Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberadaan hadits sebagai salah satu sumber hukum dalam Islam memiliki sejarah
perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra-kodifikasi, zaman Nabi,
Sahabat, dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-2 H.
Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan
larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan
tercampurnya nash al-Qur’an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para
sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada
masa Tabi’in Besar. Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat menentang penulisan hadits,
begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi penulisan dan pembukuan hadits secara
resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H)..Terlepas
dari naik-turunnya perkembangan hadits, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan
hadits memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah perkembangan hadits pada periode kelima ?


2.Bagaimana perkembangan periwayatan hadits pada masa Sahabat?
3.Bagaimana perkembangan periwayatan hadits pada masa Tabi’in?

C. Tujuan

1. Mengetahui sejarah perkembangan hadits pada periode kelima


2. Mengetahui perkembangan periwayatan hadits pada masa Sahabat
3. Mengetahui perkembangan periwayatan hadits pada masa Tabi’in
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat


Sahabat merupakan umat islam yang yang bertemu dengan nabi saw dan semasa
dengan beliau. Klasifikasinya terbagi menjadi dua yakni: Sahabat besar dan sahabat kecil.
Sahabat besar merupakan sahabat yang bergaul dengan Nabi, banyak belajar dan mendengar
hadits-hadits dari beliau serat sering pergi berjihad. Sedangkan sahabat kecil adalah para
sahabat yang jarang bergaul dengan Nabi disebabkan jauhnya jarak tempat tinggal dari
kediaman Nabi.
Periode kedua sejarah perkembangan hadist, adalah masa sahabat, khususnya masa
Khulafa Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi
Thalib) yang berlangsung sekitar 11 H sampai 40 H, masa ini juga disebut dengan sahabat
besar. Masa ini juga disebut dengan masa sahabat besar karena pada masa ini perhatian para
sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an, periwayatan hadis
belum begitu berkembang dan masih dibatasi. Oleh karena itu para ulama menganggap
masalah ini sebagai masa yang menunjukkan pembatasan periwayatan (At-Tasabbut wa Al-
Iqlal min Ar-riwayah)

Terdapat dua jalan sahabat dalam meriwayatkan hadist yaitu:


1) Periwayatan Lafdzi
Periwayatan Lafdzi berarti redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasulullah
saw. Kebanyakan para sahabat meriwayatkan hadits dengan jalan ini. Sebab mereka
berupaya agar periwayatan hadits sesuai dengan redaksi dari Rasulullah saw.
Kebanyakan para sahabat menempuh periwayatan hadis melalui jalan ini. Mereka
berusaha agar periwayatan hadis sesuai dengan redaksi dari Rasululah SAW dan
bukan menurut redaksi mereka. Bahkan menurut Ajjaj Al Khatib, seluruh sahabat
menginginkan agar periwayatan hadis dilakukan dengan lafdzi bukan dengan
maknawi. Sebagian dari mereka melarang ketat meriwayatkan hadis dengan
maknanya saja (maknawi), bahkan mereka tidak membolehkan mengganti satu huruf
atau satu kata pun. Begitu pula mendahulukan susunan kata yang disebut Rasul
belakangan atau sebaliknya atau meringankan bacaan yang tadinya siqal (berat) dan
sebaliknya. Dalam hal ini Umar bin khaththab pernah berkata: Barang siapa yang
mendengar hadis dari Rasulullah SAW kemudian ia meriwayatkannya sesuai yang ia
dengar maka ia akan selamat .
2) Periwayatan Maknawi
Periwayatan maknawi berarti yang berarti redaksinya tidak sama persis seperti yang
didengar dari Rasulullah saw. Akan tetapi isi atau maknanya sama dan tetap terjaga
secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh rasul tanpa ada perubahan.
Meskipun demikian, para sahabat melakukannya dengan sangat hati-hati. Ibnu
Mas’ud misalnya, ketika ia meriwayatkan hadis ia menggunakan term-term tertentu
untuk menguatkan penukilannya seperti dengan kata qala Rasululla Shallallahu alaihi
wasallam hakadza (Rasulullah SAW telah bersabda begitu) atau qala Rasullah
Shallallahu alaihi wasallam qariban min hadza (Mudasir. 1999.92).
Periwayatan hadis dengan maknawi mengakibatkan munculnya hadis-hadis yang
redaksinya antara satu hadis dengan hadis lainnya berbeda-beda, meskipun maksud
dan maknanya sama. Hal ini sangat bergantung kepada para sahabat atau generasi
berikutnya yang meriwayatkan hadis-hadis tersebut .
1. Masa Pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq
Setelah Rasulullah saw wafat, banyak sahabat yang berpindah ke kota-kota luar
madinah sehingga memudahkan untuk penyebaran hadits. Namun dengan semakin mudahnya
para sahabat meriwayatkan hadits dirasa cukup membahayakan bagi otentisitas hadits
tersebut. Maka pada masa khalifah Abu Bakar menerapkan peraturan-peraturan yang
membatasi periwayatan hadits. Pada masa ini belum ada usaha resmi untuk menghimpun dan
membukukan hadits seperti halnya Al-Qur’an. Hal ini karena umat islam lebih fokus
mempelajari Al-Qur’an. Selain itu banyaknya para sahabat yang berpindah ke kota-kota luar
dan tersebar di berbagai daerah kekuasaan islam dengan kesibukannya masing-masing
sebagai pembina masyarakat. Hal inilah yang mempersulit dalam membukukan hadits. Selain
itu pula adanya perselisihan pendapat antar sahabat belum lagi mengenai keshahihan dan
lafadznya.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar ini misalnya untuk menghindari adanya
kebohongan beliau meminta pengukuhan para sahabat lain ketika nenek datang padanya dan
mengatakan “saya mempunyai hak atas harta yang ditinggal oleh para anak laki-laki saya”.
Kemudian Abu Bakar menjawab “saya tidak melihat ketentuan seperti itu, baik dalam Al-
Qur’an maupun dari rasul.”. Lalu Muhammad bin Maslamah menjawab sebagai saksi bahwa
seorang nenek dengan kasus tersebut mendapat bagian (1/6) harta peninggalan cucu dari anak
laki-lakinya.
Dapat disimpulkan bahwa pada masa pemerintahan Abu Bakar amat ketat dalam
periwayatan hadits, sebab beliau mengkhawatirkan adanya sahabat yang berbohong dalam
penyampaian redaksi hadits. Akan tetapi beliau tidak anti terhadap penulisan hadits, bahkan
untuk kepentingan tertentu hadits nabi ditulisnya.
2.Masa Pemerintahan Umar bin Khattab
Begitu juga dengan Khalifah Umar bin Khattab. Dengan demikian periode tersebut
disebut dengan Masa Pembatasan Periwayatan Hadits. Pembatasan tersebut dimaksudkan
agar tidak banyak dari sahabat yang mempermudah penggunaan nama Rasulullah dalam
berbagai urusan, meskipun jujur dan dalam permasalahan yang umum. Namun pembatasan
tersebut tidak berarti bahwa kedua khalifah tersebut anti periwayatan, hanya saja Beliau
sangat selektif terhadap periwayatan hadits. Segala periwayatan yang mengatasnamakan
Rasulullah harus dengan mendatangkan saksi, seperti dalam permasalahan tentang waris yang
diriwayatkan oleh Imam Malik.7
Ibnu Qutaibah berkata, sebagai dikutip Ajjaj al_Khatib mengatakan Umar bin Al-
Khatab adalah orang yang sangat keras menentang orang-orang yang menghambarkan
riwayat hadist, atau orang yang membawa hadist (khabar) mengenai hukum tertentu tetapi
tidak diperkuat dengan seorang saksi. Umar bin Khatab tidak senang dengan terhadap orang
yang memperbanyak periwayatan hadist dengan terlalu mudah dan sembrono. Tentu agar
kemurnian hadist nabi dapat terpelihara. Ini tidak berarti bahwa beliau anti periwayatan
hadist, Umar r.a mengutus para ulama’ mengajarkan islam dan sunnah nabi pada penduduk
negeri.
3. Masa Pemerintahan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib
Sikap kehati-hatian sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab, juga diikuti oleh
Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Ali bin Abi
Thalib tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan itu disumpah. Pada masa ini juga
belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadist dalam suatu kitab halnya Al-Qur’an,
hal ini disebabkan karena:
1)Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
2)Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai
daerah kekuasaan Islam.

B. Perkembangan Hadits Masa Tabi’in


Pengertian Tabi’in adalah orang islam yang bertemu dengan sahabat, berguru dan
belajar kepada sahabat, tetapi tidak bertemu dengan Rasulullah dan tidak pula semasa dengan
beliau.
Setelah Nabi wafat (11 H/632 M), kendali kepemimpinan umat Islam berada di
tangan sahabat Nabi. Sahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu
Bakar ash-Shiddiq (wafat 13 H/634 M), kemudian disusul oleh Umar bin Khaththab (wafat
23 H/644 M), Usman bin Affan (wafat 35 H/656 M), dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/611
M). keempat khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-Khulafau al-Rasyidin dan
periodenya disebut dengan zaman sahabat besar (Fazlur Rahman menyebut sahabat senior)
Sesudah Ali bin Abi Thalib wafat, maka berakhirlah era sahabat besar dan menyusul era
sahabat kecil. Dalam masa itu muncullah tabi’in besar yang bekerja sama dalam
perkembangan pengetahuan dengan para sahabat Nabi yang masih hidup pada masa itu. Di
antara sahabat Nabi yang masih hidup setelah periode al-Khulafa al-Rasyidin dan yang cukup
besar peranannya dalam periwayatan hadis diantaranya ‘Aisyah (wafat 57 H/677 M), Abu
Hurairah (wafat 58 H/678 M), Abdullah bin Abbas (wafat 68 H/687 M), Abdullah bin Umar
bin Khaththab (wafat 73 H/692 M), dan Jabir bin Abdullah (wafat 78 H/697 M)
Sesudah masa Khufaur rasyidin, timbulah usaha yang lebih sungguh – sungguh untuk
mencari dan meriwayatkan hadits. Bahkan tatacara periwayatan hadits pun sudah dibakukan.
Pembakuan tatacara periwayatan hadits ini berkaitan erat dengan upaya ulama untuk
meyelamatkan hadits dari usaha – usaha pemalsuan hadits. Kegiatan periwayatan hadits pada
masa itu lebih luas dan banyak dibandingkan dengan periwayatan pada periode khulafaur
rasyidin. Kalangan Tabi’in telah semakin banyak yang aktif meriwayatkan hadits. Meskipun
masih banyak periwayat hadits yang berhati – hati dalam meriwayatkan hadits, kehati –
hatian pada masa itu sudah bukan lagi menjadi cirri khas yang paling menonjol, karena
meskipun pembakuan tatacara periwayatan telah ditetapkan. Luasnya wilayah Islam dan
kepentingan golongan memacu munculnya hadits – hadits palsu. Sejak timbul fitnah pada
akhir masa Utsman, umat Islam terpecah – pecah dan masing – masing lebih mengunggulkan
golongannya. Pemalsuan hadits mencapai puncaknya pada periode ketiga, yakni pada masa
kekhalifahan Daulah Umayyah.
Periwayatan yang dilakukan oleh kalangan tabi’in tidak begitu berbeda dengan yang
dilakukan oleh para sahabat, karena mereka mengikuti jejak para sahabat yang menjadi guru
mereka. Hanya persoalan yang dihadapi oleh kalangan tabi’in yang berbeda dengan yang
dihadapi para sahabat. Pada masa ini al-Quran sudah dikumpulkan pada satu mushaf dan para
sahabat ahli hadis telah menyebar kebeberapa wilayah kekuasaan islam. Sehingga para tabi’in
dapat mempelajari hadis dari mereka. Ketika pemerintahan dipegang oleh bani ummayah
perluasan wilayah kekuasaan berkembang pesat dan juga semakin meningkatnya penyebaran
para sahabat kedaerah-daerah tersebut. Sehingga pada masa ini dikenal dengan masa
penyebaran periwayatan hadis (intisyar Ar-Riwayah lla Al Amshar).terdapat beberapa kota
yang menjadi pusat pembinaan dalam periwayatan hadis sebagai tempat tujuan para tabi’in
dalam mencari hadis yaitu madinah Al-Munawarah, Mekah Al-mukaramah,kufah, basrah,
Syam, Mesir, magrib dan andalas, yaman dan khurasan. Pusat pembinaan pertama adealah
madinah karena di sinilah Rasullah SAW menetap dan hijrah serta membina masyarakat
islam
Diantara para sahabat yang membina hadis di mekah adalah sebagai berikut Mu’adz
bin jabal, Atab bin Asid, Haris bin Hisyam, Usman bin Thalhah, dan Uqbah bin Al-Haris.
Diantara para tabi’in yang muncul dari sini adalah mujahid bin Jabar, Ata’ bin Abi Rabah,
Tawus bin Kaisan, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas
Diantara para sahabat yang membina hadis di kufah ialah Ali bin Abi Thalib, Saad bin
Abi Waqas, dan Abdullah bin Mas’ud. Diantara para tabi’in yang muncul disini ialah Ar-
Rabi’ bin Qasim, Kamal bin Zaid An-Nakhai’, Said bin Zubair Al-Asadi, Amir bin Sarahil
Asy-Sya’ibi, Ibrahim Ankha’I, dan Abu Ishak As-Sa’bi
Diantara para sahabat yang membina hadis di Basrah ialah Anas bin Malik, Abdullah
bin Abbas, Imran bin Husain, Ma’qal bin Yasar, Abdurrahman bin Samrah, dan Abu said Al-
Anshari. Diantara para tabi’in yang muncul disini adalah Hasan Al-Basri, Muhammad bin
Sirrin, Ayub As-sakhyatani, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Aun, Khatadah bin Du’amah As-
sudusi, dan Hisyam bin Hasan
Diantara para sahabat yang membina hadis di Syam ialah Abu Ubaidah Al-Jarah,
Bilal bin Rabah, Ubadah Bin shamit, Mu’adz bin Jabal, Sa’ad bin Ubadah, Abu darda
Surahbil bin Hasanah, Khalid bin Walid, dan Iyad bin Ghanan. Para tabi’in yang muncul
disini ialah salim bin abdillah al-muharibi, Abu Idris Al-khaulani, Umar bin Hanna’
Diantara para sahabat yang membina hadis di mesir ialah Amr bin Al-as, Uqubah bin
Amr, Kharijah bin Huzafah, dan Abdullah bin Al-Haris. Para tabi’in yang muncul disini ialah
Amr bin Al-Haris, nKhair bin Nu’aimi Al-Hadrami, Yazid bin Abi Habib, Abdullah bin Jafar
dan Abdullah bin Sulaiman Ath-Thawil
Diantara para sahabat yang membina hadis di magrib dan andalus ialah Mas’ud bin
Al-Aswad Al-Balwi, Bilal bin haris bin asim Al-muzaid. Para tabi’in yang munc ul disini
adalah Ziyad bin An-Am Al-Mu’afil, Abdurrahman bin Ziyad, Yazid bin Abi Mansur, Al-
Mugirah bin Abi Burdah, Rifa’ah bin Ra’fi dan Muslim bin Yasar (Mudasir. 1999.95).
Diantara para sahabat yang membina hadis di Yaman adalah Muadz bin jabal dan
Abu Musa Al-Asy’an. Para tabi’in yang muncul disini diantaranya adalah Hammam bin
Munabah dan Wahab bin Munabah, Tawus dan Mamar bin Rasid (Mudasir. 1999.95).
Diantara para sahabat yang membina hadis di kharasan adalah Abdullah bin Qasim Al-
Aslami, dan Qasm biun sabit Al-Anshari, Ali bin Sabit Al-Anshari, Yahyab bin Sabih Al-
Mugari
Pergolakan politik yang terjadi pada masa sahabat yaitu setelah terjadinya perang
jamal dan perang suffin berakibat cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat
islam menjadi beberapa kelompok. Secara langsung ataupun tidak pergolakan politik tersebut
memberikan pengaruh terhadap perkembangan hadis berikutnya baik pengaruh yang bersifat
negative maupun yang bersifat positif. Pengaruh yang bersifat negative adalah munculnya
hadis-hadis palsu untuk mendukung kepentingan politik masing-masing kelompok dan untuk
menjatuhkan posisi lawannya. Pengaruh yang bersifat positif adalah terciptanya rencana dan
usaha yang mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadis sebagai upaya
penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan sebagai akibat dari pergolakan politik tersebut
C.Periode Kelima (Abad III Hijriah)
Periode ini disebut: Masa permurnian, penyehatan dan penyempurnaan.
Periode kelima ini dimulai sejak masa akhir pemerintahan dinasti Abbasiyah angkatan
pertama (Khalifah AI-Ma’mun) sampai awal pemerintahan dinasti Abbasiyah angkatan kedua
(Khalifah Al-Muqta¬dir).
a. Keadaan ummat islam pada periode ini
1. Pertikaian faham di kalangan Ulama
Sejak abad kedua hijry, telah lahir para mujtahid di bidang fiqh dan dibidang ilmu kalam.
Kehidupan ilmu pengetahuan Islam pada abad ini sangat pesat. Antara para mujtahid Islam,
sesungguhnya tidaklah ada masalah. Mereka saling menghormati dan menghargai pendapat-
penda¬pat yang timbul. Tetapi lain halnya di kalangan para murid dan pengikut-aya. Mereka
hanya baranggapan bahwa pendapat guru dan golongan¬nya saja yang benar. Sikap yang
demikian ini mengakibatkan timbul¬Rya bentrokan-bentrokan antara mereka, termasuk para
ulamanya.
Pada abad ketiga, bentrokan pendapat itu telah rnakin meruncing, baik antargolongan
mazhab fiqh, maupun antarrnazhab ilmu kalam. Ulama Hadits pada abad ketiga ini,
menghadapi kedua golongan tersebut.Terhadap pendukung madzhab fiqh yang fanatik,
Ulama Hadits harus menghadapinya, karena tidak sedikit di antara mereka berbeda pendapat
dalam memahami hukum Islam. Para pendukung madzhab fiqh yang fanatik buta, bila
pendapat mazhabnya berbeda dengan maz¬hab lainnya, maka di antara mereka tidak segan-
segan untuk membuat Hadits-hadits palsu dengan maksud selain untuk memperkuat argumen
mazhabnya, juga untuk menuduh lawan mazhabnya sebagai golongan yang sehat.
Golongan/mazhab ilmu kalam, khususnya kaum Mu’tazilah, sangat memusuhi Ulama
Hadits. Mereka (dari kaum Mu’tazilah) ini, sikapnya ingin memaksakan pendapatnya
membuat Hadits-hadits palsu.Pertentangan pendapat dari kalangan ulama Ilmu Kalam dan
Ulama Hadits ini sesungguhnya telah mulai lahir sejak abad II hijry. Tetapi karena pada masa
itu penguasa belum memberi angin kepada kaum Mu’tazilah, maka pertentangan pendapat itu
masih berada padati ketegangan-ketegangan antargolongan. Dan ketika pemerintah, pada
awal abad III hijry, dipegang oleh Khalifah Ma’mun yang pendapatnya sama dengan kaum
Mu’tazilah, khususnya tentang kemakhlukan AI¬Qur’an, maka Ulama Hadits bertambah
berat fitnah yang harus dihadaqpinya.
2. Sikap Penguasa terhadap Ulama Hadits
Khalifah Al-Makmun (wafat 218 H) merupakan khalifah yang sangat memperhatikan
terhadap ilmu pengetahuan. Beliau tekun mem¬pelajari AI-Qur’an, As-Sunnah dan Filsafat.
Beliau memiliki kecer¬dasan dan kecakapan dalam usaha memahami dan mengembangkan
ilmu pengetahuan. Diuridanglati para Ulama dari berbagai golongan untuk bermunadzarah
tentang masalah-masalah agama. Penerjemah¬kan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab,
sangat mendapat perha¬tian besar. Singkatnya, dalam masa pemerintahan Al-Makmun, Ilmu
pengetahuan berkembang pesat.
Tetapi di samping itu, dalam menghadapi pertentangan antara golongan Mu’tazilah
dengan ahli Hadits, khususnya tentang apakah Al¬Qur’an itu qadim atau hadits, Khalifah Al-
Makmun sefaham dengan kaum Mu’tazilah yang menyatakan bahwa AI-Qur’an itu hadits,
karena¬nya AI-Qur’an itu makhluk. Pendapat khalifah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an
itu makhluk, telah diumumkan secara meluas pada tahtin 212 hijry. Dan karena Ulama Hadits
tetap terhadap pendiriannya yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu qadim, maka khalifah,
demi prestasinya, lalu berupaya untuk menyiasati para ulama Hadits. Di antara Ulama Hadits
yang keras pendirian adalah Imam Ahmad bin Hambal. Karenanya, Imam Ahmad harus
mengalami nasib tragis. Beliau ter¬paksa dipenjarakan, karena tidak bersedia surut dari
pendapatnya.
Keadaan yang sangat tidak menguntungkan bagi Ulama Hadits ini, tetap berlanjut
pada masa khalifah AI-Mu’tashim (wafat 227 H) dan Al¬Watsiq (wafat tahun 232 H). Dan
Imam Ahmad, pada masa-masa pemerintahan ini, bukan sekedar dipenjarakan saja tetapi juga
disiksadan dirantai. Al-Watsiq pada akhir masa hidupnya, berubah pendirian dan mulai
cenderung kepada pendapat Ulama Hadits.
Pada waktu khalifah Al-Mutawakkil mulai memerintah (232 H), Ulama Hadits mulai
mendapat angin segar yang menyenangkan. Sebab, khalifah ini sangat cenderung kepada As-
Sunnah. Ulama Hadits sering dihadirkan di istana untuk menyampaikan dan menerangkan
Hadits-hadits Nabi. Karena demikian besarnya perhatiannya kepada Hadits Nabi, maka di
antara ulama Hadits ada yang mengatakan bahwa Al¬Mutawakkil adalah khalifah yang
menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. .
Kaum zindik yang pada dasarnya sangat memusuhi Islam, dalam masa pertentangan
antarmazhab fiqh dan mazhab ilmu kalam yang sedang menajam, telah mendapat kesempatan
yang baik sekali untuk meruntuhkan Islam. Mereka sengaja membuat Hadits-hadits palsu
untuk lebih mengeruhkan suasana dan menyesatkan umat. Sehingga karenanya, telah
menambah.sibuk ulama Hadits untuk menyelamatkan Hadits-hadits Nabi yang benar-benar
berasal dari Nabi.
Di samping itu, kaum muslimin yang gemar berceritra (tukang¬tukang kisah) juga
belum mau menghentikan kegemarannya untuk membuat Hadits-hadits palsu guna
tnetnperkuat dan memperindah daya pikat kisah-kisahnya. Dalam hal ini Ulama Had’rts juga
harus mengha¬dapinya, demi terpeliharanya Hadits-hadits Nabi dari usaha
percam¬puradukan dengan Hadits-hadits palsu yang telah dibuat oleh ahli-ahli kisah tersebut.

b. Kegiatan ulama hadits dalam melestarikan hadits-hadits


Dalam menghadapi keadaan seperti tersebut di atas, maka kegiatan Ulama Hadits
dalam usaha melestarikan Hadits-hadits Nabi secara garis besar ada lima macam kegiatan
yang penting. Yakni:
 Mengadakan perlawatan ke daerah-daerah yang jauh.
Kegiatan ini ditempuh, karena Hadits-hadits Nabi yang telah dibu¬kukan oleh
Ulama Hadits pada periode keempat (abad II H) baru terbatas pada Hadits-hadits
Nabi yang ada di kota-kota tertentu saja. Pada hal dengan telah menyebarnya para
perawi H. dits ke tempat¬ tempat yang j auh, karena daulah Islamiyyah telah makin
meluas dae¬rahnya, maka masih sangat banyak Hadits-hadits Nabi yang belum
dibukukan. Oleh karenanya, jalan yang harus ditempuh untuk menghimpun Hadits-
hadits yang berada pada perawi yang terbesar itu, adalah dengan cara melawat untuk
mengunjungi para perawi Hadits.
Usaha perlawatan untuk mencari Hadits Nabi ini, telah dipelopori oleh Imam
Bukhari. Beliau selama 16 tahun telali melawat ke kota Mekkah, Madinah, Bagdad,
Basrhah, Kuffah, Mesir, Damsyik, Nai¬sabur, dan lain-lain. Kemudian diikuti oleh
Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa’iy dan Iain-lain.

 Sejak permulaan abad III H


Ulama Hadits telah mengadakan klasi¬fikasi antara Hadits-hadits yang marfu’
(yang disadarkari kepada Nabi), yang mauquf (yang disandarkan kepada sahabat)
dan yang maqthu’ (yang disandarkan pada tabi’in). Kitab-kitab musnad telah sangat
berjasa dalam hal ini, sebab telah menghimpun Hadits-hadits Nabi berdasarkan
nama Sahabat yang mer’rwayatkannya, sehingga dengan demikian Hadits-hadits
Nabi terpelihara dari pencampur¬adukan dengan fatwa-fatwa Sahabat dan Tabi’in.
Adapun klasifikasi Hadits kepada kualitas Shahih atau Dha’if, pada permulaan
abadini, belum dilakukan.

 Pada pertengahan abad III H


Mulailah Ulama Hadits mengadakan seleksi kualitas Hadits kepada shahih dan
Dahif. Ulama yang mem¬pelopori usaha ini adalah Ishaq Ibnu Rahawaih, kemudian
diikuti oleh Bukhari, Muslim dan dilanjutkan oleh Abu Daud, Turmudzi, Nasa’iy,
Ibnu Majah dan’lain-lain.
Sebelum zaman Imam Turmudzi, kualitas Hadits hanya dikenal ada dua macam saja,
yakni: Shahih dan Dha’if. Dan sejak zaman Imam Turmudzi, barulah dikenal
kualitas Hadits itu kepada tiga macam, yakni: Shahih, Hasan dan Dha’if. Demikian
pendapat Ibnu Tai¬miyah.

 Menghimpun segala kritik yang telah dilontarkan oleh ahli ilmu kalam dan lain-lain,
baik kritik yang ditujukan kepada pribadi-pri¬badi perawi Hadits maupun yang
ditujukan kepada matan-matan Hadits
Segala kritik itu kemudian dibantah satu per satu dengan argumentasi ilmiah,
sehingga dengan demikian terpeliharalah para perawi dan matan Hadits dari
tuduhan-tuduhan yang tidak benar. Di antara Ulama Hadits yang telah menyusun
kitab yang berisi pem¬bahasan demikian ini, adalah Ibnu Qataibah. Judul kitabnya;
Ta’wilu Mukhtalifil Hadits fir Raddi ‘ala ‘ada’ilil Hadits.

 Bentuk Penyusunan Kitab Hadits pada periode Kelima (abad II - Hijry)


Sistem pendewanan Hadits pada periode ini dapat diklasifir pada tiga bentuk. Yakni
bentuk penyusunan:
1. Kitab Shahih
Yaitu kitab Hadits yang disusun oleh penyusunnya dengan cara meng himpun Hadits-
hadits yang berkualitas Shahih, sedang Hadits-hadits yang berkualitas tidak Shahih, tidak
dimasukkan.
Bentuk .penyusunan kitab Shahih, termasuk bentuk mushanaf. Materi Hadits yang
dihimpun, selain masalah hukum juga masalah aqi¬dah, akhlaq, sejarah clan tafsir.
Contoh:
a) Al-Jami’us Shahih, susunan Imam Bukhari. Kitab ini lebih dikenal dengan nama
Shahih Bukhari.
b) Al-Jami’us Shahih, susunan Imam Muslim. Kemudian lebih dikenal dengan nama
Shahih Muslim.
2. Kitab Sunan
Yakni kitab Hadits yang oleh penyusunnya, selain dimasukkan dalam kategori Hadits-
hadits yang berkualitas Shahih, juga dimasukkan yang berkualitas Dha’if dengan syarat
tidak berkualitas mungkar clan tidak ter¬lalu lemah. Maka untuk Hadits yang berkualitas
Dha’if, biasanya oleh 4 penyusunnya diterangkan kedha’ifannya.
Bentuk penyusunan Kitab Sunan, termasuk bentuk mushannaf. Materi Hadits yang
dihimpun, hanya terbatas pada masalah fiqh (hukum) dan semacamnya.
Contoh:
1. As-Sunan, susunan Imam Abu Daud.
2. As-Sunan, susunan Imam At-Turmudzi.
3. As-Sunan, susunan Imam An-Nasa’iy.
4. As-Sunan, susunan Imam Ibnu Maj ah.
5. As-Sunan, susunan Imam Ad-Darimy.
3. Kitab Musnad
Yakni kitab Hadits yang oleh penyusunn.ya dihimpun seluruh Hadits yang diterimanya,
dengan bentuk susunan berdasar nama perawi perta¬ma. Urutan nama perawi pertama,
ada yang berdasarkan menurut tertib kabilah, misalnya dengan mendahulukan Bani
Hasyim, ada yang berda¬sar nama Sahabat menurut urutan waktu dalam memeluk agama
Islam, ada yang dalam bentuk urutan lain.
Hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Musnad, tidak dijelaskan kualitasnya.
Contoh:
1. Musnad, susunan Imam Ahmad bin Hambal:
2. Musnad, susunan Imam Abul Qasim Al-Baghawy.
3. Musnad, susunan Imam Utsman bin Abi Syaibah.

c. Kitab-kitab standar
Karena demikian banyaknya kitab-kitab H.adits yang disusun oleh Ulama sejak
permulaan pendewaan Hadits sampai pada abad III ini, dan pula dengan mempertimbangkan
kualitas, serta banyaknya Ulama Hadits yang memberikan perhatian khusus kepada kitab-
kitab Hadits tertentu, maka Ulama Muta’akhirin lalu -menetapkan beberapa kitab Hadits
sebagai kitab-kitab pokok atau kitab standar.

 Kitab Standar yang Lima (AI-Kutubul Khamsah)

Ulama sepakat, ada lima buah kitab Hadits yang dinyatakan sebagai kitab standar (kitab
pokok) yang biasa disebut dengan Al-Kutubul Khamsah atau Al-Ushulul Khamsah. Yakni:
1. Kitab Shahih Bukhari.
2. Kitab Shahih Muslim.
3. Kitab Sunan Abi Daud.
4. KitabSunanTurmudzi.
5. Kitab Sunan Nasa’iy.

 Kitab Standar yang Enam (Al-Kutubus Sittah)

Ada sebuah kitab Hadits lagi yang oleh Ulama dimasukkan juga seba¬gai kitab standar dalam
urutan yang keenam. Dengan demikian, seluruh kitab standar itu ada enam buah. Yakni, lima
kitab standar sebagaimana tersebut dalam AI-Kutubul Khamsah kemudian ditambah satu
kitab lagi sehingga menjadi Al-Kutubus Sittah.
Ulama tidak sependapat tentang nama kitab standar yang menempati urutan yang keenam ini.
a. Menurut pendapat Ibnu Thahir Al-Maqdisy adalah: Sunan Ibnu Majah susunan Imam Ibnu
Majah.
b. Menurut pendapat Ibnu Atsir dan lain-lain, adalah: Al-Muwattha’, susunan Imam Malik.
c. Menurut pendapat Ibnu Hajar Al-Asqallany adalah: Sunan Ad¬Darimy, susunan Imam Ad-
Darimy.
d. Menurut Ahmad Muhammad Syakir, adalah: AI-Muntaqa, susunan Ibnu Jarud.
3. Kitab Standar yang Tujuh (AI-Kutubus Sab’ah)
Di antara Ulama ada yang menambah lagi sebuah nama kitab Hadits sebagai kitab pokok
(standar). Sehingga dengan demikian, kitab standar tersebut jumlahnya menjadi tujuh buah.
Dan oleh karenanya, dinyata¬kan dengan nama AI-Kutubus Sab’ah (Kitab Pokok/Standar
yang tujuh).
Kitab Hadits yang ditetapkan sebagai nomor urut yang ketujuh dalam kitab standar tersebut,
menurut sebagian Ulama adalah: Musnad Ahmad, susunan Ahmad bin Hambal.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat kami petik dari makalah ini yaitu Periode kelima ini dimulai sejak
masa akhir pemerintahan dinasti Abbasiyah angkatan pertama (Khalifah AI-Ma’mun) sampai
awal pemerintahan dinasti Abbasiyah angkatan kedua (Khalifah Al-Muqta¬dir). Pada periode
ini hadis juga mengalami pasang surut seperti pada periode-periode sebelumnya, namun hal
itu dapat menjadi batu loncatan bagi seluruh ahli hadis untuk terus mengembangkan hadis
pada masa ini.

B. SARAN
Saran kami yaitu agar pembaca dapat menerima makalah kami sehingga para pembaca dapat
lebih mengetahui perkembangan hadis pada periode kelima