Anda di halaman 1dari 24

1.

KONSEP DASAR MASALAH PSIKOSOSIAL


2. Definisi

Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang melihat keterbatasan atau
tidak ada alternatif atau pilhan pribadi yang tersedia dan tidak dapat memobilisasi energy yang
dimilikinya (NANDA, 2005).

Depresi adalah suatu jenis gangguan alam perasaan atau emosi yang di sertai komponen
psikologi : rasa susah,murung,sedih,putus asa,dan tidak bahagia,serta komponen somatic :
anoreksia,konstipasi,kulit lembab (rasa dingin),tekanan darah dan denyut nadi menurun. Depresi
adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan (Hidayat,2008 : hal 275).

2. Proses terjadinya masalah psikososial

Klien yang mengalami depresi biasanya diawali dari persepsinya yang negative
terhadap stressor.Klien menganggap masalah terhadap sesuatu yang seratus
persen buruk.tidak ada hikmah di balik semua masalah yang di terimanya.Misalnya pada saaat
kakinya fraktur ia sulit untuk menerimanya,padahal hikmahnya ia akan terhindar dari wajib
militer,terhindar dari jalan menuju kemaksiatan dan lebih banyak waktu membaca di rumah dan
sebagainya.Hampir semua masalah yang muncul ia anggap negative.Karena persepsi yang salah
tersebut maka akan menuntun klien untuk berfikir dan bertindak salah.Pikiran yang selalu
muncul adalah ‘’saya sial,saya menderita,saya tidak mampu,tidak ada harapan lagi,semua
buruk’’,kondisi ini di perburuk dengan tidak adanya support system yang adekuat seperti
keluarga,sahabat,ibu,tetangga,adanya tabungan,terutama keyakinannya pada yang Maha
Kuasa.Muncullah fase akumulasi stressordi mana stressor yang lainturut memperburuk
keadaan klien.Klien akan makin terasa tidak berdayadan akhirnya ada niat untuk mencederai diri
dan mengakhiri hidup.hal ini menjadi pemicu munculnya harga diri rendah yang akan menjadi
internal stressor.

Depresi di sebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetic,faktor
konstitusi,faktor kepribadian premorbid,faktor fisik,faktor psikobiologi,faktor neurologi,faktor
biokimia dalam tubuh,faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya.Depresi biasanya di
cetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,pembedahan,kecelakaan,persalinan dan
sebagainya,serta faktor psikis,seperti kehilangan kasih saying dan harga diri.

3. Tanda dan gejala

Data subjektif menunjukan bahwa klien tidak mampu mengutarakan pendapat dan masalah
berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatic seperti : nyeri abdomen dan dada

1
,anoreksia,sakit punggung,pusing.Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi,tidak bearti,tidak ada
tujuan hidup,merasa putus asa dan cenderung ingin bunuh diri.Pasien muda tersinggung dan
ketidakmampuan konsentrasi.

Data objektif,menunjukan bahwa gerakan tubuh klien terhambat,tubuh yang melengkung dan
bila duduk dengan sikap yang merosot,ekspresi wajah murung,gaya jalan yang lambat,dengan
langkah yang di seret,kadang-kadang dapat terjadi stupor.pasien tampak malas,lelah,tidak ada
nafsu makan,sukar tidur,dan sering menangis.Proses berfikir terlambat seolah-olah fikirannya
kosong,konsentrasi terganggu,tidak mempunyai minat,tidak dapat berfikir,tidak mempunyai
daya khayal.Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam,tidak
masuk akal (irasional),waham dosa,depersonalisasi dan halusinasi.kadang-kadang pasien suka
menunjukan sikap bermusuhan (hostiliti) mudan tersinggung (irritable) dan tidak suka
di ganngu.Pada pasien depresi juga kebersihan diri yang kurang dan keterbelakangan
psikomotor.( hidayat ,2008 :277)

Depresi di tandai dengan gejala berikut :

1. Kemurungan, kesedihan, kelesuhan, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat dan
merasa tidak berdaya.
2. Perasaan bersalah atau berdosa,tidak berguna dan putus asa.
3. Nafsu makan dan berat badan menurun.
4. Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan).di sertai mimpi-mimpi yang tidak
menyenangkan,misal mimpi orang yang sudah meninggal.
5. Agitasi atau retardasi motoric (gelisah atau perlambatan gerakan motoric).
6. Hilang perasaan senang,semangat dan minat,meninggalkan hobi.
7. Kreativitas dan produktifitas menurun
8. Gangguan seksual (libido menurun).
9. PIkiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.
10. Penatalaksanaan
11. Medis

Penatalaksaan Terapi Tujuan terapi depresi adalah untuk mengurangi gejala depresi akut,
meminimalkan efek samping, memastikan kepatuhan pengobatan, membantu pengembalian
ketingkat fungsi sebelum depresi, dan mencegah episode lebih lanjut ( Sukandar dkk., 2008 )

Untuk melakukan pengobatan pada pasien dengan gangguan depresi, ada 3 tahapan yang harus
dipertimbangkan antara lain :

1. Fase akut, fase ini berlangsung 6 sampai 10 minggu. pada fase ini bertujuan untuk
mencapai masa remisi ( tidak ada gejala ).

2
2. Fase lanjutan, fase ini berlangsung selama 4 sampai 9 bulan setelah mencapai remisi.
pada fase ini bertujuan untuk menghilangkan gejala sisa atau mencegah kekambuhan
kembali.
3. Fase pemeliharaan, fase ini berlangsung 12 sampai 36 bulan. Pada fase ini tujuannya
untuk mencegah kekambuhan kembali. Algoritme untuk terapi depresi tanpa komplikasi.
4. Keperawatan
5. Asuhan keperawatan
6. Pengkajian

 Faktor Predisposisi

1. Faktor Genetik

Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi
gangguan alam perasaan pada kembar monozigote dari dizigote.

1. Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri

Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan dari perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.

Diawali dengan proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang tidak mampu
mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri.

1. Teori Kehilangan

Berhubungan dengan faktor perkembangan : misalnya kehilangn orang tua pada masa anak,
perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang asangat dicintai. Individu tidak berdaya
mengatsi kehilangan.

1. Teori Kepribadian

Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi


atau mania.

1. Teori Kognitif

Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian
negative terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.

1. Teori Belajar Ketidakberdayaan

3
Mengemukakan bahwa depresi dilmulai dari kehilangan kendali diri, lalu menjdi pasif dan tidak
mampu menghadapi masalah. Kemidian individu timbul dengan keyakinan akan
ketidakmampuam mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respon
yang adaptif.

1. Model Prilaku

Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian positif selama berinteraksi
dengan lingkungan.

1. Model Biologis

Mengemukakan bahwa depresi terjadi prubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak
berfungsi endokrin dan hipersekresi kortisol.

 Faktor Presipitasi

Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor biologis, psikologis,
dan social budaya. Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-
obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan
metabolisme. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta,
seseorang dan kehilangan harga diri. Faktor social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian,
kehilangan pekerjaan.

 Perilaku dan Mekanisme Koping

Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan depresi kesedihan dan
kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi. Mekanisme koping yang digunakan pada
reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari tekanan
yang hebat.

1. Analisa Data
2. Data Subyektif

Klien mengatakan sedih, tidak bergairah untuk bekerja, menyesal, merasa bersalah, merasa
ditolak, merasa tidakberdaya dan merasa tidak berharga.

2. Data Obyektif

Klien tampak sedih, murung lambat, lemah, lesu, tidak bergairah, cemas dan marah.

4
Daftar masalah

1. Sedih kronis
2. Harga diri rendah
3. Koping individu tidak efektif
4. Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri
5. Koping keluarga tidak efektif

1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang umum muncul pada klien dengan gangguan alam perasaan (depresi),
yaitu :

1. Sedih kronis
2. Harga diri rendah
3. Koping individu tidak efektif
4. Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri
5. Deficit perawatan diri
6. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
7. Gangguan pola istirahat/tidur
8. Koping keluarga melemah

1. Rencana Tindakan Keperawatan

tgl/jam diagnosa tujuan /kriteria evaluasi intervensi/implementasi

Gangguan alam perasaan: Sedih Kronis :Klien tidak mengalami gangguan alam perasaan.

TUK 1

Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria Evaluasi : Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau
berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan
dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi 1. Bina hubungan saling percaya
dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :

1. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.


2. Perkenalkan diri dengan sopan.
3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
4. Jelaskan tujuan pertemuan
5. Jujur dan menepati janji

5
6. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

TUK 2

Klien dapat mengungkapkan perasaanya.

Kriteria evaluasi :Klien mampu mengungkapkan perasaannya

1. Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan
bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.
2. Beri kesempatan klien mengutarakan keinginan dan pikirannya dengan teknik focusing.
3. Bicarakan hal-hal yang nyata dengan klien.

TUK 3

Klien dapat menggunakan koping adaptif

Kriteria evaluasi :Klien dapat mengungkapkan perasaan saat sedih, menyimpulkan tanda-tanda
sedih yang dialami.

1. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan kesal, sedih, dan
tidak menyenangkan.
2. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan
sedih/menyakitkan.
3. Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan.
4. Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.
5. Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima
6. Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
7. Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.

TUK 4

Klien terlindung dari perilaku mencederai diri.

Kriteria evaluasi :Sikap klien tampak tenang dan dapat mengontrol emosinya.

1. Tempatkan klien di tempat yang tenang, tidak banayak rangsangan, tidak banyak terdapat
peralatan.

6
2. Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk mencederai dirinya
di tempat yang amana dan terkunci.
3. Temani klien jika nampak tanda-tanda sedih yang berlebihan seperti menangis.
4. Lakukan pengekangan fisik jika klien tidak dapat mengontrol perilakunya.

TUK 5

Klien dapat melakukan kegiatan terarah

Kriteria evaluasi :Klien dapat melakukan kegiatan yang diintruksikan dengan baik

1. Anjurkan klien untuk melakukan kegiatan motorik yang terarah misalnya: menyapu,
olahraga, dll.
2. Beri kegiatan individual sederhana yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh klien.
3. Berikan kegiatan yang tidak memerlukan kompetisi.
4. Bantu klien dalam melaksanakan kegiatan.
5. Beri reinforcement atas keberhasilan pasien.

TUK 6

Klien terpenuhi kebutuhan nutrinya.

Kriteria evaluasi :BB ideal dan nafsu makan klien meningkat.

1. Diskusikan tentang manfaat makan dan minum bagi kesehatan.


2. Ajak klien makan makanan yang telah disediakan, temani selama makan.
3. Ingatkan klien untuk minum setengah jam sekali sebanyak 100 cc.
4. Sediakan makanan TKTP, mudah cerna.

TUK 7

Klien terpenuhi kebutuhan tidur dan istirahatnya.

Kriteria Evaluasi :Konjungtiva tidak pucat, klien tidak terbangun pada malam hari, klien tidak
mengeluhkan susah tidur dan wajah tampak segar.

1. Diskusikan pentingnya istirahat bagi kesehatan


2. Anjurkan klien untuk tidur pada jam-jam istirahat.
3. Sediakan lingkungan yang mendukung: tenang, lampu redup, dll.

TUK 8

7
Klien terpenuhi kebersihan dirinya

Kriteria Evaluasi: Klien tampak rapi dan bersih, klien dapat berpakaian mandiri, dan dapat
toileting sendiri.

1. Diskusikan manfaat kebersihan bagi kesehatan.


2. Bombing dalam kebersihan diri (mandi, keramas, gogok gigi).
3. Bimbing pasien berhias
4. Beri pujian bila klien berhias secara wajar

TUK 9

Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

Kriteria Evaluasi :

1. Klien menyebutkan manfaat, kerugian, nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping
obat.
2. Klien mendemonstrasikankan penggunaan obat dengan benar
3. Klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
4. Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna,
dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
5. Pantau klien saat penggunaan obat
6. Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar
7. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
8. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada perawat/dokter jika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.

1. Kaitan masalah gangguan kesehatan dalam perspektif islam

Frustrasi (al-Ya’s) menurut as-Syarqawi adalah putus harapan dan cita. Munculnya perasaan ini
biasanya ketika seseorang berhadapan dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang
bertolak belakang dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena
menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, selalu
melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,
Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya,
sebagaimana firman-Nya:

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat
Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87).

8
Dalam mental hygiene disebutkan: bahwa munculnya perasaan frustasi disebabkan oleh
kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan, tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang
diinginkan atau terhambatnya usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan dan
bandingkan dengan Zakiat Darajat.

BAHAN 2

Keputusasaan merupakan status emosional yang berkepanjangan dan bersifat subyektif


yang muncul saat individu tidak melihat adanya alternatif lain atau pilihan pribadi untuk
mengatasi masalah yang muncul atau untuk mencapai apa yang diiginkan serta tidak dapat
mengerahkan energinya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. (carpenito, 563).
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang melihat keterbatasan
atau tidak ada alternatif atau pilihan pribadi yang tersedia dan tidak dapat memobilisasi energy
yang dimilikinya (NANDA, 2005).
Keputusasaan berkaitan dengan kehilangan harapan, ketidakmampuan,keraguan,duka cita,
apati, kesedihan, depresi, dan bunuh diri. ( Cotton dan Range, 1996 ). Sedangkanmenurut
(Pharris, Resnick,dan ABlum, 1997),mengemukakan bahwa keputusasaan merupakan kondisi
yang dapat menguras energi.
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwa kehidupannya
terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain mustahil ). Seseorang yang tidak memiliki harapan
tidak melihat adanya kemungkinan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak menemukan
solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau siapapun tidak akan bisa
membantunya.

2.1 ETIOLOGI KEPUTUSASAAN


Beberapa faktor penyebab orang mengalami keputusasaan yaitu :
a. Faktor kehilangan
b. Kegagalan yang terus menerus
c. Faktor Lingkungan
d. Orang terdekat ( keluarga )

9
e. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
f. Adanya tekanan hidup
g. Kurangnya iman

2.2 MANIFESTASI KLINIS KEPUTUSASAAN


a. Mayor ( harus ada)
Mengungkapkan atau mengekspresikan sikap apatis yang mendalam , berlebihan, dan
berkepanjangan dalam merespon situasi yang dirasakan sebagai hal yang mustahil isyarat verbal
tentang kesedihan.
Contohungkapan :
1. “Lebihbaiksayamenyerahkarenasayatidakmampumemperbaikikeadaan.”
2. “Masadepansayaseolahsuram.”
3. “Sayatidakdapatmembayangkanmasadepansaya 10 tahunkedepan.”
4. “Sayasadar, sayatipernahmendapatkanapa yang sayainginkansebelumnya.”
5. “Rasanyasayatidakmungkinmenggapaikepuasandimasa yang akandatang.”

1) Fisiologis :
 respon terhadap stimulus melambat
 tidak ada energi
 tidur bertambah
2) emosional :
 individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan perasaannya tapi dapat
merasakan
 tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan pertolongan tuhan
 tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
 hampa dan letih
 perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
 tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
3) Individu memperlihatkan :
 Sikap pasif dan kurangnya keterlibatan dalam perawatan
 Penurunan verbalisasi
 Penurunan afek
 Kurangnya ambisi,inisiatif,serta minat.
 Ketidakmampuan mencapai sesuatu
 Hubungan interpersonal yang terganggu
 Proses pikir yang lambat
 Kurangnya tanggung jawab terhadap keputusan dan kehidupannya sendiri.
4) Kognitif :

10
 Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan
 Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang dihadapi saat
ini
 Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir
 Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )
 Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap
 Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang ditetapkan
 Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat keputusan
 Tidak dapat mengenali sumber harapan
 Adanya pikiran untuk membunuh diri.
b. Minor ( mungkin ada )
1) Fisiologis
 Anoreksia
 BB menurun
2) Emosional
 Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
 Merasa berada diujung tanduk
 Tegang
 Muak ( merasa ia tidak bisa)
 Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
 Rapuh
3) Individu memperlihatkan
 Kontak mata yang kurang mengalihkan pandangan dari pembicara
 Penurunan motivasi
 Keluh kesah
 Kemunduran
 Sikap pasrah
 Depresi
4) Kognitif
 Penuruna kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
 Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa datang
 Bingung
 Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
 Distorsi proses pikir dan asosiasi
 Penilaian yang tidak logis

2.3 AKIBAT KEPUTUSASAAN


Akibat yang dapatditimbulkandariterjadinyakeputusasaanyaitu :
a. Stres

11
b. Depresi
c. Galau
d. Sakit
e. Pola hidup yang tidak teratur
f. Letih, Lesu, Lemah; disebabkan karena faktor psikis
g. Hilang kesempatan yang ada, karena ketika kesempatan itu datang ia sibuk dengan rasa
putus asa yang ada.
h. Trauma; tidak lagi memiliki keberanian dan kemampuan untuk melakukan hal yang sama
karena takut akan mengalami rasa putus asa untuk yang kedua kalinya.
i. Gila; akibat jangka panjang yang umumnya terjadi pada sebagian orang
j. Sakit; diawali dengan makan yang tidak teratur, tidur terlalu larut, beban pikiran yang
berlebihan.
k. Kematian; beberapa mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dan tidak hanya karena sakit
yang berkepanjangan namun juga karena faktor psikis yang berlebihan.

2.4 PENCEGAHAN
Di bawah ini ada beberapa cara mencegah timbulnya keputusasaanyaitu :
1) Berbaik sangkalah kepada ALLAH,Ingat bahwa setiap yang kita alami ada hikmahnya.
Semua ini hanyalah sebuah cobaan dan bukti kecintaaan tuhan kepada kita.
2) Berpikir bahwa tidak ada kegagalan yang abadi, karena kita bisa mengubahnya dengan
ber buat hal-hal baru.
3) Tetapkan tindakan kita dalam keadaan apapun kita tetap bisa memilih tindakan atau
mengubah kebiasan lama dan mencari jalan untuk mengatasi masalah yg tengah kita hadapi
4) Bersikap lebih fleksibel, kehidupan tidak selalu seperti yang di harapkan. Apabila kita
dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru maka ketegangan kita kan berkurang.
5) Kembangkan tindakan yang kreatif Tanyakan pada diri sendiri "KESEMPATAN APA
BAGI SAYA DI SINI ? JALAN MANA YANG TERBUKA BAGI SAYA ?"
6) Evaluasi setiap situasi. Pikirkan segala tindakan sebelum bertindak agar bisa di dapatkan
pemecah masalah yang baik.
7) Lihat sisi positifnya. Kegagalan memang merupakan pengalaman yang menyakitkan.
Tapi daripada memikirkan kerugian yang kita alami, lebih baik fokuskan pada apa yang telah
kita pelajari.
8) Bertanggung jawab. Jangan salah kan orang lain jika gagal,tapi perhatikan baik-baik
masalah nya dan cobalah memahaminya. Tanyakan pada diri sendiri bagaimana mengatasinya?
9) Pelihara selera humor dan tertawa memang tidak segera memecahkan masalah,tetapi
akan membantu kita melihat masalah secara perspektif. Hal itu bagaikan cahaya dalam
kegelapan.
10) Ingatlah bahwa kegagalan adalah guru yang paling berharga kita bisa belajar tentang
bagaimana kita bisa gagal dan bagaimana kita mengatasi sebuah kegagalan.

2.5 PENATALAKSANAAN KEPUTUSASAAN

12
Penatalaksanaanmedispada orang yang mengalamikeputusasaanyaitu :
a. Psikofarmaka
Terapi dengan obat-obatan sehingga dapat meminimalkan gangguan keputusasaan.
b. Psikoterapi
adalah terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan terapi
psikofarmaka dan telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas sudah kembali
pulih dan pemahaman diri sudah baik. Psikoterapi ini bermacam-macam bentuknya antara lain
psikoterapi suportif dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar
penderita tidak merasa putus asa dan semangat juangnya.
Psikoterapi Re-eduktif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya
memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu, psikoterapi rekonstruktif dimaksudkan untuk
memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh
seperti semula sebelum sakit, psikologi kognitif, dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi
kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai- nilai
moral etika. Mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, dsbnya.
Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu
menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri, psikoterapi keluarga dimaksudkan untuk
memulihkan penderita dan keluarganya.
c. Terapi Psikososial
Dengan terapi ini dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi dengan
lingkungan sosialnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain
sehingga tidak menjadi beban keluarga. Penderita selama menjalani terapi psikososial ini
hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmaka.
d. Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan ternyata masih bermanfaat bagi penderita gangguan jiwa. Dari penelitian
didapatkan kenyataan secara umum komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya di bidang
klinik. Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa,
mamanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, kajian kitab suci dsb.
e. Rehabilitasi
Program rehabilitasi penting dilakukan sebagi persiapan penempatan kembali kekeluarga dan
masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di suatu
rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain; terapi
kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik berupa olah
raga, keterampilan, berbagai macam kursus, bercocok tanam, rekreasi, dsbnya.
Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung antara 3-6 bulan. Secara berkala
dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu evaluasi sebelum penderita mengikuti program
rehabilitasi dan evaluasi pada saat si penderita akan dikembalikan ke keluarga dan ke
masyarakat.

13
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a) Identitas klien
Identitas klien meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian, No register, dan dignosa medis.
b) Keluhan utama
Pengkajian meliputi upaya mengamati dan mendengarkan isi hati klien: apa yang dipikirkan,
dikatakan, dirasakan, dan diperhatikan melalui perilaku.
Beberapa percakapan yang merupakan bagian pengkajian agar mengetahui apa yang mereka
pikir dan rasakan adalah :
a. Persepsi yang adekuat tentang rasa keputusasaan
b. Dukungan yang adekuat ketika putus asa terhadap suatu masalah
c. Perilaku koping yang adekuat selama proses
c) Faktor predisposisi
Faktor predisposisi yang mempengaruhi rentang respon keputusasaan adalah:
a. Faktor Genetic : Individu yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang
mempunyai riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu
permasalahan
b. Kesehatan Jasmani : Individu dengan keadaan fisik sehat, pola hidup yang teratur,
cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stress yang lebih tinggi dibandingkan dengan
individu yang mengalami gangguan fisik
c. Kesehatan Mental : Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama yang mempunyai
riwayat depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya pesimis, selalu dibayangi oleh masa
depan yang suram, biasanya sangat peka dalam menghadapi situasi masalah dan mengalami
keputusasaan.
d. Struktur Kepribadian
b. Individu dengan konsep yang negatif, perasaan rendah diri akan menyebabkan rasa
percaya diri yang rendah yang tidak objektif terhadap stress yang dihadapi.
d) Faktor presipitasi
Ada beberapa stressor yang dapat menimbulkan perasaan keputusasaan adalah:
1. Faktor kehilangan
2. Kegagalan yang terus menerus
3. Faktor Lingkungan
4. Orang terdekat ( keluarga )
5. Status kesehatan ( penyakit yang diderita dan dapat mengancam jiwa)
6. Adanya tekanan hidup
7. Kurangnya iman
e) Respon Emosional

14
Mayor (harus ada):
1. individu yang putus asa sering sekali kesulitan mengungkapkan perasaannya tapi dapat
merasakan
2. tidak mampu memperoleh nasib baik, keberuntungan dan pertolongan tuhan
3. tidak memiliki makna atau tujuan dalam hidup
4. hampa dan letih
5. perasaan kehilangan dan tidak memiliki apa-apa
6. tidak berdaya,tidak mampu dan terperangkap.
Minor (mungkin ada)
1. Individu marasa putus asa terhadap diri sendiri dan orang lain
2. Merasa berada diujung tanduk
3. Tegang
4. Muak ( merasa ia tidak bisa)
5. Kehilangan kepuasan terhadap peran dan hubungan yang ia jalani
6. Rapuh
f) Respon Kognitif
Mayor ( harus ada)
1. Penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan membuat keputusan
2. Mengurusi masalah yang telah lalu dan yang akan datang bukan masalah yang dihadapi
saat ini
3. Penurunan fleksibilitas dalam proses pikir
4. Kaku ( memikirkan semuanya atau tidak sama sekali )
5. Tidak punya kemampuan berimagenasi atau berharap
6. Tidak dapat mengidentifikasi atau mencapai target dan tujuan yang ditetapkan
7. Tidak dapat membuat perencanaan, mengatur serta membuat keputusan
8. Tidak dapat mengenali sumber harapan
9. Adanya pikiran untuk membunuh diri.
Minor (mungkin ada)
1. Penuruna kemampuan untuk menyatukan informasi yang diterima
2. Hilangnya persepsi waktu tentang mas lalu , masa sekarang , masa datang
3. Bingung
4. Ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif
5. Distorsi proses pikir dan asosiasi
6. Penilaian yang tidak logis

3.2 Aplikasi Nanda, NOC, NIC


No. Diagnosa NOC NIC

1. Keputusasaan Status kenyamanan: DukunganSpiritual


psyikososial

15
Indicator: Aktivitasnya:

 Kesejahteraan Psikologis  Menggunakan komunikasi


terapeutik untuk
 Harapan membangun kepercayaan
dan empati peduli
 Konsep Diri
 menggunakan alat untuk
 GambaranI nternal Diri memonitor dan
mengevaluasi kesejahteraan
 EfekKetenangan rohani yang sesuai

 Ekspresi  memperlakukan individu


dengan bermartabat dan
 Optimis hormat

 mendorong partisipasi
 Penentuan Tujuan
dalam interaksi dengan
 Makna Dan Tujuan DalamHidup anggota keluarga,
teman,dan lain-lain
 Kepuasan Spiritual
 memberikan privasi dan
ketenangan untuk kegiatan
 Depresi
spiritual
 Kegelisahan
 mengajarkan metode
relaksasi dan meditasi
 Takut
 menyediakan music
 KehilanganSpiritual
spiritual, sastra, radio, atau
program tv
 Pikiran Untuk Bunuh Diri
 untuk individu

 terbuka terhadap sifat


Kontrol depresi diri
individu yang merasa
Indikator: kesepian dan tidak berdaya

 membantu individu untuk


 Memonitor Kemampuan Untuk
Berkonsentrasi bisa mengekspresikandan
meringankan kemarahan

16
 Memonitor Intensitas Depresi dengan cara yang tepat

 Mengidentifikasi Penyebab  menggunakan nilai teknik


Depresi klarifikas iuntuk membantu
individu memperjelas
 Memonitor Manifestasi Perilaku keyakinan dan nilai-nilai
Depresi yang sesuai

 Laporan Tidur Yang Cukup

INSPIRASI HARAPAN
 Laporan Meningkat Nafsu
 membantu pasien /keluarga
 Memonitor Manifestasi Fisik
untuk mengidentifikasi
Dari Depresi
daerah-daerah harapan
dalam hidup
 Laporan Memperbaiki
Suasana Hati  menghindari tindakan
menutupi kebenaran
 Berpartisipasi Dalam Aktivitas
Menyenangkan  membantu pasien
mengembangkanspiritual
 Mentaati Jadwal Terapi diri

 Menghindari Penyalahgunaan  menciptakan


Alkohol lingkungan yang
memfasilitasi pasien
 Menghindari Penyalahgunaan berlatih agama yang sesuai
Obat Non Resep
 memberikan pasien
 MenghindariPenggunaan /keluarga kesempatan untuk
Narkoba terlibat dengan kelompok
pendukung
 MenjagaKebersihan Pribadi
DanPerawatan  mendorong hubungan
terapeutik dengan penting
lainnya

Harapan  memfasilitasi pasien yang


memasukkan kerugian
pribadi ke dalam gambar

17
Indicator: tubuhnya

 Mengutarakan Harapan Masa


Depan Yang Positif

 Mengekspresikan Keyakinan
Mengutarakan Kehendak Untuk
Hidup

 Mengutarakan Alasan Untuk


Hidup

 Mengutarakan Makna Hidup

 Menyatakan Optimisme

 Mengungkapkan Keyakinan Diri

 Mengutarakan Kepercayaan Lain

 Mengutarakan Kedamaian Batin

 Mengutarakan Rasa Kontrol Diri

 Pameran Semangat Hidup

 Menetapkan Tujuan

Ketahanan pribadi

Indicator:

 Verbalisasi Positif Melihat


Keluar

 Menggunakan Strategi Koping


Yang Efektif

18
 MengekspresikanEmosi

 Berkomunikasi Dengan Jelas


Dan Tepat Untuk Usia

 Pameran Suasana Hati Yang


Positif

 Pameran Positif Harga Diri

 Mengutarakan Kenyamanan
DenganKesendirian

 Mengutarakan Rasa Percaya Diri

 Bertanggung JawabAtas
Tindakan Sendiri

 Mencari Dukungan Emosional

 Beratnya Alternatif Untuk


Memecahkan Masalah

 MenghindariPenyalahgunaan
Narkoba

 Menghindari Penyalahgunaan
Alkohol

 Menggunakan Sumber Daya

 Pendidikan Dan Kejuruan

 Verbalisasi Kesiapan Untuk


Belajar

2. Koping individu Koping Peningkatan koping


tidak efektif
Indicator :  hargai pemahaman pasien
tentang proses penyakit dan

19
 Menunjukan fleksibilitas peran konsep diri

 keluarga menunjukan  hargai dan diskusikan


fleksibilitas peran para alternative respon terhadap
anggotanya situasi

 pertentangan masalah 
hargai sikap klien terhadap
perubahan peran dan
 nilai keluarga dapat mengatur hubungan
masalah-masalah
 dukung penggunaan sumber

 melibatkan anggota keluarga spiritual jika diminta


dalam membuat keputusan
 gunakan pendekatan yang

 mengekspresikan perasaan dan tenang dan berikan jaminan


kebebasan emosional

sediakan informasi actual
tentang diagnosis, penangan
 menunjukan strategi untuk
dan prognosis
memanaj masalah

 sediakan pilihan yang


 menggunakan strategi penurunan
realistis tentang aspek
stress
perawatan saat ini
 peduli terhadap kebutuhan
 dukung penggunaan
anggota keluarga
mekanisme defensive yang
tepat
 menentukan prioritas
 dukung keterlibatan
 menentukan jadwal untuk
keluarga dengan cara yang
rutinitas danm aktivitas keluarga]
tepat

 menjadwalkan untuk respite care Bantu  pasien untuk


mengidentifikasi strategi
 mempunyai perencanaan pada positif untuk mengatasi
kondisi kegawatan keterbatasan dan mengelola
gaya hidup dan perubahan
 memelihara kestabilan financial peran

 mencari bantuan ketika  Bentu klien


mengidentifikasi

20
dibutuhkan kemungkinan yang dapt
terjadi
 menggunakan support social
 Bantu klien beradaptasi dan
mengantisipasi perubahan
klien
keterangan penilaian NOC

1= tidak dilakukan sama sekali

2= jarang dilakukan

3= kadang dilakukan

4= sering dilakukan

5= selalu dilakukan

3. Isolasi sosial Dukungan Sosial Peningkatan Sosialisasi

Indikator : Aktivitas :

 Kesediaan untuk memanggil  Mendorong peningkatan


orang lain untuk bantuan keterlibatan dalam
hubungan yang sudah
 Uang yang tersedia dari orang mapan
lain bila diperlukan
 Mendorong kesabaran
 Bantuan yang diberikan oleh dalam perkembangan
orang lain hubungan

 Waktu yang disediakan oleh  Mempromosikan hubungan


orang lain dengan orang-orang yang
memiliki kepentingan dan
 Kerja yang disediakan oleh orang tujuan bersama
lain
 Mendorong kegiatan sosial
 Informasi yang diberikan oleh dan masyarakat
orang lain
 Mempromosikan berbagai
 Bantuan emosional yang masalah umum dengan

21
diberikan oleh orang lain orang lain

 Hubungan kepercayaan  Mendorong kejujuran


orang yang bisa dalam menyajikan diri
kepada orang lain
 Membantu sesuai kebutuhan
 Mempromosikan
 Jaringan sosial bantu keterlibatan dalam
kepentingan yang sama
 Kontak sosial yang mendukung
 Mendorong rasa hormat
 Jaringan sosial yang stabil terhadap hak orang lain

 Memfasilitasi penggunaan
alat bantu defisit sensorik
Keterampilan Interaksi Sosial seperti kacamata dan alat
bantu dengar
Indikator :
 Memberikan umpan balik
 Menggunakanpengungkapanyang
tentang perbaikan dalam
sesuai
 Menjaga penampilan
 Pameranreseptif
pribadi atau kegiatan
lainnya
 Bekerja samadengan orang lain
 Menghadapi klien tentang
 Pamerankepekaan terhadaporang
gangguan penilaian, jika
lain
diperlukan

 Menggunakanperilakutegasyang
 Memberikan umpan balik
sesuai
positif ketika pasien
menjangkau orang lain
 Menggunakankonfrontasiyang
sesuai Mengeksplorasi kekuatan
dan kelemahan dari jaringan
 Melibatkanorang lain saat ini hubungan

 Menggunakankompromiyang
sesuai

Menggunakan strategiresolusi

22
konflik

4. Defisit perawatan Self care : aktifitassehari-hari Self Care assistane : ADLs


diri
Kriteriahasil:  Monitor kemempuan klien
untukperawatan diri yang
 Klien terbebas dari bau mandiri.

badan  Monitor kebutuhan klien


untuk alat-alatbantu untuk
 Menyatakankenyamanan kebersihan diri,berpakaian,
terhadapkemampuan berhias, toileting danmakan.
untukmelakukan ADLs
 Sediakan bantuan sampai
Dapat melakukan ADLSdengan klienmampu secara utuh
bantuan untuk melakukanself-care.

 Dorong klien untuk


melakukanaktivitas sehari-
hari yang normal
sesuaikemampuan yang
dimiliki.

 Dorong untuk melakukan


secaramandiri, tapi beri
bantuan ketika klientidak
mampumelakukannya.

 Ajarkan klien/ keluarga


untukmendorongkemandiria
n, untukmemberikan
bantuan hanya jika
pasientidak mampu untuk
melakukannya.

 Berikan aktivitas rutin


sehari- harisesuai

23
kemampuan.

 Pertimbangkan usia klien


jikamendorong pelaksanaan
aktivitassehari-hari.

24