Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap bangsa memiliki arsitektur bangunan yang berbeda-beda, baik itu pada
bangunan kuno maupun bangunan modern. Dimana hal tersebut dapat mencerminkan
dan menjadi sebuah ciri khas dari suatu Negara.
Sebuah karya arsitektur dapat dibentuk oleh unsur-unsur, sistem, dan tatanan
dasar yang saling berkaitan untuk membentuk sebuah kesatuan terintegrasi yang
memiliki suatu struktur yang menyatu.
Arsitektur adalah bagian dari kebudayaan, yang berkaitan dengan berbagai
segi kehidupan antara lain : seni, teknik, ruang/tata ruang, geografi, dan sejarah. Oleh
karena itu, ada beberapa pengertian tentang arsitektur berdasarkan batasan-
batasannya, tergantung dari segi mana memandangnya.
Dipandang dari segi seni, arsitektur adalah segi bangunan, termasuk bentuk
dan ragam hiasnya. Dari segi teknik, arsitektur adalah sistem mendirikan bangunan,
termasuk proses perancangan konstruksi, struktur, dan dalam hal ini juga menyangkut
aspek dekorasi dan keindahan. Dari segi ruang, arsitektur adalah pemenuhan
kebutuhan ruang oleh manusia atau kelompok manusia untuk melaksanakan aktivitas
tertentu. Sedangkan dari segi sejarah, kebudayaan dan geografi, arsitetur dipandang
sebagai ungkapan fisik dan peninggalan budaya dari suatu masyarakat dalam batasan
waktu dan tempat tertentu (Yulianto, 1997 : 1).

Arsitektur Romawi mengalami pemisahan bentuk dan struktur, bentuk tidak


selalu mencerminkan strukturnya, struktur hanyalah merupakan hiasan atau ornamen.
Arsitektur Romawi lebih mengutamakan fungsi (utilitarian), konstruksi bangunan,
dan suasana (grandeur).

1|Page
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran umum wilayah kekuasaan Romawi?
2. Bagaimana sejarah Romawi?
3. Bagaimana karakteristik arsitektur Romawi?
4. Bagaimana tipologi bangunan Romawi?

1.3 Tujuan Masalah


1. Mengetahui gambaran umum wilayah kekuasaan Romawi.
2. Mengetahui sejarah Romawi secara singkat.
3. Mengetahui karakteristik arsitektur Romawi melalui langgam serta
bangunannya.
4. Mengetahui tipologi bangunan Romawi berdasarkan tipe dan jenis
bangunannya.

1.4 Batasan Masalah

Di dalam tulisan ini, kami membahas arsitektur Romawi di Roma, Italia. Hal
ini mengingat di Roma, bangunan-bangunan peninggalan Romawi dengan arsitektur
asli masih dapat ditemui.

Hal-hal yang menjadi fokus pembahasan nantinya adalah arsitektur Romawi


baik secara keruangan maupun bentuk arsitekturalnya.

2|Page
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Kekuasaan Romawi


2.1.1 Wilayah

Gambar 2.1 Wilayah Kekuasaan Romawi


Sumber : https://id.wikipedia.org, diakses pada 28 Agustus 2015.

Romawi merupakan tempat kuno di Eropa yang menjadi sumber kebudayaan


Barat. Terletak di Semenanjung Apenina (sekarang Italia). Sebelah Utara
semenanjung Apenina bersambung dengan daratan Eropa yang terdapat pegunungan
Alpen sebagai batas alam yang memanjang. Sebelah Barat Laut yang memisahkan
Italia dengan Perancis. Sebelah Utara memisahkan Italia dengan Swiss dan Austria.
Sebelah Timur Laut dengan Yugoslavia.

Kekuasaan Romawi berasal dan berkembang berupa semenanjung, menjorok


ke selatan-timur di Laut Mediterania. Keadaan geografis tersebut bertolak belakang

3|Page
dengan Yunani yang berupa kepulauan dan sebagian besar wilayah daratannya berupa
pantai, dari Laut Aegean. Roma sebagai pusat kekuasaan dan kebudayaan Romawi,
berada di bagian selatan-tengah semenanjung, tidak jauh dari pantai laut Mediterania.

Semenanjung Itali mempunyai iklim yang dapat dibedakan ke dalam tiga


kategori menurut letaknya, bagian utara sama dengan daratan Eropa lainnya cukup
dingin, di bagian tengah rata-rata cukup banyak matahari, di bagian selatan mendekati
iklim tropis.

2.1.2 Kondisi Masyarakat

Sejak dari raja-raja Etruscan pada tahun 500 SM hingga raja Julius Caesar
pada tahun 100 SM bangsa Romawi tidak pernah mengalami masa demokrasi seperti
bangsa Yunani. Sehingga bangsa ini akan menerima segala keputusan/gagasan dari
seorang pemimpin yang paling berkuasa dan tertinggi seperti Dewa. Tugas bagi para
pemimpin yang harus diemban adalah menaklukkan daerah-daerah perluasan
sekiranya daerah tersebut mempunyai penguasa. Konsep kepemimpinan ini menjadi
konsep dasar hukum bagi sistem kepemimpinan kekaisaran Romawi.

2.1.3 Kebudayaan Romawi

Kebudayaan Romawi terbentuk berdasarkan elernen-elernen yang diambil


dari kebudayaan Yunani, kebudayaan Etruscan dan kebudayaan Syria. Penduduk asli
Romawi adalah bangsa prajurit sejati yang suka berperang sehingga memiliki
karakter yang kuat dan lebih mencurahkan perhatiannya pada pekerjaan, negara,
dewa dan juga keluarga. Bangsa Romawi mempunyai disiplin dan ambisi yang tinggi
terhadap kekayaan dan penguasaan terhadap bangsa lain.

Budaya Romawi berkembang melalui kekuasaan yang didapat dari


penaklukan, berbeda dengan penyebaran budaya Yunani yang melalui kolonisasi.

4|Page
Budaya Romawi termasuk arsitektur berkembang dari kekuasan perebutan kekuasaan
dan penaklukan tidak hanya berkembang di wilayah Itali, namun hingga sebagian
besar Eropa, Afrika Utara dan Asia Barat.

Etruscan merupakan kelompok suku yang menjadi cikal bakal dari bangsa
Romawi yang akan mendiami wilayah Etruria di barat-tengah semenanjung Itali
sekitar tahun 750-100 SM. (Sir Baniste Fletcher, 1975 : 256).

Bahan mineral cukup melimpah di Etruria, terutama tembaga. Batu dan


marmer seperti di wilayah Yunani, sudah sejak dahulu menjadi bahan bangunan
utama.

2.2 Sejarah Romawi

Zaman Romawi Awal dimulai dari bangsa Etruscan yang menguasai wilayah
semenanjung Itali bagian barat-tengah telah di sebut di atas, pada sekitar tahun 700-
an SM. Berdasarkan legenda, kota Roma sekarang berada di bukit-bukit bagian
selatan dari wilayah Etruria. Dahulu wilayah ini di bawah kekuasaan raja Etruscan.

Setelah abad ke VI SM, supremasi bangsa Etruscan mulai turun, hingga


runtuh pada 500-an SM. Kekuatan Etruscan direbut dengan peperangan di laut oleh
Syracusans beraliansi dengan Cumae, koloni Yunani tertua di Itali bagian selatan.
(Ibid : 25).

Menurunnya kekuasaan Etruscan memberi kesempatan pada orang-orang


Roma untuk mendominasi kota-kota yang tadinya dikuasai orang-orang Etruscan.
Kekuasaan Romawi meluas terutama setelah wilayah Itali Selatan jatuh ketangannya
pada 273 SM.

Penaklukan atas Macedonia dan Yunani (146 SM) selain menambah Provinsi
Romawi juga mendorong didatangkannya seni dan para seniman Yunani ke wilayah

5|Page
Romawi pada 133 SM. Wilayah kekuasaan Yunani di Mediterania Timur dan Asia
Minor menjadi bagian utama dari Provinsi Romawi di Asia. Spanyol dikuasai pada
64 SM sehingga kekuasaan Roma mencakup wilayah Euphrates hingga Atlantik.

2.3 Arsitektur Romawi

2.3.1 Pelengkung

Suku bangsa Etruscans, telah disebut di atas mendiami wilayah tengah-barat


Itali adalah kelompok suku yang sangat maju pada zamannya dalam arsitektur. Pada
sekitar abad VII SM sudah membangun kota dengan antara lain dinding-dinding,
pipa-pipa pembuangan air, hingga mengontrol sungai sehingga permukaan airnya
sama dengan rata-rata permukaan danau-danau. (Sir Banister Fletcher, 1975 : 263).

Pada arsitektur Romawi, pelengkung menjadi bagian yang penting, karena


berfungsi sebagai konstruksi menggantikan kolom dan balok. Berkat pelengkung
berbagai bangunan besar dan tinggi dapat didirikan.

Gambar 2.2 Dinding keliling dengan gerbang berkonstruksi pelengkung Falerii Novi pada abad III SM.
Sumber : Sumalyo, 2003 : 29.

6|Page
2.3.1.1 Pelengkung Augustus

Pelengkung Augustus di Perugia, dibangun pada akhir abad 11 SM, juga


menunjukan pemakaian pelengkung sudah sejak zaman Romawi awal atau zaman
Etruscan. Dengan sistem konstruksi pelengkung, maka kolom dan balok tidak
diperlukan lagi. Kemudian dalam perkembangannya, bentuk kolom dan balok Yunani
hanya menjadi bagian dari dekorasi. Berbagai kuil pada zaman Etruscan
menggunakan sistem kolom dan balok, namun konstruksi, proporsi, komposisi dan
dekorasinya mempunyai ciri khusus berbeda dengan ketiga Order Yunani.

Gambar 2.3 Rekonstruksi


Pelengkung Augustus.
Sumber : Sumalyo, 2003 : 29.

2.3.1.2 Pelengkung Konstantinus

Untuk mengabadikan kemenangannya, Konstantinus memutuskan untuk


membangun sebuah pelengkung kejayaan. Di bagian atas pelengkunya, ditulis
inskripsi yang ditujukkan untuk dewa. Di bagian bawahnya, ada ukiran yang
menggambarkan pertempuran Konstantinus. Ukiran pada pelengkung ini
menggambarkan Konstantinus memasuki kota Roma dengan kereta perang, juga ada
ukiran yang memperlihatkan Konstantinus memberi uang pada orang miskin. Inovasi
pada pelengkung ini adalah digunakannya pewarna, sedangkan pelengkung-
pelengkung sebelumnya tidak dilapisi pewarna.

7|Page
Gambar 2.4 Pelengkung Konstantinus.
Sumber : https://id.wikibooks.org/wiki/Romawi_Kuno/Arsitektur/Pelengkung_Konstantinus, diakses
pada 08 September 2015.

2.3.1.3 Pelengkung Titus

Pelengkung Titus terletak di bagian selatan dari pusat kota Roma, di ujung
sebuah jalan yang berada di samping selatan Kuil Venus. Pelengkung didirikan pada
zaman Titus, untuk memperingati jatuhnya Jerusalem ke tangan orang-orang Roma.
Bagian dalam pelengkung ini diukir dengan ukiran timbul.

Gambar 2.5 Pelengkung (arch) Titus di Roma (82 M).


Sumber : http://andieperkembanganarsitek.blogspot.com/2010/06/arsitektur-romawi.html,
diakses pada 02 September 2015.

8|Page
2.3.2 Kolom dan Balok

Konstruksi kolom dan balok atau entablature menjadi ciri khas arsitektur
Yunani yang disebut Order. Keindahan dari Order terpancar dari ornamen yang
menenkankan pada bagian-bagian yang dominan antara lain kolom dan kepalanya,
entablature dan pediment dengan dekorasi, terbagi menjadi aliran masing-masing
mempunyai ciri khas antara lain, Dorik, Ionik dan Korintien.

Gambar 2.5 Order Dorik, Ionik, dan Korientien Romawi


Sumber : http://www.tribunesandtriumphs.org/roman-architecture/roman-columns.htm, diakses pada
08 September 2015.

Elemen-elemen Order dalam arsitektur Romawi hanya diambil bentuknya,


sama sekali tidak terkait dengan konstruksi, menghias pilaster dan balok-baloknya.
Dalam berbagai bangunan Romawi, elemen arsitektur Yunani hanya menjadi hiasan
misalnya pada pintu masuk dan jendela. Pada teater, kolom, balok atau entablature
yang menyatu dengan pelengkung yang berfungsi ganda yaitu sebagai bagian
konstruksi penguat dinding dan juga sebagai dekorasi.

9|Page
Gambar 2.6 Kolom-kolom menyangga semacam entablature, lengkap dengan cornice, bukan berfungsi
sebagai balok, namun juga sebagai ornament. Ditengah frieze, terdapat berkaitan dengan sejarah.
Sumber : http://andieperkembanganarsitek.blogspot.com/2010/06/arsitektur-romawi.html, diakses pada
01 September 2015.

2.3.3 Denah Kuil

Denah kuil-kuil dibangun pada zaman Romawi secara garis besar dapat
dikategorikan dalam dua bentuk, yaitu segi empat panjang dan bukan segi empat.
Kuil Romawi berdenah segi empat panjang sebagian besar mendapat pengaruh yang
cukup besar dari arsitektur Yunani. Pada zaman itu, mulai berkembang bentuk-bentuk
kuil yang tidak segi empat panjang, bervariasi dalam bentuk denah poligonal,
lingkaran dan kombinasi lainnya.

2.4 Tipologi Bangunan Romawi


2.4.1 Kuil
2.4.1.1 Kuil Romawi Segi Empat

Salah satu kuil tergolong dalam kategori berdenah segi empat adalah Kuil
Jupiter Capitolinus (509 SM) di pusat kota Roma. Kuil terletak di dalam Forum
Romanus pada ketinggian sebuah bukit, sehingga terlihat dari berbagai tempat di
kota. Tata letak semacam ini, kemungkinan besar mendapat pengaruh dari Yunani
seperti misalnya kuil-kuil di Acropolis. Denahnya segi empat panjang, identik dengan

10 | P a g e
kuil-kuil Yunani, juga konstruksi kolom dan balok atau Order, dalam hal ini berciri
Korintien, langsing, kepala kolomnya dihias dengan ornamen floral.

Tangga masuk tidak berbeda dengan berbagi kuil Yunani, langsung


berhubungan dengan pranaos, bagian dari kuil, posisinya seperti portico atau teras
depan. Dari segi denah, ada perbedaan kuil ini dibanding dengan kuil-kuil Yunani
pada umumnya, yaitu pada letak naos yang tidak berada di tengah, sehingga tidak ada
ambulatory. Naos mempunyai tiga kamar berderet melintang, di dalamnya masing-
masing diletakkan patung Jupiter, Minerva dan Juno. (Ibid : 265).

Gambar 2.7 Rekonstruksi Kuil Jupiter Capitolinus di Roma (509 SM), denah dan perspektif .
Sumber : Sumalyo, 2003 : 31.

Kuil Juno Sospita, Linivium (265 SM) berdenah segi empat, denahnya sama
dengan Kuil Jupiter, letak naos tidak berada di tengah, sehingga tidak ada
ambulatory. Demikian juga naos yang mempunyai tiga kamar. Namun konstruksi
bagian depan berbeda dengan Kuil Jupiter dan Kuil-kuil Yunani pada umumnya,
tidak mempunyai pediment tympanum, frieze, maupun architrave. Dengan kata lain
arsitektur Kuil Sospita tidak dalam konstruksi order, meskipun kolomnya silindris
sederhana tanpa ornamen, seperti kolom Dorik. Arsitektur kuil Romawi adalah per-
paduan antara Etruscan dengan Yunani. Berbagai aspek seperti pada kedua kuil
dibahas sebelum ini khas Yunani, sedangkan portico dan podium atau semacam

11 | P a g e
panggung dimana bagian utama kuil berdiri, merupakan bagian dari model kuil
Etruscan yang sudah ada sejak abad VII SM.

Gambar 2.8 Maket rekonstruksi Kuil Juno Sospita, Linivium (256 SM).
Sumber : Sumalyo, 2003 : 31.

Kuil Fortuna Virilis di Roma (40 SM) adalah salah satu contoh dari
kecenderungan tersebut di atas, denahnya segi empat yang terdiri dari cella dan
portico. Kuil berdiri di atas podium setinggi 3 m dan cella berupa ruang tunggal.
Konstruksi dan dekorasinya terdiri dari kolom-balok (Order), deretan depan terdapat
empat kolom dengan frieze, architrave, pediment, tympanum, dengan gaya Ionik.

Gambar 2.9 Kuil Virilis di Roma (40 SM).


Sumber : Sumalyo, 2003 : 32.

12 | P a g e
Bentuk dan denah Kuil Antonius dan Faustina di Roma (141 SM) mirip
dengan Kuil Virilis, namun lebih besar. Kuil terletak di Forum Romawi menghadap
ke selatan-barat. Kedua kuil berciri arsitektur Romawi, yang berupa perpaduan
Etruscan-Yunani. Tinggi podium 6 m, deretan enam buah kolom bergaya Korintien.

Gambar 2.10 Denah, tampak depan dan samping Kuil Antonius dan Faustina di Roma (141 SM).
Sumber : Sumalyo, 2003 : 31.

Kuil Saturnus (Saturn) (284 M), juga di Roma, tidak lebih dari 200 m di
sebelah barat Kuil Antonius-Faustina dikemukakan sebelum ini. Kuil menghadap ke
utara-timur, beberapa puluh meter di selatan-timur Capitol. Kuil berdiri di atas
podium khas Etruscan. Tinggi podium 3.73 m, dari tangga langsung ke portico, di
mana terdapat deretan enam kolom. Dalam hal ini kolom, frieze, architrave, pediment
dan tympanum, bercorak Ionik.

Sebuah Kuil di Nimes Perancis bagian selatan dibangun tahun 6 SM, pada
zaman kekuasaan Romawi meliputi wilayah hampir seluruh daratan Eropa, terutama
Eropa Barat. Kuil diberi nama Maison Caree yang artinya “Rumah Segi Empat”,

13 | P a g e
karena bentuk denahnya yang segi empat. Kuil ini merupakan satu-satunya
peninggalan zaman Romawi, yang masih dalam kondisi utuh. (Ibid : 265).

Gambar 2.11 Rekonstruksi tampak depan, denah, dan dekorasi Order-Ionik Kuil Saturnus di Roma
(284 SM),
Sumber : Sumalyo, 2003 : 33.

Maison Caree merupakan contoh sangat representatif dari arsitektur campuran


Yunani Etruscan dengan detail-detail corak Order Korientien. Bagian utama kuil
berdiri di atas podium model Etruscan setinggi 3.66 m. dengan tangga masuk ke teras
atau portico depan.

Cella berupa kamar tunggal, besarnya selebar podium menghadap ke portico


tersebut juga merupakan bagian dari kuil Etruscan. Kolom langsing berderet enam
buah di depan berkepala dihias dengan pola floral, merupakan bagian dari konstruksi
Order yang menyangga frieze, architrave, pediment, tympanum yang bercorak
Korintien.

14 | P a g e
Gambar 2.12 Tampak depan dan denah Maison Caree di Nimes (16 SM).
Sumber : Sumalyo, 2003 : 33.

2.4.1.2 Kuil Romawi berdenah Lingkaran dan Poligonal

Selain berbentuk segi empat hasil perpaduan arsitektur Etruscan-Yunani pada


zaman Romawi bentuk kuil-kuil berkembang lebih bervariasi menjadi berdenah
lingkaran dan segi banyak atau poligonal. Kecenderungan ini terjadi sejak sekitar
awal abad I M dan sesudahnya.

Salah satu dari berbagai kuil dalam kategori ini adalah Kuil Vesta di Tivoli
(80 SM). Kuil ini tidak besar, podium menjadi tumpuan dari kuil denahnya lingkaran,
berdiameter hanya 7.32 m. Sekelilingnya terdapat 18 buah kolom bercorak Korintien,
dan kepala kolomnya dihias bentuk floral setinggi 7.16 m.

Dinding tidak menyatu dengan kolom, sehingga membentuk semacam teras


keliling. Atap kuil mengikuti denahnya yang lingkaran berbentuk kubah. Meskipun
kecil, kuil ini merupakan cikal bakal dari konstruksi kubah lebih besar pada kuil-kuil
Romawi hingga gereja-gereja pada zaman Bisantine (Byzantine).

15 | P a g e
Gambar 2.13 Tampak depan, denah, dan
ornamen Korintien pada kepala kolom
Kuil Vesta, Tivoli (80 M).
Sumber : Sumalyo, 2003 : 34.

Pantheon Roma merupakan kuil terbesar di zamannya yang berdenah


lingkaran, kuil terletak di tengah-tengah pusat seni, budaya dan pemerintahan kota
pada zaman Romawi. Mula pertama kuil dibangun oleh Agrippa pada 27 SM,
kemudian direkonstruksi oleh Hadrien antara 117-125 M. Pada abad VII
ditransformasikan menjadi gereja.

Ruang utama berdenah lingkaran, sering disebut rotunda. Diameter bagian


dalam dinding 43,43 m. Ada yang berpasangan, ada yang menyatu dengan dinding
atau dapat disebut pilaster. Pilaster berpenampang segi empat terdapat cukup banyak
dalam Pantheon Roma dan bangunan-bangunan Romawi pada umumnya.

Denah lingkaran dikombinasikan dengan gerbang masuk berdenah segi empat.


Pintu masuk terdapat dibelakang konstruksi gerbang tersebut. Pada portico terdapat
16 buah kolom, yang berderet 8 kolom pada ujung atas tangga. Kolom-kolom tadi
terbuat dari batu granit utuh. Kedelapan kolom depan menyangga pediment dan frize
yang dihias dengan cornice. Semua hiasan pada kepala kolom dan pilaster di dalam

16 | P a g e
maupun pada portico bercorak floral, khususnya daun Acanthus sangat khas dekorasi
Korintien.

Mengikuti dinding berdenah lingkaran, rotunda diatapi oleh sebuah kubah


berdiameter 40 m. Pada puncak kubah terdapat lobang yang tertutup kaca, agar sinar
matahari dapat masuk. Kubah terbentuk oleh blok-blok semakin ke atas semakin
kecil, diekspos dengan garis-garis, menjadi elemen dekorasi kotak-kotak
(rectangular) yang indah. Bagian bawah dalam kubah dihias dengan molding
membentuk garis-garis melingkar.

Hal yang unik dalam perancangan Pantheon Roma adalah ukuran diameter
cella sama dengan tinggi bangunan. Bila ditarik garis pada penampang melintang
melalui titik pusat ruang dalam dan puncak kubah akan terbentuk sebuah lingkaran.

Gambar 2.14 Potongan membujur, potongan melintang, dan denah Kuil Pantheon di Roma yang
ditransformasikan menjadi gereja pada abad ke VII.
Sumber : Sumalyo, 2003 : 35.

17 | P a g e
2.4.2 Basilika (Basilica)

Basilika adalah gedung pengadilan Romawi dengan ciri ruang utama di


tengah tinggi, dan dikelilingi oleh gang (aisle). Pada ujungnya terdapat ceruk (apse)
dimana para pejabat pengadilan duduk. Dan pada bagian tengah untuk umat disebut
nave dan apse untuk altar.

Basilika Trajan di Roma (98-112 M) dibangun oleh Apollodorus dari


Damascus. Basilika dahulu mempunyai nave tengah bentuknya segi empat
memanjang, 117.34 x 26.51 m². Nave dikelilingi oleh semacam gang ganda dibentuk
oleh deretan kolom dalam arsitektur klasik disebut isle, masing-masing lebarnya 7.24
m. Tinggi total ruang tengah (nave) yang sangat luas dan panjangnya 36.58 m.
Kolom-kolom berderet memisahkan nave dan aisle, terbuat dari batu granit merah
utuh, berbentuk silindris, semuanya berkepala Korintien. Pada kedua ujungnya,
masing-masing terdapat tribunal pada ketinggian lantai dibentuk oleh trap-trap, dan
denahnya setengah lingkaran.

Gambar 2.15 Situasi dari Forum


Trajan, dan denah dalam
Basilika Trajan di Roma (98-
112 M). Sumber : Sumalyo,
2003 : 37.

18 | P a g e
Basilika Constantine di Roma (310-13 M) terletak di Forum Romawi, di
antara Kuil Venus dan Forum Vespasian. Denahnya segi empat, dalam situasi dan
orientasi tidak terkait dengan arah utara-selatan, seperti bangunan di sekelilingnya.
Terlihat bahwa dalam mendirikan bangunan dalam tata letak di Kota Roma, tidak
saling tegak lurus dengan bangunan di sekelilingnya dan tidak menurut arah atau
orientasi tertentu. Basilika Constantine seperti terjepit di antara bangunan di
sekelilingnya yang menghadap ke arah utara-timur.

Gambar 2.16 Lukisan rekonstruksi nave, aisle, dan di ujung terlihat apse, dan Reruntuhan Basilika
Constantine di Roma.
Sumber : Sumalyo, 2003 : 38.

2.4.3 Thermae

Kemungkinan istilah thermae yang berasal dari kata thermos (panas), turunan
dari bangunan gymnasia di zaman Yunani. Bangunan jenis ini tidak kalah megah dan
mewah dibanding bangunan lain seperti basilika, kuil, dan lain-lain. Hal itu
menunjukan bahwa kegiatan mandi di permandian penting dalam kehidupan masa itu,
terutama di kalangan kekaisaran Roma. Hal ini dapat di lihat dari kemewahan
arsitektur Thermae Caracalla. Rekonstruksi dari reruntuhan thermae memperlihatkan
bahwa dahulu berdiri di atas semacam landasan atau platform yang cukup tinggi yaitu
6.10 m. Di bagian bawah, terdapat kamar-kamar dengan bagian atas yang berbentuk
lengkung, gang, tungku-tungku, saluran-saluran untuk pemanasan.

19 | P a g e
Gedung besar dan mewah ini keseluruhannya berdenah simetris. Pintu masuk
disebelah utara-timur di tengah. Di kiri-kanannya langsung ada deretan tempat mandi
dan kedai, terdiri dari dua lantai, denahnya berbentuk U, pada lantai setinggi platform
terdapat permandian dengan sistem tiduran.

Bagian utama berupa blok segi empat sangat besar yaitu 228 x 115.82 M2
dikelilingi dalam bentuk U oleh tempat mandi dan keda. Dengan demikian bagian
utama beratap ini luasnya 26.480 m2, suatu bangunan yang luar biasa luas, apalagi
untuk ukuran zaman itu. Mengikuti pola simetris dari seluruh kompleks, unit utama
juga simetris bersumbu pada pintu masuk, frigidarium sentral hall, tepidarium, dan
calidarium frigidarium tidak beratap, identik dengan posisi atrium, namun di sini
berupa kolam juga untuk mandi. Pada sumbu melintang barat-utara dan timur-selatan
terdapat simetris di kiri dan kanan ruang-ruang antara lain : ante room, peristyle
terbuka, sudatorium, terpidarium, kamar mandi suite (gymnasium). Unit utama ini
mempunyai pintu masuk dari kiri-kanan, timur-selatan, dan barat-utara.

Gambar 2.17 Thermae Caracalla di Roma


Sumber : http://pinterest.com, diakses pada 30 Agustus 2015.

Di belakang atau selatan-barat dari unit utama, terdapat taman publik dengan
deretan pohon-pohon. Denah dan posisi xitus identik dengan atrium, dikelilingi oleh
semacam portico. Simetris di kiri-kanan (utara-barat dan timur-selatan) dari xitus
selain portico yang denahnya berbentuk bagian dari lingkaran terdapat ruang belajar

20 | P a g e
dan perpustakaan. Di selatan-barat dari xitus di kiri-kanan oleh ruang belajar dan
perpustakaan. Di depan memanjang dari reservoir terdapat stadium, yaitu tempat
duduk melebar bertrap.

Gambar 2.18 Denah Thermae Caracella, dan Perspektif rekonstruksi Central hall.
Sumber : Sumalyo, 2003 : 40.

Kekuasaan berpengaruh besar dalam berbagai aspek termasuk budaya


terhadap wilayah yang dikuasai adalah kenyataan sejarah yang selalu terjadi dimana
saja. Dalam sejarah arsitektur hal semacam itu terjadi di Afrika utara, yang dahulu
merupakan daerah jajahan Romawi. Di kota Laptis Magna, Afrika Utara terdapat
banyak runtuhan bangunan yang dapat dipastikan dahulu thermae, salah satunya
adalah Thermae Hadrian (126-7 M).

Gambar 2.19 Thermae Hadrian


(126-7 M). Sumber : Sumalyo,
2003 : 42.

21 | P a g e
2.4.4 Teater (theatre) dan teater terbuka (amphitheatre)

Kesenangan melaksanakan kegiatan diluar atau tidak di dalam gedung beratap


dari orang-orang Yunani sejak zaman kuno terungkap jelas antara lain dengan adanya
teater terbuka (amphitheatre). Selain mengembangkan budaya termasuk arsitektur
pada wilayah jajahan, rupanya orang-orang Roma juga mengadopsi budaya bangsa
yang dijajah, termasuk Yunani. Kecenderungan semacam itu terungkap dengan
banyaknya teater dibangun hampir di semua kota diseluruh wilayah kekuasaannya.

Teater Marcellus di Roma (23-13 SM) adalah salah satu dari bangunan jenis
teater yang terletak di tengah-tengah kota Roma. Tempat penonton berdenah setengah
lingkaran, tidak dibuat dari kemiringan sisi bukit, namun dengan dinding pelengkung-
pelengkung. Pelengkung berderet pada dinding luar yang denahnya setengah
lingkaran, terdiri dari dua tingkat. Masing-masing pelengkung diapit oleh pilaster
atau kolom yang menyatu dengan dinding, dalam hal ini dekorasinya ada dua bentuk
yaitu Ionik dan Dorik.

Gambar 2.20 Theatre Marcellus di Roma (23-13 SM).


Sumber : https://en.m.wikipedia.org, diakses pada 30 Agustus 2015.

Colosseum Roma adalah amphitheatre terbesar dan termegah yang didirikan


pada zaman Romawi. Dibangun atas perintah Vespasian pada tahun 70 M,
diselesaikan oleh Demitian pada 82 M.

22 | P a g e
Colosseum Roma terletak di tengah kota Roma, setelah timur-selatan Kuil
Venus pada lembah antara dua bukit, Esquiline di utara dan Caelian di selatan.
Colloseum adalah sejenis teater terbuka dalam ukuran besar dan luas. Pada zamannya
digunakan untuk olahraga termasuk pertandingan gladiator, dan upacara-upacara
penting kekaisaran. Dalam sejarah tercatat bahwa Colisseum Roma pernah digunakan
untuk penyiksaan dan pembantaian orang-orang Kristen.

Colosseum Roma sangat luas, denah berbentuk elip, garis tengahnya 189 x
156.4 m2. Pada dinding keliling yang bentuknya juga elips atau oval, berderet
melingkar 80 pelengkung yang bertingkat 3. Arena di kelilingi audiotorium
bertingkat 3, bentuknya juga oval, berdiameter 27.47 m x 54.86 m, dan di kelilingi
dinding setinggi 4.57 m. Dibalik atas dinding atau podium terdapat singgasana kaisar
dan tempat duduk para pejabat dan kerabat kekaisaran. Di belakangnya lagi terdapat
empat duduk penonton (meninanum) yang dapat menampung 5000 orang pada gang
pada masing-masing tingkat. Pilaster dan kolom menggunakan hiasan berpola Order-
Yunani, Ionik pada lantai 3 dan Korientien pada lantai 4.

Gambar 2.21 Pandangan sisi,


penampang melintang , dan
denah. Sumber : Sumalyo,
2003 : 42.

23 | P a g e
2.4.5 Jembatan Saluran Air (Aquaduct)

Dalam pengembangan wilayah jajahan Roma, konstruksi pelengkung sangat


berperan terutama dalam membangun jembatan dan jembatan saluran air (aquaduct).
Salah satu konstruksi luar biasa besarnya, dibangun pada zaman Romawi adalah
Pont du Grand di Nimes, Perancis (14 M) berupa konstruksi jembatan yang
mempunyai saluran air sepanjang 40 km, mengalirkan air dari Uzes ke Nimes.
Panjang aquaduct 268.83 m, membentang setinggi 47.24 m di atas permukaan sungai
dan lembah.

Jembatan terdiri dari tiga tingkatan, masing-masing berbeda bentangan dan


lebar pelengkung. Terbesar dan terlebar paling bawah, menjadi tumpuan yang di atas,
juga untuk jembatan kendaraan dan manusia. Pelengkung terlebar pada bagian ini,
selebar sungai, yaitu 24.50 M, semuanya pada bagian ini ada 5 buah. Deretan
pelengkung di atasnya ada 9 buah, masing-masing lebarnya berbeda, tergantung yang
ada dibawahnya, paling lebar 24.50 m, terpendek 15.30 m. Yang teratas relatif jauh
lebih kecil, semua lebarnya sama, dan sebanyak 36 buah.

Gambar 2.22 Pont du Grand di Nimes, Perancis (14 M), pandangan melintang dan detail konstruksi.
Sumber : http://architecturestation.blogspot.com/2010/06/arsitektur-romawi.html, diakses pada 02
September 2015.

24 | P a g e
Aqua Claudia di Roma (38 M), juga menjadi bukti sejarah dari peranan sistem
konstruksi pelengkung dalam pengembangan wilayah, dalam hal ini berupa saluran
air yang panjangnya 72 km dan mengalirkan air dari Subiaco ke Roma. Sebagian
saluran dalam konstruksi pelengkung berderet sepanjang 15.20 km, tinggi rata-rata 30
m, dan 48 km lainnya melintas pada lembah.

25 | P a g e
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam bidang seni dan arsitektur, Roma merupakan peminjam yang secara
keseluruhan mengoper pilar-pilar Yunani yang bergaya Doria, Ionia dan Korintia,
yang selanjutnya digabung serta dikembangkan yaitu gaya Komposit dan Tuskana.

Dorongan utamanya bukan untuk menyaingi kesempurnaan dan keselarasan


bangsa Yunani, melainkan untuk mengungguli dengan kehebatan teknologinya. Para
arsitek Roma merupakan orang pertama yang memanfaatkan beton untuk
membangun gedung raksasa / bangunan besar. Dengan menggunakan material yang
murah dan luwes ini, mereka mengembangkan gagasan pelengkung Etruska untuk
menjadi pola viaduk, akuaduk, pelengkung kemenangan dan kubah-kubah raksasa
seperti kubah di Kuil Pantheon.

Konsep arsitektur Romawi mencerminkan segi-segi praktis, yaitu :

 Kekokohan
 Keamanan
 Kenyamanan
 Fungsi

Arsitektur Romawi mengalami pemisahan bentuk dan struktur, bentuk tidak


selalu mencerminkan strukturnya, struktur hanyalah merupakan hiasan atau omamen.
Arsitektur Romawi lebih mengutamakan fungsi (utilitarian), kontruksi bangunan dan
suasana (grandeur).

3.2 Saran

Dalam arsitekturnya, sebaiknya tipologi bangunannya semakin berkembang


tanpa mengikiskan bentuk-bentuk khas dari bangunan Romawi sebelumnya.

26 | P a g e
DAFTAR ISTILAH

Arch : Lengkungan; struktur kurva untuk suatu bukaan yang berfungsi


untuk menopang beban vertikal dengan tekanan aksial.

Cornice : Perhiasan di atas tembok; pilar dari sebuah gedung yang menonjol
keluar, umumnya berbentuk segitiga.

Dome : Kubah; lengkungan puncak.

Entablature : Bagian dari arsitektur Klasik Yunani; merupakan susunan dari


balok horizontal, dibagi ke dalam 3 bagian.

Molding : Papan hias tembok.

Pediment : Konstruksi dalam arsitektur klasik, berbentuk segitiga di bagian


depan atap yang berbentuk pelana dibingkai dibagian bawah oleh
horizontal cornice dan bagian yang miring oleh cornice miring.

Pilaster : Kolom penguat yang menyatu dengan dinding, kadang dihias


dengan capital dan base.

Tympanum : Bidang segitiga atau lengkung pada pediment.

27 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

1. https://id.wikipedia.org (Tanggal akses : 28 Agustus 2015).


2. Sumalyo, Yulianto. 2003. Arsitektur Klasik Eropa. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
3. Ward-Perkin, John B. 1977. Roman Architecture. New York : Abrahams.
4. https://id.wikibooks.org/wiki/Romawi_Kuno/Arsitektur/Pelengkung_Konstantinu
s (Tanggal akses : 08 September 2015).
5. http://www.tribunesandtriumphs.org/roman-architecture/roman-columns.htm.
(Tanggal akses : 08 September 2015).
6. http://andieperkembanganarsitek.blogspot.com/2010/06/arsitektur-romawi.html
(Tanggal akses : 01 September 2015).
7. http://pinterest.com (Tanggal akses : 30 Agustus 2015).
8. https://en.m.wikipedia.org (Tanggal akses : 30 Agustus 2015).
9. http://architecturestation.blogspot.com/2010/06/arsitektur-romawi.html (Tanggal
akses : 02 September 2015).

28 | P a g e