Anda di halaman 1dari 45

DAFTAR ISI

Hal

DAFTAR ISI 1
BAB I : PENDAHULUAN 2
A. Latar Belakang 2
B. Deskripsi 3
C. Tujuan Pembelajaran 3

BAB II : KESETIMBANGAN LIQUID-LIQUID 4


A. Teori Kesetimbangan Cairan 4
B. Peralatan Extraksi 9
C. Pemilihan Pelarut 9
D. Solven Pertamina 11

BAB III : DATA KESETIMBANGAN LIQUID-LIQUID 14


A. Pendahuluan 14
B. Simbol dan Terminology Dalam Perhitungan Extraksi 16
C. Diagram Fasa 18
D. Kurva Kesetimbangan 21

BAB IV : METODE PERHITUNGAN EXTRAKSI 30


A. Single Stage Operation 30
B. Continuous Multistage Countercurrent Extraction 32
TERMINOLOGI 44
DAFTAR PUSTAKA 46
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar beakang

Kilang yang ada saat ini konfigurasinya sudah sangatlah komplek, bukan hanya
mengolah crude menjadi BBM, tetapi juga mengolah crude oil menjadi Pelumas, Aspalt
juga lilin. Dalam beberapa proses pengolahan crude oil yang ada di Indonesia, pengolahan
crude oil telah menggunakan bermacam-macam peralatan operasi, dan salah satunya
adalah peralatan proses extraksi. Proses extraksi di proses pengolahan crude oil sangatlah
penting karena proses ini digunakan untuk memisahkan dua atau lebih cairan dengan
menggunakan pelarut. Salah satu contoh di proses pengolahan crude oil yang
menggunakan proses extraksi adalah proses pembuatan lube oil. Dimana pada proses
pembuatan Lube Oil terdapat proses extraksi dengan menggunakan pelarut furfural untuk
mengambil senyawaan aromat.
Secara umum, proses extraksi ini digunakan untuk memisahkan suatu feed yang terdiri
dari Solute (A) dan Diluent (B) dengan menggunakan Solvent (S atau C) yang tidak larut
atau larut sangat terbatas dalam feed (umpan). Larutan hasil extraksi yang kaya akan
solvent (disebut dengan rich solven dan sedikit feed) disebut dengan Extrak, sedangkan
yang kaya akan feed (dan sedikit solvent) disebut dengan Rafinate.
Sebagai contoh yang mudah dipahami adalah larutan campuran asam cuka – air dapat
dipisahkan dengan mengextraksinya menggunakan pelarut etil asetat. Dalam hal ini, Asam
Cuka adalah Solute (A) , Air adalah Diluent (B), dan Etil Asetat adalah Solvent (S atau C).
Dalam proses extraksi larutan campuran asam cuka – air dengan mengunakan pelarut etil
asetat akan didapatkan larutan Extrak yang mengandung banyak etil asetat, asam cuka, dan
sedikit air. Sedangkan larutan Rafinate dari proses extraksi larutan campuran asam cuka –
air dengan mengunakan pelarut etil asetat akan mengandung banyak air, sedikit asam cuka,
dan etil asetat.
B. Deskripsi

Mata diklat ini menjelaskan tentang pengetahuan proses extraksi berdasarkan dasar
keilmuan Teknik Kimia yang meliputi : kesetimbangan liquid-liquid, dimana pada materi
ini akan dijelaskan dengan singkat pengaruh temperatur terhadap kelarutan solvent pada
salah satu liquid yang akan diekstrak. Materi selanjutnya adalah metode extraksi, dimana
pada materi ini akan disajikan dasar-dasar perhitungan extraksi, termasuk menentukan
kebutuhan solvent optimum dan minimum serta efisiensi proses pemisahaan antar liquid
dari kolom extraksi. Pada materi selanjutnya akan dijelaskan materi tentang proses extraksi
dengan reflux, dimana pada materi ini akan dijalaskan bagaimana penentuan kebutuhan
solvent sesuai dengan banyaknya reflux yang diperukan serta rasio reflux yang digunakan.

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diklat diharapkan mampu menjelaskan kebutuhan
solvent yang dioperasikan, menentukan jumlah tray actual, serta menentukan efisiensi dari
proses pemisahan antar liquid.
C.1 Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan dapat :
1. Menenentukan kebutuhan solvent pada proses extraksi
2. Menentukan effisiensi tray dari proses extraksi
C.2 Indikator Leberhasilan
1. Mampu menentukan kebutuhan solvent operasi dengan metode grafis
2. Mampu menentukan kebutuhan solvent minimum dengan metode grafis
3. Mampu menentukan effisiensi tray kolom extraksi
BAB II
KESETIMBANGAN LIQUID-LIQUID

A. Teori Kesetimbangan Cairan


Pada proses ekstraksi umumnya melibatkan penggunaan beberapa cairan yang setidaknya
terdiri atas 3 komponen, yang mana salah satu dari komponen cairan tersebut adalah
komponen yang tidak mudah melarut serta secara kimia sangatlah berbeda. Dalam extraksi
cairan- cairan terdapat beberapa sistem kesetimbangan cairan-cairan (Treybal, 1981), yaitu :
1. Sistem 3 cairan – 1 pasang cairan saling melarut sebagian
Sistem ini adalah tipe sistem yang paling banyak dijumpai di proses ekstraksi. Contoh
yang umum adalah sistem :
a. Water (A) –Chloroform (B) – Aceton (C)
b. Benzen (A) – Water (B) – Acetic acid (C)

Diagram segitiga kelarutan untuk sistem 3 cairan yang berlangsung secara isotherm
seperti disajikan pada gambar berikut ini :

Gambar 2.1 : Sistem kesetimbangan 3 cairan dimana cairan C melarut sebagian di A dan
sebagian di B
Diagram segitiga kelarutan pada gambar 2.1 (a) diatas menggambarkan bahwa
Cairan C melarut sempurna di cairan A dan B, tetapi banyaknya cairan A yang
melarut di cairan B adalah sebagian saja begitu pula sebaliknya. Pada titik L akan
disebut dengan cairan A rich (cairan kaya A) karena pada titik ini jumlah cairan A
yang melarut lebih banyak dari pada cairan B, tetapi tidak ada cairan C yang
melarut sama sekali di cairan A maupun di cairan B. Begitu pula sebaliknya di titik
K yang disebut dengan cairan B rich (cairan kaya B), dimana pada titik K ini jumlah
cairan B yang melarut lebih banyak dari pada cairan A, tetapi tidak ada cairan C
yang melarut sama sekali di cairan A maupun di cairan B. Kurva LRPEK umumnya
disebut dengan binodal solubility curve (kurva kesetimbangan liquid/caran), yaitu
kurva yang mengindikasikan perubahan kelarutan cairan A terhadap cairan B (atau
sebaliknya) bilamana ditambahkan cairan C. Area yang berada diluar kurva
LRPEK adalah area cairan homogen satu fasa, sedangkan area yang berada di
bawah kurva (misal : pada titik M) adalah area dimana terdapat 2 cairan yang tidak
saling melarut.

Pengaruh Temperatur
Pada sistem ini temperatur sangat mempengaruhi kelarutan dari cairan A, B dan C
seperti ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar 2.2 : Pengaruh temperatur terhadap kelarutan cairan


Gambar 2.2 menggambarkan bahwa kesetimbangan cairan bergeser seiring dengan
perubahan temperatur operasi ekstraksi. Semakin tinggi temperatur maka kelarutan
cairan A teradap cairan B semakin meningkat, maka cairan A dan cairan B akan
melarut sempurna sehingga akan sulit untuk dipisahkan meskipun telah
ditambahkan cairan C.
Pengaruh Tekanan
Pengaruh tekanan terhadap kesetimbangan cairan sangatlah kecil, kecuali jika
ekstraksi dioperasikan pada tekanan yang sangat tinggi. Semua diagram
kesetimbangan cairan yang ada dianggap telah diplot pada tekanan operasi yang
cukup tinggi untuk menghindari terjadinya penguapan cairan pada proses extraksi,
sehingga tekanan operasi extraksi paling tinggi adalah diatas tekanan uap cairan
cairan tersebut. Bila tekanan operasi extraksi dibawah tekanan uap cairan tersebut
maka cairan cairan tersebut akan menguap dan akan mengganggu proses extraksi.

2. Sistem 3 Cairan – 2 pasang cairan saling melarut sebagian


Sistem cairan ini dapat dicontohkan pada sistem cairan Chlorobenzen (A) – Water
(B) – Methyl Ethyl Keton (C). Pada sistem ini dimana cairan A dan C melarut
sempurna, sedangkan banyaknya cairan A yang melarut di cairan B adalah sebagian
saja begitu pula sebaliknya, dan banyaknya cairan B yang melarut di cairan C
adalah sebagian saja begitu pula sebaliknya. Diagram sistem cairan ini (pada
kondisi isotherm) dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut :

Gambar 2.3 : sistem 3 cairan dimana terdaat 2 pasangan cairan yang saling melarut sebagian,
yaitu cairan A – B dan cairan B - C
Pada temperatur operasi ekstraksi, titik K dan J adalah titik dimana pasangan

cairan A dan B saling melarut sebagian. Sedangkan pada titik H dan L adalah
titik dimana pasangan cairan B dan C saling melarut sebagian. Kurva KRH
disebut sebagai kurva A rich, yaitu kurva dengan komponen cairan A yang
terbanyak, sedangkan kurva JEL adalah kurva dengan komponen B yang
terbanyak. Kurva KRH dan JEL disebut dengan kurva ternary solubility curve,
sedangkan area yang berada diantara dua kurve ini (yaitu titik M) adalah
campuran cairan heterogeneous 2 fasa yang berkesetimbangan pada titik E dan
titik R, dan untuk area yang berada di luar kurve adalah cairan homogenous 1
fasa.

Pengaruh Temperatur
Meningkatnya temperatur operasi ekstraksi umumnya akan meningkatkan
kelarutan dari cairan cairan tersebut. Diagram pengaruh temperatur ini
digambarkan seperti pada gambar 2.4. Jika temperatur dinaikkan hingga
mencapai T4 (lihat gambar 2.4), maka sistem cairan ini akan memiliki karakter
kelarutan seperti pada gambar 2.1.

Gambar 2.4 : Pengaruh temperatur terhadap sistem 3 cairan yang mana 2 cairan
berpasangan saling melarut sebagian

Disamping pengaruh suhu dan tekanan, densitas solvent, viskositas solvent, pengadukan,
interfacial tension, tekanan uap, dan freezing point solvent ikut mempengaruhi pula laju
kelarutan antar cairan (Treybal, 1981).
B. Peralatan Extraksi
Peralatan untuk proses extraksi tidaklah jauh berbeda dengan peralatan Distilasi
dan Absorbsi. Perbedaan antara berbagai tipe peralatan extraksi pada umumnya terletak
pada metoda kontak kedua fasa liquid.
Ada beberapa tipe peralatan untuk proses extraksi liquid-liquid antara lain :
1. Bafle plate colomn
2. Spray colomn
3. Peforated colomn
4. Bubble cap plate colomn
5. Packed colom
Sama halnya dengan Distilasi dan Absorbsi bahwa rate dari kedua macam fasa liquid di
kolom dibatasi oleh “flooding point”, yaitu suatu rate aliran dimana fasa yang terdispersi
kembali keluar kolom. Umumnya bila rate dari suaru fasa bertambah, maka rate fasa
lainnya akan berkurang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga flooding rate ini adalah :
a. Sifat-sifat fisis fluida
b. Tipe dan ukuran packing (untuk packed colomn)
c. Ukuran drop (untuk spry tower)
d. Ukuran dan letak lubang (untuk plate colomn)

C. Pemilihan Pelarut
Untuk menentukan suatu pelarut yang digunakan dalam operasi extraksi liquid-liquid
harus dilakukan beberapa pertimbangan, antara lain :
1. Selektiviti (β)
Separation Factor atau selektiviti solvent S adalah keefektifan solvent S untuk
memisahkan larutan A dan B menjadi komponen-komponen yang terpisah dan
diukur dengan membandingkan A/B dalam fasa yang kaya akan solvent S terhadap
A/B dalam fasa yang kaya akan B. Jadi dalam fasa Extrak (E) dan fasa Rafinate (R)
berkesetimbangan, sehingga :


𝛽= ⁄
...........(2.1)
Syarat untuk penggunaan suatu solvent dalam extraksi harga selektivitinya harus
lebih besar dari 1. Bila harganya = 1 maka pemisahan tidak mungkin terjadi dan
hal ini terjadi pada “plait point” dalam kurva kesetimbangan sistem extraksi (jika
di distilasi titik ini disebut dengan titik Azeotropic)
2. Koefisien Distribusi

Makin besar harga koefisien distribusi (yaitu harga dalam kesetimbangan) maka

makin sedikit pelarut yang dibutuhkan dalam operasi extraksi. Namun demikian
harganya tidak perlu lebih besar dari 1.
3. Ketidaklarutan Solvent
Diusahakan agar solvent hanya melarut pada salah satu komponen larutan yang
akan dipisahkan
4. Recoverybility
Solvent harus mudah diperoleh kembali setelah melakukan tugas pelarutan
sehingga bisa digunakan kembali sebagai pelarut lagi. Proses recoverybility harus
dilakukan dengan cara yang mudah
5. Density
Perbedaan density diantara dua fasa liquid jenuh sangat diperlukan. Makin besar
perbedaannya maka makin bak.
6. Interfacial Tension
Makin besar interfacial tension, maka makin mudah terjadinya penggumpalan
emulsi. Penggumpalan ini lebih dipentingkan karenanya interfacial tension harus
tinggi.
7. Reaktifitas Kimia
Pelarut harus stabil sifat kimianya dan harus bersifat inert terhadap komponen
sistem yangakan dipisahkan.
8. Viskositas, Tekanan Uap, dan Titik Beku
Semua parameter ini harus rendah agar mudah dalam transfer dan storage
9. Tidak Toxic dan Tidak Mudah Terbakar
Dua sifat diatas dimaksudkan untuk keselamatan kerja
10. Harganya Harus Murah
Paramater ini dimaksudkan agar proses extraksi berlangsung dengan ekonomis

D. Solvent Pertamina
Beberapa solvent produksi Pertamina saat ini yang ada (Pertamina, 2016) adalah sebagai
berikut :
a. Solphy – 2
b. LAWS 5
c. Paraxylene

Solphy - 2
SOLPHY – 2 adalah Solvent hidrokarbon yang merupakan salah satu bahan / produk yang
bersifat ramah lingkungan dan menjadi alternative pengganti Bahan Perusak Ozon (BPO),
sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meratifikasi Konvensi Wina dan Protocol
Montreal terkait penghapusan penggunaan bahan – bahan perusak lapisan ozon. SOLPHY-
2 diproduksi oleh kilang PERTAMINA RU II Dumai dan dikemas dalam kaleng (pail)
ukuran 20 liter.
Kegunaan Solphy-2 adalah sebagai solvent pembersih pada kegiatan pre-cleaning, general
cleaning dan degreasing di mesin-mesin pesawat terbang. Parts yang dibersihkan meliputi
Engine/APU parts (termasuk bearings dan bolts), landing gear components, ELMO-
components, airframe metal parts dan lain-lainnya. Produk Solphy-2 dapat juga
diaplikasikan dengan baik pada kegiatan general cleaning di mesin-mesin lainnya, seperti
mesin kereta api, kapal, crane, mesin Industri dan alat berat dengan berbagai metoda
cleaning, yakni spraying, dipping, brushing dan swabbing. Selain sebagal metal cleaning,
Solphy-2 dapat menjadi substitusi produk Stoddard Solvent yang banyak diaplikasikan
pada industri cat, coating dan dry cleaning.
Tabel 2.1 : Typical solvent Solphy-2

No. PROPERTIES TYPICAL UNITS METHODS

1. Kauri Butanol Value 27 - 45 ASTM D – 1133


2. Specific Gravity at 60/60F 760 - 820 Kg/M3 ASTM D – 1298
3. Distillation ASTM D – 86
- IBP Min 145 °C
- Dry Point Max 212 °C
4. Flash Point PMCC 366 °C ASTM D – 93
5. ColourSaybolt + 25 ASTM D – 156
6. Acidity 0,10 %Wt ASTM D – 1218
7. Copper Strip Corrosion, No. 1B ASTM D – 130
2h/212 °F

LAWS 5
Merupakan solvent yang dihasilkan di kilang PERTAMINA RU V di Balikpapan dengan
boiling range antara 140oC — 190oC. Senyawa hidrokarbon yang membentuk solvent
LAWS merupakan campuran dari paraffins, cycloparaffins, dan aromatic hydrocarbon.
Sifat yang menonjol adalah tidak korosif dan bersifat stabil dengan warna yang jernih.
Adapun kegunaan dari solvent jenis ini adalah :

a. Pelarut cat dan varnish


b. Pelarut tinta
c. Insecticide & pesticide
d. Bahan baku untuk memproduksi pelapis sepatu, lantai, dan furnitur
e. Bahan baku untuk industri resin
f. Pelarut untuk pembersih logam
Tabel 2.2 : Typical solvent LAWS 5
No. PROPERTIES TYPICAL UNITS METHODS

1. Density at 15°C 770 - 810 Kg/m3 ASTM D – 1298


2. Distillation ASTM D – 86
- IBP Min 140 °C ASTM D – 86
- FBP Max 190 °C
3. Flash Point ABEL 28 °C ASTM D – 93
4. ColourSaybolt +25 ASTM D – 156
5. Refractive Index - ASTM D – 1218
6. Copper Strip Corrosion No. 1B ASTM D – 130
7. Aromatic Content Max 10 %Vol ASTM D – 1319
8. Doctor Test Negative ASTM D – 4952

Paraxylene

Paraxylene adalah senyawa hidrokarbon aromatic yang dihasilkan dari proses aromatisasi
dari heavy naptha dalam unit platformer yang kemudian dipisahkan untuk memproduksi
benzene dengan ekstraksi dan paraxylene dengan absorbsi. Paraxylene dihasilkan oleh
Kilang Paraxylene PERTAMINA IV Cilacap. Adapun kegunaan dari Paraxylene adalah
sebagai berikut :

- Sebagai Bahan Baku Pure Terephthalic Acid (PTA)


- Sebagai Bahan Baku terephthalic acid (TPA)
- Sebagai Bahan Baku Dimethyl Terephthalate (DMT)
- Sebagai Bahan Baku Polyesters
- Sebagai Solvent,
- Sebagai Bahan Baku Di-Paraxylene dan Herbisida
BAB III
DATA KESETIMBANGAN LIQUID-LIQUID

A. Pendahuluan
Dalam operasi extraksi terdapat 3 metode dalam pengoperasiannya, yaitu :
a. Single Stage contact

Gambar 3.1 : Single Stage Contact

b. Single Multiple contact (Multistage crosscurrent Extraction)

Gambar 3.2 : Multistage crosscurrent Extraction


c. Countercurrent Multiple Contact (Continous Countercurrent Extraction)

Gambar 3.3 : Multistage Continous Countercurrent Extraction

Umumnya proses extraksi di beberapa kilang dilakukan dengan cara Countercurrent


Multiple Contact secara kontinyu, dimana proses ini disebut dengan Multistage
Continuous Countercurrent Contact. Pada operasi secara Countercurrent Multiple
Contact seringkali dilakukan reflux. Ada dua cara dalam melakukan reflux, yaitu :
1. Reflux Extrak atau Enriching dengan Reflux
Cara ini dilakukan bila konsentrasi solute dalam feed cukup encer. Agar lapisan
produk extrak yang dihasilkan cukup pekat, maka dalam stage 1 lapisan ini tidak
diseimbangkan dengan feed, tetapi diseimbangkan dengan reflux dari sebagian
produk extrak yang telah dipisahkan dari pelarutnya dalam solvent removal. Pada
operasi seperti ini feed dimasukkan dibagian tengah, sedangkan bagian yang
berada di sebelah kiri feed disebut dengan bagian enriching.
2. Reflux Rafinate atau Exhausting/Striping denga Reflux
Cara ini dipergunakan untuk memperbaiki derajad pengambilan solute dari
rafinate. Pada cara ini, sebagian dari rafinate dicampur dengan pelarut segar dalam
sebuah mixer dan kemudian pelarut ini masuk stage.
Gambar 3.4a : Proses Extraksi dengan Extract Reflux

Gambar 3.4b : Proses Extraksi dengan Rafinate Reflux

B. Simbol dan Terminology Dalam Perhitungan Extraksi


Dalam perhitungan extraksi terdapat beberapa simbol yang harus diketahui terkait
dengan neraca massa dan plot di grafik dalam penentuan jumlah solvent dan tray. Pada
sebagian literatur terdapat beberapa perbedaan dalam memberikan simbol. Berikut simbol
dan terminologynya yang terdapat di literatur Treybal dengan menggunakan diagram fasa
sehitiga sama sisi :
 A dan B adalah komponen cairan yang tidak saling melarut
 Komponen B adalah sebagai solven pengekstrak
 Campuran A dan C dipisahkan dengan menggunakan solven pengextrak B
 E = Extract (mass larutan/time), adalah larutan hasil pengambilan komponen C dari
feed (campuran A + C) dengan menggunakan larutan pengextract B
(komponen C melarut di solven B) atau disebut dengan solven rich (B-rich).
Disebut solven rich (B-rich) karena di solven B banyak mengandung
komponen C yang berasal dari feed. Pada diagram fasa ditunjukkan dengan
simbol E
 R = Rafinate (mass larutan/waktu), adalah larutan feed (campuran A + C) yang
telah berkurang konsentrasi C nya sehingga lebih banyak konsentrasi A (A-
rich) serta mengandung sangat sedikit sekali solven didalamnya atau disebut
dengan solven lean.
 B = Solvent dengan komposisi B (mass/time)
 Beberapa literatur menyimbolkan solven dengan S
 F = Feed, adalah umpan yang terkomposisi atas A dan C, terkadang juga terdapat
sangat sedikit sekali B
 Solven free (B-Free) = banyaknya solven free yang ditandai dengan tanda koma
diatas huruf (‘). Maksud dari solven free (B-Free) adalah dalam perhitungan
tidak menyertakan solven.
Contoh : E’ = berat larutan B-free/time (berat larutan yang tanpa solven per satuan
waktu)
 𝑥 = konsentrasi komponen C (berat fraksi C) di solven lean (A-rich) atau
Rafinate, mass C/(mass A+mass B+mass C)
 𝑦 = konsentrasi komponen C (berat fraksi C) di solven rich (B-rich) atau
Extract, mass C/(mass A+mass B+mass C)
 𝑁 = berat fraksi B dengan basis B-free, mass B/(mass A+mass C)
 𝑋 = berat fraksi C di rafinate dengan basis B-free, mass C/(mas A+mass C)
 𝑌 = berat fraksi C di extract dengan basis B-free, mass C/(mass A+mass C)
 𝑥′ = 𝑥⁄(1 − 𝑥) = mass C/mass non C di rafinate
 𝑦′ = 𝑦⁄(1 − 𝑦) = mass C/mass non C di extract

Sebagaian lieratur (Geankoplis, Foust, Brown) menyebutkan bahwa :


A = komponen yang diextract dengan solven
B = komponen yang tidak larut di solven
C = solven (S) yang digunakan

C. Diagram Fasa
Ada beberapa diagram fasa yang digunakan dalam perhitungan extraksi, yaitu :
 Diagram fasa segitiga sama sisi
 Diagram fasa segitiga siku-siku
 Diagram fasa Janeckee (pesegi)
 Diagram fasa insoluble solvent

Diagram Fasa Segitiga Sama Sisi

Adalah diagram fasa yang menampilkan ploting dari ketiga komponen A, B, dan C
seperti pada gambar berikut ini :

C
A

Solven

B
Gambar 3.5 : Diagram fasa segitiga sama sisi
Pada gambar diagram fasa diatas angka-angka pada data kesetimbangan diplot semua
dengan pembacaan ploting titik M adalah sebgai berikut :
𝑥 = 0,4
𝑥 = 0,2
𝑥 = 0,4
Diagram Fasa Segitiga Siku-Siku

Pada diagram fasa segitiga siku-siku, angka-angka pada data kesetimbangan hanya di plot
untuk komponen A dan C saja dengan komponen B sebagai titik pivot nol dimana :

𝑥 = 1 − 𝑥 − 𝑥 .............(3.1)

Sehingga bentuk diagramnya adalah sebagai berikut :

C
Mass C/(mass A+mass B+mass C)
𝑥 ,𝑦

B A
𝑥 ,𝑦
Mass A/(Mass A+mass B+mass C)

Gambar 3.6 : Diagram fasa segitiga siku-siku


Diagram Fasa Persegi (Janeckee)

Pada diagram fasa persegi digunakan notasi N yaitu berat fraksi B dengan basis B-free,
yaitu mass B/(mass A+mass C) vs 𝑋 , 𝑌 seperti pada gambar berikut ini :
Mass B/(mass A+mass C)
𝑁

𝑋 ,𝑌
Mass C/(mass A+mass C)

Gambar 3.7 : Diagram fasa persegi (Janeckee)

Diagram Fasa Insoluble Solvent

Diagram fasa insoluble solvent ini mirip sekali dengan kurva kesetimbangan uap-cairan
pada distilasi. Pada diagram ini diplot data antara 𝑦 𝑣𝑠 𝑥′ seperti pada gambar beirkut ini
:
Gambar 3.8 : Kurva kesetimbangan untuk Insoluble Solven

Dimana :

 𝑥′ = 𝑥⁄(1 − 𝑥) = mass C/mass non C di rafinate


 𝑦′ = 𝑦⁄(1 − 𝑦) = mass C/mass non C di extract

D. Kurva Kesetimbangan
Dalam membuat kurva kesetimbangan di salah satu diagram fasa diatas diperlukan
suatu data kesetimbangan. Data kesetimbangan ini didapatkan dari hasil percobaan di
laboratorium. Berikut contoh data kesetimbangan yang diplot pada diagram fasa :
Tabel 3.1 :
Data kesetimbangan liquid-liquid sistem Acetic Acid – Water –
Isopropil Ether pada 293 K (20 oC)

a. Diagram fasa segitiga sama sisi


Bila data kesetimbangan diatas di plot pada diagram fasa segitiga sama sisi dengan
penjelasan notasi sebagai berikut :
A = Water
B = Isopropil ether (solven)
C = Acetic Acid (yang diekstract)
Maka bila data kestimbangan tersebut di plot menjadi sebagai berikut :

PLATE POINT

KURVA EXTRACT LAYER

KURVA RAFFINATE LAYER

Gambar 3.9 : Ploting data kesetimbangan liquid-liquid pada diagram fasa segitiga sama sisi
ditunjukkan garis lengkung warna merah

Plate point adalah titik pertemuan antara ploting extract layer dan rafinate layer,
dimana pada titik pertemuan dua layer ini memiliki sifat yang sama. Titik Plait ini
seperti halnya Azeotrop pada distilasi.

b. Diagram fasa segitiga siku-siku


Berdasarkan beberapa literatur lainnya, bila data kesetimbangan diatas di plot pada
diagram segitiga siku-siku dengan penjelasan notasi sebagai berikut :
A = Acetic Acid (yang diekstract)
B = Water
C = Isopropil ether (solven)
Maka bila data kestimbangan tersebut di plot menjadi sebagai berikut :

Extract Layer, 𝑦 𝑣𝑠 𝑦
C

Plait Point
Mass C/(mass A+mass B+mass C)
𝑥 ,𝑦

Rafinate Layer,
𝑥 𝑣𝑠 𝑥

B A
𝑥 ,𝑦
Mass A/(Mass A+mass B+mass C)

Gambar 3.9 : Ploting data kesetimbangan liquid-liquid pada diagram fasa segitiga siku-siku
ditunjukkan garis lengkung warna hitam

c. Diagram Fasa Persegi (Janeckee)


Sebelum dilakukan pengeplotan pada diagram fasa persegi, terlebih dahulu semua
notasi diubah menjadi solven free (B-free), sehingga plot yang dilakukan adalah :
𝑁 𝑣𝑠 𝑋 , 𝑌 , dimana :

𝑁 = mass B/(mass A+mass C)

𝑌 = Fraksi berat C di liquid extract dengan basis B-free, mass C/(mass A +


mass C)
𝑋 = Fraksi berat C di liquid rafinate dengan basis B-free, mass C/(mass A +
mass C) atau
Sedangkan :
A = Water
B = Isopropil ether (solven)
C = Acetic Acid (yang diekstract)

Maka bila data kestimbangan tersebut di plot menjadi sebagai berikut :

𝑁 𝑣𝑠 𝑌
Mass B/(mass A+mass C)
𝑁

𝑁 𝑣𝑠 𝑋

𝑋 ,𝑌
Mass C/(mass A+mass C)

Gambar 3.10 : Ploting data kesetimbangan liquid-liquid pada diagram fasa


Janeckee
Diagram fasa seperti pada gambar 3.10 diatas juga dapat di plot dari data
kesetimbangan seperti contoh berikut ini :

E. Tie Line
Tie Line adalah garis yang menghubungkan dua komposisi pada layer extract dan
rafinate yang berkesetimbangan. Cara membuat tie line pada diagram fasa adalah
sebagai berikut :
1. Tie line pada diagram segi tiga siku-siku
Untuk membuat tie line dengan diagram fasa segitiga siku-siku, pertama kali
adalah susunlah diagram fasa segitiga siku-siku dan diagram kurva kesetimbangan
𝑥 𝑣𝑠 𝑦 seperti pada gambar 3.11. Kemudian buatlah garis merah dengan urutan
sperti pada gambar 3.11. Kemudian buatlah garis biru yang menghubungkan dua
garis merah tersebut. Garis biru tersebut adalah garis tie line.
Mass C/(mass A+mass B+mass C) Tie Line
𝑥 ,𝑦

𝑥 ,𝑦
Mass A/(Mass A+mass B+mass C)

Diagonal 45o
𝑦 , Lapisan Extract

𝑥 , Lapisan raffinate

Gambar 3.11 : Membuat tie line untuk diagram fasa segitiga siku-siku
2. Tie line pada diagram persegi (Janeckee)

Tie Line
Mass B/(mass A+mass C)
𝑁

𝑋 ,𝑌
Mass C/(mass A+mass C)
𝑌 , B – Rich, Extract Layer
Mass C/(mass A+mass C)

𝑋 , A – Rich, Rafinate Layer


Mass C/(mass A+mass C)
Gambar 3.12 : Membuat tie line untuk diagram fasa Janeckee
3. Tie Line untuk diagram fasa segitiga sama sisi

𝑦 , 𝑙𝑎𝑝𝑖𝑠𝑎𝑛 𝐸𝑥𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡
Tie Line

𝑥 , 𝑙𝑎𝑝𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑅𝑎𝑓𝑖𝑛𝑎𝑡𝑒

Pada diagram fasa segitiga sama sisi berlaku :


A = Water
B = Isopropil ether (solven)
C = Acetic Acid (yang diekstract)
R = Rafinate layer
E = Extract layer
P = Plait Point

Gambar 3.13 : Membuat tie line untuk diagram fasa segitiga sama sisi
BAB IV
METODE PERHITUNGAN EXTRAKSI

Dalam perhitungan extraksi dalam menentukan jumlah stage dan minimum solvent pada
Bab ini hanya disampaikan dengan menggunakan diagram fasa segitiga siku-siku.

A. Single Stage Extraction


Secara operasi, proses single stage operation ini dilakukan secara batch disuatu tangki
berpengaduk. Untuk lebih mudah memahami perhitungan operasi extraksi single stage,
maka perhatikan gambar berikut ini :

Gambar 4.1 : Proses extraksi secara batch di sebuah tangki pengaduk


dan dilengkapi dengan sebuah tangki pengendap hasil proses extraksi
Extract
𝑦 ,
𝑦 ,
𝑦 , Solven (C)
𝑦 ,

𝑥 , 𝑥 ,
𝑥 , 𝑥 ,
𝑥 , 𝑥 ,
Feed Raffinate

Gambar 4.2 : (a) Proses flow diagram (b) ploting data neraca massa pada
diagram fasa

Neraca massa untuk single stage extraction :

1. Neraca Massa Overall :


𝐿 + 𝑉 = 𝐿 + 𝑉 = 𝑀....................(1)

2. Neraca Massa Komponen


𝐿 𝑥 +𝑉 𝑦 =𝐿 𝑥 +𝑉 𝑦 = 𝑀𝑥 ..........................(2)

𝐿 𝑥 +𝑉 𝑦 =𝐿 𝑥 +𝑉 𝑦 = 𝑀𝑥 ....................(3)

𝑥 + 𝑥 + 𝑥 = 1..............................(4)
3. Aturan Lever Arm

( )
= .........(5)
( )

Gambar 4.3 :
Aturan lever arm pada
diagram fasa untuk
memudahkan perhitungan

B. Continuous Multistage Countercurrent Extraction


Dalam operasi sebenarnya, proses extraksi countercurrent multistage yang
berkesinambungan ini banyak dilakukan pada proses pengolahan disebuah kolom
tinggi yang dilengkapi dengan sebuah sieve plate atau perforated palte, dll.

Gambar 4.4 : Kolom extraksi (a) Menara perforated plate atau sieve tray (b)
Menara extraksi berpengaduk
B.1 Neraca Massa proses Continuous Multistage Countercurrent Extraction
Neraca massa untuk proses Continuous Multistage Countercurrent Extraction akan lebih
mudah dipahami dengan memperhatikan gambar berikut ini :

Solven (C)
𝒚𝑪,𝑵 𝟏

A
B

Gambar 4.5 : Skema neraca massa proses extraksi continuous multistage


countercurrent dan ploting pada diagram fasa
Berdasarkan gambar skema neraca massa diatas (gambar 4.5) dapat disusun neraca massa
untuk proses Continuous Multistage Countercurrent Extraction sebagai berikut :
1. Neraca massa overall :
𝐿 +𝑉 = 𝐿 + 𝑉 = 𝑀.....................................(6)
2. Neraca massa komponen C :

𝑥 = = ...........(7)

3. Neraca massa komponen A :

𝑥 = = .............(8)

B.2 Penentuan Jumlah Stage Ideal


Penentuan jumlah stage ideal yang diperlukan dalam suatu proses extraksi
multistage continuous dapat pula ditentukan dengan menggunakan diagram fasa setelah
dilakukan semua ploting neraca massa pada diagram fasa. Langkah-langkah untuk
menentukan jumlah stage ideal dengan menggunakan diagram fasa segitiga siku-siku
adalah sebagai berikut :
1. Buatlah grafik kurva kesetimbangan 𝑦 𝑣𝑠 𝑥 tepat dibawah grafik kesetimbangan
segitiga siku-siku sperti gambar 3.11
2. Hubungkan titik 𝑥 dengan 𝑦 , kemudian perpanjanglah hingga berpotongan dengan
garis perpanjangan 𝑥 𝑦 di titik 𝑥∆
3. Selanjutnya untuk mengetahui jumlah stage, buatlah tie line (garis merah) dari titik 𝑦 ,
kemudian dari titik 𝑥 tarik garis menuju titik 𝑥∆ (garis hijau) seperti gambar 4.6
berikut.
4. Dari langkah 3 didapatkan titik 𝑦 , selanjutnya lakukan hal yang sama seperti garis
merah untuk membuat garis tie line berikutnya dari titik 𝑦 .
5. 𝑥 , 𝑥 , 𝑥 , … … . , 𝑥 adalah banyaknya stage untuk proses extraksi multistage
contonuous countercurrent
Gambar 4.6 : Penentuan jumlah stage ideal dengan menggunakan diagram
fasa untuk proses extraksi continuous multistage countercurrent
𝑦 , Lapisan Extract

𝑥 , Lapisan raffinate
B.3 Laju Solvent Minimum
Ada 4 hal yang perlu diperhatikan pada operasi tanpa reflux, yaitu :
1. Kemurnian produk
Agar recovery solute dari larutan extrak (solven recovery) tidak terlalu mahal
biayanya, maka diharapkan konsentrasi solute pada larutan produk extrak ( 𝑉 )
harus tinggi
2. Presentase recovery
Diinginkan pengambilan solute pada proses extraksi sebanyak-banyaknya, jadi
𝑉 𝑦 sebesar mungkin (atau 𝐿 𝑥 sekecil mungkin).
3. Jumlah stage yang diperlukan
Makin besar jumlah stage, makin mahal pula harga alat
4. Rasio 𝑉 𝐿

Suatu harga 𝑉 𝐿 yang cukup tinggi menyebabkan encernya produk extrak, tetapi
presentase recovery akan tinggi.
Bila dua dari variabel-variabel diatas telah ditetapkan, maka dua variabel lainnya akan
mengikutinya. Pemilihan harga optimum dari variabel-variabel ini memerlukan analisa
ekonomi yang menyangkut harga alat, materi, proses solven recovery selajutnya, dsb.

(V L)minimum
Pada prosentase recovery yang ditentukan, makin kecil harga V, maka makin
banyak stage yang diperlukan. Akhirnya harga V ini akan mencapai suatu harga dimana
untuk memperoleh prosesntase recovery yang lebih dari yang ditentukan akan diperlukan
stage yang tak berhingga jumlahnya. Harga V ini disebut dengan Vminimum, atau
(𝑉 𝐿)𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚. Jadi dalam operasi dihindari harga V yang minimum agar jumlah stage
tertentu pada prosentase recovery yang diinginkan (walaupun pada V yang minimum
terjadi y maksimum).
Dalam analisa dengan diagram segitiga, harga (𝑉 𝐿)𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 dapat ditetapkan dengan
memilih (trial and error) sebuah harga yang merupakan perpanjangan dari tie line-tie line,
dan akan memberikan harga 𝑉 𝐿 terbesar diantara ( 𝑉 𝐿)𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 . Perhatikan pada
gambar 4.7 berikut, cukup banyak titik yang dibuat dari perpanjangan tie line, tetapi hanya
sebuah yang terdekat dengan puncak segitiga (titik 𝑦 ) yaitu yang memberikan harga
𝑉 𝑉
𝐿 terbesar . Biasanya dalam operasi harga 𝐿 ditetapkan beberapa kali dari harga
minimumnya. Sangat sulit untuk memperkirakan dengan tepat tie line yang mana yang
memberikan harga (𝑉 𝐿)𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚

Prosedur Penentuan solven minimum (Vminimum)


a. Untuk diagram fasa segitiga sama kaki
1. Hubungkan titik 𝑥 dengan 𝑦 sehingga membentuk garis lurus 𝑥 𝑦 ,
kemudian perpanjanglah garis ini.
2. Selanjutnya setiap tie line (dari penentuan jumlah stage) diperpanjang hingga
memotong garis 𝑥 𝑦 (lihat gambar 4.7)
3. Carilah satu titik perpotongan dari sekian banyak titik perpotongan antara garis-
garis perpanjangan tie line dengan garis 𝑥 𝑦 yang paling dekat dengan titik
𝑦 . Jika sudah ditemukan maka titik tersebut menjadi titik Δ baru yang disebut
dengan ∆ .
4. Setelah titik ∆ didapat, selanjutnya hubungkan titik ∆ tersebut
dengan titik 𝑥 (garis merah gambar 4.7) sehingga garis ini memotong kurva
kesetimbangan di titik 𝑦 . Titik 𝑦 ini sebagai titik 𝑦 baru.
5. Langkah berikutnya, carilah titik M baru, dengan cara hubungkan titik 𝑦
dengan titik 𝑥 (sehingga membentuk garis lurus 𝑦 𝑥 ), dan hubungkan
titik 𝑦 dengan titik 𝑥 (sehingga membentuk garis 𝑦 𝑥 ). Titik
perpotongan antara garis 𝑦 𝑥 dan garis 𝑦 𝑥 adalah titik M (garis
warna hijau gambar 4.7)
6. Dari titik M baru ini akan didapatkan harga 𝑥 baru dan harga 𝑥 baru.
Selanjutnya gunakan persamaan (7) dan persamaan (8) untuk mencari harga 𝑉
baru yang disebut sebagai 𝑉 atau jumlah laju solven minimum.
Gambar 4.7 : Penentuan jumlah solven minimum dengan menggunakan
diagram fasa untuk proses extraksi continuous multistage countercurrent

C
𝑦
Mass C/(mass A+mass B+mass C)

Tie line
𝑥 ,𝑦

𝑦 𝑦

Titik M baru

𝑥
𝑥 𝑥 𝑥 𝑥
B A
𝑥 ,𝑦
Mass A/(Mass A+mass B+mass C)

B.4 Operasi Multistage Countercurrent Extraction dengan Reflux


Pada proses extraksi dengan reflux, solven ( 𝑉 ) ditambahkan ke stage yang
terakhir (N). Solven yang ditambahkan yang melalui beberapa stage, akan
berkesetimbangan dengan rafinate di setiap stage. Pada akhirnya nanti, extract ( 𝑉 ) yang
berasal dari stage pertama diumpankan ke solven separator, dimana di solven separator ini
terjadi solven removal.

Enriching Stripping
Section Section
VC V1
VN+1
C 1 n F-1 F m N
Lo
LC
LN

D F

Gambar 4.8 : Proses Extraksi dengan Extract Reflux

Pada gambar 4.8 diatas, bagian D adalah solven yang kaya (solven rich) merupakan produk
extract, sedangkan sisanya ( 𝐿 ) adalah extract reflux. Dengan susunan operasi reflux
seperti pada gambar 4.8 diatas, konsentrasi dari solute di fasa ( V ) meningkat sedemikian
rupa sehingga berkesetimbangan dengan feed (umpan) di stage F-1 sampai satge 1. Oleh
sebab itu, hasil akhir produk extract memiliki konsentrasi solute yang tinggi bila
dibandingkan dengan proses extraksi tanpa reflux.
Rafinate reflux pada proses extraksi seperti pada gambar 4.9 tidaklah begitu berguna,
karena peralatan yang didesain untuk bagian relux rafinate hanyalah semata-mata
mencampur fresh solvent dengan rafinate yang direflux. Sehingga proses pencampuran
antara rafinate yang direflux dengan fresh solvent ini mirip dengan proses extraksi di stage
ke-N.

Gambar 4.9 : Proses Extraksi dengan Rafinate Reflux


Pada proses extraksi dengan reflux gambar 4.8 terdapat net flow, yaitu penjumlahan dari
solven yang membawa solute yang terextrak dari stage N ke stage 1.

B.4.1 Perhitungan Pada Operasi Extraksi Multistage Countercurrent dengan


Reflux

Pada oerhitungan operasi extraksi multi stage countercurrent dengan reflux berlaku
persamaan neraca massa berdasarkan Gambar 4.8 sebagai berikut :

Neraca massa overall :


𝐹 =𝑉 +𝐷+𝐿 −𝑉 ............(9)

Net flow di daerah enriching :


∆= 𝐿 −𝑉 =𝐿 −𝑉 ..................(10)

Net Flow di daerah Stripping :


∆= 𝐿 −𝑉 =𝐿 −𝑉 .............(11)

Neraca massa disekitar Extract Refluxer (C) :


𝑉 = 𝑉 + 𝐿 ..............(12)

Dan
𝐿 = 𝐿 + 𝐷 ........................(13)
Maka :
𝑉 = 𝑉 + 𝐿 + 𝐷 ................(14)
Atau
𝐿 − 𝑉 = −(𝐷 + 𝑉 )..........(15)
Sehingga :
∆ = −(𝐷 + 𝑉 ) ...................(16)
Dan
∆ = ∆ + 𝐹...........................(17)
Dalam perhitungannya, proses extraksi dapat dilakukan dengan menggunakan koordinat
segitiga siku-siku atau persegi (solven free) berikut ini :

𝑥∆
𝑦
Gambar 4.10 : Perhitungan extraksi dengan
diagram segitiga siku-siku
𝑦 𝑥∆
Mass C/(mass A+mass B+mass C)

𝑦
𝑥 , 𝑦 (solven)

𝑥
𝑥 , 𝑦 (solute)
𝑧 Mass A/(Mass A+mass B+mass C)
𝑥 ,𝑥 ,𝑥

Penjelasan Gambar 4.10 :


1. Solven yang masuk 𝑉 kemungkinan mengandung sejumlah kecil solute (A) jika
solven yang digunakan adalah solven setelah proses removal dari solven separator.
2. Solven 𝑉 yang telah dipisahkan dari extrak di solven separartor mungkin masih
mengandung sejumlah kecil komponen A dan B sebagai impuritis.
3. Kompoisi 𝑦 dan 𝑦 pada gambar 4.10 menunjukan bahwa 𝑉 dan 𝑉 adalah
solven yang tidak murni.
4. Seringkali, aliran 𝑉 di sirkulasi lagi dan digunakan sebagai fresh solven (𝑉 ).
Tetapi karena sejumlah kecil dari solven ( C ) loss di exit rafinate, maka
penambahan fresh solven harus ditambahkan ke 𝑉 agar menjadi 𝑉 supaya
konsentrasi 𝑦 dan 𝑦 tidak menjadi sama komposisinya.
5. Feed F mungkin mengandung solven, tapi ditunjukkan dengan notasi 𝑧 pada
gambar 4.10, dan saat tidak mengandung solven 𝑧 = 0. Secara umum, feed
mungkin berada pada fasa L atau fasa V atau campuran. Oleh sebab itu, notasi feed
dinotasikan dengan Z, bukan notasi 𝑥 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑦.
6. Dikarenakan 𝑥 adalah aliran komposisi yang berasal dari stage kesetimbangan,
maka garis ini harus terbentang diatas kurva fasa kesetimbangan
7. Komposisi 𝑥 , 𝑥 , 𝑥 adalah sama, karena aliran 𝐿 terbagi menjadi D dan 𝐿 . Jika
pemisahan solven tidak sempurna, maka 𝐿 mengandung sejumlah kecil solven,
seperti yang ditunjukkan 𝑥 pada gambar 4.10
8. Neraca massa sekitar solven separator 𝑉 = 𝑉 + 𝐿 dan 𝑦 terletak diperpotongan
garis lurus 𝑦 𝑥 dan kurva kesetimbangan.
9. Posisi 𝑥∆ adalah :
∆ ∆
= . ..............................(18)

= . (𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑦 = 0)..........(19)

Rasio jumlah aliran 𝐿 (extrak reflux) terhadap aliran D (extrak produk) disebut dengan
𝐿
“reflux rasio”. Nilai minimum rasio atau 𝐷 akan memberikan jumlah stage

yang tak terbatas. Untuk nilai maksimum rasio, yaitu D = 0 disebut dengan “Total Reflux”
akan memberikan jumlah stage yang minimum. Nilai reflux rasio sebenarnya digunakan
untuk batasan ekonomis operasi.

Penyelesaian Perhitungan Operasi Extraksi dengan Reflux yang diselesaikan dengan


diagram segitiga umumnya sulit karena terlalu sesak dengan garis operasi, sehingga
penyelesaian Perhitungan Operasi Extraksi dengan Reflux ini banyak menggunakan
diagram diagram segi empat yang mirip dengan prosedur Distilasi metode Ponchon-Savarit
(diagram free solven) seperti gambar 4.11 berikut ini, dimana :
Untuk sumbu horizontal adalah

𝑋 ,𝑌 = ........(20)

Untuk sumbu vertikal adalah

𝑋 ,𝑌 = ..........(21)

Sedangkan 𝑥 , 𝑥 , 𝑥 adalah komponen yang sama/identik

Dan :

= .........(22)

= ............(23)
Kurva
Extrak Fase

Kurva
Rafinate Fase

Gambar 4.11 : Penyelesaian perhitungan extraksi dengan reflux menggunakan diagram persegi
GLOSSARY

Recovery : Pemurnian kembali pelarut setelah digunakan untuk proes extraksi


Solute : Komponen dari feed yang diambil dengan solven pengextrak
Reflux : Sejumlah produk diambil sebagian untuk dikembalikan lagi ke kolom
Solven : Cairan pengambil salah satu komponen yang terdapat di umpan
Feed : Umpan yang dimasukkan ke kolom extractor
Solven : Alat yang digunakan untuk memisahkan solven dengan cairan hasil
separator
ekstraksi
Extrak : Cairan hasil extraksi komponen tertentu yang berasal dari feed dan
masih bercampur dengan solven
Rafinate : Feed yang telah kehilangan salah satu komponennya setelah proses
extraksi
DAFTAR PUSTAKA

Brown, George. Granger, “Unit Operation”, 1978, John Willey & Sons, New Yok,
USA

Foust. Alan S, “Principles of Unit Operations”, 2 nd edition, 1959,


Pennsylvania, USA

Treybal, Robert E., “Liquid Extraction”, 1 st edition, 1951, Mc Graw Hill


Book Company, USA