Anda di halaman 1dari 6

Idea Nursing Journal Vol. V No.

1 2014
ISSN : 2087 – 2879

KARAKTERISTIK SPIRITUAL PADA LANJUT USIA DI UNIT PELAKSANA


TEKNIS DINAS (UPTD) RUMOH SEUJAHTRA GEUNASEH SAYANG
BANDA ACEH TAHUN 2013

Overview Spiritual Characteristics In Elderly In UPTD Rumoh Seujahtra


Geunaseh Sayang Banda Aceh Year 2013

Ibrahim1
1
Bidang Keilmuan Keperawatan Gerontik Fakultas Keperawatan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
E-mail: ibrahim.laweung@yahoo.com

ABSTRAK
Lansia merupakan masa dimana kondisi fisik mulai menurun dan tidak produktif lagi. Salah satunya banyak
dari mereka yang gagal menangkap isi pembicaraan orang lain sehingga mudah menimbulkan perasaan
tersinggung, tidak dihargai, dan kurang percaya diri. Spiritual bagi lansia menjadi penting sebagai kualitas
dasar dalam membina hubungan lansia dengan Tuhan, alam, dan sesama untuk mempersiapkan diri
menghadapi saat-saat akhir kehidupan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik
spiritual pada lanjut usia di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Banda
Aceh Tahun 2013. Desain penelitian menggunakan deskriptif eksploratif dan menggunakan teknik
pengambilan sampel purposive sampling. Populasi sejumlah 70 lansia dengan jumlah responden 54 orang,
alat pengumpulan data yang digunakan yaitu kuesioner dengan teknik wawancara. Metode analisis data
menggunakan analisa univariat. Waktu pengumpulan data 03-08 Juli 2013. Hasil penelitian didapat
karakteristik spiritual pada lanjut usia berada pada kategori baik yaitu sebanyak 33 orang (61%), hubungan
dengan Tuhan berada pada kategori baik yaitu sebanyak 30 orang (56%), hubungan dengan diri sendiri
berada pada kategori baik yaitu sebanyak 38 orang (70%), hubungan dengan orang lain berada pada kategori
kurang yaitu sebanyak 32 orang (59%), dan hubungan dengan alam berada pada kategori baik yaitu sebanyak
34 orang (63%). Diharapkan kepada pihak pengurus UPTD untuk meningkatkan motivasi lansia mengikuti
kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, pengajian rutin, maupun ceramah keagamaan.

Kata kunci: Spiritual, lansia.

ABSTRACT
Elderly is a period where the physical condition began to decline and no longer productive. One of which
many of those who failed to capture the contents of other people’s conversations so easily lead to feelings or
irritability, not appreciated, and lack of confidence. Be important for the elderly spiritual as the basis of the
quality of the elderly relationship with god, nature, and fellow to prepare for the moment when the end of
life. The purpose of this study to describe the characterictics of the spiritual in elderly in UPTD Rumoh
Seujahtra Geunaseh Sayang Banda Aceh in 2013. The study design is a descriptive exploratory, population
number of 70 elderly and the sampling technique using purposive sampling of 54 respondents. The
instrument of data collection used was a questionnaire with guided interview method. The data were
analysed using univariate analysis. Data collection time 3-8 July 2013. From the results of the univariate
analysis are known spiritual characteristics of the elderly are in either category as many as 33 people (61%),
relationship with God is in both categories as many as 30 people (56%), relationship with yourself is in both
category as many as 38 people (70%), relationship with others in the category that is less than 32 people
(59%), relationship with nature is in the good category as many as 34 people (63%). Based on the results of
the study are expected to UPTD Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Banda Aceh to be more motivated
elderly to attend religious activities such as prayer in congregation, routine recitation, and religious
lectures.

Keywords: Spiritual, elderly.

PENDAHULUAN horizontal mewakili hubungan dengan orang


Spiritualitas adalah konsep dua lain. Spiritual adalah hubungan transenden
dimensi dengan dimensi vertikal dan antara manusia dengan yang Maha Tinggi,
horizontal. Dimensi vertikal mewakili sebuah kualitas yang berjalan diluar afiliasi
hubungan dengan Tuhan, dan dimensi agama tertentu, yang berjuang keras untuk
mendapatkan penghormatan, kekaguman,

58  
 
Idea Nursing Journal Vol. V No. 1 2014
ISSN : 2087 – 2879

dan inspirasi, dan yang memberi jawaban Laju perkembangan kesehatan di


tentang sesuatu yang tidak terbatas. Indonesia salah satunya dicerminkan dari
Spiritualitas digambarkan sebagai sumber peningkatan lanjut usia. Darmojo (2002)
kekuatan dan harapan (Stanley, 2006). mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk
Kebutuhan spiritual merupakan lansia di Indonesia tercatat sebagai paling
kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan pesat di dunia dalam kurun waktu tahun
hidup, kebutuhan untuk mencintai dan 1990-2025. Jumlah lansia yang kini sekitar
dicintai serta rasa keterikatan, kebutuhan 16 juta orang, akan menjadi 25,5 juta pada
untuk memberikan dan mendapatkan maaf. tahun 2020, atau sebesar 11,37 persen dari
Dimensi spiritual ini berupaya untuk jumlah penduduk. Kenaikan pesat itu
mempertahankan keharmonisan atau berkaitan dengan usia harapan hidup
keselarasan dengan dunia luar, berjuang penduduk Indonesia. Usia 60 tahun di
untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan Indonesia merupakan indikasi seseorang
ketika sedang menghadapi stress emosional, memasuki masa lanjut usia (lansia)
penyakit fisik atau kematian (Hamid, 2000). (Kompas, 2012).
Tanpa memandang ras, warna, asal Negara, Meningkatnya usia harapan hidup
jenis kelamin, usia, atau disabilitas, masyarakat Indonesia, membawa
spiritualitas merupakan kualitas dasar konsekuensi pada meningkatnya populasi
manusia, yang dialami oleh lansia dari lanjut usia dari tahun ke tahun, sehingga
semua keyakinan dan bahkan oleh orang- menimbulkan kebutuhan pelayanan sosial
orang yang tidak berkeyakinan. Spiritualitas bagi lanjut usia dalam mengisi hari tuanya
mengatasi kehilangan yang terjadi sepanjang (Depsos, 2007). Berdasarkan data dari Dinas
hidup dengan harapan. Spiritualitas bagi Kesehatan kota Banda Aceh, menerangkan
para lansia menjadi sangat penting karena bahwa jumlah lansia yang ada di Kota
sebagai usaha mempersiapkan para lansia Banda Aceh pada tahun 2012 berjumlah
dalam menghadapi saat-saat akhir. Pada 2729 orang.
masa ini, manusia sudah tidak produktif lagi, Keberhasilan pembangunan di
kondisi fisik sudah menurun, sehingga Indonesia telah mencapai tahapan “survival
berbagai penyakit siap menggerogoti of life“, maka diharapkan pada tahapan
mereka. Dengan demikian, pada usia ini mendatang adalah pencapaian pada “quality
muncul semacam pemikiran bahwa mereka of life“ termasuk bagi lanjut usia.
berada pada sisa-sisa umur menunggu Permasalahannya adalah bagaimana upaya
datangnya kematian. Sehingga cenderung untuk tidak hanya aspek fisik sehat dan
mendekatkan diri pada Sang pencipta, dan sosial ekonomi berkecukupan, tetapi juga
berusaha memperbanyak amal ibadah, agar memperoleh “Rasa Sejahtera“ (well being).
lebih siap menghadapi kematian (Stanley, Rasa sejahtera ini berkaitan dengan taraf
2006). kesehatan dan pemenuhan spiritual (ke-
Menjadi tua umumnya dipandang agamaan) lanjut usia. Dari berbagai
sebagai proses perubahan yang berlangsung penelitian yang telah dijalankan,
sepanjang hidup. Sehingga usia tua membuktikan bahwa komitmen agama
merupakan periode penutup dalam rentang seseorang dapat dijadikan ukuran prediksi
kehidupan seseorang, yaitu suatu periode terhadap usia, dengan kata lain: bahwa orang
dimana manusia telah beranjak jauh dari yang religius umurnya lebih panjang
kehidupannya yang dahulu (Monks, 2002). dibandingkan dengan yang non religius
Menurut Undang-Undang No.13 Tahun (Depsos, 2007).
1998 tentang kesejahteraan lanjut usia Berdasarkan kegiatan spiritual,
menyatakan bahwa lanjut usia adalah kondisi lanjut usia meliputi dua hal yaitu
seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun mengenai ibadah agama dan kegiatan
ke atas. Sementara itu WHO mengatakan didalam organisasi sosial keagamaan. Dalam
bahwa lanjut usia meliputi usia pertengahan hal ini kehidupan spiritual mempunyai
yaitu kelompok usia 45-59 tahun (Nugroho, peranan penting, seseorang yang mensyukuri
1999) dan mengidentikasikan lanjut usia nikmat umurnya tentu akan memelihara
sebagai kelompok masyarakat yang mudah umurnya dan mengisinya dengan hal-hal
terserang kemunduran fisik dan mental yang bermanfaat (Depsos, 2007).
(Watson, 2003).

59
Idea Nursing Journal Ibrahim
ISSN : 2087 – 2879

Adapun penelitian terkait oleh Akbar jarang atau hanya sesekali mengikutinya dan
(2012) tentang pemenuhan kebutuhan bahkan ada yang tidak tahu pengajian rutin
spiritual pada lansia di desa lamdom Banda diadakan setiap harinya, dan 2 diantaranya
Aceh menunjukkan bahwa sebagian besar karena tidak mampu beraktivitas. Padahal
berada pada kategori baik (51%), namun para lansia di undang untuk selalu
ditinjau dari hubungan dengan alam berada menghadiri kegiatan rutin pengajian setiap
pada kategori kurang (56,9%). Dalam hal harinya, kecuali lansia yang tidak mampu
ini, perlu peran serta keluarga dalam beraktivitas lagi.
meningkatkan tingkat spiritual lansia dengan Kegiatan pengajian dilakukan untuk
mengajak lansia berekreasi, menikmati memenuhi kebutuhan spiritual lansia dengan
keindahan alam dan terus melestarikannya. selalu mengingat Tuhan Pencipta, memberi
Namun bagaimana bila lansia tidak tinggal kekuatan dan harapan bagi lansia, serta
bersama keluarga, melainkan dipanti sosial terjalinnya silaturrahmi yang harmonis antar
yang dihuni oleh para lansia dari daerah lansia. Beberapa lansia sangat antusias
yang berbeda-beda dan terpisah dari mengikuti kegiatan, namun lebih banyak
keluarga. juga lansia yang hanya tidur dan bersantai di
Panti sosial atau panti werdha paviliun mereka khususnya lansia pria.
awalnya merupakan tempat bagi lansia yang Hubungan antar lansia pun terjalin
terlantar dan miskin, serta bagi lansia yang sekedarnya saja, sehingga kegiatan gotong
tidak memiliki keluarga lagi. Namun royong seperti terabaikan. Hal ini juga
tuntutan profesi atau pekerjaan menyita terlihat dari sepinya musholla dari aktivitas
hampir semua waktu keluarga sehingga shalat berjamaah dan pengajian, yang hanya
tidak lagi mempunyai kesempatan untuk dihadiri oleh beberapa lansia saja.
memberikan perhatian dan perawatan Dari hasil uraian di atas, peneliti
kepada orang tuanya. Orang tua yang tertarik untuk meneliti bagaimana
memasuki masa lanjut usia semakin karakteristik spiritual lansia, disaat tidak ada
terabaikan secara sosial, budaya, dan keluarga maupun kerabat di sekitar mereka.
psikologis. Mereka menjadi tereliminasi, Disana hanya ada teman sesama lansia yang
merasa kesepian dan terlantar dalam rumah. menemani sampai kematian tiba. Karena
ketika fenomena ini semakin menguat dan keharmonisan dan kenyamanan ada bila
mengarah yang lebih ekstrim, maka lansia mengerti akan hubungan yang terjalin
seyogyanya diperlukan sebuah institusi yang diantara mereka.
akan menjalankan atau mengambil alih Adapun tujuan penelitian ini Untuk
fungsi-fungsi yang telah diabaikan oleh mengidentifikasi gambaran karakteristik
keluarga. Dalam hal ini panti sosial spiritual pada lanjut usia Di Unit Pelaksana
merupakan salah satunya. Teknis Dinas (UPTD) Rumoh Seujahtra
Beberapa penelitian mengemukakan Geunaseh Sayang Banda Aceh
bahwa berbagai cara dilakukan untuk
mengantisipasi dan meminimalkan METODE
kecemasan, antara lain melalui obat-obatan, Penelitian ini adalah menggunakan
meditasi, relaksasi dan spiritual (Bensing, desain deskriptif eksploratif yang bertujuan
2000; Hart, 2002). Menurut Roper (2002), untuk menjelaskan atau mengidentifikasi
spiritual dapat menjadi medikasi terapeutik karakteristik spiritual pada lanjut usia di
tanpa memandang agama, ras, dan warna Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
kulit, misalnya dalam meningkatkan koping, Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Banda
dukungan sosial, optimisme dan harapan, Aceh.
mengurangi depresi dan kecemasan, serta Keseluruhan populasi dalam
mendukung perasaan relaksasi. penelitian ini adalah semua lansia di Unit
Berdasarkan hasil wawancara peneliti Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Rumoh
dengan beberapa lansia di UPTD Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Banda Aceh
Seujahtra Geunaseh Sayang pada tanggal 29 yang berjumlah 70 orang. Teknik
Maret 2013, didapatkan dari 10 lansia 3 pengambilan sampel pada penelitian ini
diantaranya mengatakan selalu mengikuti menggunakan jenis purposive sampling,
kegiatan keagamaan yang diadakan pihak yaitu sampel dipilih berdasarkan ciri atau
panti, namun 5 diantaranya mengatakan kriteria yang sudah diketahui sebelumnya.

60
Idea Nursing Journal Vol. V No. 1 2014
ISSN : 2087 – 2879

Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah Tabel 2. Distribusi Gambaran Karakteristik
semua lansia yang tinggal di Unit Pelaksana Spiritual Pada Lanjut Usia Ditinjau Dari
Teknis Dinas (UPTD) Rumoh Seujahtra Hubungan Dengan Tuhan, Diri Sendiri, Orang
Geunaseh Sayang Banda Aceh dan Lain, dan Alam Di Unit Pelaksana Teknis Dinas
(UPTD) Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang
memenuhi kriteria sampel yang telah
Banda Aceh Tahun 2013
ditetapkan yaitu berjumlah 54 orang. Hubungan
No Frekuensi Persentase
Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini Dengan Tuhan
adalah lansia yang tinggal di UPTD Rumoh 1 Baik 30 56
2 Kurang 24 44
Seujahtra Geunaseh Sayang, tidak menderita Total 54 100
gangguan jiwa atau demensia, lansia yang Hubungan
berada di tempat penelitian saat penelitian No Dengan Diri Frekuensi Persentase
Sendiri
ini berlangsung, lansia yang bersedia 1 Baik 38 70
menjadi responden. 2 Kurang 16 30
Total 54 100
Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Hubungan
Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Banda No Dengan Orang Frekuensi Persentase
Aceh. Pengumpulan data penelitian Lain
1 Baik 22 41
dilaksanakan pada tanggal 03 Juli tahun 2 Kurang 32 59
2013 sampai dengan 08 Juli 2013. Total 54 100
Hubungan
No Frekuensi Persentase
Dengan Alam
HASIL 1 Baik 34 63
Data Demografi 2 Kurang 20 37
Total 54 100
Distribusi data demografi responden Karakteristik
dapat dilihat pada Tabel dibawah ini: No Spiritual Pada Frekuensi Persentase
Usia Lanjut
1 Baik 33 61
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Data 2 Kurang 21 39
Demografi Di Unit Pelaksana Teknis Dinas Total 54 100
(UPTD) Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang
Banda Aceh Tahun 2013 Secara umum hasil penelitian
No Data Umur Frekuensi Persentase
45-59 tahun (usia
gambaran karakteristik spiritual pada lanjut
1 5 9
pertengahan) usia pada kategori baik bila responden dapat
60-74 tahun memperoleh nilai x ≥ 62.9 dan kategori
2 39 72
(lanjut usia)
75-90 tahun kurang bila responden memperoleh nilai x <
3 9 17
(lanjut usia tua) 62.9. Berdasarkan tabel didapatkan bahwa
di atas 90 tahun
4
(usia sangat tua)
1 2 distribusi karakteristik spiritual pada lanjut
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase usia berada pada kategori baik yaitu
1 Laki-laki 18 33 sejumlah 33 orang (61%).
2 Perempuan 36 67
No Status Frekuensi Persentase
1 Kawin 1 2 DISKUSI
2 Tidak Kawin 53 98 Secara umum gambaran karakteristik
3 Janda/Duda
No Pendidikan Frekuensi Persentase spiritual pada lanjut usia di Unit Pelaksana
1 Tidak sekolah 15 28 Teknis Dinas (UPTD) Rumoh Seujahtra
2 SD/SR/MIN 32 59
3 SMP 5 9
Geunaseh Sayang Banda Aceh berada pada
4 SMA 1 2 kategori baik yaitu sejumlah 30 orang
5 Diploma 1 2 (56%). Keadaan ini menunjukkan bahwa
Total 54 100
kemampuan lansia dalam pemenuhan
kebutuhan spiritual sudah baik.
Karakteristik spiritual pada lanjut usia
Gambaran Karakteristik Spiritual Pada
yang baik ini tergambar dari beberapa item
Lanjut Usia Ditinjau Dari Hubungan
pernyataan penelitian yang terjawab dengan
Dengan Tuhan, Diri Sendiri, Orang Lain,
baik oleh para lanjut usia di UPTD Rumoh
dan Alam
Seujahtra Geunaseh Sayang Banda Aceh.
Hasil penelitian terhadap karakteristik
Item pernyataan ini diantaranya ditinjau dari
spiritual ditinjau dari hubungan dengan hubungan dengan Tuhan sejumlah 31 orang
Tuhan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: (57,4%) lansia selalu mengikuti pengajian
rutin yang diadakan di panti, sejumlah 23

61
Idea Nursing Journal Ibrahim
ISSN : 2087 – 2879

orang (42,6%) lansia sering shalat tim yang solid, dan para lansia yang dengan
berjamaah di musholla bersama teman- sadar mau mengikuti kegiatan-kegiatan yang
teman lansia, sejumlah 52 orang (96,3%) ada di panti. Sedangkan faktor pendukung
lansia percaya bahwa pasti akan ada eksternal antara lain kunjungan dari berbagai
kemudahan bila lansia menyerahkan organisasi untuk studi banding atau sekedar
semuanya pada Tuhan. silaturrahmi, dan pelaksanaan praktek bagi
Bila ditinjau dari hubungan dengan mahasiswa kesehatan dari berbagai sekolah
diri sendiri sejumlah 40 orang (74,1%) tinggi kesehatan.
lansia percaya bahwa hari tua mereka
menjadi bahagia walaupun keluarga tidak KESIMPULAN DAN SARAN
bersama mereka, sejumlah 44 orang (81,5%) Kesimpulan
lansia menyadari kekurangan yang ada pada Berdasarkan hasil penelitian yang
diri sehingga dapat menjadi acuan bagi telah peneliti lakukan maka dapat
lansia untuk mengintrospeksi diri ke arah disimpulkan hasil dari penelitian bahwa
yang lebih baik, sejumlah 50 orang (92,6%) Gambaran karakteristik spiritual pada lanjut
lansia meyakini akan ada hikmah dari suatu usia di Unit pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
kejadian atau penderitaan yang pernah Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Banda
mereka rasakan, sejumlah 49 orang (90,7%) Aceh Tahun 2013 berada pada kategori baik
lansia percaya bahwa keluarga masie selalu yaitu sejumlah 33 orang (61%).
mencintai mereka. Ditinjau dari hubungan dengan Tuhan
Bila ditinjau dari hubungan dengan berada pada kategori baik yaitu sejumlah 30
orang lain sejumlah 45 orang (83,3%) lansia orang (56%). Ditinjau dari hubungan dengan
pernah berkomunikasi dengan teman di diri sendiri berada pada kategori baik yaitu
panti, dan sejumlah 49 orang (90,7%) lansia sejumlah 38 orang (70%). Ditinjau dari
sering membantu teman yang sedang hubungan dengan orang lain berada pada
mengalami musibah. Kemudian bila ditinjau kategori kurang yaitu sejumlah 32 orang
dari hubungan dengan alam sejumlah 20 (59%). Dan ditinjau dari hubungan dengan
orang (37%) lansia memilih selalu alam berada pada kategori baik yaitu
merapikan tempat tidur mereka sendiri, sejumlah 34 orang (63%).  
sejumlah 37 orang (68,5%) lansia selalu
aktif mengikuti kegiatan gotong royong, dan Saran
sejumlah 28 orang (51,9%) lansia merasa Diharapkan kepada petugas UPTD
nyaman bila lingkungan yang ada disekitar Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang untuk
mereka bersih dan rapi. terus memperhatikan kebutuhan lansia.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan Meningkatkan motivasi lansia yang dapat
bahwa para lansia mengerti dengan baik memberikan semangat baru kepada lansia
karakteristik spiritual yang ada. Mereka juga dalam menjalankan ibadah mereka dan terus
memahami bahwa mereka ada di panti sosial melakukan pembinaan lansia melalui
bukan disebabkan oleh keterasingan dari pengajian rutin, ditambah adanya zikir
lingkungan keluarga dan masyarakat tempat bersama, dan adanya kegiatan gotong
mereka tinggal, melainkan keinginan dari royong agar lansia dapat saling bekerja sama
diri lansia untuk lebih mendekatkan diri dan berinteraksi menciptakan silaturrahmi
kepada Tuhan melalui penyerahan diri. yang harmonis.
Lansia merasa panti sosial merupakan
tempat yang nyaman untuk beribadah dan KEPUSTAKAAN
menyerahkan diri kepada Tuhan. Akbar, M. (2012). Pemenuhan Kebutuhan
Dalam hal ini faktor pendukung untuk Spiritual Pada Lansia di Desa
terus meningkatkan kesejahteraan lansia Lamdom Banda Aceh: Banda Aceh.
dalam pemenuhan kebutuhan spiritual makin
diperlukan. Dalam penelitian oleh Depsos. (2007). Konsekuensi peningkatan
Mahayyun (2008) disebutkan faktor populasi lansia dari tahun ke tahun.
pendukung dalam pelaksanaan pembinaan Dikutip
spiritual keagamaan lansia terbagi menjadi dari:http://www.depsos.go.id/modul
faktor internal dan eksternal. Yang termasuk es.php?name=News&File=article&sid
faktor pendukung internal yaitu kerja sama =774.

62
Idea Nursing Journal Vol. V No. 1 2014
ISSN : 2087 – 2879

Hamid, A. Y. (2000). Buku ajar aspek


spiritual dalam keperawatan. Jakarta:
CV. Sagung Seto.

Hart, J. A. (2002). Spirituality and palliative


care. Dikutip dari: http://cancer-
research.umaryland.edu/spirituality.ht
m

Kompas. (2012). Profil penduduk lanjut


usia. Jakarta: Komisi Nasional Lanjut
Usia. 2010.
Mahayyun, S. I. 2008. Pelaksanaan
pembinaan keagamaan para lansia
muslim dipanti sosial tresna werdha
Yogyakarta unit budi luhur kasihani:
Yogyakarta.

Monks, dkk. (2002). Psikologi


perkembangan pengantar dalam
berbagai bagiannya. Yogyakarta:
Grafindo Persada.

Roper, N. (2002). Prinsip-Prinsip


Keperawatan. Yogyakarta: Essentia
Medika.

Stanley, M. P. (2006). Buku Ajar


Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.

Watson, R. (2003). Perawatan pada lansia.


Jakarta: EGC.

63