Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

Keperawatan Medikal Bedah

“Tumor Intra Abdomen”

OLEH :

ORSYLICHA CECY PUTRI

1741313030

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2018
A. Pengertian
Tumor merupakan sekelompok sel-sel abnormal yang terbentuk hasil proses
pembelahan sel yang berlebihan dan tak terkoordinasi. Dalam bahasa
medisnya, Tumor dikenal sebagai Neoplasia. Neo berarti baru, plasia berarti
pertumbuhan/pembelahan, jadi Neoplasia mengacu pada pertumbuhan sel yang baru, yang
berbeda dari pertumbuhan sel-sel di sekitarnya yang normal. Yang perlu diketahui, sel
tubuh secara umum memiliki 2 tugas utama yaitu melaksanakan aktivitas fungsional nya
serta berkembang biak dengan membelah diri. Namun pada sel tumor yang terjadi adalah
hampir semua energi sel digunakan untuk aktivitas berkembang biak semata. Fungsi
perkembangbiakan ini diatur oleh inti sel (nucleus), akibatnya pada sel tumor dijumpai inti
sel yang membesar karena tuntutan kerja yang meningkat.
Tumor Abdomen merupakan massa yang padat dengan ketebalan yang berbeda-
beda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda
dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Secara patologi kelainan ini mudah
terkelupas dan dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau vena
kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang di
bungkusnya tetapi tidak menginvasinya.
Tumor abdomen adalah suatu massa yang padat dengan ketebalan yang berbeda-
beda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh
secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda
dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Kelainan ini dapat meluas ke
retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau vena kava inferior. Massa jaringan
fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang dibungkusnya tetapi tidak
menginvasinya.
Bagian terbesar dari tumor abdomen terdiri dari neuroblastoma, tumor Wilms,
teratoma, tumor ovarium, limfoma abdomen, hepatoma dan lain–lain. Tumor abdomen
merupakan sepertiga dari seluruh tumor ganas pada anak. Tumor ini sifatnya sangat
berbeda dengan jenis tumor lainnya. Salah satu yang spesial dari tumor ini adalah sangat
sulit untuk dideteksi.Pada umumnya anak dengan tumor abdomen hampir tidak
memberikan keluhan apabila masih dini, bahkan tidak jarang keluhan tidak atau belum
timbul walaupun tumor telah dapat diraba. Hal ini diakibatkan oleh sifat rongga perut
yang yang longgar, sehingga bila ada massa di dalamnya, dapat tumbuh sampai cukup
besar tanpa mengganggu organ di sekitarnya.

B. Klasifikasi
Dewasa :
- Tumor hepar
- Tumor limpa / lien
- Tumor lambung / usus halus
- Tumor colon
- Tumor ginjal (hipernefroma)
- Tumor pankreas
Anak-anak :
- Tumor wilms (ginjal)

C. Bagian- Bagian Dari Tumor Abdomen


Adapun bagian-bagian dari tumor abdomen adalah:
1. Neuroblastoma
Neuroblastoma merupakan tumor lunak, padat yang berasal dari sel-sel crest
neuralis yang merupakan prekusor dari medula adrenal dan sistem saraf simpatis.
Neuroblastoma dapat timbul di tempat terdapatnya jaringan saraf simpatis. Tempat
tumor primer yang umum adalah abdomen, kelenjar adrenal atau ganglia paraspinal
toraks, leher dan pelvis. Neuroblastoma umumnya bersimpati dan seringkali
bergeseran dengan jaringan atau organ yang berdekatan. Tumor ini paling banyak
berasal dari kelenjar adrenal dan gejala yang ditimbulkan merupakan akibat
dilepaskannya metabolit katekolamin secara berlebihan yaitu berupa hipertensi,
kemerahan (flushing), keringat yang berlebihan dan demam. Bila tumor telah
membesar menyebabkan perasaan tidak nyaman dan penuh dalam perut disertai
penurunan berat badan sampai failure to thrive. Ditemukannya benjolan-benjolan
subkutis terutama di daerah kepala atau proptosis dan ekimosis periorbita, merupakan
gambaran penyakit yang lanjut atau metastasis.
Kadar vanillyl mandelic acid (VMA) ialah suatu derivat katekolamin biasanya
meningkat dan dapat ditemukan dalam urin penderita. Pemeriksaan foto polos
abdomen tidak jarang dapat ditemukan tanda-tanda perkapuran dalam massa tumor
dan pada pielografi intravena biasanya sistem pelviokalises masih baik hanya letaknya
berubah. Pemeriksaan USG dan CT scan dapat lebih mengetahui perluasan tumor dan
metastasis. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis tumor,
kadang-kadang diperlukan pemeriksaan imunohistokimia seperti neurofilament,
synaptophysin dan neuron specific enolase (NSE) pada stadium lanjut dapat
ditemukan kelompok-kelompok metastasis neuroblastoma dalam sumsum tulang.
Kebanyakan etiologi dari neuroblastoma adalah tidak diketahui. Ada laporan yang
menyebutkan bahwa timbulnya neuroblastoma infantile (pada anak-anak) berkaitan
dengan orang tua atau selama hamil terpapar obat-obatan atau zat kimia tertentu
seperti hidantoin, etanol, dll. (Willie, 2008). Kelainan sitogenik yang terjadi pada
neuroblastoma kira-kira pada 80% kasus, meliputi penghapusan (delesi) parsial lengan
pendek kromosom 1, anomali kromosom 17, dan ampifilatik genomik dari oncogen N-
Myc, suatu indikator prognosis buruk (Nelson, 2000).
Menurut Cecily & Linda (2002), gejala dari neuroblastoma yaitu:
Gejala yang berhubungan dengan massa retroperitoneal, kelenjar adrenal,
paraspinal.
a. Massa abdomen tidak teratur,tidak nyeri tekan, keras, yang melintasi garis tengah.
b. Perubahan fungsi usus dan kandung kemih
c. Kompresi vaskuler karena edema ekstremitas bawah
d. Sakit punggung, kelemahan ekstremitas bawah
e. Defisit sensoris
f. Hilangnya kendali sfingter
Gejala-gejala yang berhubunngan dengan masa leher atau toraks.
a. Limfadenopati servikal dan suprakavikular
b. Kongesti dan edema pada wajah
c. Disfungsi pernafasan
d. Sakit kepala
e. Proptosis orbital ekimotik
f. Miosis
g. Ptosis
h. Eksoftalmos
i. Anhidrosis
Menurut Willie (2008) manifestasi klinis dari neuroblastoma berbeda tergantung dari
lokasi metastasenya:
a. Neuroblastoma retroperitoneal
Massa menekan organ dalam abdomen dapat timbul nyeri abdomen, pemeriksaan
menemukan masa abdominal yang konsistensinya keras dan nodular, tidak
bergerak, massa tidak nyeri dan sering melewati garis tengah. Pasien stadium
lanjut sering disertai asites, pelebaran vena dinding abdomen, edema dinding
abdomen.
b. Neurobalstoma mediastinal
Kebanyakan di paravertebral mediastinum posterior, lebih sering di mediastinum
superior daripada inferior. Pada awalnya tanpa gejala, namun bila massa besar
dapat menekan dan timbul batuk kering, infeksi saluran nafas, sulit menelan. Bila
penekanan terjadi pada radiks saraf spinal, dapat timbul parastesia dan nyeri
lengan.
c. Neuroblastoma leher
Mudah ditemukan, namun mudah disalahdiagnosis sebagai limfadenitis atau
limfoma maligna. Sering karena menekan ganglion servikotorakal hingga timbul
syndrome paralisis saraf simpatis leher(Syndrom horner), timbiul miosis unilateral,
blefaroptosis dan diskolorasi iris pada mata.
d. Neuroblastoma pelvis
Terletak di posterior kolon presakral, relative dini menekan organ sekitarnya
sehingga menimbulkan gejala sembelit sulit defekasi, dan retensi urin.
e. Neuroblastoma berbentuk barbell
yaitu neuroblastoma paravertebral melalui celah intervertebral ekstensi ke dalam
canalis vertebral di ekstradural. Gejala klinisnya berupa tulang belakang kaku
tegak, kelainan sensibilitas, nyeri. Dapat terjadi hipomiotonia ekstremitas bawah
bahkan paralisis.

2. Nefroblastoma (Tumor Wilms’)


Tumor Wilm’s ini terjadi pada parenchym renal. Penyebabnya tidak di ketahui
secara pasti,tetapi juga di duga melibatkan faktor genetik.Kurang dari 2 % terjangkit
karena faktor keturunan.Kebanyakan kasus terjadi secara sporadik dan merupakan
hasil dari mutasi genetik yang mempengaruhi perkembangan sel-sel di ginjal. Dapat
berhubungan dengan kelainan bawaan tertentu,seperti :
a. Kelainan saluran kemih
b. Anridia ( tidak memiliki iris )
c. Hemyhipertrofi ( pembesaran separuh bagian tubuh)
Tumor bisa tumbuh cukup besar,tetapi biasanya tetap berada dalam
kapsulnya.Tumor bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.Tumor Wilm’s di
temukan pada 1 diantara 200.000 – 250.000 anak-anak.Biasanya umur rata-rata
terjangkit kanker ini antara 3-5 tahun baik laki-aki maupun perempuan.
Tumor tersebut tumbuh dengan cpat di lokasi yang dapat unilateral atau
bilateral.Pertumbuhan tumor tersebut akan meluas atau menyimpang ke luar
renal.Mempunyai gambaran khas berupa glomerulus dan tubulus yang primitif atau
abortif dengan ruangan bowman yang tidak nyata, dan tubulus abortif di kelilingi
stroma sel kumparan.
Pertama-tama jaringan ginjal hanya mengalami distorsi,tetapi kemudian di invasi
oleh sel tumor.Tumor ini pada sayatan memperlihatkan warna yang putih atau keabu-
abuan homogen,lunak dan encepaloid (menyerupai jaringan ikat ).Tumor tersebut akan
menyebar atau meluas hingga ke abdomen dan di katakana sebagai suatu massa
abdomen.Akan teraba pada abdominal dengan di lakukan palpasi.
Tumor ini bila telah menyebar dapat menimbulkan hematuria. Disamping itu
dapat disertai hipertensi karena tumor ini dapat merangsang aktifitas renin. Gejala
tersebut dapat disertai nyeri, demam ataupun kadang-kadang anemia atau gejala tumor
abdomen umumnya. Tumor Wilms’ disebut dalam kepustakaan dapat disertai aniridia
dan hemihipertrofi, walaupun keadaan tersebut sangat jarang. Pada pielografi
intravena biasanya ditemukan gambaran sistem pelviokalises yang rusak atau gambar
hidronefrosis dan tidak jarang gambaran sekresi ginjal tidak tampak. Pada stadium
lanjut dapat ditemukan gambaran metastasis dalam paru. Ultrasonografi dan CT scan
walaupun tidak mutlak tetapi sangat membantu menegakkan diagnosis dan juga
mencari metastasis. Diagnosis pasti ditentukan dengan pemeriksaan histopatologi dari
ginjal yang berisi tumor yang telah diangkat pada laparatomi eksplorasi.
Menurut NWTS (National Wilm’s Tumor Study ) setelah di lakukan tindakan
Nefroktomi,tingkat penyebaran di bagi menjadi 5 stadium dan rekuren:
a. Stadium I : Tumor terbatas pada ginjal dan dapat di eksisi sempurna
b. Stadium II : Tumor meluas keuar ginjal dan dapat di eksisi sempurna,mungkin
telah mengadakan penetrasi ke jaringan lemak perirenal,limfonodi paraaorta atau
ke vasa renalis
c. Stadium III : Ada sisa sel tumor di abdomen yang mungkin berasal dari biopsi atau
ruptur yang terjadi sebelum atau selama operasi
d. Stadium IV : Metastasis ke hematogen,paru-paru,hati,tulang,dan otak
e. Stadium V : Tumor Bilateral.Rekuren = terjadi lagi kanker setelah di terapi,dapat
di tempat pertama kali terjadi atau di organ lain
Keluhan utama biasanya hanya benjolan di perut, perutnya membuncit ketika
di bawa ke Dokter oleh orang tuanya, hematuri karena invasi tumor yang menembus
sistem pelveokalises.Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh terhadap
protein tumor.Gejala lain yang bisa muncul adalah :
a. Malaise (merasa tidak enak badan)
b. Anorexia
c. Anemia
d. Lethargi
e. Hemihypertrofi
f. Nafas pendek,dyspnea,batuk,nyeri dada (karena ada metastase)

3. Limfoma Abdomen
Limfoma abdomen dapat timbul dari kelenjar getah bening di hati, limpa dan usus.
Apabila timbul di hati atau limpa akan menyebabkan hepatomegali atau splenomegali
atau keduanya. Tetapi bila timbulnya di usus, maka massa tumor dapat menyebabkan
obstruksi usus atau sebagai leading point untuk terjadinya intususepsi. Gejala yang
dapat timbul ialah nyeri disertai pembengkakan perut dan perubahan kebiasaan buang
air besar serta gejala obstruksi usus serta mual dan muntah. Perdarahan saluran cerna
jarang terjadi apalagi perforasi usus. Biasanya pasien dengan gejala seperti tersebut di
atas datang pada ahli bedah. Pemeriksaan radiologik yang diperlukan ialah barium
meal terutama bila obstruksinya parsial. Dapat pula dilakukan pemeriksaan USG usus.

4. Teratoma
Tumor yang berasal dari sel germinativum ini dapat timbul di mana–mana. Tumor
yang asalnya dari rongga abdomen hanya sekitar 1-2% dan biasanya letaknya
retroperitoneal. Kira-kira 29% teratoma berasal dari ovarium. Teratoma retroperitoneal
harus dibedakan dengan tumor Wilms, neuroblastoma atau rhabdomiosarkoma. Selain
ditemukan massa tumor dalam abdomen yang biasanya cukup besar, untuk teratoma
matur, pada pemeriksaan foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran gigi, tulang
dan lain-lain.

5. Rhabdomiosarkoma
Umumnya sebagian tumor ini berasal dari rongga pelvis, tetapi bila sudah besar dapat
mendesak ke rongga abdomen sehingga secara klinis sukar dibedakan asalnya.
Tumor ini dapat memberikan gejala hematuria, sekret berdarah ataupun obstruksi
saluran kemih. Pada anak perempuan tumor dapat keluar melalui vagina khususnya
jenis botryoid, sehingga diagnosis menjadi lebih mudah. Pemeriksaan penunjang lain
untuk tumor ini tidak banyak memberikan bantuan kecuali pemeriksaan histopatologis
dan imunohistokimia seperti vimentin, actin, myosin dan desmin.

D. Etiologi
Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang abnormal. Pembelahan
sel tumor tergantung drai besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsi autonomnya
dalam pertumbuhan, kemampuannya mengadakan infiltrasi dan menyebabkan metastasis.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tumor antara lain:
1. Karsinogen
a. Kimiawi
Bahan kimia dapat berpengrauh langsung (karsinogen) atau memerlukan
aktivasi terlebih dahulu (ko-karsinogen) untuk menimbulkan neoplasi. Bahan kimia
ini dapat merupakan bahan alami atau bahan sintetik/semisintetik. Benzopire suatu
pencemar lingkungan yang terdapat di mana saja, berasal dari pembakaran tak
sempurna pada mesin mobil dan atau mesin lain (jelaga dan ter) dan terkenal
sebagai suatu karsinogen bagi hewan maupun manusia. Berbagai karsinogen lain
antara lain nikel arsen, aflatoksin, vinilklorida. Salah satu jenis benzo (a) piren,
yakni, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), yang banyak ditemukan di dalam
makanana yang dibakar menggunakan arang menimbulkan kerusakan DNA
sehingga menyebabkan neoplasia usus, payudara atau prostat.
b. Fisik
Radiasi gelombang radioaktif seirng menyebabkan keganasan. Sumber radiasi
lain adalah pajanan ultraviolet yang diperkirakan bertambah besar dengan
hilangnya lapisan ozon pada muka bumi bagian selatan. Iritasi kronis pada mukosa
yang disebabkan oleh bahan korosif atau penyakit tertentu juga bisa menyebabkan
terjadinya neoplasia.
c. Viral
Dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jenis asam ribonukleatnya; virus DNA
serta RNA. Virus DNA yang sering dihubungkan dengan kanker antara human
papiloma virus (HPV), Epstein-Barr virus (EPV), hepatiti B virus (HBV), dan
hepatitis C virus (HCV). Virus RNA yang karsonogenik adalah human T-cell
leukemia virus I (HTLV-I) .
2. Hormone
Hormon dapat merupakan promoter kegananasan.
3. Gaya hidup, kelebihan nutrisi khususnya lemak dan kebiasaan makan makanan yang
kurang berserat.
4. Parasit: parasit schistosoma hematobin yang mengakibatkan karsinoma planoseluler
5. Genetic
6. Infeksi, trauma, hipersensitivitas terhadap obat-obatan

E. Patofisiologi
Tumor adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal di ubah oleh mutasi
ganetic dari DNA seluler, sel abnormal ini membentuk kolon dan ber popliferasi secar
abnormal, mengabaikan sinyal mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel
tersebut.
Sel-sel neoplasma mandapat energi terutama dari anaerob karena kemampuan sel untuk
oksidasi berkurang, meskipun mempunyai enzim yang lengkap untuk oksidasi. Susunan
enzim sel uniform sehingga lebih mengutamakan berkembang biak yang
membutuhkan energi unruk anabolisme daripada untuk berfungsi yang lmenghasilkan
energi dengan jalan katabolisme. Jarinagan yang tumbuh memerlukan bahan- bahan tuk
membentuk protioplasma dan energi, antara lain asam amino. Sel-sel neoplasma
dapat mengalahkan sel- sel normal dalm mendapatkan bahan- bahan tersebut.(Kusuma,
Budi dr g. 2001).
Ketika dicapai suatu tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri invasi, dan terjadi
perubahan pada jar ingan sekitarnya. Sel- sel tersebut menginfiltrasi jaringan dan
memperoleh akses ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluh darah
tersebut sel-sel dapat terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk metastase
(penyebaran tumor) pada bagian tubuh yang lain Meskipun penyakit ini dapat diuraikan
secara umum seperti yang telah digunakan namun tumor bukan suatu penyakit tunggal
dengan penyebab tunggal: tetapi lebih kepada suatu kelompok penyakit yang jelas denagn
penyebab, metastase, pengobatan dan prognosa yang berbeda (Smelstzer, Suzanne
C.2001).

F. Manifestasi Klinik
a. Keluhan yang menonjol adalah nyeri perut. Adapun jenis nyeri perut terdiri dari:
a. Nyeri Viseral
Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut.
Peritonium visceral yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf
otonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. Akan tetapi bila
dilakukan regangan organ atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang
menyebabkan iskhemia akan timbul nyeri. Pasien biasanya tidak dapat
menunjukkan secara tepat letak nyeri. Nyeri visceral disebut juga sebagai nyeri
sentral.
Penderita memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan organ
embrional yang terlibat. Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut)
menyebabkan nyeri di ulu hati atau epgastrium. Saluran cerna yang berasal dari
usus tengah (midgut) menyebabkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian saluran
cerna yang berasal dari usus belakang (hindgut) menyebabkan nyeri di perut
bagian bawah. Demikian juga nyeri dari buli-buli atau rektosigmoid. Karena tidak
disertai rangsang peritonium nyeri ini tidak dipengaruhi gerakan sehingga
penderita dapat aktif bergerak. Persarafan sensorik organ perut:

Organ atau struktur Saraf Tingkat persarafan


Bagian tengah diafragma n. frenikus C3-5
Tepi diafragma, lambung, pankreas, Pleksus seliakus Th. 6-9
kandung empedu, usus halus
Apendiks, kolon proksimal, dan organ Pleksus mesenterikus Th. 10-11
panggul
Kolon distal, rektum, ginjal, ureter, dan n. splanknikus kaudal Th. 11-L1
testis
Buli-buli, rektosigmoid Pleksus hipogastrik S2-S3

b. Nyeri Somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf
tepi, dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk atau disayat, dan
pasien dapat menunjukkan secara tepat letaknya dengan jari. Rangsang yang
menimbulkan nyeri ini berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi atau proses
radang.
Gesekan antara visera yang meradang menimbulkan rangsang peritoneum dan
menyebabkan nyeri. Perdangannya sendiri maupun gesekan antar kedua
peritoneum menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan inilah yang
menjelaskan nyeri kontralateral pada apendisitis akut.

Letak nyeri somatik :


Letak Organ
Abdomen kanan atas Kandung empedu, hati, duodenum,
pankreas, kolon, paru, miokard
Epigastrium Lambung, pankreas, duodenum, paru,
kolon
Abdomen kiri atas Limpa, kolon, ginjal, pankreas, paru
Abdomen kanan bawah Apendiks, adneksa, sekum, ileum,
ureter
Abdomen kiri bawah Kolon, adneksa, ureter
Suprapubik Buli-buli, uterus, usus halus
Periumbilikal Usus halus
Pinggang/punggung Pankreas, aorta, ginjal

b. Hiperplasia
c. Konsistensi tumor umumnya padat atau keras
d. Tumor epital biasanya mengandung sedikit jaringan ikat dan apabila berasal dari
masenkim yang banyak mengandung jaringan ikat maka akan elastic kenyal atau
lunak.
e. Kadang tampak hipervaskulari disekitar tumor.
f. Biasa terjadi pengerutan dam mengalami retraksi.
g. Edema disekitar tumor disebabkan infiltrasi kepembuluh limfe.
h. Anoreksia, mual, muntah.
i. Penurunan berat badan

G. Pemeriksaan Diagnostik
Prosedur diagnostik yang biasa dilakukan meliputi:
1. Marker tumor
Substansi yang ditemukan dalam darah atau cairan tubuh lain yang dibentuk oleh
tumor atau oleh tubuh dalam berespon terhadap tumor.
2. Pencitraan resonansi magnetic (MRI)
Penggunaan medan magnet dan sinyal frekuensi_radio untuk menghasilkan gambatan
berbagai struktur tubuh.
3. CT Scan
Menggunakan pancaran sinar sempit sinar-X untuk memindai susunan lapisan jaringan
untuk memberikan pandangan potongan melintang.
4. Flouroskopi
Menggunakan sinar-X yang memperlihatkan perbedaan ketebalan antar jaringan;
dap[at ,mencakup penggunaan bahan kontras.
5. Ultrasound
Echo dari gelombang bunyi berfrekuensi tinggi direkam pada layer penerima,
digunkan untuk mengkaji jarinagn yang dalam di dalam tubuh.
6. Endoskopi
Memvisualkan langsung rongga tubuh atau saluran denagan memasukan suatu ke
dalam rongga tubuh atau ostium tubuh; memungkinkan dilakukannya biopsy jaringan,
aspirasi dan eksisi tumor yang kecil.
7. Pencitraan kedokteran nuklir
Menggunakan suntikan intravena atau menelan bahan radiosisotope yang diikuti
dengan pencitraan yang menkadi yempat berkumpulnya radioisotope.(Smeltzer,
Suzanne C.2001).

H. Penatalaksanaan Medik
1. Pembedahan
Pembedahan adalah modalitas penanganan utama, biasanya gasterektoni subtotal atau
total, dan digunakan untuk baik pengobatan maupun paliasi.
2. Pasien dengan tumor lambung tanpa biopsy dan tidak ada bukti matastatis jauh harus
menjalani laparotomi eksplorasi atau seliatomi untuk menentukan apakah pasien harus
menjalani prosedur kuratif atau paliatif. Komplikasi yang berkaitan dengan tindakan
adalah injeksi, perdarahan, ileus, dan kebocoran anastomoisis.(Smeltzer, Suzanne C.
2001)
 Laparatomi
Laparatomi adalah salah satu jenis operasi yang di lakukan pada daerah
abdomen. Operasi laparatomy di lakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang
berat pada area abdomen, misalnya trauma abdomen. Perawatan post laparatomi
adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah
menjalani operasi pembedahan perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5
cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya
pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian
bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi
appendictomy.
Indikasi
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
b. Peritonitis
c. Perdarahan saluran pencernaan.
d. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
e. Masa pada abdomen
Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan
3. Radioterapi
Penggunaaan partikel energy tinggi untuk menghancurkan sel-sel dalam pengobatan
tumor dapat menyebabkan perubahan pada DNA dan RNA sel tumor. Bentuk energy
yang digunakan pada radioterapi adalah ionisasi radiasi yaitu energy tertinggi dalam
spektrum elektromagnetik.
4. Kemoterapi
Kemoterapi sekarang telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk reseksi tumor,
untuk tumor lambung tingkat tinggi lanjutan dan pada kombinasi dengan terapi radiasi
dengan melawan sel dalam proses pembelahan, tumor dengan fraksi pembelahan yang
tinggi ditangani lebih efektif dengan kemoterapi.
5. Bioterapi
Terapi biologis atau bioterapi sebagai modalitas pengobatankeempat untuk kanker
dengan menstimulasi system imun(biologic response modifiers/BRM) berupa
antibody monoclonal, vaksin, factor stimulasi koloni, interferon, interleukin.(Danielle
Gale. 2000).
I. Komplikasi Tumor Abdomen
Komplikais yang dapat timbul akibat tumor yaitu
a. Metastase
b. Prognosis buruk
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Pola Fungsional Gordon :
1. Aktivitas istirahat
Gelaja : kelemahan dan keletihan
2. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri, dada pada pengarahan kerja.
Kebiasaan : perubahan pada TD
3. Integritas ego
Gejala : alopesia, lesi cacat pembedahan
Tanda : menyangkal, menarik diri dan marah
4. Eliminasi
Gejala : perubahan pada pola defekasi misalnya : darh pada feces, nyaeri pada
defekasi.
Perubahan eliminasi urunarius misalnya nyeri atau ras terbakar pada saat berkemih,
hematuria, sering berkemih.
Tanda : perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
5. Makanan/cairan
Gejala : kebiasaan diet buruk ( rendah serat, tinggi lemak, aditif bahan pengawet).
Anoreksisa, mual/muntah.
Intoleransi makanan
Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan hebat, berkuranganya massa otot.
Tanda : perubahan pada kelembapan/tugor kulit, edema.
6. Neurosensori
Gejala : pusing, sinkope.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : ketidaknyamanan ringan sampai berat (dihubungkan dengan proses penyakit)
8. Pernafasan
Gejala : merokok(tembakau, mariyuana, hidup denan sesoramh yang
merokok.)Pemajanan asbes.
9. Keamanan
Gejala : pemajanan bahan kimia toksik. Karsinogen
10. Pemajanan matahari lama/berlebihan.
Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi.
11. Seksualitas
Gejala : masalah seksualitas misalnya dampak pada hubungan perubahan pada tingkat
kepuasan.
12. Interaksi social
Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung

Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)


a. Kepala
 Infeksi
1. Keadaan rambut & hygiene kepala : bersih
2. Penyebaran : merata
3. Mudah rontok : Ya
4. Kebersihan rambut : bersih
 Palpasi
1. Benjolan : tidak ada
2. Nyeri tekanan : tidak ada
3. Tekstur rambut : halus
b.Mata
 Inspeksi
1. Palpebra : normal
2. Sclera : putih
3. Conjungtiva : anemis
4. Pupil : isokor
5. Reflex cahaya : simetris
6. Gerakan bola mata : positif
7. Posisi mata : simetris
8. Gerakan bola mata : baik ke segala arah
9. Penutup kelopak mata : baik
10. Penglihatan : jelas
 Palpasi: Tekanan bola mata : tidak ada nyeri tekan
a. Hidung dan sinus
 Inspeksi
1. Posisi hidung : simetris
2. Warna mukosa : merah muda
3. Pernafasan cuping hidung : Ada
4. Secret/cairan : tidak ada
b. Telinga
 Inspeksi
1. Posisi telinga : simetris
2. Ukuran/bentuk telinga: normal / simetris
3. Lubang telinga: bersih
4. Pemakaian alat bantu : tidak ada
 Palpasi: nyeri tekan : tidak ada nyeri tekan
c. Mulut
 Inspeksi
1. Gigi
 Warna gigi : kuning
 Kurang gigi atau karies : tidak ada
 Pemakaian gig palsu :tidak ada
2. Gusi : merah
3. Lidah : bersih
4. Bibir : pucat
5. Mulut : tidak berbau
6. Kemampuan bicara : anak hanya meringis
d. Leher
 Inspeksi
Kelenjar tiroid : tidak ada
 Palpasi
Kelenjar tiroid : tidak ada

Kaku kuduk : tidak ada

Kelenjar limfe : tidak ada

e. Thorax dan pernafasan


 Inspeksi
Bentuk dada : simetris

Irama pernafasan : reguler

Retraksi dinding d ada : terdapat retraksi dinding dada

Tipe pernafasan : Pernafasan perut

 Palpasi
Vocal fremitus : tidak ada

Massa/nyeri : tidak ada

 Auskultasi
Suara nafas : vesikuler

Suara tambahan : tidak ada

 Perkusi : sonor
f. Jantung
 Palpasi: Ictus cordis : tidak teraba
 Perskusi
Pembesaran jantung : tidak ada
 Auskultasi : S1 S2 tunggal
g. Abdomen
 Inspeksi
Membuncit : ya
Luka : tidak
 Palpasi
Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
Nyeri tekan : ada nyeri tekan
 Auskultasi : peristaltic 4x / menit
 Perkusi : dullness
h. Genetalian dan anus : tidak ada hemoroid , tidak ada pembengkakan pada skrotum
i. Ekstermitas
 Kekuatan otot :
 Oedem : tidak ada
 Pergerakan : lemah
 Luka / lesi : tidak ada

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operasi
1. Ketakuatan/ansietas b/d perubahan status kesehatan.
2. Nyeri (akut) b/d proses penyakit
3. Kurang pengetahuan mengenai prognisis dan kebutuhan pengobatan.
Post operasi
1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan
pembedahan.
2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

C. RENCANA KEPERAWATAN
Pre operasi
1. Ansietas/cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam rasa kecemasan klien
berkurang
Kriteria hasil :
a. berkurangnya rasa takut
b. Tampak rileks
Intervensi Rasional
a. Kaji penyebab dari kecemasan klien. a. Mempermudah perawat melakukan
intervensi yang tepat.
b. Memberikan kesempatan untuk
b. Dorong klien untuk mengungkapkan
memeriksa takut realistis serta
pikiran dan perasaan.
kesalahan konsep tentang diagnosis.
c. Membantu klien untuk merasa
c. Berikan lingkungan terbuka dimana
diterima pada adanya kondisi tanpa
klien merasa aman untuk
perasaan dihakimi dan
mendiskusikan perasaannya.
meningkatkan rasa terhormat.
d. Memberikan keyakinan bahwa klien
d. Pertahankan kontak sesering mungkin tidak sendiri atau ditolak.
e. Dukungan dan konseling sesering
dengan klien.
e. Bantu klien/keluarga dalam diperlukan untuk memungkinkan
mengenali dan mengklasifikasikan individu mengenal dan menghadapi
rasa takut untuk memulai rasa takut.
mengembangkan strategi koping.

2. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit.


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam rasa kecemasan klien
berkurang
Hasil yang diharapkan :
a. Melaporkan nyeri yang dirasakan menurun atau menghilang
b. Ekspresi wajah tampak rileks
Intervensi Rasional
a. Tentukan riwayat nyeri misalnya a. Informasi memberikan data dasar
lokasi, durasi dan skala untuk mengevaluasi kebutuhan /
keefektifan intervensi.
b. Berikan tindakan kenyaman dasar
b. Dapat meningkatkan relaksasi
misal: massage punggung dan
aktivitas hiburan misalnya music.
c. Dorong penggunaan keterampilan
c. Memungkinkan klien untuk
manajement nyeri misalnya relaksasi
berpartisipasi secara aktif dalam
napas dalam.
d. Kolaborasi pemberian analgetik meningkatkan rasa control.
d. Analgetik dapat menghambat
sesuai indikasi
stimulus nyeri.

3. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat mengungkapkan
informasi akurat tentang diagnose dan aturan pengobatan
Intervensi Rasional
a. Review pengertian klien dan a. Menghindari adanya duplikasi
keluarga tentang diagnosa, dan pengulangan terhadap
pengobatan dan akibatnya. pengetahuan klien.
b. Tentukan persepsi klien tentang b. Memungkinkan dilakukan
penyakit dan pengobatannya, pembenaran terhadap kesalahan
ceritakan pada klien tentang persepsi dan konsepsi serta
pengalaman klien lain yang kesalahan pengertian.
menderita penyakit yang sama
c. Beri informasi yang akurat dan c. Membantu klien dalam
faktual. Jawab pertanyaan secara memahami proses penyakit.
spesifik, hindarkan informasi yang
tidak diperlukan.
d. Berikan bimbingan kepada d. Membantu klien dan keluarga
klien/keluarga sebelum mengikuti dalam membuat keputusan
prosedur pengobatan, therapy yang pengobatan.
lama, komplikasi. Jujurlah pada
klien.
e. Anjurkan klien untuk e. Mengetahui sampai sejauhmana
memberikan umpan balik verbal dan pemahaman klien dan keluarga
mengkoreksi miskonsepsi tentang mengenai penyakit klien.
penyakitnya. f. Meningkatkan pengetahuan klien
f. Review klien /keluarga tentang dan keluarga mengenai nutrisi yang
pentingnya status nutrisi yang adekuat.
optimal. g. Mengkaji perkembangan proses-
g. Anjurkan klien untuk mengkaji proses penyembuhan dan tanda-
membran mukosa mulutnya secara tanda infeksi serta masalah dengan
rutin, perhatikan adanya eritema, kesehatan mulut yang dapat
ulcerasi. mempengaruhi intake makanan dan
minuman.
h. Meningkatkan integritas kulit
h. Anjurkan klien memelihara dan kepala.
kebersihan kulit dan rambut.

Post operasi
1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan
pembedahan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam voume cairan seimbang.
Kriteria hasil :
membrane mukosa lembab, turgor kulit dan pengisian kapiler baik tanda vital stabil
dan haluaran urien adekuat.
Intervensi Rasional
a. Monitor intake dan output a. Pemasukan oral yang tidak adekuat
termasuk keluaran yang tidak dapat menyebabkan hipovolemia.
normal seperti emesis, diare,
drainase luka. Hitung keseimbangan
selama 24 jam. b. Dengan memonitor berat badan
b. Timbang berat badan jika dapat diketahui bila ada
diperlukan. ketidakseimbangan cairan.
c. Tanda-tanda hipovolemia segera
c. Monitor vital signs. Evaluasi diketahui dengan adanya takikardi,
pulse peripheral, capilarry refil. hipotensi dan suhu tubuh yang
meningkat berhubungan dengan
dehidrasi.
d. Dengan mengetahui tanda-tanda
d. Kaji turgor kulit dan keadaan dehidrasi dapat mencegah terjadinya
membran mukosa. Catat keadaan hipovolemia.
kehausan pada klien. e. Memenuhi kebutuhan cairan yang
e. Anjurkan intake cairan samapi kurang.
3000 ml per hari sesuai kebutuhan
individu. f. Segera diketahui adanya perubahan
f. Observasi kemungkinan keseimbangan volume cairan.
perdarahan seperti perlukaan pada
membran mukosa, luka bedah,
adanya ekimosis dan pethekie. g. Mencegah terjadinya perdarahan.
g. Hindarkan trauma dan tekanan
yang berlebihan pada luka bedah.
Kolaboratif h. Memenuhi kebutuhan cairan yang
h. Berikan cairan IV bila diperlukan. kurang.
i. Mencegah/menghilangkan mual
i. Berikan therapy antiemetik. muntah.
j. Mengetahui perubahan yang terjadi.
j. Monitor hasil laboratorium : Hb,
elektrolit, albumin

2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi.


Tujuan : Nyeri dapat berkurang
Kriteria : Klien mengungkapkan nyeri berkurang dan ekspres wajah normal.

Intervensi Rasional
a. Kaji nyeri meliputi lokasi, tempat, a. Mengevaluasi kebutuhan/ keefektifan
faktor pencetus, durasi, dan kualitas. intervensi.
b. Observasi isyarat ketidaknyamanan b. Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri,
non verbal. menentukan pilihan intervensi,
menentukan efektivitas terapi
c. Ajarkan penggunaan teknik non
c. Membantu untuk memfokuskan
farmakologis: teknik relaksasi napas
kembali perhatian dan membantu
dalam selama aktivitas yang
pasien untuk mengatasi nyeri/rasa
menyakitkan dan sebelum nyeri
tidak nyaman secara lebih efektif.
meningkat.
d. Berikan informasi tentang nyeri,
d. Memberikan kesempatan untuk
seperti penyebab nyeri, seberapa lama
pemberian analgesik sesuai waktu
akan berlangsung, dan antisipasi
(membantu dalam meningkatkan
ketidaknyamanan.
kemampuan koping pasien dan dapat
menurunkan ansietas).
e. Kolaborasi pemberian analgesik.
e. Efek analgetik yaitu memblok stimulus
nyeri disistem saraf pusat.

3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi.


Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi.
Kriteria: Luka sembuh dengan baik, verband tidak basah dan tidak ada tanda-tanda
infeksi (kalor, dolor, rubor, tumor).
Intervensi Rasional
a. Cuci tangan sebelum melakukan a. Mencegah terjadinya infeksi
tindakan. Pengunjung juga silang.
dianjurkan melakukan hal yang
sama
b. Jaga personal hygine klien
dengan baik. b. Menurunkan/mengurangi adanya
c. Monitor temperatur organisme hidup
c. Peningkatan suhu merupakan
d. Kaji semua sistem untuk melihat tanda terjadinya infeksi
tanda-tanda infeksi d. Mencegah/mengurangi
e. Hindarkan/batasi prosedur invasif terjadinya resiko infeksi
dan jaga aseptik prosedur e. Mencegah terjadinya infeksi
Kolaboratif
f. Monitor CBC, WBC, granulosit,
platelets. f. Segera dapat diketahui apabila
g. Berikan antibiotik bila terjadi infeksi.
diindikasikan. g. Adanya indikasi yang jelas
sehingga antibiotik yang diberikan
dapat mengatasi organisme penyebab
infeksi.

4. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.


Tujuan :Nutrisi klien dapat terpenuhi.
Kriteria: Klien mengungkapkan nafsu makan baik, badan tidak lemah, dan HB normal.
Intervensi Rasional
a. Monitor intake makanan setiap a. Memberikan informasi tentang
hari, apakah klien makan sesuai status gizi klien.
dengan kebutuhannya.
b. Timbang dan ukur berat badan, b. Memberikan informasi tentang
ukuran triceps serta amati penurunan penambahan dan penurunan berat
berat badan. badan klien.
c. Kaji pucat, penyembuhan luka c. Menunjukkan keadaan gizi klien
yang lambat dan pembesaran sangat buruk.
kelenjar parotis.
d. Anjurkan klien untuk d. Kalori merupakan sumber
mengkonsumsi makanan tinggi energi.
kalori dengan intake cairan yang
adekuat. Anjurkan pula makanan
kecil untuk klien.
e. Kontrol faktor lingkungan seperti e. Mencegah mual muntah, distensi
bau busuk atau bising. Hindarkan berlebihan, dispepsia yang
makanan yang terlalu manis, menyebabkan penurunan nafsu
berlemak dan pedas. makan serta mengurangi stimulus
berbahaya yang dapat meningkatkan
ansietas.
f. Ciptakan suasana makan yang f. Agar klien merasa seperti berada
menyenangkan misalnya makan dirumah sendiri.
bersama teman atau keluarga.
g. Anjurkan tehnik relaksasi, g. Untuk menimbulkan perasaan
visualisasi, latihan moderate ingin makan/membangkitkan selera
sebelum makan. makan.
h. Anjurkan komunikasi terbuka h. Agar dapat diatasi secara
tentang problem anoreksia yang bersama-sama (dengan ahli gizi,
dialami klien. perawat dan klien).
Kolaboratif
i. Amati studi laboraturium seperti i. Untuk mengetahui/menegakkan
total limposit, serum transferin dan terjadinya gangguan nutrisi sebagi
albumin akibat perjalanan penyakit,
pengobatan dan perawatan terhadap
klien.
j. Berikan pengobatan sesuai j. Membantu menghilangkan gejala
indikasi penyakit, efek samping dan
Phenotiazine, antidopaminergic, meningkatkan status kesehatan
corticosteroids, vitamins khususnya klien.
A,D,E dan B6, antacida k. Mempermudah intake makanan
k. Pasang pipa nasogastrik untuk dan minuman dengan hasil yang
memberikan makanan secara enteral, maksimal dan tepat sesuai
imbangi dengan infus. kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta


Doenges, E.M. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, (Edisi 3). EGC:Jakarta

Elizabet J. Corwin. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC:Jakarta

Gale,Danielle RN, MS, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Smelster Suzanne, C 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 2. EGC.:Jakarta


(http://tumor.abdomen.htm)
Barbara C, Long. 1985. Escential of Medical. Surgical Nursing ( A Nursing Process
Approach). The C.V Mosby Company : Toronto
Sabiston, 1995. Buku Ajar Bedah Bagian III. EGC: Jakarta:
Barbara Engram, 1999 Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 32. EGC;
Jakarta.
Marylin E. Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta.