Anda di halaman 1dari 9

PERAN MAHASISWA ILMU HUKUM DALAM PEMBANGUNAN

BANGSA DI ERA OTONOMI DAERAH: RENUNGAN DAN REFLEKSI

Oleh:
I Made Bram Sarjana

Fiat justitia ruat caelum (Do justice, let the sky fall, walaupun langit runtuh,
hukum harus tetap ditegakkan).

Cuncti adsint meritaeque expectent praemia palmae (let all come who by merit
deserve the most reward, biarlah datang orang-orang yang karena prestasinya
layak mendapatkan penghargaan tertinggi).

1. Pengantar
Indonesia adalah negara hukum (rech staat), bukan negara kekuasaan (mach
staat). Oleh sebab itu sudah sewajarnya setiap bentuk kekuasaan oleh suatu
otoritas harus dibatasi oleh hukum, demi terwujudnya prinsip dasar tadi, bahwa
Indonesia adalah rech staat. Dalil ini juga mendapatkan justifikasi dari pernyataan
filsuf politik terkenal, Lord Acton yang menyatakan “Power tends to corrupt, absolute
power corrupts absolutely”. Dengan demikian setiap bentuk kekuasaan dibatasi oleh
hukum, dan penggunaan bentuk suatu kekuasaan pun selayaknya harus pula
berlandaskan pada hukum.
Ketika berpikir dan berbincang tentang fenomena hukum dan ilmu hukum,
pikiran saya selalu melayang pada sosok imajiner lady justice. Lady justice
digambarkan sebagai sosok wanita dengan kedua mata tertutup, satu tangan
menghunus pedang dan tangan lainnya membawa alat timbangan. Dari tampilan
sosok lady justice itu Saya menginterpretasikan bahwa makna dari sosok lady justice
itu adalah bahwa prinsip hukum bersifat elok dan menawan namun juga tegas (sosok
perempuan), namun penegakkannya bersifat buta (mata tertutup), tidak diskriminatif,
karena semuanya dipandang sejajar di mata hukum, dan semangat inilah yang
digunakan untuk menegakkan hukum dan keadilan (pedang terhunus dan
timbangan).

2. Hukum dan Otonomi daerah


Ada alasan-alasan khusus mengapa saya mengulas tentang Mahasiswa Ilmu
Hukum” dan “Otonomi Daerah” dalam topik pemaparan saya, yaitu pertama,
karena apabila kita menengok ke belakang dalam sejarah perjalanan bangsa
Indonesia, mahasiswa-mahasiswa hukum atau tepatnya sarjana hukum dalam

0
pengertian ahli hukum, memiliki peranan amat penting dalam sejarah perjalanan
Republik Indonesia. Sutan Sjahrir misalnya, salah satu tokoh pergerakan nasional
kelahiran Padang Panjang Sumatera Barat, Perdana Menteri I RI ini adalah seorang
tokoh bangsa yang juga adalah mahasiswa ilmu hukum. Ia pernah belajar ilmu
hukum di Universitas Leiden, Belanda. Sutan Sjahrir dan Bapak para pendiri bangsa
lainnya seperti Bung Karno dan Bung Hatta adalah para pemikir dan konseptor
konstitusi kita, UUD 1945, yang menjadi sumber hukum tertinggi bagi Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Tentu bisa dipahami betapa beratnya tugas para
Bapak Pendiri Bangsa ini, karena harus menyusun sebuah Undang-Undang Dasar
sebagai landasan berdirinya sebuah negara baru yang bernama Indonesia, dalam
kondisi negara masih dalam suasana perang melawan penjajah Belanda, dengan
keragaman suku, agama, SDM yang amat terbatas, serta beragam latar belakang
sosial.
Bila kita lihat dalam jangkauan yang lebih luas lagi, ternyata selalu ada ahli
hukum yang berperan sebagai founding fathers pendiri negara-bangsa. Misalnya
Thomas Jefferson, salah seorang tokoh penting perumus naskah Declaration of
Independence (deklarasi kemerdekaan) Amerika Serikat pada 4 Juli 1776. Tokoh-
tokoh besar ini bukan sekadar ahli hukum, bahkan juga seorang pejuang
kemerdekaan negara masing-masing. Thomas Jefferson, selain seorang ahli hukum
dan ahli bidang ilmu-ilmu lainnya juga seorang pejuang yang turut dalam berbagai
pertempuran antara pihak koloni yang menjadi cikal-bakal negara Amerika Serikat
melawan Kerajaan Inggris. Sedangkan Sjahrir karena aktif dalam gerakan politik
untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia terpaksa tidak dapat menyelesaikan
kuliahnya di Universitas Leiden.
Selanjutnya adalah kata ”otonomi daerah”, juga turut saya bahas dalam
tulisan ini karena era otonomi daerah merupakan salah satu tonggak penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Indonesia.
Indonesia menerapkan otonomi daerah yang luas sejak tahun 1999 melalui UU
Nomor 22 tahun 1999 yang selanjutnya diperbarui dengan UU Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah. Terakhir undang-undang tersebut juga diganti dengan
UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang beberapa pasalnya
juga telah mengalami pergantian.
Undang-Undang ini merupakan salah satu instrumen demokratisasi dan
akselerasi pembangunan daerah, karena melalui otonomi daerah pemenuhan
kebutuhan mendasar manusia menjadi tanggung jawab langsung pemerintah
daerah, yang diatur melalui pelaksanaan urusan wajib yang berkaitan dengan
pelayanan dasar, urusan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar, urusan
penunjang dan urusan pilihan. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang

1
pemerintahan daerah juga berimplikasi pada peningkatan akuntabilitas
penyelenggara pemerintahan, karena kepala daerah dan anggota lembaga legislatif
dipilih secara langsung oleh rakyat. Kondisi yang muncul akibat implementasi
undang-undang pemerintahan daerah telah menimbulkan perubahan drastis bila
dibandingkan dengan era sebelumnya yang amat bercorak setralistik.

3. Tinjauan Filosofis, Sosiologis dan Yuridis


Selanjutnya kita masuk dalam alam pemikiran dari aspek filosofis,
sosiologis dan yuridis. Berbicara tentang peran mahasiswa dalam pembangunan
Indonesia di era otonomi daerah, para mahasiswa Ilmu Hukum tentunya dapat
berbangga karena kesempatan dan peluang berperan dalam pembangunan di era
otonomi daerah ini amatlah besar. Mahasiswa akan ditempa kedewasaan dan
kedalaman daya nalarnya sejak awal memasuki masa perkuliahan melalui pada
mata kuliah filsafat atau pengantar ilmu hukum. Ini merupakan kesempatan untuk
belajar dan merefleksikan tentang apa itu hukum, mengapa hukum itu ada dan lahir
di tengah-tengah masyarakat, dan tentunya mengapa belajar tentang hukum.
Salah satu jawabannya adalah prinsip “Ubi Societas Ibi Ius” , Where there
is a society, law will be there, yang berarti dimana ada masyarakat, di sana ada
hukum. Hal tersebut bermakna bahwa eksistensi hukum identik dan melekat
dengan keberadaan masyarakat. Hukum menjadi pedoman dan landasan
bagaimana suatu masyarakat menjalankan kehidupan. Di rimba pun ada hukum,
yang disebut ”hukum rimba”, ini tentu jauh berbeda dengan kehidupan manusia.
Keberadaan hukum yang identik dengan masyarakat ini tentunya bermakna bahwa
masyarakat membutuhkan sarjana-sarjana hukum, para ahli hukum, cendekiawan
dengan latar pengetahuan hukum yang luas, sehingga dapat membantu proses
pembentukan produk-produk hukum yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat,
yang tertib, tentram, adil dan sejahtera.
Dari aspek sosiologis, hukum tidak dibuat demi hukum itu sendiri, karena
tujuan akhirnya adalah kehidupan masyarakat yang tentram aman, sehingga hukum
harus dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat, serta dapat menjadi pedoman
dalam mewujudkan kehidupan adil, tertib, damai dan sejahtera. Seperti yang
diketahui bersama bahwa di dunia kita mengenal terdapat beberapa tradisi hukum,
yaitu Eropa Kontinental, Anglo Saxon, dan sistem hukum Islam. Sistem hukum
nasional kita sendiri di Indonesia menganut sistem hukum Eropa Kontinental,
sebagai pengaruh dari penjajahan Belanda selama 350 tahun lebih di Indonesia, di
samping juga ada hukum adat seperti yang berlaku di Bali, serta hukum Islam seperti
yang diterapkan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

2
Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri, yang berarti jauh
sebelum kita mengadopsi tradisi hukum Eropa Kontinental sebagai sistem hukum
nasional kita, wilayah Nusantara diperintah oleh kerajaan-kerajaan. Kerajaan-
kerajaan ini yang menjadi cikal bakal negara Indonesia, yang memerintah
masyarakat dari berbagai etnik dengan menggunakan hukum adat sebagai pedoman
tata kehidupannya. Hukum adat digunakan untuk mengatur kehidupan masyarakat di
internal wilayahnya masing-masing, termasuk untuk mengatur hubungan yang
bersifat eksternal lintas wilayah bahkan luar negeri di kala itu. Hukum adat sebagai
warisan nenek moyang kita juga masih diterapkan hingga saat ini, khusus pada
daerah-daerah yang masyarakatnya menganut adat-istiadat tersebut. Hal ini
memperkuat tesis Ubi Societas Ibi Ius yang sebagaimana telah disebutkan tadi,
bermakna bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada hukum yang menjadi
pedoman dalam mencapai tujuan bersama masyarakat tersebut.

4. Konsekwensi Sebagai Mahasiswa Hukum


Lalu apa konsekwensi dari keadaan tersebut bagi mahasiswa ilmu hukum,
khususnya terkait dengan peran dalam pembangunan, dari aspek yuridis? Tentu
saja amat sangat besar. Indonesia adalah negara dengan potensi kekayaan alam
yang luar biasa besarnya. Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, keunikan,
kelebihan dan kekayaan Indonesia antara lain sebagai berikut:
- Republik Indonesia adalah negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya
Perang Dunia II pada tahun 1945 dan Republik Indonesia merupakan negara
ke-70 tertua dari sekitar 200 lebih negara di dunia.
- Republik Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago) terbesar di
dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Sebanyak 9.634 pulau di antaranya
belum diberi nama dan sekitar 6.000 pulau tidak berpenghuni.
- Di wilayah Indonesia juga terdapat 3 dari 6 pulau terbesar di dunia yaitu:
Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km²), Sumatera
(473.606 km²) dan Papua (421.981 km²).
- Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari
suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.
- Indonesia kaya akan rempah-rempah, yaitu menempati peringkat 1 dalam
produk cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta produsen karet alam (natural
rubber) dan minyak sawit mentah (crude palm oil) no 2 di dunia.
- Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80%
di pasar dunia.

3
- Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93
ribu km² dan panjang pantai sekitar 81 ribu km² atau hampir 25% panjang
pantai di dunia.
- Indonesia memiliki biodiversity anggrek terbesar di dunia, yaitu 6 ribu jenis
anggrek dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum
Speciosum) hingga terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk
Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.
- Terumbu Karang (coral reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total
dunia).
- Indonesia memiliki spesies ikan hiu terbanyak di dunia yaitu 150 species.
- Indonesia memiliki hutan bakau terbesar di dunia, yang bermanfaat untuk
mencegah pengikisan air laut/abrasi.
- Indonesia memiliki hutan tropis yang tergolong besar di dunia, sehingga
keberadaan hutan di Indonesia juga memiliki peran penting sebagai paru-paru
dunia
- Indonesia memiliki spesies binatang purba yang masih hidup, yaitu Komodo
yang habitat aslinya hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal
terbesar di dunia. Panjangnya bisa mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.
- Indonesia merupakan negara multietnis sekaligus multikultur, dengan suku
bangsa yang terbanyak di dunia. Di Indonesia terdapat lebih dari 740 suku
bangsa/etnis, di Papua saja terdapat 270 suku. Di samping itu Indonesia juga
merupakan negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa
dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di
Indonesia.
- Indonesia adalah negara katulistiwa di mana matahari bersinar secara penuh
sepanjang tahun di atas wilayah Indonesia. Ini berarti dengan dukungan
teknologi canggih dan investasi yang besar berjangka panjang, Indonesia
dapat memanfaatkan sinar matahari ini sumber energi berlimpah yang ramah
lingkungan, sebagai pengganti minyak bumi dan gas alam yang jumlahnya
semakin berkurang dan suatu saat akan habis. Dan sederet daftar potensi
kekayaan alam dan budaya lainnya.
Informasi tadi tidaklah mengada-ada, dan hanya sebagian kecil dari potensi
kekayaan Indonesia. Bila Indonesia tidak sekaya itu, maka tentu tidak mungkin
bangsa-bangsa yang berada nun jauh di Eropa sana seperti Portugis, Spanyol,
Inggris dan Belanda, termasuk Jepang dari Asia Timur, jauh-jauh datang untuk
menjajah Indonesia. Kepentingan mereka bukanlah semata-mata memperluas
kekuasaan, sphere of influence, namun amat jelas di belakangnya juga terpancar
suatu motif ekonomi, dan ini tidak terbantahkan. Entah berapa kekayaan alam

4
Indonesia yang dikuras dan dihisap selama Indonesia dijajah Belanda. Bisa
dibayangkan, bagaimana kehidupan negara-bangsa yang amat besar seperti
Indonesia, dengan populasi lebih dari 200 juta jiwa, bila tidak ada suatu hukum
nasional yang menjadi pedoman bersama dalam menata kehidupan masyarakatnya.
Ketiaadaan sistem hukum akan membuat segala keunggulan serta potensi kekayaan
yang dimiliki Indonesia tidak dapat diaktualiasikan sebagai pembawa kemakmuran
dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.
Tentunya perlu diingat bahwa ketika berbicara tentang sistem hukum, maka
kita tidak hanya berbicara tentang produk-produk hukum seperti peraturan daerah,
peraturan pemerintah, atau Undang-undang, namun juga infrastruktur hukum
lainnya, seperti aparat penegak hukum, termasuk tingkat kesadaran masyarakat
yang diatur oleh sisten hukum tersebut. Dengan demikian apabila kemudian muncul
pertanyaan di benak kita, apakah sistem hukum Indonesia telah cukup memadai
untuk memberikan rasa keadilan, keamanan, serta kesejahteraan bagi masyarakat,
maka jawabannya amatlah kompleks, karena menyangkut seluruh infrastruktur yang
membentuk sistem hukum kita, dan itu merupakan suatu topik pembahasan
tersendiri.

5. Perubahan Pesat dan Dampaknya Terhadap Hukum


Satu hal yang perlu jadi renungan, bahan kajian, sekaligus evaluasi kita
bersama adalah bahwa pesatnya kemajuan kebutuhan dan tuntutan masyarakat
sebagai dampak pelaksanaan pembangunan, dengan sistem pemerintahan
daerah/otonomi, termasuk juga sebagai dampak globalisasi terjadi demikian banyak
perubahan dalam tata cara kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Perkembangan yang demikian pesat itu membawa dua konsekwensi bagi
mahasiswa ilmu hukum.
Konsekwensi pertama adalah terciptanya peluang-peluang baru yang terbuka
lebar untuk berpartisipasi secara luas dalam pembangunan bangsa. Perubahan
sistem pemerintahan di Indonesi, serta globalisasi di tingkat yang lebih luas,
berimplikasi pada munculnya amat banyak jenis aktivitas sosial-ekonomi
masyarakat, yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan dapat terjadi.
Akibatnya produk-produk hukum yang ada belum dapat menjangkau dan mengatur
aktivitas tersebut, atau terjadi suatu kekosongan hukum. Sebagai sedikit gambaran
adalah pesatnya kemajuan teknologi informasi yang menghasilkan perangkat keras
maupun perangkat lunak yang seolah mampu memenuhi sebagian kebutuhan hidup
kita. Fenomena sarana transportasi online, belanja online telah menimbulkan
persoalan-persoalan hukum baru yang tidak pernah kita alami sebelumnya.

5
Contoh lainnya adalah masalah hukum udara. Sebagai negara berdaulat kita
memiliki kedaulatan atas wilayah darat, laut, dan air yang berada di dalam wilayah
kedaulatan kita. Namun untuk wilayah udara, sejauh manakah batas-batas
kedaulatan kita, ketika kita berbicara tentang wilayah hukum di ruang luar angkasa?
Kita memiliki hak untuk mengusir pesawat terbang asing yang tidak melapor atau
minta ijin ketika melintas di atas wilayah udara tanah air. Namun bagaimana halnya
bila tepat di atas wilayah nusantara, di luar angkasa beribu kilometer di atas sana
terdapat sebuah satelit mata-mata sebuah negara yang memotret dan merekam
segala aktivitas kehidupan kita? Apakah kita telah memiliki produk hukum yang
mengaturnya, bila pun sudah, apakah kita memiliki kekuatan untuk
menjalankan/melaksanakan kedaulatan hukum negara kitat?
Kini dalam kaca mata ”otonomi daerah”, setiap daerah otonom memiliki
kewenangan menggali potensi-potensi ekonomi yang ada di daerahnya. Euforia atas
kewenangan ini oleh sebagian pemerintah daerah mengakibatkan pemerintah
daerah berlomba-lomba membuat peraturan daerah dalam rangka meningkatkan
pendapatan daerah dari pajak dan retribusi. Lalu apa yang terjadi? Muncul persoalan
ekonomi biaya tinggi karena proses perjinan investasi yang berbelit, sehingga tidak
efisien. Terjadi pertentangan/konflik norma, antara perda kabupaten/kota dengan
perda provinsi, atau dengan peraturan pemerintah, bahkan ada pula yang ”cukup
menyedihkan”, karena bertentangan dengan undang-undang. Ribuan peraturan
daerah harus dibatalkan oleh pemerintah karena berimplikasi pada ekonomi biaya
tinggi dan menghambat investasi.
Contoh kecil itu menunjukkan bahwa semangat untuk memajukan daerah di
era otonomi daerah sangat menggebu-gebu, suatu fenomena euforia, namun patut
disayangkan ternyata semangat itu belum diimbangi dengan kecakapan dan
pengetahuan hukum yang mendalam. Konflik norma terjadi karena perumusannya
bervisi jangka pendek, tidak komprehensif dan integral, hanya memakai satu kaca
mata yaitu kepentingan ekonomi. Konflik norma bisa dihindari bila penyusunan suatu
produk peraturan perundang-undangan telah berlandaskan pada suatu kajian
interdisiplin, baik dari aspek filosofis, yuridis, sosiologis, ekonomis, ekologis, politis,
kultur, dan sebagainya.
Persoalan tadi menunjukkan peluang mahasiswa ilmu hukum di era ini, yaitu
berperan menjadi agen yang membantu agar suatu kebijakan/produk hukum yang
tengah dirancang, naskah akademiknya dapat benar-benar matang, memenuhi rasa
keadilan, berorientasi kesejahteraan, sesuai dengan aspek sosio-kultur masyarakat.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah terwujudnya ketaatan asas terhadap
tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Ini adalah kunci suatu
sistem hukum yang sehat dan kuat.

6
Konsekwensi kedua, adalah bahwa di samping muncul peluang-peluang
besar juga muncul tantangan-tantangan besar, karena kompetisi antar SDM, antar
bangsa yang semakin ketat. Hal ini sudah lumrah didengar dan diperbincangkan,
namun sudahkan kita semua benar-benar mempersiapkan diri untuk
menghadapinya? Sebagai contoh kecil, Bali merupakan daerah tujuan pariwisata
internasional yang terkenal. Kondisi ini membuat terdapat banyak investasi dalam
negeri maupun asing yang dilaksanakan di Bali dalam bentuk berbagai usaha,
seperti perhotelan, restoran, hiburan, objek wisata, dan lain-lain. Hal ini bermakna di
wilayah Bali terjadi suatu aktivitas bisnis internasional, yang tentunya juga akan
menimbulkan beragam persoalan hukum. Permasalahan hukum yang dapat terjadi
mulai dari masalah bagi hasil antar para pihak, penyerapan tenaga kerja lokal,
sengketa lahan antara investor dan masyarakat lokal, hingga tanggung jawab sosial
perusahaan.
Dengan deretan permasalahan yang dapat terjadi tersebut sudahkah kita
mempersiapkan diri untuk membentuk dan menghasilkan ahli-ahli hukum
internasional, yang dapat membantu kedaulatan kita tetap terjaga, agar kepentingan
masyarakat adat tetap terjaga? Agar kepentingan nasional kita tidak dirugikan dalam
perjanjian-perjanjian internasional? Seberapa jauh pemahaman seniman dan
pedagang lokal kita tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual? Hal yang disebutkan
terakhir ini perlu dicermati dengan benar, karena kita amat kaya dengan ragam
kekayaan intelektual. Tanpa disadari mungkin saja telah ada sejumlah motif-motif
ukiran, atau lukisan yang merupakan produk asli budaya lokal justru dipatenkan di
luar negeri oleh bangsa asing.
Rezim Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan salah satu senjata
yang digunakan oleh negara-negara maju untuk memperkaya diri dan
mempertahankan supremasinya, atas nama liberalisme dan pasar bebas. Kita tidak
punya pilihan lain, sehingga kita pun harus cerdas dan jeli, mengamankan kekayaan
budaya yang kita miliki agar terlindungi juga melalui Hak Atas Kekayaan Intelektual
ini. Kini sudah terlihat gejala budaya lokal bangsa kita yang secara perlahan ingin
diklaim sebagai milik negara bangsa lain. Tentu saja fenomena ini perlu kita berikan
sorotan dan perhatian, jangan sampai kekurangpedulian kita terhadap harta
kekayaan alam maupun budaya lokal bangsa membuat satu-persatu kekayaan kita
lepas diklaim oleh bangsa asing. Janganlah sampai nanti terjadi untuk memproduksi
jamu tradisional warisan nenek moyang, kita harus membayar biaya lisensi kepada
sebuah perusahaan farmasi di luar negeri, karena formula ramuan jamu tradisional
tersebut telah lebih dahulu dipatenkan oleh pihak luar. Bila hal ini terjadi, maka ini
menunjukkan bahwa kita tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan

7
bangsa dan negara Indonesia. Ini adalah persoalan-persoalan hukum di era
globalisasi yang perlu menjadi perhatian kita bersama.

6. Refleksi
Pelajaran yang dapat ditarik dari uraian tadi adalah bahwa kita belum mampu
menjangkau seluruh aktivitas kehidupan masyarakat kita yang demikian kompleks
dengan suatu payung hukum. Kecepatan perubahan sosial yang terjadi di tengah-
tengah masyarakat membuat produk hukum yang ada telah kurang sesuai lagi
dengan tuntutan dan kebutuhan jaman. Hal ini harus menjadi perhatian para
penstudi hukum, agar tidak terjadi kondisi kekosongan hukum yang berpotensi
menimbulkan permasalahan di masyarakat. Jangan sampai terjadi hukum yang
berlaku telah out of date, sehingga tidak dapat mengayomi tuntutan perubahan
sosial-ekonomi-budaya masyarakat di era kekinian.
Selanjutnya, so what, what next? Jawabannya tentu akan sangat beragam.
Namun satu hal yang pasti adalah bahwa mahasiswa adalah agent of social change.
Perubahan menuju kondisi yang lebih baik tentunya menuntut kita untuk terus
mempelajari seluk-beluk ilmu hukum hingga yang termutakhir. Selain itu yang
penting selanjutnya adalah bekerja, menerapkan segala aspek keilmuan yang
diperoleh itu dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian piranti hukum
dalam era otonomi daerah dapat terus disempurnakan, sesuai kebutuhan jaman dan
mampu mengantarkan masyarakat kita menuju tatanan kehidupan yang semakin
demokratis, beradab, bermartabat, adil, sejahtera dan berdikari.
Sedikit renungan yang berguna dalam konteks menjadi agent of change
tersebut adalah berikut (dikutip dari salah satu sloka dari Bhagawadgita):
Karmany eva dhikaraste,
ma phalesu kadacana,
ma karmaphala hetur bhur,
ma te sango stawa akarmany.
(You have a right to perform your prescribed duty, but you are not entitled to the fruits
of action. Never consider yourself the cause of the results of your activities, and
never be attached to not doing your duty).
Kira-kira dapat dimaknai sebagai berikut: bekerjalah melaksanakan kewajibanmu,
tanpa keterikatan yang membabi buta terhadap hasilnya, melainkan pada proses
bekerja yang kamu laksanakan, karena kesadaran atas proses itulah yang akan
mengantarkanmu menuju pencerahan. Oleh sebab itu janganlah pernah berdiam diri,
teruslah berkarya.

Anda mungkin juga menyukai