Anda di halaman 1dari 9

Hubungan Interaksi Teman ...

(Andin) 41

HUBUNGAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA


SISWA KELAS XI DI SMA N 6 YOGYAKARTA

THE RELATION BETWEEN THE INTERACTION OF PEER GROUP AND CONSUMPTIVE


BEHAVIOR OF SECOND GRADERS OF SMA N 6 YOGYAKARTA

Oleh: andin, bimbingan konseling fakultas ilmu pendidikan universitas negeri yogyakarta, andienkh@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nteraksi teman sebaya dengan perilaku
konsumtif pada siswa kelas XI SMA Negeri 6 Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis korelasional. Populasi dalam
penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA N 6 Yogyakarta, DIY, dengan sampel yang diteliti sejumlah
104 siswa. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proportional random sampling. Alat
pengumpulan data berupa skala interaksi teman sebaya dan skala perilaku konsumtif. Uji validitas
instrumen menggunakan validitas isi dengan expert judgement, sedangkan reliabilitas dengan
menggunakan formula Alpha Cronbach dengan nilai koefisien 0.868 pada skala interaksi teman sebaya
dan 0.917 pada skala perilaku konsumtif. Analisis data menggunakan teknik analisis korelasi dengan
program SPSS 22.00 for Windows.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara interaksi teman
sebaya dengan perilaku konsumtif pada siswa kelas XI SMA Negeri 6 Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan
koefisien korelasi (r) sebesar 0.494 dan p = 0.000 (p < 0.05), artinya semakin tinggi interaksi teman
sebaya maka semakin tinggi pula perilaku konsumtif. Sebaliknya, semakin rendah interaksi teman sebaya
maka semakin rendah pula perilaku konsumtif. Sumbangan efektif interaksi teman sebaya pada perilaku
konsumtif ialah sebesar 24,4%, yang berarti masih ada sumbangan sebesar 75,6% berasal dari faktor lain.

Kata Kunci: interaksi teman sebaya, perilaku konsumtif


Abstract

This study aims to find out the relation between the peer groupinteraction and consumptive
behavior of second graders of SMA N 6 Yogyakarta. This reseacrh applies quantitative method with
correlative type.The population of this research is the whole second graders of SMAN 6 Yogyakarta, DIY,
with the observed sample of 104 students. The sampling technique used in this reserch is propotional
random sampling. The data collection tool that is employed in this research is in form of interaction scale
of peer group and consumptive behavior scale. The instrument validity is logical validity which involves
expert judgment. While, the reliability is examined using the formula of Alpha Cronbach with coefficient
value of the peer group interaction scale at 0,868 and the consumptive behavior scale at 0,917. In
alalyzing the data, the researcher uses correlation technique with SPSS 22.00 for windows program. The
result of this research implies the emergence of positive and significant between the peer group
interaction and consumptive behavior of second graders of SMAN 6 Yogyakarta. This shown in the
correlation coefficient (r)at 0,494 and p=0.000 (p<0.05)It means that the higher peer group interaction
reaches, the higher of consumptive behavior would be. In contrary, the lower the peer group interaction
reaches, the lower of consumptive behavior would be. The effetive contribution of peer group intiraction
on consumptive behavior is at 24,4%, that implies the emergence of another contribution at 75,6%
caused by other factors.
Keywords: peer group interaction, consumptive behavior
42 E-jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-5 2016

PENDAHULUAN sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18


Sebagai manusia yang hidup di masa sampai 22 tahun. Ciri-ciri remaja bersifat ingin
sekarang, relasi kita dengan barang-barang tahu, mencoba, dan bereksperimen. Remaja
konsumsi tidak dapat dipungkiri. Kapanpun dan sangat memperhatikan badannya sendiri. Ia
dimanapun, di jalan raya, bandara, stadion senang berdandan dan berkaca berjam-jam. Rasa
olahraga, bahkan dalam rumah kita sendiri kesetiakawanan dengan kelompok sebayanya
konsumsi hadir sebagai solusi bagi seluruh tumbuh kuat (Martono, 2008: 69)..
permasalahan (Soedjatmiko, 2007:13).
Perilaku konsumtif menurut Ujang
Konsumtif biasanya menjelaskan keinginan
Sumarwan (2011: 5) adalah semua kegiatan,
untuk mengkonsumsi atau memiliki suatu barang
tindakan, serta proses psikologis yang terus
secara berlebihan yang sebenarnya kurang
mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan
diperlukan atau bukan menjadi kebutuhan pokok
membeli, menggunakan, menghabiskan produk
(Ahmad Hikamuddin, 2013). .
dan jasa yang ada. Sedangkan menurut Lubis
Perilaku-perilaku yang mengikuti trend-
(Sumartono, 2002: 117) perilaku konsumtif
fashion, dan tuntutan sosial cenderung
adalah perilaku yang tidak lagi berdasarkan pada
menimbulkan pola konsumsi yang berlebihan.
pertimbangan yang rasional, melainkan karena
Fashion selalu berubah, perkembangan fashion
adanya keinginan yang sudah mencapai taraf
akan selalu berjalan (Hemphill & Suk 2009: 5).
yang sudah tidak rasional lagi.
Sehingga hal tersebut akan terus menuntut rasa
tidak puas dengan apa yang dimilikinya, dan Banyak hal yang mempengaruhi
mendorong untuk selalu mengkonsumsinya individu berperilaku konsumtif, diantaranya
karena takut ketinggalan. Akibatnya seseorang faktor dari dalam maupun dari luar individu.
tidak memperhatikan kebutuhannya ketika Faktor dari dalam diri individu yaitu: motivasi,
membeli produk fashion. Mereka cenderung pengamatan, kepribadian, dan konsep diri serta
membeli produk fashion yang mereka inginkan, sikap. Sedangkan faktor dari luar individu yaitu:
bukan yang mereka butuhkan, secara berlebihan kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial,
dan tidak wajar, ini dapat digambarkan sebagai kelompok referensi dan keluarga. Faktor-faktror
perilaku konsumtif. tersebut merupakan kesatuan yang memberi
pengaruh terhadap tingkat konsumtif individu.
Sumartono (2002: 11) mengatakan
Sumartono (2002: 100).
bahwa perilaku konsumtif begitu dominan
Aspek-aspek yang mempengaruhi
dikalangan remaja. Hal tersebut dikarenakan
perilaku konsumtif menurut Hidayati (2001),
secara psikologis, remaja masih berada dalam
antara lain:
proses pembentukan jati diri dan sangat sensitif
terhadap pengaruh dari luar. Menurut Santrock
(2003: 26) masa remaja dimulai kira-kira usia 10
a. Impulsif
Hubungan Interaksi Teman ...(Andin) 43

Sikap konsumtif terjadi semata-mata karena atau kegunaannya), Membeli produk hanya
didasari oleh hasrat yang tiba-tiba atau keinginan sekedar menjaga simbol status, Munculnya
sesaat. Dilakukan tanpa terlebih dahulu membuat penilaian bahwa membeli produk dengan harga
perencanaan, pertimbangan, tidak memikirkan mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang
apa yang akan terjadi kemudian dan bersifat tinggi, Mencoba lebih dari dua produk sejenis
emosional. (merek berbeda).
b. Pemborosan
Perilaku konsumtif yang dilakukan oleh
Salah satu indikator perilaku konsumtif yang
remaja sebenarnya tidak lepas dari pengaruh
paling menonjol pada aspek ini adalah berlebih-
lingkungan sosial remaja dalam berinteraksi
lebihan, selain itu menjelaskan perilaku
dengan kelompoknya. Seseorang membutuhkan
konsumtif sebagai perilaku membeli yang
pengakuan dari orang lain terhadap faktor
menghamburkan banyak dana sehingga
psikologis internal yang melekat pada dirinya,
menimbulkan pemborosan.
seperti kebutuhan untuk dihormati, kebutuhan
c. Mencari kesenangan (pleasure seeking)
untuk disegani, kebutuhan untuk dipatuhi.
Perilaku konsumtif merupakan perilaku membeli
Kebutuhan tersebut meluas untuk memiliki
sesuatu yang dilakukan hanya karena semata-
posisi tertentu di masyarakat (Mulyadi
mata untuk mencari kesenangan.
Nitisusastro, 2012:49). Lingkungan sosial yang
d. Mencari kepuasan (satisfaction seeking)
dimaksud adalah lingkungan dimana para remaja
Perilaku konsumtif didasari pada keinginan
menghabiskan banyak waktu merekan dengan
untuk selalu lebih dari pada yang lain, selalu
teman-temannya salah satunya lingkungan
tidak ada kepuasan dan usaha untuk memperoleh
sekolah (Papalia & Olds, 2002: 267).
pengakuan serta biasanya diikuti dengan rasa
Pierre (Ahmad, 2009: 35) menjelaskan
bersaing yang tinggi.
bahwa interaksi teman sebaya adalah hubungan
Berdasarkan uraian diatas, dapat
individu pada suatu kelompok kecil dengan rata-
disimpulkan bahwa aspek-aspek yang
rata usia yang hampir sama/ sepadan. Masing-
mempengaruhi perilaku konsumtif adalah
masing individu mempunyai tingkatan
impulsif, pemborosan, mencari kesenangan.
kemampuan yang berbeda-beda. Mereka
Indikator perlaku konsumtif yaitu: menggambarkan beberapa cara yanng berbeda
Membeli produk karena iming-iming hadiah, untuk memahami satu sama lainnya dengan
Membeli produk karena kemasannya menarik, bertukar pendapat..
Membeli produk demi menjaga penampilan diri Widradini (Ahmad, 2009: 36)
dan gengsi, Memakai produk karena unsur menjelaskan bahwa dalam interaksi teman
konformitas terhadap model yang sebaya terdapat perubahan ciri-ciri sebagai
mengiklankannya, Membeli produk atas berikut:
pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat
44 E-jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-5 2016

a. Minat yang beraneka ragam dan tidak akan menemukan kekuatan dalam
tetap kepada minat yang lebih sedikit macamnya mempertahankan dirinya di dalam perebutan
dan mendalam. tempat dari dunia orang dewasa.
b. Tingkah laku yang ribut dan damai, g. Interaksi orang tua, suasana di rumah
banyak berbicara dan adu keberanian kepada yang tidak menyenangkan dan adanya tekanan
tingkah laku yang lebih tenang dan lebih teratur. dari orang tua menjadi dorongan individu dalam
c. Penyesuaian diri kepada orang banyak ke berinteraksi dengan teman sebayanya.
penyesuaian diri kepada kelompok kecil. h. Pendidikan, pendidikan yang tinggi
d. Memandang status keluarganya sebagi adalah salah satu faktor dalam interaksi teman
sesuatu hal yang tidak penting dalam hal sebaya karena orang yang berpendidikan tinggi
menentukan teman-temannya kepada hal yang mempunyai wawasan dan pengetahuan luas yang
memperhatikan pengaruh status ekonomi dari akan mendukung dalam pergaulannya
keluarga untuk menentukan pilihan teman. METODE PENELITIAN
Monk’s dan Blair (Ahmad, 2009: 38) ada Jenis Penelitian
beberapa faktor yang cenderung menimbulkan Penelitian ini merupakan penelitian
munculnya interaksi teman sebaya pada remaja, kuantitatif.
yaitu: Waktu dan Tempat Penelitian
a. Umur, konformitas semakin besar dengan Penelitian ini dilakukan di SMAN 6
bertambahnya usia, teurutama terjadi pada usia Yogyakarta yang beralamat di Jalan C.
15 tahun atau belasan tahun. Simanjuntak No. 2, Yogyakarta. Sedangkan
b. Keadaan sekeliling, kepekaan pengaruh waktu penelitian dilakukan pada bulan
dari teman sebaya laki-laki lebih besar dari pada September.
perempuan. Target/Subyek Penelitian
c. Kepribadian ekstrovet, anak-anak yang Sample ditentukan dengan teknik
tergolong ekstrovet lebih cenderung mempunyai propotional random sampling menggunakan
konformitas dari pada anak introvet. nomogram harry king hingga diperoleh sample
d. Jenis kelamin, kecenderungan laki-laki sejumlah 120 siswa dari SMA N 6 Yogyakarta,
untuk berinteraksi dengan teman lebih besar dari Prosedur Penelitian
pada ank perempuan. Peneliti melaksanakan penelitian
e. Besarnya kelompok, pengaruh kelompok yang terdiri dari beberapa kegiatan meliputi
menjadi semakin besar bila besarnya kelompok observasi dan wawancara pra-penelitian.
bertambah. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan
f. Keinginan untuk mempunyai status, proposal dan instrumen. Instrumen yang
adanya suatu dorongan untuk memiliki status, digunakan berupa skala interaksi teman sebaya
kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya dan skala perilaku konsumtif, instrumen terpakai
interaksi diantara teman sebayanya. Individu digunakan untuk mengetahui validitas dan
Hubungan Interaksi Teman ...(Andin) 45

reliabilitas instrumen. Selanjutnya, peneliti Range 28,00 34,00


Minimum 87,00 64,00
melakukan pengambilan data pada sampel yang
Maximum 115,00 98,00
telah ditentukan. Data kemudian dianalisis
menggunakan program SPSS for windows versi
Penelitian ini menghasilkan hasil
22.00.
analisis deskriptif skor maksimun, skor
Data, Instrumen dan Metode Pengumpulan
minimum, mean ideal, dan standar deviasi yang
Data
diperoleh berdasarkan hasil analisis matematik.
Pengumpulan data dilakukan dengan
Dari skala interaksi teman sebaya yang terdiri
menggunakan skala psikologi yaitu skala
dari 32 item yang disebarkan pada 112 siswa
interaksi teman sebaya dan skala perilaku
diperoleh skor tertinggi 115 dan skor terendah
konsumtif yang disusun oleh peneliti
98. Hasil analisis menunjukkan nilai rerata
berdasarkan teori yang digunakan. Skala
(mean) sebesar 101,5 dan standar deviasi sebesar
interaksi teman sebaya dan skala perilaku
6,9 untuk variabel interaksi teman sebaya.
konsumtif telah diuji oleh expert judgement.
Sedangkan untuk skala perilaku konsumtif yang
Teknik Analisis Data
terdiri dari 32 item yang disebarkan pada 112
Penelitian ini menggunakan analisis
siswa diperoleh skor tertinggi 98 dan skor
data dengan teknik regresi sedrhana. Analisis ini
terndah 64 untuk variabel perilaku konsumtif.
digunakan untuk menentukan hubungan interaksi
Hasil analisis menunjukkan nilai rerata (mean)
teman sebaya dan perilaku konsumtif pada siswa
81,7 sebesar dan standar deviasi sebesar 10,1
kelas IX SMA N 6 di Kota Yogyakarta.
untuk variabel perilaku konsumtif.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 2.. Distribusi Kecenderungan
a. Interaksi Teman Sebaya
Variabel Interaksi Teman Sebaya
Subjek dalam penelitian ini yakni 104
No Kriteria Frekuensi Kategori
siswa kelas XI SMA Negeri 6 Yogyakarta.
1 87 - 96 - Rendah
Peneliti menggunakan penelitian sampel, dimana
2 97 – 106 25 Sedang
subjek penelitiannya diambil sebagian dari 3 107 - 116 79 Tinggi
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Berdasarkan Tabel di atas terdapat 79
Tabel 1. Hasil Analisis Deskripsi Matematik siswa (76%) yang memiliki interaksi teman
Statistics sebaya pada kategori tinggi dan 25 siswa (24%)
Deskripsi Interaksi Teman Perilaku
yang memiliki interaksi teman sebaya sedang
Matematik Sebaya Konsumtif
N Valid 104 104 dan nol pada kategori rendah. Dengan demikian
Missing 0 0 dapatdisimpulkan bahwa siswa kelas X di SMA
Mean 101,5288 81,7115
Negeri 6 Yogyakarta memiliki kecenderungan
Median 101,0000 83,0000
Std. Deviation 6,97423 10,19963
46 E-jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-5 2016

tingkat interaksi teman sebaya pada kategori Tabel 4. Hasil analisi uji normalitas Skala
tinggi. Interaksi Teman Sebaya dan Skala Perilaku
Tabel 3. Distribusi Kecenderungan
Variabel Perilaku Konsumtif
Correlations ITS PK
IPearson Correlation 1 ,494**
No Kategori Frekuensi Kategori
TSig. (2-tailed) ,000
1 64 – 75 - Rendah SN 104 104
2 76 – 87 92 Sedang Pearson Correlation ,494** 1
3 88 – 99 12 Tinggi P
Sig. (2-tailed) ,000
K
Berdasarkan Tabel terdapat 12 siswa N 104 104
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-
yang memiliki perilaku konsumtif pada kategori tailed).
tinggi dan 92 siswa memiliki perilaku konsumtif
Konsumtif
pada kategori sedang dan nol siswa pada
Dari perhitungan yang dilakukan,
kategori rendah. Dengan demikian dapat
diperoleh hasil bahwa nilai signifikan antara
disimpulkan bahwa siswa kelas XI di SMA
variabel interaksi teman sebaya dengan perilaku
Negeri 6 Yogyakarta memiliki kecenderungan
konsumtif (p) yaitu 0,000, sehingga terlihar p
tingkat perilaku konsumtif pada kategori sedang.
lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut berarti ada
Diperoleh dari uji normalitas yakni 0,2
hubungan yang signifikan antara ineraksi teman
pada variabel interaksi teman sebaya, artinya
sebaya dengan perilaku konsumtif. Koefisien
lebih besar dari 0,05 (p>0,05) dan 0,69 pada
korelasi yang menunjukkan angka 0,494 (angka
variabel perilaku konsumtif, artinya lebih besar
positif) memberi arti bahwa terdapat hubungan
dari 0,05 (p>0,05). Dengan demikian dapat
uang positif pada hipotesis alternatif yang
disimpulkan bahwa data yang ada memenuhi
diajukan. Dengan demikian hipotesis alternatif
asumsi normalitas.
yang berbunyi “ ada hubungan positif dan
Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui
signifikan antara interaksi teman sebaya dengan
bahwa vaiabel terikat (perilaku konsumtif)
perilaku konsumtif pada siswa kelas XI SMAN 6
mempunyai nilai signifikasi yang lebih besar
Yogyakarta” diterima dan Ho ditolak. Dengan
daripada 0.05 yakni 0.087 (p≥0.05) artinya
adanya hubungan ini maka semakin tinggi
bahwa semua variabel penelitian ini adalah
interaksi teman sebaya maka semakin tinggi pula
linear. Selanjutnya apabia dilihat dari nilai Fhitung
tingkat perilaku konsumtif siswa.
yang diperoleh yakni lebih kecil daripada 3.06
Disamping itu, diperoleh hasil temuan
(1.525 ≤ 3.06) artinya variabel terikat (perilaku
tambahan berupa sumbangan efektif dari
konsumtif) dan variabel bebas (interaksi teman
variabel interaksi teman sebaya pada variabel
sebaya) bersifat linear.
perilaku konsumtif. Besar sumbangan dapat
diketahui dari koefisien determinasi (r2) dan hasil
perhitungan tersebut dapat dilihat pada tabel
berikut.
Hubungan Interaksi Teman ...(Andin) 47

Tabel 5. Hasil temuan tambahan suatu pertukaran antarpribadi yang masing-


masing orang menunjukkan perilakunya satu
Measures of Association
sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-
R R Squared Eta Eta Squared masing orang menunjukkan perilakunya satu
PK * ITS
,494 ,244 ,690 ,477 sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-
2
Koefisien determinasi (r ) dari interaksi masing perilaku mempengaruhi satu sama lain.
teman sebaya pada perilak konsumtif yang
Pada variabel kedua, yaitu perilaku
diperoleh yaitu sebesar 0,244 atau 24,4% yang
konsumtif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
artinya interaksi teman sebaya memberikan
tingkat perilaku konsumtif siswa kelas XI
kontribusi terhadap perilaku konsumtif sebesar
SMAN 6 Yogyakarta cenderung pada kategori
24,4% dan 75,6% dipengaruhi oleh faktor lain
tinggi 12 siswa (11,5%), kemudian kategori
yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
sedang 92 siswa (88,5%), dan pada kategori
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rendah tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat interaksi teman sebaya pada siswa kelas siswa kelas XI SMAN 6 Yogyakarta memiliki
XI SMAN 6 Yogyakarta pada kategori tinggi kecenderungan perilaku konsumtif sedang.
sejumlah siswa 79 (76%) siswa, kemudian Artinya, bahwa 88,5% siswa kelas XI SMAN 6
kategori sedang 25 (24%) siswa, dan pada Yogyakarta kadang-kadang memiliki
kategori rendah tidak ada. Hal ini menunjukkan ketertarikan untuk membeli produk karena
bahwa siswa di SMA Negeri 6 Yogyakarta iming-iming hadiah, kadangkala membeli
memiliki kecenderungan interaksi teman sebaya produk karena kemasannya menarik, kadangkala
yang tinggi. Tingkat interaksi dalam kategori membeli produk demi menjaga penampilan diri
tinggi tersebut menunjukkan bahwa 76% siswa dan gengsi, kadangkala siswa membeli produk
kelas XI SMAN 6 Yogyakarta cukup memiliki hanya sekedar menjaga simbol status,
unsur kontak dan komunikasi yang baik, yaitu: kadangkala membeli produk karena unsur
adanya kerjasama yang baik dalam kelompok, konformitas terhadap model yang mengiklannya,
frekuensi pertemuan yang baik dan keterbukaan kadangkala muncul penilaian bahwa membeli
sesama anggota kelompok yang baik. Hasil produk dengan harga mahal akan menimbulkan
penelitian sejalan dengan pendapat Monks rasa percaya diri, kadangkala mencoba lebih dari
(2006: 187) yang mengemukakan bahwa dua produk sejenis.
interaksi dengan teman sebaya merupakan
Hasil penelitian ini sesuai dengan
permulaan hubungan sahabat. Hubungan ini
pendapat Mulyadi Nitisusastro (2012:49) bahwa
memiliki sifat-sifat yaitu saling pengertian,
perilaku konsumtif yang dilakukan oleh remaja
saling membantu, saling percaya, saling
sebenarnya tidak lepas dari pengaruh lingkungan
menghargai dan menerima. Shaw (Ali & Asrori,
sosial remaja dalam berinteraksi dengan
2004:87) yang menyatakan interaksi adalah
kelompoknya. Seseorang membutuhkan
48 E-jurnal Bimbingan dan Konseling Edisi 2 Tahun ke-5 2016

pengakuan dari orang lain terhadap faktor Saran


psikologis internal yang melekat pada dirinya,
1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling di
seperti kebutuhan untuk dihormati, kebutuhan
SMA N 6 Yogyakarta
untuk disegani, kebutuhan untuk dipatuhi.
Guru Bimbingan dan Konseling dapat
Kebutuhan tersebut meluas untuk memiliki
membantu siswa untuk memahami dirinya,
posisi tertentu di masyarakat. Apabila temen-
memandirikan siswa dan meningkatkan
teman dalam kelompok remaja cenderung
kesadaran siswa bahwa dengan berperilaku
memiliki perilaku konsumtif, maka karena
konsumtif yang berlebihan banyak dampak yang
adanya interaksi,remaja tersebut juga cenderung
akan ditimbulkan. Selain itu yang paling penting
mengikuti perilaku konsumtif dari kelompoknya.
adalah Guru Bimbingan dan Konseling
SIMPULAN DAN SARAN memberikan layanan bimbingan dan konseling
Simpulan kelompok dalam bidang pribadi dan sosial
khusunya tentang bagaimana membuat skala
1. Berdasarkan hasil kategorisasi interval
prioritas dan cara memilih teman dapat
interaksi teman sebaya yang telah dilakukan,
berpengaruh baik bagi perkembangan diri siswa.
diperoleh hasil bahwa siswa kelas XI SMAN 6
2. Bagi Siswa Kelas IX di SMA N 6
Yogyakarta memiliki tingkat interaksi teman
Yogyakarta
sebaya yang tinggi.
2. Berdasarkan hasil kategorisasi interval Siswa dalam berinteraksi dengan teman
perilaku konsumtif yang telah dilakukan, sebayanya sebaiknya tetap menerapkan sikap
menunjukkan bahwa siswa kelas XI SMAN 6 asertif agar mampu menolak ajakan teman dalam
Yogyakata memiliki tingkat perilaku konsumtif berperilaku konsumtif. Siswa diharapkan dapat
dalam kategori sedang. membuat skala prioritas agar mendahulukan
3. Terdapat hubungan yang positif dan kebutuhan yang lebih penting. Siswa lebih baik
signifikan antara interaksi teman sebaya dengan mengisi waktu luang tidak dengan jalan-jalan ke
perilaku konsumtif pasa siswa kelas XI SMAN 6 mal tapi dengan melakukan kegiatan yang positif
Yogyakarta.. seperti membaca, serta tidak mudah terpengaruh
4. Sumbangan efektif variabel konformitas oleh ajakan teman yang bersifat negatif, karena
terhadap variabel perilaku konsumtif sebesar sesuatu yang berlebihan itu biasanya hasilnya
24,4%. Artinya, masih ada 75,6% faktor lain tidak baik.
yang mempengaruhi siswa kelas XI SMAN 6
3. Bagi Orang tua
Yogyakarta dalam berperilaku konsumtif.
Orang tua diharapkan dapat memantau
interaksi anak dengan teman sebayanya apakah
berdampak baik atau kurang baik, sehingga bisa
mengontrol sikap siswa. Orang tua sebagai orang
Hubungan Interaksi Teman ...(Andin) 49

terdekat siswa hendaknya dapat menjadi model Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi Universitas Gajah Mada
yang baik bagi anak, salah satunya dengan tidak
berperilaku konsumtif yang berlebihan, Ahmad Hikamuddin. (2013). Masyarakat
Konsumtif. Diakses dari
memberikan pengarahan Http://.www.kompasiana.com. Pada
tanggal 8 April 2015, pukul 09.00 WIB
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Martono, Lidia Harlina & Satya, Joewana
(2008). Peran Orang Tua Mencegah dan
Peneliti selanjutnya lebih memperbanyak Menanggulangi Penyalahgunaan
dan memperluas jabaran variabel tentang Narkoba. Jakarta: Balai Pustaka
perilaku konsumtif. Peneliti selanjutnya juga Monks, F.j. (2006). Psikologi Perkembangan.
perlu meneliti hubungan antara perilaku Yogyakarta: Gajah Mada

konsumtif remaja dengan layanan bimbingan dan Mulyadi, Nitisusastro. (2012). Perilaku
Konsumen dalam perspektif
konseling di sekolah, serta lebih memperluas kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.
kajian penelitiannya pada sekolah-sekolah
Papalia, D E., dkk. (2002). Human development
lainnya seperti SMK dan MA baik negeri (8th ed.). Boston: McGraw-Hill
maupun swasta. Santrock, J.W. (2003). Perkembangan Remaja.
(Terjemahan Sukmana E.) Jakarta:
Daftar Pustaka Erlangga

Ahmad Asrori. (2009). Hubungan Kecerdasan Sumatono, H.Barsil Djabar. (2002).


Emosi dan Interaksi Teman Sebaya Terperangkap dalam iklan:
dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa. meneropong imbas pesan iklan televisi.
Laporan Penelitian. Surakarta: Fakultas Bandung: Alfabeta
Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Soedjatmiko Haryanto. (2008). Saya Berbelanja
Vol 01( 01),35-42
Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan
Hemphill, C, S.,& Suk, J. (2009). The Law, Desain Menjadi Gaya Hidup
Culture And Economics of Fashion. Konsumerisme. Yogyakarta: Jalasutra.
Stanford Law Review
Ujang Sumarwan. (2011). Perilaku Konsumen
Hidayati, N.K. (2001). Hubungan anatar Harga Teori dan Penerapannya dalam
diri dan Kolektivitas dengan Pemasaran. Bogor: Ghalia Indah
Kecenderungan Perilaku Konsumtif
.