Anda di halaman 1dari 2

4.

RESISTENSI
Secara garis besar kuman dapat menjadi resisten terhadap suatu
AM melalui 3 mekanisme :

1. Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya di dalam sel mikroba.


Pada kuman Gram-negatif, molekul AM yang kecil dan polar dapat
menembus dinding luar dan masuk ke dalam sel melalui lubang-
lubang kecil yang disebut porin. Bila porin menghilang atau
mengalami mutasi maa masuknya AM ini aan terhambat.
Meanisme lain ialah kuman mengurangi mekanisme transpor aktif
yang memasukkan AM ke dalam sel (misalnya gentamisin).
Mekanisme lain lagi ialah mikroba mengaktifkan pompa efluks
untuk membuang eluar AM yang ada dalam sel (misalnya pada
tetrasiklin).
2. Inaktivasi obat : Meanisme ini sering mengakibatkan terjadinya
resistensi terhadap golongan aminoglikosida dan beta laktam
karena mikroba mampu membuat enzim yang rusak kedua
golongan AM tersebut.
3. Mikroba mengubah tempat ikatan (binding site) AM : Mekanisme ini
terlihat pada S. aureus yang resisten terhadap metisilin (MRSA).
Kuman ini mengubah Penicillin Binding Proteinnya (PBP) sehingga
afinitasnya menurun terhadap metisilin dan antibiotik beta laktam
yang lain.

Penyebaran resistensi pada mikroba dapat terjadi secara vertikal


(diturunkan ke generasi berikutnya) atau yang lebih sering terjadi ialah
secara horizotal dari suatu sel donor. Dilihat dari segi bagaimana
resistensi dipindahkan maka dapat dibedaan 4 cara yaitu :

1. Mutasi : Proses ini terjadi secara spontan, aca, dan tida terganttung
dari ada atau tidaknya paparan terhadap AM. Mutasi terjadi akibat
perubahan pada gen mikroba mengubah binding site AM, protein
transpor, protein yang mengaktifkan obat, dan lain-lain.
2. Transduksi adalah kejadian di mana suatu mikroba menjadi
resisten karena mendapat DNAdari bakteriofag (virus yang
menyerang bakteri) yang membaawa DNA dari uman lain yang
memiliki gen reisen terhadap antibiotik tertentu. Mikroba yang
sering mentransfer resisten dengan cara ini ialah S. aureus.

3. Transformasi : Transfer resistensi terjadi karena miroba mengambil


DNA bebas yang membawa sifat resisten dari sekitarnya.
Transformasi sering menjadi cara transfer resistensi terhadap
penisilin pada pneumokokus dan Neisseria.

4. Konjugasi : Transfer yang resisten disini yang terjadilangsung antara


2 miroba dengan suatu “jembatan” yang disebut pilus seks.
Konjugasi adalah mekanisme transfer resistesi yang sangat
penting, dan dapat terjadi antara kuman yang spesiesnya berbeda.
Transfer resistensi dengan cara konyugasi lazim terjadi antar
kuman Gram-negatif. Sifa resistensi dibawa oleh plasmid (DNA
yang bukan kromsosm).

Fator-faktor yang memudahkan berkembangnya resistensi di klinik


adalah sebagai berikut :

1. Penggunaan antimikroba yang serig.


2. Penggunaan antimikroba yang irasional.
3. Penggunaan animikroba baru yang berlebihan
4. Penggunaan antimikroba untuk jangka waktu lama
5. Penggunaan antimikroba untuk lemak
6. Lain-lain : Beberapa faktor lain yang berperan terhadap
berkembangnya resisensi ialah kemudahan transportasi modern,
perilaku seksual, senitasi buruk, dan kondisi perumahan yang tidak
memenhi syarat.