Anda di halaman 1dari 18

1.

1 Pengertian Hotel

Bagi wisatawan, hotel sebagai tempat penginapan diharapkan terwujud seperti rumah
ideal atau a home away from home. Berikut merupakan beberapa pengertian hotel menurut:

1) Hotel Proprietors Act (1956) mengatakan hotel adalah suatu perusahaan yang dikelola
oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman dan fasilitas
kamar untuk tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu
membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa
adanya perjanjian khusus.
2) Grolier electronic publishing Inc. (1995) mengemukakan bahwa hotel adalah usaha
komersial yang menyediakan tempat menginap, makanan, dan pelayanan-pelayanan
lain untuk umum
3) AHMA (America Hotel & Motel Association) hotel adalah suatu tempat yang
menyediakan tempat menginap, makanan dan minuman, dan pelayanan lainnya untuk
disewakan kepada tamu atau orang-orang yang tinggal untuk sementara waktu.

Berdasarkan surat keputusan menparpostel No. KM 37/PW.340/MMPT-86, tentang


Peraturan usaha dan Penggolongan Hotel menyebutkan hotel adalah suatu jenis akomodasi
yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa
penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola
secara komersial.

Pengertian hotel menurut Keputusan Menparpostel tersebut, membedakan pengertian


penginapan atau losmen, dimana dalam keputuan tersebut dijelaskan bahwa penginapan
atau losmen tidak termasuk dalam pengertian hotel. Penginapan atau losmen adalah suatu
usaha komersial yang menggunakan sebagian atau seluruh dari bangunan yang khusus
disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan sewa kamar untuk menginap.
Dengan demikian perbedaannya dengan hotel adalah penginapan tidak menyediakan
pelayanan makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya.

Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian diatas, yang dimaksudkan dengan hotel
adalah suatu badan usaha yang bergerak dibidang jasa dan di didalamnya terdapat beberapa
unsur pokok yang terkandung dalam pengertian hotel, yaitu:

1) Suatu jenis akomodasi


2) Menggunakan sebagian atau seluruh bangunan yang ada

1
3) Menyediakan fasilitas pelayanan jasa penginapan
4) Menyediakan makanan dan minuman serta jasa lainnya
5) Fasilitas dan pelayanan tersebut disediakan untuk para tamu dan masyarakat umum
yang menginap
6) Berfungsi sebgai tempat sementara
7) Dikelola secara komersial

Ada beberapa karakteristik dari industri hotel (Gray, 1996), yaitu:

a. Usaha musiman (seasonality of bussines), yang ditunjukkan dengan fluktuasi dalam


volume penjualan pada saat peak season (Agustus, September dan Desember) dan off
season (Maret, April, dan Mei).
b. Mempunyai rantai distribusi dan rentan waktu yang pendek, seperti dalam operasi jasa
makanan, dimana bahan mentah diolah menjadi produkmjadi kemudian dijual dan
menjadi kas dalam waktu yang relatif singkat, sehingga investasi pada persediaan
nilainya minimal (biasanya berkisar antara 5% dari total aktiva).
c. Merupakan industri yang menggunakan tenaga kerja secara intensif, dimana
memberikan pelayanan yang cepat, fasilitas pelayanan selama 24 jam, mengutamakan
kepuasan tamu, sehingga dari hal tersebut beban gaji menjadi elemen utama dalam kos
penjualan.
d. Investasi pada industri hotel sebgian besar dalam aktiva tetap, seperti kos konstruksi,
furniture, elektronik dan lain-lainnya (biasanya berkisar 55%- 85% dari total aktiva).

1.2 Jenis Penggolongan Hotel dan Klasifikasi Hotel

Klasifikasi atau penggolongan hotel adalah suatu system pengelompokan hotel


kedalam berbagai kelas atau tingkatan, berdasarkan ukuran penilaian tertentu. Hotel dapat
dikelompokan kedalam berbagai kriteria menurut kebutuhanya, namun ada beberapa
kriteria yang dianggap paling lazim digunakan. Sistem klasifikasi hotel di dunia berlainan
antara negara yang satu dengan negara yang lain. Sebagai contoh negara Tiongkok
menggunakan klasifikasi: Tourist class, starndart&super class. Negara Bulgaria, Kolombo,
Equador, Syria, Kuwait menggunakan klasifikasi hotel kelas A, B, C, D dan E. Di Indonesia
pada tahun 1977, dengan keputusan Menparpostel No. PM.10/PW.301/Pdb-77 tentang
usaha dan klasifikasi hotel, ditetapkan bahwa penilaian klasifikasi hotel secara minimum
didasarkan pada:

2
1) Jumlah Kamar
2) Fasilitas
3) Peralatan yang tersedia
4) Mutu pelayanan
Berdasarkan pada penilaian tersebut, hotel-hotel di Indonesia kemudian digolongkan
ke dalam 5 (lima) kelas hotel, yaitu: bintang satu sampai bintang lima. Tujuan dari
klasifikasi atau penggolongan hotel secara umum adalah:
1) Sebagai pedoman teknis bagi calon investor untuk memilih investasinya dibidang
usaha perhotelan apakah pada hotel berbintang atau melati.
2) Memberikan informasi kepada para tamu yang akan menginap dihotel tentang
standart fasilitas yang dimliki oleh masing-masing jenis dan tipe hotel.
3) Agar tercipta suatu persaingan yang sehat antara pengusaha hotel.
4) Supaya tercipta keseimbangan antara permintaan (supply) dan penawaran (demand)
dalam usaha perhotelan.

Peraturan tersebut kemudian diperbaiki dengan peraturan baru yaitu berdasarkan


Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM37/PW.340/MPPT-
86 tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel, diberikan penjelasan tentang:
- Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh
bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa
penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersal (Bab I, pasal 1, ayat
b).
- Akomodasi adalah wahana untuk menyediakan pelayanan jasa penginapan, yang
dapat dilengkapi dengan pelayanan makan dan minum serta jasa lainnya (Bab I,
pasal 1, ayat a).
- Penginapan atau Losmen adalah suatu usaha komersial yang menggunakan seluruh
atau sebagian dari suatu bangunan yang khusus disediakan bagi setiap orang untuk
memperoleh pelayanan sewa kamar untuk menginap (Bab I, pasaI 2).

Fasilitas usaha hotel sebagai bagian integral dari usaha pariwisata, yang merupakan
usaha akomodasi yang dikomersialkan, meliputi :
- kamar tidur (kamar tamu)
- makanan dan minuman
- pelayanan penunjang lain, seperti tempat rekreasi, fasilitas olah raga, fasilitas
laundry dan sebagainya.

3
Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh tamu yang menginap pada hotel tersebut
selama 24 jam. Sedangkan penggolongan hotel berdasarkart SK di atas, ditetapkan sebagai
berikut:
1) Penggolongan hotel ditandai dengan "bintang", dari bintang 1 sampai dengan 5.
2) Syarat penggolongan hotel berdasarkan kondisi phisik:
a) Besar/kecilnya hotel atau banyaknya kamar:
- Hotel kecil: 25 kamar atau kurang
- Hotel sedang: lebih dari 25-100 kamar
- Hotel rnenengah: lebih dari 100-300 kamar
- Hotel besar: lebih dari 300 kamar
Kualitas, lokasi dan lingkungan bangunan
b) Fasilitas yang dimiliki hotel untuk tamu
c) Kelengkapan peralatan yang tersedia
d) Kualitas bangunan
e) Tata letak ruang dan ukuran ruang
3) Operasional/manajemen meliputi:
a) Struktur organisasi, uraian tugas dan manual kerja secara tertulis
b) Tenaga kerja, spesialisasi dan tingkat pendidikan karyawan
4) Pelayanan meliputi:
a) Keramahan, sopan dan menggunakan seragam
b) Pelayanan mengacu pada kebutuhan dan keinginan tamu
c) Pelayanan dibuka selama 24 jam (hotel bintang 4 dan 5)

Dalam SK Dirjen Pariwisata tersebut juga mengatur jenis penginapan dengan fasilitas
bawah hotel berbintang (hotel melati), seperti wisma, home stay, losmen.
United State Lodging Industry membagi hotel menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Transient hotel, hotel yang lokasinya di tengah kota dengan jenis tamu yang
menginap sebagian besar adalah untuk urusan bisnis dan turis.
- Residential hotel, hotel yang pada dasarnya merupakan rumah-rumah berbentuk
apartemen dengan kamar-kamarnya, dan disewakan secara bulanan atau tahunan
yang menyediaka kemudahan-kemudahan seperti restoran, layanan makanan yang
diantar ke kamar, dan pelayanan kebersihan kamar.

4
- Resort hotel, hotel yang pada umumnya berlokasi di tempat-tempat wisata, dan
menyediaka tempat-tempat rekreasi dan juga ruang serta fasilitas konferensi untuk
tamu-tamunya.

Dilihat dari jaringan pemasaranya, ada 3 kelompok jaringan pengusahaan hotel:


- jaringan hotel internasional (international hotel chains)
adalah jenis hotel yang pengelolaanya dibawah hotel jaringan internasional
sehingga pemasaran dan fasilitas antara jaringan tersebut akan sama.
- jaringan hotel nasional (national hotel chains)
adalah jenis hotel yang pengelolaanya dibawah hotel jaringan nasional sehingga
pemasaran dan fasilitas antara jaringan tersebut akan sama.
- hotel yang dikelola secara independen
adalah hotel yang dimiliki secara personal sehingga dari segi pemasaran dan
pengelolaannya tergantung dari pemiliknya.

Perbedaan dari ke 3 kelompok tersebut ada pada produk yang dihasilkan, yang
memberikan kekuatan bagi konsumen dan pengelola secara sendiri-sendiri untuk
mempengaruhi permintaan dan penawaran.
Dilihat dari tipe harga kamar yaitu penetapan harga kamar yang dikaitkan dengan
penyediaan atau penjualan makanan, maka hotel dikelompokan menjadi:
a. European Plan (EP)
European Plan adalah system satuan harga hanya untuk kamar saja, sedangkan harga
makanan tidak termasuk dalam satuan harga kamar. Jika ada tamu ingin makan,dan
minum maka tamu dapat menggunakan fasilitas restaurant yang ada dihotel, dan harga
makanab dan minuman dikenakan di luar kamar.
b. American Plan (AP)
American Plan adalah sistem satuan harga sewa kamar sudah termasuk harga makanan
yang disajikan kepada tamu, tanpa memperhatikan apakah tamu tersebut makan atau
tidak. Sistem American Plan dapat dibedakan menjadi dua:
- Full American Plan adalah hotel sudah memasukan keharga kamar plus tiga kali
makan, yaitu: breakfast, lunch dan dinner.
- Vied American Plan adalah hotel sudah memasukan keharga kamar plus makan dua
kali yaitu: breakfast dengan lunch atau breakfast dengan dinner.

5
c. Continental Plan (CP)
adalah hotel sudah memasukan keharga kamarnya makan satu kali, breakfast dan jenis
makan breakfast adalah makanan continental.
d. Plan (BP)
adalah hotel sudah memasukan keharga kamarnya makan satu kali, yaitu breakfast dan
jenis makan breakfast adalah makanan ala American atau English.

Kebanyakan hotel kecil, dikelola secara langsung oleh pemiliknya, tetapi pada hotel
besar terdapat pemisahan antara pengelola dan pemiliknya. Dilihat dari kepemilikan dan
manajemenya, dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Propetary ownership
2) Franchise
3) Management Contract

Kegiatan utama dari suatu hotel adalah menyewakan kamar kepada tamu. Untuk bisa
memberikan kepuasan kepada tamu keadaan kamar yang disewakan harus ada dalam
keadaan bersih, nyaman, menarik dan aman. Jenis-jenis kamar pada hotel dilihat dari
fasilitas tempat tidur yang ada dikamar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi:
a. Single Room adalah kamar untuk satu orang yang dilengkapi dengan satu buah
tempat tidur berukuran single untuk satu orang.
b. Twin Room ndalah kamar untuk dua orang yang dilengkapi dengan dua buah
tempat tidur berukuransingle.
c. Double Room adalah karnar untuk satu orang yang dilengkapi dengan satu buah
tempat tidur berukuran double untuk dua orang.
d. Double-Double room adalah kamar untuk empat orang yang dilengkapi dua kamar
dengan dua buah tempat tidur berukuran double untuk dua orang.

Adapun jenis kamar menurut harga atau tarif dan fasilitas yang ada dikamar dapat
dibedakan menjadi:
a) Standart Room
b) Superior Room
c) Moderate Room
d) Suite Room
e) Excecutive suite room
f) Penhouse

6
1.3 Sejarah Perkembangan Hotel di Eropa dan Amerika

Kata hotel dulunya berasal dari kata HOSPITIUM (bahasa Latin) artinya ruang tamu.
Dalam jangka waktu lama kata hospitium mengalami proses perubahan pengertian dan
untuk membedakan antara Guest Room dan Masion House yang berkembang pada saat itu,
maka rumah-rumah besar disebut HOSTEL. Kata hostel lambat laun huruf “s” pada kata
hostel tersebut menghilang atau dihilangkan orang, sehingga kata hostel berubah menjadi
hotel seperti yang dikenal sekarang.

Pada tahun 3000 Sebelum Masehi telah ada penginapan pertama yang berbentuk
“inn”, yaitu rumah-rumah pribadi dengan beberapa kamar yang disediakan bagi pejalan
kaki untuk istirahat atau tidur. Kemudian tahun 961 Sesudah Masehi, di Swiss-Alpine,
Augustinian Monks membangun hotel Le Grand Saint Bernard Hospice yang
diperuntukkan bagi orang yang berziarah dari dan ke Roma.

City Hotel dibangun pertama kali di New York pada tahun 1794. Tahun 1800-an,
Amerika menjadi negara pengembang usaha hotel yang utama, tapi karena harganya mahal
hanya kaum hartawan yang dapat menikmati menginap di hotel mewah bergaya Eropa.
Kemudian pada tahun 1829, Hotel Tremont House di Boston Amerika yang pertama kali
melengkapi hotelnya dengan lobby dan menyediakan kamar privat dengan pintu kamar
dipasang kunci pengaman.

Awal tahun 1990-an, pelayanan hotel secara professional mulai dikembangkan oleh
Ellsworth M. Statler, seorang oeperator hotel Amerika, yang melengkapi kamar dengan
kamar mandi privat dan kaca rias yang lebar. Pada pertengahan tahun 1900-an, mulai
berkembangnya hotel-hotel yang dikelola oleh suatu mata rantai pengelola usaha hotel
(individu atau suatu perusahaan yang memiliki beberapa hotel).

Pada abad ke-18, di kota-kota besar Eropa dan Amerika, mulai bermunculan hotel-
hotel yang menjadi awal lahirnya hotel-hotel modern. Hotel Covent Garden yang dirikan
tahun 1774, selain memiliki fasilitas lengkap untuk zamannya dan jumlah kamar yang
banyak, letak hotel ini berdampingan langsung dengan bioskop dekat Westminsfer di
London. Ada pula City Hotel di New York dengan kapasitas 170 kamar yang didirikan pada
1794.

7
Industri perhotelan berkembang pesat pada abad ke-19. Hotel-hotel modern mulai
didirikan di banyak kota besar, seperti London, Paris, New York, Boston, San Fransisco,
dan lainnya. Para pengelola hotel-hotel ini tidak hanya menawarkan paket pelayanan tempat
tinggal sementara, tetapi juga mulai menyediakan tempat pertemuan dan konferensi beserta
perangkat teknologi terbaru, seperti telepon dan televisi.

Bahkan, pada akhir abad ke-19, muncul hotel-hotel dengan label khusus, misalkan
hotel untuk business travellers, contohnya Ellsworth Milton Statler Hotel di New York yang
didirikan tahun 1880. Hotel ini pun merupakan chain hotel alias jaringan hotel pertama di
dunia. Hotel mewah mulai bermunculan, Hotel Waldorf-Astoria (didirikan tahun 1896) di
New York dan The Brown Palace di Denver, Colorado. Keduanya termasuk hotel dengan
tingkat kunjungan tertinggi di Amerika pada masa itu.

Pada abad ke-20, khususnya setelah berakhirnya Perang Dunia I, jumlah hotel
semakin meningkat seiring perkembangan alat-alat transportasi massal dan berkembangnya
bisnis travel. Hotel-hotel baru ini banyak didirikan di sekitar pusat-pusat bisnis. Hal lain
yang turut mempengaruhi perkembangan industri hotel adalah berkembangnya dunia
pariwisata yang kemudian melahirkan hotel-hotel resort yang menawarkan paket
penginapan sekaligus akomodasi.

Pada masa ini, sejak tahun 1920-an, sekolah-sekolah perhotelan pun mulai
bermunculan di banyak tempat. Pada masa berlangsungnya Perang Dunia ke-2, dan masa-
masa sesudahnya, bisnis perhotelan berkembang pesat. Akan tetapi, pada masa itu hampir
tidak ada hotel baru yang dibangun.

Para pengelola lebih memilih untuk mengembangkan hotel yang ada, baik dari segi
fasilitas, kualitas pelayanan, dan manajemen, termasuk berpindahnya kepemilikan hotel
dari pribadi ke dalam sebuah korporasi. Dalam perkembangan selanjutnya, industri hotel-
hotel besar di Amerika mulai melebarkan sayapnya ke luar negeri dengan menggunakan
sistem franchise. Lahirlah jaringan hotel-hotel besar di bawah sebuah korporasi besar,
seperti Hilton, Hyatt, JW Marriots, dan sebagainya.

1.4 Sejarah Perkembangan Hotel di Indonesia

Sejarah perkembangan perhotelan di Indonesia belum banyak terungkap, juga belum


banyak buku yang mengungkapkan masalah ini. Indonesia telah dikenal di dunia pariwisata
sejak sebelum Perang Dunia ke I, tetapi jumlah wisatawan yang berkunjung masih terbilang

8
ribuan. Seiring dengan perkembangan kedatangan wisatawan asing ke indonesia yang lebih
memerlukan sarana akomodasi pariwisata yang memadai, maka semasa penjajahan kolonial
Belanda, mulai berkembanglah hotel-hotel di Indonesia.

Dari buku PARIWISATA INDONESIA DARI MASA KE MASA tercatat hotel-hotel


yang sudah hadir pada saat itu diantaranya :

1) Jakarta, dibangun Hotel Des Indes, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal dan Hotel
Rijswijk.
2) Surabaya, berdiri Hotel Sarkies dan Hotel Oranje.
3) Semarang, berdiri Hotel Du Pavillion.
4) Malang, Palace Hotel.
5) Solo, Slier Hotel.
6) Yogyakarta, Grand Hotel ( sekarang Hotel Garuda )
7) Bandung, Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Pension Van Hangel ( kini
Hotel Panghegar )
8) Bogor, Hotel Salak.
9) Medan, Hotel de Boer dan Hotel Astoria.
10) Makasar, Grand Hotel dan Staat Hotel.

Kebanyakan hotel-hotel ini masih beroperasi hingga sekarang, ada yang menjadi
Herritage Hotel, ada yang sudah direnovasi menjadi lebih baik dan ada juga yang telah di
redevelopment total sehingga tidak lagi menyerupai bentuk aslinya, seperti Hotel Des Indes.
Pada tahun 1960 hotel ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diganti namanya
menjadi Hotel Duta Indonesia. Pada tahun 1971 bangunan hotel ini dibongkar untuk
didirikan pertokoan Duta Merlin. Foto disamping merupakan foto Hotel Des Indes 1925-
1940 (sumber : Google)

Setelah periode pemerintahan Orde Baru, pembangunan dan kehadiran hotel di


Indonesia jauh berkembang pesat. Terutama setelah masuknya beberapa chains
‘management’ hotel international yang banyak merambah ke kota-kota besar di Indonesia.
Sejalan dengan berkembangnya hotel di indonesia, wajah arsitektur hotel di Indonesia pun
sangat berkembang dan innovative. Akan tetapi hal ini menjadi satu tolak ukur sejarah baru
untuk Hotel di Indonesia.

9
Seiring dengan tumbuhnya dunia pariwisata Indonesia, sejarah Hotel di
Indonesia pun turut andil menyukseskannya. Keberadaan hotel-hotel di Indonesia, tentu
saja sangat dibutuhkan dalam industri pariwisata dan perhotelan, mengingat tanpa
akomodasi yang memadai, mustahil turis untuk mau berkunjung. Industri pariwisata
Indonesia makin menanjak saat kepariwisataan di Bali mulai mendapatkan perhatian serius.
Pada tahun 1963, dibangunlah Hotel Bali Beach, kemudian dalam tiga tahun berikutnya
menyusul diresmikannya Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional.
Pada perkembangannya baru-baru ini, Bali makin hotel dipenuhi turis-turis asing yang bisa
kita jumpai di berbagai tempat, hingga di pelosok desa terpencil sekali pun.

Tak berbeda jauh dengan Bali, kehidupan pariwisata di daerah lain pun turut bangkit.
Seperti di Malang, Jawa Timur, yang mempunyai beberapa objek wisata potensial. Yang
paling mencuat dan didatangi pengunjung adalah kawasan Batu, dengan kontur daerah yang
berbukit, perkebunan apel dan Selekta, sebuah objek wisata yang berhasil mengembangkan
tulip, sehingga suasananya mirip dengan Belanda. Kota berhawa sejuk yang berjarak 90 km
di sebelah selatan Kota Surabaya ini, mulai tumbuh dan membenahi berbagai fasilitas serta
sarana dan prasarana pendukung. Seolah ingin melestarikan peninggalan bersejarah,
pemerintah Kota Malang tetap mempertahankan berbagai yang dibangun pada jaman
kolonial Belanda. Sebagai contoh, Hotel Pelangi, yang tergolong salah satu hotel tertua di
kota yang kita kenal juga dengan sebutan Kota Pelajar itu. Hingga sekarang, hotel yang
berlokasi di bilangan Jalan Merdeka ini, tetap menjadi hotel yang layak huni bagi pelancong
dan malah memberikan sebuah keindahan tentang kenangan masa lampau lewat foto-foto
“jadul” yang dipajang di dinding hotel.

Sementara, keadaan perhotelan di Bandung, juga tidak kalah semarak. Perkembangan


beragam usaha, mulai dari distro, kuliner, kafe, home industry, dan factory outlet (FO),
membuat Kota Kembang ini diserbu pengunjung. Khususnya di akhir pekan/libur,
pengunjung yang datang ke Bandung begitu membludak. Sebagai imbasnya, bisnis hotel di
Bandung ikut terdongkrak. Berbagai kelas hotel, dari kelas melati hingga berbintang, dari
harga yang murah hingga harga yang mahal, dapat ditemui dengan mudah di dekat pusat
keramaian atau di seputar obyek wisata.

10
Pada jaman penjajahan Belanda sudah ada usaha akomodasi yang dikelola secara
komersial, tapi belum dikelola modern, seperti:

1) Hotel Savoy Homan dibangun tahun 1998, kemudian direnovasi tahun 1937 dan selesai
tahun q939.
2) Hotel Preanger dibangun tahun 1897, kemudian baru pada tahun 1928 menjadi hotel
yang lebih terkonsep.
3) Hotel Mij De Boer, hotel yang paling menengah di Medan, didirikan tahun 1898 oleh
Aeint Herman De Boer (Belanda), yang diperuntukan bagi pengusaha perkebunan dan
pejabat pemerintahan Belanda. Dalam rangka nasionalisasi pada tanggal 14 Desember
1957 diambil alih Indonesia dan berganti nama menjadi Hotel Dharma Bhakti,
kemudian diubah lagi menjadi Hotel Dharma Deli.
4) Grand Hotel de Djokya, hotel lama di Malioboro – Yogyakarta didirikan tahun 1908
dan beroperasi tahun 1911, kemudian setelah renovasi diganti menjadi Hotel Garuda.

1.5 Struktur Organisasi Hotel

Prinsip-prinsip pengelolaan manajemen hotel pada hakekatnya adalah sama dengan


prinsip-prinsip manajemen organisasi perusahaan pada umumnya. Prinsip-prinsip
pengelolaan manajemen hotel didasarkan pada falsafah dan gaya manajemen yang bersifat
konservatif atau agresif akan dijadikan sebagai suatu dasar untuk menetapkan visi dan misi
perusahaan. Visi merupakan suatu gambaran ideal yang ingin dicapai oleh perusahaan
dimasa mendatang. Sedangkan misi adalah suatu pernyataan tentang usaha hotel.
Berdasarkan visi dan misi tersebut, maka hotel akan menyusun sasaran-sasaran yang
hendak dicapai dalam bentuk kebijakan-kebijakan perusahaan, seperti:

a. Pangsa pasar yang dituju


b. Jenis produk yang dihasilkan
c. Standar produk yang dihasilkan
d. Keuntungan yang ingin dicapai
e. Pola hubungan antara perusahaan dengan karyawan, pemasok, komunitas, dan
masyarakat sekitarnya.

Struktur organisasi menunjukan suatu tingkatan hirarkis, di mana dari struktur


organisasi tersebut dapat diketahui bagian-bagian yang ada di hotel, hubungan antara bagian
di hotel serta hubungan antara atasan dan bawahan. Dasar penyusunan organisasi antara

11
hotel yang satu dengan hotel yang lain mempunyai kesamaan, karena setiap hotel
mempunyai produk layanan yang sama, yaitu: sewa kamar, makanan dan minuman, sport,
kasino dan produk lainnya. Akan tetapi bentuk dan luas organisasi hotel akan berbeda antara
hotel yang satu dengan hotel yang lain. Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya
perbedaan-perbedaan:

a. Type dan jenis hotel


b. Size hotel (besar atau kecil)
c. Fisik bangunan hotel
d. Kemampuan tenaga kerja yang ada didalamnya
e. Sistem manajemen dan pengelolaan yang diberlakukan

Struktur organisasi dirancang sesuai dengan kebutuhan hotel, semakin besar dan
lengkap fasilitasnya maka struktur organisasinya juga semakin komplek. Berdasarkan
struktur organisasi dapat ditentukan perkiraan jumlah karyawan yang dibutuhkan secara
keseluruhan. Struktur organisasi pada hotel biasanya disusun berdasarkan fungsionalnya,
seperti: marketing, accounting, personel, dan produksi. Struktur organisasi merupakan
bagan organisasi dan rantai perintah. Dari struktur organisasi karyawan dan organisasi di
dalamnya mendapat informasi:

1) Kedudukan dirinya dalam organisasi, dalam batas dan jalur wewenang serta
tanggung jawabnya sehingga mengurangi kebingungan karyawan untuk
mendiskusikan komplin sesuai rantai komando.
2) Mengetahui jenjang karir yang jelas melalui hirarki yang ada dalam jabatan-jabatan
yang ada di struktur organisasi.
3) Memberi informasi tanggung jawab untuk jalur instruksi.
4) Menunjukkan jalur koordinasi dan kerjasama antar bagian melalui departemen dan
seksi-seksi yang ada dalam organisasi, juga fungsi serta tugas masing-masing
departemen dan seksi-seksi yang ada sehingga meningkatkan efisiensi.

Dari struktur organisasi dapat disiapkan analisis jabatan (Job Analysis) yang terdiri dari:

1) Uraian tugas (Job Description)


2) Standar manual pekerjaan (Standart operational prosedure/SOP)
3) Spesifikasi jabatan (Job Specification)

12
Job description menggambarkan kewajiban dari masing-masing posisi. Prosedur
manual SOP (standart operational procedure) memberikan gambaran bagaimana pekerjaan
atau kewajiban akan dilaksanakan. Struktur jabatan yang ada dihotel, seperti:

- Manajer: General Manajer, Resident Manajer


- Head/Manajer Departement: room, food & beverage, accounting, maintenance &
engineering.
- Chef: kitchen, pastry
- Assistant manajer
- Supervisor
- Staf

13
PEMBAHASAN KASUS

Soal 1 : Sebutkan faktor-faktor yang menentukan penggolongan usaha perhotelan.

Jawaban :

Faktor-faktor yang menentukan penggolongan usaha perhotelan, yaitu:

A. FAKTOR FISIK
1. Besar/ kecilnya hotel atau banyak/ sedikitnya jumlah kamar :
a) Hotel kecil, dengan 25 kamar atau kurang
b) Hotel sedang, dengan memiliki lebih dari 25 kamar dan kurang dari 100 kamar
c) Hotel menengah, dengan memiliki lebih dari 100 kamar dan kurang dari 300
kamar
d) Hotel besar, dengan memiliki lebih dari 300 kamar
2. Kualitas, lokasi, dan lingkungan bangunan
3. Fasilitas yang tersedia untuk tamu
4. Perlengkapan yang tersedia baik untuk tamu, karyawan maupun pengelola hotel
5. Kualitas bangunan
6. Tata letak ruang dan ukuran ruang

B. FAKTOR TINGKATAN ATAU JENIS BINTANG


1. Hotel bintang satu *
2. Hotel bintang dua **
3. Hotel bintang tiga ***
4. Hotel bintang empat ****
5. Hotel bintang lima *****
C. FAKTOR TUJUAN PEMAKAIAN SELAMA MENGINAP
1. Bussiness hotel, yang banyak digunakan oleh para usahawan
2. Recreational hotel, yang banyak digunakan untuk orang-orang yang akan santai atau
berekreasi

D. FAKTOR LOKASI
1. City hotel, hotel yang terletak di dalam kota, dimana sebagian besar tamunya yang
menginap melakukan kegiatan bisnis

14
2. Resort hotel, yang terletak di kawasan wisata, dimana sebagian besar tamu yang
menginap untuk berwisata. Macam-macam resort hotel berdasarkan lokasi antara
lain:
a) Mountain Hotel
b) Beach hotel
c) Lake hotel
d) Hill hotel
e) Forest hotel
3. Suburb hotel, yang lokasinya dipinggiran kota, yang merupakan pertemuan antara
dua kotamdya
4. Urban hotel, yang berlokasi di pedesaan dan jauh dari kota besar
5. Airport hotel, yang berada dalam satu komplek bangunan atau area disekitar
bandara udara.

E. FAKTOR DAYA JUAL


1. European plan, biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kamar hanya untuk harga
kamar saja. Keistimewaanya antara lain :
a) Praktis
b) Memudahkan system pembayaran pada saat check out
2. American plan, harga kamar dimana harga yang dibayarkan sudah termasuk harga
kamar itu sendiri ditambah dengan harga makan. American plan dibagi menjadi dua,
yaitu :
a) Full American Plan (FAP), harga kamar yang sudah termasuk dengan tiga kali
makan sehari.
b) Modified American Plan (MAP), harga kamar sudah termasuk dengan dua kali
makan dimana salah satu di antaranya makan pagi
3. Continental plan, harga kamar dimana harga kamar tersebut termasuk dengan
continental breakfast.
4. Bermuda plan, harga kamar dimana harga kamar yang dibayar sudah termasuk
dengan American breakfast.

F. FAKTOR JUMLAH KAMAR DAN PERSYARATANNYA


1. Hotel bintang satu *
a) jumlah kamar standar minimum 15 kamar

15
b) kamar mandi di dalam
c) luas kamar standar minimum 20 m²
2. Hotel bintang dua **
a) jumlah kamar standar minimum 20 kamar
b) kamar suite minimum 1 kamar
c) kamar mandi di dalam
d) luas kamar standar minimum 22 m²
e) luas kamar suite minimum 44 m²
3. Hotel bintang tiga ***
a) jumlah kamar standar minimum 30 kamar
b) kamar suite minimum 2 kamar
c) kamar mandi di dalam
d) luas kamar standar minimum 24 m²
e) luas kamar suite minimum 48 m²
4. Hotel bintang empat ****
a) jumlah kamar standar minimum 50 kamar
b) kamar suite minimum 3 kamar
c) kamar mandi di dalam
d) luas kamar standar minimum 24 m²
e) luas kamar suite minimum 48 m²
5. Hotel bintang lima *****
a) jumlah kamar standar minimum 100 kamar
b) kamar suite minimum 4 kamar
c) kamar mandi di dalam
d) luas kamar standar minimum 26 m²
e) luas kamar suite minimum 52 m²

G. FAKTOR LAMA TAMU MENGINAP


1. Transit hotel, tamu yang menginap dalam waktu singkat, rata-rata hanya satu malam
2. Semi residential hotel, tamu yang menginap lebih dari satu malam, tetapi jangka
waktu menginap tetap pendek (2 minggu-1 bulan)
3. Residential hotel, tamu yang menginap dalam waktu cukup lama, kira-kira paling
sedikit 1 bulan.
H. FAKTOR KEGIATAN TAMU SELAMA MENGINAP

16
1. Olah Raga
a) Sport hotel, yang berada pada kompleks kegiatan olah raga
b) Ski hotel, yang terdapat di arena bermain ski
2. Bisnis
a) Conference hotel, yang menyediakan fasilitas lengkap untuk konfrensi
b) Convention hotel, yang sebagai bagian dari kegiatan konvensi
3. Pilgrim hotel, adalah hotel yang sebagian tempatnya berfungsi sebagai fasilitas
beribadah.
4. Casino hotel, adalah hotel yang sebagian tempatnya berfungsi untuk kegiatan
berjudi

I. KRITERIA JENIS TAMU


1. Family hotel : tamu yang menginap bersama keluarganya
2. Business hotel : tamu yang menginap para usahawan
3. Tourist hotel : tamu yang menginap kebanyakan para wisatawan baik domestic
maupun luar negeri
4. Cure hotel : tamu yang menginap dalam proses pengobatan atau penyembuhan dari
suatu penyakit.

J. LAMA OPERASI
1. Seasonal hotel : Dibuka hanya untuk musim-musim tertentu dalam setahun (3, 6, 9
bulan)
2. Around the year hotel : Hotel yang beroperasi dalam sepanjang tahun

Soal 2 : Sebutkan fungsi-fungsi yang ada pada usaha perhotelan.

Jawaban :

Fungsi-fungsi yang ada pada usaha perhotelah, diantaranya:

1) Room Departement:
a) Front Office, berfungsi dalam memberikan pelayanan pada bagian depan hotel
b) Room Division, berfungsi dalam administrasi yang berkaitan dengan kamar
c) Housekeeping, berfungsi dalam masalah penyiapan dan pembersihan kamar
d) Reservation, berfungsi menerima reservasi dari tamu dan agen

17
e) Roommaid/Roomboy, berfungsi menyiapkan dan membersihkan kamar
f) Bellboy, memberikan pelayanan mengantar & membawa barang tamu
g) Operator, berfungsi memberikan pelayanan melalui telepon

2) Food & Beverage Departement:


a) Cook, berfungsi menyiapkan menu sesuai order dan bertugas pd F & B produksi
b) Steward, berfungsi membantu cook membersihkan peralatan dapur
c) Waiter/Waitress, berfungsi memberikan pelayanan pd tamu dan bertugas pada F & B
service
3) Accounting Departement:
a) General Cashier, berfungsi mengadministrasikan penerimaan dan pengeluaran kas dan
bertugas pada back office
b) Income auditor, berfungsi melaporkan pendapatan hotel dan bertanggung jawab atas
pengendaliannya
c) Credit, berfungsi melakukan analisa kredit kredit dan kebutuhan modal kerja hotel
d) Staff (accounting Receivable, Acconting Payable), berfungsi membantu
pengadministrasian piutang dan hutang
e) Marketing/Sales, berfungsi dalam administrasi pemasaran hotel
f) Personnel, berfungsi dalam administrasi karyawan hotel
4) Monor Departemen:
a) Operator, berfungsi memberikan pelayan telepon
b) Laundry, berfungsi memberikan pelayan laundry
c) Sport, berfungsi memberikan pelayanan fasilitas olahraga
d) Sauna dan lain-lain
5) Fungsi Lain:
a) Purchasing, berfungsi melakukan pembelian barang keperluan hotel
b) Security, berfungsi menjaga keamanan hotel
c) Houseman, berfungsi melakukan pembersihan area luar kamar

18