Anda di halaman 1dari 5

RESPONSIF PETANI TERHADAP PEMANFAATAN LAHAN

PEKARANGAN DENGAN MENANAM BUAH NAGA DI


KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
(Study kasus di Desa Bumi Mulyo dan Desa Mengandung Sari, Kecamatan Sekampung Udik)

Skripsi

Oleh :
Khumaydi
150610140038

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan
yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional dari waktu
ke waktu. Namun pertumbuhan penduduk yang bertambah dengan pesat membuat lahan
pertanian produktif terdegradasi dan beralih fungsi. Sehingga hal ini menimbulkan masalah
ketahanan pangan yang saat ini menjadi ancaman. Ketahanan pangan (food security) telah
menjadi isu global selama dua dekade ini termasuk di Indonesia. Berdasarkan Undang – undang
No 18 tahun 2012 tentang Pangan disebutkan bahwa:
“Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan
perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun
mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan
dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan
produktif secara berkelanjutan”.

Berdasarkan definisi tersebut, terpenuhinya pangan merupakan tujuan sekaligus sebagai sasaran
dari ketahanan pangan di Indonesia. Permasalahan utama dari ketahanan pangan adalah
terjadinya kerawanan pangan diberbagai daerah. Kerawanan pangan dapat terjadi secara
berulang dan pada waktu tertentu (kronis) dan dapat pula terjadi akibat keadaan darurat seperti
bencana alam maupun bencanan sosial (transient) (Dewan Ketahan Pangan, 2006 dalam Ashari
dkk, 2012). Masalah ketahanan pangan nasional merupakan masalah yang harus ditangani secara
bersama. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, namun harus didukung dengan keikutsertaan
masyarakat secara aktif.
Pertanian masih menjadi primadona sebagai pekerjaan masyarakat Indonesia. Khususnya
provinsi Lampung sebagai daerah yang terus berkembang untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya. Secara sektoral, struktur pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2016
masih ditopang oleh 3 sektor utama yaitu sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, sektor
Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan. Struktur perekonomian Provinsi Lampung pada
triwulan I 2017 masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor Pertanian, Kehutanan dan
Perikanan (32,28%), sektor Industri Pengolahan (18,11%) dan sektor Perdagangan Besar-Eceran
dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor (11,08%) (Bank Indonesia Prov. Lampung, 2017). Lampung
terus berkembang dari tahun ke tahun khususnya di bidang pertanian karena lahan pertanian
yang masih cukup luas yaitu 747.062 Ha tegal/kebun dan 400.566 Ha lahan sawah (BPS, 2017).
Sehingga dengan luasan lahan pertanian yang luas tersebut mampu menyerap banyak tenaga
kerja. Sektor pertanian menjadi unggulan provinsi Lampung karena masih cukup banyak lahan
yang bisa di usaha kan oleh masyarakat.
Salah satu kabupaten yang menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu sector
unggulan adalah kabupaten Lampung Timur. Kabupaten ini merupakan wilayah paling luas
dengan menempati 15,38% dari luas wilayah provinsi Lampung atau 5.325,03 km 2. Dengan
mencakup lahan pertanian seluas 63.508 Ha lahan sawah dan 104.549 Ha tegal/kebun (BPS,
2017). Dengan luas lahan pertanian tersebut kabupaten lampung timur menempati tempat
kedua setelah lampung tengah. Namun, luasnya lahan pertanian tersebut juga mulai terancam
ketersediaannya karena populasi masyarakat kabupaten Lampung timur yang terus meningkat
dari tahun ketahun. Menurut data BPS (2017), populasi masyarakat Lampung timur tahun 2015
sebanyak 1.008.797 orang menjadi 1.010.424 orang di 2016 sehingga laju pertumbuhan tahun
2015-2016 sebesar 0.95%.
Dengan pertumbuhan populasi yang terus meningkat di Kabupaten Lampung Timur maka
akan menimbulkan alih fungsi lahan dan mengancap ketahan pangan. Oleh karenanya
pemantapan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui pemantapan ketahanan pangan di
tingkat rumah tangga. Maka perlu adanya pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di sekitar
dengan maksimal di tingkat rumah tangga seperti pemanfaatan lahan pekarangan. Hartono et al
(1985) dalam Rahayu dan Prawiroatmojo (2005), mendefinisikan pekarangan sebagai sebidang
tanah yang mempunyai batas-batas tertentu, yang di diatasnya terdapat bagunan tempat tinggal
dan mempunyai hubungan fungsional baik ekonomi, biofisik maupun sosial budaya dengan
penghuninya. Pekarangan bukan hanya untuk menciptakan keindahan dan kesejukan saja, tetapi
lebih daripada itu. Salah satu pemanfaatan pekarangan adalah guna meningkatkan
perekonomian keluarga masing-masing. Jenis-jenis tanaman yang bisa ditanam di pekarangan
rumah masing-masing adalah jenis sayur-sayuran, buah-buahan, obat-obatan, tanaman hias, dan
lain sebagainya yang kesemuanya itu mampu menunjang kebutuhan sehari-hari dan selebihnya
bisa dijual. Salah satu tanaman yang bisa di tanam di pekarangan adalah buah naga. Buah yang
tergolong ke dalam keluarga kaktus ini bisa digunakan sebagai tanaman yang di tanam di
pekarangan. Buah ini merupakan tanaman merambat dengan bunga di ujung batangnya yang
selanjutnya berkembang menjadi buah. Selain menyajikan keindahan, buah naga juga memiliki
nilai jual yang cukup tinggi di pasar. Selain itu, permintaan pasar terhadap buah naga yang belum
mampu terpenuhi. Sehingga buah naga sangat cocok ditanam di pekarangan untuk
mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan. Selain untuk memanfaatkan pekarangan
namun juga sebagai suatu usaha untuk kebutuhan perekonomian rumah tangga. Desa Bumi
Mulyo dan Mengandung Sari di Kecamatan Sekampung Udik serta Desa Gedung Wani Kecamatan
Marga Tiga telah memanfaatkan pekarangannya dengan menanam buah naga. Dalam kurun
waktu tiga tahun terakhir sudah sangat banyak warga di dua desa tersebut yang menanam buah
naga baik dalam jumlah yang besar atau dalam jumlah yang sedikit.
Berdasarkan kepada uraian di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut: 1) Mengetahui faktor sosial ekonomi yang menyebabkan meningkatnya respon
petani untuk menanam buah naga di pekarangan, 2) Menganalisis tingkat keuntungan usahatani
buah naga di desa Bumi Mulyo, Mengandung Sari, dan Gedung Wani, dan 3) Menganalisis secara
ekonomi mengenai tingkat kelayakan usahatani buah naga di desa Bumi Mulyo dan Mengandung
Sari sehingga memperoleh respon dari petani.
Daftar pustaka
Badan Pusat Statistik. 2017. Provinsi Lampung Dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik Provinsi
Lampung. Lampung
Ashari, Saptono, dan Tri Bastuti Purwantini. 2012. Potensi dan Prospek Pemanfaatan Lahan
Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 30(1): 13-30.
Rahayu, M. dan S. Prawiroatmojo. 2005. Keanekaragaman Tanaman Pekarangan dan
Pemanfaatannya di Desa Lampeapi, Pulau Wawoni Sulawesi Tenggara. J. Tek. Ling. P3TL-BPPT,
6(2): 360-364
Undang – undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan.