Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

MODUL : Pengolahan Anaerobik


PEMBIMBING : Dianty Rosirda Dewi Kurnia, ST., MT.

Praktikum : 22 September 2017


Penyerahan Laporan : 29 September 2017

Oleh :
Kelompok : VIII (delapan)
Nama : 1. Tantri Prasetyani NIM.151411061
2. Wulandari NIM.151411063
3. Yaumi Istiqlaliyah NIM.151411064

Kelas : 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemandangan lingkungan yang kotor, sampah berserakan maupun sungai-sungai yang


tercemar telah menjadi pemandangan yang tidak asing saat ini. Terutama di kawasan
sungai, di mana air yang mengalir berwarna coklat keruh kotor. Salah satu penyebab dari
tercemarnya lingkungan sungai, yaitu limbah cair domestik dari rumah tangga dimana air-
air sisa mencuci dan kegiatan lainnya dibuang begitu saja. Penyumbang limbah cair lainnya
berasal dari industri pangan.
Teknologi pengolahan limbah cair dapat dilakukan secara biologis. Pengolahan limbah
secara biologis dapat dilakukan dengan cara aerob, anaerob, dan kombinasi aerob-anaerob.
Limbah tersebut dapat mengandung senyawa organik berupa protein, karbohidrat dan
lemak dapat diuraikan secara anaerob oleh mikroorganisme. Proses tersebut menghasilkan
hasil samping berupa gas metana dan sejumlah kecil nitrogen, hidrogen, dan hidrogen
sulfida.
Melalui cara tersebut mikroorganisme dapat mengurangi kadar organik limbah yang
cukup tinggi pada kondisi limbah sebelumnya.
Pada umumnya, bahan organik yang terkandung di limbah industri makanan – tahu
cukup tinggi, biasanya diukur dengan parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan
Biological Oxygen Demand (BOD) yang merupakan parameter pengukuran pencemaran
air oleh bahan-bahan organik.
Teknologi pengolahan limbah secara anaerob lebih memiliki biaya operasional yang
lebih murah dengan efisiensi pengolahan 70% - 80%. (Sato dkk. 2015 : 2)

1.2 Tujuan
1.2.1 Menentukan konsentrasi awal kandungan organik (COD) dalam umpan dan
konsentrasi kandungan organnik (COD) dalam efluen sebelum dan sesudah
pemberian nutrisi.
1.2.2 Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang
mewakili kandungan mikroorganisme dalam reactor.
1.2.3 Menentukan besarnya TSS (Total Suspended Solids) dan VSS (Volatile Suspended
Solids) dan FSS (Fixed Suspended Solids).
1.2.4 Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan
bahan organik yang didekomposisi oleh mikroorganisme dalam reaktor terhadap
kandungan bahan organik mula-mula.
1.2.5 Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama seminggu
untuk mengetahui efisiensi pembentukan gas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anaerob
Proses pengolahan limbah cair secara biologi dapat dilakukan dengan dua metoda, yaitu
aerobik dan anaerobik. Pada pengolahan limbah cair secara aerobik, mikroorganisme
memerlukan oksigen untuk mendekomposisi bahan-bahan organik dalam air tersebut. Dengan
oksigen yang disuplai oleh aerasi dan batuan enzim dalam mikroorganisme maka pada waktu
yang sama akan terjadi dekomposisi bahan-bahan organik dan pertumbuhan mikrooganisme
baru karena adanya pertambahan energi pada saat proses dekomposisi bahan-bahan organik
berlangsung (Budiastuti, TT).
Pada pengolahan limbah cair secara anaerobik oksigen tidak diperlukan. Keberadaan
oksigen akan membuat pertumbuhan mikroorganisme pendekomposisi menjadi terganggu atau
bahkan mengalami kematian. Maka dari itu diperlukan penjagaan, penanganan khusus, dan
biaya yang tidak murah dalam prosesnya (Budiastuti, TT).
Menurut Indriyanti (2015), tahapan- tahapan yang terjadi dalam proses degradasi
anaerobik antara lain.

a. Proses Hidrolisis
Proses hidrolisis adalah proses di mana aktivitas kelompok bakteri Saprofilik
menguraikan bahan organik kompleks. Aktivitas terjadi karena bahan organik tidak
larut seperti polisakarida, lemak, protein dan karbohidrat akan dikonsumsi bakteri
Saprofilik, di mana enzim ekstraseluler akan mengubahnya menjadi bahan organik
yang larut dalam air.
b. Proses Asidogenesis
Pada proses ini, bahan organik terlarut akan diubah menjadi asam organik rantai
pendek, seperti asam butirat, asam propionate, asam amino, asam asetat, dan asam-
asam lainnya oleh bakteri Asidogenik.
Salah satu bakteri yang hidup dalam kelompok Asidogenik adalah bakteri
pembentukan asam asetat, yaitu bakteri Asitogenik, bakteri ini yang berperan dalam
tahap perombakan asam propionate, asam amino, asam butirat, maupun asam rantai
panjang lainnya menjadi asam organik yang mudah menguap/volatil seperti asam
asetat.
c. Proses Metanogenesis
Proses metanogenesis adalah proses dimana bakteri Metanogenik akan
mengkonversi asam organik volatil menjadi gas metan (CH4) dan karbondioksida
(CO2).

Sementara faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas reaktor pada proses anaerobik


antara lain sebagai berikut.

1. Waktu Tinggal Hidrolik


Waktu tinggal dengan satuan hari, dipengaruhi dengan volume reaktor dan
berbanding terbalik dengan debit substrat. Waktu tinggal pada reaktor anaerobik
berkisar antara 10 sampai 20 hari.

2. Laju Pembebanan Organik


Laju pembebanan organik, yaitu besaran yang menyatakan jumlah material
organik dalam air buangan yang diuraikan oleh mikroorganisme dalam reaktor per unit
volume per hari

3. pH
Pada proses anaerob , proses masih dapat berjalan pada rentang pH 6,0-8,0
tetapi bakteri metan sangat sensitif sehingga harus dikondisikan pada rentang 6,5 – 7,5.
Pada pH rendah dan asam yang berlebih akan menjadi penghambat untuk baketri
metanogenik. Untuk mengotrol pH pada proses ini dapat menggunakan Sodium
Bikarbonat.

4. Alkalinitas
Alkalinitas berpengaruh untuk mempertahankan pH agar tetap dalam rentang
yang optimum sehingga masih dapat digunakan untuk pertumbuhan bakteri metan
sehingga dapat menghasilkan biogas dengan perbandingan 55-75% gas metan dan 25-
45% gas karbondioksida. Untuk mencapai perbandingan gas di atas, dengan kondisi pH
6,5 dibutuhkan nilai alkalinitas pada rentang 500 – 900 mg/l CaCO3 .
5. Temperatur
Berdasarkan pada pengoperasian rector anaerobik, bakteri yang hidup dalam
reaktor dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a. Termofilik yang hidup pada suhu antara 40-60 ºC
b. Mesofilik yang hidup pada suhu antara 25-40 ºC

Temperatur optimum untuk pertumbuhan bakteri mesofilik adalah ada 35 ºC.

6. Nutrisi
Kebutuhan nutrisi bakteri anaerobik khususnya N dan P yang dibutuhkan untuk
memproduksi enzim untuk mencerna karbon. Rasio perbandingan C:N:P berkisar
400:7:1 dan 1000:7:1 tergantung pada tinggi rendahnya beban yang akan diolah.

7. Senyawa Racun atau Penghambat


Pada proses anaerob, senyawa penghambat dapat dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu penghambat fisik dan penghambat kimia. Penghambat fisik adalah temperature,
sedangkan penghambat kimia adalah logam berat, antibiotic dan volatile fatty acid
(asam lemak volatil). Pada proses anaerob konsentrasi asam volatile dalam rentang 200-
400 mg/l sebagai asam asetat menunjukkan kondisi reaktor yang baik.

(Indriyanti.2005)

2.2 COD
Analisa Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan suatu jenis analisa yang
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi zat-zat organik, yang ada dalam sampel air, menjadi CO2 dan H2O (Sato, dkk.
2015)
Nilai COD dapat dihitung menggunakan persamaan berikut ini :
𝑚𝑔𝑂2 (𝑎 − 𝑏). 𝑐 𝑥 1000 𝑥 𝑑 𝑥 𝑝
𝐶𝑂𝐷 ( )=
𝑙 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
Di mana : a = ml FAS untuk blanko
b = ml FAS untuk sampel
c = normalitas FAS
d = berat equivalen oksigen (8)
p = pengenceran
Besarnya nilai COD dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya ialah waktu
tinggal dan volume limbah.

 Pengaruh Waktu Tinggal Terhadap Penurunan COD


Menurut Wulandari dan Marlitasari (TT), semakin lama waktu tinggal limbah di
dalam digester anaerob maka kontak antara limbah dan lumpur aktif akan semakin lama
pula. Waktu yang lama ini memberikan kesempatan kepada mikroorganisme untuk
mendegradasi bahan organik sehingga bahan organik yang terurai semakin banyak
(penurunan COD menjadi semakin besar).
 Pengaruh Volume Limbah Terhadap Penurunan COD
Limbah dengan volume yang semakin besar berarti memiliki kandungan bahan
organik (yang akan diuraikan) yang semakin besar pula. Terlalu banyaknya jumlah bahan
oragnik akan membuat proses penguraian yang akan dilakukan oleh zat organik menjadi
tidak efektif sehingga penurunan COD nya pun akan semakin kecil (Wulandari dan
Marlitasari, TT).

2.3 TSS (Total Suspended Solid)

Menurut Handayani (2012) , Total Suspended Solid (TSS) merupakan bagian dari Total
Solid (TS) yang tertahan pada filter/kertas saring dengan ukuran pori tertentu, yang diukur
setelah dikeringkan. Besarnya TSS dapat dihitung menggunakan rumus :
𝑚𝑔 (𝑐 − 𝑎) 𝑥 106
𝑇𝑆𝑆 ( ) =
𝑙 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
2.4 VSS (Volatil Suspended Solid)
Menurut Handayani (2012) , Volatil Suspended Solid (VSS) merupakan padatan yang
dapat diuapkan dan terbakar saat TSS dipanaskan. Dalam hal ini VSS = MLVSS. Besarnya
VSS dapat dihitung menggunakan rumus :
𝑚𝑔 (𝑐 − 𝑑) 𝑥 106
𝑉𝑆𝑆 ( ) =
𝑙 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

2.5 FSS (Fixed Suspended Solid)


Menurut Handayani (2012), Fixed Suspended Solid (FSS) merupakan residu yang
tertinggal setelah TSS dipanaskan. Besarnya FSS dapat dihitung menggunakan rumus :
𝑚𝑔
𝐹𝑆𝑆 ( ) = 𝑇𝑆𝑆 − 𝑉𝑆𝑆
𝑙
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat yang digunakan
Tabel 1 Daftar Alat yang digunakan
No. Alat Jumlah
1. Labu Erlenmeyer 250 mL 2
2. Corong Gelas 2
3. Cawan Porselin 2
4. Desikator 1
5. Neraca Analitis 1
6. Hach COD Digester 1
7. Tabung Hach 2
8. Buret 1
9. Oven 1
10. Furnace 1

3.1.2 Bahan yang digunakan


Tabel 2 Daftar Bahan yang digunakan
No Bahan Jumlah
1. Glukosa 2.00 g/L
2. NH4HCO3 0.15 g/L
3. KH2PO4 0.15 g/L
4. NaHCO3 0.50 g/L
5. K2HPO4 0.50 g/L
6. Trace Metal Solution A 1.00 mL
7. MgSO4.7H2O 5.00 g/L
8. Trace Metal Solution B 1.00 mL
9. FeCl3 5.00 g/L
10. CaCl2 5.00 g/L
11. KCl 5.00 g/L
12. CoCl2 1.00 g/L
13. NiCl2 1.00 g/L
14. FAS
15. Indikator ferroin
16. Kertas saring 1 lembar

3.2 Skema Kerja


3.2.1 Tahapan Percobaan

Dilakukan pengambilan sampel 1 sebelum penambahan nutrisi.

Dilakukan penentuan konsentrasi organik (COD) dari umpan / sampel 1.

Di dalam tangki ditambahkan nutrisi sebanyak 100 ml.

Setengah jam kemudian dilakukan pengambilan sampel kedua yang telah diberi nutrisi.

Dilakukan pengecekan MLVSS.


3.2.2 Penentuan Kandungan Organik (Chemical Oxygen Demand (COD)) dari Sampel

Sampel sebanyak 2,5 ml dimasukan ke dalam tabung Hach, kemudian ditambahkan 3,5
ml Kalium Birkromat dan 1,5 ml asam sulfat

Tabung Hach dimasukan ke dalam Hach COD Digester dan dipanaskan pada suhu 150
ºC selama 2 jam.

Tabung Hach dikeluarkan dari digester dan dibiarkan dingin pada udara terbuka. Setelah
tabung menjadi dingin dilakukan titrasi dengan larutan Ferro Amonium (FAS) 0,1 N
menggunakan indikator ferroin sebanyak 2-3 tetes (titrasi dihentikan ketika terjadi
perubahan warna dari hijau menjadi coklat).

Dilakukan pula titrasi terhadap aquades sebagai blanko


3.2.3 Penentuan Kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)

Cawan pijar dipanasakan selama 1 jam dalam Furnace pada suhu 600ºC dan kertas
saring dipanaskan selama 1 jam dalam Oven pada suhu 105 ºC

Cawan pijar ditimbang hingga diperoleh berat konstan (a gram) maupun kertas saring (b
gram). Desikator digunakan untuk menurunkan suhu cawan pijar maupun kertas saring
ketika akan ditimbang.

Air limbah sebanyak 40 ml disaring menggunakan kertas saring yang sudah diketahui
beratnya.

Kertas yang berisi endapan dimasukkan ke dalam cawan pijar dan dipanaskan dalam
Oven pada suhu 105ºC selama 1 jam.

Cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan ditimbang hingga didapat berat
konstan (c gram)

Cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan dimasukan ke dalam Furnace pada
suhu 600ºC selama 2 jam.

Cawan dan kertas saring berisi endapan ditimbang hingga diperoleh berat konstan (d
gram)
3.3 Keselamatan Kerja

 Pastikan kabel listrik tidak bersinggungan dengan percikan/tumpahan air


 Hati- hati dalam memasukkan maupun mengeluarkan cawan pijar (baik kosong
maupun berisi sampel) dari Furnace. Begitu juga hati-hati dalam memasukkan
maupun mengeluarkan kertas saring dari Oven.
 Gunakan sarung tangan pada saat menuangkan zat-zat pereaksi dalam pemeriksaan
COD.

3.4 Data Pengamatan


Tabel 3. Data Pengamatan dari Hasil Titrasi
Data Titrasi Sample untuk Uji COD
Rata-Rata
No. Komponen Volume FAS yang dibutuhkan (mL)
1 Blanko 1 2.20 2.35
2 Blanko 2 2.50
3 Sampel 1 2.40 2.20
4 Sampel 1 2.00
5 Sampel 2 2.30 2.30
6 Sampel 2 2.30
7 Sampel 3 2.00 2.21
8 Sampel 3 2.45
9 Sampel 4 2.20 2.25
10 Sampel 4 2.30
11 Sampel 5 2.00
1.90
12 Sampel 5 1.80
13 Sampel 6 2.40
2.35
14 Sampel 6 2.30

Catatan :
Sampel 1 : Efluen reaktor sebelum dinutrisi, setelah satu minggu
Sampel 2 : Efluen reaktor setelah dinutrisi, setelah satu minggu
Sampel 3 : Efluen reaktor sebelum dinutrisi, pada 15 September 2017
Sampel 4 : Efluen reaktor sesudah dinutrisi, pada 15 September 2017
Sampel 5 : Efluen reaktor sebelum dinutrisi, pada 22 September 2017
Sampel 6 : Efluen reaktor setelah dinutrisi pada 23 September 2017

Tabel 4. Data Pengamatan pada tanggal 15 September 2017 (Kelompok 7)


OVEN
Cawan Pijar 1 Cawan Pijar 2
34,9509 43,4630
34,9502 43,4623
34,9502 43,4622
FURNACE
Cawan Pijar 1 Cawan Pijar 2
34,0970 42,6023
34,0966 42,5980
34,0964 42,5975

Tabel 5. Data Pengamatan pada tanggal 15 September 2017 (Kelompok 7)


No. Hasil Percobaan
Data Percobaan Satuan
Cawan Pijar 1 Cawan Pijar 2

1. MLVSS mg/l 21345.0 21617.5

2. TSS mg/l 21530.0 21907.0

3. VSS mg/l 21345.0 21617.5

4. FSS mg/l 185.0 289.5

Tabel 6. Data Pengamatan Hasil COD pada tanggal 15 Sepetember 2017 (Kelompok 7)

No. COD Satuan Hasil Percobaan

1. Sampel 1 mgO2/L 3481.6

2. Sampel 2 mgO2/L 819.2

3. Sampel 3 mgO2/L 1945.6

4. Sampel 4 mgO2/L 1433.6


Tabel 7. Data hasil perhitungan efisiensi pada tanggal 15 Sepetember 2017 (Kelompok 7)
No.
Data Percobaan Satuan Hasil Percobaan

1.
Efisiensi pengolahan sampel 1 % 76,47

2.
Efisiensi pengolahan sampel 2 % 44

3.
Efisiensi pengolahan sampel 3 % 58,82

Tabel 8. Data Pengamatan pada tanggal 22 September 2017


OVEN

Cawan Pijar (a) 34.4611 gram

Kertas Saring (b) 0.8818 gram

Cawan pijar + Kertas Saring (c) 35.7978 gram

FURNACE

Cawan Pijar + Kertas saring (d) 34.4634 gram


[Tantri Prasetyani - 151411061]

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Menentukan konsentrasi kandungan organik (COD) sebelum dan setelah diberi nutrisi
COD menyatakan jumlah O2 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat organic
yang terkandung dalam reaksi fermentasi pada zona anaerob sehingga terurai menjadi CO2
dan H2O. Nilai COD ini digunakan sebagai indicator pencemaran air oleh bahan-bahan
organik yang terkandung dalam air limbah.
Proses anaerobik yang diamati dilakukan dalam reaktor satu tahap.
Berdasarakan pengamatan yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut.
No. COD Satuan Hasil Percobaan
1. Sampel 1 mgO2/L 3481.6
2. Sampel 2 mgO2/L 819.2
3. Sampel 3 mgO2/L 1945.6
4. Sampel 4 mgO2/L 1433.6
5. Sampel 5 mgO2/L 4089.6
6. Sampel 6 mgO2/L 454.4
Berdasarkan data pengamtan di atas dapat diketahui bahwa terjadi kenaikan
serta penurunan pada setiap sampel. Pengamatan nilai COD oleh kelompok 8 terhadap
sampel 5 dan sampel 6 menunjukkan penurunan COD yang tinggi sebesar 3635.2 mgO2/L.
Penurunan nilai COD pada sampel 5 ke sampel 6 setelah pemberian nutrisi pada air sampel
dikarenakan nutrisi yang diberikan digunakan oleh mikroorganisme untuk menguraikan
zat-zat organik di dalam limbah sehingga nilai COD menurun,
Pada sampel sebelumnya, yaitu sampel 3 ke sampel 4 mengalami penurunan
nilai COD sebesar 512 mgO2/L. Perbedaan penurunan COD antara sampel 3 ke sampel 4
dan sampel 5 ke sampel 6 berselang waktu satu minggu.
Besarnya penurunan COD dari minggu pertama ke minggu kedua tidak konstan.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah nutrisi yang diberikan. Pada minggu
pertama (kelompok 7), nutrisi yang ditambahkan sebanyak 53 ml sementara pada minggu
kedua (kelompok 8) nutrisi yang ditambahkan sebanyak 91.2 ml. Jumlah nutrisi ini
mempengaruhi aktivitas dari mikroorganisme sehingga dengan pemberian nutrisi yang
lebih tinggi diperoleh penurunan COD yang tinggi pula.
Namun, apabila diamati hasil nilai COD setiap minggunya diketahui bahwa
pada pengambilan sampel pada minggu pertama dan minggu kedua, nilai COD (sampel 5)
pada minggu kedua lebih tinggi dari minggu pertama (sampel 4). Hal tersebut dapat terjadi
dikarenakan terdapat waktu satu minggu dimana air limbah tidak diberi asupan nutrisi
sehingga aktivitas mikroorganisme untuk mendegradasi zat-zat organik berkurang.
Oleh karena itu, pemberian nutrisi sebaiknya dilakukan dengan jangka waktu
yang lebih singkat lagi atau kurang dari satu minggu agar aktivitas mikroorganisme untuk
mendegradasi zat-zat organik dapat berlangsung secara optimum.
Berdasarkan nilai COD yang teramati diketahui bahwa nilai COD dipengaruhi
oleh waktu tinggal reaktor serta pemberian nutrisi.

4.2 Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang mewakili
kandungan mikroorganisme dalam reaktor.

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. MLVSS pada 22 September 2017 mg/L 33360.0

MLVSS menunjukkan matrial organik yang berisi matrial organik bukan


mikroba, mikroba hidup dan mati, dan hancuran sel. Berdasarkan data pengamatan di atas
diketahui bahwa terjadi perubahan nilai MLVSS pada minggu pertama dan minggu kedua.
Nilai MLVSS pada minggu kedua lebih besar dibandingkan minggu pertama
dikarenakan terdapat perbedaan jumlah pemberian nutrisi serta waktu tinggal, sehingga
terjadi pertumbuhan mikroba pada minggu pertama ke minggu kedua.

4.3 Menentukan besarnya TSS (Total Suspended Solids) dan VSS (Volatile Suspended Solids)
dan FSS (Fixed Suspended Solids).

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. TSS mg/L 33417.5
2. VSS mg/L 33360.0
3. FSS mg/L 57.5
Data diatas diperoleh melalui proses pemanasan baik dengan oven maupun
dengan dengan furnace. Proses pemanasan tersebut bertujuan untuk menguapkan VSS yang
terdapat dalam endapan di dalam kertas saring. Pengamatan terhadap TSS, VSS, serta FSS
dilakukan melalui gravimetri atau berdasarkan berat.

TSS (Total Suspended Solid ) teramati dari keseluruhan berat kertas saring serta
endapan yang terdapat di dalamnya. Berdasrkan data yang diperoleh diketahui bahwa
besarnya TSS pada minggu kedua lebih besar dibandingkan nilai TSS pada minggu
pertama. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan waktu tinggal di dalam reaktor selama
seminggu sehingga jumlah endapan yang terbentuk lebih banyak.

VSS (Volatile Suspended Solid) menyatakan besarnya komponen yang


teruapkan, nilai ini juga mewakili besarnya MLVSS. Berdasarkan pengamatan nilai VSS
yang diperoleh pada minggu kedua lebih besar dibandingkan minggu pertama, hal ini juga
dikarenakan waktu tinggal reaktor selama satu minggu sehingga memungkinkan
pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menambah konsentrasi VSS.

FSS (Fixed Suspended Solid) menyatakan besarnya padatan, bedasarkan data


yang diperoleh teramati besarnya FSS pada minggu pertama lebih besar dibandingkan pada
minggu kedua. Hal tersebut dapat terjadi walaupun nilai TSS pada minggu kedua lebih
besar karena nilai TSS pada minggu kedua dipengaruhi oleh jumlah mikroorganisme yang
lebih banyak.

4.4 Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan bahan
organik yang didekomposisi oleh mikroorganisme dalam reaktor terhadap kandungan
bahan organik mula-mula.

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. Efisiensi Pengolahan pada 22
% 88.8
September 2017

Efisiensi pengolahan pada proses anaerobik ini dilakukan dengan mengamati


jumlah COD pada saat sebelum dan setelah pemberian nutrisi. Berdasarkan pengamatan
pada minggu kedua diperoleh efisiensi sebesar 88.8 %. Apabila dibandingkan dengan
efisiensi pengolahan pada minggu pertama, nilai tersebut lebih tinggi dikarenakan terdapat
perbedaan jumlah nutrisi yang diberikan dimana pada pemgolahan minggu kedua nutrisi
yang diberikan lebih banyak sehingga aktivitas mikroorganisme dalam mendegradasi zat
organik lebih besar.

4.5 Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama seminggu untuk
mengetahui efisiensi pembentukan gas.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, teramati bahwa selama proses


anaerobik berlangsung tidak terdapat gas yang terbentuk. Tidak terbentuknya gas pada
proses anaerobik dapat disebabkan oleh proses metagenesis yang tidak berlangsung.

Proses metagenesis yang melibatkan bakteri metanogenik mengkonversi asam


organik dalam limbah menjadi gas karbondioksida dan metan.Sementara pada Pedoman
Teknik IPAL oleh Kementerian Kesehatan RI menyampaikan bahwa bakteri metanogen
tumbuh secara lambat dalam air limbah dan waktu tumbuh berkisar 3 hari pada suhu
35ºCsampai dengan 50 hari pada suhu 10 ºC. Hal tersebut dapat menyebabkan gas tidak
terbentuk pada pengamatan minggu kedua (waktu tinggal kurang).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Wulandari (151411063)
 Menentukan konsentrasi awal kandungan organik (COD) dalam umpan dan konsentrasi
kandungan organik (COD) dalam efluen setelah percobaan berlangsung satu minggu.

No. COD Satuan Hasil

1. Sampel 5 mgO2/L 4089.6

2. Sampel 6 mgO2/L 454.4

Tabel 4.1 Data Pengamatan COD


Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa COD mengalami penurunan, hal ini
menunjukan bahwa mikroorganisme telah mendegradasi bahan-bahan organik pada
limbah tersebut. Akan tetapi hasil akhir dari percobaan ini menghasilkan kandungan
organik yang masih tinggi dimana nilainya masih lebih besar bila dibandingkan dengan
standar kualitas air bersih dimana batas COD adalah 100 mgO2/L ( Peraturan Menteri
Kesehatan RI. 416/Menkes/Per/IX/1990), sehingga dapat dikatakan dari hasil COD
setelah proses ini kandungan organiknya masih tinggi dan tidak memenuhi syarat
kualitas air bersih. Maka hasil proses pengolahan ini bila diterapkan tidak dapat
langsung dibuang ke lingkungan sehingga harus diolah kembali untuk menurunkan
nilai COD hingga batas yang diperbolehkan.

 Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang


mewakili kandungan mikroorganisme dalam reactor.

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. MLVSS mg/L 33360.0

Tabel 4.1 Data Pengamatan MLVSS


Berdasarkan table 4.2 menunjukan bahwa nilai MLVSS=VSS masih tinggi
sehingga kandungan organik yang akan didekomposisipun tinggi, sehingga
membutuhkan banyak mikroba untuk mendekomposisinya pada percobaan tersebut.
 Menentukan besarnya TSS (Total Suspended Solids) dan VSS (Volatile Suspended
Solids) dan FSS (Fixed Suspended Solids).

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. TSS mg/L 33417.5
2. VSS mg/L 33360.0
3. FSS mg/L 57.5

Tabel 4.3 Data Pengamatan TSS, VSS, dan FSS


Menurut Handayani (2012) , Total Suspended Solid (TSS) merupakan bagian
dari Total Solid (TS) yang tertahan pada filter/kertas saring dengan ukuran pori tertentu,
yang diukur setelah dikeringkan. Berdasarkan hasil percobaan nilai TSS yang
dihasilkan masih sangat tinggi, yang dimana berdasarkan literatur, nilai TSS yang
diperbolehkan adalah sebesar 50 mg/L (Pergub Bali No. 8 Tahun 2007). Bila
dibandingkan hasil percobaan dengan nilai literatur maka nilai TSS pada sampel, diatas
nilai yang diperbolehkan sehingga padatan tersuspensi yang terendapkannya cukup
tinggi.
Menurut Handayani (2012), Fixed Suspended Solid (FSS) merupakan residu
yang tertinggal setelah TSS dipanaskan. Sama halnya nilai FSS yang dihasilkan masih
cukup tinggi, hal ini disebabkan belum adanya pengolahan bahan organik pada limbah
yang menyebabkan masih tingginya kandungan padatan organik dan anorganik.

 Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan


bahan organik yang didekomposisi selama seminggu oleh mikroorganisme dalam
reaktor terhadap kandungan bahan organik mula-mula.
Untuk efisiensi kandungan COD yang diberikan 2000 mg/L yaitu 88,8 %.
Berdasarkan literature efisiensi kandungan COD yang diberikan 2000 mg/L yaitu
seharusnya 90%. Akan tetapi berdasarkan percobaan yang dilakukan menunjukan hasil
yang cukup mendekati.

 Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama seminggu untuk
mengetahui efisiensi pembentukan gas.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan efisiensi gas yang dihasilkan
dalam percobaan adalah 0%. Hal ini disebabkan salah satu rangkaian dari proses
percobaan anaerob itu sendiri tidak tercapai yang dimana proses tersebut yaitu proses
metanogenesis. Proses metanogenesis adalah proses dimana bakteri Metanogenik akan
mengkonversi asam organik volatil menjadi gas metan (CH4) dan karbondioksida
(CO2).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

[Yaumi Istiqlaliyah/151411064]

Pengolahan anaerob ialah pengolahan yang tidak memerlukan oksigen dalam


prosesnya. Pengolahan anaerob dilakukan pada limbah yang memiliki nilai COD yang tinggi.
Pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa jika pengolahan aerob dilakukan maka
akan membutuhkan oksigen dalam jumlah besar.

4.1.Menentukan konsentrasi awal kandungan organik (COD) dalam umpan dan konsentrasi
kandungan organik (COD) dalam efluen sebelum dan sesudah pemberian nutrisi
Menurut Sato, dkk (2015) nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dihitung dengan
tujuan untuk mengetahui banyaknya oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk
mengoksidasi zat-zat organik, yang ada di dalam sampel air, menjadi CO2 dan H2O.
Berikut ini dilampirkan nilai COD saat sebelum diberi nutrisi (sampel 5) dan
sesudah diberi nutrisi (sampel 6) :

Tabel 9. Data Nilai COD sebelum dan sesudah penambahan nutrisi

No. COD Satuan Hasil

1. Sampel 5 mgO2/L 4089.6

2. Sampel 6 mgO2/L 454.4

Nilai COD setelah diberi nutrisi dan proses pengolahan anaerob telah berjalan
selama 30 menit mengalami penurunan karena jumlah zat-zat organik yang akan diuraikan
pun telah berkurang. Namun berdasarkan data pada tabel 9, nilai COD setelah diberi nutrisi
masih di atas baku mutu. Baku mutu COD berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI.
416/Menker/Per/IX/1990 ialah sebesar 100 mg O2/L. Hal ini diakibatkan karena proses
pengolahan baru berjalan sebentar. Seperti yang telah tercantum di dasar teori, menurut
Wulandari dan Marlitasari (TT) waktu pengolahan yang lama akan memberikan
kesempatan kepada mikroorganisme untuk mendegradasi bahan organik sehingga bahan
organik yang terurai semakin banyak (penurunan COD menjadi semakin besar).
Tabel 10. Data Pengamatan Hasil COD pada tanggal 15 Sepetember 2017 (Kelompok 7)

No. COD Satuan Hasil Percobaan

1. Sampel 1 mgO2/L 3481.6

2. Sampel 2 mgO2/L 819.2

3. Sampel 3 mgO2/L 1945.6

4. Sampel 4 mgO2/L 1433.6

Jika dibandingkan antara data pada tabel 9 dan 10, maka dapat dilihat bahwa
penurunan COD pada tabel 10 (sampel 1- sampel 2, sampel 3 – sampel 4) lebih sedikit
dibandingkan penurunan COD pada tabel 9 (sampel 5 – sampel 6). Perbedaan nilai
penurunan COD ini dipengaruhi oleh banyaknya nutisi yang ditambahkan. Nutrisi yang
ditambahkan oleh kelompok 8 ialah sebanyak 91,2 ml sedangkan kelompok 7 hanya
menambahkan 53ml nutrisi.

4.2.Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang mewakili
kandungan mikroorganisme dalam reaktor.

Tabel 11. Data hasil perhitungan

No. Hasil Hasil Kelompok 7


Data Percobaan Satuan
Kelompok 8 Cawan 1 Cawan 2
1. MLVSS mg/L 33360.0 21345 21617,5
2. TSS mg/L 33417.5 21530 21907
3. VSS mg/L 33360.0 21345 21617,5
4. FSS mg/L 57.5 185 289,5

MLVSS menunjukkan banyaknya kandungan mikroorganisme. Perbedaan jumlah


MLVSS dari ketiga data di atas dipengaruhi oleh banyaknya nutrisi yang diberikan (seperti
yang telah dijelaskan pada bagian 4.1, kelompok 8 memberikan nutrisi yang lebih banyak)
dan waktu tinggal di dalam reaktor.
4.3.Menentukan besarnya TSS (Total Suspended Solids) dan VSS (Volatile Suspended Solids)
dan FSS (Fixed Suspended Solids)
Proses pengovenan bertujuan untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di
kertas saring hingga nantinya akan diperoleh berat padatan kering. Berat padatan kering
inilah yang kemudian digunakan dalam perhitungan nilai TSS.
Volatil Suspended Solid (VSS) merupakan padatan yang dapat diuapkan dan
terbakar saat TSS dipanaskan (Handayani, 2012). Dalam hal ini nilai VSS=MVLSS dan
besarnya mewakili jumlah mikroorganisme yang terkandung di dalamnya.
Fixed Suspended Solid (FSS) merupakan residu yang tertinggal setelah TSS
dipanaskan (Handayani, 2012).
Besarnya nilai MVLSS, TSS, VSS, dan FSS dapat dilihat pada tabel 11. Perbedaan
nilai-nilai tersebut (antara data kelompok 7 dan 8) diperngaruhi oleh banyaknya nutrisi
yang diberikan dan waktu tinggalnya (seperti yang telah dijelaskan pada bagian 4.1).

4.4.Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%) kandungan bahan
organik yang didekomposisi oleh mikroorganisme dalam reaktor terhadap kandungan
bahan organik mula-mula
Efisiensi pengolahan dapat dihitung dari data nilai COD saat sebelum dan sesudah
pemberian nutrisi. Dari hasil pengolahan yang telah dilakukan, diperoleh efisiensi
pengolahan sebesar 88,8%.
Menurut Chandra (dalam Sasse, 2007) efisiensi tangki anaerobik dalam penyisihan
nilai COD ialah sekitar 65-90%. Berdasarkan nilai pada teori tersebut, maka dapat dilihat
bahwa kinerja reaktor anaerob yang digunakan selama percobaan dalam kondisi baik
karena nilai efisiensinya berada pada rentang 65-90%.

4.5.Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama seminggu untuk
mengetahui efisiensi pembentukan gas.
Pada proses pengolahan limbah secara anaerob, Indriyanti (2015) mengatakan
bahwa ada 3 jenis tahapan yaitu hidrolisis, asedogenesis, dan metagenesis. Hasil akhir dari
proses metagenesis ini ialah gas metan (CH4) dan karbondioksida (CO2).
Perhitungan total gas yang dihasilkan tidak dapat dilakukan karena setelah 1
minggu proses pengolahan limbah secara anaerobik tidak ada gas yang terbentuk.
[Tantri Prasetyani - 151411061]

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diperoleh simpulan sebagai berikut.

1. Kandungan COD yang teramati pada tanggal 22 September 2017


 Sampel 5 sebesar 4089.6 mgO2/L
 Sampel 6 sebesar 454.4 mgO2/L
2. Kandungan MLVSS yang teramati pada tanggal 22 September 2017 sebesar 33360.0
mg/L.
3. Kandungan TSS, VSS, dan FSS yang teramati pada tanggal 22 September 2017

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. TSS mg/L 33417.5
2. VSS mg/L 33360.0
3. FSS mg/L 57.5

4. Besarnya efisiensi pengolahan berdasarkan kandiungan organik pada tanggal 22


September 2017 sebesar 88.8%
5. Tidak terdapat efisiensi terbentuknya gas pada proses anaerobik yang berlangsung pada
22 September 2017 .
BAB V

SIMPULAN

Wulandari (151411063)

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:


 Konsentrasi kandungan organik (COD)

No. COD Satuan Hasil

1. Sampel 5 mgO2/L 4089.6

2. Sampel 6 mgO2/L 454.4

 Kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. MLVSS mg/L 33360.0

 Besarnya TSS (Total Suspended Solids) dan VSS (Volatile Suspended Solids) dan
FSS (Fixed Suspended Solids).

No. Data Percobaan Satuan Hasil


1. TSS mg/L 33417.5
2. VSS mg/L 33360.0
3. FSS mg/L 57.5

 Efisiensi Pembentukan Gas


No. Data Percobaan Satuan Hasil
1. Efisiensi
Pembentukkan % -
gas
DAFTAR PUSTAKA

Budiastuti, Herawati. TT. Pengolahan Anaerobik. Bandung : Politeknik Negeri Bandung.


Chandra, Dyah. 2007. Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu. Bandung : Institut Teknologi
Bandung.
Handayani, Rahayu. 2012. Evaluasi Kinerja dan Optimasi Instalasi Pengolahan Limbah Cair
(IPLC) Gedung Perkantoran PT Pacific Paint Dalam Penurunan Amonia. Depok :
Universitas Indonesia.
Indriyanti.2005. Pengolahan Limbah Cair Organik secara Biologi Menggunakan Reaktor
Anaerobik Lekat Diam. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT.
Sato, Abas. dkk. 2015. Pengolahan Limbah Tahu Secara Anaerobik-Aerobik Kontinyu.
Surabaya : Institut Teknologi Adhi Tama.
Wulandari, Desi dan Riska Hesti Marlitasari. TT. Proses Pengolahan Limbah Cair Domestik
Secara Anaerob. Semarang : Universitas Diponegoro.
LAMPIRAN

1. Standarisasi FAS
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐾2𝐶𝑟2𝑂7 𝑋 𝑁 𝐾2𝐶𝑟2𝑂7
N FAS =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐹𝐴𝑆
2.5 𝑚𝐿 𝑋 0.25 𝑁
=
5.5 𝑚𝐿
= 0.1136 N

2. Perhitungan penentuan kandungan organik (COD) dari sampel :


Berdasarkan data titrasi dengan FAS
(𝑎 − 𝑏). 𝑐. 1000. 𝑑. 𝑝
𝐶𝑂𝐷 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿) =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
a = ml FAS untuk blanko
b = ml FAS untuk sampel
c = normalitas FAS
d = berat ekivalen oksigen ( 8 )
p = pengenceran

2.1 Sampel 5

(𝑎 − 𝑏)𝑥𝑐𝑥1000𝑥𝑑𝑥𝑝
𝐶𝑂𝐷 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿) =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
(2.35 − 1.90)𝑥0.1136𝑥1000𝑥8𝑥25
𝐶𝑂𝐷 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿) =
2.5
= 4089.6 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿)

2.2 Sampel 6

(𝑎 − 𝑏)𝑥𝑐𝑥1000𝑥𝑑𝑥𝑝
𝐶𝑂𝐷 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿) =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
(2.35 − 2.30)𝑥0.1136𝑥1000𝑥8𝑥25
𝐶𝑂𝐷 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿) =
2.5
= 454.4 (𝑚𝑔𝑂2/𝐿)
3. Perhitungan Efisiensi
COD sampel 5 − COD sampel 6
Efisiensi pengolahan = x 100%
COD sampel 5
4089.6 − 454.4
Efisiensi pengolahan = x 100%
4089.6

= 88.8 %

4. Penentuan Kadar Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)


4.1 Penentuan Total Suspended Solid (TSS)

𝑐−𝑎
TSS (mg/L) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑙𝑒 𝑥 106
35.7978−34.4611
TSS (mg/L) = 𝑥 106
40

= 33417.5 (mg/L)

4.2 Penentuan VSS (Volatile Suspended Solid)

𝑐−𝑑
VSS (mg/L) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑙𝑒 𝑥 106
35.7978−34.4634
VSS (mg/L) = 𝑥 106
40

= 33360 (mg/L)

4.3 Penentuan FSS (Fixed Suspended Solid)

FSS (mg/L) = 𝑇𝑆𝑆 − 𝑉𝑆𝑆


= 57.5 (mg/L)
Sementara MLVSS=VSS= 33360 (mg/L)

5. Effisiensi pembentukkan gas selama proses berjalan = 0 ml (tidak ada gas yang
terbentuk.
Gambar 1. Sampel yang telah ditambahkan Kalium Karbonat dan Asam Sulfat

Gambar 2. Sampel pada gambar 1 dimasukkan dalam Digester selama 90 menit


Gambar 3. Sampel yang telah keluar dari Digester dititrasi dengan FAS hingga diperoleh warna
coklat

Gambar 4. Sampel yang akan diamati MLVSS disaring terlebih dahulu