Anda di halaman 1dari 6

SP 1 Pasien : Pengkajian dan latihan nafas dalam dan memukul kasur atau bantal

Identifikasi penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat
perilaku kekerasan yang dilakukan; jelaskan cara mengontro perilaku kekerasn: fisik,
obat, verbal, spiritual; latihan cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik; tarik nafas
dalam, pukul kasur dan bantal; masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan fisik.

Orientasi:
“Assalamuallaikum pak, perkenalkan nama saya ........., saya senang dipanggil suster
........, dari mahasiswa profesi Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Nama bapak
siapa? Senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan bapak hari ini? Masih ada perasaan kesal atau marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang penyebab bapak marah, dan
bagaimana cara mengontrol rasa marah bapak. Berapa lama bapak mau kita berbincang-
bincang? Bagaimana kalau 30 menit? Setuju pak? Dimana sebaiknya kita duduk untuk
berbincang-bincang pak?”

Kerja:
“Apa yang menyebabkan bapak marah? Apalagi penyebab yang lain? Samakah dengan
yang sekarang? O..iya, jadi ada 2 penyebab marah bapak. Pada saat penyebab marah itu
ada, seperti bapak pulang ke rumah dan istri belum menyediakan makanan, apa yang
bapak rasakan?” (tunggu respon pasien).
“Apakah bapak merasakan kesal kemudian dada bapak berdebar-debar,mata melotot,
rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal? Setelah itu apa yang bapak lakukan? O...iya,
jadi bapak memukul istri bapak dan memecahkan piring, apakah dengan cara ini makanan
terhidang? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara yang bapak lakukan? Betul, istri jadi sakit
dan takut, piring-piring pecah. Menurut bapak adakah cara lain yang lebih baik? Maukah
bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan
kerugian?”

“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik.
Kalau ada yang menyebabkan bapak marah da muncul perasaan kesal, berdebar-debar,
mata melotot, bapak dapat melakukan: tarik nafas dalam dan pukul kasur atau bantal.
Mari kita coba latihan tarik nafas dalam: berdiri, lalu tarik nafas dari hidung, tahan
sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan
kemarahan.
Ayo coba lagi, tarik nafas dari hidung, bagus, tahan, dan tiup melalui mulut.
Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak sudah bisa melakukannya.
“Mari kita latihan memukul bantal dan kasur. Dimana kamar bapak? Jadi, kalau nanti
bapak kesaldan ingin marah, langsung saja ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut
dengan memukul bantal dan kasur. Nah, coba bapak lakukan, pukul kasur dan bantal. Ya,
bagus sekali bapak melakukannya.

“Sekarang kita buat jadwalnya ya pak, mau berapa kali sehari bapak melakukan latihan
memukul kasur dan bantal serta tarik nafas dalam? Baik pak ini jadwalnya, kapan bapak
mau latihan tarik nafas dalam dan memukul bantal atau kasur. Jika bbapak melakukanya
coret disin ya pak, M jika bapak melakukannya dengan mandiri, B jika bapak dibantu
melakukannya, dan T jika bapak tidak melakukan.

Terminasi:
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang tentang perasaan marah da
tadi latihan cara menyalurkan marah?”
“Iya jadi ada 2 penyebab yang membuat bapak marah ...... (sebutkan) dan bapak rasakan
...... (sebutkan) dan yang bapak lakukan ....... (sebutkan) serta akibatnya ....... (sebutkan).
“Berapa tadi cara mengontrol marah jika perasaan marah bapak muncul? Baiklah bapak
sudah memasukkan kedua cara tadi ke dalam jadwal kegiatan sehari-hari bapak, jadi
kalau ada keinginan marah, gunakan kedua cara tadi ya pak”.
“Seminggu lagi saya akan kembali dan kita latih cara mengontrol marah dengan patuh
mium obat. Mau jam berapa pak? Baik, jam 10 pagi ya pak. Sampai jumpa pak.

SP 2 Pasien : Latihan oatuh minum obat


Evaluasi tanda dan gejala perilaku kekerasan, validasi kemampuan melakukan
tarik nafas dalam dan pukul bantal dan kasur, tanyakan manfaatnya dan beri pujian, latih
cara mengontrol perilaku kekerasan dengan obat ( jelaskan 6 benar: benar nama,benr
jenis, benar dosis, benar waktu, benar cara, kontinuitas minum obat dan dampak jka tidak
minum obat, masukkan pada jadwal kegiatan latihan fsik dan minum obat.

Orientasi:
“Assalamualaikum pak, sesuai dengan janji saya minggu yang lalu sekarang saya datang
lagi. Bagaimana pak sudah dilakuakn latihan tarik nafas dalam dan pukul kasur bantal?
Apa yang dirasakan setelah melakukanlatihan secara teratur? Coba kita lihat jadwal
kegiatannya”.
“Apakah selama kita tidak bertemu ada hal yang membuat bapak marah?”
“Apa yang bapak lakukan untuk mengatasinya? Hasilnya bagaimana pak?”
“Wah, bagus sekali, bapak telah menerapkan cara mengontrol marah dengan cara tarik
nafas dalamdan ternyata perasaan marahnya jadi terkontrol”
“Bagaimana kalau sekarang kita bicara tentang pentingnya minum obat dan latihan cara
tentang cara minum obat yang benar unutk mengontrol rasa marah? Dimana enaknya kita
berbincang-bincang? Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang tentang hal
tersebut? Sekarang saya akan jelaskan tetang pentingya minum obat”.

Kerja :
“Bapak sudah dapat obat dari dokter? Pak, ini obatnya, bapak perlu minum obat ini secara
teratur agar pikirannya menjadi tenang, dan tidurnya juga menjadi nyenyak. Obatnya ada
3 macam pak, yang warnyanya orannye namanya CPZ, yang warna putih ini namnya
THP, dan yang merah jambu ini namanya HLP, semua ini harus bapak minum 3 kali
sehariyaitu jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam”. Bila nanti setelah minum obat,
bapak merasa berkunang-kunang sebaiknya bapak istirahat dan jangan beraktivitas dulu.
Jangan pernah mengentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya pak”.

“Sebelum minum obat ini bapak lihat dulu label yang menempel di bungkus obat, apakah
benar nama bapak tertulis disitu. Selain itu bapak perlu memperhatikan jenis obatnya,
berapa dosis, satu atau dua butir obat yang harus diminum, jam berapa saja obatnya harus
diminum, dan cara minum obatnya. Bapak perlu secara teratur mium obat dan tidak
mengehentikannya tanpa konsultasi dengan dokter . Sekarang kita masukkan waktu
minum obatnya kedalam jadwal ya pak”.

Terminasi :
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol
perasaan marah dengan cara minum obat yang benar?”
“Coba bapak sebutkan lagi cara minum obat yang benar”
“Bagus. Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari pak? .........
Betul, sudah 2 cara ya pak. “Jadwal minum obat telah kita buat tadi. Jangan lupa
laksanakan semua dengan teratur ya pak”.
“Baik, seminggu lagi saya kembali unutk melihat sejuah mana bapak melaksanakan
kegiatan latihan fisik dan minum obat dengan teratur. Serta apakah hal tersebut dapat
mencegah rasa marah. Saya juga akan melatih bapak cara mengontrol perasaan marah
dengan cara bicara yang baik. Bapak mauna jam berapa? Baiklah, jam 10 pagi ya pak.
Sampai jumpa”.
SP 3 Pasien : Latihan cara sosial atau verbal
Evaluasi tanda dan gejala kekerasan, validasi kemampuan pasien melakukan tarik
nafas dalam, pukul kasur dan bantal, makan obat dengan patuh dan benar, tanyakan
manfaatnya dan beri pujian, latih cara mengontrol perilaku kekerasan secara verbal (3
cara, yaitu mengungkapkan, meminta, menolak dengan benar), nasukkan pada jadwal
kegiatan untuk lathan fisik, minum obat, dan verbal.

Orientasi :
“Assalamualaikum pak, sesuai dengan janji saya seminggu yang lalu sekarang saya
datang lagi”
“Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik nafas dlaam dan pukul bantal? Bagaimana
dengan minum obatnya sesuaikah dengan jadwalnya? Apa yang dirasakan setelah
melakukan latihan secara teratur dan oabtnya diminum?”
“Apakah selama kita tidak bertemu ada hal yang membuat bapak merasa kesal?”
“Apa yang bapak lakukan untuk mengatasinya?”
“Lalu ..... bagaimana hasilnya pak?”
“Bgaus seklai, marah bapak menjadi reda setelah dialihkan dengan memukul bantal”
“Bagaimana kalaus sekarang kita latihan cara bicara yang baik bila sedang merah?
Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hal tersebut pak?”
“Barapa lama bapak mau kita berbincang-bincang?”

Kerja :
:Sekarang kita latihan cara biara yang baik bila sedang marah. Ada 3 caranya pak, yaitu :
1. Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak
menggunakan kata-kata kasar, misalnya : “Bu, tolong ambilkan saya air minum
itu”. Cobba bapak praktekkan. Bagus sekali pak.
2. Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin
melakukannya, katakan : ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada
kerjaan”.
3. Mengungkapkan perasaan kesal, jika ad perlakuan orang lain yang membuat
kesal, bapak dapat mengatakan ; “Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu”.

“Coba bapak praktekkan, bagus sekali pak”.


“Sekarang mari kita masukkan dalam jadwal. Berapa kali bapak dalam sehari mau latihan
bicara yang baik?”
“Bisa kita buat jadwalnya? Coba masukkan dalam jadwal latihan sehari-hari, misalnya
meminta makan, minta obat atau minta uang, dll. Begitu juga dengan latihan tarik nafas
dalam, latihan pukul bantal/kasur, dan jadwal minum obat tetap dilanjutkan seperti jadwal
sebelumnya”.

Terminasi :
“Bagaimana perassan bapak setelah kiya bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah
dengan bocara yang baik?”
“Coba bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari”
“Bagus seklai, janga lupa bapak latihan sesuai jadwal yang telah dibuat tadi, yaitu
memnta, menolak, dan mengungkapkan perasaan engan cara baik. Juga latihan tarik nafas
dalam, latihan pukul bntal/kasur, dan jadwal minum obat bapak tetap lakukan sesuai
jadwal ya”.
“Seminggu lagi saya akan kmbali mengunjungibapak. Bagaimana kalau waktunya seperti
‘sekarang ini saja, bapak setuju?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang cara lain untuk mengatasi rasa marah bapak yaitu
dengan cara ibadah, bapak setuju?” Baiklah ita bertemu jam 10 pagi ya pak, sampai
jumpa”.

SP 4 Pasien : Latihan cara spiritual


Evaluasi tada dan gejala perilaku kekerasan, validasi kemampuan pasien
melakukan tarik nafas dalam, pukul kasur dan bantal, minum obat dengan benar dan
patuh, bicara yag baik, tanyakan manfaatnya, beri pujian,latih mengontrol marah dengan
cara spiritual (2 kegiatan) masukkan pada jadwal kegiatan untuk fisik, minum obat,
verbal, dan spiritual.

Orientasi :
“ Assalamualaikum pak, sesuai dengan janji saya seminggu yang lalu sekarang saya
datang lagi. Bagiamana pak, sudah dilakukan latihan tarik nafas dalam, pukul kasur
bantal dan bicara yang baik? Apa yang diraakan setelah melakukan latihan secara teratur?
Bagaimana obatnya, diminum teratur?”
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mengontrol marah bapak yaitu
dengan ibadah?”
‘Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang cara ibadah?”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang tentang hal tersebut?”
Kerja :
“Coba bapak ceritakan kegiatan ibadah yang bisa bapak lakukan”
“Bagus sekali pak”
“Nah, kalau bapak sedang marah coba bapak lanngsung duduk dan tarik nafas dalam. Jika
tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air
wudhu kemudia shalat (sesuai waktu ibadah shalat).
“Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat bapak lakukan bila bapak merasa
marah. Bapak bisa melakukan shalat secara teratur untuk meredakan kemarahan atau
ditambah dengan dzikir”.
“Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan bapak.
“Jam berapa bapak akan shalat? Baik kita masukkan shalat .... dan .... dzikir (sesuai
kesepakatan pasien).

Terminasi :
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang keempat ini?”
“Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus. Coba bapak ulangi
kembali dengan cara mengontrol perasaan marah dengan cara piritual atau ibadah.”
“Bagus seklai pak. Saya harap bapak melakukan latihan sesuai dengan jadwal yang telah
diisi tadi dan menerapkan cara mengontrol perasaan marah jika bapak merasa ingin
marah. Obatnya juga tetap diminum sesuai jadwal”.

“Minggu depan sayan akan datang datang lagi, nanti kita bicarakan apakah empat cara
mengontrol rasa marah, yaitu dengan cara fisik: menarik nafas dalam dan memukul bantal
, patuh minum obat, cara bicara yang baik, serta ibadah secara teratur dapat mengontrol
perasaan marah bapak? Saya akan lihat kemampuan bapak dalam melakukan kegiatan
yang sudah dibuat dala jadwal ini, dan bagaimana perasaan bapak setelah melakukannya.
Jam berapa kita bertemu pak? Baiklah jam 10 pagi ya pak, sampai jumpa pak”.