Anda di halaman 1dari 3

Pembangunan Infrastruktur dan Peningkatan Daya Saing

By: Stanislaus RiyantaOn: December 29, 2017

Pemerintah Joko Widodo gencar melakukan pembangunan infrastruktur terutama di daerah-daerah


yang terlihat tertinggal. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah (RPJM) tahun
2015-2019, kebutuhan dana infrastruktur mencapai Rp. 4.796 triliun. Dana tersebut diperoleh 40%
dari APBN dan APBN, 22% dari BUMN, dan 36,5% didanai oleh sektor swasta. Catatan penting pada
APBN tahun 2017 adalah pendanaan infrastruktur semakin meningkat yaitu Rp. 380 triliun yang
berarti 19% dari total APBN. Sektor yang alokasinya lebih besar dari infrastruktur pada APBN 2017
adalah sektor pendidikan, yang mengambil porsi 20% dari total APBN.

Peningkatan porsi anggaran di bidang infrastrutur terus naik dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun
2015 anggaran infrastruktur naik 14,2 persen, pada tahun 2016 naik menjadi 15,2 persen dan pada
tahun 2017 anggaran infrastruktur naik menjadi 18,6 persen. Peningkatan anggaran infrastruktur ini
secara langsung akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja, mendorong konsumsi karena adanya
peningkatan peredaran uang, dan paling penting adanya perbaikan infrastruktur yang memperlancar
roda perputaran ekonomi di Indonesia.

Pemerintahan Joko Widodo selama tiga tahun terakhir telah membangun jalan baru mencapai 2.623
kilometer (km). Sebanyak 1.286 km jalan baru dibangun pada 2015, 559 km pada 2016, dan 778 km
pada tahun 2017. Sekitar 2.000 km yang dibangun merupakan jalan perbatasan di Kalimantan,
Papua, hingga perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Timor. Tahun 2018 ditargetkan
terbangun sekitar 1.071 km, tahun 2019 sekitar 1.120 km jalan baru terbangun. Hal ini berarti pada
era pemerintahan Joko Widodo 2014-2019 diharapkan total pembangunan jalan baru mencapai
4.814 km. Selain jalan baru, pemerintahan Joko Widodo juga mengembangkan jalan tol sepanjang
568 km, yaitu 132 km pada 2015, 44 km pada 2016, dan sisanya, 392 km pada tahun 2019. Target
hingga akhir tahun 2019 akan mencapai 1.851 km.

Kepedulian terhadap pertanian dan energi juga dibuktikan dengan pembangunan bendungan. Pada
usia tiga tahun pemerintahan Joko Widodo telah menyelesaikan pembangunan 9 bendungan dan
sebanyak 30 bendungan masih dalam tahap pembangunan sampai akhir tahun 2017 ini. Bendungan
yang telah terbangun akan menambah luas layanan irigasi waduk menambah potensi energi yang
bersumber dari PLTA.

Pemerintah juga melakukan pembangunan bandara udara untuk mempercepat dan menambah
kapasitas tranportasi udara, Sebanyak 15 bandar udara yang telah dibangun pemerintah adalah
Bandara Tambelan-Tambelan, Letung-Anambas, Tebelian-Sintang, Muara Teweh-Barito Utara,
Samarinda Baru-Samarinda, Maratua-Berau, Miangas-Kepulauan Talaud, Siau-Kepulauan Siau,
Kertajati-Majalengka, Buntu Kunik-Tanah Toraja, Morowali-Morowali, Namniwel-Buru, Kabir atau
Pantar-Alor, Werur-Tambrauw, dan Koroway Batu-Boven Digoel.

Papua yang Istimewa


Pemerintah Joko Widodo menjadikan Papua istimewa terutama dalam percepatan infrastruktur.
Alokasi anggaran pembangunan infrastruktur di Pulau Papua cukup besar. Alokasi anggaran untuk
Papua pada tahun 2015 sebesar Rp 5,66 triliun, dengan rincian untuk sumber daya air Rp 576 miliar,
jalan dan jembatan Rp Rp 4,26 triliun, permukiman Rp 281 miliar dan perumahan Rp 415 miliar.
Tahun 2016 sebesar Rp 5,06 triliun . dengan rincian untuk sumber daya air Rp 308 miliar, jalan dan
jembatan Rp 3,74 triliun, permukiman Rp 250 miliar dan perumahan Rp 216 miliar. Tahun 2017
sebesar Rp 4,96 triliun dengan rincian untuk sumber daya air Rp 411 miliar, jalan dan jembatan Rp
3,72 triliun, permukiman Rp 132 miliar dan perumahan Rp 85,7 miliar.

Alokasi untuk Papua Barat, pada tahun 2015 sebesar Rp 3,96 triliun dengan rincian untuk
infrastruktur sumber daya air Rp 775 miliar, jalan dan jembatan Rp 2,48 triliun, permukiman Rp 405
miliar dan perumahan Rp 78 miliar. Tahun 2016 alokasi sebesar Rp 2,53 triliun, terbagi untuk
infrastruktur sumber daya air Rp 499 miliar, jalan dan jembatan Rp 1,28 triliun, permukiman Rp 255
miliar dan perumahan Rp 183 miliar.Tahun 2017 sebesar Rp 2,64 triliun, terbagi untuk alokasi
infrastruktur sumber daya air Rp 343 miliar, jalan dan jembatan Rp 1,51 triliun, permukiman Rp 129
miliar. Sehingga total alokasi pembangunan infrastruktur PUPR untuk Pulau Papua mencapai Rp 7,6
triliun.

Dana yang cukup besar tersebut mampu memacu pembangunan infrastruktur di Papua dan Papua
Barat dengan cukup pesat. Salah satunya adalah untuk membangun jalan trans Papua terdiri atas
terdapat 12 ruas, yang panjangnya 4.325 kilometer. Keduabelas ruas tersebut yang dirancang dan
dibangun pemerintah ini membentang dan menghubungkan berbagai wilayah di Papua, yakni dari
Kwatisore-Nabire-Wagete-Enarotali-Ilaga-Mulia-Usilimo-Wamena-Elelil-Jayapura-Wamena-Habema-
Kenyam-Mumugu. Kemudian juga melewati wilayah Kenyam-Dekai-Oksibil-Waropko-Tanah Merah-
Merauke-Wagete-Timika.

Pada akhir tahun 2016, jalan trans Papua tersebut sudah tembus 3.851,93 kilometer. Hingga 2017
Kementerian PUPR mentargetkan bertambah menjadi 3.963,87 kilometer, sehingga hanya tersisa
366,20 kilometer saja yang akan diselesaikan hingga 2018. Dari target tersebut, capaian hingga
tahun 2016, dari 10 segmen jalan di Trans Papua sepanjang 3.259 Km, jalan yang sudah tembus
mencapai 2.789 km, sisanya 467 Km belum tembus. Kondisi jalan yang sudah tembus yakni sudah
diaspal sepanjang 1.570 Km dan kondisi perkerasan sepanjang 1.218 Km. Sementara untuk Jalan
Perbatasan Papua, dari total rencana panjang jalan 1,098 km, jalan yang sudah tembus mencapai
876 km.

Peningkatan Daya Saing

Dampak dari pembangunan infrastruktur terutama di daerah yang selama ini tertinggal membuat
ekonomi berjalan lebih merata. Harga BBM, dan sembako bahkan harga bahan bangunan di daerah
tertinggal seperti Papua setelah diadakan percepatan pembangunan infrastruktur menjadi sama
dengan pulau Jawa. Kebijakan dan intervensi pemerintah terutama untuk melakukan program BBM
satu harga membuat biaya transportasi menjadi lebih murah dan memicu normalnya harga-harga
lain di seluruh Indonesia. Hal tersebut tentu memperlancar perputaran roda ekonomi di Indonesia.

Dampak pembangunan infrastruktur terhadap kelancaran roda perputaran ekonomi di Indonesia ini
dibuktikan pula dengan peningkatan index daya saing Indonesia yang semakin membaik. World
Economic Forum (WEF) dalam laporan Global Competitiveness Index 2017-2018 menunjukkan
bahwa daya saing Indonesia naik ke posisi 36, naik 5 peringkat dari tahun sebelumnya yang berada
pada posisi 41. Komponen yang dianggap menunjang kenaikan peringkat daya saing ini adalah
infrastruktur yang semakin baik. Selain itu perbaikan regulasi kemudahan berusaha yang dilakukan
oleh pemerintah Presiden Joko Widodo ikut mendongkrak peningkatan index daya saing tersebut.

Masyarakat Indonesia layak bersyukur dengan kebijakan pemerintah yang melakukan percepatan
pembangunan infrastruktur terutama di daerah yang selama ini tertinggal. Terbukti dengan
pembangunan infrastruktur yang dilakukan dengan serius dan profesional ini, berdampak secara
komprehensif pada peningkatan kualitas hidup manusia.