Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Suatu bangunan yang dirancang baik oleh seorang arsitek maupun mahasiswa arsitektur
tentu memerlukan ilmu konstruksi bangunan pada saat perancangan agar dapat menunjang
kenyamanan, keselamatan, komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan yang dirancang.
Dalam ilmu konstruksi bangunan, mahasiswa akan mempelajari tentang elemen-elemen
bangunan, salah satunya adalah pengetahuan Utilitas Dasar sebagai salah satu penunjang
suatu bangunan sederhana. Utilitas adalah kelengkapan fasilitas dalam suatu bangunan.

Salah satu bagian dari sistem utilitas adalah pencahayaan. Kenyamanan visual dalam
sebuah bangunan memiliki hubungan yang kuat dengan pencahayaan. Cahaya merupakan
jembatan penghubung antara manusia dengan objek sekitarnya. Pemanfaatan sistem
pencahayaan alami pada sebuah ruang/bangunan sangat mempengaruhi kenyaman pada
civitas yang melakukan kegiatan ataupun aktivitas pada ruang/bangunan tersebut. Maka
dari itu, diperlukan adanya pengkajian lebih lanjut mengenai pemanfaatan, standardisasi
serta perencanaan sistem pencahayaan alami yang tepat sehingga kenyamanan visual bagi
civitas dapat tercapai dengan baik. Mahasiswa dalam memahami materi sistem utilitas
tidaklah cukup hanya didasari teori saja namun juga memerlukan studi terjun ke lapangan
secara langsung sehingga mahasiswa bisa melakukan perbandingan keadaan di lapangan
dengan teori yang sudah ada sehingga mahasiswa lebih memahami pengaplikasian sistem
utilitas itu sendiri.

Dengan adanya makalah ini, mahasiswa arsitektur akan memperoleh pengetahuan yang
cukup mengenai sistem pencahayaan pada bangunan dan pengaplikasiannya dalam suatu
bangunan khususnya pada bangunan bertingkat agar tercapai hasil yang cukup baik dalam
perancangannya.

1
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1) Faktor apa saja yang mempengaruhi dalam merancang pencahayaan alami dalam
bangunan?
2) Bagaimana penerapan sistem pencahayaan alami yang terdapat pada objek
observasi?

1.3. Tujuan

Berdasarkan pada rumusan masalah yang dijabarkan di atas, manfaat


penyusunan makalah ini diantaranya:
1) Untuk mengetahu faktor apa saja yang mempengaruhi dalam merancang
pencahayaan alami dalam bangunan
2) Untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem pencahayaan alami yang terdapat
pada objek observasi

1.4. Manfaat

Manfaat dari penulisan ini antara lain :

a. Mahasiswa

 Menambah pemahaman dan pengetahuan mengenai sistem pencahayaan alami


pada sebuah bangunan yang dalam penugasan ini bangunan berlantai, minimal
lantai 2 (proyek ataupun sudah jadi).
 Menambah wawasan tentang sistem pencahayaan alami yang ideal pada
bangunan sehingga bangunan yang nantinya akan direncanakan bisa menjadi
lebih baik jika telah mengetahui jenis sistem pencahayaan yang tepat dan sesuai
dengan luas bangunan yang akan dirancang.

b. Masyarakat

 Memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai sistem transportasi


bangunan yang meliputi bagaimana sistem pencahayaan tersebut, serta dapat
mengetahui jenis sistem pencahayan alami yang tepat digunakan pada rumah
tinggal masing–masing.

2
BAB II

METODOLOGI PENELITIAN DAN OBJEK

2.1 Metode Penelitian


Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang
digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu.Metodologi juga merupakan analisis teoritis
mengenai suatu cara atau metode, penelitian merupakan suatu penyelidikan yang
sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha
yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan
jawaban. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi
oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum
pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan
manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh
dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia yang
umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Dari pengertian di atas, dalam suatu penelitian diperlukan adanya validasi data,
dengan disertai bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Guna
mendapatkan data yang valid tersebut, pada penelitian ini, penulis menggunakan
langkah-langkah sebagai berikut.
1. Tahap Persiapan
Tahapan ini meliputi survey terhadap beberapa rumah tinggal di sekitar kawasan
Denpasar yang memiliki kriteria sesuai yang tertera pada tuntutan tugas. Setelah
dilakukan survey terhadap beberapa rumah kemudian dipilih rumah yang paling
cocok untuk diobservasi yang berlokasi di Jalan Tukad Citarum Gang 1.
2. Tahap Observasi (penelitian langsung ke lapangan, wawancara terhadap pihak
terkait, dan melakukan pengukuran serta pemeriksaan)
metodologi yang digunaan pada saat observasi adalah :
a. Metode Survey
Metode ini dilakukan dengan cara melakukan wawancara langsung terhadap
penghuni rumah tinggal tersebut tentang komponen, kelengkapan dan cara
kerja dari sistem pencahayaan alami pada bangunan tersebut yang mereka
ketahui.
b. Metode Pengukuran dan Penelitian Langsung ke Lapangan

3
Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan penelitian
langsung terhadap sistem pencahayaan alami pada rumah tersebut. Yang
disurvey meliputi : jenis pencahayaan alami yang ada pada objek observasi.
c. Metode Studi Pustaka dan Perbandingan
Metode ini dilakukan dengan cara membandingkan data dari hasil observasi
langsung dengan pengukuran dan penelitian dengan data dari bestek rumah
tinggal yang dimiliki oleh pemilik rumah.

3. Tahap Pengumpulan
Teknik dan Alat Pengumpulan Data

a. Teknik Pengumpulan Data


Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data dimulai dari tahap survey
bangunan, wawancara, observasi, dokumentasi berupa foto serta
pengukuran. Dengan bahan yang diobservasi adalah sistem pencahayaan
alami yang ada pada rumah tinggal tersebut. Survey bangunan yang sesuai
dengan tuntutan tugas kemudian melakukan wawancara dengan pertanyaan
yang berkaitan tentang sistem pencahayaan alami pada objek. Setelah itu
kami melakukan observasi dilakukan dengan cara melihat situasi dan
kondisi dari sistem utilitas yang terpasang pada objek secara langsung.
Selain melihat, peneliti juga mengamati bagaimana sistem kerja pada utilitas
tersebut. Selain melakukan observasi, kami juga melakukan teknik
pengumpulan data dengan cara mengumpulkan foto dan mengukur beberapa
alat dari sistem utilitas menggunakan alat pengukur berupa meteran. Foto
juga salah satu cara yang efektif dalam melakukan penelitian. Dengan
bantuan kamera atau alat digital lainnya, objek yang diamati akan dapat
didokumentasikan dengan baik, jelas, dan lebih nyata.
b. Alat Pengumpulan Data
Oleh karena teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,
foto dan mengukur, maka alat pengumpulan datanya adalah lembar
observasi yang berupa sketsa-sketsa yang mendukung penelitian beserta
foto dokumen pribadi peneliti mengenai objek yang diobservasi dan alat
pengukur berupa meteran.

4
2.2 Metode Pembahasan
Metode Pembahasan / Analisis merupakan metode yang digunakan untuk
melakukan analisis terhadap sistem dan komponen sistem yang diamati. Metode yang
digunakan dalam melakukan analisis adalah dengan cara membandingkan sistem yang
telah ada pada obyek observasi dengan prinsip–prinsip dan teori–teori dasar dalam
merancang sebuah utilitas bangunan. Analisis dilakukan berdasarkan prinsip–prinsip
dan teori-teori yang telah dipahami dari hasil pembelajaran mahasiswa dalam
mengikuti perkuliahan Sains Bangunan dan Utilitas 1. Tidak lupa metode analisis ini
juga menggunakan pengamatan obyek secara langsung. Dengan adanya pengamatan
secara langsung maka penulis dapat merasakan aspek–aspek kenyamanan, keamanan,
dan aspek-aspek lainnya yang berkaitan serta menentukan seberapa berhasilnya
sebuah sistem utilitas bekerja pada suatu bangunan.

5
BAB III

LANDASAN TEORI

Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang memiliki sumber cahaya yang berasal
dari alam, seperti matahari, bintang, bulan, dll. Matahari adalah sumber pencahayaan alami
yang paling utama, namun sumber pencahayaan ini tergantung pada waktu (siang hari atau
malam hari), musim, dan cuaca (cerah, mendung, berawan). Diantara seluruh sumber cahaya
alami, matahari memiliki kuat sinar yang paling besar sehingga keberadaanya sangat
bermanfaat dalam penerangandalam ruang. Cahaya matahari yang digunakan untuk
penerangan interior disebut dengan daylight. Daylight memiliki fungsi yang sangat penting
dalam karya arsitektur dan interior. Distribusi cahaya alami yang baik dalam ruang berkaitan
langsung dengan konfigurasi arsitektural bangunan, orientasi bangunan, kedalaman, dan
volume ruang.

Faktor yang Mempengaruhi Sistem Pencahayaan Alami

3.1 Desain Jendela

Jendela merupakan salah satu komponen pada dinding berupa bukaan yang sangat
berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas pencahayaan alami siang hari pada suatu
ruang. Ada beberapa kreteria yang dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan
letak jendela pada suatu tapak dengan pertimbangan orientasi matahari. Ketentuan
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

 Orientasi Bukaan Jendela


Pencahayaan alami yang baik tidak terlepas dari distribusi cahaya yang masuk
melalui jendela / bukaan dan orientasi arah bukaan. Semakin luas bukaan maka
akan semakin banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Namun, hal ini juga
perlu diperhatikan secara baik, karena orientasi arah bukaan yang langsung
menghadap arah matahari dapat membawa panas masuk ke dalam ruangan
sehingga meningkatkan suhu ruangan.Jendela-jendela yang menghadap timur
dan barat memerkukan sarana peneduh untuk menghindari matahari pagi dan
sore yang menyilaukan. Jendela yang menghadap selatan merupakan sumber
pencahayaan alami yang ideal.

6
 Luas dan Jumlah Bukaan
Distribusi cahaya matahari ke dalam ruangan tidak terlepas dari dimensi
bukaannya. Prinsipnya semakin besar bukaan atau jendela maka semakin banyak
cahaya dari luar yang masuk ke dalam ruangan. Disamping itu, jenis dan variasi
tipe bukaan juga dapat menentukan banyaknya cahaya yang masuk. Semakin
besar dan tinggi ukuran jendela maka semakin banyak cahaya matahari yang
masuk ke ruangan.
 Langit-langit dan dinding dalam di seberang jendela lebih efektif memantulkan
cahaya daripada dinding samping dan lantai.
 Untuk memperoleh pencahayaan alami yang seimbang, masukan cahaya alami
setidaknya harus berasal dari dua arah.
 Peletakan/penempatan jendela di dekat dinding samping dapat digunakan
sebagai alternatif tambahan untuk menghasilkan cahaya yang cukup pada ruang
karena cahaya mendapat pantulan dari dinding samping tersebut.

3.2 Bentuk dan Kedalaman Ruang


Kedalaman suatu ruangan dapat mempengaruhi tingkat pencahayaan yang masuk ke
dalamnya, dimana suatu ruangan memiliki kriteria ideal antara dimensi bukaan dengan
panjang cahaya yang masuk ke ruangan tersebut. Umumnya luas lantai kerja yang dapat
diterangi oleh cahaya alami yaitu 1,5 – 2 kali dari dimensi tinggi suatu bukaan.
Besarnya bukaan jendela adalah 1/8 – 1/6 luas lantai ditambah bovenlist sedikitnya 1/3
kali luas bidang jendela. Secara keseluruhan bukaan ideal mencapai 40 – 80% luas
keseluruhan dinding atau 10 – 20% luas keseluruhan lantai.

Gambar 3.1
Bentuk dan kedalaman ruang
Sumber : Ernest Orlando (Tips for Daylighting)

7
3.3 Kenyamanan Visual

Pencahayaan mengandung aspek kuantitas (intensitas cahaya) dan kualitas (warna


kesilauan). Kesilauan dapat terjadi secara langsung (tersorot cahaya) maupun tidak
langsung (pantulan cahaya). Terlalu banyak cahaya pada suatu ruangan akan
menyebabkan pupil mata mengecil terlalu lama, sehingga mata cepat lelah.
A. Tingkat Pencahaayan Alami
Tingkat pencahayaan alami memiliki standarisasi untuk setiap jenis ruangannya,
tergantung pada kegiatan dan fungsi dari ruangan tersebut.

B. Kualitas Warna (Color Rendering)


Nilai dari kemampuan sumber cahaya untuk dapat mendefinisikan warna,
sebenarnya dari suatu objek atau benda. Semakin tinggi nilai suatu indeks renderasi
warna maka akan semakin baik kemampuan sumber cahaya tersebut.
C. Warna Interior
Sinar pantul dari bidang tanah menyumbang hampir 50 % penerangan dalam ruang
untuk bangunan rendah. Hal ini dapat bertambah dengan penambahan bahan-bahan
perkerasan berangka-pantul besar di sekeliling bangunan. Dalam keadaan mendung
(over cast) hanya 10-25 % saja.

Angka Pantul %
Bidang Tanah
Jenis Bidang
Rumput 6
Pepohonan 25
Tanah 7
Beton 55
Marmer putih 45
Bata merah 30
Gravel 13
Aspal 7
Bidang putih di 75
cat baru

8
Bidang putih di 55
cat lama
Tabel 1
Angka Pantul Bidang Tanah Jenis Bidang
Sumber : Standarisasi Nasional SNI 03 – 2396 – 1991

D. Tekstur Permukaan Interior


Tekstur adalah pola struktur tiga dimensi permukaan. Permukaan benda biasanya
memiliki tekstur tertentu, demikian halnya dengan bahan bangunan. Biasanya
bahan – bahan bangunan yang alami memiliki tekstur kasar yang menunjukkan
karakter alaminya, sedangkan bahan bangunan buatan memiliki tekstur yang lebih
halus.

3.4 Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal ini secara tidak langsung sangat mempengaruhi kualitas untuk
masuknya pencahayaan alami ke dalam ruangan, sehingga dalam penerapannya hal-
hal diluar ruangan tersebut harus diperhatikan secara serius, karena terkadang akibat
yang dapat ditimbulkan tidak terpikirkan sebelumnya. Faktor-faktor eksternal tersebut
diantaranya:
A. Bangunan Sekitar
Adanya bangunan lain disekitar gedung dapat menentukan intensitas dan kualitas
cahaya alami yang dapat masuk ke dalam ruangan, karena semakin dekat jarak
antar bangunannya semakin kecil kemungkinan cahaya alami yang dapat masuk ke
dalam ruangan.

Gambar 3.2
Bangunan di Sekitar

9
Sumber : Ernest Orlando (Tips for Daylighting)

B. Vegetasi Sekitar
Pola vegetasi akan mempengaruhi radiasi, intensitas, dan terang langit. Vegetasi
juga dapat memberi pembayangan dan mengurangi panas yang didapat. Tanaman,
semak-semak, dan pohon menyerap radiasi pada proses fotosintesis.

Gambar 3.3
Rasio Vegetasi di Sekitar Bukaan Jendela
Sumber : Ernest Orlando (Tips for Daylighting)

C. Arah Lintasan Matahari


Orientasi bangunan sangat menentukan banyaknya cahaya yang masuk kedalam
ruangan. Orientasi bangunan yang baik yaitu mengarah pada arah utara - selatan
karena ruangan tidak akan mendapatkan cahaya yang berlebih.
3.5 Komponen bangunan yang mempengaruhi pencahayaan alami

Matahari merupakan sumber utama dari pencahayaan alami dimana selain


menghasilkan cahaya, matahari juga sekaligus menghantarkan panasnya secara radiasi.
Radiasi matahari ini tentu saja berdampak negatif bagi bangunan, contohnya yaitu
menyebabkan kerusakan atau pengurangan kualitas material bangunan serta
memberikan dampak beupa suasana panas di dalam ruang. Panas yang secara tidak
langsung merambat masuk ke dalam ruangan tentu saja menyebabkan
ketidaknyamanan bagi civitas yang melakukan kegiatan serta diperlukan tambahan
komponen berupa kipas angin ataupun pendingin ruang untuk menstabilkan suhu di
dalam ruangan tersebut. Maka dari itu, diperlukan perencanaan khusus untuk
menanggulangi hal tersebut. Terdapat beberapa komponen yang dapat digunakan untuk
menanggulangi Panas matahari yang secara tidak langsung merambat masuk ke dalam
ruangan diantaranya,

10
 Kisi Peneduh Matahari
 Gorden / kerai
 vegetasi

Terkait dengan sistem pencahayaan objek, Berikut adalah rencana pintu jendela dan
detail jendela dari objek yang kami observasi untuk mengetahui dimensi maupun
bentuk dari bukaan pada rumah ini.

11
BAB IV

TINJAUAN OBJEK

4.1 Identitas Objek Observasi

LOKASI OBJEK

Gambar 3.1

Lokasi Objek

Sumber: Google Maps, 2017

Nama Pemilik Objek Bangunan : dr. Putu Gede Indra Suyasa, S.Ked
Ni Made Suartini

Nama Proyek/Fungsi Bangunan : Rumah Tinggal Pribadi

Lokasi dan alamat proyek/bangunan : Jalan Tukad Citarum, Gg no 1, Denpasar


Selatan, Bali

Tahun dibangun : 2014

12
Gambar 3.2

Perspektif Rumah (Objek Observasi)

Sumber: Dokumentasi Pribadi

4.2 Tinjauan Umum Rumah

Berdasarkan pada penugasan yang kami peroleh, kami melakukan observasi


pada bangunan Rumah Lantai Dua yang beralamat di Jalan Tukad Citarum, Gg no 1,
Denpasar Selatan, Bali Rumah ini memiliki bentuk persegi panjang dan memanjang ke
belakang kea rah timur. Fungsi bangunan sebagai tempat beristirahat setelah melakukan
aktifitas di luar rumah.

Civitas dari rumah berjumlah 4 orang yang terdiri dari sepasang suami istri
dan 2 anak laki-laki dan perempuan. Pemilik rumah berprofesi sebagai seorang dokter
umum (suami) dan ibu rumah tangga (istri) sedangkan anak laki-laki seorang
mahasiswa di universitas warmadewa dan anak perempuan duduk di bangku sekolah
menengah pertama (smp). Aktifitas dari penghuni antara lain di hari biasa pada pagi
hari ketiga civitas pergi untuk bekerja dan bersekolah sedangkan ibu melakukan
kegiatan rumah tangga,hingga sore hari ketiga civitas kembali ke rumah kemudian

13
mandi, makan dan beristirahat. Pada hari libur, keempat civitas beristirahat atau keluar
rumah untuk berlibur.

Adapun pembagian yang terdapat pada rumah ini. Pada lantai 1 merupakan area
publik dan semi publik yang terdiri ruang keluarga, dapur, ruang makan, gudang, toilet
dan teras belakang, sedangkan pada lantai 2 merupakan area private civitas, area private
ini memang di khususkan pada lantai 2 karena menurut pemilik agar terhindar dari
kebisingan. Area private ini terdiri dari 3 kamar tidur yang berukuran 3500mm x 3000mm
yang terdiri dari 1 kamar tidur utama, 2 kamar tidur anak, selain itu pada lantai 2 terdapat
1 kamar mandi utama yang berukuran 3000mm x 1200mm dan 1 kamar mandi anak
2000mm x 1500mm, dan juga terdapat merajan pada lantai 2

Berikut ini adalah gambar denah, tampak, serta potongan bangunan hasil observasi:

14
15
16
17
18
BAB V

DATA DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Desain Bukaan Jendela

Variasi Jendela Swing memberi


kesan seimbang antara cahaya dan
angin yang masuk kedalam ruang.
Ukuran yang cukup besar memberi
cahaya yang masuk cukup banyak.

Gambar 5.1
Variasi Jendela Ruang Keluarga Lt. 2
sumber: Dokumen Pribadi

Variasi ukuran bukaan yang


cukup lebar sebagai pintu menuju
taman memberi cahaya yang
cukup banyak yang masuk ke
dalam ruang tamu. Bukaan
dengan bahan kayu memberi
kesan elegan.

Gambar 5.2
Variasi Jendela pada dapur Lt. 1
Sumber: Dokumen Pribadi

19
Gambar 4.3
Variasi Jendela Ruang Tidur
Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 5.4
Variasi Jendela unuk dapur dan ruang makan.
Sumber: Dokumen Pribadi
Secara keseluruhan, Variasi yang digunakan pada rumah ini adalah
bentuk jendela persegi panjang dengan ukuran yang cukup besar namun
divariasikan dengan jumlah yang lebih banyak dengan susunan yang
berbeda pula. Jendela yang ada pada rumah ini bisa mendapatkan cahaya
alami yang cukup untuk menerangi ruangan.

20
5.2 Analisis Bentuk dan Kedalaman Ruang

Umumnya luas lantai kerja yang dapat diterangi oleh cahaya alami yaitu 1,5 –
2 kali dari dimensi tinggi suatu bukaan. Besarnya bukaan jendela adalah 1/8 –
1/6 luas lantai ditambah bovenlist sedikitnya 1/3 kali luas bidang jendela. Secara
keseluruhan bukaan ideal mencapai 40 – 80% luas keseluruhan dinding atau 10
– 20% luas keseluruhan lantai.

Berdasarkan pada data pengukuran dan peninjauan dari gambar bestek


yang sudah ada, cahaya yang masuk ke dalam setiap ruang yang ada sudah
cukup efektif.

5.3 Analisis Kenyamanan Visual


a. Analisis Warna Interior
Warna interior bangunan ini dominan berwarna putih serta plafon berwarna
putih.Warna putih sendiri dapat memantulkan cahaya antara 70% - 80%,
sehingga pemantulan cahaya di dalam ruangan bangunan rumah tinggal ini
dapat dikatakan cukup optimal.

Gambar 4.6
warna dinding interior
Sumber: Dokumen Pribadi

21
b. Analisis Tekstur Permukaan Interior
Bahan penutup lantai yang digunakan pada rumah tinggal ini adalah granit
berwarna putih agak abu-abu, serta dinding permukaannya dibuat halus,
sehingga pemantulan cahaya dari permukaan interior cukup baik.

Gambar 4.7
Warna Lantai
Sumber: Dokumen Pribadi

5.4 Analisis Faktor Eksternal

- Analisis Bangunan Sekitar

bangunan objek observasi ini posisinya berada diantara persawahan dan tidak
terdapat banyak bangunan. Sehingga cahaya yang didapatkan optimal pada
segala arah. Oleh sebab itu, orientasi bukaan pada bangunan mengarah ke Utara
dan Selatan, dimana pada arah ini, cahaya alami masih dapat masuk ke dalam
ruang secara tidak langsung. Sehingga kualitas pencahayaan yang masuk ke
dalam ruang, masih tetap optimal.
- Analisis Vegetasi Sekitar
Tidak terlalu banyak dapat ditemukan vegetasi pada sekitar bangunan, apabila
ada jarak vegetasi dengan bangunan rumah tinggal objek observasi kami cukup
berdekatan, sehingga dapat mengurangi tingkat intensitas cahaya matahari yang
berlebihan khususnya pada ruangan di lantai 1 karena vegetasi tidak terlalu
tinggi.

22
Gambar 5.9
Vegetasi di sekitar bangunan
Sumber: dokumen pribadi
- Analisis Arah Lintasan Matahari
Orientasi utama bangunan rumah tinggal ini pada arah utara dan selatan.
Sehingga paparan cahaya matahari yang masuk tidak akan berlebih.

5.5 Komponen bangunan yang mempengaruhi pencahayaan alami


Beberapa komponen yang digunakan pada bangunan ini untuk menanggulangi
panas matahari yang masuk ke dalam ruangan adalah
a. Kisi peneduh matahari (Kisi Peneduh Horizontal)
Kisi peneduh matahari buatan adalah kisi peneduh yang ditambahkan
langsung pada sebuah bangunan untuk mengurangi dampak panas matahari
merambat pada bangunan tersebut. Keefektifan kisi peneduh ini ditentukan
oleh bentuk dan arah hadapnya terhadap arah datangnya sinar matahari.

23
b. Gorden juga dipakai pada bangunan ini untuk mengurangi cahaya yang
masuk kedalam rumah. Gorden digunakan pada ruang dalam pada rumah
ini.

Gambar 5.10
Gorden
Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 5.11
Gorden
Sumber: Dokumen Pribadi

24
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Sistem pencahayaan alami merupakan salah satu pelajaran dalam arsitektur
yang mempelajari secara khusus mengenai cara pemanfaatan sumber daya yang berasal
di alam secara maksimal. Perencanaan tersebut sangat bermanfaat untuk menciptakan
hubungan yang harmonis antara keadaan lingkungan sekitar dengan bangunan yang
akan dibuat. Sistem Pencahayaan pada gedung ini cukup optimal. Penghuni
memaksimalkan bukaan pada sisi utara dan selatan dikarenakan bangunan ini
berorientasi ke arah utara dan selatan, tetapi tetap memanfaatkan dinding barat, karena
langsung mengarah ke persawahan. Karakteristik bukaan yang dimilki oleh rumah ini
adalah variasi jendela yang cukup banyak dan memiliki bentuk serta susunan yang unik
tanpa mengurangi intensitas cahaya yang masuk namun tetap menjaga tingkat cahaya
yang masuk dengan kisi-kisi ataupun gorden. Komponen kisi yang digunakan pada
bangunan ini adalah kisi peneduh horizontal, dan gorden untuk mengurangi cahaya
yang masuk.
6.2 Saran
Pada bangunan ini dapat ditanami vegetasi yang lebih tinggi di sekitaran
bangunan untuk mereduksi panas yang masuk ke dalam ruangan seperti pohon kamboja
atau pohon lainnya.

25
DAFTAR PUSTAKA

ejurnal.itenas.ac.id/index.php/rekakarsa/article/.../68

Sihombing, Ferry Anderson. 2008. Studi Pemanfaatan Pencahayaan Alami Pada Beberapa Rancangan
Ruang Kelas Perguruan Tinggi di Medan. Medan

SNI. No. 03-2396-1991: Tata cara peracangan Penerangan Alami Siang Hari Untuk Rumah dan
Gedung

26
27