Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS KADAR Ca, Mg, MnO4, Fe DAN Cl SEBAGAI PRAMETER

PENCEMARAN DALAM ALIRAN AIR KAWASAN INDUSTRI GEDE BAGE

Alfi Rodiansyah1, Susi Rusdiani2, Resi Rosanti3, Yunia N. Dwi Saputra4


Kelompok Keilmuan Kimia Analisis Pencemaran Lingkungan
Jurusan Kimia, Fakultas Sains Dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Bandung
E-mail: alfirodiansyah@yahoo.com

ABSTRAK

Kawasan sekitar industri Gede Bage merupakan salah satu daerah yang memiliki
potensi dalam hal pencemaran air yang disebabkan tidak adanya pengolahan yang baik dan
penanganan yang serius terhadap pengolahan limbah buangan pabrik tersebut, sampling
telah dilakukan untuk menentukan kadar logam dan senyawa berbahaya yang terkandung
dalam aliran air tersebut, satu sampel telah diambil pada titik dimana aliran air
terhomogenasi dengan baik, jenis logam yang dianalisis diantaranya logam Ca, Mg, Fe,
ion permanganat dan Cl . Analisis dilakukan dengan dua metode yakni menggunakan
analisis konvensional dengan metode titrimetri dan dengan pengukuran absorbansi
menggunakan instrumen spektrfotometer sinar tampak. Kedua jenis metode tersebut
dilakukan untuk mengetahui jumlah kadar ion-ion terlarut yang dianggap dapat menjadi
sumber pencemaran. Dari hasil analisis pada sampel air limbah industry tekstil diperoleh
hasil kadar kalsium sebesar 3800 ppm, dan kadar magnesiumnya 5300 ppm. Kadar
permanganat dalam sampel sebesar 14,1947 ppm. Kadar klorida sebesar 9,5950 x 10-4 N
atau sama dengan 34,0622 ppm sedangkan kadar Fe sebesar 42,5 ppm.

Kata kunci: pencemaran air, titrasi, Ca, Mg, Fe, permanganat, Cl, spektrofotometer
UV-Vis

PENDAHULUAN

Air merupkan sumber daya alam kualitas air baik untuk kepentingan
yang penggunaan menyangkut hajat hidup konsumsi atau kepentingan lain,
orang banyak, kebutuhan akan air penurunan kualitas ini disebabkan karena
merupakan kebutuhan primer makhluk berbagai faktor, pencemaran salah satunya.
hidup. Oleh karena itu sumber daya air Pencemaran sendiri adalah masuknya atau
harus dilindungi agar tetap dapat dimasukannya suatu zat atau senyawa
dimanfaatkan dengan baik oleh manusia yang menyebabkan berkurangnya atau
serta makhluk hidup lainnya. Pemanfaatan menurunnya kualitas dari komponen
air harus dilakukan secara bijaksana tersebut. Faktor pencemaran dapat berasal
dengan memperhitungkan kepentingan dari berbagai sumber bisa dari alam
bersama dan generasi selanjutnya (Effendi, ataupun berupa buatan, industri misalnya
2003). salah satu faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya sumber pencemaran. Industri
Masalah yang harus dihadapi oleh dapat berkontribusi dalam penurunan
sumber daya air adalah menurunnya kualitas air, sistem pembuangan terbuka

1
akan memberikan kontribusi besar akan dan ikut masuk kedalam aliran air. Selain
masuknya limbah hasil industri tersebut. itu senyawa organik terlarut tak kalah
Salah satu limbah berbahaya yang dapat meberikan efek negatif terhadap
masuk dan menjadi zat pencemaran adalah penurunan kualitas air (Rukaesih, Ahmad.
adanya logam-logam berat yang terbuang 2004).
Kontaminan logam berat menjadi Konvensional yakni analisis titrimetri yang
parameter tersendiri terhadap penurunan mana analisis ini digunakan utuk
kualitas air, logam berat yang terlarut akan menganalsis secara kuantitatif kadar zat
memberikan dampak yang negatif terhadap terlarut dalam air, penggunaan metode ini
makhluk hidup yang mengkonsumsinya. didasarkan pada cara kerja yang sederhana
Sejatinya logam yang terlarut dalam air yang mampu memberikan hasil yang
dapat digunakan sebagai zat pendukung memadai ditunjang dengan peralatan yang
metabolik biota air, namun dalam kadar murah dan mudah didapat.
yang banyak konsentrasi logam terlarut ini
Selain menggunakan metode
akan berdampak buruk bagi makhluk
hidup. Logam-logam bahaya tersebut titrimetri analisis juga menggunakan suatu
biasanya tergolong dalam limbah metode terbarukan yakni dengan
menggunakan suatu instrumen yang
berbahaya atau dalam hal ini dinamakan
B3 diantaranya logam-logam yang umum dirancang untuk mendapat hasil yang
maksimal salah satunya adalah
yang menjadi parameter pencemaran
diantaranya Fe, Pb, Cu, Zn, Mg, Ca, Na, spektroskopi uv-vis, spektoskopi uv-vis
Ni, Co, Cr, Ge, Hg, As, Mn, dan Sb. metode ini didasarkan pada penyerapan
suatu panjang gelombang oleh suatu analit
Dari sekian banyak zat anorganik sehingga menghasilakn suatu nilai
yang dapat berperan sebagai bentuk absorbansi yang dapat dikonversi untuk
pencemaran, disisi lain zat organik dapat mengetahui konsetrasi analit dalam sampel
memberikan kontribusi yang sama dalam (Hutagalung, H. P. 1997).
hal ini, senyawa organik yang terlarut
dalam air umumnya dapat menyebabkan
suatu keadaan dimana organisme tertentu METODE
dapat memblooming dan menjadi faktor
penurunan kualitas air tersebut. Sebagian Penelitian menggunakan metode
besar senyawa organoposfat diantaranya ekperimen. Teknik eksperimen yang
dapat dikategorikan sebagai zat organik dipakai adalah teknik spektrofotometri
yang dapat menjadi faktor pencemaran. sinar tampak dan teknik titrimetric. Teknik
titrimetric yang dipakai adalah
Untuk menyikapi hal diatas maka argentometri, kompleksometri, dan
perlu diadakannya suatu analisis yang permanganometri. Titrasi argentometri
dapat memberikan gambaran yang nyata digunakan untuk menentukan kadar
terhadap penurunan kualitas air yakni klorida yang terdapat dalam sampel, titrasi
analisis yang dapat digunakan untuk kompleksometri diguunakan untuk
mengetahui kandungan logam dan menentukan kadar kalsium dan magnesium
senyawa berbahaya lainnya. Mengingat hal yang terdapat dalam sampel, titrasi
itu maka digunakanlah suatu analisis permanganometri digunakan untuk

2
menentukan kandungan organic yang dengan limbah buangan, sampel diambil
terdapat dalam sampel, dan dengan menggunakan gelas plastik, untuk
spektrofotometri digunakan untuk pengukuran parameter pH, suhu dan
menentukan kadar besi yang terdapat kekeruhan dilakukan secara insitu, dan
dalam sampel. sebagian sampel langsung diambil dan
dipreparasi awal dengan cara disimpan
Alat yang dipakai dalam penelitian dalam lemari pendingin.
ini yaitu : 1) Buret 50 mL, 2) statif dan
klem buret, 3) Erlenmeyer 250 mL, 4) Analisis Sampel
gelas kimia, 5) labu takar, 6) gelas ukur, 7)
pipet volumetric, 8) Batang pengaduk, 9) Analisis Logam Ca dan Mg
Termometer, 10) pH meter, 11) Neraca Untuk menentukan kesadahan total,
analitik, 12) Bunsen, 13) pipet tetes, 14) sebanyak 10 mL larutan sampel
Spektrofotometer, 15) kuvet, 16) spatula. dimasukkan dalam labu erlenmeyer,
Sedangkan bahan yang dipakai yaitu : 1) ditambahkan pula larutan buffer pH 10
EDTA 0,01 M, 2) CaCO3 0,01 M, 3) dan indikator EBT. Kemudian campuran
Larutan buffer pH 10, 4) Indikator EBT, 5) dititrasi dengan menggunakan laruran
NaOH, 6) asam sulfat, 7) asam oksalat EDTA yang telah distandarisasi. Untuk
0,01 N, 8) KMnO4 0,01 N, 9) FeCl3. analisis logam Ca dalam sampel dilakukan
dengan mengambil larutan uji sebanyak 10
Pengambilan Sampel
mL kemudian ditambahkan 2 mL larutan
Sampel air diambil dari aliran air NaOH dan indikator EBT. Kemudian
sekitar industri pabrik PT. Terang Cahaya dititrasi dengan larutan EDTA, hasil dari
Abadi Sejati. Jl Mekar Raya No 37 Gede titrasi digunakan untuk mengetahui kadar
Bage Bandung pada tanggal 22 desember Ca dalam sampel. Kadar Magnesium
2014, sampling dilakukan dengan cara ditentukan dengan mengurangkan
sampling tunggal, lokasi diambil pada satu kesadahan total dengan kadar kalsium
titik dimana terjadi homogenisasi aliran air dalam sampel.
Analisis Ion Permanganat kemudian dipanaskan sampai suhu 950C,
larutan panas ini dicampurkan dengan
Sebanyak 10 mL air suling larutan KMnO4 panas dan ditambahkan
dimasukan dalam erlenmeyer kemudian pula larutan asam oksalat sebanyak 10 mL
dipanaskan sampai suhu 700 C baru selanjutnya dititrasi dengan larutan
ditambahkan 5 mL asam sulfat dan KMnO4 0,01 N. Data hasil titrasi ini
campurkan dengan 10 mL asam oksalat, digunakan untuk penentuan kadar
campuran kemudian dititrasi dengan permanganat dalam sampel (Svenson, A.
menggunakan larutan KMnO4 0,01 N 1989).
hasil titrasi ini digunakan sebagai larutan
baku standar. Analisis Ion Cl

Analisis ion permanganat dalam Sebanyak 100 mL larutan sampel


sampel, dilakukan dengan pengambilan dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer,
sampel sebanyak 100 mL yang ditambahkan 1 mL larutan indikator
ditambahkan asam sulfat sebnyak 5 mL, K2CrO4 5%. Kemudian dititrasi dengan

3
larutan AgNO3 yang telah distandarisasi. ditampilkan pada Tabel 1.
Hasil titrasi ini digunakan untuk penentuan
kadar Cl dalam sampel. Parameter pH Suhu
0
C
Analisis Ion Fe Sampel 13,8 26
Tabel 1. Pengukuran pH dan Suhu
Sebanyak 0,025 gram FeCl3
dilarutkan dengan akuades dalam labu Selain itu beberapa parameter yang
ukur 25 mL sebagai larutan induk 1000 berhasil di identifikasi adalah kekeruhan
ppm. Kemudian diencerkan menjadi 100 dan aroma dari sampel yang diambil,
ppm, 75 ppm, 50 ppm, 25 ppm, 10 ppm. sampel memiliki tingkat kekeruhan yang
Lalu masing-masing larutan standar diukur tinggi dengan adanya warna yang tidak
absorbansinya menggunakan biasa, sampel air berwarna kuning dengan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang adanya endapan dan zat terlarut, aroma
gelombang 550 nm, dan dibuat kurva sampel sedikit menyengat. Dari analisis
kalibrasi untuk memperoleh persamaan awal dimungkinkan air yang memiliki pH
garis. basa ini dipengaruhi oleh zat-zat yang
berasal dari pewarna tekstil warna pada air
Larutan sampel diuji menggunakan juga menunjukkan adanya warna tekstil
spektrofotometer UV-Vis pada panjang yang terlarut dan sedikit mengendap.
gelombang 550 nm. Yang didasarkan pada
prinsip penyerapan suatu sinar tampak Sifat fisik dan kimia yang terlihat
ini menjadi acuan awal praktikan untuk
oleh suatu analit dalam larutan. Dimana
analisis selanjutnya ion Ca, Mg, Fe,
prinsip kerja alat ini mengubah cahaya permanganat dan Cl dimungkinkan
polikromatik menjadi cahaya mempengaruhi pH dan warna dari air.
monokromatik seperti pada gambar.
Analisis Ca dan Mg
Kesadahan total
Titrasi Volume titrasi (mL)

ke V awal V akhir V pemakaian


1 10,20 14,70 4,50
2 3, 00 7,60 4,60
Konsentrasi ion Fe ditentukan dengan
persamaan garis dari hasil kurva kalibrasi Penentuan Kalsium
Titrasi Volume titrasi (mL)
larutan standar.
ke V awal V akhir V pemakaian
HASIL DAN PEMBAHASAN
1 16,90 18,60 1,70
Sampel yang digunakan dalam 2 0,00 2,10 4,60
penelitian ini adalah air yang berasal dari
aliran air yang berada di kawasan PT.
Terang Abadi Sejati jl. Mekar Raya No 37 Dari data titrasi tersebut, diperoleh
Gede Bage. Beberapa parameter kualitas kadar kalsium sebesar 3800 ppm, dan
air ditentukan dengan mengukur secara kadar magnesiumnya 5300 ppm. Hasil ini
langsung (in situ) di lapangan, menunjukan bahwa dalam sampel air

4
tersebut memiliki kesadahan yang sangat oksalat dan sebagai katalis H2SO4
tinggi dikarenakan sampel air tersebut merupakan katalis yang bertujuan untuk
berasal dari industry tekstil, sehingga memperkecil energi menghasilkan reaksi
terdapat banyak zat pencemar pada air
samping.
limbah tersebut.
Dalam proses titrasi ini kesadahan Titik akhir titrasi ditandai dengan
ditentukan dengan titrasi menggunakan terjadinya perubahan warna dari bening
larutan EDTA karena larutan EDTA dapat menjadi ungu pada larutan yang permanen
bereaksi dengan kalsium dan magnesium dan tidak hilang selama beberapa menit.
yang membentuk kompleks kelat yang Perubahan warna ini terjadi karena Mn2+ (
larut jika ditambahkan larutan yang larutan bening) dan MnO4- (KMnO4)
mengandung kation logam tertentu. tereduksi oleh Na2C2O4 menjadi Mn2+
Penambahan larutan buffer yang memiliki (ungu).
pH 10 dimaksudakan karena dalam air Dari hasil titrasi tersebut, diperoleh
sering dijumpai pengotor oleh ion besi dan kadar permanganat dalam sampel sebesar
logam lain serta buffer pH 10 dapat 14,1947 ppm.
menyingkirkan besi sebagai endapan jika Analisis Ion Cl
jumlahnya kecil. Larutan buffer
ditambahkan sebelum penambahan Titrasi Volume titrasi (mL)
indicator EBT bertujuan untuk
menghindari reaksi besi dengan indikator. ke V awal V akhir V pemakaian
Indikator EBT ini digunakan dengan
1 1,20 2,10 0,90
fungsi karena indikator akan mendekati
visual dari titik akhir, maksudnya reaksi 2 2,60 3,60 1,00
warna harus jelas. Dengan itu pula indictor
EBT dapat bekerja optimal pada pH 10,
Dari hasil titrasi tersebut, diperoleh
dengan penambahan larutan buffer maka
kadar klorida sebesar 9,5950 x 10-4 N.
pH yang berada dalam titran akan
Hasil tersebut sama dengan 34,0622 ppm,
dipertahankan.
artinya kandungan klorida dalam samper
air tersebut tinggi. Pada titrasi
Analisis Ion Permanganat
argentometri ini digunakan metode mohr.
Dalam metode mohr dilakukan terlebih
Titrasi Volume titrasi (mL)
dahulu standarisasi AgNO3 dengan larutan
ke V awal V akhir V pemakaian NaCl untuk mengetahui konsentrasi
AgNO3. Digunakan indikator K2CrO4 yang
1 3,00 7,00 4,0 bertujuan untuk mengetahui titik akhir
2 7,00 9,40 2,40 titasi dengan adanya perubahan warna.
Untuk mengetahui tercapainya titik
Pada saat penentuan konsentrasi ekivalen, Ag+ akan mengikat Cl-
KMnO4 digunakan natrium Oksalat karena membentuk AgCl terbentuk endapan putih
natrium oksalat termasuk zat baku primer. susu dengan persamaan reaksi :
Natrium Oksalat dikatakan zat baku primer 2Ag+(aq) + Cl- (aq) AgCl(s)
karena zatnya stabil memiliki Mr tinggi Penambahan AgNO3 secara terus menerus
dan memiliki kriteria lainnya sebagai akan membuat ion Cl- habis diikat oleh
standar primer. Ag+ dari AgNO3. Apabila Cl- sudah habis
Pada standarisasi KMnO4 dengan bereaksi maka kelebihan Ag+ selanjutnya
Natrium Oksalat dilakukan penambahan bereaksi dengan CrO42- yang berasal dari
H2SO4 pekat yang bertujuan untuk indikator K2CrO4 yang ditambahkan
memperoleh hasil yang berupa asam membentuk endapan AgCrO4 yang
berwarna merah bata, berarti titik akhir

5
titrasi sudah tercapai sehingga selanjutnya permanganat dalam sampel
Ag+ akan berikatan dengan CrO42- dari sebesar14,1947 ppm. Kadar klorida
K2CrO4 dengan prsamaan reaksi : sebesar 9,5950 x 10-4 N atau sama dengan
2 Ag+(aq) + CrO42-9aq) Ag2CrO4(s)
34,0622 ppm sedangkan kadar Fe sebesar
42,5 ppm.
Analisis Fe
REFERENSI

Anonymous, 2004, SK. MENLH No. 51,


Departemen Kementerian Negara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia,
Jakarta.

Hutagalung, H.P. 1997. Penentuan kadar


logam berat Dalam: Hutagalung, H.P., D.
Setiapermana. & S.H. Riyono (Eds.).
Metode Analisis Air Laut. Sedimen dan
Data absorbansi yang diperoleh yaitu Biota Buku 2. Pusat Penelitian dan
0,007 dengan panjang gelombang 550 nm. Pengem-bangan Oseanografi LIPI. Jakarta.
Data abssorbansi tersebut disubstitusikan Hlm.:59-80.
kedalam persamaan garis y = 0.0002x -
0.0015 sehingga didapat kadar Fe sebesar Kep. Men. Neg. L. H. No : KEP-
42,5 ppm. Sedangkan pada baku mutu 51/MENLH/10/1995 Tentang Baku Mutu
limbah cair industry tekstil kadar Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri
maksimum Fe sebesar 10 ppm. Ini artinya
kadar Fe yang terkandung dalam sampel Rukaesih Achmad. (2004). Kimia
limbah cair industry tersebut melebihi Lingkungan. Yogyakarta: Andi
ambang batas maksimum.
Svenson, A., Kaj, L., Bjorndal, H. (1989),
KESIMPULAN Aqueous Photolysis of Iron(III) complexes
Dari hasil analisis pada sampel air of NTA, EDTA and
limbah industry tekstil diperoleh hasil DTPA, Chemosphere, Vol. 18, No. 9, hal.
kadar kalsium sebesar 3800 ppm, dan 1805-1808.
kadar magnesiumnya 5300 ppm. Kadar