Anda di halaman 1dari 55

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA) FARMASI

PERAPOTEKAN

LAPORAN TUGAS KHUSUS


GOOD PHARMACY PRACTICE (GPP)
DI APOTEK KIMIA FARMA 577 DAYA
MAKASSAR
PERIODE 16 AGUSTUS – 9 SEPTEMBER 2017

OLEH:

ASTRI SYAMSUDDIN

15120162139

Disusun untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat


Untuk menyelesaikan Program Studi Profesi Apoteker

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)

DI KIMIA FARMA 577 DAYA MAKASSAR

PERIODE 16 AGUSTUS – 9 SEPTEMBER 2017

NAMA : ASTRI SYAMSUDDIN, S.Farm

NIM : 151 2016 2139

Disetujui Oleh :

Pembimbing,

Program Studi Profesi Apoteker Pengelola Apotek

Mamat Pratama, S.Farm., M.Si., Apt. Putri Juanti Madjid, S.Si., Apt
Nip : 116101083 Nip : 196212161983032013

Mengetahui :

Ketua Program Studi Koordinator Praktek Kerja

Profesi Apoteker Profesi Apoteker

Muzakkir Baits, S.Si., M.Si., Apt. Hendra Herman, S.Farm., M.Sc., Apt.
Nip : 116020779 Nip : 116080867

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tak terhingga bagi Allah swt atas berkah, rahmah, dan
karunia serta bimbinganNya-lah sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh
rangkaian kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Farmasi Perapotekan
di Apotek Kimia Farma 577 Makassar (daya) dan penyusunan laporan PKPA
Perapotekan ini sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar profesi
apoteker pada Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi Universitas
Muslim Indonesia.
Salawat dan salam juga tidak henti-hentinya kita kirimkan kepada baginda
Rasulullah Muhammad saw beserta para sahabat, yang telah membawakan pelita
sebagai sumber penerangan dalam kegelapan untuk meraih cahaya, yang menutup
pintu-pintu kejahiliahan dan membuka pintu-pintu ilmiah bagi umat manusia.
Penulis menyadari bahwa kegiatan PKPA ini dapat terlaksana dengan baik
berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Putri Juanti Madjid, S.Si., Apt.. selaku Pembimbing Teknis PKPA Farmasi
Perapotekan di Apotek Kimia Farma 577 DAYA yang telah membimbing,
memberi petunjuk, saran dan nasehat selama kami melakukan Praktik Kerja
Profesi Apoteker.
2. Manager Bisnis Apotek Kimia Farma Wilayah Indonesia Timur.
3. Dekan dan para Wakil Dekan Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia.
4. Ketua Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Muslim
Indonesia.
5. Koordinator PKPA Farmasi Perapotekan Program Studi Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia..
6. Segenap dosen-dosen, pegawai dan pengelola Program Studi Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia..
7. Teman-teman PKPA Apotek KF terkhusus untuk PKPA KFA Daya

iv
8. Seluruh karyawan Apotek Kimia Farma 577 Daya yang telah banyak
membantu selama PKPA Apotek.
9. Terakhir untuk orang tua penulis, H. Syamsuddin dan Hj. Nurhayati serta
keluarga besar penulis yang telah memberikan dorongan moral dan materi
bagi penulis dalam menyelesaikan PKPA perapotekan ini.
Atas segala bantuan, bimbingan dan pengarahan serta fasilitas yang telah
diberikan kepada penulis selama melakukan PKPA hingga selesai dan menyusun
laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan, namun
harapan penulis semoga laporan ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua
dan tentunya penulis sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang
membangun agar dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Makassar, September 2017


Penulis

ASTRI SYAMSUDDIN

v
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
BAB I PENDAHULUAN 1
a. Latar Belakang 1
b. Maksud dan Tujuan PKPA 3
BAB II TINJAUAN UMUM APOTEK 4
A. Aspek Legalitas
1. Etik Profesi
2. Peraturan perundang undangan
B. Tata Cara Penirian Apotek dan Stui kelayakan 9
2. 1Pembuatan Studi kelayakan
2. 2Tata cara pembuatab apotek
C. Pengelolaan Apotek
1. Manajemen pendukung
a. Struktur oranisasi
b. System informasi Manajemen apotek
c. Sumber daya manusia
d. Keuangan (finance)
1. Laporan laba rugi
2. Laporan neraca akhir tahun
3. Laporan hutang piutang
e. Perpajakan
2. Pengelolaan Obat, Perbekalan farmasi, dan barang lain
a. Pemilihan (selection)
b. Procurement

vi
1) Perencanaan
2) Pengadaan
c. Distribution Inventory
d. Aspek Asuhan Kefarmasiaan
1) Pelayanan informasi obat
2) Konseling
3) Pengobatan Mandiri
4) Pelayanan Obat dan Reseop
5) MESO terlaporkan
6) Dispensing (therapeutic cycle)
7) Evaluasi penggunaan obat
BAB III KEGIATAN PRAKTEK KERJA DAN PEMBAHASAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 38
DAFTAR PUSTAKA 39
LAMPIRAN 40
TUGAS KHUSUS

vii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1. Daftar Apotek Kimia Farma yang termasuk dalam BM Makassar 24
2. Standar 1 Fasilitas dan peralatan penunjang 35
3. Standar 2 Manajemen mutu 35
4. Hasil rating audit GPP 35

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Struktur organisasi PT. Kimia Farma Tbk. 20
2. Logo PT. Kimia Farma Tbk. 21

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran ..................................................................................................... Halaman


1. Struktur organisasi PT. Kimia Farma Apotek 40
2. Struktur organisasi Kimia Farma Unit Bisnis Makassar 41
3. Struktur organisasi Apotek dan Klinik Kimia Farma 577 Makassar
(Daya) 42
4. Skema pengadaan perbekalan farmasi 43
5. Skema pengadaan narkotika 43
6. Skema pengadaan psikotropika 44
7. Contoh surat pesanan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras KFA
Daya 45
8. Contoh surat pesanan obat mengandung prekursor farmasi KFA Daya 46
9. Contoh surat pesanan psikotropika KFA Daya 47
10. Contoh surat pesanan obat narkotika KFA Daya 48
11. Format laporan penggunaan morfin, petidin dan derivatnya 48
12. Contoh laporan psikotropika KFA Daya 49
13. Contoh laporan pemakaian narkotika KFA Daya 49
14. Contoh rekapitulasi laporan psikotropika KFA Daya 50
15. Contoh rekapitulasi laporan narkotika KFA Daya 50

x
BAB I
PENDAHULUAN

a. LATAR BELAKANG
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh Apoteker (1). Apotek merupakan salah satu sarana kesehatan
dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat dimana yang berperan dalam hal
ini adalah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa Pelayanan Kefarmasian adalah suatu
pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan
sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan
mutu kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian telah mengalami perubahan yang
semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented) berkembang
menjadi pelayanan komprehensif meliputi pelayanan obat dan pelayanan farmasi
klinik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Standar
pelayanan kefarmasian di apotek meliputi pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai; dan pelayanan farmasi klinik (2).
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
menyatakan bahwa pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk
pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional (3).
Untuk dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pasien di apotek,
seorang Apoteker tidak hanya dituntut dari segi teknis kefarmasian saja, tetapi
juga harus memiliki keahlian manajemen karena mengelola sebuah apotek sama
halnya dengan mengelola sebuah perusahaan. Apoteker dituntut pengetahuannya
untuk dapat menguasai produk yang dijual dan teknis pelayanan kefarmasian serta
harus dapat merencanakan, melaksanakan, mengendalikan dan menganalisis hasil
kinerja operasional. Untuk mencapai tujuan pelayanan kefarmasian tersebut maka
diperlukan suatu pedoman bagi apoteker dan pihak lain yang terkait yang
dituliskan dalam bentuk standar GPP (Good Pharmacy practice), dan hal ini telah
didasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ritel farmasi dan jasa
layanan kesehatan lainnya yang telah menerapkan GPP adalah PT. Kimia Farma
Apotek, untuk selanjutnya disingkat KFA, merupakan anak perusahaan PT. Kimia
Farma (persero) Tbk. Dalam menjalankan roda bisnisnya, KFA selalu membuat
improvement untuk menjaga eksistensi dan pertumbuhan kinerja dari tahun
ketahun. Salah satu program yang dirintis mulai tahun 2009 adalah program
pencapaian akreditasi Good Pharmacy Practice (GPP) yang berarti Cara
Pelayanan Kefarmasian yang Baik (4).
Good Pharmacy Practice (GPP) atau Cara Pelayanan Kefarmasian yang
Baik (CPFB) adalah cara untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian yang baik
secara komprehensif, berupa panduan yang berisi sejumlah standar bagi para
apoteker dalam menjalankan praktik profesinya di sarana pelayanan kefarmasian.
Untuk penerapan praktik kefarmasian yang baik di apotek, oleh karena itu
pentingnya agar mahasiswa calon apoteker dibekali keterampilan dan keahlian
secara langsung dalam mengelola apotek. Melalui Praktik Kerja Profesi Apoteker
(PKPA) di Apotek Kimia Farma Daya yang dilaksanakan mulai dari tanggal 6-31
Maret 2017 diharapkan menjadi suatu bentuk pembelajaran kepada mahasiswa
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Hasanuddin dalam hal pelayanan
kefarmasian untuk meningkatkan kompetensi, kemampuan dan keterampilan
dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian yang sesungguhnya, khususnya
dalam pelayanan kefarmasian di apotek.

b. Tujuan Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek


Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek bertujuan :
1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi dan
tanggung jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek.
2. Membekali calon apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman praktik untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
di apotek.
3. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan mempelajari
strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka
pengembangan praktik farmasi komunitas di apotek.
4. Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai tenaga
farmasi yang professional.
BAB II

TINJAUAN UMUM APOTEK

A. Aspek Legalitas
1. Etik Profesi
Etika telah menjadi bagian yang integral dalam pengobatan
setidaknya sejak masa Hippocrates, seorang ahli pengobatan Yunani yang
dianggap sebagai pelopor etika kedokteran pada abad ke-5 SM. Dari
Hippocrates muncul konsep pengobatan sebagai profesi, dimana ahli
pengobatan membuat janji di depan masyarakat bahwa mereka akan
menempatkan kepentingan pasien mereka di atas kepentingan mereka
sendiri. Saat ini etika kedokteran telah banyak dipengaruhi oleh
perkembangan dalam hak asasi manusia.
Di dalam dunia yang multikultural dan pluralis, dengan berbagai
tradisi moral yang berbeda, persetujuan hak asasi manusia internasional
utama dapat memberikan dasar bagi etika kefarmasian yang dapat diterima
melampaui batas negara dan kultural. Lebih dari pada itu, apoteker sering
harus berhubungan dengan masalah-masalah medis dan obat karena
pelanggaran hak asasi manusia, seperti migrasi paksa, penyiksaan, dan
sangat dipengaruhi oleh perdebatan apakah pelayanan kesehatan
merupakan hak asasi manusia karena jawaban dari pertanyaan ini di
beberapa negara tertentu akan menentukan siapakah yang memiliki hak
untuk mendapatkan perawatan medis.
Etika kefarmasian juga sangat berhubungan dengan hukum.
Hampir di semua negara ada hukum yang secara khusus mengatur
bagaimana dokter harus bertindak berhubungan dengan masalah etika
dalam perawatan pasien dan penelitian. Badan yang mengatur dan
memberikan ijin praktek apoteker di setiap negara bisa dan memang
menghukum apoteker yang melanggar etika. Namun etika dan hukum
tidaklah sama. Bahkan etika membuat standar perilaku yang lebih tinggi
dibanding hukum, dan kadang etika memungkinkan apoteker perlu untuk
melanggar hukum yang menyuruh melakukan tindakan yang tidak etis.
Hukum juga berbeda untuk tiap-tiap negara sedangkan etika dapat
diterapkan tanpa melihat batas negara. Namun pengobatan ilmiah
memiliki keterbatasan terutama jika berhubungna dengan manusia secara
individual, budaya, agama, kebebasan, hak asasi, dan tanggung jawab.
Seni pengobatan melibatkan aplikasi ilmu dan teknologi pengobatan
terhadap pasien secara individual, keluarga, dan masyarakat sehingga
keduanya tidaklah sama. Lebih jauh lagi bagian terbesar dari perbedaan
individu, keluarga, dan masyarakat bukanlah non-fisiologis namun dalam
mengenali dan berhadapan dengan perbedaan-perbedaan ini di mana seni,
kemanusiaan, dan ilmu-ilmu sosial bersama dengan etika, memiliki
peranan yang penting. Bahkan etika sendiri diperkaya oleh disiplin ilmu
yang lain, sebagai contoh, presentasi dilema klinis secara teatrikal dapat
menjadi stimulus yang lebih baik dalam refleksi dan analisis etis dibanding
deskripsi kasus sederhana.
2. Secara umum apoteker diharapkan dapat mengaktualisasikan prinsip etika
profesi dengan derajat yang lebih tinggi dibanding orang lain. Prinsip etika
profesi itu meliputi belas kasih, kompeten, dan otonomi.
3.  Belas kasih, memahami dan perhatian terhadap masalah orang lain,
merupakan hal yang pokok dalam praktek pengobatan. Agar dapat
mengatasi masalah pasien, apoteker harus memberikan perhatian
terhadapkeluhan/gejala yang dialami pasien dan memberikan nasehat yang
meredakan gejala tersebut dengan pengobatan dan harus bersedia
membantu pasien mendapatkan pertolongan. Pasien akan merespon
dengan lebih baik jika dia merasa bahwa apotekernya menghargai masalah
mereka dan tidak hanya sebatas melakukan pengobatan terhadap penyakit
mereka.
4.  Kompetensi yang tinggi diharapkan dan harus dimiliki oleh apoteker.
Kurang kompeten dapat menyebabkan kematian atau morbiditas pasien
yang serius. Apoteker harus menjalani pelatihan yang lama agar tercapai
kompetensinya. Cepatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi di
bidang kefarmasian dan kedokteran, merupakan tantangan tersendiri bagi
apoteker agar selalu menjaga kompetensinya. Terlebih lagi tidak hanya
pengetahuan ilmiah dan ketrampilan teknis yang harus dijaga namun juga
pengetahuan etis, ketrampilan, dan tingkah laku. Masalah etis akan muncul
sejalan dengan perubahan dalam praktek kefarmasian, lingkungan sosial
dan politik.
5.  Otonomi, atau penentuan sendiri, merupakan nilai inti dari pengobatan
yang berubah dalam tahun-tahun terakhir ini. Apoteker secara pribadi telah
lama menikmati otonomi pengobatan yang tinggi dalam menetukan
bagaimana menangani pasien mereka. Apoteker secara kolektif (profesi
kesehatan) bebas dalam menentukan standar pendidikan farmasi dan
praktek pengobatan. Masih ada ditemukan (walaupun sedikit), apoteker
yang menghargai otonomi profesional dan klinik mereka, dan mencoba
untuk tetap menjaganya sebanyak mungkin. Pada saat yang sama, juga
terjadi penerimaan oleh apoteker di penjuru dunia untuk menerima
otonomi dari pasien, yang berarti pasien seharusnya menjadi pembuat
keputusan tertinggi dalam masalah yang menyangkut diri mereka sendiri.
Selain terikat dengan ketiga nilai inti tersebut, etika kefarmasian berbeda
dengan etika secara umum yang dapat diterapkan terhadap setiap orang.
Etika kefarmasian masih terikat dengan Sumpah dan Kode Etik
Apoteker. Sumpah dan kode etik beragam di setiap negara bahkan dalam
satu negara, namun ada persamaan, termasuk janji bahwa apoteker akan
mempertimbangkan kepentingan pasien diatas kepentingannya sendiri,
tidak akan melakukan deskriminasi terhadap pasien karena ras, agama,
atau hak asasi menusia yang lain, akan menjaga kerahasiaan informasi
pasien, dan akan memberikan pertolongan darurat terhadap siapapun yang
membutuhkan.
2. Peraturan perundang undangan
Landasan Hukum Apotek
Menurut Permenkes RI No. 35 tahun 2014 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apotek adalah sarana pelayanan
kefarmasian temoat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker
(Permenkes, 2014). Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan untuk
masyrakat di bidang kesehatan. Untuk mengelolah apotek, dibutuhkan
seorang Apoteker sebagai tenaga profesional dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan
kefarmasian, karena memiliki pengetahuan tentang obat-obatan serta
manajemen apotek (Umar, 2007).
Seiring dengan terjadinya perubahan orientasi dari drug’s oriented
menjadi patien oriented, maka seoarang Apoteker dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan tentang obat, dan mampu untuk melakukan
interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi yang dilakukan dapat
berupa pelayanan informasi obat, monitoring penggunaan dan efek
samping obat, serta mengetahui tujuan akhir terapi dari penggunaan obat
yang diberikan kepada pasien (Umar, 2007).
Apotek memiliki landasan hukum yang diatur dalam :
1. Undang-undang Negara, yaitu :
a. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika
b. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika
c. Undang-Undang Kesehatan RI No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah, yaitu :
a. Peraturan pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang perubahan atas
PP No. 26 tahun 1995 tentang Apotek
b. Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian
3. Peraturan Menteri Kesehatan, yaitu :
a. Peraturan Menteru Kesehatan No 92/MENKES/PER/X/1993
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan
Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
c. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 35 tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
4. Keputusan Menteri Kesehatan, yaitu :
a. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/SK/X/
2002 tentang Peruabahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek

B. Tata Cara Penirian Apotek dan Studi kelayakan


1. Pembuatan Studi kelayakan
Studi Kelayakan

a. Profil Apotek
Nama Apotek : ASTRIFarma
Alamat : Jln. Perintis KM.114 no. 190 A
No Telpon : 0852 4465 6646
Jam Buka : 08.00 – 23.00 WIT
PSA : astir syamsuddin.S.Farm.,Apt
APA : astir syamsuddin.S.Farm.,Apt
Praktek Dokter : Dokter Umum dan Dokter Gigi
a. Visi dan Misi Apotek
Visi
Menjadi apotek yang menerapkan pelayanan kefarmasian yang
bermutu berkualitas dan terpercaya serta menguntungkan bagi
konsumen dan karyawan
Misi
 Apoteker yang selalu standby sebagai tempat konseling bagi
masalah kesehatan pasien diapotek
 Menerapkan pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care)
diapotek yaitu memberikan komunikasi informasi dan
edukasi serta koseling secara tepat kepada pasien.
 Memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap pasien yang
dating ke apotek. Pelayanan terbaik merupakan motto apotek
yang berorientasi untuk menyelesaikan dan memberikan
solusi terbaik bagi masalah kesehatan pasien
 Menyediakan obat, alat kesehatan serta perbekalan
kefarmasian lainnya yang bermutu, berkualitas dan
terjangkau oleh masarakat.
b. Struktur Organisasi

PSA/APA

Apoteker
Pendamping

Asisten Apoteker Asisten Apoteker

d. Kepegaiawan
Apotek Arkim memliki 4 orang pegawai yang terdiri dari
 1 orang Apoteker
 1 orang Apoteker Pendamping
 Dan 2 orang Asisten Apoteker

Karyawan di Astri Farma bekerja dengan system shif yaitu pagi


pada pukul 08.00-15.00 WIT dan sore 15.00-22.00 WIT
a. Aspek Lokasi
Nama apotek yang akan didirikan adalah Astri Apotek, terletak
dijalan di Jalan perintis, lokasi apotek stratagis dan akan
menetukan keberhasilan apotek dan erat hubungannya dengan
aspek pasar.
 Tingkat sosial dan ekonomi
Tingkat pendidikan masyarakat relative tinggi mengingat
letak Arkim Apotek yang berada dilingkungan keramaian ,
pusat perbelanjaan sekolah dan kampus. Dengan demikian
tingkat kesadaran masarakat akan pentingnya keselamat
cukup baik. Keadan ekonomi secara relative cukup baik.
 Jumlah pesaing
Jumlah apotek sebagai pesaing adalah 3, akan tetapi dengan
melihat lokasi yang sangat strategis maka diharapkan apotek
dapat bersaing dengan apotek lainnya.
 Dekat pusat keramaian
Arkim Apotek dekat dengan pusat keramain seperti pasar,
rumah sakit, klinik, kampus, sekolah, pom bensin dan
kawasan perkantoran lainnya.
 Lokasi
Lokasi Apotek berada di Jalan perintis kemerdekaan Apotek
ini juga memiliki area parkir yang cukup luas
b. Analisis SWOT
1. Strenghs/Kekuatan Apotek
S1. Apotek dengan konsep layanan Patient orientedyang
berbasis layanan kefarmasian
S2. Petugas Apotek yang handal dan loyal, terdiri dari tenaga
yang sudah berpengalaman dan tenaga tenaga mudah
yang penuh semnagat dan kreatif
S3. Apoteker yang selalu standby di apotek siap
memberikan layanan dan konsultasi seputar obat.
2. Weaknes/Kelemahan Apotek
W1. Merupakan apotek swasta yang berdiri sendiri dan buak
satu apotek jaringan atau waralaba
W2. Merupakan apotek baru, belum dikenal oleh masarakat
sekitar
3. Opportinity/Peluang apotek
O1. Potensi Daerah
a. Jumlah penduduk daerah hartako dan tabaria sekitar
lokasi apotek cukup padat, sehingga menjadi sumber
pelanggan apotek yang potensial
b. Penduduk dengan latar belakang social yang beragam,
sangat memungkinkan untuk menjadi pelanggan.
Masyarakat golongan ini memiliki daya beli lebih tinggi,
karena itu apotek harus dikonsep sedemikian rupa
sehingga dapat memenuhi keinginan pelanggan seperti
mereka. Sebagai contoh apotek ditata agar bersih,
nyaman, elegan, tanpa menimbulkan konsep mahal
sehingga tetap dapat menarik pelanggan dari kelas social
menengah kebawah
c. Penduduk dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi.
Golongan masyarakat ini lebih kritis, lebih bias menerima
pikiran logis, dan mungkin lebih peduli dengan pola
hidup sehat. Untuk menarik pelanggan dari golongan ini
salah satu kegiatan apotek bias mengarah pada mereka
contohnya melalui program konsultasi obat melalui
telepon dll.
O2. Meningkatkan kerjasama dengan PBF
Dengan meningkatkan kerja sama dengan PBF atau
produsen tertentu yang memberikan penawaran seperti
diskon atau adanya penawaran penawaran khusus.
Dengan demikian dapat dapat memberikan harga yang
lebih murah pada pasien atau dapat memberikan
penawaran penawaran khusus.Adanya penawaran khusus
diapotek dapat menarik pelanggan sehingga dapat
meningkatkan income bagi apotek.
4. Threats/Ancaman Apotek
T1. Banyak competitor
Arkim apotek memiliki banyak pesaing di apotek
sepanjang jalan perintis Makassar denganradius kurang 2
km terdapat beberapa pesaing seperti sinar jakarta, dan
apotek kimia farma. Apotek tersebut telah memiliki
praktek dokter. Jika pelayana diapotek kurang maksimal
maka hal ini akan menyebabkan pelanggan beralih ke
apotek competitor yang letaknya cukup dekat.
T2. Pasien tidak bebas menentukan Apotek
Pasien tidak bebas menentukan apotek, karena ada dokter
yang mengarahkan ke apotek tertentu. Hal ini dapat
menyebabkan penurunan income ataupun tidak adanya
pelanggan baru.

c. Aspek Pasar dan Pemasaran


1. Potensi pasar
Letak/lokasi apotek strategis dan mudah dijangkau karena
dekat pemukiman, kantor Lurah, Pasar Serui, Sekolah,
Puskesmas dan Rumah Sakit sehingga menjadi sumber
pelanggan apotek yang potensial.
Perkiraan konsumen:
a. Resep
b. Konsumen yang membeli OTC, alkes dan komoditi lain.
2. Market Share
a. Jumlah pesaing terdekat di sekitar apotek “Astri Farma”: 2
apotek yang berjarak ± 7 km.
b. Jumlah perkiraan pasien di sekitar apotek “Astri Farma” setiap
hari sebanyak 7 pembelian resep, 50 pembelian OWA dan
150 obat bebas
d. Rencana Strategi Pengembangan
1. Penetapan harga yang kompetitif dibandingkan dengan apotek
yang ada di sekitar.
2. Kerja sama dengan dokter praktek dalam pelayanan kesehatan
guna meningkatkan keberhasilan terapi yang rasional (Rencana
setelah 1 tahun apotek berdiri).
3. Sosialisasi ke warga di sekitar apotek melalui penyebaran brosur
atau leaflet kesehatan dan memberikan edukasi kemasyarakat
langsung tentang obat dan peran apoteker setiap dua minggu
sekali di bulan awal apotek didirikan dan 2 bulan sekali di bulan-
bulan berikutnya.
4. Memberikan pelayanan kefarmasian dengan komunikasi yang
efektif dan elegan untuk mendapatkan customer loyality sesuai
dengan Branch image yang akan apotek “astri Farma” bangun.
5. Memperbanyak produk yang ditawarkan dengan menyesuaikan
pola kebutuhan pasien.
6. Pada tahun pertama pendirian rutin melaksanakan penyuluhan
tentang obat dan penyakit kepada masyarakat.
e. Pengelolaan Sumber Daya Manusia
Untuk dapat mengelola sebuah apotek diperlukan Human
Capital yang memiliki komunikasi efektif dan elegan dalam menangani
setiap kegiatan baik yang berhubungan dengan administratif maupun
pelayanan di Apotek sehingga visi dan misi Apotek dapat terlaksana.
Apotek “Astri Farma” merekrut 5 karyawan dengan susunan sebagai
berikut:
1. Apoteker Pengelola Apotek :1 orang
2. Apoteker Pendamping :1 orang
3. Asisten Apoteker :2 orang
4. Administrasi umum :2 orang
Dasar pertimbangan perekrutan karyawan tersebut adalah:
1. Jam kerja: 07.00-21.30, dibagi menjadi 2 shift yaitu jam 07.00-
14.00 dan jam 14.00-21.30 (Hari minggu dan hari besar
keagamaan libur). Shiff 1 : APA + AA + Administrasi masuk mulai
07.00-14.00 dan Shiff 2 : Aping + AA + Administrasi jam 14.00-
21.30.
2. Dana yang tersedia (bagian aspek modal dan biaya dari PSA).
3. Sumber daya manusia merupakan Human Capital, oleh karena itu
SDM di Apotek “Astri Farma” haruslah orang-orang yang
memiliki kelebihan yang tidak dapat ditiru oleh apotek lain yang
mampu menciptakan keunggulan yang kompetitif sehingga akan
menciptakan kepuasan customer dan meningkatnya profit apotek.

f. Alat dan Perbekalan Farmasi Yang Diperlukan


i. Bangunan
a. Bangunan apotek terdiri dari ruang pelayanan resep, ruang
peracikan, kasir, ruang kerja apoteker dan konsultasi obat
(konselin), ruang administrasi, ruang praktek dokter (rencana
setelah 1 tahun apotek berdiri), ruang tunggu pasien, tempat
parkir, mushola, dan toilet.
b. Bangunan dilengkapi dengan AC, penerangan, sumber air
yang memenuhi persyaratan, ventilasi dan sanitasi yang
mendukung dan tempat sampah.
c. Papan nama berukuran panjang 100 cm dan lebar 60 cm
dengan tulisan hitam di atas dasar putih, tinggi huruf minimal 7
cm dengan tebal 7 mm, dilengkapi dengan neon box. Papan
nama terdiri dari papan nama apotek dan papan
nama apoteker dengan SIA dan jam kerja apoteker terpasang
jelas.

ii. Perbekalan Farmasi


a. Obat Keras (Obat dengan Resep dan OWA)
b. Obat bebas (OTC) dan bebas terbatas
c. Alat kesehatan: timbangan badan, pispot, masker,
termometer, tensimeter, perban, sarung tangan (hand scun),
kateter, spuit, dll.
d. Kosmetik, Produk jamu, makanan dan minuman kesehatan,
perlengkapan bayi (bedak, botol susu bayi, sabun, susu,
madu, energy drink, dll).
e. Bahan baku obat
iii. Perlengkapan
a. Alat pembuatan, pengolahan, dan peracikan
 Timbangan
 Thermometer
 Mortir dan stamper
 Blender
b. Alat perbekalan farmasi
 Pot plastik berbagai ukuran
 Lemari pendingin
 Lemari dan rak penyimpanan obat
 Lemari penyimpanan untuk narkotika, psikotropika, dan
bahan berbahaya lainnya
c. Wadah pembungkus dan pengemas
 Etiket
 Kertas puyer
 Streples
 Wadah pengemas dan pembungkus lainnya (tas plastik)
d. Alat administrasi
 Blanko pesanan obat
 Blanko kartu stok obat
 Blanko copy resep
 Blanko faktur dan nota penjualan
 Blanko kuitansi
 Buku defecta
 Buku standar
 Buku pembelian
 Buku penerimaan
 Buku pembukuan keuangan
 Buku pencatatan narkotik dan psikotropik
 Buku pesanan narkotik dan psikotropik
 Buku laporan obat narkotik dan psikotropik
 Buku pencatatan penyerahan resep
 Alat-alat tulis dan kertas
e. Perlengkapan lainnya
 Alat pemadam kebakaran
 Alat kasir dan kertas
 Komputer
 Kalkulator
g. Tenaga Kerja
i. Struktur Organisasi
APA
(Direktur)

APING
p

AsistenApoteker Administrasi
Keterangan:
Garis koordinasi :
Garis instruksi :
ii. Jumlah tenaga kerja
a. Apoteker :1 orang
b. Apoteker Pendamping :1 orang
c. Asisten Apoteker :2 orang
d. Administrasi umum :2 orang
h. Studi Kelayakan Apotek
Berikut adalah perkiraan modal dan gaji karyawan yang
diperlukan untuk apotek “Astri Farma”.
i. Modal
a. Perlengkapan Apotek

Etalase kaca di depan uk 1x1 : 3x @ 800.000,- Rp. 2.400.000,-


Etalase kaca di depan uk 2x1 : 2x @ 1.600.000,- Rp. 3.200.000,-
Meja 3x @ 125.000 Rp. 375.000,-
Kursi 5x @ 50.000 Rp. 250.000,-
Kursi ruang tunggu (panjang) 2x @ 200.000 Rp. 400.000,-
Komputer Rp. 4.000.000,-
Software Rp. 6.000.000,-
Printer Rp. 1.000.000,-
Telepon Rp. 500.000,-
Timbangan mg dan gram Rp. 4.000.000,-
Timbangan badan Rp. 120.000,-
Lemari es Rp. 1.500.000,-
Lemari narkotik dan psikotropik Rp. 450.000,-
Alat peracikan obat (Stemper, Mortir) Rp. 100.000,-
Alat gelas (Beker glass, Gelas ukur 50 ml,100 ml, Rp. 500.000,-
Batang pengaduk, tabung reaksi)
Perlengkapan administrasi Rp. 500.000,-
Buku standard kefarmasian Rp. 2.000.000,-
Stempel apotek Rp. 150.000,-
Kalkulator 2x @ 75.000 Rp. 150.000,-
Dispenser+gallon Rp. 350.000,-
AC 2x @ 1.500.000 Rp. 3.000.000,-
Papan nama neon box Rp. 500.000,-
Lampu Rp. 500.000,-
Jam dinding Rp. 100.000,-
Alat Kebersihan Rp. 100.000,-
Alat Makan Rp. 100.000,-
TV 14 Inch Rp. 600.000,-
Alat Pemadam Kebakaran Fire Indo 2x @ 200.000 Rp. 400.000,-
TOTAL Rp. 32. 445.000,-

b. Biaya Perizinan
1. Biaya Perizinan Rp. 2.000.000,-
2. Modal Operasional (obat) Rp. 50.000.000,-
3. Modal Operasional (Alkes) Rp. 10.000.000,-
4. Cadangan Modal Rp. 4.755.000,-
Total Modal Rp. 100.000.000,-
1. Rencana Anggaran Tahun Ke-1
a. Biaya tetap perbulan tahun ke-1

1) GajiKaryawan
APA (1 orang) Rp. 2.000.000,-
Apoteker pendamping (1 orang) Rp. 1.500.000,-
Asisten Apoteker (2 orang) Rp. 2.400.000,-
Administrator (1 orang) Rp. 2.000.000,-
Jumlah Rp. 7.900.000,-
2) Biaya lain-lain:
Beban Listrik, air, telepon, bensin dan Rp. 500.000,-
keamanan
Lain-lain Rp. 500.000,-
Jumlah Rp. 1.000.000,-
Biaya Keseluruhan Rp. 8.900.000,-
Biaya tetap tahun ke-1
Rp. 106.800.000,-
Biaya tetap bulanan x 12
Rp. 7.900.000,-
THR
Rp. 114.700.000,-
Total

b. Perhitungan BEP tahun ke-1


a. Penjualan obat dari resep 1 tahun pada tahun
pertama di asumsikan resep yang masuk adalah 7
resep per hari dengan harga rata-rata per resep
adalah berkisar Rp70.000,- maka untuk per tahunnya
dapat dihitung:
7 lembar x 26 hari x 12 bulan x Rp 70.000,- = Rp. 152.880.000,-
(Margin 30%)
b. Penjualan obat bebas
26 hari x 12 bulan x Rp 800.000,- = (Margin 10%) Rp. 249.600.000,-
c. Penjualan OWA
26 hari x 12 bulan x Rp 900.000,- = (Margin 25%) Rp. 280.800.000,-
d. Penjualan Produk Farmasi Lain (suplemen, produk
herbal, kosmetik, sabun, alkes, dll.)
26hari x 12 bulan x Rp 500.000,- = (Margin 20%) Rp. 156.000.000,-
Total Pendapatan 1 Tahun Rp. 839.280.000,-

c. Pengeluaran rutin tahun ke-1


a. Pembelian obat resep (70% x Rp. 152.880.000,-) Rp. 107.016.000,-
b. Pembelian obat bebas (90% x Rp. 249.600.000,-) Rp. 224.640.000,-
c. Pembelian OWA (75% X Rp. 280.800.000,-) Rp. 210.600.000,-
d. Produk Farmasi Lain (80% X Rp. 156.000.000,-) Rp. 124.800.000,-
e. Biaya tetap 1 tahun Rp. 114.700.000,-
Total pengeluaran 1 tahun Rp. 781.756.000,-

d. Pengeluaran Laba Rugi tahun ke-1


1. Pemasukan tahun ke-1 Rp. 839.280.000,-
2. Pengeluaran tahun ke-1 Rp. 781.756.000,-
Laba kotor Rp. 57.524.000,-

Rp. 8.392.800,
Pajak final (1% x 839.280.000,-)

Laba bersih Rp. 49.131.200,-

e. Perhitungan BEP tahun ke-1


1. Pay Back Periode
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖
Pay Back Periode = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
𝑅𝑝. 100.000.000,−
Pay Back Periode = 𝑅𝑝. 49.131.200,−

= 2,03 tahun
2. ROI (Return On Investment)
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
ROI = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖 𝑥 100%
𝑅𝑝. 49.131.200,−
ROI = 𝑅𝑝. 𝑥 100%
100.000.000,−

= 49,13 %
3. Break Event Point (BEP)
1
𝑩𝑬𝑷 = 𝑥 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
1–
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛
𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝑽𝒂𝒓𝒊𝒂𝒃𝒆𝒍 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 1 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 −
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 1 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙 = 𝑅𝑝. 781.756.000 − 𝑅𝑝. 114.700.000

𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙 = 𝑅𝑝. 667.056.000


1
𝐵𝐸𝑃 = 𝑅𝑝.667.056.000 𝑥 𝑅𝑝. 114.700.000
1−
𝑅𝑝.839.280.000

1
𝐵𝐸𝑃 = 𝑥 𝑅𝑝. 114.700.000
0,2

𝐵𝐸𝑃 = 𝑅𝑝. 573.500.000, −⁄𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

𝐵𝐸𝑃 = 𝑅𝑝. 477.916.667, −⁄𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛

4. Margin
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = 𝑥 100%
𝐵𝐸𝑃
𝑅𝑝. 114.700.000
𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = 𝑥 100%
𝑅𝑝. 573.500.000

𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = 20%

5. Prosentase BEP

𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
%𝐵𝐸𝑃 = 𝑥 100%
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 − 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙

𝑅𝑝. 114.700.000
%𝐵𝐸𝑃 = 𝑥 100%
𝑅𝑝. 839.280.000 − 𝑅𝑝. 667.056.000

𝑅𝑝. 114.700.000
%𝐵𝐸𝑃 = 𝑥 100%
𝑅𝑝. 172.224.000

%𝐵𝐸𝑃 = 66,599%

2. Rancangan Pendapatan Untuk 3 Tahun pertama

Pendapatan tahun ke-1 Rp. 839.280.000,-


Perkiraan pendapatan tahun ke-2 naik 10%= Rp. 923.208.000,-
Perkiraan pendapatan tahun ke-3 naik 10%= Rp. 1.015.528.800,-
2. Tata cara pembuatan apotek
pendirian apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:
a. Lokasi
Lokasi pendirian apotek harus memenuhi persyaratan kesehatan
lingkungan dan dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan dan komoditi lainya diluar sediaan farmasi.
b. Bangunan
1. Bangunan apotek harus memiliki fungsi keamanan, kenyamanan, dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan kepada pasien serta perlindungan
dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak,
dan orang lanjut usia.
2. Bangunan apotek harus bersifat permanen.
3. Bangunan bersifat permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
merupakan bagian dan/atau terpisah dari pusat perbelanjaan, apartemen,
rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis.
c. Sarana, prasarana, dan peralatan; dan
Apotek harus memiliki:
1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
2. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan
brosur/ materi informasi.
3. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan
meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.
4. Ruang racikan.
5. Tempat pencucian alat.
Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak
penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi,
terlindung dari debu,kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan
pada kondisi ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan.
Prasarana apotek paling sedikit terdiri atas:
a. instalasi air bersih;

1
2

b. instalasi listrik;
c. sistem tata udara; dan
d. sistem proteksi kebakaran.
Peralatan apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan pelayanan kefarmasian. Peralatan antara lain meliputi rak obat,
alat peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi,
komputer, sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan pengobatan pasien
dan peralatan lain sesuai dengan kebutuhan.
d. Ketenagaan
Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan apotek dapat
dibantu oleh apoteker lain, tenaga teknis kefarmasian dan/atau tenaga
administrasi.

Tata cara pemberian izin apotek (1)


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek
pasal 12 dan pasal 13 menyatakan setiap pendirian apotek wajib memiliki izin dari
Menteri, selanjutnya Menteri melimpahkan kewenangan pemberian izin kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Izin berupa SIA yang berlaku lima tahun dan
dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan:
(1) Untuk memperoleh SIA, apoteker harus mengajukan permohonan tertulis
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
(2) Permohonan harus ditandatangani oleh poteker disertai dengan kelengkapan
dokumen administratif meliputi:
a. fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli;
b. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
c. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker;
d. fotokopi peta lokasi dan denah bangunan; dan
e. daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
(3) Paling lama dalam waktu enam hari kerja sejak menerima permohonan dan
dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen administratif, Pemerintah
3

Daerah Kabupaten/Kota menugaskan tim pemeriksa untuk melakukan


pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek.
(4) Tim pemeriksa harus melibatkan unsur Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
yang terdiri atas:
a. tenaga kefarmasian; dan
b. tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.
(5) Paling lama dalam waktu enam hari kerja sejak tim pemeriksa ditugaskan, tim
pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan setempat yang dilengkapi
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.
(6) Paling lama dalam waktu 12 hari kerja sejak Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota menerima laporan dan dinyatakan memenuhi persyaratan,
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menerbitkan SIA dengan tembusan
kepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Balai
POM.
(7) Dalam hal hasil pemeriksaan dan dinyatakan masih belum memenuhi
persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota harus mengeluarkan surat
penundaan paling lama dalam waktu 12 hari kerja.
(8) Terhadap permohonan yang dinyatakan belum memenuhi persyaratan,
pemohon dapat melengkapi persyaratan paling lambat dalam waktu satu
bulan sejak surat penundaan diterima.
(9) Apabila pemohon tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan, maka
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penolakan
(10) Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA
melebihi jangka, apoteker pemohon dapat menyelenggarakan apotek dengan
menggunakan BAP sebagai pengganti SIA.

Tenaga Kefarmasian
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek
dan Peraturan Pemerintah No. 51 tentang Pekerjaan kefarmasian, Tenaga
4

Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri


atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.
1. Apoteker
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Dalam menjalankan praktik
kefarmasian apoteker harus memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) dan
Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). SIPA adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota kepada apoteker sebagai
pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik kefarmasian. STRA adalah
bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Tenaga Kefarmasian kepada apoteker
yang telah diregistrasi (1,2).
2. Tenaga Teknis Kefarmasian
Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli
madya farmasi dan analis farmasi (1,2). Pengertian ini sedikit berbeda
dibandingkan peraturan sebelumnya (PerMenKes RI No. 35, 2014) yang
mengatur tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, peraturan terbaru
(2) tidak menyebutkan tenaga menengah farmasi/asisten apoteker dalam
pengertian tenaga teknis kefarmasian. Dalam menjalankan praktik kefarmasian
tenaga teknis kefarmasian harus memiliki Surat Izin Praktik Tenaga Teknis
Kefarmasian (SIPTTK). SIPTTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota kepada tenaga teknis kefarmasian sebagai
pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik kefarmasian (1).
Fungsi dan tugas apoteker sesuai dengan kompetensi WHO yakni seven
stars pharmacist (7):
1. Care giver, artinya apoteker dapat memberi pelayanan kepada pasien, memberi
informasi obat kepada masyarakat dan kepada tenaga kesehatan lainnya.
2. Decision maker, artinya apoteker mampu mengambil keputusan, tidak hanya mampu
mengambil keputusan dalam hal manajerial namun harus mampu mengambil
keputusan terbaik terkait dengan pelayanan kepada pasien, sebagai contoh ketika
pasien tidak mampu membeli obat yang ada dalam resep maka Apoteker dapat
5

berkonsultasi dengan dokter atau pasien untuk pemilihan obat dengan zat aktif
yang sama namun harga lebih terjangkau.
3. Communicator, artinya apoteker mampu berkomunikasi dengan baik dengan
pihak ekstern (pasien atau customer) dan pihak intern (tenaga
profesional kesehatan lainnya).
4. Leader, artinya apoteker mampu menjadi seorang pemimpin di apotek.
Sebagai seorang pemimpin, apoteker merupakan orang yang terdepan
di apotek, bertanggung jawab dalam pengelolaan apotek mulai dari manajemen
pengadaan, pelayanan, administrasi, manajemen SDM serta
bertanggung jawab penuh dalam kelangsungan hidup apotek.
5. Manager, artinya apoteker mampu mengelola apotek dengan baik dalam
hal pelayanan, pengelolaan manajemen apotek, pengelolaan tenaga kerja dan
administrasi keuangan. Untuk itu apoteker harus mempunyai kemampuan
manajerial yang baik, yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip
ilmu manajemen.
6. Life long learner, artinya apoteker harus terus-menerus menggali ilmu
pengetahuan, senantiasa belajar, menambah pengetahuan dan
keterampilannya serta mampu mengembangkan kualitas diri.
7. Teacher, artinya apoteker harus mampu menjadi guru, pembimbing bagi
stafnya, harus mau meningkatkan kompetensinya, harus mau menekuni
profesinya, tidak hanya berperan sebagai orang yang tahu saja, tapi
harus dapat melaksanakan profesinya tersebut dengan baik.
Dan fungsi tambahan yaitu:
a. Researcher, artinya apoteker berperan serta dalam berbagai penelitian
guna mengembangkan ilmu kefarmasiannya (7) .
b. Entrepreneur, artinya apoteker harus juga dapat menjadi seorang pengusaha.
Berbagai macam keahlian yang dimiliki seorang apoteker akan mendukung
kemampuannya untuk menjadi seorang pengusaha, baik dalam kesehatan
maupun non kesehatan. Pendidikan yang diajarkan kepada apoteker haruslah
mendukung dan mendorong seorang apoteker menjadi entrepreneur (8).
6

C. Pengelolaan Apotek
1. Manajemen pendukung
a. Struktur organisasi

Struktur organisasi Kimia Farma Apotek (kimiafarmaapotek.co.id)


Struktur organisasi PT. Kimia Farma Apotek adalah sebagai berikut
(kimiafarmaapotek.co.id) :
1. Dewn Komisaris
2. Direktur Utama
3. Direktur Operasional, terdiri dari :
a. Manajer Operasional
b. Manajer Bisnis
c. Manajer Merchandiser dan Logistik
4. Direktur Keuangan, SDm, dan Umum, terdiri dari :
a. Manajer umum dan SDM
b. Manajer Keuangan dan Akuntansi
c. Manajer Teknologi Informatika
5. Direktur Pengembangan, membawai Manajer Pengembangan Usaha
Kimia Farma Daya
Apotek Kimia Farma Daya terletak di jalan Jl. Perintis Kemerdekaan KM
14 Makassar, Sulawesi Selatan dengan nomor telepon 0411-.548294. Apotek
Kimia Farma Daya pada saat ini berfungsi sebagai apotek pelayanan. Apotek
Kimia Farma Daya terdiri dari 1 lantai, memiliki dari 1 orang APA, 1 orang
7

Apoteker Pendamping (APING) dan 2 orang Asisten Apoteker. Memiliki klinik


dimana terdapat beberapa praktek dokter seperti dokter umum terdiri dari 2 orang,
dokter spesialis penyakit dalam terdiri dari 1 orang, dokter gigi merupakan
praktek kelompok terdiri dari 3 orang, dan dokter spesialis THT terdiri dari 1
orang.
Pembagian ruangan dalam hal pelayanan di Apotek Kimia Farma Daya
yakni terdiri dari 3 bagian, area pelayanan resep, area pelayanan informasi obat
dan area swalayan farmasi. Pada area pelayanan resep terdiri dari bagian
penerimaan resep, kasir pelayanan, penyediaan dan peracikan obat, penyerahan
obat dan ruang tunggu. Area swalayan farmasi, konsumen dapat langsung melihat
dan memilih obat atau alat kesehatan yang diinginkan dan dapat dibantu oleh
petugas untuk mencari obat yang diinginkan. Sedangkan area pelayanan informasi
obat disesuaikan dengan kondisi apotek dan pelanggan.
b. System informasi Manajemen apotek
Prinsip dan Dasar Manajemen Pemasaran
1. Arti dan kegunaan manajemen pemasaran
Secara umum pemasaran adalah suatu system keseluruhan yang meliputi
kegiatan-kegiatan bisnis yang saling mempengaruhi yang ditujukan untuk
merencanakanm, menetapkan harga, mempromosikan dan mendistribusikan
produk agar dapat memuaskan kebutuhan untuk mencapai pasar sasaran
sehingga dapat mencapai tujuan organisasi.
Aktivitas pemasaran merupakan hasil kerja dan interaksi beberapa hal yang
terkoordinasi dalam proses yang integrative, menyeluruh dalam aktifitas
penjualan, merencanakan serta mengembangkan yang tepat untuk memenuhi
keinginan dan kebutuhan konsumen. Supaya semua aktifitas pemasaran
terkoordinasi diperlukan menajemen pemasaran yang terpadu, menyeluruh
dan menyangkut semua pihak dalam perusahaan dari tingkat atas sampai
tingkat bawah.
2. Konsep pemasaran
Konsep pemasaran meruapakan suatu filosofi bisnis berorientasi pada
konsumen yang menekankan pada pemuasan kebutuhan dan keinginan
8

konsumen. Secara intern keputusan yang menguntungkan, sekarang beralih


tidak hanya kepada taksiran produksi atau penjualan, tapi juga termasuk bagian
kepegawaian, keuangan, manajemen dan accounting. Tiap bagian perusahaan
mempunyai aspek pemasaran, sebaliknya pemasaran mengandung fungsi dari
semua bagian yang lain.
Konsep dasar pemasaran ialah :
a. Kebutuhan konsumen
b. Keinginan konsumen
c. Kemampuan membeli
d. Adanya produk
e. Transaksi (Ukuran dan pemasaran)
f. Pasar (kumpulan pembeli)
Konsep dasar pemikiran manajemen pemasaran :
a. Memperbaikik produksi dan distribusi supaya sedapat mungkin yang efisien
b. Meningkatkan mutu dan penampilan produk
c. Melakukan promosi penjualan
d. Memasarkan kebutuhan pelanggan
e. Memikirkan kepentingan konsumen, perusahaan dan masyarakat
Bauran pemasaran terdiri dari dari 4 variabel yang biasanya dinyatakan dalam
bentuk 4P yaitu :
1. Product (produk)
Kebijakan umum untuk penghapusan, pemodifikasian, penambahan desain,
pengepakan produk dan sebagainya
2. Price (harga)
Kebijakan harga umum yang harus diikuti grup produk dalam segmen pasar.
3. Place (distribusi)
Kebijakan umum untuk tingkatan distribusi dan layanan konsumen.
4. Promotion (promosi)
Kebijakan umum dalam berkomunikasi dengan konsumen melalui ikla,
penjualan personal, promosi penjualan,hubungan masyarakat, hubungan
9

masyarakat pemasaran, pemasaran langsung melalui pos, telepon, internet dan


pameran.
Sasaran dan Strategi Pemasaran
1. Sasaran pemasaran
Sasaran pemasaran adalah seleksi komitmen kuantitatif dan kualitatif
pemasaran, biasanya dinyatakan baik dalam bentuk standar kinerja untuk
suatu periode operasi atau kondisi tertentu untuk dicapai dalam tenggang
waktu yang diberikan.
Ada empat alternative tindakan yang mungkin bagi perusahaan untuk
menetapkan sasaran pemasarannya yaitu:
 Menjual produk yang ada ke pasar yang ada
 Memperpanjang (memperluas) produk yang ada ke pasar baru
 Mengembangkan produk baru untuk pasar yang ada
 Mengembangkan produk baru untuk pasar baru
2. Strategi pemasaran
Strategi pemasaran merupakan seperangkat tindakan yang berintegrasi
dalam upaya memberikan nilai bagi konsumen dan keunggulan bersaing bagi
perusahaan. Strategi pemasaran adalahcara untuk mencapai sasaran
pemasaran dan biasanya berkaitan dengan empat elemen utama bauran
pemasaran. Daftar strategi pemasaran berikut mencakup sebagian besar
pilihan terbuka dibawah 4P yaitu :
a. Produk
- Ubah kinerja, kualitas, atau ciri/kelengkapan
- Standarisasi desain
b. Price (harga)
- Ubah harga, aturan atau kondisi redit
c. Promosi
- Ubah iklan atau promosi dan ubah penjualan
d. Place (distribusi)
c. Sumber daya manusia
10

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek


dan Peraturan Pemerintah No. 51 tentang Pekerjaan kefarmasian, Tenaga
Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri
atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.
1. Apoteker
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Dalam menjalankan praktik kefarmasian
apoteker harus memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) dan Surat Tanda
Registrasi Apoteker (STRA). SIPA adalah bukti tertulis yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota kepada apoteker sebagai pemberian
kewenangan untuk menjalankan praktik kefarmasian. STRA adalah bukti tertulis
yang diberikan oleh Konsil Tenaga Kefarmasian kepada apoteker yang telah
diregistrasi (1,2).
2. Tenaga Teknis Kefarmasian
Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli madya
farmasi dan analis farmasi (1,2). Pengertian ini sedikit berbeda dibandingkan
peraturan sebelumnya (PerMenKes RI No. 35, 2014) yang mengatur tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, peraturan terbaru (2) tidak
menyebutkan tenaga menengah farmasi/asisten apoteker dalam pengertian tenaga
teknis kefarmasian. Dalam menjalankan praktik kefarmasian tenaga teknis
kefarmasian harus memiliki Surat Izin Praktik Tenaga Teknis Kefarmasian
(SIPTTK). SIPTTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota kepada tenaga teknis kefarmasian sebagai pemberian
kewenangan untuk menjalankan praktik kefarmasian (1).
Fungsi dan tugas apoteker sesuai dengan kompetensi WHO yakni seven stars
pharmacist (7):
1. Care giver, artinya apoteker dapat memberi pelayanan kepada
pasien, memberi informasi obat kepada masyarakat dan kepada tenaga
kesehatan lainnya.
11

2. Decision maker, artinya apoteker mampu mengambil keputusan, tidak hanya mampu
mengambil keputusan dalam hal manajerial namun harus mampu mengambil
keputusan terbaik terkait dengan pelayanan kepada pasien, sebagai contoh ketika
pasien tidak mampu membeli obat yang ada dalam resep maka Apoteker dapat
berkonsultasi dengan dokter atau pasien untuk pemilihan obat dengan zat aktif
yang sama namun harga lebih terjangkau.
3. Communicator, artinya apoteker mampu berkomunikasi dengan baik dengan
pihak ekstern (pasien atau customer) dan pihak intern (tenaga
profesional kesehatan lainnya).
4. Leader, artinya apoteker mampu menjadi seorang pemimpin di apotek.
Sebagai seorang pemimpin, apoteker merupakan orang yang terdepan
di apotek, bertanggung jawab dalam pengelolaan apotek mulai dari manajemen
pengadaan, pelayanan, administrasi, manajemen SDM serta
bertanggung jawab penuh dalam kelangsungan hidup apotek.
5. Manager, artinya apoteker mampu mengelola apotek dengan baik dalam
hal pelayanan, pengelolaan manajemen apotek, pengelolaan tenaga kerja dan
administrasi keuangan. Untuk itu apoteker harus mempunyai kemampuan
manajerial yang baik, yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip
ilmu manajemen.
6. Life long learner, artinya apoteker harus terus-menerus menggali ilmu
pengetahuan, senantiasa belajar, menambah pengetahuan dan
keterampilannya serta mampu mengembangkan kualitas diri.
7. Teacher, artinya apoteker harus mampu menjadi guru, pembimbing bagi
stafnya, harus mau meningkatkan kompetensinya, harus mau menekuni
profesinya, tidak hanya berperan sebagai orang yang tahu saja, tapi
harus dapat melaksanakan profesinya tersebut dengan baik.
Dan fungsi tambahan yaitu:
8. Researcher, artinya apoteker berperan serta dalam berbagai penelitian
guna mengembangkan ilmu kefarmasiannya (7) .
9. Entrepreneur, artinya apoteker harus juga dapat menjadi seorang pengusaha.
Berbagai macam keahlian yang dimiliki seorang apoteker akan mendukung
12

kemampuannya untuk menjadi seorang pengusaha, baik dalam kesehatan


maupun non kesehatan. Pendidikan yang diajarkan kepada apoteker haruslah
mendukung dan mendorong seorang apoteker menjadi entrepreneur (8).
d. Keuangan (finance)
1) Laporan laba rugi
2) Laporan neraca akhir tahun
3) Laporan hutang piutang
e. Perpajakan
2. Pengelolaan Obat, Perbekalan farmasi, dan barang lain
a. Pemilihan (selection)

b. Procurement
1) Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi,
budaya dan kemampuan masyarakat.
2) Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan
farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. Distribution Inventory
d. Aspek Asuhan Kefarmasiaan
1) Pelayanan informasi obat

2) Konseling

3) Pengobatan Mandiri
13

4) Pelayanan Obat dan Resep

5) MESO terlaporkan

6) Dispensing (therapeutic cycle)

7) Evaluasi penggunaan obat


14

BAB III
KEGIATAN PRAKTEK KERJA DAN PEMBAHASAN
Apotek Kimia Farma Daya memiliki lokasi yang strategis yaitu berada dekat
jalan utama dan dalam hal pelayanan apotek ini melayani resep BPJS. Lokasi
Apotek Kimia Farma ini diperjelas dalam keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1027/Menkes/SK/2004 tentang sarana dan prasarana menurut standar pelayanan
kefarmasian di apotek, dalam keputusan menteri ini disebutkan bahwa apotek
berlokasi pada daerah yang mudah dikenal dan dapat dengan mudah diakses oleh
masyarakat.
Apotek Kimia Farma Daya sebagai sarana pelayanan kefarmasian tentu telah
memperoleh Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA). Persyaratan lain yang telah
sesuai yaitu adanya 1 apoteker yang telah memiliki Surat Izin Apoteker (SIA)
untuk mengelola apotek, personil apotek lainnya yaitu apoteker pendamping 1
orang, koordinator teknis 1 orang, dan 3 orang asisten apoteker.
Berdasarkan PERMENKES No.73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek , sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang
Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi sarana ruang yang memiliki fungsi
ruang penerimaan resep, ruang pelayanan resep dan peracikan, ruang penyerahan
obat dan ruang konseling, tanpa penyimpanan obat dan ruang penyimpanan arsip.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan di atas, dari segi bangunan
dan fasilitasnya, Apotek Kimia Farma Daya memiliki ruang tunggu, ruang
peracikan, tempat penyerahan obat atau pemberian informasi obat, ruang
administrasi, dan swalayan yang dipenuhi obat-obat dilengkapi dengan OTC,
tempat pencucian alat dan jamban WC serta tempat parkir untuk pelanggan.
KEPMENKES No. 1332 tahun 2002 terkait persyaratan yang harus
terpenuhi di apotek yaitu adanya alat pembuatan (alat pengisian puyer dan
kapsul), lemari dan rak penyimpanan obat, lemari pendingin, lemari penyimpanan
narkotik dan psikotropik, wadah pengemas dan etiket, blanko pesanan obat,
blanko kartu stok obat, blanko salinan resep, buku catatan narkotik, psikotropik,
dan prekursor, serta buku acuan seperti MIMS dan ISO edisi terbaru.
15

Penyimpanan obat pada lemari disusun secara alfabetis dan farmakologi.


Obat bebas yang terdapat pada swalayan apotek disusun berdasarkan tingkat
kebutuhan konsumen, item yang lebih dibutuhkan konsumen terletak dekat
dengan pintu masuk apotek sementara produk OTC berada pada lemari dekat
dengan bagian pelayanan resep. Psikotropika dan narkotika disimpa pada lemari
khusus dimana kuncinya hanya disimpan oleh Apoteker Penanggungjawab.
Pengadaan persediaan obat di apotik dilakukan dengan mengikuti sistem
komputerisasi. Persediaan dan transaksi barang di Apotik Kimia Farma Daya
dicatat dalam sistem dan dapat dilihat oleh seluruh Outlet Kimia Farma BM
Makassar dan tim pengadaan di gudang sehingga memudahkan untuk mengetahui
dimana outlet yang memiliki persediaan yang butuhkan dan persediaan yang
kosong sehingga tim pengadaan akan melakukan pengiriman obat ke Kimia
Farma yang memiliki persediaan yang kosong atau bisa diistilahkan sebagai
“dropping”, istilah “dropping” juga digunakan untuk peminjaman obat dari Kimia
Farma lain. Pemesanan juga dapat dilakukan langsung oleh pihak apotek kepada
distributor/ PBF secara langsung.
Dari segi pelayanan di apotek Kimia Farma Daya, pegawai apotek
melakukan penyambutan pada konsumen yang datang berdasarkan peraturan yang
telah ditetapkan oleh Kimia Farma, para pengawai menggunakan pakaian yang
sopan dan rapi dan juga menggunakan bahasa yang sopan dalam melayani
pelanggan. Apoteker juga memberikan pelayanan informasi obat, konseling dan
penyerah obat kepada pasien.
Tetapi kendala dalam pelayanan terjadi saat obat yang dibutuhkan tidak
terdapat pada apotek atau kekosongan obat sehingga terjadi penolakan resep/ obat
di apotek. Kekosongan obat ini terjadi akibat dari ketidaksesuaian jumlah fisik
obat dengan jumlah obat yang terdapat di komputer, obat yang dicari oleh
konsumen tidak dijual di Kimia Farma, obat yang dipesan belum disalurkan oleh
distributor, atau obat kosong stok di apotek, pasien tidak menerima saran dari
apoteker untuk mengganti obatnya dengan merk lain, dapat pula dikarenakan
karyawan lambat memperhatikan ataupun mencek obat yang persediaannya
tinggal sedikit atau habis.
16

Dalam setiap pergantian shift, petugas apotek yang bertanggung jawab harus
melaporkan seluruh hasil penjualan apotek dalam bentuk bukti setoran kasir
apotek untuk selanjutnya divalidasi. Validasi dilakukan terhadap semua transaksi,
baik tunai maupun kredit. Validasi adalah proses pengecekan data transaksi dari
hasil entry, lalu bukti setoran kas untuk transaksi tunai dicocokkan dengan kas
yang ada. Validasi dilakukan setiap hari dan dikirim ke unit BM.
Karyawan selalu tanggap dan cepat menangani keluhan serta membantu
mengatasi kesulitan konsumen. Misalnya, jika konsumen tidak mampu menebus
obat maka dicarikan obat dengan zat aktif atau khasiat sama dengan harga yang
lebih terjangkau atau menyarankan konsumen menebus obatnya sebagian dulu.
Jika obat yang diinginkan konsumen tidak terdapat di apotek, maka karyawan
apotek memberi pilihan obat yang lain dengan efek farmakologi yang sama. Hal
tersebut dapat mengurangi jumlah penolakan resep di apotek.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
38
DAFTAR PUSTAKA

1. Menkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 9 Tahun


2017 tentang Apotek. Jakarta, 2017.

2. Menkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 Tahun


2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta, 2016.

3. Presiden RI. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009


tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta, 2009.

4. Dwiastuti A dan Saroso DS. Upaya Mencapai Akreditasi Good Pharmacy


Practice (GPP) PT. Kimia Farma Apotek (Studi Kasus di Unit Bisnis Jaya 2).
SINERGI Vol. 19, No. 2, Juni 2015.

5. Presiden RI. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan. Jakarta, 2009.

6. Menteri Kesehatan RI. Permenkes No. 35 Tahun 2014 tentang Standar


Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta. 2014.

7. Wiedenmayer K, Summers RS, Mackie CA, Gous AGS, Everard M, Tromp


D. Handbook: Developing Pharmacy Practice, A Focus on Patient Care.
WHO and IPF. 2006. pp. 15-6

8. Sam AT, Parasuraman S. The Nine-Star Pharmacist: An Overview. Journal of


Young Pharmacists Vol 7, Issue 4, Oct-Dec 2015

9. International Pharmaceutical Federation, World Health Organization. Joint


FIP/WHO Guidelines on GPP: Standards for quality of pharmacy services.
FIP & WHO, 2011.

10. PT. Kimia Farma Apotek. Pedoman Pelaksanaan Good Pharmacy Practice
(Cara Pelayanan Farmasi yang Baik) PT. Kimia Farma Apotek. 2009.

39
LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur organisasi PT. Kimia Farma Apotek

Dewan Komisaris

Direktur Utama PT. KFA

Direktur Operasional Direktur Pengembangan

Manager Manager Manager Manager Manager Manager


Operasional Merchandise & Pengembangan Usaha Teknologi Umum & SDM Keuangan &
Logistik Informatika Akuntansi

Manager
Bisnis

40
Lampiran 2. Struktur organisasi Kimia Farma Unit Bisnis Makassar

Business Manager

Pharmacy Manager

Supervisor Supervisor Supervisor


Pengadaan Keu. & Akt. Teknologi
Informasi

Pelaksana Adm. Pelaksana Adm. Pelaksana Pelaksana Adm. Pelaksana Adm.


Hutang Dagang Piutang Dagang Pemegang Kas Kas/Bank Umum & Pajak
& SDM

41
Lampiran 3. Struktur organisasi Apotek dan Klinik Kimia Farma 577 Makassar (Daya)

PHARMACY MANAGER

APOTEKER PENDAMPING

APOTEK KLINIK

ASISTEN BAGIAN BAGIAN BIDAN BAGIAN DOKTER


APOTEKER PENGADAAN ADMINISTRASI ADMINISTRASI
DAN DAN
KEUANGAN
KEUANGAN

42
43

Lampiran 4. Skema pengadaan perbekalan farmasi

v
Bagian Pengadaan
(Gudang)

3 SPB
Barang 2
4/5 + Faktur
Pelunasan Faktur
Faktur Asli 1
Pemasok/PBF
Barang/droping
BPBA

Bon pinjaman 6 Copy R/ 8


APP KF lain APP KF SUDIANG Apotek III

Barang/droping Barang + kwitansi


7 9
Mendesak

Keterangan:
APP : Apotek Pelayanan
BPBA : Bon Permintaan Barang Apotek
PBF : Pedagang Besar Farmasi
SPB : Surat Permintaan Barang

Lampiran 5. Skema pengadaan narkotika

Surat Pesanan BM
Narkotika (PENGADAAN)
SP Khusus
1 Narkotika

2
Faktur
4 Faktur
+Barang 3

APP DISTRIBUTOR
Surat Pesanan Narkotika
44

Lampiran 6. Skema pengadaan psikotropika

Surat Pesanan BM SP Khusus


Psikotropika
BPBA (PENGADAAN) Psikotropika

SPB Psikttropika
Faktur
1
4 2

Faktur
+Barang 3
APP DISTRIBUTOR
Surat pesanan psikotropika
45

Lampiran 7. Contoh pegadaan dan pemesanan obat


46

Lampiran 8. Contoh surat pesanan psikotropika KFA daya