Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENELITIAN KUANTITATIF

PROPOSAL PENELITIAN

Untuk memenuhi tugas matakuliah Metode Penelitian Kuantitatif


yang dibina oleh Ibu Dra. Prof Herawati Susilo, M. Sc., Ph. D.
dan Ibu Dr. Betty Lukiati, M.S.

Disusun Oleh :

Arwinda Probowati
170341864533

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
NOVEMBER 2017
PENGEMBANGAN LKS BERMUATAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR
KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR SISWA

PROPOSAL

OLEH :

Arwinda Probowati
170341864533

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
NOVEMBER 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Biologi merupakan salah satu ilmu dari cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang wajib
diberikan kepada siswa dalam Kurikulum pendidikan di Indonesia. Kurikulum yang berlaku saat
ini adalah Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan Kurikulum yang mengakomodasi
kegiatan belajar siswa dengan langkah yang sistematis melalui pendekatan ilmiah dalam
pelaksanaan pembelajaran.
Suryanto, dkk., (2011) menjelaskan bahwa LKS yang beredar di sekolah bukan LKS
yang seharusnya, yaitu merupakan lembaran berisi tugas siswa, tetapi hanya merupakan
evaluation sheet atau lembar penilaian. Kegiatan pada LKS non eksperimen belum mengarah
pada pembelajaran kontekstual yang membekali siswa dengan pengetahuan bermakna.
Pertanyaan yang ada digunakan untuk menguji konsep yang bersifat teoritis dan belum melatih
siswa untuk berpikir kritis karena jawabannya menyalin pada ringkasan materi. Hal tersebut pula
yang menyebabkan keterampilan proses sains siswa saat belajar Biologi menjadi rendah. Hal ini
senada dengan hasil data yang diperoleh dari Trends International Mathematics and Science
Study (TIMSS) tahun 2011 yang menyatakan bahwa peringkat anak-anak Indonesia bertengger
di posisi 40 dari 42 negara untuk prestasi sains. Pada data TIMSS skor kemampuan scientific
Inquiry dari 427 (pada tahun 2007) menjadi 406. Nilai tersebut berada jauh di bawah nilai
ratarata Internasional yaitu 500. Sebagian besar soal yang diujikan di TIMSS menuntut
pemahaman konsep, kemampuan berpikir tingkat tinggi dan KPS. Hal ini menunjukkan bahwa
KPS siswa Indonesia masih rendah (Aziz, 2014: 4).
Materi sistem ekskresi merupakan materi yang mempelajari suatu proses atau
mekanisme pengeluaran zat metabolisme di dalam tubuh, pemahaman konsep sangat dibutuhkan
untuk dapat memahami suatu proses, sehingga materi sistem ekskresi ini tergolong sebagai
materi yang cukup sulit.
Keberadaan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan ajar memberi pengaruh yang
cukup besar dalam proses belajar mengajar, sehingga penyusunan LKS harus memenuhi
berbagai persyaratan. Kriteria LKS yang baik menurut Darmodjo dan Kaligis (1992) mempunyai
tiga syarat yaitu syarat didaktik, konstruktif, dan teknik. Menurut Depdiknas (2008) komponen
evaluasi LKS yang baik mencakup komponen kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafisan.
Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa pembelajaran menggunakan LKS memiliki
dampak positif. Arfianty (2013: 102) pengembangan LKS berbasis inkuiri dapat meningkatkan
keterampilan proses sains siswa. Abriyanti, dkk., (2013) menunjukkan bahwa penerapan LKS
inkuiri terbimbing pada materi daur ulang limbah dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
aktivitas siswa, dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
Darmodjo dan Kaligis (1992) menjelaskan bahwa penggunaan LKS dapat mengubah
kondisi belajar yang bersifat teacher centered learning menjadi kegiatan pembelajaran yang
bersifat student centered learning, selain itu Depdiknas (2008) juga menyarankan penerapan
pembelajaran kontekstual, yaitu konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengaitkan
materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dipelajari dengan kehidupan nyata dan bertujuan membekali siswa dengan
pengetahuan yang lebih bermakna, untuk mendapatkan LKS yang sesuai dengan kebutuhan
maka dalam mengembangkan LKS perlu dipadu dengan model pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan yang sesuai bagi siswa.
Salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini untuk
mengembangkan LKS agar dapat menunjang siswa dalam pembelajaran adalah inkuiri
terbimbing. Inkuiri terbimbing dipilih karena model ini menekankan pengembangan aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga model pembelajaran ini dianggap
lebih bermakna, dan memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan karakteristik
belajar mereka. Menurut Sanjaya (2011) inkuiri terbimbing adalah model pembelajaran yang
menempatkan siswa sebagai subjek belajar, dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya
berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi siswa
menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Rustaman (2005: 9-10) dalam
pembelajaran inkuiri terbimbing siswa diajak melakukan pencarian konsep melalui kegiatan
yang melibatkan pertanyaan, inferensi, prediksi, berkomunikasi, interpretasi dan menyimpulkan
sehingga dalam pembelajaran inkuiri terbimbing melibatkan keterampilan proses sains. LKS
Inkuiri Terbimbing mengacu pada langkah-langkah inkuiri terbimbing sehingga dapat
meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
Hasil penelitian Sukimawarti, dkk., (2013) menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar
siswa yang diberi LKS inkuiri terbimbing menghasilkan prestasi belajar kognitif, afektif, dan
psikomotor lebih baik, disebabkan siswa yang belajar dengan menggunakan LKS tersebut
banyak diberikan bimbingan dengan harapan siswa mampu mengasimilasi suatu konsep melalui
tahapan merumuskan masalah, membuat hipotesis, menjelaskan, dan membuat kesimpulan,
sehingga siswa dibiarkan menemukan pemecahan suatu masalah. Hasil penelitian lain mengenai
pelaksanaan inkuiri terbimbing dalam pembelajaran Biologi menurut Natalina, dkk., (2013)
menyatakan bahwa penerapan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan keterampilan sains dan
hasil belajar siswa, disebabkan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing memotivasi dan
mendorong siswa secara aktif menggali pengetahuannya sendiri sehingga siswa dapat menjadi
pribadi yang aktif, mandiri, dan terampil dalam memecahkan masalah serta memiliki
pemahaman konsep yang lebih terhadap konsep yang dipelajari.
B. Tujuan
Tujuan umum dari penelitian dan pengembangan berdasarkan latar belakang masalah
yang telah disampaikan adalah untuk menghasilkan Lembar Kerja Siswa (LKS) Biologi
yang berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil
belajar siswa.

C. Definisi Operasional Semua Variabel Penelitian


1) Lembar Kerja Siswa: alat bantu pembelajaran atau bahan ajar pembelajaran yang berisi
pedoman bagi siswa untuk melakukan suatu kegiatan yang terprogram.
2) Pengembangan LKS: proses untuk menghasilkan suatu produk bahan ajar berupa
LKS yang bermanfaat melalui suatu proses sistematis untuk menghasilkan LKS
melalui pengidentifikasian masalah, perancangan LKS, pembuatan LKS, serta
melakukan validasi terhadap LKS tersebut.
3) Inkuiri Terbimbing (guided inquiry): kegiatan pembelajaran yang digunakan dengan
sintaks (a) orientasi, (b) merumuskan masalah, (c) membuat hipotesis, (d) mengumpulkan
data, (e) mengevaluasi hipotesis, serta (f) menyimpulkan.
4) Hasil belajar: kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar.
Hasil belajar pada penelitian ini adalah aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
5) Keterampilan Proses Sains: kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam
memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS merupakan sarana pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam meningkatkan

keterlibatan atau aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar. Umumnya LKS berisi petunjuk

praktikum, percobaan yang bisa dilakukan di rumah, dan soal-soal latihan, maupun segala bentuk

petunjuk yang mampu mengajak siswa beraktivitas dalam proses pembelajaran (Darmodjo dan

Kaligis, 1992), selain itu LKS juga menuntut siswa untuk aktif sehingga memberi dampak yang

positif dalam pembelajaran. Beberapa penelitian bahwa LKS memberikan dampak positif

terhadap pembelajaran, menurut Arafah, dkk., (2012) menyimpulkan bahwa penerapan

pembelajaran menggunakan LKS pada materi animalia dapat meningkatkan hasil belajar dan

aktivitas siswa, memancing kemampuan berpikir kritis dan bersikap mandiri. Mustikasari, dkk.,

(2012) menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran menggunakan LKS pada materi Sistem

Ekskresi dapat meningkatkan kecakapan rasional dan sosial siswa. Yusup, dkk., (2012)

menunjukkan bahwa penerapan LKS materi hereditas manusia dapat meningkatkan keterampilan

proses sains siswa.

2. Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Sanjaya (2011:196) menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri adalah rangkaian

kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk

mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Pembelajaran

inkuiri ini sering juga disebut dengan heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu

heuriskein yang berarti saya menemukan. Sagala (2006:182) juga menjelaskan bahwa inkuiri
merupakan salah satu cara belajar atau penelaah yang bersifat mencari pemecahan permasalahan

secara kritis, analisis, dan ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu

kesimpulan yang meyakinkan karena didukung oleh data atau kenyataan. Berdasarkan kedua

definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa inkuiri adalah model pembelajaran yang

digunakan untuk mempersiapkan siswa dalam mencari jawaban dari segala pertanyaan yang

ditanyakan sebagai pedoman untuk memperoleh data serta mengaitkannya dengan penemuan

lain dengan melibatkan proses observasi untuk menuju suatu kesimpulan. Model pembelajaran

inkuiri dalam penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami materi-materi

yang diajarkan dengan baik.

Beberapa penelitian yang mendukung penerapan model inkuiri terbimbing dalam

pelaksanaan pembelajaran antara lain, Rahayu (2012) menyatakan bahwa penggunaan strategi

inkuiri berpengaruh terhadap hasil belajar Biologi ranah kognitif, afektif dan psikomotor, karena

pada proses pembelajaran siswa tidak hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru,

sehingga siswa mampu berfikir lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah. Riyadi (2015)

penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan keterampilan proses

sains siswa kelas XI IPA 3 SMA Batik 2 Surakarta. Selain itu Penerapan model inkuiri

trbimbing dapat meningkatkan sikap ilmiah dan analisis kemampuan siswa (Niana, 2016)

Pelaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu pemilihan masalah dan rencana

eksperimen dilakukan oleh guru, sedangkan kegiatan merumuskan hipotesis, eksperimen,

mengevaluasi hipotesis, dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. Percobaan pada penelitian ini

dirancang oleh guru, dan siswa yang melakukan percobaan untuk mengumpulkan data atau

informasi yang ingin diketahui oleh siswa sesuai dengan materi pelajaran.
Berikut adalah beberapa kegiatan belajar dengan menggunakan model inkuiri terbimbing

(guided inquiry) yang disajikan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)


Tahapan Pembelajaran Deskripsi
Orientasi Tahapan yang ditujukan untuk menarik perhatian siswa
Lanjutan Tabel… agar termotivasi untuk mempelajari materi.
Merumuskan Masalah Suatu permasalahan terkait materi yang berisi
pertanyaan-pertanyaan.
Merumuskan Hipotesis Siswa membuat jawaban sementara yang terkait dengan
permasalahan pada tahap rumusan masalah.
Mengumpulkan Data atau Eksperimen Aktivitas menjaring informasi dengan cara melakukan
eksperimen atau kajian literatur untuk membuktikan
hipotesis yang telah diajukan.
Mengevaluasi Hipotesis Aktivitas mengkonfirmasi kebenaran hipotesis dengan
informasi yang diperoleh pada tahap pengumpulan data
atau hasil eksperimen).
Merumuskan Kesimpulan Siswa menyimpulkan konsep-konsep materi yang telah
ditemukan pada tahap sebelumnya.
(Sumber: Sanjaya, 2011:85)

3. Analisis Materi Sistem Ekskresi

Sistem ekskresi merupakan salah satu materi Biologi untuk SMA kelas XI. Sistem

ekskresi berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat sisa yang tidak lagi berguna bagi tubuh, agar

tidak meracuni tubuh. Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ

ginjal, paru-paru, kulit, dan hati. Sistem ekskresi berpotensi mengalami gangguan yang dapat

menyebabkan berbagai macam penyakit, oleh karena itu itu pentingnya pengaturan pola hidup

secara sehat agar terhindar dari berbagai jenis penyakit dan sistem ekskresi tetap bisa

menjalankan fungsinya dengan baik.

Materi sistem ekskresi manusia didasarkan pada KI 3 dengan Kompetensi Dasar 3.9 yang

sesuai dengan Kurikulum 20113. KI 3 yaitu memahami dan menerapkan pengetauan (factual

konseptual, dan procedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetuan, teknologi,

seni, budaya terkait fenomena dan keadaan tampak nyata. Kompetensi Dasar 3.9 yaitu

menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya

dalam menjaga kesehatan diri


Beberapa sub materi yang dibahas dalam materi ini adalah organ ekskresi manusia,

mekanisme ekskresi, serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada

manusia.

4. Hasil Belajar

Pengertian hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah

menerima pengalaman belajarnya, sedangkan menurut Gagne hasil belajar harus didasarkan pada

pengamatan tingkah laku melalui stimulus respons (Sudjana, 2005:19). Hasil belajar seseorang

dapat diketahui melalui penilaian aktivitas siswa dan juga tes serta perubahan tingkah laku.

Terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk

perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya

peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya

dari tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang sopan menjadi sopan dan sebagainya (Hamalik,

2007:155). Hasil belajar yang diperoleh oleh siswa akan mencerminkan kemampuan siswa

tersebut dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar (Sudjana, 2005).

Kemampuan yang dicapai oleh pelajar dikategorikan dalam 3 ranah yaitu kognitif, afektif,

psikomotor.

5. Keterampilan Proses Sains

Keterampilan proses sains merupakan sejumlah keterampilan yang dibentuk oleh

komponen-komponen metode sains. Keterampilan proses (prosess-skill) sebagai proses kognitif

termasuk di dalamnya juga interaksi dengan isinya (content). Indrawati (1999) mengemukakan

bahwa:

Keterampilan Proses sains (KPS) merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah


yang terarah (baik kognitif maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk
menemukan suatu konsep atau prinsip atau teori, untuk mengembangkan konsep
yang telah ada sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap
suatu penemuan (falsifikasi).

KPS adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami,

mengembangkan, dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa

sebagai bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta diharapkan

memperoleh pengetahuan baru/mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki. Keterampilan

proses mencakup keterampilan berpikir/keterampilan intelektual yang dapat dipelajari dan

dikembangkan oleh siswa melalui proses belajar mengajar di kelas, yang dapat digunakan untuk

memperoleh pengetahuan tentang produk IPA. Keterampilan proses perlu dikembangkan untuk

menanamkan sikap ilmiah siswa.