Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MODUL EPILEPSI

Iswandi Erwin

Pembimbing: dr. Rusli Dhanu, Sp.S(K)

1.Klasifikasi Epilepsi berdasarkan sindrom


Klasifikasi ILAE 1989 untuk Sindroma Epilepsi.

1. Berkaitan dengan letak fokus


1.1. Idiopatik (primer)
1.1.1 Epilepsi anak benigna dengan gelombang paku di sentrotemporal
(Rolandik benigna )
1.1.2 Epilepsi pada anak dengan gelombang paroksismal pada daerah oksipital
1.1.3 Epilepsi Primer saat membaca (Primary reading epilepsy)
1.2. Simtomatik (sekunder)
1.2.1. Epilepsi parsial kontinua yang kronik progresif pada anak (Kojenikow’s
Syndrome)
1.2.2. Sindrom dengan bangkitan yang dipresipitasi oleh suatu rangsangan (kurang
tidur, alkohol, obat obatan, hiperventilasi, reflek epilepso, stimulasi fungsi kortikal
tinggi, membaca).
1.2.3. Lobus temporalis
1.2.4. Lobus frontalis
1.2.5. Lobus parietalis
1.2.6. Lobus oksipitalis
1.3. Kriptogenik

2. Umum
2.1. Idiopatik (primer)
2.1.1. Kejang neonatus familial benigna.
2.1.2. Kejang neonatus benigna.
2.1.3. Kejang epilepsi mioklonik pada bayi.
2.1.4. Epilepsi absans pada anak.
2.1.5. Epilepsi absans pada remaja.
2.1.6. Epilepsi mioklonik pada remaja.
2.1.7. Epilepsi dengan serangan tonik klonik pada saat terjaga.
2.1.8 Epilepsi umum idiopatik lain yang tidak termasuk salah satu diatas.
2.1.9. Epilepsi tonik klonik yang dipresipitasi dengan akivasi yang spesifik.
2.2. Kriptogenik atau simtomatik
2.2.1 Sindroma West (spasmus infantil dan spasme salaam)
2.2.2 Sindroma Lennox Gastaut
2.2.3 Epilepsi mioklonik astatik
2.2.4 Epilepsi absans miokionik
2.3. Simtomatik
2.3.1 Etiologi non spesifik
- Ensefalopati miokionik dini/ neonatal
- Ensefalopati pada infantil dini dengan burst supresi (Sindrom Ohtahara)
- Epilepsi simtomatik umum lainnya yang tidak termasuk diatas
2.3.2 Etiologi / sindrom spesifik.
- Malformasi serebral.
- Gangguan metabolisme.
2.3.3. Bangkitan Epilepsi sebagai komplikasi penyakit lainnya.

3. Epilepsi dan sindrom yang tak dapat ditentukan fokal atau umum
3.1. Serangan umum dan fokal
- Serangan neonatal
- Epilepsi miokionik berat pada bayi
- Epilepsi dengan gelombang paku komtinyu selama tidur (Sindroma Taissinaire)
- Epilepsi afasia yang didapat (Sindroma Landau-Kleffner)
3.2. Tanpa gambaran tegas fokal atau umum
4. Sindrom Khusus
4.1. Bangkitan yang berkaitan dengan situasi tertentu
4.1.1. Kejang Demam
4.1.2. Bangkitan kejang / Status Epileptikus yang timbul hanya sekali (isolated)
4.1.3. Bangkitan yang hanya terjadi bila terdapat kejadian metabolik akut atau toksis,
alkohol, obat obatan, HONK.
4.1.4.Bangkitan yang berkaitan dengan pencetus spesifik (epilepsi reflektorik)

2.Anamnesis Epilepsi berdasarkan sindrom


Diagnosis epilepsi bergantung pada beberapa faktor, terutama riwayat kejang yang detail dan
akurat yang dikenal juga dengan semiologi. Data diagnostik lainnyar, yang terdiri atas
elektroensefalografi (EEG), monitor kejang via video maupun Magnetic Resonance Imaging
(MRI), merupakan hal penting lainnya dalam penjajakan epilepsi, umumnya dalam upaya
menemukan lokalisasi dan lateralisasi dari fokus kejang dan menentukan sindroma epilepsi.
Tujuan dari evaluasi ini adalah menyediakan survey karakteristik semiologi awal dari
berbagai jenis bangkitan kejang yang diperoleh dari anamnesa dan observasi yang memadai.
Semiologi klinis merupakan titik awal untuk mengenali jenis jenis bangkitan kejang dan
klasifikasi diagnostik dari sindroma epilepsi.

1. Fase Pre Iktal


Fase premonitorik atau pre iktal termasuk faktor yang memprovokasi atau
mempresipitasi timbulnya bangkitan kejang, seperti demam, penyakit sebelumnya,
kurang tidur, kurang compliance terhadap obat anti epilepsi, gangguan altitude,
menstruasi ataupun trauma kapitis. Berbagai kontroversi timbul terhadap kapan waktu
dimulainya fase pre iktal ini, apakah beberapa menit, jam, atau bahkan hitungan hari
sebelum dimulainya onset bangkitan kejang dan seringkali bertumpang tindih dengan
semiologi fase onset iktal (dimana kedua tahap ini sebaiknya dibedakan).Beberapa
gejala lainnya termasuk nyeri kepala dan perubahan perilaku (umumnya iritabilitas).

2. Fase Onset Iktal


Dikarenakan aspek tiba tiba dan dramatis dari suatu bangkitan kejang, seringkali
terjadi tendensi untuk menganggpa fase ini merupakan bagian dari totalitas dari
bangkitan kejang yang terjadi, tanpa adanya anggapan kepentingan simtomatologi
dari gejala onset iktal. Bagaimanapun juga, umum diketahui dan diindikasikan untuk
seorang neurologis untuk mengetahui sekuens dari onset iktal merupakan kejadian
yang pertama dan utama dari kronobiologi epilepsi untuk dapat mengetahui lokalisasi
fokus kejang, jika bangkitan kejang yang ada didahului suatu bangkitan parsial
(apakah nantinya tetap parsial ataupun berkembang menjadi suatu bangkitan
kompleks maupun umum sekunder). Riwayat adanya tanda fokal ataupun gejala
neurologis yang mendahului suatu bangkitan lainnya, jika ada, mestilah didapatkan.
Umumnya pasien menceritakan fase ini sebagai gejala ‘peringatan’ akan terjadinya
suatu bangkitan kejang. Seringkali pasien merasakan perasaan pengecapan abnormal,
sensasi epigastrik maupun gangguan pergerakan bola mata (deviasi okulomotorik),
hingga gejala klonik pada jari.

Berbagai gejala pada saat onset iktal ini akan mennunjukkan fokus bangkitan kejang
pada area yang berbeda pada korteks serebri. Sebagai contohnya, jika suatu fase onset
diceritakan sebagai pergerakan dari gerakan jempol yang klonik, maka kejadian
inisial ini akan diinterpretasikan pada fokus dorsolateral korteks motorik pada sisi
kontralateral hemisfer serebri sesuai dengan homonkulusnya. Begitu juga jika gejala
onset dimulai dengam deviasi mata dan kepala berulang ulang (gerakan versive),
maka foksu kejang akan dicurigai pada korteks premotorik. Gejala onset sensasi
epigastrik akan menunjukkan fokus kejang yang dimulai pada pars inferomedial lobus
temporal. Sensasi pengecapan yang dirasa saat onset akan menunjukkan fokus kejang
pada contralateral suprasylvian and inferior dari korteks sisi rolandik. Penilaian
selanjutnya sebaiknya dilanjutkan dengan penilaian apakah fokus epileptik ini berada
pada korteks fungsional ataukah pada korteks non fungsional, untyk memperkirakan
kemungkinan penjalaran dan penyebaran dari impuls kejang melalui serabut serabut
komisural, proyeksi dan asosiasi korteks menuju area korteks lainnya.

3. Fase Iktal
Fase ini umumnya berhubungan dengan gejala klinis berupa gangguan kesadaran.
Gejala semisal dapat digambarkan sebagai suatu simtom kehilangan kesadaran pada
suatu bangkitan kejang umum tonik klonik ataupun dapat juga perubahan status
kesadaran (altered state of conciousness) yang seringkali terjadi pada kejang parsial
kompleks yang berasal dari lobus temporal. Perubahan status kesadaran,oleh orang
awam yang menyaksikan bangkitan kejang seringkali dilukiskan sebagai perilaku
otomatisme yang tampak normal, ataupun mendekati normal. Gejala menatap
(staring) yang umumnya didapatkan pada awal onset kejang parsial kompleks dapat
menyerupai kejang absans (yang biasanya terjadi selama fase iktal). Hiperventilasi
yang dilakukan selama 3 menit dapat mempresipitasi bangkitan absans dan hal ini
dapat dilakukan di klinik untuk sebuah panduan diagnosis selanjutnya. Kadangkala
klinisi dapat menggambarkan onset dalam beberapa bangkitan berbeda sebelum fase
iktal dan ini mestilah dipertimbangkan (dan sebaiknya dipastikan dalam suatu
anamnesa ulang) untuk menyingkirkan ataupun mempertimbangkan fokus kejang
yang lebih dari satu. Pada kasus yang lebih jarang , dapat diketemukan suatu fokus
pada kedua hemisfer yang menjadi awal fokus epileptogenik yang berbeda (seperti
fokus bangkitan bitemporal).

4. Fase post iktal


Fase dan periode post iktal juga memiliki kemampuan lokalisasi yang valid secara
klinis, dimana fase ini akan diamati pada saat bangkitan kejang berhenti. Perubahan
post iktal ini umumnya tampak sebagai defisit fungsi. Pada suatu kejang umum
primer, misalnya, dapat diamati defisit post iktal yang memiliki nilai lokalisasi,
seperti kelemahan post iktal (paralisis Todd) ataupun defisit fungsi visual yang
berhubungan dengan korteks asosiasi penglihatan. Afasia dan disfasia post iktal akan
menunjukkan fokus yang berada pada hemisfer dominan, sedangkan nyeri kepala post
iktal seringkali dialami paska suatu kejang umum tonik klonk pada daerah oksipital.

Tabel I. Gejala dan tanda dalam anamnesis preiktal, iktal dan post iktal dalam hubungannya
dengan beberapa jenis sindroma epilepsi.