Anda di halaman 1dari 38

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya


Institut Teknologi Sepuluh Nopember

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Lembar Pengesahan...................................................................................i
Kata Pengantar...........................................................................................ii
Daftar Isi....................................................................................................iii
BAB I. Perhitungan Tahanan Kapal..........................................................3
BAB II. Pemilihan dan Pembuatan Gambar Propeller..............................6
BAB III. Perencanaan Perlengkapan Poros Propeller...............................14
BAB IV. Perencanaan Stern Tube.............................................................24
Daftar Pustaka............................................................................................27

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 1
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lembar Pengesahan

TUGAS GAMBAR
PROPELER DAN STERNTUBE

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir.MM. Eko,ST.MT. Edy Hariyono, ST


Nip. 131 615 415 Nip.132303135

Mahasiswa :

Armando Tri Novian


Nrp.6309030003

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMESINAN KAPAL


JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2011

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 2
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatnyalah penyusun dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Tugas Propeller dan Sistem Perporosan ini. Tidak sedikit
kendala yang menghadang penyusun dalam menyelesaikan tugasnya, namun dengan kasih
sayang-Nyalah penyusun dapat menyelesaikan salah satu mata kuliah yang berada di
Jurusan Teknik Permesinan Kapal PPNS – ITS ini.
Mata kuliah ini merupakan persyaratan untuk menyelesaikan studi tingkat
Diploma Tiga pada jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri
Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Penyusun mengakui, bahwa laporan ini masih sangat jauh dari sempurna, semua
karena keterbatasan waktu dan pengetahuan serta kemampuan penyusun sebagai manusia
biasa. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari segala
pihak demi kesempurnaan laporan dan gambar tugas propeller dan sistem perporosan.
Amin.

Surabaya, 2011

Penulis

Armando Tri Novian


Nrp.6309030003

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 3
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

TUGAS PROPELLER DAN SISTEM PERPOROSAN

Nama : Armando Tri Novian

NRP : 6309030003

DATA KAPAL

Nama Kapal : KM. GANDU


Type : GENERAL CARGO

Muatan : Beras
Daerah pelayaran : Surabaya - Batam
Radius pelayaran : 823 mil
Jumlah crew : 20 orang
DWT : 2080.964 ton

Ukuran utama :
Lwl : 70.72 m
Lpp : 68 m
B : 12 m
H : 7.2 m
T :6 m
Cp : 0.64
Cb : 0.622
Cm : 0.985
Vs : 13 knot
Rute Pelayaran : ± 823 (Surabaya – Batam )
Jenis Pelumasan : Air

Mahasiswa Dosen Pembimbing

Armando Tri Novian Ir.MM Eko, ST.MT


NRP. 6309030005 Nip. 131 615 415

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 4
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB I
PERHITUNGAN TAHANAN KAPAL DAN
PEMILIHAN MESIN INDUK

1. 1. UKURAN UTAMA KAPAL


1. Nama : KM. GANDU
2. Type : GENERAL CARGO
3. Dimensi Utama :
Lpp : 68 m
Lwl : 70.72 m
B : 12 m
H : 7.2 m
T :6 m
Cp : 0.71
Cb : 0.622
Cm : 0.985
Vs : 13 knot

4. Rute Pelayaran : Surabaya – Batam


5. Radius Pelayaran : ± 823 mil laut
6. jenis muatan : Beras
7. jumlah krew : 20 orang

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 5
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

1.2 PERHITUNGAN TAHANAN KAPAL


Metode yang digunakan adalah metode Watson
P = 5,0 x ∆2/3 x V3.(33 – 0,017L)
15000 – 110 x n x √L

Dimana :
P = daya efektif kapal (EHP) dalam (KW) (1 HP = 0,746 Kw)
∆ = displacement dalam ton
= L x B x T x cb x ρ (berat jenis air laut)
= 68 x 12 x 6 x 0,622 x 1,025
= 3121.4448 ton
V = 13 knot
= 24.05 km/jam
= 6,6872 m/s (kecepatan dalam meter / detik)
L = 80,44 (panjang kapal dalam meter)
N = 3,33 kisaran per detik (diambil dari standarisasi laju kisaran-Modul Ajar
RU)

(Dari 3000 ton hingga 5000 ton, n = 3,33 kisaran / detik)


Laju kisaran dipakai standarisasi sebagai berikut:
Hingga 1000 ton: n = 8,33 kisaran / detik
Dari 1000 ton hingga ` 2000 ton : n = 6,67 kisaran / detik
Dari 2000 ton hingga 3000 ton n.= 5,00 kisaran / detik
Dari 3000 ton hingga 5000 ton n = 3,33 kisaran / detik
Dari 5000 ton hingga 7500 ton n = 2,50 kisaran / detik
Dari 7500 ton hingga 12500 ton n = 2,08 kisaran / detik
Dari 12500 ton hingga 25000 ton n = 1,92 kisaran / detik
Dari 25000 ton hingga 50000 ton n = 1,83 kisaran / detik
Dari 50000 ton ke atas n = 1,67 kisaran / detik

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 6
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

P = 5,0 x (3121.4448)2/3 x (6.6872)3 x (33 – (0,017 x68))


15000 – 110(5) x √68
= 853.4511978 Kw
EHP = 853.4511978 /0,746 = 1144.036458 HP
SHP = EHP/Cp
= 1096.903396/0.71
= 1611.318955 HP
DHP = SHP + (1-2 % SHP)
= 1611.318955 + (2%1611.318955)
= 1643.545334 HP
BHP = DHP + (2-3 % SHP)
= 1643.545334 + (2,5%.1643.545334)
= 1684.633967 HP
= 1684.633967 HP x 0,746 Kw
= 1256.73694 Kw

I.3 PEMILIHAN MOTOR INDUK


Untuk mesin induk, sesuai dengan daya yang diperoleh dari perhitungan
tahanan, maka dipilih MAN B&W sebaagai motor induk. Dengan spesifikasi
sebagai berikut :
Maka => Engine type = MAN B&W S26MC
=> BHP = 2220 HP
= 1650 KW
=> Bore = 260 mm
=> Stroke = 980 mm
=> Layout point = L4
=> Engine speed = 212 r/min
=> Mean effective pressure = 14.8 bar
=> SFOC = 174 g/KWh
= 128 g/BHPh

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 7
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB II

PEMILIHAN DIAMETER DAN PUTARAN PROPELER

3.1. Advance Velocity (Va).


Menurut harvald 6.2.7 hal 136, speed of advance dapat dihitung seperti berikut :
Va = ( 1 -  ) Vs  Vs dalam Knot
= ( 1 – 0,265 ) x 13  = -0,05 + (0,5 x Cb)
= 9,555 Knot
= 4,915092 m/s = -0,05 + (0,5 x 0,63 )
= 0,265
3.2. Nilai Bp ( hal.206 van lammeren ) .
Bp = N x ( SHP )0.5
(Va)2.5
= N x (1731,70706)0.5
(8,82)2.5
= 0,17781 N

Bp - δ Diagram SCREW SERIES B. 4.40

N(rpm) 0.97N(rpm) Bp ηp δ D(feet) Ho/D D (m)


207,000 200,790 34,115 64,000 196,000 9,378 0,780 2,858
208,000 201,760 34,280 63,900 197,300 9,395 0,775 2,863
209,000 202,730 34,445 63,700 198,400 9,402 0,770 2,866
210,000 203,700 34,610 63,600 199,200 9,395 0,765 2,864
211,000 204,670 34,774 63,500 200,500 9,411 0,760 2,869
212,000 205,640 34,939 57,500 235,000 10,979 0,650 3,346
213,000 206,610 35,104 63,300 202,000 9,393 0,750 2,863
214,000 207,580 35,269 63,200 202,450 9,370 0,745 2,856
215,000 208,550 35,434 63,100 203,440 9,372 0,740 2,856
216,000 209,520 35,598 63,000 204,300 9,368 0,735 2,855
217,000 210,490 35,763 62,900 205,000 9,356 0,730 2,852

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 8
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

II.1.2 Pemeriksaan terhadap kavitasi

Perhitungan kavitasi sangatlah diperlukan, sebab apabila terjadi kavitasi pada


propeller akan menyebabkan kurang optimalnya kerja dari propeller dan dalam jangka
waktu tertentu dapat menyebabkan damage atau kerusakan pada propeller itu sendiri
maupun pada body kapal disekitar daun propeller.

Parameter-parameter yang dibutuhkan adalah :


 Sarat kapal (T)
T = 6m
 Jarak dasar ke sumbu propeller (E)
E = 0,368 x T
= 0,368 x 6
= 2,208 m
 Tinggi gelombang (H)
H = 0,0075 x Lpp
= 0,0075 x 68
= 0.51 m
 Tinggi air diatas garis sumbu propeller (Wh)
Wh = (T–E)+ H
= ( 6 – 2,208 ) + 0,51
= 4,302 m
 Tekanan hidrostatik air laut (PH)
PH = Wh x r air laut  dimana r = 1025 kg/m3
= 4,302 x 1025
= 4409,55 Kg/m2
 Tekanan partikel-partikel udara ( e ) = 10100 kg / m2
 Mass density untuk air laut ( r ) = 104,5 kg / m3
 Tekanan statis pada pusat poros propeller (Po)  disebut juga ( P )
(Po) = PH+ e
= 4409,55 + 10100
= 14509,55 Kg/m2
 Intake velocity (Vc)
Vc = ( 1-  ) x Vs

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 9
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

= ( 1- 0,265) x 6.6872

= 4,915 m/s
 Mass density air laut (r) = 104,5 kg s2 / m4
 Angka kavitasi (  )
Angka kavitasi
Po  e
σ = 0,5 xrxVc 2
4409,55
=
0,5 x104,5 x 4,915 2
= 3.4935

 = 1,84 x ( Po – e ) 0, 75 x Vc 0 ,5

= 1,84 x (4409.55) 0 , 75
x (4,915 ) 0 , 5
= 2207,37

= 2207,37/4409.55

= 0,50059

Berdasarkan figure 123°.“ Chart for cavitation limits” pada buku Van Lammern
hal.186, didapati bahwa propeler tidak mengalami kavitasi karena sesuai dengan batas
yang ditentukan.

UKURAN UTAMA PROPELER


Berdasarkan Project Guide Wartsila (Propac CP Main Dimensions) untuk Propeler
Didapatka ukuran propeler sebagai Serikut:

Engine = S26MC
Prop Ø = 3346 mm
N Prop = 212
(Untuk Fa/F = 0,40)

II.2.1 Expanded
Expanded ini adalah luasan dari propeller yang merupakan blade area atau bisa juga
disebut bentuk dari propeller yang sesungguhnya.
 Jarak garis bagi jari - jari

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 10
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Jarak ini yang membagi jari –jari propeller menjadi 0,2;R0,3R sampai pada jarak 0,9R.

Tebal Daum Max Jrk Max dr Ord LE


R
%D t Max % Ord
0,2 3,66 122,464 35 256,120
0,3 3,24 108,410 35 256,120
0,4 2,82 94,357 35 256,120
0,5 2,4 80,304 35,5 259,778
0,6 1,98 66,251 38,9 284,659
0,7 1,56 52,198 44,3 324,174
0,8 1,14 38,144 47,9 350,518
0,9 0,72 24,091 50 365,885

 Center line ke Trailing Edge


Jarak center line ke bagian propeller yang tertinggal atau bagian kiri gambar,
nilainya masing – masing untuk jarak bagi jari – jari propeller adalah sebagai berikut :

Jarak Centerline ke Trailling


R
% Lb ( mm )
0,2 29,18% 213,531
0,3 33,32% 243,826
0,4 37,30% 272,950
0,5 40,78% 298,416
0,6 43,92% 321,393
0,7 46,68% 341,590
0,8 48,35% 353,811
0,9 47% 343,932

 Center line ke Leading Edge


Jarak center line ke bagian propeller yang mendahului (yang memecah air)
atau bagian kanan gambar, nilainya masing – masing untuk jarak bagi jari – jari propeller
adalah sebagai berikut :

Jarak Centerline ke leading


% Lb ( mm )
46,90% 343,200
52,64% 385,204
56,32% 412,133
57,60% 421,500
56,08% 410,377
51,40% 376,130
41,65% 304,782
25,35% 185,504

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 11
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 Panjang total element

Panjang total
% Lb ( mm )
76,08% 556,731
85,96% 629,030
93,62% 685,083
98,38% 719,916
100% 731,770
98,08% 717,720
90% 658,593
72,35% 529,436

 Jarak ordinat tebal maksimum dari Leading Edge


Jarak ini diukur dari leading edge yang paling kanan sendiri dari gambar
kesebelah sisi kiri (letak titik ini terdapat pada jarak Center line ke Leading Edge.

Jrk Max dr Ord LE


% Ord
35 256,120
35 256,120
35 256,120
35,5 259,778
38,9 284,659
44,3 324,174
47,9 350,518
50 365,885

 Ketebalan maksimum blade tiap elemen


Ketebalan maksimum ini terletak pada jarak ordinat tebal maksimum dari leading
edge dan merupakan titik nol, nilainya untuk tiap elemen adalah

Tebal Daum Max


R
%D t Max
0,2 3,66 122,464
0,3 3,24 108,410
0,4 2,82 94,357
0,5 2,4 80,304
0,6 1,98 66,251
0,7 1,56 52,198
0,8 1,14 38,144
0,9 0,72 24,091

 Distribusi Pitch ( Pitch Distribution )

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 12
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Ho/D = 0,65
D= 3346 mm
P= 2174,9
P/2π = 346,3216561

Pitch Distribution
R
% P/2π mm
0,2 82,2 284,6764013
0,3 88,7 307,1873089
0,4 95 329,0055732
0,5 99,2 343,5510828
0,6 100 346,3216561
0,7 100 346,3216561
0,8 100 346,3216561
0,9 100 346,3216561

 Jarak ordinat tebal propeller dari ordinat maksimum


Jarak – jarak yang telah kita hitung diatas tersebut dimana ujung Trailing Edge
ke titik nol (tempat dimana ketebalan maksimum berada) dan titik nol ke ujung Leading
Edge dibagi menjadi lima bagian yang sama dimana nantinya menjadi titik – titik 20%;
40%; sampai 100%.

 Ordinat Back Trailing Edge


Back Trailing Edge adalah bagian propeller yang biasa disebut punggung propeller
Trailing back
r/R 80% ordinat 60% ordinat 40% ordinat 20% ordinat
0.2 53,35% 65,334 72,65% 88,969 86,90% 106,421 96,45% 118,116
0.3 50,95% 55,235 71,60% 77,622 86,80% 84,370 96,80% 104,941
0.4 47,70% 45,008 70,25% 66,286 86,55% 81,666 97,00% 91,526
0.5 43,40% 34,851 68,40% 54,928 86,10% 69,142 96,95% 77,858
0.6 40,20% 26,623 67,15% 44,488 85,40% 56,578 96,80% 64,131
0.7 39,40% 20,566 66,90% 34,920 84,90% 44,316 96,65% 50,449
0.8 40,95% 15,620 67,80% 25,862 85,30% 32,537 96,70% 36,886
0.9 45,15% 10,877 70,00% 16,864 87,00% 20,959 97,00% 23,368

 Ordinat Back Leading Edge


leading back
r/R 20% ordinat 40% ordinat 60% ordinat 80% ordinat 90% ordinat 95% ordinat

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 13
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

0.2 98.60% 120,749 94.50% 115,728 87.00% 106,543 74.40% 91,113 64.35% 78,805 56.95% 69,743
0.3 98.40% 106,676 94.00% 101,906 85.80% 93,016 72.50% 78,597 62.65% 67,919 54.90% 59,517
0.4 98.20% 92,659 93.25% 87,988 84.30% 79,543 70.40% 66,427 60.15% 56,756 52.20% 49,254
0.5 98.10% 78,778 92.40% 74,200 82.30% 66,090 67.70% 54,365 56.80% 45,612 48.60% 39,077
0.6 98.10% 64,992 91.25% 60,453 79.35% 52,570 63.60% 42,135 52.20% 34,583 43.35% 28,720
0.7 97.60% 50,945 88.80% 46,351 74.90% 39,096 57.00% 29,753 44.20% 23,071 35.00% 18,269
0.8 97.00% 37,000 85.30% 32,538 68.70% 26,205 48.25% 18,405 34.55% 13,179 25.45% 9,708
0.9 97.00% 23,369 87.00% 20,959 70.00% 16,864 45.15% 10,877 30.10% 7,251 22.00% 5,300

 Ordinat Face Trailing Edge


Face Trailing Edge adalah bagian propeller yang biasa disebut muka propeller
face trailling
r/R 20% Ordinat 40% ordinat 60% ordinat 80% ordinat 100% ordinat
0.2 1.55% 1,898 5.45% 6,674 10.90% 13,348 18.20% 22,288 30.00% 36,739
0.3 0.00% 0.00 1.70% 1,843 5.80% 6,287 12.20% 13,226 25.35% 27,482
0.4 0.00% 0.00 0.00% 0.00 1.50% 1,415 6.20% 5,850 17.85% 16,842
0.5 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 1.75% 1.405 8.95% 7,187
0.6 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00
0.7 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00
0.8 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00
0.9 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00

 Ordinat Face Leading Edge


leading face

r/R 20% ordinat 40% ordinat 60% ordinat 80% ordinat 90% ordinat 95% ordinat 100%
0.2 0.45% 0,551 2.30% 2,816 5.90% 7,225 13.45% 16,471 20.30% 24,860 26.20% 32,085 40.00%
0.3 0.05% 0,054 1.30% 1,409 4.60% 4,986 10.85% 11,762 16.55% 17,941 22.20% 24,067 37.55%
0.4 0.00% 0.00 0.30% 0,283 2.65% 2,500 7.80% 7,359 12.50% 11,794 17.90% 16,889 34.50%
0.5 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.70% 0,562 4.30% 3,453 8.45% 6,785 13.30% 10,680 30.40%
0.6 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.80% 0.530 4.45% 2,494 8.40% 5,565 24.50%
0.7 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.40% 0,209 2.45% 1,279 16.05%
0.8 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00%
0.9 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00%

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 14
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB III

PERENCANAAN POROS PROPELLER

dan PERLENGKAPANNYA

I. Perencanaan Poros
Perencanaan Diameter Poros Propeller ( Ds )
Perencanaan Diameter Poros Propeller menurut Buku Elemen Mesin Ir, Soelarso
adalah sebagai berikut :
1
 5,1   3
Ds    x Kt x Cb x T  mm
 τ a  

Dimana :
o Ds : Diameter Poros ( mm )
o τa : Tegangan yang dijinkan ( kg/mm )
o Kt : Faktor Konsentrasi Tegangan
= 1,0 ( Tumbukan halus )
= 1,0 - 1,5 ( Sedikit tumbukan )
= 1,5 - 3,0 ( Tumbukan kasar )
Diambil  Kt = 1,5
o Cb : Faktor Beban Lentur
=1 ( Tidak mengalami lenturan )
= 1,2 – 2,3 ( Mengalami lenturan )
Diambil  cb = 1,8
o T : Momen Puntir ( kgmm )
Langkah Perhitungannya adalah sebagai berikut :
a. Daya Perencanaan ( Pd )
Pd  fc x P

dimana :
o Pd : Daya perencanaan ( KW )
o fc : Faktor Koreksi Daya
= 1,2 - 2,0 (Daya maksimum)
= 0,8 - 1,2 (Daya rata – rata)
= 1,0 - 1,5 (Daya normal)

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 15
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Diambil 1,5 ( Daya Normal )


o P = SHP ( KW )
SHP = 1731,707 HP
= 1731,707 x 0,746 KW
= 1291,853 KW
Sehingga Daya perencanaannya adalah sebagai berikut :
Pd = fc x P
Pd = 1.5 x 1266,016
Pd =1937,780 KW

b. Momen Puntir ( T )
 Pd 
T  9,74x10 5 x 
 N
dimana
N = Putaran propeller
= 212 rpm
 1937,780 
T  9,74x10 5 x 
 212 
T = 0,8902819 x 107 Kg,mm
c. Tegangan yang dijinkan (ta )
ta =  B / ( sf1,sf2)

o Bahan poros yang digunakan adalah baja karbon JIS G 4501 S 40 C


dengan nilai
o B = Kekutan Tarik = 58 Kg/mm2
o Faktor keamanan
1, sf1 = 6 (materisl baja)
2, sf2 = 1,3 - 3  Diambil sf2 =3

Sehingga, Tegangan geser yang diijinkan (ta):

ta =  B / ( sf1,sf2)

= 58 / ( 6 x 3 )

= 3,22 Kg/mm2

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 16
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

d. Diameter Poros ( Ds )
1
 5,1   3
Ds    x Kt x Cb x T  mm
 τ a  

Dimana :
o t a = 3,22 kg/mm2

o Kt = 1,5

o Cb = 1,8

o T = 0,8902819 x 107 Kgmm

1
 5,1  7  3
Ds    x 1,5 x 1,8 x 0,8902819 x 10 
 3,22  

Ds = 336,41 mm ≈ 330 mm

(Ir, Sularso, MSME DASAR PEMILIHAN DAN PERENCANAAN ELEMEN


MESIN)

e. Pemeriksaan Persyaratan Diameter Poros


o Menurut BKI
Berdasarkan BKI vol, III tahun 2000 section 4,C,2 tentang
sistem dan diameter poros minimum adalah sebagai berikut :

SHP x Cw
Ds  F x K3
  
N x 1- di 4
da

Dimana :

 1-  
di 4
da
: 1,0

 F : Faktor untuk tipe instalasi penggerak untuk


Propeller
= 100 untuk semua tipe instalasi
 K : jika terletak dibelakang stern tube dan
dipasak pada bagian
Poros propeller 1.15

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 17
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 SHP : Daya yang ditransmisikan poros = 1291,853


KW
 Cw : Faktor Bahan
Cw = 560 / (Rm + 160)
Rm = B x g = 58 x 9,8= 568,4
Cw = 0.768808

 N : Putaran Poros = 212 rpm


Sehingga :
1291,853 x 0,768808
Ds  100 x 1,15 3
212 x 1

Ds  192,426 ( memenuhi )  diambil 270 mm.


o t < ta
Dimana ta = 3,22Kg/mm2

t = ( 5,1*T ) / Ds3

= ( 5,1 x 0,8902819 x 107 ) / 270 3


= 2,307 (memenuhi)

II. Perencanaan Boss Propeller


Pada perencanaan Boss propeller ini bahan yang adalah Manganese Bronze,
Berdasarkan buku Design Screw Propeller, T,P,O,Brien hal,302 dapat ditentukan :
1. Diameter Boss ( Db )
Db = ( 1,8 – 2 ) x DS  diambil =2
= 2 x DS
= 2 x 270
= 540 mm
2. Ketebalan Rake ( tr )
tr maks = 0,045 x Dprop
= 0,045 x 3000
= 135 mm
3. Diameter boss Terbesar
Dbf/Db = 1,05 – 1,1 ( diambil 1,1 )

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 18
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Dbf = 1,1 x Db
= 1,1 x 540
= 594 mm
4. Diameter Boss Terkecil
Dba/Db = 0,85 – 0,9 ( diambil 0,9 )
Dba = 0,9 x Db
= 0,9 x 540
= 486 mm
5. Radius Pangkal Leading Edge
tb = 0,75 x tr
= 0,75 x 135
= 101.25 mm
6. R face
Rf = 0,75 x tr
= 0,75 x 135
= 101.25 mm
7. R Back
RB = 1,0 x tr ( untuk 15 rake )
= 1,0 x 135
= 135 mm
III. Perencanaan Bentuk ujung Poros pada Stern Tube
1. Panjang Konis ( Lb )
Lb antara 1,8 – 2,4 kali diameter poros ( diambil 2,4 )
Lb = 2,4 x ds
= 2,4 x 270
= 648 mm (Berdasarkan buku Design Screw Propeller,T,P,O,Brien
hal,32)
2. Panjang Lubang terbesar dari Boss
Ln/Lb = didapat dari tabel yang mempunyai harga 0,3 (nilai maksimum)
Ln = 0,3 x Lb
= 0,3 x 648
= 194.4 mm

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 19
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

3. Kemiringan Konis
Biro Klasifikasi Indonesia menyarankan harga kemiringan konis berkisar antara
1/10 sampai 1/15,
Diambil sebesar 1/15
1/15 = x / Lb
x = 1/15 ,Lb
= 1/15 x 648
= 43.2 mm
(BKI , Peraturan BKI vol, III Th, 2000
4. Diameter Ujung Konis
Da = Ds - 2x
= 270 - ( 2 x 43.2 )
= 183.6 mm
(T, O’brien , The Design Of Marine Screw Propeller)
5. Diameter Luar Pengikat Boss
Biro Klasifikasi Indonesia menyarankan harga diameter luar pengikat boss atau Du
tidak boleh kurang dari 60 % diameter poros,
Du = 60%,Ds
= 0,6 x 270
= 162 mm
BKI , Peraturan BKI vol, III Th, 2000
IV. Perencanaan Pasak Propeller
Sumber untuk perencanaan pasak diambil dari buku Dasar Perencanaan dan
Pemilihan Elemen Mesin karya Ir, Soelarso Ms,Me,
Langkah perhitungan perencanaan Pasak Propeller adalah sebagai beikut :
1. Momen torsi (Mt)
Momen torsi (Mt) yag terjadi pada pasak yang direncanakan adalah sebagai
berikut:
Mt = (DHPx75x60)/(2xΠ x N)
= (1266,016 *75*60)/(2*3.14*212)
= 7584,8537 Kgmm
Dimana :
o Mt = momen torsi (Kg,mm)

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 20
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

o DHP = 1266,016 Kw
o N = 212

2. Dimensi Pasak
Parameter yang digunakan adalah sebagai berikut:
Diameter poros (Ds) = 270 mm
a. Panjang Pasak (L)
L = ( 0,75 – 1,5 ) x Ds……………,(diambil 0,75),
L = 0,75 x Ds
= 0,75 x 270
= 202.5 mm
b. Lebar pasak (B)
B = ( 25% - 30% ) x Ds…………( diambil 25%),
B = 25% x Ds
= 25% x 270
= 67.5 mm
c. Tebal pasak (T)
T = 1/6 x Ds
= 1/6 x 270
= 45 mm
d. Radius ujung pasak (R)
R = 0,0125 x Ds
= 0,0125 x 270
= 3.375 mm
e. Luas bidang geser (A)
A = 0,25 x Ds2
= 0,25 x 2702
= 18225 mm2

f. Gaya sentrifugal ( F )
Gaya sentrifugal yang terjadi pada permukaan poros:

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 21
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

T 0,8902819 x 10 7
F =   65946,80741 kg
0,5xDs 0,5 x 270

g. Tegangan geser yang diijinkan (tka)


Tegangan gesek yang diijinkan (tka) diperoleh :
o Sf1 = umumnya diambil 6 (material baja)
o Sf2 = 1,0 – 1,5 jika beban dikenakan tiba-tiba
= 1,5 – 3,0 jika beban dikenakan tumbukan ringan,
= 3,0 – 5,0 jika beban dikenakan secara tiba-tiba dan tumbukan,
Karena beban pada propeller dikenakan secara tiba-tiba dan tumbukan, maka
diambil harga Sf2 = 3,0, Bahan pasak digunakan S45C dengan harga
o b = 58 kg/mm2,
Sehingga didapatkan;
b 58
tka = Sf xSf  6 x3,0  3,22 kg/mm2
1 2

sedangkan tegangan gesek yang terjadi pada pasak adalah;


F 74858.1192
tk = BxL  67.5 x 202.5  5.477 kg/mm2

karena tk >tka maka pasak dengan dimensi tersebut memenuhi persyaratan,


h. Penampang pasak ( A0 )
A0 =BxT
= 67.5 x 45
= 3037.5 mm2
i. Kedalaman ulir pasak pada poros (t1)
t1 = 50,89% x T
= 50,89% x 45
= 22.9005 25 mm
j. Kedalaman ulir pasak pada naf (t2)
t2 = T – t1
= 45– 25
= 20 mm
k. Panjang pasak aktif

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 22
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Panjang pasak aktif maksudnya panjang pasak yang aktif menerima beban jika
pada boss propeller tesebut terdapat lubang ‘Ln’ maka panjang pasak
sebenarnya adalah:
Li = L + Ln
= 202.5 + 194.4
= 396.9 mm
l. Perhitungan untuk menghindari kerusakan permukaan samping pasak
yang disebabkan oleh tekanan bidang,
Dalam hal ini tekanan permukaan P (kg/mm2) adalah
F 74858.1192
P =   9.430 kg/mm2
 L i x t 1  atau  t 2   396.9 x 20
Sedangkan untuk menghindari kerusakan permukaan untuk poros dengan
diameter yang besar (100 mm) adalah Pa = 10 kg/mm 2, karena harga P<Pa maka
dimensi tersebut memenuhi syarat,
V. Perencanaan Mur ( Pengikat Propeller)
Adapun beban yang harus ditekan oleh mur adalah thrust sebesar:
DHPx75xη prop x1,025 1266,016 x 75 x0,59 x 1,025
S (thrust) = 
Va 4,915092

= 11682,739 Kg
dimana:
o DHP = daya propeller
o prop = Effisiensi Propeller
o Va = speed of advance (m/s2)
Karena beban yang bekerja itu merupakan gabungan antara gaya tarik axial dan
momen puntir, maka beban rencana yang dipertimbangkan adalah beban yang
ditambah sepertiganya,
o S’ = 11682,739 + (1/3 x11682,739) = 15576,985 kg
o Beban mur S 45 C dengan harga b = 58 kg/mm2
o Safety factor (Sfk) diambil harga = 6
tk = 58/6
= 9,667 kg/mm2

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 23
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

o Shearing stress ( Ss) yang diijinkan 50% - 70% (diambil 62,25%) dari tk
Jadi Ss = 62,25% x tk
= 62,25% x 9,667
= 6, 0175 kg/mm2

1. Sedangkan menurut BKI 2000 vol III diameter (d)  diameter konis yang
besar,
d  0,6 x Ds
d  0,6 x 270
d  162 mm
Dalam hal ini d diambil 165 mm karena lebih aman jauh dari d yang diperlukan,
2. Diameter inti (d1)
d1 = 0,8 x d
= 0,8 x 165
= 132 mm
3. Diameter efektif (d2) dapat diasumsikan ½ (d1+d)
d2 = ½ (132 + 165)
= 148.4 mm
4. Tebal (T) dan tinggi (H) diambil 0,8d
H = 0,8 x d
= 0,8 x 165
= 132 mm
5. Jumlah ulir (Z)
P (perencanaan pitch)
Tan ½  = 0,5 x (P/16)
0,577 = 0,5 x (P/16)
P = 18.464 mm
Z = H/P = 132/18,464 = 7.149 10 buah

6. Diameter luar ulir (Do)


Do =2xd

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 24
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

= 2 x 165
= 330 mm

VI. Panjang Tabung Poros


1. Panjang tabung poros propeller (Lporos )
(Lporos ) = 4 x jarak gading
= 4 x 600
= 2400 mm
2. Panjang dan Tebal Lapisan Pelindung
Berdasarkan BKI 2000 vol III section D 3,2,3
a. Panjang lapisan pelindung poros ( S )
Panjang lapisan pelindung poros diletakkan sepanjang sistem stern tube
S = ½ x (Lporos )
= ½ x 2400
= 1200 mm
b. Tebal minimum lapisan pelindung (sleeve)
S” = (0,03 Ds) +7,5
= (0,03 x 270 ) + 7,5
= 16 mm

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 25
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB IV
PERENCANAAN STERN TUBE

PENDAHULUAN

Laporan tugas gambar stern tube merupakan tugas gambar yang berisikan
perencanaan konstruksinya, type jenis pelumasan dan bagian-bagian yang
terdapat dalam stern tube .

Tujuan :
Untuk mengetahui penggambaran secara global tentang konstruksi dari
stren tube dan bagian-bagian yang terdapat dalam stern tube tersebut , serta
sebagai pedoman pada saat reparasi .

TAHAP-TAHAP PERENCANAAN
1. Penentuan jenis pelumasan.
2. Perencanaan panjang poros.
 Poros propeller ( shaft propeller ).
 Poros antara ( intermediate shaft ).
3. Perhitungan diameter poros.
4. Perhitungan tebal shaft liner.
5. Perhitungan Coupling.
6. Perhitungan Bearing.

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 26
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

PERHITUNGAN STERN TUBE

1. Jenis pelumasan.
Menggunakan pelumasan dengan air.

2. Panjang Poros.

Panjang poros direncanakan sesuai dengan Rencana Umum.


 Panjang poros propeller ( propeller shaft ) = 3700 mm
 Panjang poros antara ( intermediate shaft ) = 3000 mm

3. Diameter Poros.
Menurut BKI 1996 vol. III sec .4.c.2 , diamater poros tidak boleh kurang dari :
Pw.Cw
D = F.k   d1  4 
n1   
3
  d 2  
 

dimana :
 4

1   d1   = 1
  d 2  

Rm = 600 N/mm2 (600-800)


Cw = 560 / (Rm+160) = 0,74

Pw = 542,72 kW  Daya yang ditransmisikan oleh Poros


n = 212 rpm
F = 100  Untuk semua jenis propulsi.
k = 1,1  untuk poros antara penyatuan dengan flens kopling
k = 1,4  untuk poros propeller

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 27
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Diameter Poros Propeller ( Propeller Shaft ) :


Pw.Cw
d = F.k 3
n(1)

1310,2 x 0,58
> 100 . 1,4 = 265,038 mm
212 x1

JADI DIAMETER PROPELLER SHAFT = 265 mm

Diameter Poros Antara ( Intermediate Shaft ) :


Pw.Cw
d = F.k 3
n(1)

1310 x 0,58
> 100 . 1,1 = 151,59 mm
212 x1

JADI DIAMETER PROPELLER SHAFT = 152 mm

Catatan :
 Perubahan diameter lebih efektif dengan ketirusan atau radius.Untuk
radius pada intermediate shaft pada forged flange paling sedikit 0,08 d dan
jika pada propeller shaft paling sedikit 0,125 d .
 Ujung depan lubang pasak harus berbentuk sendok dan sudut-sudutnya
tidak boleh tajam.
 Lubang pengikatan antara pusat propeller dengan pusat propeller shaft
terletak dibagian tengah antar pasak.
 Ketirusan shaft propeller 1 : 10 s/d 1 : 15
 Ketirusan shaft pada umumnya 1 : 10 s/d 1 : 20
 Diameter luar dari ulir untuk mur panahan propeller tidak boleh lebih kecil
dari 60 % diameter propeller.

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 28
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

4. Shaft Liner
Menurut BKI Vol III sec. 4.D.3.2.3 Tebal Minimum Shaft Liners :
s = ( 0,03 x d ) + 7,5
= ( 0,03 x 151 ) + 7,5
= 13,29 mm ~ 13,5 mm
5. Coupling
 Flange Coupling
Menurut BKI Vol III sec. 4.D.4.1 tebal Flange Coupling tidak boleh lebih
kecil dari diameter baut jika didasarkan pada kekuatan tarik yang sama
dengan material poros.

Tebal Flange Coupling


Pw.Cw
Sf1 = 370 x
n.D

D = diameter pitch lingkaran baut direncanakan = 150 mm


1310,2 x 0,74
Sf1 = 370 x
292 x300

= 56,9 mm ~ 57 mm
Tebal flange coupling yang direncanakan = Sf1 + (55% x Sf1)
= 57 + ( 55% x 57 )
= 88,35 mm ~ 88 mm
 Diameter Baut
Menurut BKI Vol III sec. 4.D.4.2 diameter baut untuk Flange Coupling
tidak boleh kurang dari :
10 6 xPw
ds = 16 x
n.D.Z .Rm
Z = jumlah baut = 8 buah

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 29
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Rm = kekuatan tarik material = 600 N


mm 2

10 6 x1310,2
ds = 16 x
292 x300 x8 x 600
= 23,85 mm ~ 24 mm

dengan diameter pitch yang telah direncanakan dan diameter baut yang
didapatkan dari perhitungan, maka diperoleh :
jarak baut ke tepi flange = 67% x ds
= 67% x 24 mm
= 16,08mm
sehingga diameter flange (df) = 382,16 mm

5 . BEARING
Menurut BKI Vol III sec. 4.D.5.1, jarak maksimal antar bearing tidak boleh lebih
dari :
Lmax = k1 x d

dimana : k1 = faktor pelumasan dengan air = 350


d = diameter poros di antara bearing ( dalam hal ini diameter poros
propeller ) = 193 mm
maka : Lmax = 350 x 193

= 4862,34mm

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 30
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Jadi jarak antara dua bearing tersebut tidak boleh lebih dari 4862,35 mm

Menurut BKI Vol III sec. 4.D.5.2.2 , jika bearing menggunakan pelumasan air, maka ada
ketentuan untuk panjang dari bearing baik itu after bearing maupun forward bearing sbb :
a. Aft Bearing
panjang = 2 x d (mm)
= 2 x 193
= 386 mm
b. Fwd Bearing
panjang = 0,8 x d (mm)
= 0,8 x 193
= 154,4 mm ~ 154 mm

6 . PENENTUAN PANJANG DAN TEBAL LAPISAN PELINDUNG


Panjang lapisan pelindung .
Lapisan pelindung poros diletakan sepanjang system stren tube
Panjang lapisan pelindung = panjang stern tube.

* Tebal minimum lapisan pelindung :


s = 0,03 x Dp + 7,5
= ( 0,03 x 193 ) + 7,5
= 13,29 mm ~ 13 mm
* Tebal pelindung diantara bantalan poros :
s’ = 0,75 x s
= 0,75 x 13
= 9,75 mm

7. HUBUNGAN ANTARA STERN TUBE DENGAN BALING-BALING.


i. Panjang ketirusan = panjang boss propeller. (L).
( Design of Marine Screw Propeller Hal 303)
L = (1,8 s/d 2,4 )Ds prop shaft.
= 2,4 x 193
LAPORAN TUGAS GAMBAR
PROPELER & STERN TUBE 31
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

= 463,2 mm.
ii. Diameter ketirusan propeller (Dp)

D = Dp – ( 1 1
10 s/d 20 L ) (direncanakan 1/20)

= 193 – ( 1
20 x 463,2)
= 169,84 mm

8. PERENCANAAN PASAK (SPIE)


 Panjang Pasak (L) = (0,75 – 1,5)Dp Direncanakan 1,25
L = 1,25 x Dp
= 1,25 x 193
= 241,25mm
 Area pasak (A) = 0,25 x Dp2
= 0,25 x (193)2
= 9.312,25 mm2
 Lebar Pasak (B) = antara 25% s/d 30% (diambil 30%)
B=A/ L
= 9.312,25 / 241,25
= 38,6 mm

 Tebal Pasak (t)

t= 1
6 x Dp

= 1
6 x 193
= 32,16 mm

 Radius pada ujung Pasak (R) ---(IV.D.1)


R = 0,0125 x Dp
= 0,0125 x 193
= 2,4125 mm
Radius = 2 mm

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 32
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 Luas Bidang Geser (A)


A = 0,25 x Dp2
= 0,25 x (193)2
= 9.312,25 mm2
 Perhitungan kekuatan Pasak
Pd = Fc x P

Dimana Pd = Daya rencana (kW)


P = SHP (kW) = 542,72 kW
Fc = Faktor koreksi (diambil Fc = 1)

Pd = 1 x 542,72 kW
= 542,72 kW

 Sehingga momen puntir :


T = 9,74 x 105 x Pd / N
= 9,74 x 105 x 1310,2 / 292
= 4,37 x 106 kg.mm

 Gaya Sentrifugal:
F = 2 x T/Ds
= 2 x 4,37 x 106 / 193
= 29,9315 kg

 Tegangan geser yang diijinkan:


Tka = 2 x  B /(  fk)
Material pasak S 45 C maka:
 B = 58 kg/mm 2
Sfk1 = 6
Sfk2 = 1,5 (beban ditumbuk ringan)

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 33
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Tka = 2 x 58/(6 x 1,5)


= 12,89 kg/ mm 2

 Tegangan geser yang terjadi pada pasak


Tk = F / (B x L)
= 29,9315 / (38,6 x 241,25)
= 32,15 kg / m 2
Tk < Tka maka pasak dengan dimensi diatas memenuhi sarat

 Penampang pasak
A=Bxt
= 38,6 x 32,16
= 1241.376 mm 2

9. MUR PENGIKAT BALING – BALING

Untuk mencari suatu mur baling – baling, maka kita harus mengetahui beban
yang diterima, jenis beban dan kekuatan bahan terhadap tarikan serta tegangan
geser yang diijinkan.
a. Beban yang ditahan mur. (S)
S = (SHP x 75 x Yp x 1,025) / Va.
= (542,72 x 75 x 0,595 x 1,025) / 10
= 2482,44
b. Beban yang bekerja merupakan gabungan dari gaya teknik axial dan
momen puntir, maka beban yang direncanakan ditambah 1/3 nya.
S = 1\3 x 2482,44+ 2482,44
= 827,48 + 2273,49
= 3309.92
c. Beban untuk mur adalah S 30 C, dimana
B = 58 kg/m2
safety factor =6
TKy = 58 / 6 = 9,7 kg / mm2

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 34
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

 Shearing tress yang diijinkan ( 55% s/d 75% ) dari Tky sampai jadi shearing
stress direncanakan 60%.

 Diameter ulir (d1) = 0,8 x Dp


= 0,8 x 193
= 154,4 mm
 Diameter inti (d2) = 0,8 x d1
= 0,8 x 154,4
= 123,52 mm
 Diameter efektif (d2) = 0,5 x (d1+d2)
= 0,5 (154,4 +123,52)
= 138,96 mm
 Tebal dan tinggi mur (h) diambil 0,8 d
h = 0,8 x 92,16 = 73,728 mm

 Perencanaan PITCH
tg 60 = 0,5 x P (diambil 60o)
= 0,5 x P
P = 1,73 / 0,5 = 3,46 mm
 Diameter luar mur (d0) = 2 x d
= 2 x 92,16 = 184,32 mm
Jadi diameter luar mur = 185 mm

10. MENENTUKAN BANTALAN


BKI 96 Volume III. Sect A. D 5
a. Bahan bantalan yang digunakan adalah bronze
b. Panjang bantalan belakang (After Bearing ) = 4 x Dp
= 4 x 193 mm
= 772 mm
c. Panjang bantalan depan(Forward Bearing) = 2x Dp
= 2 x193
= 386 mm

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 35
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

d. Tebal bantalan minimum (t)


t = ( Dp / 32) + ( 25 x 4/8 )
= ( 193 / 32 ) + ( 25 x 4/8 )
= 20.72 mm
direncanakan 20 mm
e. Jarak maksimum yang diijinkan antara bantalan
Imax = ki. DS0,5 : dengan Ds = 191,96 mm
Dimana ki = 450 untuk pelumasan air,
Imax = 450. 191,96 0,5 = 6234,73 mm
Dipakai jarak = 6300 mm

11. BUSH BEARING.


a. Bahan Bush Bearing yang dipakai adalah Mangan Bronze.
b. Tebal bush Bearing (tBB )
tBB = 0,18 x Dp
= 0,18 x 193
= 34,77 mm
direncanakan tBB = 35 mm

12. TEBAL STERN TUBE


Tst = (Dp/20) + 19,05
= (193/20) + 19,05
= 29,25 mm
Dipakai tebal Stern Tube = 29 mm

13. SISTIM KEKEDAPAN PACKING ( Glend Packing )

i. Panjang packing = s + Dp ; s = tebal shaft liners


= 13 + 193

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 36
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

= 206 mm

ii. Tebal penekanan


Do = DP + 2s = 193 + (2 x 13)
= 219 mm.

iii. Diameter baut penekan (db)


Db = 1,6 (0,2 Dp+ 12,7)
Z

= 1,6 (0,2.193+ 12,7)


8

= 29,27 mm

14. BOSS PROPELLER (DB)


 Diameter baling - baling
Db = (0,6 ~ 0,7) T
= 0,7 . 6,1
= 4,27 m

 Diameter Boss

Dbos = 1
6 x Db

= 1
6 x 4,27
= 0,71 m

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 37
JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

DAFTAR PUSTAKA

1. Biro Klasifikasi Indonesia ( BKI ) 1996 Vol III .


2. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin ; Sularso dan Kiyokatsu
Suga.

DAFTAR PUSTAKA

1. BIRO KLASIFIKASI INDONESIA. Volume III, Jakarta 1996


2. STORK-WARTSILA. PROJECT GUIDE FOR MC / MCE SERIES
3. Roy L. Harrington. MARINE ENGINEERING, New York, 1992
4. Ayre Remmers. TAHANAN DAN PROPULSI KAPAL, Airlangga University
Press, Surabaya, 1993
5. D. J. Eyres. SHIP DESIGN AND CONSTRUCTION, B. H. Newnes, Oxford 1993.
6. T. O’brien. The Design Of Marine Screw Propeller
7. Lammeren,Van. “Resistance Propulsion and Steering of Ship.
8. Soelarso.”Perencanaan Dasar dan Pemilihan Elemen Mesin”

LAPORAN TUGAS GAMBAR


PROPELER & STERN TUBE 38