Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum

Jembatan adalah suatu struktur kontruksi yang memungkinkan rute


transportasi melalui sungai, danau, kali, jalan raya, jalan kereta api dan lain-lain.
Jembatan adalah suatu struktur konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan
dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah
yang dalam, alur sungai saluran irigasi dan pembuang (Azwaruddin, 2008 ).
Berdasarkan fungsinya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Jembatan jalan raya (highway bridge),
2) Jembatan jalan kereta api (railway bridge),
3) Jembatan pejalan kaki atau penyeberangan (pedestrian bridge).
Berdasarkan lokasinya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Jembatan di atas sungai atau danau,
2) Jembatan di atas lembah,
3) Jembatan di atas jalan yang ada (fly over),
4) Jembatan di atas saluran irigasi/drainase (culvert),
5) Jembatan di dermaga (jetty).
Berdasarkan bahan konstruksinya, jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, antara lain :
1) Jembatan kayu (log bridge),
2) Jembatan beton (concrete bridge),
3) Jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge),
4) Jembatan baja (steel bridge),
5) Jembatan komposit (compossite bridge).
Berdasarkan tipe strukturnya, jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, antara lain :
1) Jembatan plat (slab bridge),
2) Jembatan plat berongga (voided slab bridge),
3) Jembatan gelagar (girder bridge),
4) Jembatan rangka (truss bridge),
5) Jembatan pelengkung (arch bridge),
6) Jembatan gantung (suspension bridge),
7) Jembatan kabel (cable stayed bridge),
8) Jembatan cantilever (cantilever bridge).

Secara umum komponen jembatan dibagi dalam dua bagian besar, yaitu
struktur atas ( upper stucture ) dan struktur bawah ( sub structure ) ( Bindra, 1970
).

2.1.1 Struktur Atas ( upper structure )

Struktur atas jembatan merupakan bagian yang menerima beban langsung


yang meliputi berat sendiri, beban mati, beban mati tambahan, beban lalu-lintas
kendaraan, gaya rem, beban pejalan kaki, dll ( M. Noer Ilham, 2000 ). Penentuan
jenis bangunan atas jembatan pada umumnya ditentukan berdasarkan :

a. Bentang yang sesuai dengan perlintasan jalan, sungai atau keadaan lokasi
jembatan.
b. Panjang bentang optimum untuk menekan biaya konstruksi total.
c. Pertimbangan yang terkait pada pelaksanaan bangunan-bangunan bawah
dan pemasangan bangunan atas untuk mencapai nilai yang ekonomis.
d. Pertimbangan segi pandang estetika.

Struktur atas jembatan umumnya meliputi :


a. Trotoar
b. Sandaran dan tiang sandaran,
c. Peninggian trotoar (Kerb),
d. Slab lantai trotoar.
e. Slab lantai kendaraan,
f. Gelagar (Girder),
g. Balok diafragma,
h. Ikatan pengaku (ikatan angin, ikatan melintang),
i. Tumpuan (Bearing).
2.1.2 Struktur Bawah ( sub structure )

Struktur bawah jembatan berfungsi memikul seluruh beban struktur atas


dan beban lain yang ditumbulkan oleh tekanan tanah, aliran air dan hanyutan,
tumbukan, gesekan pada tumpuan dsb. untuk kemudian disalurkan ke fondasi.
Selanjutnya beban-beban tersebut disalurkan oleh fondasi ke tanah dasar ( M.
Noer Ilham, 2000 ).
Struktur bawah terdiri atas :
1. Pangkal jembatan ( abutment )
Merupakan bagian dari sebuah jembatan yang berfungsi
memindahkan beban-beban dari perletakan ke pondasi dan biasanya juga
difungsikan sebagai bangunan penahan tanah. Tipe abutment akan
ditentukan oleh tingginya dan stabilitas dari abutmen tersebut.

Tabel 2.1 Tipe Abutment Berdasar Beberapa Kriteria


Jenis Abutment Kriteria Gambar
a. bentang pendek,
b. kedalaman tanah keras relatif
dangkal (3–6 m),
Abutment sederhana
c. bangunan atas cukup ringan,
dari pasangan batu
d. kelas jembatan rendah,
kali
e. berfungsi sebagai dinding
penahan tanah.

a. bentang jembatan panjang,


b. kedalaman tanah keras relatif
dalam (menggunakan
Abutment bentuk pondasi sumuran, tiang
pile cap (kepala pancang atau bor pile),
tiang) c. kelas jembatan tinggi,
d. penampang melintang sungai
tidak dalam,
“Lanjutan Tabel 2.1”
Jenis Abutment Kriteria Gambar
e. tidak berfungsi sebagai
penahan tanah (timbunan
tanah sedikit).
a. bentang panjang,
b. kedalaman tanah keras relatif
dalam (menggunakan
pondasi sumuran, tiang
pancang atau bor pile),
Abutment tipe tinggi c. penampang melintang sungai
cukup dalam,
d. kelas jembatan tinggi,
e. berfungsi sebagai penahan
tanah (timbunan tanah
tinggi).

2. Pilar ( pier )
Perencanaan pilar jembatan akan ditentukan secara hati-hati karena
akan menentukankekuatan bawah jembatan. Perencanaan pilar mirip
memiliki konsep yang sama dengan perencanaan kolom pada bangunan
gedung, hanya saja ada beberapa faktor lain yang mempengaruhinya
seperti laju arus sungai, muka air banjir dan faktor hidrologi lainnya.
Secara umum pilar terdiri atas beberapa bagian, yaitu :
a. kepala pilar ( pier head ),
b. pilar ( pier ) yang berupa dinding, kolom atau portal,
c. konsol pendek untuk jacking ( corbel ),
d. tumpuan ( bearing ).
3. Pondasi
Pondasi jembatan berfungsi meneruskan seluruh beban jembatan ke
tanah dasar. Berdasarkan sistimnya, fondasi abutment atau pier jembatan
dapat dibedakan menjadi beberapa macam jenis, antara lain :
a. Fondasi telapak (spread footing)
b. Fondasi sumuran (caisson)
c. Fondasi tiang (pile foundation)
(1) Tiang pancang kayu (Log Pile),
(2) Tiang pancang baja (Steel Pile),
(3) Tiang pancang beton (Reinforced Concrete Pile),
(4) Tiang pancang beton prategang pracetak (Precast Prestressed
Concrete Pile), spun pile,
(5) Tiang beton cetak di tempat (Concrete Cast in Place),
borepile, franky pile,
(6) Tiang pancang komposit (Compossite Pile).

Tipe pondasi terutama akan ditentukan oleh kondisi tanah, beban yang
akan didukung dan kriteria ekonomi. Dibawah ini diperlihatkan jenis
pondasi yang dapat dipilih berdasarkan kedalaman tanah keras.

Tabel 2.2 Tabel Jenis Pondasi Berdasarkan Kedalaman


Kedalaman Tanah Keras Jenis Pondasi
0,00 s/d 3,00 meter Pondasi Langsung
3,00 s/d 10,00 meter Pondasi Sumuran
10,00 s/d 20,00 meter Pondasi Tiang Beton atau Baja
> 20 meter Pondasi Tiang Beton atau Baja
Sumber : Bridge Sub Structure Highway Engineering, 1977

Analisa struktur bawah ini harus dipertimbangkan mampu menahan semua


gaya-gaya yang bekerja, begitu pula tinjauan terhadap stabilitas sehingga aman
terhadap penggulingan dan penggeseran dengan angka keamanan yang cukup
serta daya dukung tanahnya masih dalam batas yang diijinkan.
2.2 Pemilihan Tipe Jembatan

2.2.1 Tipe Jembatan

Sistem bangunan atas jembatan yang telah diteliti dan dikembangkan


selama bertahun-tahun, termasuk pengembangan tipe-tipe konstruksi bangunan
atas, jenis material, nilai ekonomis, panjang jembatan yang mungkin dicapai, telah
menghasilkan suatu kesimpulan berupa suatu konsep yang dikenal dengan sebutan
“Bentang Ekonomis Jembatan” Herry Vaza (2003). Bentang yang paling
ekonomis untuk suatu tipe konstruksi jembatan dengan material tertentu disajikan
pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Bentang Ekonomis Jembatan Berdasar Material


No Tipe Jembatan Bentang
1. Flat Slab 5 m – 15 m
2. Gelagar 10 m – 25 m
3. Gelagar Prestressed I Section 15 m – 40 m
4. Gelagar Box Prismatic Section 30 m – 60 m
5. Box Free Cantilever System 60 m – 200 m
6. Pelengkung ( Arch ) 50 m – 250 m
7. Rangka 40 m – 400m
8. Cable Stayed 250 m -1000 m
9. Gantung ( Suspension ) 100 m – 2000 m
10. Hybrid Suspension-Cable Stayed 1500 m – 3000 m
11. BI-Stayed ( Pengembangan Cable Stayed ) > 1500 m

2.2.2 Jembatan Beton Prategang ( Prestressed Concrete )

Dewasa ini penggunaan beton prategang pada struktur jembatan makin


berkembang, hal ini dikarenakan penggunaan beton prategang dapat memberikan
bentang ekonomis yang relatif lebih panjang dibanding dengan beton
konvensional yang telah ada sebelumnya. Beton prategang adalah jenis beton
dimana tulangan bajanya ditarik/ditegangkan terhadap betonnya. Penarikan ini
menghasilkan sistem kesetimbangan pada tegangan dalam (tarik pada baja dan
tekan pada beton) yang akan meningkatkan kemampuan beton menahan beban
luar. Karena beton cukup kuat dan daktail terhadap tekanan dan sebaliknya lemah
serta rapuh terhadap tarikan maka kemampuan menahan beban luar dapat
ditingkatkan dengan pemberian pratekanan ( Collins & Mitchell, 1991 ).

Dalam perencanaan struktur atas jembatan menggunakan beton prategang


dikenal ada beberapa jenis penampang yang digunakan, antara lain adalah :

a) Penampang I ( I-Girder )
Gelagar utama terdiri dari plat girder atau rolled-I, penampang I efektif
meahan beban tekuk dan geser.
b) Penampang kotak maupun trapesium ( box girder )
Gelagar utama terdiri dari satu atau beberapa balok kotak berongga dari
beton, sehingga mampu menahan lendutan, geser dan torsi secara efektif.
c) Penampang U ( U-Girder )
Gelagar utama terdiri dari satu atau beberapa balok berpenampang U dan
akan diperkuat baja-baja prategang di dalamnya.

2.3 Tinjauan Penelitian

Pada perencanaan jembatan dalam tugas akhir ini mengacu pada


perencanaan dan penelitian yan pernah dilakukan sebelumnya, diantaranya
sebagai berikut :

1. Tri Ari Wibowo (2011)


Tugas akhir ini mengambil judul “Perencanaan Ulang Jembatan Kali
Krasak dengan Box Girder Prestressed Penampang Trapesium”. Dalam
tugas akhir ini dilakukan perencanaan ulang jembatan Krasak yang
menghubungkan Propinsi Jawa Tengah dengan Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta dengan menggunakan beton prategang box girder penampang
trapesium. Sebelumnya jembatan ini didesain dengan menggunakan
struktur rangka baja. Melihat jembatan struktur rangka baja yang lebih
riskan mengalami lendutan dan biaya perawatan yang relatif tinggi maka
penulis memilih untuk merencanakan ulang jembatan krasak tersebut
menggunakan struktur beton prategang box girder. Perencanaan jembatan
ini dimulai dengan penjelasan mengenai latar belakang pemilihan tipe
jembatan, perumusan tujuan perencanaan hingga lingkup pembahasan
yang sebelumnya dilakukan analisis yang didasarkan pada peraturan BMS
1992. Analisa beban yang terjadi pada perencanaan struktur jembatan ini
yaitu analisa berat sendiri, analisa beban mati tambahan, analisa beban lalu
lintas dan analisa pengaruh kehilangan gaya prategang. Dari hasil analisa
tersebut dilakukan kontrol tegangan-tegangan yang terjadi. Selanjutnya
dilakukan perhitungan penulangan box, kontrol lendutan, perhitungan gaya
geser dan momen batas.

2. Habib Muhammady (2009)


Tugas akhir ini mengambil judul “Perencanaan Jembatan Kretek 2
Menggunakan Struktur Beton Prategang”. Pada tugas akhir ini penulis
melakukan perencanaan ulang jembatan Kretek 2 menggunakan struktur
beton prategang, dimana desain sebelumnya menggunakan struktur rangka
baja. Jenis beton prategang yang dipakai adalah beton prategang profil I (I-
Girder) dengan banyaknya balok prategang adalah 11 buah. Masing-
masing balok direncanakan berjarak 1,75 m. Jembatan ini didesain
memiliki panajng total 240 m, penulis merencanakan untuk membuat 6
bentang dengan masing-masing jarak 40 m. Perencanaan dalam tugas akhir
ini meliputi perencanaan sandaran dan lantai jembatan, perencanaan
gelagar/balok jembatan, perencanaan pilar jembatan (pier), perencanaan
abutment dan perencanaan pondasi. Analisa struktur jembatan ini
didasarkan pada peraturan BMS 1992. Analisa beban yang terjadi pada
perencanaan struktur jembatan ini yaitu analisa berat sendiri, analisa beban
mati tambahan, analisa beban lalu lintas dan analisa pengaruh kehilangan
gaya prategang. Analisa struktur jembatan dibantu menggunakan program
SAP 2000.

3. Indra Murdiantoro (2011)


Dalam tugas akhir ini diambil judul “Perencanaan Ulang Jembatan Kali
Krasak Tipe Box Girder Prategang Penampang Persegi”. Tugas akhir ini
merupakan perencanaan ulang jembatan Krasak yang menghubungkan
Propinsi Jawa Tengah dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dengan menggunakan beton prategang box girder penampang persegi.
Perencanaan sebelumnya adalah menggunakan struktur rangka baja.
Karena dirasa struktur rangka baja lebih riskan mengalami deformasi dan
lendutan, sehingga memerlukan biaya perawatan yang tinggi, maka penulis
memilih untuk mendesain ulang jembatan Krasak menggunakan beton
prategang box girder penampang persegi. Dalam perencanaan ulang ini
dipakai 3 buah pilar sehingga jembatan dibagi menjadi 4 bentang (@ 53,5
m). Semua analisa yang dipakai mengacu pada peraturan BMS 1992, mulai
dari analisa beban dari aksi tetap hingga beban dari aksi lingkungan. Dan
pada akhirnya dalam perencanaan ini didapat ukuran profil box girder dan
jumlah tendon yang dipakai agar tercapai struktur yang aman digunakan.

2.4 Pembahasan Tinjauan

Hasil dari tinjauan umum dan penelitian yang telah dilakukan beberapa
peneliti tersebut dapat memberikan gambaran secara umum, diantaranya sebagai
berikut :

1. Pada perencanaan struktur atas jembatan yang direncanakan dengan beton


prategang perlu dilakukan analisis kehilangan gaya prategang. Selain itu
perlu dilakukan kontrol tegangan, perhitungan penulangan box, kontrol
lendutan, perhitungan geser dan perhitungan kekuatan momen batas.
2. Pada perencanaan pembebanan digunakan acuan Peraturan Perencanaan
Teknik Jembatan Bagian 2 Tentang Beban Jembatan, Bridge Management
System ( BMS ).
3. Struktur bawah jembatan seperti abutment, pilar dan pondasi
menggunakan struktur beton bertulang. Stabilitas pondasi pada pile cap
perlu dihitung agar aman terhadap guling dan geser.