Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM HIDROMETEROLOGI TERAPAN


ACARA 5
PENGUKURAN EVAPOTRANSPIRASI 2

Dosen Pengampu : Feryati Masitoh, M.Si

Oleh:
Nama : Bakti Syailendra S
NIM/off : 150722607430/ G
Tanggal praktium : 13- Oktober 2017
Asisten : Diki Kurniawan
Rizki Pandhu S

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU GEOGRAFI
JURUSAN GEOGRAFI
PROGAM STUDI GEOGRAFI
2017
ACARA V
PENGUKURAN EVAPOTRANSPIRASI II

I. TUJUAN
1. Mahasiwa mampu menghitung nilai evapotranspirasi menggunakan metode
Thormwaite, Blaney-Criddle, Blaney-Criddle modifikasi, Turc-Lungbein, Penman-
FAO, Hargreaves, Cristiansen
2. Mahasiswa mampu membuat matrik perbandingn metode berdasarkan parameter unsur
cuaca yang digunakan pada setiap metode.

II. ALAT dan BAHAN

A. Alat
1. Alat tulis
2. Laptop
B. Bahan
1. Data Pencatatan unsur meteorologi stasiun pengamatan klimatologi Cacaban tahun
1994

III. DASAR TEORI


Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan tanah,
air, dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer oleh adanya pengaruh faktor–faktor
iklim dan fisiologi vegetasi. Dengan kata lain, besarnya evapotranspirasi adalah jumlah
antara evaporasi (penguapan air berasal dari permukaan tanah), intersepsi (penguapan
kembali air hujan dari permukaan tajuk vegetasi), dan transpirasi (penguapan air tanah ke
atmosfer melalui vegetasi) ( Kodoati dan Rustam, 2008).

Evapotranspirasi adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan bertanaman
melalui evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah proses dimana air diubah menjadi uap air
(vaporasi, vaporization) dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan dari permukaan bidang
penguapan ke atmosfer (vapor removal). Evaporai terjadi pada berbagai jenis permukaan
seperti danau, sungai lahan pertanian, tanah, maupun dari vegetasi yang basah. Transpirasi
adalah vaporisasi di dalam jaringan tanaman dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan
dari permukaan tanaman ke atmosfer (vapor removal). Pada transpirasi, vaporisasi terjadi
terutama di ruang antar sel daun dan selanjutnya melalui stomata uap air akan lepas ke
atmosfer. Hamper semua air yang diambil tanaman dari media tanam (tanah) akan
ditranspirasikan, dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan tanaman

Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan tanah,
air, dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer oleh adanya pengaruh faktor–faktor
iklim dan fisiologi vegetasi. Dengan kata lain, besarnya evapotranspirasi adalah jumlah
antara evaporasi (penguapan air berasal dari permukaan tanah), intersepsi (penguapan
kembali air hujan dari permukaan tajuk vegetasi), dan transpirasi (penguapan air tanah ke
atmosfer melalui vegetasi). Beda antara intersepsi dan tranapirasi adalah pada proses
intersepsi air yang diuapkan kembali ke atmosfer tersebut adalah air hujan yang tertampung
sementara pada permukaan tajuk dan bagian lain dari suatu vegetasi, sedangkan transpirasi
adalah penguapan air yang berasal dari dalam tanah melalui tajuk vegetasi sebagai hasil
proses fisiologi vegetasi (Soewarno, 2005).

Pengukuran Evapotranspirasi

Ada berapa metode dalam penetapan nilai/besarnya evapotranspirasi, antara lain:

1. Metode Thornthwaite

Thornthwaite telah mengembangkan suatu metode untuk memperkirakan besarnya


evapotranspirasi potensial dari data klimatologi. Evapotranspirasi potensial (PET) tersebut
berdasarkan suhu udara rerata bulanan dengan standar 1 bulan 30 hari, dan lama penyinaran
matahari 12 jam sehari. Metode ini memanfaatkan suhu udara sebagai indeks ketersediaan
energi panas untuk berlangsungnya proses ET dengan asumsi suhu udara tersebut berkorelasi
dengan efek radiasi matahari dan unsur lain yang mengendalikan proses ET.

Rumus dasar:

keterangan:

PET = evapotranspirasi potensial bulanan (cm/bulan)


T = temperatur udara bulan ke-n (OC)

I = indeks panas tahunan

a = koefisien yang tergantung dari tempat

Harga a dapat ditetapkan dengan menggunakan rumus:

a = 675 ´ 10-9 ( I3 ) – 771 ´ 10-7 ( I2 ) + 1792 ´ 10-5 ( I ) + 0,49239

Jika rumus tersebut diganti dengan harga yang diukur, maka:

PET = evapotranspirasi potensial bulanan standart (belum disesuaikan dalam cm).

Karena banyaknya hari dalam sebulan tidak sama, sedangkan jam penyinaran matahari yang
diterima adalah berbeda menurut musim dan jaraknya dari katulistiwa, maka PET harus
disesuaikan menjadi:

Keterangan:

s = jumlah hari dalam bulan

Tz = jumlah jam penyinaran rerata per hari

2. Metode Blaney-Criddle

Metode ini digunakan untuk menentukan besarnya evapotranspirasi dari tumbuhan


(consumtive use) yang pengembangannya didasarkan pada kenyataan bahwa evapotranspirasi
bervariasi sesuai dengan keadaan temperatur, lamanya penyinaran matahari/siang hari,
kelembaban udara dan kebutuhan tanaman.

keterangan:
U = consumtive use (inch) selama pertumbuhan tanaman

K = koefisisen empiris yang tergantung pada tipe dan lokasi tanaman

P = persentase jumlah jam penyinaran matahari per bulan dalam 1 (satu) tahun (%)

T = temperatur bulan ke-n (OF)

3. Metode Blaney-Criddle yang dimodifikasi

keterangan:

U = transpirasi bulanan (mm/bulan)

T = suhu udara bulan ke-n (OC)

P = persentase jam siang bulanan dalam setahun

dimana:

K = Kt ´ Kc

Kt = 0,0311(t) + 0,24

Kc = koefisien tanaman bulanan dalam setahun = 0,94

4. Metode Turc-Lungbein

Turc telah mengenbangkan sebuah metode penentuan evapotranspirasi potensial yang


didasarkan pada penggunaan faktor-faktor klimatologi yang paling sering diukur, yaitu
kelembaban relatif dan temperatur udara.

Nilai Eo dapat dicari dengan:


Eo = 325 + 21 T + 0,9 T2

Keterangan:

P = curah hujan tahunan

E = evapotranspirasi (mm/th)

Eo = evaporasi (mm/th)

T = rerata temperatur tahunan

5. Metode Penman

Rumus dasar perhitungan evaporasi dari muka air bebas adalah:

keterangan:

E = evaporasi dari permukaan air bebas (mm/hari, 1 hari = 24 jam)

Ho = net radiation (cal/cm2/hari) = kemiringan kurva hubungan tekanan uap


yang diselidiki (mmHg/oC)konstanta Psychrometri (=0,485 mmHg/oC)

L = panas latent dari evaporasi sebesar 0,1 cm3 (= 59 cal)

IV. LANGKAH KERJA

1. Siapkan alat dan bahan praktikum


2. Pelajari dan pahami data dengan seksama
3. Hitunglah evaporasi menggunakan metode Thornwaite, Blaney Criddle, Blanney
Criddle modifikasi, Turc Lungbein, Penman- FAO, Hargreaves, dan Crisitiansen
4. Buat matriks perbandingan tiap metode
5. Beri analisis mengenai hasil yang ada
6. Beri kesimpulan

V. HASIL PRAKTIKUM

1. Perhitungan metode Thornwaite (terlampir)


2. Perhitungan metode Blaney Cridle (terlampir)
3. Perhitungan metode Blaney Cridle Modifikasi
4. Perhitungan metode Turc-Lunghbein (terlampir)
5. Perhitungan metode Penman-FAO (terlampir)
6. Perhitungan metode christiansen (terlmapir)
7. Perhitungan metode Hergreavves (terlampir)
8. Matriks perbandingan metode (terlampir)

VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum ke lima mahasiswa melakukan perhitungan evapotranspirasi


menggunkan beberapa metode, yaitu Thormwaite, Blaney-Criddle, Blaney-Criddle
modifikasi, Turc-Lungbein, Penman-FAO, Hargreaves, Cristiansen. Metode tersebut
meimiliki perbedaan parameter maupun koefisien yang digunakan. Selain itu juga terdapat
perbedaan fungsi pengukuran evpotrasnpirasi tiap metode.

Metode pertama yang digunakan pada praktikum ini adalah Thorwaite. Dalam
metode Thornwaite perhitungan parameter yang digunakan adalah suhu bulanan dan indeks
panas. Metode ini memanfaatkan suhu udara sebagai indeks ketersediaan energi panas untuk
berlangsungnya proses evapotranspirasi dengan asumsi suhu udara tersebut berkorelasi
dengan efek radiasi matahari dan unsur lain yang mengendalikan proses evapotranspirasi.
Namun hasil dari perhitungan metode Thornwaite belum sesuai karena banyaknya hari tidak
sama, sedangkan jam penyinaran matahari yang berbeda maka perlu disesuaikan .

Metode yang kedua adalah Blaney Criddle, metode ini menentukan besarnya
evapotranspirasi dari tumbuhan (consumtive use) dengan parameter suhu, presentase jumlah
jam penyinaran matahari, dan kefisien empiris tanaman. Penentuan metode Blaney Criddle
didasarkan pada kenyataan bahwa evapotranspirasi bervariasi sesuai dengan keadaan
temperatur. Metode Blaney Criddle terdapat modifikasi sehingga bukan penentuan
evapotranspirasi tanaman melainkan transpirasi bulanan namun masih menggunakan
parameter koefisien tanaman dan ditambah koefisien suhu.

Metode ketiga adalah Turc Lunghbein, metode ini menghitung evaporasi aktual
yaitu evaporasi dalam satu tahun. Parameter yag digunakan pada metode Turc Lunghbein
adalah hujan tahunan dan suhu tahunan. Dalam penentuan nilai evaporasi aktual sebelumnya
harus mengetahui nilai evaporasi air permukaan.
Metode Selanjutnya adalah Penman-FAO, metode ini menghitung evapotranspirasi
potensial. Metode ini telah mengalami modifikasi oleh Smith sehingga cukup kompleks
dengan parameter suhu, kelembaban, kecepatan angin, kecerahan matahari, tekanan uap,
panas laten,radiasi, albedo. Pada metode Penman-FAO membutuhkan alur perhitungan yang
cukup panjang dan parameter yang kompleks sehingga metode ini cocok digunakan
diberbagai tempat.

Metode keenam adalah metode Hargreaves, metode ini memiliki paramter yang
cukup kompleks seperti metode Penman namun perhiutngannya lebih sederhana. Metode ini
digunakan untuk menentukan kebutuhan air dalam suatu irigasi.dengan keterbatasan data
klimatologi. Sehingga metode ini dapat digunakan pada daerah yang memiliki lingkungan
arid atau semi arid (Hargreaves).

Metode yang terakahir adalah Christiansen, metode ini juga menhitung nilai
evapotrasnpirasi potensial per hari namun yang membedakan dengan metode Penman dan
Hargreaves adalah terdapat parameter koefisien tanaman sehingga pada metode Christiansen
memperhiutngkan nilai evaporasi dari koefisien tanaman namun berbeda dengan metode
Blaney Criddle. Perhitungan metode ini lebih sederhana jika dibandingkan dengan metode
Penman dan Hargreavees

VII. KESIMPULAN\

1. Nilai dari evaporasi tiap metode berbeda-beda karena memiliki parameter dan rumus
yang berbeda.
2. Tiap metode memiliki cara perhitungan dan parameter yang berbeda. Metode
Thornwaite, Blaney Criddle, Blaney Criddle modifikasi, dan Turc Lunghbein
memiliki perhiutngan dan parameter yang sederhan namun tingka akurasi datanya
kurang sedangkan metode Penman-FAO, Hargreaves, dan Christiansen memiliki
perhiutngan yang cukup rumit dan parameteryang kompleks sehingga membutuhkan
data yang lebih banyak namun hasilnya lebih akurat.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Masitoh, Ferryati. 2017. Perhitungan evapotranspirasi. Malang : Universitas Negeri

Kodoatie, RJ dan Sjarief, R. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Penerbit
Andi. Yogyakarta.
Soewarno, 2005. Hidrologi - Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa Data Jilid. I.
Nova. Bandung.

Hargreaves, dkk. 2003. History and Evaluation of Hargreaves Evapotranspiration


equation.. J. Irrig. Drain Eng., 2003, 129(1): 53-63. California-USA