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

Jenis Operasi pada Pterygium antara lain :

a. Bare Sklera

Pterygium diambil, lalu dibiarkan, tidak diapa-apakan. Tidak

dilakukan untuk pterygium progresif karena dapat terjadi granuloma,

granuloma diambil kemudian digraph dari amnion.

b. Subkonjungtiva

Pterygium setelah diambil kemudian sisanya dimasukkan atau

disisipkan di bawah konjungtiva bulbi → jika residif tidak masuk

kornea.
21

c. Graf

Pterygium setelah diambil lalu di-graf dari amnion/selaput

mukosa mulut/konjungtiva forniks.

Eksisi pterygium umunya dilakukan dengan setting rawat jalan

dibawah anastesi topical atau local, dan jika diperlukan dengan

sedasi. Sebuah penelitian tentang eksisi pterygium dengan pemberian

mitomycin C dan amniotic graft (untuk mencegah kekambuhan),

mendapatkan hasil bahwa sel endotelial yang dapat dihilangkan

dengan metode bare sclera sebanyak 3,4% dan dengan metode

subkonjungtiva sebanyak 4.8 %. Penggunaan mitomycin C dalam

konsentrasi rendah (0,01%) tidak menimbulkan komplikasi yang

serius dan efektif untuk mencegah kekambuhan. Setelah operasi,

mata ditutup semalam, dan diberi antibotik topical dan tetes mata

anti inflamasi (Dushku, dkk, 2001).

Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi,

dikombinasikan dengan pemberian:

a. Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari

selama 5 hari, bersamaan dengan pemberian dexamethasone

0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6 minggu.


b. Mitomycin C 0,04% (o,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14

hari, diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone.


c. Sinar Beta.
d. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1

tetes/ 3 jam selama 6 minggu, diberikan bersamaan dengan salep

antibiotik Chloramphenicol, dan steroid selama 1 minggu.


22

2.10 Komplikasi Pterygium

Komplikasi Pterygium termasuk ; merah, iritasi, skar kronis pada

konjungtiva dan kornea, pada pasien yang belum eksisi, distorsi dan

penglihatan sentral berkurang, skar pada otot rektus medial yang dapat

menyebabkan diplopia. Komplikasi yang jarang adalah malignan

degenerasi pada jaringan epitel di atas Pterygium yang ada (Lazuarni,

2009).
Komplikasi sewaktu operasi antara lain perforasi korneosklera, graft

oedem, graft hemorrhage, graft retraksi, jahitan longgar, korneoskleral

dellen, granuloma konjungtiva, epithelial inclusion cysts, skar

konjungtiva, skar kornea dan astigmatisma, disinsersi otot rektus.

Komplikasi yang terbanyak adalah rekuren Pterygium post operasi

(Lazuarni, 2009).

2.11 Penelitian Terkait


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Laszuarni di Kabupaten

Langkat Provinsi Sumatera Utara menyebutkan bahwa dari 2419

responden yang diperiksa prevalensi pterygium tertinggi pada usia >60

tahun dengan 1006 responden, diikuti pada rentang usia 51-60 tahun

dengan 594 responden, rentang usia 41-50 tahun sebanyak 414 responden,

dan paling terendah pada rentang usia 15-20 tahun sebanyak 94 responden.
Kemudian pada aktivitas diluar ruangan >8 jam sebanyak 232 (23%)

dari total responden, dan aktivitas didalam ruangan <8 jam sebanyak 186

(13%). Kemudian dari jenis kelamin didapatkan jenis kelamin perempuan

lebih banyak mengalami pterygium dari pada jenis kelamin laki-laki.


23

2.12 Kerangka Penelitian

2.12.1 Kerangka Teori

Gambar 2.3. Kerangka Teori


Faktor Resiko

Usia Aktivitas

Fungsi Lapisan Paparan Ultraviolet


Air Mata Menurun

Iritasi pada mata dan


kelainan lapisan air
mata

Pengeringan lokal dari


kornea dan konjungtiva

Regenerasi jaringan
konjungtiva dan
pertumbuhan jaringan
fibrovaskular

Inflamasi pada konjungtiva


dan proliferasi jaringan
fibrovaskuler pada kornea
24

Pterygium

Sumber : (Laszuarni, 2009).

2.12.2 Kerangka Konsep

Gambar 2.4 Kerangka Konsep

Usia
KEJADIAN
PTERYGIUM
Aktivitas

Independen Dependen

2.13 Hipotesis

Ha :Ada hubungan antara usia terhadap kejadian pterygium pada pasien

yang berobat di RS. Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung

Tahun 2017.

Ho :Tidak ada hubungan antara usia terhadap kejadian pterygium pada

pasien yang berobat di RS. Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung Tahun 2017.

Ha :Ada hubungan antara aktivitas terhadap kejadian pterygium pada

pasien yang berobat di RS. Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung Tahun 2017.


25

Ho :Tidak ada hubungan antara aktivitas terhadap kejadian pterygium

pada pasien yang berobat di RS. Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung Tahun 2017.