Anda di halaman 1dari 3

Dewan juri yang kami hormati dan hadirin rohimukumullah.

Bagi umat-umat sebelum islam wanita dianggap sebagai makhluk yang rendah dan
hina. Wanita dianggap sebagai makhluk lemah, tidak sempurna, dan bahkan dianggap sebagai
pangkal keburukan dan bencana.

“keberadaan wanita merupakan sumber utama bagi kehancuran dunia. Wanita ibarat
pohon beracun, luarnya tampak indah, namun ketika burung-burung pipit memakannya,
mereka akan mati seketika”.

Memetik kesimpulan dari pernyataan diatas kami delegasi dari FAKULTAS KESEHATAN
akan sedikit menyampaikan kata demi kata dan lafadz demi lafdz yang berjudul “WANITA di
GENGGAM DALAM PENGHARGAAN”

Diantara stigma negatif yang di alamatkan oleh orang barat terhadap ajaran islam
adalah, bahwa islam tidak menghargai kedudukan wanita, memasung kebebasannya, tidak
adil dan menjadikannya sebagai manusia kelas dua yang terkungkung dalam penguasaan
kaum laki-laki serta hidup dalam kehinaan. Wanita islam pun di citrakan sebagai wanita
terbelakang dan tersisihkan daru dinamika kehidupan tanpa peran nyata di masyarakat. Oleh
karena itu, mereka menganggap bahwa islam adalah hambatan utama bagi perjuangan
kesetaraan gender.

Anehnya, sebagian kaum muslimin yang telah kehilangan jati dirinya malah
terpengaruh dengan pandangan-pandangan itu. Alih-alih membantah, mereka malah menjadi
bagian dari penyebar pemikiran mereka. Dibawah kampanye emansipasi wanita dan
kesetaraan gender, mereka ingin agar kaum muslimah melepaskan nilai-nilai harga diri
mereka yang selama ini dijaga oleh islam.

Para wanita mulai melupakan bagaimana keadaan kaumnya sebelum beersinarnya


islam, mereka malah mengikuti kebudayaan barat dengan dalil “tuntutan perkembangan
zaman”, mereka membuka hijabnya, mereka memakai pakaian yang memperlihatkan
sebagaian aurotnya, mereka mengabaikan syariat islam yang berusaha menjaga diri mereka
dari fitnah dunia. Dengan sengaja, mereka menukar harga diri mereka hanya dengan kata
“cantik, keren, hits, gaul dan kata-kata lainnya”, yang akan menghilang seiring dengan
terkikisnya masa hidup mereka di dunia.
Para muslimah tidak menyadari, bahwa syariat islam yang kini tidak mereka
perdulikan merupakan suatu hal yang menjadi perantara di anggap mulianya seorang wanita,
sebelum datangnya islam, wanita hanya di anggap seperti sampah. Orang yunani
menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja, orang romawi memberikan hak pada
seorang ayah / suami menjual anak perempuan / istrinya, orang-orang arab ketika itu pun
biasa mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya
karena ia seorang wanita! Allah berfirman tentang meraka! dalam al-quran surat An-nahl ayat
ke 58-59 yang berbunyi:

‫كوإظكذاًّ بهششكر أككحهدههسم ظباِسلهسنكثىَ ك‬


(58ٌ)‫ظلَل كوسجهههه همسسكودداًّ كوههكو ككظظيِمم‬

Artinya: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak
perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (16: 58)

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang


disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah
buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (16: 59)

Syekh umar ‘abdul jabbar berdakwah:

Ditinjau dari nahwi yahya, lafadz-lafadz yadfinuna merupakan fi’il atau kata kerja, yang
failnya berupa dzomir hum yang di mustatarkan atau disimpan. Sedangkan lafadz banatahum
merupakan maf’ul dari lafadz yadfinuna dan keseluruhan lafadz ini berarti: “dan mereka
mengubur anak-anak perempuan mereka”, mungkin ketika dibaca sampai lafadz ini, setiap
orang bisa berfikiran, sah-sah saja mengubur seseorang, mungkin karena orang tersebut
sudah meninggal, tapi ketika diteruskan ke lafadz berikunya, yaitu:

“dan mereka dalam keadaan hidup”

Sudah jelas bahwa perbuatan mereka adalah perbuatan yang sangat keji, mengapa orang arab
dengan tega melakukan hal itu, jawabannya adalah

“karena takut akan rasa malu dan takut akan aib”

Sungguh besar anugrah Allah S.W.T, pada kaum wanita Allah menciptakan wanita
dari tulang rusuk yng melindungi hati, mengapa? agar wanita dapat selalu berada dalam hati
suaminya dan menjaga agar hati itu tidak retak bahkan hancur, wanita di ciptakan dari tulang
rusuk yang mudah patah melambangkan rapuhnya perasaannya agar para laki-laki dapat
mempelakukannya dengan lembut, dan menegurnya dengan penuh kasih sayang jika ada
kesalahan yang dilakukannya, bukan malah membentak dan berbuat kasar yang dapat
membuatnya patah dan tak dapat bangkit lagi. Allah S.W.T berfirman dalam Al-quran surat
Ar-rum ayat 21 yang berbunyi:

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Banyak orang yang menyimpulkan bahwa laki-laki selalu lebih utama, lebih mulai
dan lebih segalanya dari seorang wanita. Sehingga, sering kali wanita di pandang sebelah
mata dan dianggap tidak mampu dibandingkan kaum pria. Allah S.W.T. berfirman dalam al-
quran surat al-hujarot ayat 13 yang berbunyi:

Artinya: wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah maha mengetahui, maha teliti.

Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa dihadapan Allah S.W.T kaum laki-laki
tidaklah lebih mulia di bandingkan kaum perempuan kecuali atas dasar ketaqwaannya. Bagi
Allah S.W.T. hanya ketaqwaanlah yang menjadi barometer tingkat ketinggian derajat
seseorang, baik laki-laki tidak dibenarkan mengkliam dirinya memiliki derajat lebih tinggi
dibanding perempuan terkecuali ia mengunggulinya dalam hal ketaqwaan. Jadi tidak ada
siapa pun yang mengungguli siapa pun, kecuali atas dasar ketaqwaannya di sisi Allah S.W.T.

Rasulullah bersabda dalam hadisnya:

“dunia adalah perhiasan, dan paling utamanya perhiasan dunia adalah wanita yang
sholehah”.

Maka dari itu, hendaknya kita berikhtiyar dan berusaha menjadi perhiasan terindah di
dunia dengan bertaqwa pada Allah S.W.T., melaksanakan perintahnya dan menjauhi
larangannya.