Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan

Kapsula adalah suatu lapisan lendir yang melapisi dinding sel yang mengandung air.
Polisakarida, serta protein. Kapsula dapat terbentuk bila ada konsentrasi gula yang tinggi, serum
darah, atau adanya jaringan hidup sebagai media biakkan bakteri (Koesnijo, 1974). Bahan lendir
pada permukaan tubuh bakteri disebut kapsul apabila lendir yang disekresikan ke luar tubuhnya
mampu membentuk struktur yang kompak dan membentuk bundar atau lonjong, sementara
apabila lendir yang dikeluarkan tidak memiliki bentuk yang teratur dan kurang menempl dengan
erat pada dinding selnya, maka disebut sebagai lendir (Hadioetomo dan Ratna, 1990).

Kapsul bakteri melindungi tubuh bakteri dari kekeringan sementara dengan mengikat
molekul-molekul air serta memudahkan bakteri untuk mlekat pada suatu substrat (Tarigan,
1988). Kapsul tersusun atas molekul polisakarida yang berbentuk gel dengan komposisi yang
berbeda, tergantung oleh jenis bakteri. Bakteri yang tidak mmiliki kapsul sangat mudah diserang
dan dihancurkan oleh system pertahanan tubuh inang (fagositosis) ketika bakteri menyerang
inang. Oleh karena itu bakteri yang brkapsul umumnya bersifat virulen (Black and Laura, 2012).
Ada tidaknya kapsula bakteri dapat diamati melalui pewarnaan khusus. Pada praktikum ini,
digunakan dua metode pewarnaan kapsula bakteri:

a. Pewarnaan Positif atau Pewarnaan Kapsula Bakteri secara Langsung


Pewarnaan langsung dilakukan dengan menggunakan Kristal violet dan CuSO4.5H2O.
Kristal violet merupakan lartan yang memilikin kromophore sebagai kation yang akan
bereaksi dengan muatan yang berada disekeliling bakteri yang berperan sebagai amnion
sehingga terbentuk warna ungu. CuSO4 berperan sebagai pelarut warna kapsul yang akan
terserap oleh bakteri apabila bakteri tersebut memiliki kapsul, hasil dari penyerapan
warna ini berupa warna biru muda (Chasanah, 2016).
Dalam praktikum ini, dilakukan pewarnaan positif terhadap 2 jenis bakteri biakan
yang diletakkan dalam media miring pada Tabung A dan Tabung B. Bakteri dalam
Tabung A merupakan bakteri coccus yang ketika diberi pewarnaan dan diamati
menggunakan mikroskop hanya membentuk warna ungu saja. Bakteri dalam Tabung B
juga diberi perlakuan yang sama dan saat diamati dengan mikroskop, terlihat adanya
bakteri berbentuk basil yang berwarna ungu. Hal ini sejalan dengan pernyataan Darkuni,
(2001) bahwa reaksi positif dari pewarnaan langsung adalah dihasilkannya penampakan
bakteri berwarna ungu yang diselubungi oleh kapsul yang berwarna biru muda. Warna
biru dihasilkan dari adanya penyerapan CuSO4.5H2O oleh bakteri.
Dari hasil yang praktikum, diketahui bahwa baik bakteri A ataupun bakteri B tidak
menunjukkan adanya kapsul yang melapisi dinding sel. Hal ini dapat diketahui dari tidak
adanya warna biru muda yang terbentuk disekeliling bakteri yang berwarna ungu akibat
pewarnaan positif. Sehingga, bakteri A maupun bakteri B bersifat non-virulen dan tidak
berkapsul.
b. Pewarnaan Negatif atau Pewarnaan Kapsula Bakteri secara Tidak Langsung

Pewarnaan bakteri merupakan pewarnaan kapsula bakteri yang dilakukan dengan


menggunakan tinta cina. Dalam praktikum ini, tinta cina merk “pelikan” digunakan dalam
mewarnai bakteri. Tinta cina merupakan larutan dengan kromophore bermuatan negative ysng
akan bereaksi dengan lingkungan sekeliling baktri yang membawa muatan negative, sehingga
terjadi tolak-menolak antara kduanya yang kemudian menyebabkan warna transparan pada tubuh
bakteri sementara lingkungan sekitarnya berwarna hitam (Tarigan, 1988).

Pewarnaan negative dilakukan pada bakteri dari Tabung A dan Tabung B. Hasil
pewarnaan pada Bakteri A menunjukkan bahwa bakteri A tidak berwarna (transparan) dengan
lingkungan yang berwarna hitam. Pewarnaan negative yang dilakukan pada bakteri B juga
menunjukkan hasil yang sama. Artinya, kedua tipe bakteri, baik dari Tabung A maupun Tabung
B tidak memiliki kapsul.

Dari 2 percobaan pewarnaan kapsul terhadap Bakteri Tabung A dan Bakteri Tabung B
menunjukkan hasil yang sama, yakni bahwa kedua tipe bakteri tidak bersifat virulen. Kusnadi
(2003) menyatakan bahwa tidak adanya kapsula dapat menyebabkan bakteri kehilangan
kemampuannya dalam menginfeksi inang, namun ketiadaan kapsula tidak akan mempengaruhi
kemampuan hidup bakteri karena kapsula bukan meruapakan bagian yang sangat penting bagi
kehidupan bakteri, sehingga bakteri akan tetap hidup dalam medium normal walaupun tanpa
kapsula.

Kesimpulan :

1. Pewarnaan kapsula bakteri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pewarnaan positif dan
pewarnaan negative. Pewarnaan positif dilakukan dengan menggunakan Kristal violet
dan CuSO4.5H2O yang menghasilkan warna ungu pada tubuh bakteri dan biru muda pada
kapsulnya. Sementara pewarnaan negative dilakukan dengan menggunakan tinta cina
yang apabila bakteri yang diuji tidak berkapsul akan berwarna transparan, sementara
lingkungannya berwarna hitam.

2. Pada bakteri Tabung A dan Tabung B tidak memiliki kapsula. Hal ini terlihat dari hasil
pewarnaan, dimana ketika diuji dengan pewarnaan positif tidak membentuk warna biru
muda disekeliling bakteri. Selain itu, bakteri menghasilkan warna transparan ketika diuji
dengan tinta cina saat pewarnaan negative.
Rujukan :

Black, Jacquelyn G. & Laura Blacks. 2012. Microbiology: Principles And Explorations 8th Ed.
USA.

Chasanah, Isfatun. Anam, Maulidan Asryofil. Hadawiyah, Robiatul. Laporan Praktikum


Pewarnaan Kapsula Bakteri, Malang: Universitas Negeri Malang.

Darkuni, N. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi dan Mikologi). Malang : UM Press.

Djambatan Hadioetomo & Ratna, S. 1990. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek Teknik dan
Prosedur Laboratorium. Jakarta : Gramedia.

Koesnijo. 1974. Kapsula Bakteri dan Fungsinya. Jurnal Berkala Ilmu Kedokteran Gadjah Mada.
VI (4): 155-158.

Kusnadi. 2003. Mikrobiologi. Bandung : JICA.

Tarigan, J. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: DIRJEN DIKTI.