Anda di halaman 1dari 25

1.

Osteoarthrosis
 Definisi : penyakit degeneratif dengan gangguan fungsi persendian dimana terjadi
penurunan fungsi dari tulang rawan sendi dan terbentuk tonjolan tulang pada tepi
sendi ( articular edge ). Paling banyak pada condylus medialis.
 Patofisiologi : proses penuaan dan terlalu banyak membebani tubuh

Tulang rawan menipis / erosi

Terbentuk osteofit, kista subchondral Penyempitan ruang sendi

Sklerosis subchondral

 Gejala khas :
 Sendi interphalang
o nodul Harbeden = penonjolan tulang pada distal interphalang joint.
o Nodul Bouchard = penonjolan tulang pada proximal interphalang joint
o Subchondral sclerosis (perselubungan
 Sendi besar (Hip and Knee joint)
o Erosi articular cartilage  joint space menipis
o Osteofit (pada bagian yg tidak terpapar tekanan di margin)
o Subchondral sclerosis
o Subchondral cyst
o Pada hip  migrasi caput femoris terhadap acetabulum biasanya ke
superolateral atau superomedial
 Vertebra
o Penyempitan joint space / facies artikularis
o Stenosis foramen
2. Rheumatoid Arthritis
 Definisi :
Suatu tipe penyakit autoimun di artritis yang disebabkan dari kegagalan rangsangan
sistem imun yang menganggu persendian.
 Epidemiologi :
Wanita : Pria = 3 : 1, usia dekade ke 4 atau 5
 Gejala Klinis :
o Mudah lelah, malaise, nyeri seluruh tubuh.
o Biasanya gejala bermula dari hands and wrists dengan ciri simetris, dan distribusi
proksimal.
 Tempat Predileksi:
o Hands and wrists (Metacarpophalangeal joints, Proximal interphalangeal joints)
 deformitas: swan-neck, boutonniere, main enlorgnette, hitchiker’s thumb
o Hip
o Knee
o Ankle and foot (calcaneus)
 Patofisiologi :
Aktifasi dan akumulasi dari CD4 sel dalam synovium dimulai pada respon inflamasi :
1. aktivasi makrofag dan sel sinovial dan produksi sitokin seperti IL-4 dan TNF
terjadi proliferasi sel sinovial dan peningkatan produksi destruksi enzim elatase
dan kolagen oleh makrofag
2. aktifasi b cell limfosit untuk memproduksi ab yang bervariasi termasuk RA factor,
CRF-IgM ab yang menyebabkan imun kompleks terdapat pada jaringan
3. aktifasi endotelial sel lewat peningkatkan produksi VCAM 1 sehingga
meningkatkan adesi dan akumulasi pada sel inflamasi
4. produksi RANKL (receptor for activation of nuclear factor kappa-B ligand).
Mengaktivasi osteoklas sehingga mengakibatkan destruksi tulang subkondral.
Respon inflamasi membentuk panus (penebalan edematous dari hyperplasia sinovial).

 Kriteria Diagnosa (4 dari 7):


1. Morning stiffness lasting at least 1 hour bfr maximal improvement
2. Soft tissue swelling of 3 or more joints
3. Swelling of the proximal interphalangeal, metacarpophalangeal, or wrist joints
4. Symmetric swelling
5. Rheumatoid nodules
6. The presence of rheumatoid factor
7. Radiographic erosions and/or periarticular osteopenia in hand and/or wrist joints
 Gambaran radiologi
1. Difus, multikompartmental, penyempitan simetris joint space
2. erosi marginal atau sentral sehingga terjadi periarticular osteoporosis
3. soft tissue swelling
4. pada advance terjadi : swan neck / boutoniere neck
3. Gout Arthritis
 Definisi : Penyakit metabolik akibat deposisi kristal monosodium urat dalam cairan
synovial.
 Lebih sering terjadi pada laki-laki
 Patofisiologi

hyperuricemia

 Lab = Peningkatan konsentrasi serum asam urat


 Pemeriksaan cairan synovial = ditemukan kristal monosodium urat dalam leukosit di
cairan synovial
 Gambaran radiologi
- Erosi asimetris dengan overhanging edge
- Partial preservation of joint space (sebagian sendi masih terjaga)
- Pembengkakan jaringan lunak dengan/tanpa kalsifikasi (tophus) yang asimetris
 Predileksi tophus = sendi metatarsophalangeal, metacarpophalangeal, interphalang
Oblique dan anteroposterior
4. Neurotrophic Arthropathy
 Nama Lainnya : Charcot Joint
 Definisi : Extreme progressive degenegratif osteoarthrosis disebabkan oleh penyakit
yang menyebabkan hilangnya propioceptive dan sensasi nyeri
 Etiologi : Neurotraumatik dan Neourovascular
 Patofisiologi :
 Neurotraumatic hilangnya rasa nyeri dan proprioceptive terutama
pada sendi tumpuan(weight bearing) biasanya tidak mengerti kalau rusak
dan terjadi subluksasi progressive.
 Neurovascular gangguan otonomik neuropati aliran darah
meningkat ke tulang meningkatkan aktivitas osteoclast resorbsi
tulang meningkat osteopeni
 Gambaran Radiologi :
 Upper Extremity
o Biasanya Gambaran atrophy
o Osteoporosis
oDestruksi tulang
oResorbsi ujung tulang
oFragmentasi
oDebris Soft tissue
oSehingga memberikan gambaran”Pencil in cup meruncing di bagian distal
tulang
 Lower Extremity
o Biasanya Gambaran hypertropic
o Adanya efusi sendi yang menyebabkan kelemahan
o Subluksasi kartilago dan fragmentasi tulang yang membentuk debris ”Bag of
bone appearance”

“ Pencil in cup appearance”

5. Ankylosing Spondylitis
 Definisi: Merupakan penyakit inflamasi kronis progresif yang utamanya
mempengaruhi apophyseal joint vertebrae, soft tissue disekitarnya, serta
sacroilliac joint. Penyakit ini terkait dengan gen HLA-B27
 Prevalensi: Laki-laki = 7x perempuan. Usia muda
 Seronegative spondyloarthropathy (rheumatoid factor –)
 Gambaran radiologi :
1. Ossifikasi ligamentum longitudinalis anterior disepanjang aspek anterior corpus
vertebrae, sehingga memberikan gambaran “squaring”
2. Pembentukan syndesmophytes (yang menyebabkan bridging vertebral bodies)
3. “Squaring” + apophyseal joint fusion + ossifikasi outer fiber annulus fibrosus
menyebabkan terhubungnya antar vertebrae, sehingga memberi gambaran
“bamboo spine”
4. Ossifikasi ligamentum interspinosus dan supraspinosus, disebut “dagger sign”
6. Diffuse Idiopathic Skeletal Hypertotosis (DISH)

DISH dikarakteristikkan dengan osifikasi sepanjang aspek anterior corpus vertebra yang
meluas ke ruang discus. DISH juga dihubungkan dengan hiperostosis pada tempat perlekatan
tendon dan ligamen dengan tulang,osifikasi ligamen, dan osteophytosis yang melibatkan
kerangka axial dan appendicular. Radiografi vertebra lateral paling baik memperlihatkan
perubahan-perubahan ini. Penting untuk membedakan kondisi ini dengan “bamboo spine”
tampak pada ankylosing spondylitis.

i. Awal osifikasi : Thoracic ant longitudinal ligament.


ii. Terjadi ossifikasi/kalsifikasi pada Lig. Longitudinal Ant (terbanyak d
thorakal lebih dari 3 level) + Proc. Spinosus hampir menempel
iii. Terdapat osteofit kemudian terbentuk kalsifikasi (penebalan) :
menyambung
iv. Seperti ankylosing spondilitis : tetapi ankylosing tidak ada osteofit
v. Terjadi penurunan range spinal Motion
vi. Ankylosing spondylitis : genetic disease (identifical marks +affect
organs)
Radiografi lateral vertebra cervical (A), thoracal (B), dan lumbal (C) pria usia 72 tahun denan
DISH menunjukkan flowing hyperostosis yang khas meluas melalui vertebral disc space yang
relatif utuh

7. Osteochondroma
 Nama lain : osteocartilaginous exostosis
 Merupakan proyeksi tulang yang cartilage-capped pada permukaan eksternal tulang
 Tumor tulang jinak terbanyak
 Umur <30 tahun tumor ini berhenti tumbuh pada maturitas skeletal
 Predileksi : metafisis tulang panjang, khususnya sekitar genu dan proximal humerus
 Variasi osteochondroma: subungual exostosis, turret exostosis, traction exostosis,
bizarre parosteal osteochondromatous proliferation, florid reactive periostitis,
dysplasia epiphysealis hemimelica (also called intraarticular osteochondroma).
 2 tipe :
a. Pedunculated : memiliki pedicle (tangkai) langsing, biasanya tumbuh menjauh
dari growth plate
b. Sessile : memiliki dasar lebar yang melekat pada cortex
 Sifat penting : uninterrupted merging cortex tulang host dengan cortex
osteochondroma  tidak tampak garis batas / pemisah antara massa dan tulang
normal. Lesi bagian medulla bersambungan dengan medulla tulang host
 Deskripsi :
1. Lesi single/multiple
2. Pada metafisis Os ___ D/S. Eccentric
3. Morfologi :
a. Osteoblastic lession
b. Dengan batas geographic
c. Berbentuk pedunculated/sessile
4. Acces yang ditimbulkan : periosteal reaction –
 Kesan : Slow growing tumor. Dx : osteochondroma (hanya osteochondroma dan
osteoid osteoma yang dapat didiagnosis pasti melalui pemeriksaan radiologis. Yang
lain : didiagnosis pasti melalui pemeriksaan histoPA/biopsi)

8. Chondrosarcoma
 Definisi: carcinoma tulang rawan // malignant cartilaginous tumours
 Primer :malignant chondrosarcoma
 Sekunder : superimposed dengan benign cartilage neoplasma
 Epidemiologi: 40-50 tahun, Laki-laki > wanita
 Klinis: nyeri, fraktur patologis, palpable lump / local mass, hyperglycaemia
(paraneoplastic syndrome)
 Predileksi: Pelvis dan tulang panjang (terutama metaphisis dan epifisis femur dan
humerus)  tulang panjang jumlah cartilage > Regio pada tulang: metaphysic dan
epiphysis
 Gambaran Radiologis:
1. Penyebaran lesi pada medulla dengan penebalan kortex dan terdapat kalsifikasi
dari chondroid (tampak gambaran popcorn like appearance)
2. Biasanya terdapat soft tissue mass
3. Endosteal scalloping
4. Perbedaan tampilan berbeda menurut grading chondrosarcoma (Low
,intermediate ,high)
 Deskripsi
1. Lesi single
2. Letak region metafise dan epifise di paraosteal os____ d/s
3. Morfologi:
b. Lesi osteolitik
c. Batas permeative / moth eaten dengan tepi sklerotik
4. Access yang timbul:
a. Reaksi periosteal : umumnya terdapat reaksi periosteal
b. Tipe matrix : popcorn like appearance
(ring & arc chondroid matrix mineralization/calcifiaction)
c. Keterlibatan jaringan ikat: umumnya terdapat soft tissue buldging mass

KESAN : aggresive growing tumor, suspect : chondrosarcome

http://images.radiopaedia.org/images/566785/bd54eeafb039a7fa2d06ddc12f2227_big_gall
ery.jpg
9. Osteoma
 Definisi: slow growing osteoblastic tumor
 Epidemiologi: 30-50 tahun, Laki-laki = wanita
 Predileksi:
o Calvaria
o Sinus frontalis dan ethmoidalis
o Tulang tubular panjang dan pendek  parosteal osteoma
 Gambaran Radiologis:
- Penyebaran lesi pada medulla dengan penebalan kortex dan terdapat
kalsifikasi dari chondroid (tampak gambaran popcorn like appearance)
- Biasanya terdapat soft tissue mass
- Perbedaan tampilan berbeda menurut grading chondrosarcoma (Low
,intermediate ,high)
 Deskripsi
o Lesi single
o Letak region metafise epifise diafise os____ d/s
o Morfologi:
o Lesi osteoblastic
o Batas geographic
o Bentuk : ivory like mass sclerotic yg menempel di cortex
o Access yang timbul:
o Reaksi periosteal : umumnya tidak terdapat reaksi periosteal

10. Osteosarkom
 Tumor ganas primer dr tlg yg ditandai pembentukan tlg yg immatur (jar osteoid)
oleh sel2 tumor.
 osteoid dan matrix tulang dibentuk oleh sel malignan dr conn tissue
 penyebab :
Primer : idiopathic
Sekunder : spt pd paget's disease, postradiation
 klasifikasi : primer, sekunder, extraskeletal, metastatic
 nyeri tlg dan bengkak soft tissue.
 usia : 10-20 (laki2 >>>)
 lesi : single
 lokasi : metafisis regio genu (prox tibia, distal femur), prox humerus
 bone destruction : osteolitik, blastik, atau campuran
 border : moth eaten / permeative
 Bentuk lesi : sklerotik
 Matrix type : matrix calcified, osteoid (fluffy)
 periosteal rx : destruksi tlg cortex dan medula (sunburst dan codman triangle)
 soft tissue buldging mass (+)

 Kesan : fast growing tumor

11. Giant Cell Tumor (Osteoclastoma)


 Definisi : adalah lesi agresif yang dikarakteristikkan dengan banyaknya jaringan
bervaskularisasi berisi proliferasi sel stroma mononuklear dan banyak giant cells tipe
osteoclast.
 Neoplasma tulang ke 6 terbesar
 Predileksi : 60% di tulang panjang hampir semua di epifisis, paling banyak di
proksimal tibia, distal femur, distal radius, proksimal humerus.
 Terjadi setelah maturitas skeletal, ketika growth end plate sudah tidak ada
 Multifocal giant cell sangat jarang (1%) biasanya pada penderita paget
disease
 Gejala klinis lesi soliter tidak spesifik
- Nyeri (biasanya hilang dengan istirahat)
- Pembengkakakn lokal
- Pembatasan gerak pada area yang terkena
 Gambaran radiologi
- lesi single
- eccentric
- Purely osteolytic
- Lesi radioluscent dengan zona transisi sempit dengan sedikit tepi yang sklerotik
- Bulging soft tissue mass
- Destruksi tulang tipe geografik
 Histologi
- Mononuclear stromal cells dan multibucleat giant cells
 ± 5% giant cell adalah malignant de novo tidak bisa dilihat dg radiologi
 Kesan : aggresive growing tumor
Frontal oblique

lateral

12. Simple bone cyst


 Mempunyai nama lain ”Solitary Bone Cyst” dan “Unicameral Bone Cyst”
 Merupakan lesi jinak, terisi cairan biasanya serous (darah apabila terjadi fraktur),
bersifat radiolusen dan hampir selalu ditemukan pada anak2
 Ciri : one bone, one location
 Gejala : Jika tidak fraktur, maka SBC ini asimptomatik. Terkadang nyeri, bengkak,
dan kaku pada sendi daerah terkena.
 Umur 1-20 th: laki2 > wanita
20 th: laki2 = wanita
 Predileksi: Proximal diafisis humerus, femur (<17th)
Calcaneus, talus, ilium (orang tua)
 Patogenesis
Patogenesis terjadinya SBC masih belum diketahui, menurut penelitian obstruksi
pada aliran vena dan blokade dari drainase cairan interstitial pada area tulang yg
cepat mengalami pertumbuhan dan remodelling. SBC dapat melakukan ekspansi
yang menyebabkan penipisan korteks tulang sehingga lama kelamaan dapat
menyebabkan fraktur patologis
 Deskripsi:
1. Radiolusen
2. Sentral
3. Well-circumscribed lesion with sclerotic margins
4. Reaksi periosteal negatif
5. Fallen fragment sign (jika terjadi fraktur pada lesi) = migrasi dari fragment tulang
ke posisi tepi dari kista yang berisi cairan

13. Anuerisma bone cyst


 Definisi: lesi osteolitik ekspansif yang terdiri dr rongga yang terisi darah
Sifatnya tumbuh cepat dan destruktif pada tulang panjang, vertebra, tulang pipih.
 Meskipun penyebab lesi ini tidak diketahui, perubahan hemodinamik lokal yang
berhubungan dengan obstruksi vena atau fistula arteriovenosa diyakini memainkan
peran penting. Beberapa peneliti percaya bahwa lesi disebabkan oleh trauma.
Beberapa peneliti, bagaimanapun, menganggap ABC sebagai proses reparatif,
mungkin hasil dari trauma atau tumor yang diinduksi proses anomaly vascular.
 Temuan MRI biasanya memungkinkan diagnosis spesifik ABC. Ini termasuk lesi yang
jelas, sering dengan lobulated contour, rongga kistik dengan fluid-fluid levels,
beberapa septasi internal dan tepi intact sekitar lesi.
 Komplikasi yang paling umum dari ABC adalah fraktur patologis.
 DD: simple bone cyst (SBC), chondromyxoid fibroma, and giant cell tumor.
Poin paling penting dalam diferensiasi ABC dari SBC adalah bahwa former
eksentrik, lesi ekspansif, selalu dikaitkan dengan beberapa derajat reaksi periosteal
(biasanya lapisan padat atau dinding penopang padat). Lesi di sentral, menunjukkan
sedikit jika ada ekspansi dan menunjukkan reaksi periosteal hanya ketika fraktur
patologis telah terjadi. Dalam tulang tipis, seperti ulna, fibula, metakarpal, atau
metatarsal, karakteristik eksenteritas ABC bisa hilang dan, sebaliknya, SBC dapat
menunjukkan gambaran ekspansif. Karena former mengandung jaringan yang solid
sedangkan SBC adalah struktur berongga berisi cairan, tanda fallen fragment (jika
ada) adalah gambaran diferensial yang baik, menunjuk ke diagnosis yang terakhir.
Fibroma Chondromyxoid tidak dapat dibedakan dari ABC karena kedua lesi
yang eksentrik, luas, dan biasanya mempengaruhi metafisis, menunjukkan tepi
sklerotik reaktif dan reaksi solid periosteal (biasanya dalam bentuk buttress). CT dan
MRI kadang-kadang efektif dalam membuat perbedaan ini jika mengidentifikasi
fluid-fluid levels, sebuah fenomena yang menunjuk ke diagnosis ABC karena fibroma
chondromyxoid adalah lesi padat.
Pada mature skeleton, giant cell tumor mungkin sangat menyerupai ABC,
meskipun biasanya tidak terkait dengan reaksi periosteal dan jarang menunjukkan
zona reaktif sclerosis. Giant cell reparative granuloma (disebut juga solid aneurisma
bone cyst) dapat dibedakan dari ABC konvensional. Lesi ini biasanya melibatkan
tulang tubular pendek dari tangan dan kaki. Korteks tipis tapi bersifat intact. Ekstensi
ke dalam jaringan lunak sekitarnya jelas jarang, dan reaksi periosteal biasanya tidak
ada. Dalam tulang tipis, seperti fibula, metakarpal, atau metatarsal, ABC disebabkan
oleh pertumbuhan ekspansif yang dapat merusak korteks, menyerupai tumor agresif
seperti osteosarkoma telangiectatic.
 Treatment:
Operasi pengangkatan seluruh lesi. Kadang, bone grafting bisa memperbaiki
kerusakan. Baru-baru ini, injeksi percutaneous Ethiblocks, suatu cairan corn protein
yang memiliki bahan trombogenic dan fibrogenic, sudah dianjurkan.
Aneurysmal bone cyst. Anteroposterior (A) and lateral (B) radiographs of the lower
leg in an 8-year-old girl with a history of lower leg pain demonstrate an expansive
radiolucent lesion in the metaphysis of the distal tibia, extending into the diaphysis.
Note its eccentric location in the bone and the buttress of periosteal response at the
proximal aspect of the lesion. Biopsy revealed an aneurysmal bone cyst.

14. Ewing Sarcoma

Merupakan neoplasma yg sangat ganas, sering terjadi pada anak2 dan


dewasa, paling banyak mengenai laki -laki , dan disebut sebagai round -cell
tumour.
Histogenesis pasti tidak diketahui, diduga ia berasal dari bone marrow.
Beberapa ahli percaya keganasan sel small round ewing sarcoma mirip
primitive neuroecrodermal tumor (PNET).
Sekitar 90% kasus Ewing sarcoma terja di sebelum umur 25 tahun dan
jarang terjadi pada org kulit hitam. Predileksinya pada diafisis tulang
panjang, ribs, dan flat bones seperti skapula dan pelvis
Pada klinis, ewing sarcoma merupakan massa dengan nyeri yg
terlokalisir atau terdapat gejala siste mik seperti demam, malaise, weight
loss, dan peningkatan eritrosit sedimentation rate. Gejala sistemik ini sering
membuat keliru diagnosa menjadi osteomyelitis.
Penampakan radiografi : lesi poorly defined, ditandai dengan
permeative atau moth-eaten type of bone destruction, dan diasosiasikan
dengan respon periosteal agresif yg membentuk onionskin (atau “onion
peel”) ata, “sunburst” appearance, dan massa soft -tissue besar
Terkadang lesi tulang tidak terlihat dengan massa soft tissue hanya
terlihat pada pemeriksaan radiografi
Pada radionuclide bonne scan, ewing sarcoma menunjukkan uptake
technetium -99m methylene diphosphonate ( 9 9 m Tc-MDP) uptake. Gallium -67-
citrate ( 6 7 Ga-citrate) menunjukkan perluasan tumorsoft tissue. Meskipun
penemuan scintigraphic nonspecific, teknik inin mampu memperlihatkan
metastase skeletal.

CT : pola destruksi tulang, attenuation values (Hounsfield units)


menunjukkan perluasan ke medullary. CT dapat membantu menggambarkann
keterlibatan extraosseous involvement

MRI : perluasan intraosseous dan perkembangan extraosseous tumor ini


secara pasti. Efektif menunjukkan perluasan ke epiphyseal plate. T1 -
weighted images show intermediate to low signal intensity, which becomes
bright on T2 weighting. Region hiposeluler dan area nekrosis intensitasnya
lebih rendah. Imaging setelah injeksi gadolinium -diethylene triamine
pentaacetic acid (Gd -DTPA) menunjukkan tanda enhancement tumor pada
T1-weighted sequences. Enhancement hanya terjadi pada area seluler, yg
membedakannya dengan peri tumoral edema.
Secara histologi, Ewing terdiri dari susunan sel2 kecil uniform dengan
nuclei hiperkromatik bulat, scant cytoplasm, dan tepi sel tidak jelas.
Mitosisnya tinggi dan nekrosisnya ekstensif. Biasanya sitoplasma
mengandung sejumlah glikogen yang terlihat dengan pengecatan periodic
acid-Schiff (PAS) stain. PAS -positive material hilang setelah digesti dengan
diastase, yg menunjukkan fakta adanya glikogen. Terkadan pada beberapa
kasus ewing, glikogen tidak ditemukan. Terlebih, limfoma maligna dan
primitive neural tumor terkadang terdapat glikogen dalam sitoplasmanya.
Secara imonuhistokimia, limfoma dibedakan dengan ewing dengan adanya
leukocyte-common antigen, marker patognomonik pada lymphomas, dan
dibedakan dengan primitive neural tumors dengan ad anya neural protein
antibodies pada primitive neural tumor

Figure 22.6 Skeletal sites of predilection, peak age range, and male -to-
female ratio in Ewing sarcoma .
Figure 22.7 Ewing sarcoma. (A) Lateral radiograph in a 12 -year-old boy
shows the typical appearance of Ewing sarcoma in the fibula. The poorly
defined lesion exhibits permeative bone destruction associated with an
aggressive periosteal reaction ( arrows). (B) CT section through the lesi on
demonstrates a large soft -tissue mass, which is not clear on the
conventional study. Note the complete obliteration of the marrow cavity by
tumor.
Figure 22.8 Ewing sarcoma. (A) Bone destruction is almost imperceptible on
this magnification study in a 10 -year-old girl with Ewing sarcoma of the
distal femoral diaphysis. (B) Lateral radiograph of distal femur, however,
shows a large soft -tissue mass. (C) CT using a bone “window” de monstrates
destruction of the medullary portion of the bone and invasion of the cortex.

Figure 22.9 MRI of Ewing sarcoma . Anteroposterior (A) and lateral (B)
radiographs of the right distal femur of a 7 -year-old girl show permeative
type of bone destruction in the metaphysis and diaphysis associated with a
large soft-tissue mass. Coronal (C) and sagittal (D) T1-weighted (SE;TR
750/TE 20 msec) MR images demonstrate the intraosseous and extraosseous
extent of the tumor. (E) Axial T2-weighted (SE;TR 2000/TE 80 msec) MR
image shows heterogeneous but mostly high signal intensity of the soft -
tissue mass.

Differential Diagnosis

Ewing sering memimik metastatic neuroblastoma or osteomyelitis


seringkali Ewing sarcoma menunjukkan fitur yg dianggap pathognomonic,
yaitu “saucerization” cortex, destruksi permukaan periosteal oleh tumor
dikombinasikan dengan efek tekanan ekstrinsik massa soft tissue besar.
Meskipun tanda ini juga dilaporkan terdapat pada tumor lain, termasuk
osteomyelitis, namun tanda ini dikaitkan dengan lesi permeatif dan massa
soft tissue yang mengarah pada ewing sarcoma. Perbedaan radigrafi ewing
dan metastatic neuroblastoma terkadang susah. Biasanya metastatic
neuroblastoma terjadi pada 3 tahun pertama, sedangkan Ewing sarcoma
jarang terjadi pada 5 tahun pertama lesi ditemukan.

Figure 22.10 Ewing sarcoma . A 24-year-old man presented with pain and
swelling of the left ankle for 8 weeks; he also had a fever. Anteroposterior
radiograph of the ankle demonstrates a destructive lesion of the distal
fibula exhibiting a permeative type of bone destruction and a lamellated
periosteal reaction; a soft -tissue mass is also ev ident. The appearance is
that of infection (osteomyelitis), but biopsy revealed Ewing sarcoma.

Terkadang, Ewing sarcoma mirip osteosarcoma, terutama ketika jika


diikuti pembentukan tulang baru periosteal. Kalsifikasi distrofik massa soft -
tissue dapat memimik pembentukan tumor -bone pada osteosarcoma.
Limfoma dapat dijadikan DD, meskipun lesinya kadang terjadi pada golongan
usia tua. Perbedaan radiologis penting adalah absennya massa soft -tissue
pada limfoma, sedangkan pada ewing massa soft -tissue timbul bervariasi
kadang besarnya disproporsional dibdisbandingstruksi tulangnya.
Perbwedaan ewing dan PNET tidak bisa ditemukan dengan radiografi,
melainkan melalui pemeriksaan histologis.
Treatment

Preoperative kemoterapi, bias berdiri sendiri atau diko mbinasikan


dengan terapi radiasi untuk menyusutkan tumor, diikuti dengan reseksi luas.
Ekstremitas yang terkena tumor dapat direkonstruksi dengan endoprosthesis
atau allograft.

Ewing Sarcoma

 Tumor ganas, dominan mengenai anak-anak dan remaja


 Umur 5-15 tahun
 Laki-laki > perempuan
 Dulunya diperkirakan berasal dari primitive neuroectodermal cells. Sekarang
banyak yang setuju bahwa tumor ini berasal dari messenchymal stem cells. Bentuk
sel : small round cells

 Patofisiologi :
 Small round cells berjalan keluar melalui canalis nutrisi dan terbentuk reaksi
periosteal untuk menutupnya. Hal ini terjadi berulang-ulang  gambaran onion
skin.
 Apabila terjadi agresiv dari tumor tersebut (tumor dan onion skin telah menjadi
sangat besar), maka onion skin akan pecah  gambaran sunburst dan codman
triangle
 Selalu centric karena pertumbuhan tumor berawal dari bagian medulla
 Predileksi : diafisis tulang panjang, costae, tulang pipih seperti scapula dan pelvis
Klinis : terdapat massa terlokalisasi yang nyeri atau gejala sistemik seperti demam,
lelah, kehilangan berat badan dan peningkatan ESR.
 Deskripsi :
1. Lesi single/multiple
2. Terbanyak pada diafisis, tetapi bisa juga pada metafisis. Os ___ D/S. Centic
3. Morfologi :
a. Osteolytic lession
b. Batas permeativ atau moth eaten
4. Akibat yang ditimbulkan :
a. Reaksi periosteal : interrupted dengan codman triangle, sunburst, dan onion skin
appearance
b. Cortex line masih bagus/bisa tererosi
c. Saucerization +/- bentukan seperti piring karena destruksi tulang oleh tumor.
Hanya terjadi pada tempat yang memiliki 2 tulang yang berdampingan. Contoh :
radius-ulna, tibia-fibula
a. Soft tissue bulging mass +

Kesan : aggresive growing tumor. Suspect : Ewing sarcoma


15. Osteomyelitis

Definisi :

Infeksi pada tulang, umumnya pada daerah metafisis tulang panjang.

Etiologi :

 Pyogenic : Staph. Aureus,


 Non pyogenic : TB, syphilis, fungi
Patofisiologi :

Kuman menginfeksi daerah metafisis spongiosa sehingga menimbulkan abses dan pus. Pus
menembus diafisis dan korteks sehingga mengangkat periosteum. Pus meluas di bawah
periosteum dan menimbulkan focus sekunder dan sering menimbulkan sequestra.
Periosteum yang terangkat oleh pus membentuk tulang baru di bawahnya yang disebut
reaksi periosteal. Di dalam tulang di bawah periosteal terbentuk suatu selubung yang
disebut involukrum.

Radiologi :

 Destruksi korteks dan medulla


 Sclerosis reaktif dan reaksi periosteal
 Sequestra dan involukra
Osteomyelitis akut :

 24 – 48 jam : edema soft tissue, hilangnya fascial plane (tempat akumulasi lemak)
tampak garis radioluscent di abdomen
 7 – 10 hari : lesi litik destruktif, positive radionuclide bone scan
 2 – 6 minggu : destruksi progresif pada korteks dan medulla, peningkatan sclerosis
endosteal (formasi reaktif tulang baru), reaksi periosteal.
Osteomyelitis kronis :

 6 – 8 minggu : squestra (area tulang yang nekrosis, pada korteks dan spongiosa)
yang dikelilingi involukrum (selubung tulang baru)
 terbentuk draining sinus tract
Osteomyelitis subakut :

 Brodie abscess (abses pada metafisis tibia atau femur yang memanjang dengan
batas yang well-demarcated dan dikelilingi sclerosis reaktif)
 Sequestra tidak tampak, tapi ada traktus radioluscent dari lesi ke growth plate
 Abses tulang biasanya sampai ke epifiseal plate (jarang yang berkembang dan
terlokalisir di epifisis)
Osteomyelitis akut

Osteomyelitis subakut
Osteomyelitis kronis