Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

AKUNTANSI BIAYA
BIAYA PRODUKSI PESANAN

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
1. IIN AFRILIA IRENE
2. NELCE HARUN
3. PUTRIYANTI DARISE
4. ELMAYANA
5. NURVITA H.UMAR
6. APRIANTI TIURANG
7. HILDAYANTI

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LUWUK KAB.BANGGAI
TAHUN AJARAN 2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan
karunia-Nya kami berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul “Biaya Over Head
Pabrik” dalam materi pembahasan mata-kuliah “Akuntansi Biaya”. Tepat sesuai
dengan waktu yang telah disepakati sebelumnya.
Dalam makalah ini, kami menyajikan dengan ringkas materi sistem informasi
manajemen yang berkaitan dengan judul mengelola perusahaan digital. Dengan
penyajian materi yang ringkas, kami harapkan agar para pembaca dapat dimudahkan
dalam memahami isi materi sehingga dapat direalisasikan dalam kehidupan berbisnis
dan juga dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk pembuatan makalah
kedepannya.
Namun demikian penulis sangat menyadari sesempurna apapun seseorang
dalam melakukan sesuatu tidak jarang kekhilafan menjadi pendampingnya. oleh
karena itu, penulis sangat terbuka dalam menerima kritik dan saran untuk
penyempurnaan makalah ini.
Penulis sangat berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat positif
bagi para pembaca.

Luwuk,09 Desember 2017

penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................ ii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang.................................................................. 1
1.2.Rumusan Masalah …........................................................ 1
1.3.Tujuan Penulisan …...........................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1. Pengertian BOP …................................................ 2
2.2. Jenis-Jenis BOP …................................................ 2
2.3. Penggolongan BOP …........................................... 3
2.4. Langkah-Langkah Penentuan BOP …................... 5
2.5. Anggaran BOP …................................................... 8
2.6. Prosedur Akuntansi Biaya Standar untuk BOP …...8
BAB 3 PENUTUP
3.1. Kesimpulan …....................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA …........................................................... 15


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam sebuah perusahaan, khususnya perusahaan manufaktur yang
didominasi oleh kegiatan untuk memproduksi suatu produk berupa barang, tentunya
dalam melakukan kegiatan produksi yang didalamnya melibatkan unsur input-
proses-output. Sangat sering terjadi peristiwa ataupun kejadian diluar perkiraan
perusahaan. Baik dalam hubungan kepada suplair, pada saat pemrosesan ataupun
dalam melakukan distribusi barang kepada pelanggan.
Dalam dunia acounting sangatlah penting dalam melakukan pencatatan
dalam berbagai kegiatan yang dilakukan terkhusus dalam hal yang berada diluar
dugaan seperti dalam kasus BOP (biaya over head pabrik). Dalam melakukan
perhitungan terhadap BOP ada beberapa langkah dan metode yang perlu diketahui
dan dijalankan, langkah-langkah tersebut akan dipaparkan dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah BOP itu ?
2. Ada berapakah jenis BOP ?
3. Bagaimanakah penggolongan bop ?
4. Bagaimanakah langkah-langkah dalam penentuan BOP ?
5. Apa sajakah yang termasuk dalam anggaran BOP ?
6. Bagaimanakah akuntansi biaya standar untuk BOP ?

1.3.Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian BOP, jenis-jenis, penggolongan dan penentuan BOP.
2. Mengetahui anggaran dalam BOP dan perhitungan akuntansinya.
3. Sebagai referensi untuk pembuatan makalah kedepannya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian BOP


Biaya Over Head Pabrik adalah Semua biaya biaya produksi selain biaya
bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan ini terdiri dari biaya
bahan tak langsung, biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya biaya yang
tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk atau pun job, atau lebih
tepatnya semua biaya produksi yang termasuk kedalam biaya bahan tak langsung,
biaya tenaga kerja tak langsung dan biaya-biaya produksi lainnya yang tidak secara
mudah diidentifikasikan atau dibedakan langsung pada suatu proses produksi. Item
Biaya Over Head Pabrik sangat banyak, sehingga apabila ditinjau dari perilaku
biaya, dapat disusun klasifikasi sebagai biaya tetap dan biaya variabel.
Meskipun pada dasarnya terdapat biaya semi variabel yang mengandung
kriterium sebagai biaya variabel maupun tetap. Namun untuk memudahkan
perhitungan biaya dan pengendalian biaya, maka klasifikasi biaya semi variabel
tersebut dipecah lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Pemisahan biaya ini
sebenarnya mengandung kelemahan, mengingat tidak ada metode yang dianggap
tetap dalam pemisahan biaya semi variabel tersebut.
Karateristik biaya overhead pabrik :
a. Jumlahnya tidak proposional dengan volume produksi
b. Sulit di telusur dan diidentifikasi langsung keproduk atau pesanan
c. Jumlahnya tidak material

2.2. Jenis – Jenis BOP


Yang termasuk biaya overhead pabrik adalah
a) Biaya Bahan Penolong, yaitu biaya bahan yang digunakan untuk membantu
penyelesaian suatu produk yang jumlahnya relative kecil. Misalnya lem dalam
perusahaan percetakan, pernis dan paku dalam perusahaan meubel.
b) Biaya Tenanga Kerja Tak Langsung, yaitu upah yang dibayarkan kepada
karyawan pabrik, antara lain upah pisik tidak berhubungan dengan
pembuatan produk. Termasuk dalam kelompok ini adalah upah mandor, gaji
manajer produksi, gaji pegawai administrasi pabrik.
c) Biaya Penyusutan atas Aktiva Tetap yang dipergunakan dipabrik untuk
penyeesaian produk baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya
biaya penyusutan gedung pabrik, mesin-mesin, kendaraan pabrik.
d) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap Pabrik, yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan mesin, gedung pabrik dan
peralatan pabrik lainnya.
e) Biaya Asuransi, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membagi resiko yang
terjadi dalam proses produksi, biaya asuransi gedung pabrik, biaya asuransi
karayawan pabrik.
f) Biaya-Biaya yang Timbul karena Pemakaian Jasa Pihak Lain, yaitu biaya-
biaya yang timbu karena penggunaan jasa pihak lain guna penyelesaian dan
kelancaran proses produksi, misalnya biaya air dan listrik untuk keperluan
pabrik
g) Biaya-Biaya yang Terjadi di Departemen Pembantu, dalam perusahaan yang
memiliki departemen pembantu, misalnya departeman bengke atau
pembangkit tenaga listrik, maka semua biaya yang terjadi di departemen
pembantu tersebut diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik.

2.3. Penggolongan BOP


Biaya overhead pabrik dapat digolongkan sebagai berikut
a. Penggolongan berdasarkan sifatnya
1) Biaya bahan penolong
2) Biaya reparasi dan pemeliharaan
3) Biaya kerja tak langsung
4) Biaya yang timbul akibat penilaian terhadap aktiva tetap
5) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
6) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsungmemerlukan pengeuaran
tunai
1) Biaya bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi
atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif
kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut.

2) Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang , biaya bahan
habis pakai dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk
keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen , perumahan , banguna
pabrik dan aktiva tetap lainnya yang digunakan untuk keperluan pabrik.

3) Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang
upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk ata
pesanan tertentu.Terdiri dari upah , tunjangan dan biaya kesejahteraan .
Tenaga kerja tidak langsung terdiri dari 1) karyawan yang bekerja dalam
departemen pembantu ( departemen pembangkit listrik ). 2) Karyawan
tertentu yang bekerja dalam departemen produksi ( Kepala departemen
produksi , mander )
4) Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap antara
lain biaya- biaya depresiasi emplasemen pabrik , banguna pabrik, mesin dan
peralatan , dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik
5) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu. Biaya yang termasuk
dalam kelompok ini antara lain biaya asuransi gedung dan emplasemen,
asuransi mesin dan peralatan , asuransi kecelakaan karyawan.

6) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memelukan pengeluaran


uang tunai. Biaya yang termasuk kelompok ini adalah biaya reparasi yang
diserahkan kepada piihak luar perusahaan , biaya listrik PLN dan sebagainya.

b. Ditinjau dari hubungannya dengan perubahan volume kegiatan


1) BOP tetap (Fixed factory overhead cost), yaitu BOP yang sampai tingkat
tertentu jumlahnya konstan, tidak terpengaruh oleh adanya perubahan
tingkatproduksi. Misalnya, biaya penyusutan pabrik, PBB pabrik, amortisasi patent
dan sebagainya
2) BOP variabel (Variabel factory overhead cost), yaitu BOP yang jumlahnya
terpengaruh dengan perubahan tingkat produksi volume kegiatan dimana
perubahannya sebanding dengan volume kegiatan. Misalnya, biaya istrik, uang
lembur, biaya bahan bakar, biaya perlengkapan pabrik.
3) BOP semi variabel, yaitu BOP yang mengandung unsur fix dan variabel.
Jumlahnya terpengaruh oleh perubahan tingkat produksi, tetapi perubahannya tidak
sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Termasuk dalam kelompok ini
antara lain, PPH karyawan yang di tanggung perusahaan, biaya pemeliharaan
mesin, biaya pemeriksaan.

c. Ditinjau hubungannya dengan departemen-departemen yang ada didalam


pabrik.
1) BOP langsung departemen, yaitu BOP yang terjadi dalam suatu departemen
itu. Misalnya BOP departemen perakitan merupakan BOP langsung departemen
perakitan.
2) BOP tak langsung departemen, yaitu BOP didistribusikan kepada
departemen-departemen yang ada dalam pabrik sehingga menjadi beban
departemen-departemen itu. Misalnya biaya penyusutan gedung pabrik yang
didistribusikan kepada departemen produksi merupakan BOP tak langsung bagi
departemen.
2.4. Langkah-Langkah Penentuan BOP
a. Menyusun anggaran BOP
Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingakt kegiatan (kapasitas)
yang akan dipakai sebagai penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat
dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP yaitu:
1) Kapasitas teoritis, merupakan kapasitas untuk memproduksi pada
kecepatan penuh tanpa berhenti (100%) dari kapasitas yang telah ditetapkan.
Perusahaan dianggap mampu pada tingkatan yang maksimum tanpa
memperhitungkan adanya hambatan baik yang berasal dari internal maupun
eksternal perusahaan. Kapasitas teoristis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu
yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan.
2) Kapasitas praktis perlu dilakukan penetapan karena sangat tidak mungkin
suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoristis. Dengan demikian perlu
diperhitungkan keonggaran-kelonggaran waktu daam penentuan kapasitas seperti
penghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena kerusakan mesin.
3) Kapasitas normal, yaitu kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan
menjual produknya dalam jangka waktu panjang. Jika dalam penetuan kapasitas
praktis hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktor-faktor
intern perusahaan, maka dalam penetuan kapasitas normal diperhitungkan pula
kecenderungan penjualan dalam jangka waktu panjang
4) Kapasitas sesungguhnya, yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam
tahun yang akan datang. Untuk kelemahannya yaitu akan berakibat terjadinya
perbedaan yang besar pada tarif biaya overhead pabrik dari tahun ke tahun dan
sebagai akibat perubahan yang besar pada tarif biaya overhead pabrik dari periode
ke periode
b. Memilih dasar pembebana BOP kepada produk
Ada beberapa faktor yang harus di pertimbangkan :
1) Harus diperhatikan jenis BOP yang dominan jumlahnya dalam departemen
produksi
2) Harus diperhatikan sifat-sifat BOP yang dominan tersebut dan eratnya
hubungan sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.

Selain itu, ada beberapa macam dasar yang dapat dipakai untuk pembebanan BOP
kepada produk yaitu :

a) Satuan Produk.
Metode ini merupakan metode paling sederhana dan langsung membebankan
BOP untuk setiap produk dihitung dengan formula berikut
Tarif BOP Persatuan = X 100%

Metode ini cocok digunakan untuk perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis
produk. Jika perusahaan menhasilkan lebih dari satu macam produk yang serupa
dan berhubungan erat satu sama lain, maka pembebanan dengan dasar tertimbang
atau dasar nilai.

b) Biaya Bahan Baku


Jika BOP yang dominan bervariasi dengan nilai bahan mentah (misal biaya asuransi
biaya baku), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya kepada produk
adalah biaya bahan baku yang dipakai. Formulanya :
Tarif BOP persatuan = x 100%

c) Biaya tenaga kerja langsung, jika sebagian besar elemen BOP mempunyai
hubungan yang erat dengan jumlah upah TKL (pajak penghasilan atas upah
karyawan yang ditanggung perusahaan), maka dasar yang dipakai untuk
membebankan adalah biaya TKL. Formulanya :
Tarif BOP satuan = x 100%

d) Jam tenaga kerja langsung, karena ada keterkaitan erat antara TKL dengan
jumlah jam kerja langsung, maka BOP dibebankan atas dasar jam tenaga kerja
langsung. Formulanya :
Tarif BOP satuan = x 100%

e) Jam mesin, apabila BOP bervariasi dengan waktu penggunaan mesin (bahan
bakar atau listrik untuk menjalankan listrik), maka waktu yang dipakai untuk
membebankannya adalah ja mesin. Formulanya :
Tarif BOP persatuan = x 100%

f. Menghitung tarif BOP


Setelah anggaran BOP selesai disusun dan ditentukan besar satuan kegiatan, maka
langkah terakhir adalah menghitung tariff BOP dengan rumus sebagai berikut :
Jumlah BOP Dianggarkan = Tarif BOP x Tingkat Kegiatan Yang direncanakan.

2.5 Anggaran BOP


Anggaran biaya overhead pabrik disediakan untuk berbagai macam tingkat produksi.
Jumlah biayanya dipecah menjadi kompenen-kompenen tetap (dinyatakan tarif dan
didasarkan atas jam kerja langsung).
Overhead tetap per item + (jumlah jam kerja langsung yang dianggarkan x tarif biaya
variabel per jam)

Tujuan penyusunan anggaran biaya overhead pabrik


a) Mengetahui penggunaan biaya secara efesien
b) Menentukan harag pokok
c) Mengetahui pengalokasian biaya overhead pabrik sesuai dengan tempat atau
departemen dimana biaya dibebankan
d) Sebagai alat pengawasan biaya overhead pabrik
2.6. Prosedur Akuntansi Biaya Standar untuk Overhead Pabrik
Hubungan yang erat antara biaya standar dan metode pengendalian anggaran
(budgetary control methode) bersifat penting, khususnya untuk analisis overhead
pabrik. Overhead pebrik aktual tidak hanya dibandingkan terhadap overhead yang
diterapkan (applied overhead cost), tetapi juga terhadap anggaran yang didasarkan
pada kegiatan aktual dan standar yang diizinkan untuk produksi aktual.
Data berikut dari Departemen 3 digunakan untuk menggambarkn ayat jurnal untuk
metode dua varians, tiga varians dan empat varians
Kapasitas normal (dalam jangka kerja berlangsung) 4.000 jam
Total overhead pabrik pada kapasitas normal:
Tetap Rp. 34.620.000
Variabel Rp. 66.470.400
=Rp.110.784.000

Tarif overhead pabrik per jam kerja langsung :


Tetap Rp. 11.078,4
Variabel Rp. 16.617,6
=Rp. 27.696
Overhead pabrik aktual Rp. 102.253. 632
Jam kerja langsung aktual 3.475 jam
Jam kerja standar yang diizinkan untuk produksi aktual 3.400 jam

Dalam praktek yang sesungguhnya, banyak ayat jurnal akan dimasukkan ke jurnal
umum setiap bulannya guna mencatat terjadinya overhead pabrik aktual. Satu ayat
jurnal yang digunakan berikut ini untuk menjelaskan pencatatan overhead pabrik
aktual untuk keseluruhan periode.
Pengendali overhead pabrik 102.253.632
Berbagai kredit 102.253.632

Lazimnya, ayat jurnal untuk mencatat overhead pabrik yang akan dibebankan ke
Barang dalam Proses dimasukkan ke jurnal umum sekurang-kurangnya sekali
setahun.
Barang dalam proses* 94.116.400
Overhead pabrik yang diterapkan 94.116.400
*Rp. 27.696 tarif overhead x 3.400 jam standar yang diizinkan.
Pada akhir periode, ketika overhead pabrik yang diterapkan ditutup, ayat
jurnalnyaakan sebagai berikut:
Overhead pabrik yang diterapkan 94.116.400
Pengendali overhead pabrik 94.116.400

Perkiraan pengendali overhead pabrik sekarang mempunyai saldo debet sebesar


Rp.8.807.232 yang akan di tutup ke perkiraan varians overhead pabrik yang sesuai.
Ayat jurnal untuk mencatat hasil perhitungan dari setiap metode akan dibahas di sini.

a. Metode Dua Varians


Pada metode dua varians terkendali dan varians volume. Ayat jurnal untuk menutup
perkiraan pengendali overhead pabrik dan untuk mencatat varians terkendali dan
varians volume adalah sebagai berikut :
Varians volume overhead pabrik* 6.647.040
Varians terkendali overhead pabrik** 1.440.192
Pengendali overhead pabrik*** 8.807.232

*Rp.11.078,4 tarif overhead pabrik tetap x 600 jam [yaitu selisih diantara kapasitas
normal (4.000 jam) dengan jam standar yang diizinkan (3.400 jam)]
**jumlah yang diperlukan untuk menyeimbangkan ayat jurnal
***jumlah overhead pabrik yang diterapkan terlalu rendah [yaitu selisih diantara
overhead pabrik aktual (Rp. 102.253.632) dengan overhead pabrik yang diterapkan
(Rp. 94.166.400)]

b. Metode A untuk tiga varians


Dalam metode A dalam tiga varians, jumlah overhead pabrik yang diterapkan terlalu
tinggi atau terlalu rendah dapat dianalisis sebagai varians pengeluaran, kapasitas
menganggur dan efesiensi. Ayat jurnal untuk menutup perkiraan pengendali
overhead pabrik dan mencatat ketiga varians ini adalah sebagai berikut :

Varians kapasitas menganggur overhead pabrik* 5.816.160


Varians efesiensi overhead pabrik** 2.077.200
Varians pengeluaran overhead pabrik*** 193.872
Pengendali overhead pabrik**** 8.087.232
*Rp. 11.078,4 tarif overhead pabrik tetap x 525 jam [yaitu selisih antara kapsitas
normal (4.000 jam) dengan jam kerja aktual yang di perlukan (3.475 jam)]
**Rp. 27.696 tarif overhead pabrik x 75 jam [yaiitu selisih antara jam kerja aktual
yang diperlukan (3.475 jam) dengan jam kerja standar yang diizinkan (3.400 jam)]
***jumlah yang diperlukan untuk menyeimbangkan ayat jurnal
****jumlah overhead pabrik yangditerapkan terlalu rendah [yaitu selisih antara
overhead pabrik aktual (Rp.102.253.632) dengan overhead pabrik yang diterapkan
(Rp. 94.166.400)]

c. Metode B untuk Tiga Varians


Dalam metode B untuk tiga varians, jumlah overhead pabrik yang diterapkan terlalu
tinggi atau rendah dapat dianalisis sebagai varians pengeluaran, varians efesiensi
variabel dan varians volume. Ayat jurnal untuk menutup perkiraan pengendali
overhead pabrik dan untuk mencatat ketiga varians ini adalah sebagai berikut :
Varians volume overhead pabrik* 6.647.040
Varians efesiensi variabel overhead pabrik** 1.246.320
Varians pengeluaran overhead pabrik*** 193.872
Pengendali overhead pabrik**** 8.087.232
*Rp. 11.078,4 tarif overhead pabrik tetap x 525 jam [yaitu selisih antara kapsitas
normal (4.000 jam) dengan jam kerja aktual yang di perlukan (3.475 jam)]
**Rp. 16.617,6 tarif overhead pabrik x 75 jam [yaiitu selisih antara jam kerja aktual
yang diperlukan (3.475 jam) dengan jam kerja standar yang diizinkan (3.400 jam)]
***jumlah yang diperlukan untuk menyeimbangkan ayat jurnal
****jumlah overhead pabrik yangditerapkan terlalu rendah [yaitu selisih antara
overhead pabrik aktual (Rp.102.253.632) dengan overhead pabrik yang diterapkan
(Rp. 94.166.400)]

d. Metode Empat Varians


Dalam metode empat varians, jumah overhead pabrik yang diterapkan terlalu tinggi
atau rendah dibagi menjadi varians pengeluaran, kapasitas menganggur, efesiensi
variabel dan efisiensi tetap. Ayat jurnal untuk menutup perkiraan pengendali
overhead pabrik dan untuk mencatat keempat varians ini adalah sebagai berikut :
Varians kapasitas menganggur overhead pabrik* 5.816.160
Varians efesiensi variabel overhead pabrik** 1.246.320
Varians efesiensi tetap overhead pabrik*** 830.880
Varians pengeluaran overhead pabrik**** 193.872
Pengendali Overhead pabrik***** 8.087.232
*Rp. 11.078,4 tarif overhead pabrik tetap x 525 jam [yaitu selisih antara kapsitas
normal (4.000 jam) dengan jam kerja aktual yang di perlukan (3.475 jam)]
**Rp. 27.696 tarif overhead pabrik x 75 jam [yaiitu selisih antara jam kerja aktual
yang diperlukan (3.475 jam) dengan jam kerja standar yang diizinkan (3.400 jam)]
***Rp.11.078,4 tarif overhead pabrik x 75 jam [yaiitu selisih antara jam kerja aktual
yang diperlukan (3.475 jam) dengan jam kerja standar yang diizinkan (3.400 jam)]
****jumlah yang diperlukan untuk menyeimbangkan ayat jurnal
*****jumlah overhead pabrik yangditerapkan terlalu rendah [yaitu selisih antara
overhead pabrik aktual (Rp.102.253.632) dengan overhead pabrik yang diterapkan
(Rp. 94.166.400)]

Contoh :
PT. Citarum
Anggaran Biaya Overhead Pabrik
Januari 19XX

Jenis biaya Tetap Variabel Jumlah


Bahan tak Rp. Rp. - Rp. 2.000.000
langsung 2.000.000
Tenaga kerja tak 900.000 528.000* 1.428.000
langsung
Perawatan dan 1.200.000 792.000** 1.992.000
reparasi
Gas dan 300.000 - 300.000
penerangan
Energy 200.000 1.452.000*** 1.652.000
Asuransi 270.000 - 270.000 Jam
Kerja
Penyusutan 1.350.000 - 1.350.000
Pajak 600.000 - 600.000
Pajakupah - 264.000**** 264.000
Jumlah = Rp. Rp. 3.036.000 Rp. 9.856.000
6.820.000
Langsung

Keterangan :
*2.640 x Rp.200 = Rp.528.000
**2.640 x Rp.300 = Rp.792.000
***2.640 x Rp.550 = Rp.1.452.000
****2.640 x Rp.100 = Rp.264.000
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pada dasarnya BOP adalah semua biaya produksi yang termasuk kedalam biaya
bahan tak langsung, biaya tenaga kerja tak langsung dan biaya-biaya produksi
lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibedakan langsung pada
suatu proses produksi.
Anggaran biaya overhead pabrik disediakan untuk berbagai macam tingkat produksi.
Jumlah biayanya dipecah menjadi kompenen-kompenen tetap (dinyatakan tarif dan
didasarkan atas jam kerja langsung). Hubungan yang erat antara biaya standar dan
metode pengendalian anggaran (budgetary control methode) bersifat penting,
khususnya untuk analisis overhead pabrik. Overhead pebrik aktual tidak hanya
dibandingkan terhadap overhead yang diterapkan (applied overhead cost), tetapi
juga terhadap anggaran yang didasarkan pada kegiatan aktual dan standar yang
diizinkan untuk produksi aktual.
DAFTAR PUSTAKA

Milton dan Lawrence,Akuntansi Biaya Perencanaan dan Pengendalian, Jakarta :


Erlangga 2006 Adisaputro,Gunawan, Marwan Asri.1995. Anggaran
Perusahaan.Edisi Ketiga.Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Harahap, Sofyan Syafri, 2001. Budgeting Penganggaran: Perencanaan Lengkap
Untuk Membantu Manajemen. Edisi Pertama, Cetakan Kedua, PT Indah Karya
(Persero) Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Joe K. Shim dan Joel G. Siegol, 2001. Budgeting ”Pedoman Lengkap Langkah-
langkah Penganggaran, Erlangga, Jakarta.
Mulyadi, 2001. Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi Ketiga,
Salemba Empat, Jakarta.

Nafarin, M, 2007. Penganggaran Perusahaan, Edisi Revisi, Salemba Empat,


Jakarta.