Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelayanan kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk melaksanakan pencegahan dan
pengobatan terhadap penyakit, termasuk didalamnya pelayanan medis yang dilaksanakan atas
dasar hubungan individual antara dokter dengan pasien yang membutuhkan penyembuhan.
Dalam hubungan antara dokter dan pasien tersebut terjadi transaksi terapeutik artinya
masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban. Dokter berkewajiban memberikan
pelayanan medis yang sebaik-baiknya bagi pasien. Pelayanan media ini dapat berupa
penegakan diagnosis dengan benar sesuai prosedur, pemberian terapi, melakukan tindakan
medik sesuai standar pelayanan medik, serta memberikan tindakan wajar yang memang
diperlukan untuk kesembuhan pasiennya. Adanya upaya maksimal yang dilakukan dokter ini
adalah bertujuan agar pasien tersebut dapat memperoleh hak yang diharapkannya dari
transaksi yaitu kesembuhan ataupun pemulihan kesehatannya.
Dalam pelayanan kesehatan terutama di rumah sakit, sering timbul pelanggaran etik,
penyebabnya tidak lain karena tidak jelasnya hubungan kerja antara dokter dengan rumah
sakit. Tidak ada suatu kontrak atau perjanjian kerja yang jelas yang mengatur hak dan
kewajiban masing-masing pihak. Sementara iu, perkembangan teknologi kesehatan juga
mempengaruhi terjadinya pelanggaran etik, karena pemilihan teknologi kesehatan yang tidak
di dahului dengan pengkajian teknologi dan pengkajian ekonomi, akan memunculkan
tindakan yang tidak etis dengan membebankan biaya yang tidak wajar kepada pasien.
Tindakan penyalahgunaan teknologi dalam pelayanan kesehatan, dilakukan oleh dokter baik
pada saat berlangsungnya diagnosa maupun pada waktu berlangsungnya terapi dengan
memanfaatkan ketidaktahuan pasien. Misalnya, pasien yang seharusnya tidak perlu diperiksa
dengan alat atau teknologi kesehatan tertentu, namun karena alatnya tersedia, pasien dipaksa
menggunakan alat tersebut dalam pemeriksaan atau pengobatan, sehingga pasien harus
membayar lebih mahal pasien. Menyadari hal tersebut, pengawasan terhadap kemungkinan
pelanggaran etik perlu ditingkatan, untuk itu dalam makalah ini akan di angkat kasus
mengenai operasi cesar dengan menggunakan silet. Tepat pukul 10.00 wib pasien tersebut di
bawah ke ruang operasi lalu di bius dan bersiap-siap menjalani operasi, saat hendak
melakukan pembedahan staf ruang operasi tidak menemukan pisau bedah lalu segera
meminta pada keluarga pasien untuk mencari pisau bedah di apotik RSUD namun apotik
tersebut kehabisan stok pisau bedah karena pasien sudah terlanjur di bius, dokter yang

1
bertanggung jawab atas operasi tersebut langsung segera mengambil langkah darurat dengan
mnggunakan pisau silet yang biasanya di gunakan untuk mencukur bulu pasien operasi. Si
pasien tersebut yang hanya di bius setengah badan juga mengetahui proses pembedahan
tersebut dan nampaknya tidak keberatan atas langkah yang di ambil dokter tersebut. Operasi
akhirnya berjalan dengan lancar, ibu dan anaknya pun selamat meski dengan pembedahan
yang tidak umum.
Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia, di tegaskan bahwa seorang dokter harus
senantiasa mengingat kewajibannya melindungi hidup makhluk insani, mempergunakan
segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan penderita. Jika ia tidak mampu
melakukan statu pemeriksaan atau pengobatan, ia wajib merujuk penderita lepada dokter lain
yang mempunyai keahlian dalam menangani penyakit tersebut.
Seorang dokter tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas status kegagalan
untuk menyembuhkan pasien, CACAT atau meninggal, bilamana dokter telah
melakukan segala upaya sesuai dengan keahlian dan kemampuan profesionalnya.
Bertolak dari hal tersebut diatas, dapat dibedakan antara apa yang dimaksud sebagai
upaya yang baik dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab, lalai atau ceroboh. Artinya
apabila seorang dokter telah melakukan segala upaya, kemampuan, keahlian, dan
pengalamannya untuk merawat pasien atau penderita, dokter tersebut dianggap telah berbuat
upaya yang baik dan telah melakukan tugasnya sesuai dengan etik kedokteran. Sebaliknya,
jika seorang dokter tidak memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau tidak meninggalkan
hal-hal yang seharusnya ditinggalkan oleh sesama dokter lain, pada umumnya di dalam
situasi yang sama, dokter yang bersangkutan dapat dikatakan telah melanggar standar profesi
kedokteran. Menurut Koeswadji (1992 : 104), standar profesi adalah nilai atau itikad baik
dokter yang didasari oleh etika profesinya, bertolak dari suatu tolak ukur yang disepakati
bersama oleh kalangan pendukung profesi. Wewenang untuk menentukan hal-hal yang dapat
dilakukan dan yang tidak dapat dilakukan dalam status kegiatan profesi, merupakan tanggung
jawab profesi itu sendiri. Seorang dokter dalam menjalankan tugasnya mempunyai alasan
yang mulia, yaitu berusaha untuk menyehatkan tubuh pasien, atau setidak-tidaknya berbuat
untuk mengurangi penderitaan pasien.
Oleh karenanya dengan alasan yang demikian wajarlah apabila apa yang dilakukan
oleh dokter itu layak untuk mendapatkan perlindungan hukum sampai batas-batas tertentu.
Sampai batas mana perbuatan dokter itu dapat dilindungi oleh hukum, inilah yang
menjadi permasalahan. Mengetahui batas tindakan yang diperbolehkan menurut hukum,
merupakan hal yang sangat penting, baik bagi dokter itu sendiri maupun bagi pasien dan para

2
aparat penegak hukum. Malpraktik etik adalah tindakan dokter yang bertentangan dengan
etika kedokteran, sebagaimana yang diatur dalam kode etik kedokteran Indonesia yang
merupakan seperangkat standar etika, prinsip, aturan, norma yang berlaku untuk dokter. Yang
dimaksud dengan malpraktek etik adalah dokter melakukan tindakan yang bertentangan
dengan etika kedokteran. Sedangkan etika kedokteran yang dituangkan di dalam KODEKI
merupakan seperangkat standar etis, prinsip, aturan atau norma yang berlaku untuk dokter.
Ngesti Lestari berpendapat bahwa malpraktek etik ini merupakan dampak negative
dari kemajuan teknologi kedokteran. Kemajuan teknologi kedokteran yang sebenarnya
bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien, dan membantu dokter
untuk mempermudah menentukan diagnosa dengan lebih cepat, lebih tepat dan lebih akurat
sehingga rehabilitasi pasien bisa lebih cepat, ternyata memberikan efek samping yang tidak
diinginkan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja azas – azas dalam hukum kesehatan ?
2. Apa saja Hak dan kewajiban baik pasien atau petugas kesehatan ?
3. Masalah apa saja yang sering timbul dalam hukum kesehatan ?
4. Apa yang dimaksud dengan perjanjian terapeutik ?
5. Kesalahan dan kelalaian apa saja yang sering terjadi dalam perjanjian terapeutik

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui azas - azas
2. Untuk mengetahui dan memahami hak dan kewajiban baik pasien atau petugas kesehatan
3. Untuk memahami masalah dalam hukum kesehatan
4. Untuk mengetahui tentang pengertian perjanjian terapeutik
5. Untuk mengetahui kesalahan dan kelalaian dalam perjanjian terapeutik

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Azas – Azas Hukum Kesehatan


a. Asas perikemanusiaan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa berarti bahwa
penyelenggaraan kesehatan harus dilandasi atas perikemanusiaan yang berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa dengan tidak membeda-bedakan golongan, agama, dan
bangsa;
b. Asas manfaat berarti memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan
dan perikehidupan yang sehat bagi setiap warga negara;
c. Asas usaha bersama dan kekeluargaan berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan
dilaksanakan melalui kegiatan yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan
dijiwai oleh semangat kekeluargaan;
d. Asas adil dan merata berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dapat
memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat
dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat;
e. Asas perikehidupan dalam keseimbangan berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan
harus dilaksanakan seimbang antara kepentingan individu dan masyarakat, antara fisik
dan mental, antara materiel dan spiritual;
f. Asas kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri berarti bahwa
penyelenggaraan kesehatan harus berlandaskan pada kepercayaan akan kemampuan
dan kekuatan sendiri dengan memanfaatkan potensi nasional seluas-luasnya.

B. Hak dan Kewajiban


1. Hak secara Umum
MENURUT UU NO. 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN:
a. Setiap orang berhak atas kesehatan.
b. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber
daya di bidang kesehatan
c. Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang
aman, bermutu, dan terjangkau
d. Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri
pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
e. Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat
kesehatan.
f. Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan
yang seimbang dan bertanggung jawab.
g. Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya
termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya
dari tenaga kesehatan.
2. Hak dan Kewajiban Pasien
a. Hak Pasien

4
MENURUT UU NO. 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN:
1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan
pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan
memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap (Pasal 56)
2) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah
dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. (Pasal 57)
3) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga
kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian
akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya
MENURUT UU NO. 44 TAHUN 2009 TENTANG RS:
1) Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
Rumah Sakit;
2) Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
3) memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
4) Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi
dan standar prosedur operasional;
5) Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari
kerugian fisik dan materi;
6) Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
7) Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
8) Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain
yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar
Rumah Sakit;
9) Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-
data medisnya;
10) Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis,
tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta
perkiraan biaya pengobatan;
11) Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan
oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
12) Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
13) Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama
hal itu tidak mengganggu pasien lainnya;
14) Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di
Rumah Sakit;
15) Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap
dirinya;
16) Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya;
17) Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidana; dan

5
18) Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

b. Kewajiban Pasien
MENURUT PERMENKES NO. 69 TAHUN 2014 Sesuai Pasal 31 UU NO. 44
TAHUN 2009 TENTANG RS:
1) Mematuhi peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
2) Menggunakan fasilitas rumah sakit secara bertanggungjawab;
3) Menghormati hak-hak pasien lain, pengunjung dan hak Tenaga Kesehatan
serta petugas lainnya yang bekerja di rumah sakit ;
4) Memberikan informasi yang jujur, lengkap dan akurat sesuai kemampuan dan
pengetahuannya tentang masalah kesehatannya;
5) Memberikan informasi mengenai kemampuan finansial dan jaminan kesehatan
yang dimilikinya;
6) Mematuhi rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan di
rumah sakit dan disetujui oleh Pasien yang bersangkutan setelah mendapatkan
penjelasan sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
7) Menerima segala konsekuensi atas keputusan pribadinya untuk menolak
rencana terapi yang direkomendasikan oleh Tenaga Kesehatan dan/atau tidak
mematuhi petunjuk yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan dalam rangka
penyembuhan penyakit atau masalah kesehatannya; dan
8) Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

3. Hak dan Kewajiban Tenaga Kesehatan


a. Hak Tenaga Kesehatan
MENURUT UU NO. 36 TAHUN 2009 TENTANG RS
Tolak ungkap rahasia pasien terkecuali apabila pasien menuntut dan memberi
informasi kpd media cetak dianggap telah melepaskan haknya (psl 44)
b. Kewajiban Tenaga Kesehatan
MENURUT UU NO. 44 TAHUN 2014 TENTANG RS
1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit wajib
memiliki Surat Izin Praktik sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan
2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
c. Hak dan Kewajiban Dokter
Berikut beberapa hak kewajiban dokter menurut UU No. 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran Pasal 50 dan 51 yaitu :

6
Termasuk dalam kewajiban dokter dalam pemberian pelayanan kesehatan
adalah :
1) Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar operasional
prosedur serta kebutuhan medis.
2) Apabila tidak tersedia alat kesehatan atau tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan / pengobatan, bisa merujuk pasien ke dokter / sarana kesehatan
lain yang mempunyai kemampuan lebih baik.
3) Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan setelah
pasien itu meninggal dunia.
4) Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang mampu melakukannya.
5) Mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.
Sedangkan yang termasuk sebagai hak dokter dalam pelayanan kesehatan
adalah sebagai berikut :
1) Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
standar profesi dan standar operasional prosedur.
2) Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar operasional
prosedur.
3) Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya.
4) Menerima imbalan jasa.
Sedangkan mengenai hak untuk mengakses rekam medis pasien atau pun
catatan medis pasien maka hal yang mengatur akan ini adalah Peraturan Menteri
kesehatan No.269 pasal 12 yang berbunyi :
1) Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan.
2) Isi rekam medis merupakan milik pasien.
3) Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam bentuk ringkasan
rekam medis.
4) Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan,
dicatat, atau dicopy oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas
persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.

7
d. Hak dan Kewajiban Perawat
Ada beberapa hal yang termasuk dalam hak kewajiban perawat yaitu
diantaranya :
Yang masuk dalam kategori hak perawat adalah :
1) Perawat berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya.
2) Perawat berhak untuk mengembangkan diri melalui kemampuan sosialisasi
sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
3) Perawat berhak untuk menolak keinginan klien yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan serta standard dan kode etik profesi perawat.
4) Perawat berhak untuk mendapatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang keperawatan
atau kesehatan secara terus menerus.
5) Perawat berhak untuk mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak atas
jasa profesi yang diberikannya berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang
berlaku di institusi pelayanan yang bersangkutan.
Dan yang termasuk dalam kewajiban perawat adalah :
1) Perawat wajib mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan.
2) Perawat wajib memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan
standar profesi dan batas kegunaannya.
3) Perawat wajib menghormati hak klien.
4) Perawat wajib merujukkan klien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain
yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik bila yang
bersangkutan tidak dapat mengatasinya.
5) Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk berhubungan
dengan keluarganya, selama tidak bertentangan dengan peraturan atau standar
profesi yang ada.
6) Perawat wajib memberikan kesempatan kepada klien untuk menjalankan
ibadahnya sesuai dengan agama atau kepercayaan masing-masing selama tidak
mengganggu klien yang lainnya.
7) Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan
terkait lainnya dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pelayanan
keperawatan kepada klien

8
C. Masalah Hukum dalam Praktik Keperawatan
Berbagai masalah hukum dalam praktik keperawatan telah diidentifikasi oleh
para ahli. Beberapa masalah yang dibahas secara singkat disini meliputi :

1. Menandatangani Pernyataan Hukum


Perawat seringkali diminta menandatangi atau diminta untuk sebagai saksi.
Dalam hal ini perawat hendaknya tidak membuat pernyataan yang dapat
diinterprestasikan menghilangkan pengaruh. Dalam kaitan dengan kesaksian perawat
disarankan mengacu pada kebijakan rumah sakit atau kebijakan dari atasan.
2. Format Persetujuan (Consent)
Berbagai format persetujuan disediakan oleh institusi pelayanan dalam bentuk
yang cukup bervariasi. Beberapa rumah sakit memberikan format persetujuan pada
awal pasien masuk rumah sakit yang mengandung pernyataan kesanggupan pasien
untuk dirawat dan menjalani pengobatan. Bentuk persetujuan lain adalah format
persetujuan operasi. Perawat dalam proses persetujuan ini biasanya berperan sebagai
saksi. Sebelum informasi dari dokter ahli bedah atau perawat tentang tindakan yang
akan dilakukan beserta resikonya.
3. Report
Setiap kali perawat menemukan suatu kecelakaan baik yang mengenai pasien,
pengunjung maupun petugas kesehatan, perawat harus segera membuat suatu laporan
tertulis yang disebut incident report. Dalam situasi klinik, kecelakaan sering terjadi
misalnya pasien jatuh dari kamar mandi, jarinya terpotong oleh alat sewaktu
melakuakan pengobatan, kesalahan memberikan obat dan lain-lain.
Dalam setiap kecelakaan, maka dokter harus segera diberi tahu.
Beberapa rumah sakit telah menyediakan format untuk keperluan ini. Bila format
tidak ada maka kejadian dapat ditulis tanpa menggunakan format buku. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pencatatan incident report antara lain :
a. tulis kejadian sesuai apa adanya
b. tulis tindakan yang anda lakukan
c. tulis nama dan tanda tangan anda dengan jelas
d. sebutkan waktu kejadian ditemukan
4. Pencatatan
Pencatatan merupakan kegiatan sehari-hari yang tidak lepas dari asuhan
keperawatan yang dilakukan oleh perawat. Pencatatan merupakan salah satu

9
komponen yang penting yang memberikan sumber kesaksian hukum. Betapapun
mahirnya keterampilan anda dalam memberikan perawatan, jika tidak dicatat atau
dicatat tetapi tida lengkap, tidak dapat membantu dalam persidangan. Setiap selesai
melakukan suatu tindakan maka perawat harus segera mencatat secara jelas tindkan
yang dilakukan dan respon pasien terhadap tindakan serta mencantumkan waktu
tindakan diberikan dan tanda tangan yang memberikan tindakan.
5. Pengawasan Penggunaan Obat
Pemerintah Indonesia telah mengatur pengedaran dan penggunaan obat. Obat
ada yang dapat dibeli secara bebas dan ada pula yang dibeli harus dengan resep
dokter. Obat-obat tersebut misalnya narkotik disimpan disimpan ditempat yang aman
dan terkunci dan hanya oprang-orang yang berwenang yang dapat mengeluarkannya.
Untuk secara hukum hanya dapat diterima dalam pengeluaran dan penggunaan obat
golongan nartkotik ini, perawat harus selalu memperhatikan prosedur dan pncatatan
yang benar.
6. Abortus Dan Kehamilan Diluar Secara Alami
Abortus merupakan pengeluaran awal fetus pada periode gestasi sehingga
fetus tidak mempunya kekuatan untuk bertahan hidup. Abortus merupakan tindakan
pemusnahan yang melanggar hukum, atau menyebabkan lahir prematur fetus manusia
sebelum masa lahir secara alami.
Abortus telah menjadi masalah internasional dan berbagai pendapat telah
diajukan baik yang menyetujui maupun yang menentang. Factor-faktor yang
mendorong abortus antara lain karena :
a. Pemerkosaan
b. Pria tidak bertanggung jawab
c. Demi kesehatan mental
d. Kesehatan tubuh
e. Tidak mampu merawat bayi
f. Usia remaja
g. Masih sekolah
h. Ekonomi
(KR, 1994)
Yang dimaksud dengan kelahiran yang diluar secara alami meliputi kelahiran
yang diperoleh dengan tidak melalui hubungan intim suami istri sebagai mana
mestinya. Misalnya melalui fertilisasi invirto (bayi tabung).

10
7. Kontroversi Aborsi
Aborsi di Indonesia masih merupakan perbuatan yang secara jelas dilarang,
terkecuali jika ada indikasi medis tertentu yang mengakibatkan terancamnya hidup
dari sang Ibu. Di dunia Internasional sendiri dikenal dua kelompok besar yaitu pro life
(yang menentang aborsi) dan pro choice (yang tidak menentang aborsi) berikut
dengan berbagai argumentasi yang melatarbelakanginya.
Di Indonesia sendiri, meski aborsi dilarang, namun tetap banyak perempuan-
perempuan yang melakukan aborsi. Baik dilakukan berdasarkan indikasi medis
tertentu maupun indikasi non medis.
Dalam aborsi, kami cenderung melihatnya dari sisi non moral, karena problem
moral haruslah diletakkan dalam koridor moral semata dan tentu bukan dalam koridor
moral yang dimasukkan unsur-unsur hukum. Beberapa contoh bagaimana terkadang
moral dan hukum, dalam pandangannya, tidak mampu untuk menjawab persoalan
persoalan ini.
Contoh A: Seorang perempuan yang diperkosa ternyata mendapatkan
kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan korban perkosaan
dalam terminologi adanya kekuatan yang melakukan pembersihan etnis dimana dia
adalah salah satu etnis yang hendak disapu bersih.
Contoh B: Seorang perempuan yang diperkosa ternyata mendapatkan
kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan korban perkosaan
dalam konteks kejahatan dalam keluarga.
Contoh C: Seorang perempuan yang diperkosa ternyata mendapatkan
kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan korban perkosaan
dalam konteks kejahatan di lingkungan kerja. Dia sendiri sudah bersuami dan
memiliki anak-anak yang baik dan lucu-lucu
Contoh D: Seorang perempuan yang diperkosa ternyata mendapatkan
kehamilan yang tidak dia inginkan. Perempuan ini merupakan korban perkosaan
dalam konteks kejahatan biasa. Dia diperkosa karena ada perampok yang memasuki
rumahnya.
Contoh E: Seorang perempuan yang hendak melangsungkan perkawinan,
ternyata telah hamil sebelum perkawinannya berlangsung. Sementara calon suaminya
sendiri kabur entah kemana dan tak dapat dilacak kembali
Jika perempuan-perempuan ini diharuskan memelihara kehamilannya, kami yakin dia

11
akan menanggung beban psikologis yang berat dan melahirkan anak yang tidak
diinginkan akan merupakan beban dan pukulan kedua yang berat bagi mereka. Dan
bisa jadi anak yang dilahirkannya malah tidak diurus dengan baik, baik oleh dirinya
maupun keluarganya. Kalau sudah begini terjadi lingkaran kekerasan yang tak ada
habisnya
8. Kematian dan Masalah yang Terkait
Masalah hukum yang berkaitan denagn kematian antara lain meliputi
pernyataan kematian, bedah mayat/otopsi dan donor organ. Kematian dinyatakan oleh
dokter dan ditulis secara sah dalam surat pernyataan kematian.
Surat pernyataan ini biasanya dibuat beberapa rangkap dan keluarga mendapat
satu lembar untuk digunakan sebagai dasar pemberitahuan kepada kerabat serta
keperluan ansuransi. Pada keadaan tertentu misalnya untuk keperluan keperluan
peradilan, dapat dilakukan bedah mayat pada orang yang telah meninggal.

D. Perjanjian Terapeutik
1. Pengertian Perjanjian Terapeutik
Pengertian Perjanjian terapeutik adalah perjanjian antara dokter dengan
pasien yang memberikan kewenangan kepada dokter untuk melakukan kegiatan
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien berdasarkan keahlian dan
keterampilan yang dimiliki oleh dokter tersebut.
Dalam Mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia tertuang dalam Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 434 /Men.Kes /X / 1983 tentang Berlakunya Kode Etik
Kedokteran Indonesia Bagi Para Dokter di Indonesia, mencantumkan tentang
perjanjian terapeutik sebagai berikut:
“Yang dimaksud perjanjian terapeutik adalah hubungan antara dokter dengan
pasien dan penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial),
serta senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani”
Pengertian transaksi terapeutik ada beberapa definisi dari sarjana, yaitu :
a. H.H. Koeswadji :
transaksi terapeutik adalah perjanjian (Verbintenis) untuk mencari atau
menentukan terapi yang paling tepat bagi pasien oleh dokter.34)
b. . Veronica Komalawati :
transaksi terapeutik adalah hubungan hukum antara dokter dan pasien dalam
pelayanan medis secara professional, didasarkan kompetensi yang sesuai
dengan keahlian dan ketrampilan tertentu di bidang kedokteran.35)

12
dari hubungan hukum dalam transaksi terapeutik tersebut, timbullah hak dan
kewajiban masing-masing pihak, pasien mempunyai hak dan kewajibannya, demikian
juga sebaliknya dengan dokter.
Karena transaksi terapeutik merupakan perjanjian, maka menurut Komalawati (2002)
terhadap transaksi terapeutik juga berlaku hukum perikatan yang diatur dalam buku
III KUH Perdata, sebagaimana disebutkan didalam pasal 1319 KUH Perdata yang
berbunyi :
Semua perjanjian, baik yang mempunyai nama khusus, maupun yang tidak terkenal
dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan umum, yang termuat dalam Bab
ini dan Bab yang lalu.
Dengan demikian, untuk sahnya perjanjian tersebut, harus dipenuhi syarat-
syarat yang termuat dalam pasal 1320 KUH Perdata, dan akibat yang ditimbulkannya
diatur dalam pasal 1338 KUH Perdata, yang mengandung asas pokok hukum
perjanjian.
Menurut Subekti (1985), suatu perjanjian adalah suatu peristiwa bahwa seseorang
berjanji kepada orang lain atau antara dua orang itu saling berjanji untuk
melaksanakan sesuatu hal.
Untuk sahnya perjanjian terapeutik (Nasution : 2005), harus dipenuhi syarat-
syarat sesuai pasal 1320 KUH Perdata :
1. Adanya kesepakatan dari mereka yang saling mengikatkan dirinya.
2. Adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
3. Mengenai suatu hal tertentu.
4. Untuk suatu sebab yang halal / diperbolehkan.
Syarat 1 dan 2 merupakan syarat subjektif yang harus dipenuhi yaitu para pihak harus
sepakat, dan kesepakatan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang cakap untuk membuat
suatu perikatan.
Untuk keabsahan kesepakatan para pihak yang mengikatkan dirinya, maka
kesepakatan ini harus memenuhi kriteria pasal 1321 KUH Perdata yang berbunyi :
Tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau
diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.
Agar kesepakatan ini sah menurut hukum, maka didalam kesepakatan ini para
pihak harus sadar (tidak ada kekhilafan), terhadap kesepakatan yang dibuat, tidak
boleh ada paksaan dari salah satu pihak, dan tidak boleh ada penipuan didalamnya.
Untuk itulah diperlukan adanya informed consent atau yang juga dikenal dengan
istilah Persetujuan Tindakan Medik.
Untuk syarat adanya kecakapan untuk membuat perjanjian, diatur dalam pasal
1329 dan 1330 KUH Perdata sebagai berikut :
Pasal 1329 :
Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-
undang tidak dinyatakan tidak cakap.
Pasal 1330 :
Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah :

13
1. Orang-orang yang belum dewasa.
2. Mereka yang ditaruh di dalam pengampuan.
3. Orang-orang perempuan, dalam hal yang ditetapkan oleh undang-undang, dan pada
umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat
perjanjian-perjanjian tertentu.
Pihak penerima pelayanan medik yang tidak cakap untuk bertindak (tidak boleh
membuat kesepakatan, atau kesepakatan yang dibuat bisa dianggap tidak sah) antara
lain :
1. Orang dewasa yang tidak cakap untuk bertindak (misalnya : orang gila, pemabuk,
atau tidak sadar), maka diperlukan persetujuan dari pengampunya (yang boleh
membuat perikatan dengan dokter adalah pengampunya).
2. Anak dibawah umur, diperlukan persetujuan dari walinya atau orang tuanya.
Yang dimaksud dengan dewasa menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
585/Men.Kes/per/IX/1989, Pasal 8 ayat (2) adalah telah berumur 21 tahun atau
telah menikah. Jadi untuk seseorang yang berusia dibawah 21 tahun dan belum
menikah, maka transaksi terapeutik harus ditanda tangani oleh orang tua atau
walinya, yang merupakan pihak yang berhak memberikan persetujuan.

2. Sifat Hubungan Dokter-Pasien

Hubungan yang terjadi antara dokter dengan pasien secara umum dianggap
sebagai suatu jenis kontrak. Sebuah kontrak adalah kesepakatan antara dua orang atau
lebih, dimana kedua belah pihak membuat perjanjian untuk masing-masing pihak,
menurut istilah hukum, memberikan prestasinya. Masalah perjanjian diatur dalam
Hukum Perdata.

Hukum perdata yang termuat di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata


(KUH Perdata) yang merupakan terjemahan dari Burgerlijk Wetboek yang telah mulai
diberlakukan sejak Tahun 1847. Walaupun falsafah dan materinya sudah banyak yang
tidak sesuai lagi dengan zaman, namun masih juga ada dasar-dasar pokok yang
terdapat di bidang Hukum Perjanjian yang masih dapat dipergunakan.

Sebagaimana diketahui Burgerlijk Wetboek memperoleh akarnya dari code


civil. Dan kalau kita melihat di luar negeri, ternyata dasar-dasar pokok perjanjian dari
code civil masih tetap dipergunakan terus. Dapat dikatakan bahwa dasar-dasar pokok
code civil masih berlaku secara universal, baik di Negara continental maupun Negara
Anglo Saxon ada juga pengaruhnya, sehingga ada kesamaannya.

Bila terjadi konflik antara dokter dan pasien diselesaikan oleh organisasi profesi
dan lebih banyak menitikberatkan untuk menjaga kehormatan profesi dibandingkan
memperjuangkan nasib pasien, padahal idealnya adalah penyelesaian atas akibat
kesalahan dan kelalaian dokter dalam bentuk pertanggungjawaban yang meringankan
pasien.

14
Hak-hak pasien yang tertulis dalam Pasal 53 ayat (2), dihormati dan dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan, antara lain :
1. Hak atas informasi.
2. Hak untuk memberikan persetujuan.
3. Hak atas rahasia kedokteran.
4. Hak atas pendapat kedua.

Hubungan pasien dengan dokter merupakan hubungan yang erat dan kompleks
keeratan hubungan antara pasien karena diharuskan adanya kesalingpercayaan dan
keterbukaan. Dalam hukum pasien dan dokter masing-masing memiliki hak dan
kewajiban. Hubungan terapeutik antara pasien dengan dokter terdiri dari lima asas
yang berlaku dalam hubungan kontraktual yaitu :

1. Asas konsensual
Dalam asas ini dokter dan pasien harus menyatakan persetujuannya, baik secara
eksplisit (misalnya, secara lisan sanggup) atau secara implisit (misalnya
menerima pendaftaran pasiennya, memberikan nomor urut).
2. Asas itikad baik
Itikad baik dari kedua belah pihak merupakan hal yang paling utama di dalam
hubungan terapeutik antara pasien dan dokternya
3. Asas bebas
Dalam asas ini antara pasien dan dokternya mengikatkan diri bebas untuk
menentukan hal-hal mengenai hak dan kewajiban masingmasing.
4. Asas tidak melanggar hukum
Berdasarkan asas bebas, dokter dan pasiennya mengikatkan diri bebas untuk
menentukan hal-hal mengenai hak dan kewajiban masing-masing tetapi dibatasi
oleh asas ini yaitu isi perjanjiannya tidak boleh melanggar hukum.
5. Asas kepatutan dan kebiasaan
Disamping tunduk kepada hukum dan hal-hal yang telah disepakati oleh dokter
dan pasien tetapi kepatutan dan kebiasaan harus diikuti. Menurut Fred Ameln,
dalam kaitan hubungan dokter dengan pasien, maka dalam hukum perdata dikenal
adanya dua macam perikatan, yaitu:36)
a. Perikatan Usaha
Yaitu suatu perikatan yang terjadi dimana satu pihak berjanji dengan
upaya dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan
tertentu.
b. Perikatan Hasil
Yaitu suatu perikatan yang terjadi dimana satu pihak berjanji akan
memberikan suatu hasil yang nyata.

15
3. Subyek-Subyek Kontrak Terapeutik

Subyek-subyek kontrak terapeutik adalah masalah yang terletak di bidang


Hukum Perdata. Kontrak terapeutik dapat digolongkan ke dalam kelompok kontrak
atau perjanjian. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa kontrak terapeutik ini sama
sekali tidak ada hubungannya dengan Hukum Pidana. Karena bisa saja pasien atau
keluarga yang merasa dirugikan oleh suatu tindakan medik (gross negligence),
menuntut dokternya berdasarkan KUHP pasal 359 tentang kelalaian yang
menyebabkan kematian. Atau berdasarkan KUHP pasal 360 karena menyebabkan
pasien sampai cacat tubuh berat (Zwaarlichamelijk letse). Dalam konteks ini hanya
dibahas segi perdatanya, yaitu yang ada sangkut pautnya dengan informed consent
yang merupakan syarat diambilnya suatu tindakan medik.

Pengaturan subyek-subyek dari suatu perjanjian pada umumnya, kontrak


teraupetik khususnya, diatur di dalam KUH Perdata. Hal ini membawa akibat,
bahwa sah tidaknya suatu perjanjian (kontrak terapeutik) harus diuji dan memenuhi
syarat-syarat yang ditentukan di dalam KUH Perdata pasal 1320 dan seterusnya.
Namun jika ditinjau secara yuridis, maka yang dapat menjadi subyek hukum dalam
lalu lintas hukum termasuk juga mengadakan kontrak terapeutik, hanya ada 2 dua
bentuk yaitu :

1. Perorangan ( natuurlijk persoon)

Setiap orang yang sudah dewasa (21) tahun, atau yang sudah menikah
sebelunya, berhak untuk membuat perjanjian, termasuk suatu kontrak
terapeutik. Mereka yang di bawah pengampunan (onder curatele) harus
diwakili oleh walinya (curator)

2. Badan Hukum (rechtspersoon)

Badan-badan yang sudah diberikan izin untuk menyelenggarakan pemberian


pelayanan kesehatan dengan mendirikan rumah sakit, seperti : pemerintah,
ABRI, yayasan yang sudah ada pengakuan sebagai badan hukum, PT, atau
badan hukum lainnya. Selain harus dipenuhi persyaratan formal dan
menyediakan peralatan tertentu, kepada badan-badan hukum yang hendak
mendirikan rumah sakit pun diharuskan mengadakan suatu Unit gawat darurat.

Di dalam suatu kontrak terapeutik secara yuridis terdapat 2 (dua) kelompok


subyek-subyek yang dinamakan :

1. Pemberi pelayanan kesehatan (health provider):

Umumnya yang diartikan sebagai pemberi pelayanan kesehatan adalah


semua tenaga kesehatan (tenaga medis, paramedis perawatan dan tenaga
kesehatan lainnya) yang terlibat secara langsung dalam pemberian jasa
perawatan dan pengobatan (cure and care). Termasuk juga sarana-sarana

16
kesehatan, seperti rumah sakit, rumah bersalin, klinik-klinik serta badan
atau kelompok lain yang memberi jasa tersebut.

2. Penerima pelayanan kesehatan (health receiver):

Setiap orang yang datang ke rumah sakit untuk menjalani prosedur tindakan
medik tertentu, lazim disebut sebagai “pasien”, walaupun ia sebenarnya
atau mungkin tidak sakit dalam arti umum. Atas dasar penafsiran itu, maka
dapat dibedakan antara :

3 (tiga) Pasien dalam arti yang benar-benar sakit, sehingga secara yuridis ada
perjanjian terpeutik dengan dokter / rumah sakit. Pasien yang sebenarnya
“tidak sakit”, dan datang ke rumah sakit/dokter hanya untuk :

· Menjalankan pemeriksaan kesehatan (untuk keuring, general check-


up, asuransi),
· Menjadi donor darah,
· Menjadi peserta keluarga berencana

4. Obyek-obyek Kontrak Terapeutik

Hubungan yang terjadi antara pasien dan dokter / rumah sakit dinamakan
kontrak terapeutik. Umumnya obyek dari suatu kontrak terapeutik adalah
penyembuhan suatu penyakit (medical treatment, curative). Sebagaimana lazimnya di
dalam suatu perjanjian, in casu kontrak terapeutik, maka harus dipenuhi pula syarat-
syarat yang ditentukan di dalam KUH Perdata pasal 1320, yaitu :

1. Kesepakatan dari pihak-pihak yang bersangkutan (overeenkomst van partijen),


2. Kecakapan (bekwaamheid) untuk membuat suatu perjanjian,
3. Suatu obyek tertentu (een bepaald voorwerp)
4. Suatu sebab yang diizinkan (geoorloofde oorzaak).

Sesuai dengan KUH Perdata pasal 1320 ayat 3, maka obyeknya harus tertentu,
harus jelas. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan obyek perjanjian di bidang medik?
Apakah memenuhi syarat tersebut? Sebagaimana diketahui bahwa obyek dari suatu
kontrak terapeutik adalah suatu ikhtiar penyembuhan (geneeskundige behandeling,
medical treatment, to cure and to care), dalam arti bahwa dokter/rumah sakit harus
berusaha sedapat mungkin untuk penyembuhan penyakitnya. Namun keberhasilannya
belum dijamin, sehingga obyeknya menjadi tidak jelas. Obyek kontrak terapeutik
mempunyai kekhususan, karena ia berdasarkan suatu kepercayaan (fiduciary
relationship, trust, vertrouwen). Seorang pasien adalah awam di bidang kedokteran,
sehingga hubungan antara kedua pihak (dokter-pasien) tidaklah seimbang seperti
umumnya pihak-pihak dalam suatu perjanjian biasa.

17
Sebagai seorang pasien ia harus percaya bahwa :

· Dokter memiliki kemampuan dan ilmu pengetahuan untuk menyembuhkan


penyakitnya
· Dokter itu akan bekerja dengan teliti dan hati-hati, dengan perkataan lain
bahwa ia akan bekerja secara lege artis.
· Dokter itu akan berusaha sebisanya untuk menyembuhkannya.

Secara yuridis suatu kontrak terapeutik termasuk jenis “perjanjian


berikhtiar” (inspanningsverbintenis). Oleh karena seorang tidak menjamin akan
keberhasilan usaha penyembuhan, maka sewaktu mengadakan pembicaraan dengan
pasien, ia harus hati-hati dan jangan sekali-kali memberikan jaminan akan pasti
berhasil tindakannya atau pasti akan sembuh penyakitnya. Karena dengan
mengutarakan demikian, kontrak terapeutik itu secara yuridis akan beralih dari suatu
“inspanningsverbintenis” menjadi suatu “resultaatsverbintenis” dengan segala
konsekuensinya.

E. Kesalahan Dan Kelalaian dalam Perjanjian Terapeutik

Pengertian kesalahan diartikan secara umum, yaitu perbuatan yang secara


objektif tidak patut dilakukan.
kesalahan dapat terjadi akibat:
1. kurangnya pengetahuan,
2. kurangnya pengalaman,
3. kurangnya pengertian, serta
4. mengabaikan suatu perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan.
Apabila hal itu dilakukan oleh dokter, baik dengan sengaja maupun karena
kelalaiannya dalam upaya memberikan perawatan atau pelayanan kesehatan kepada
pasien, maka pasien atau keluarganya dapat minta pertanggungjawaban (responsibility)
pada dokter yang bersangkutan. Bentuk pertanggungjawaban yang dimaksud di sini
meliputi pertanggungjawaban perdata, pertanggungjawaban pidana, dan
pertanggungjawaban hukum administrasi.
Dalam hukum perdata dikenal dua dasar hukum bagi tanggung gugat hukum (liability),
yaitu:
1. Tanggung gugat berdasarkan wanprestasi atau cedera janji atau ingkar janji
sebagaimana diatur dalarn Pasal 1239 KUHPerdata.

18
2. Tanggung gugat berdasarkan perbuatan melanggar hukum sebagaimana diatur
dalam ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata.
Jika seorang dokter melakukan penyimpangan terhadap standar pelaksanaan profesi ini,
secara bukum sang dokter dapat digugat melalui wanprestasi atau perbuatan melanggar
hukum.
Ajaran mengenai wanprestasi atau cederajanji dalam hukum perdata dikatakan,
bahwa seseorang dianggap melakukan wanprestasi apabila (Subekti, 1985 : 45):
1) tidak melakukan apa yang disepakati untuk dilakukan;
2) melakukan apa yang dijanjikan, tetapi terlambat;
3) melakukan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan;
4) melakukan sesuatu yang menurut hakikat perjanjian tidak boleh dilakukan.
Dari keempat unsur tersebut yang paling erat kaitannya dengan kesalahan yang
dilakukan oleh dokter adalah unsur ketiga, sebab dalam perjanjian terapeutik yang harus
dipenuhi adalah upaya penyembuhan dengan kesungguhan. Dengan demikian apabila
pasien atau keluarganya mengajukan gugatan berdasarkan wanprestasi, pasien harus
membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang diterimanya tidak sesuai dengan
kesepakatan yang dituangkan dalam informed consent atau dokter menggunakan obat
secara keliru atau tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya.
Sedangkan untuk mengajukan gugatan terhadap rumah sakit, dokter, atau tenaga
kesehatan lainnya dengan alasan berdasarkan Perbuatan melanggar hukum harus
dipenuhi empat unsur berikut.
1. Adanya pemberian gaji atau honor tetap yang dibayar secara periodik kepada dokter
atau tenaga kesehatan yang bersangkutan.
2. Majikan atau dokter mempunyai wewenang untuk rnemberikan instruksi yang harus
ditaati oleh bawahannya.
3. Adanya wewenang untuk mengadakan pengawasan.
4. Ada kesalahan atau kelalaian yang diperbuat oleh dokter atau tenaga kesehatan
lainnya, di mana kesalahan atau kelalaian tersebut menimbulkan kerugian bagi pasien.

Aspek negatif dari bentuk tanggung gugat dalam pelayanan kesehatan, adalah
karena pasien mengalami kesulitan membuktikannya. Pada umumnya pasien tidak bisa
membuktikan bahwa apa yang dideritanya, merupakan akibat dari kesalahan dan atau
keialaian dokter dalam perawatan atau dalam pelayanan kesehatan. Kesulitan dalam
Pembuktian ini karena pasien tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai terapi

19
dan diagnosa yang dialaminya atau yang dilakukan dokter kepadanya. Menyadari hal ini,
dengan maksud untuk melindungi kepentingan hukum pasien yang dirugikan akibat
Pelayanan kesehatan, beberapa sarjana mengusulkan diterapkannya pembuktian terbalik
bagi kepentingan pasien.
Dengan demikian, dalam kaitannya dengan gugatan atas kesalahan atau keialaian
yang dilakukan dokter, pasien harus mengajukan bukti-bukti untuk menguatkan dalil
gugatannya. Berdasarkan alat-alat bukti inilah hakim mempertimbangkan apakah
menerima atau menolak gugatan tersebut.
Hubungan antara dokter dengan pasien yang lahir dari transaksi terapeutik, selain
menyangkut aspek hukum perdata juga menyangkut aspek hukum pidana. Aspek pidana
baru timbul apabila dari pelayanan kesehatan yang dilakukan,,berakibat atau
menyebabkan pasien mati atau menderita eacat sebagaimana diatur dalam ketentuan
Pasal 359, 360, dan 361 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Apabila hal ini
terjadi maka sanksinya bukan hanya suatu ganti rugi yang berupa materi, akan tetapi juga
dapat merupakan hukuman badan sebagaimana diatur dalam Pasal 10 KUHP.
Dasar untuk mempermasalahkan aspek pidananya, berawal dari hubungan
keperdataan yang timbul antara dokter dengan pasien, yaitu berupa transaksi terapeutik
sebagai upaya penyembuhan. Namun karena langkah yang diambil oleh dokter berupa
terapi dalam usahanya memenuhi kewajiban itu, menimbulkan suatu kesalahan atau
kelalaian yang berwujud suatu perbuatan yang diatur oleh hukum pidana, yaitu yang
dapat berupa penganiayaan atau bahkan pembunuhan, baik yang disengaja maupun
karena kelalaian, maka perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan.
Secara teoretis mungkin mudah memberikan pengertian tentang kesalahan, di mana
kesalahan menurut hukum pidana terdiri dari kesengajaan (dolus) dan kelalaian (culpa).
Dalam praktiknya akan timbul, permasalahan tentang pengertian kesalahan ini, terutama
yang menyangkut dengan kesalahan dan atau kelalaian dalam bidang pelayanan
kesehatan. Kesulitan akan timbul untuk menentukan adanya suatu kelalaian karena dari
semula perbuatan atau akibat yang timbul dalam suatu peristiwa tidak dikehendaki oleh
pembuatnya. Pada hakikatnya kelalaian baru ada apabila dapat dibuktikan adanya
kekurang¬hati-hatian.
Kesalahan dokter dalam melaksanakan tugasnya sebagian besar terjadi karena
kelalaian, sedangkan kesengajaan jarang terjadi. Sebab apabila seorang dokter sengaja
melakukan suatu kesalahan, hukuman yang akan diberikan kepadanya akan lebih berat.

20
Dalam hukum pidana, untuk membuktikan adanya kelalaian dalam pelayanan kesehatan
harus ada paling tidak empat unsur (Soekanto, 1987:157).
1. Ada kewajiban yang timbul karena adanya perjanjian;
2. Ada pelanggaran terhadap kewajiban, misainya dokter telah gagal bertindak sesuai
nonna yang telah ditentukan diseba atau keialaian, contohnya perbuatan dokter yang
standar perawatan bagi pasiennya.
3. Ada penyebab. Hubungan sebab akibat yang paling langsung dapat timbul dalam
hubungan dokter dengan pasien, yailu perbuatan dokter timbul akibat yang merugikan
pasien. Akan tetapi sebab yang tidak langsung pun dapat menjadikan sebab hukum,
apabila sebab itu telah menimbulkan kerugian bagi pasien. Misalnya akibat dari
pemakaian suatu obat yang diberikan dokter.
4. Timbul kerugian. Akibat dari perbuatan dalam hubungan dokter dengan pasien dapat
timbul kerugian, baik yang bersifat langsung aupun tidak langsung. Kerugian itu dapat
mengenai tubuh pasien sehingga menimbulkan rasa tidak enak.
Terhadap kesalahan dokter yang bersifat melanggar tata nilai surnpah atau kaidah
etika profesi, pemeriksaan dan tindakan, dilakukan oleh organisasi Ikatan Dokter
Indonesia (H)I), dan atau atasan langsung yang berwenang (yaitu pihak Departemen
Kesehatan Republik Indo¬nesia). Pemeriksaan dibantu oleh perangkat Majelis Kode Etik
Kedokteran (MKEK) atau Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran
(P3EK). Lembaga ini merupakan badan non-struktural Departemen Kesehatan yang
dibentuk dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5
54/Menkes/Per/Xll/ 1 982. Tugas lembaga ini memberi pertimbangan etik kedokteran
kepada menteri kesehatan, menyelesaikan persoalan etik kedokteran dengan memberi
pertimbangan dan usul kepada pejabat yang berwenang di bidang kesehatan. Dasar
hukum yang digunakan adalah hukum disiplin dan atau hukum administrasi sesuai
dengan peraturan yang terdapat dalam undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan
menteri kesehatan, surat kepuu~ menteri kesehatan yang bersangkutan. Misalnya seorang
dokter berbuat yang dapat dikualifikasikan melanggar sumpah dokter. setelah diadakan
pemeriksaan dengan teliti dapat dijatuhi sanksi menurut Pasal 54 Ayat (1) UU No. 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Poernomo (1 984: 76); unsur melawan
hukum menjadi dasar bagi suatu tindak pidana, karena selain bertentangan dengan

21
undang-undang, termasuk pula perbuatan yang bertentangan dengan hak seseorang atau
kepatutan masyarakat.
Pengertian perbuatan melawan hukum seperti apa yang dikemu¬kakan oleh J.B. van
Bemmelen (1 987 : 149 – 150):
1 . Bertentangan dengan ketelitian yang pantas dalam pergaulan masyarakat mengenai
orang lain atau barang.
2. Bertentangan dengan kewajiban yang ditetapkan oleh undang-¬undang.
3. Tanpa hak atau wewenang sendiri.
4. Bertentangan dengan hak orang lain.
5. Bertentangan dengan hukum objektif
Dalam hukum pidana terdapat dua ajaran mengenai sifat melawan hukum, yakni:
ajaran melawan hukum formal dan ajaran melawan hukun materiil. Menurut ajaran
melawan hukum formal, suatu perbuatan telah dapat dipidana apabila perbuatan itu telah
memenuhi semua unsur-unsur dari rumusan suatu tindak pidana (delik) atau telah cocok
dengan rumusan pasal yang bersangkutan.
Pada ajaran melawan hukum materiil untuk dapat menjatuhkan pidana terhadap
suatu perbuatan tidak cukup hanya dengan melihat: apakah perbuatan itu telah memenuhi
rumusan pasal tertentu dalam KUHP, melainkan perbuatan itu juga harus dilihat secara
materiil. Maksudnya apakah perbuatan itu bersifat melawan hukum secara sungguh-
sungguh yaitu dilakukan dengan bertanggungjawab atau tidak.
kesalahan selalu ditujukan pada perbuatan yang tidak patut, Yaitu melakukan
sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan dan atau tidak melakukan sesuatu yang
seharusnya mesti dilakukan. Mengenai apa yang dimaksud dengan kesalahan, menurut
Simons: Kesalahan adalah keadaan psikis orang yang melakukan perbuatan dan
hubungannya dengan perbuatan yang dilakukannya yang sedemikian rupa sehingga
orang itu dapat dicela karena perbuatan tersebut.
Kesalahan berarti bukan hanya perbuatan yang dilakukan itu dinilainya secara
objektif tidak patut akan tetapi juga dapat dicelakan kepada pelakunya karena perbuatan
itu “dianggap” jahat. Antara perbuatan dan pelakunya selalu membawa celaan, oleh
karenanya kesalahan itu juga dinamakan sebagai yang dapat dicelakan. Namun harus
diingat bahwa sesuatu yang dapat dicelakan bukanlah merupakan inti dari suatu
kesalahan melainkan merupakan akibat dari kesalahan itu. Bila hal ini dikembahkan pada
asas “Tiada pidana tanpa kesalahan” berarti untuk dapat dijatuhi suatu pidana,

22
disyaratkan bahwa orang tersebut telah berbuat yang tidak patut secara objektif dan
perbuatan itu dapat dicelakan kepada pelakunya.
Menurut ketentuan yang diatur dalam hukum pidana bentuk-¬bentuk kesalahan terdiri
dari berikut ini.
1. Kesengajaan, yang dapat dibagi menjadi:
a) kesengajaan dengan maksud, yakni di mana akibat dari perbuatan itu diharapkan
timbul, atau agar peristiwa pidana itu sendiri terjadi
b) kesengajaan dengan kesadaran sebagai suatu keharusan atau kepastian bahwa
akibat dari perbuatan itu sendiri akan terjadi, atau dengan kesadaran sebagai suatu
kemungkinan saja.
c) kesengajaan bersyarat (dolus eventualis). Kesengajaan bersyarat di sini diartikan
sebagai perbuatan yang diakukan dengan sengaja dan diketahui akibatnya, yaitu
yang mengarah pada suatu kesadaran bahwa akibat yang dilarang kemungkinan
besar terjadi.
Menurut Sudarto Kesengajaan bersyarat atau dolus eventualis ini disebutnya
dengan teori “apa boleh buat” sebab di sini keadaan batin dari si pelaku mengalarni
dua hal, yaitu:
1 ) akibat itu sebenamya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan
kemungkinan timbulnya akibat tersebut;
2) akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, namun apabila akibat atau
keadaan itu timbul juga, apa boleh buat, keadaan itu harus diterima. Jadi berarti
bahwa ia sadar akan risiko yang harus diterimanya. Maka di sini pun terdtpat
suatu pertimbangan yang menimbulkan kesadaran yang sifatnya lebih dari
sekadar suatu kemungkinan biasa saja. Sebab sengaja dalam dolus eventualis
ini, juga mengandung unsur¬unsur mengetahui dan menghendaki, walaupun
sifatnya sangat samar st;kali atau dapat dikatakan hampir tidak terlihat sama
sekali.
2. Kealpaan, sebagaimana yang disebut dalam Pasal 359 KUHP.
kealpaan itu paling tidak memuat tiga unsur.
1. Pelaku berbuat lain dari apa yang seharusnya diperbuat menurut hukum tertulis
maupun tidak tertulis, sehingga sebenarnya ia telah melakukan suatu perbuatan
(termasuk tidak berbuat) yang melawan hukum.
2. Pelaku telah berlaku kurang hati-hati, ceroboh, dan kurang berpikir panjang.

23
3. Perbuatan pelaku itu dapat dicela, oleh karenanya pelaku harus bertanggung jawab
atas akibat perbuatannya tersebut.
Berpedoman kepada unsur-unsur kealpaan tersebut, dapat dipahami bahwa
kealpaan dalam pelayanan kesehatan mengandung pengertian normatif yang mudah
dilihat, artinya perbuatan atau tindakan kealpaan itu selalu dapat diukur dengan
syarat-syarat yang lebih dahulu sudah dipenuhi oleh seorang dokter. Ukuran
normatifnya adalah bahwa tindakan dokter tersebut setidak-tidaknya sama dengan apa
yang di¬harapkan dapat dilakukan teman sejawatnya dalarn situasi yang sama.

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tenaga kesehatan baik itu seorang
perawat dan dokter atau tenaga kesehatan lainnya harus berhati-hati dalam memberikan
pelayanan pada pasiennya dan harus memperhatikan azas hukum kesehatan agar tidak
menjadi sebuah masalah dalam hukum kesehatan dan juga harus memperhatikan hak dan
kewajiban seorang tenaga kesehatan sesuai dengan hak dan kewajiban profesi nya. Sehingga
pelayanan atau tindakah yang kita berikan tidak merugikan pasien dan berdampak pada
kesehatan pasien.
Oleh karena itu harus selalu memperhatikan juga apa yang menjadi hak dan kewajiban
seorang pasien sehingga kita mampu memberikan pelayanan yang komprehensif dan
berkualitas
perawat harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup mendalam agar setiap
tindakannya sesuai dengan standar profesi dan kewenangannya.

3.2 Saran
Pasien harus dipandang sebagai subjek yang memiliki pengaruh besar atas hasil akhir
layanan bukan sekadar objek. Hak – hak pasien harus di penuhi mengingat kepuasan pasien
menjadi salah satu barometer mutu layanan sedangkan ketidak puasan pasien dapat menjadi
pangkal tuntutan hukum.

25
DAFTAR PUSTAKA

http://3.bp.blogspot.com/
http://www.indosiar.com/fokus/
http://www.ilmukesehatan.com/
http://www.suzannita.com/author/suzannita/
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/logo_kompas.png

26