Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

CALON AHLI K3 (AK3) UMUM

KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA

Lokasi : Pabrik Gula Gempolkrep, Mojokerto, Jawa Timur

Ruang Lingkup : Kelistrikan, Proteksi Kebakaran dan Konstuksi Bangunan

Nama Anggota : 1. Angga Prabadi

2. Hilbert Philip Malada

3. Sugihadji
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 3
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................. 3
1.4 Ruang Lingkup .................................................................................. 4
1.5 Dasar Hukum .................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 6

2.1 Profil Perusahaan ............................................................................. 6


2.2 Pengawasan K3 Bidang Listrik ......................................................... 7
2.2.1 Pengertian Pengawasan K3 Listrik ....... ...................................... 7
2.2.2 Dasar Hukum Pengawasan K3 Listrik ....... ................................. 8
2.2.3 Ruang Lingkup Pengawasan K3 Listrik pada
PG. Gempolkrep ....... ................................................................. 9
2.3 Pengawasan K3 Bidang Penanggulangan Kebakaran ..................... 9
2.3.1 Pengertian Penanggulangan Kebakaran ....... ........................... 10
2.3.2 Dasar Hukum Penanggulangan Kebakaran............................... 10
2.3.3 Ruang Lingkup Penanggulangan Kebakaran di
PG. Gempolkrep....... ................................................................ 11

BAB III ANALISA KETIDAKSESUAIAN TERHADAP PERATURAN

PERUNDANGAN ................................................................................... 13

3.1 Kelistrikan ......................................................................................... 13

3.2 Proteksi Kebakaran .......................................................................... 15

3.3 Kontruksi Bangunan ......................................................................... 18

BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 21

4.1 Kesimpulan....................................................................................... 21

4.2 Saran ................................................................................................ 22

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... iii

i
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas anugerahnya sehingga kami

dapat menyelesaikan laporan PKL Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (AK3) Umum di

Pabrik Gula Gempolkrep ini dengan baik. Kami sebagai penulis laporan PKL ini merupakan

salah satu syarat ditunjuk sebagai Ahli K3 Umum. Kelancaran dan kemudahan yang kami

peroleh selama penyusunan Laporan PKL ini tidak lepas dari bantuan, saran, bimbingan

serta dukungan dari berbagai pihak baik secara moril maupun materiil. Oleh karena itu, pada

kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-

tingginya kepada pihak-pihak sebagai berikut ini:

1. Bapak Rio Paramasatria selaku panitia AK3 Umum dari GOSAFE.

2. Bapak Suwondo selaku petugas Disnaker Provinsi Jawa Timur.

3. Bapak Herman dan seluruh staf Pabrik Gula Gempolkrep.

4. Teman-teman seperjuangan di pelatihan AK3 Umum.

Kami sebagai penulis, menyadari bahwa laporan PKL ini masih jauh dari sempurna.

Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga laporan PKL

ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua.

Surabaya, 3 April 2017

Penulis

KELOMPOK 3 (TIGA)

ii
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

BAB I

PENDAHULUAN

Atas persyaratan untuk kelulusan Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (AK3)

Umum dan dalam observasi dari kelompok 3 (tiga) menyangkut permasalahan kelistrikan,

proteksi kebakaran dan kontruksi bangunan.

Permasalahan kelistrikan yang telah diatur pada Permenaker Nomor 33 Tahun 2015

atas pembaharuan Permenaker Nomor 12 Tahun 2015, lalu proteksi kebakaran yang telah

diatur pada Kepmenaker Nomor 186 Tahun 1999, dan kontruksi bangunan yang telah diatur

pada Permenaker Nomor 1 Tahun 1980. Berikut yang melatarbelakangi kegiatan PKL di

Pabrik Gula Gempolkrep.

1.1 Latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat secara

bersama antara pekerja dan pengusaha sebagai upaya untuk mencegah timbulnya

kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Hal ini dilakukan dengan cara mengenali potensi

timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan preventif dan antisipatif

apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Tujuan K3 adalah untuk menciptakan

tempat kerja yang nyaman dan sehat sehingga dapat menekan serendah mungkin resiko

kecelakaan dan penyakit.

Keselamatan dan kesehatan merupakan hal yang penting secara ekonomi, moral, dan

hukum. Perusahaan sedang berusaha untuk tetap menguntungkan dalam ekonomi global

yang semakin kompetitif, untuk itu perusahaan menerapkan sistem manajemen

keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) agar praktek bisnis tetap berjalan dengan lancar.

1
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

Bagi banyak perusahaan besar, program keselamatan, kesehatan, dan lingkungan kerja

merupakan bentuk perlindungan bagi pekerjanya.

Persaingan industri yang semakin kompetitif menuntut perusahaan lebih

mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimilikinya. Indonesia sebagai salah satu

negara berkembang saat ini sedang giat-giatnya melakukan pembangunan, baik pada

sektor infrastruktur maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Penggunaan teknologi maju tidak dapat dielakkan, terutama pada era industrialisasi ini yang

ditandai dengan maraknya proses mekanisasi, elektrifikasi dan otomatisasi. Dalam keadaan

demikian, penggunaan mesin, pesawat, instalasi dan bahan-bahan berbahaya terus

meningkat sesuai kebutuhan industri. Hal tersebut disamping memberikan kemudahan bagi

suatu proses produksi, tentunya memiliki efek samping yang tidak dapat dielakkan.

Contohnya adalah bertambahnya jumlah dan ragam sumber bahaya bagi pengguna

teknologi itu sendiri. Di samping itu, faktor lingkungan kerja yang tidak memenuhi

persyaratan K3 dan proses kerja yang tidak aman dapat menjadi ancaman tersendiri bagi

kesehatan dan keselamatan pekerja.

Pelaksanaan K3 merupakan aspek yang penting dalam usaha meningkatkan

kesejahteraan serta produktivitas karyawan. Keselamatan kerja tinggi akan menekan tingkat

kecelakaan yang menyebabkan sakit, cacat dan kematian. Keselamatan kerja rendah akan

berpengaruh buruk terhadap kesehatan sehingga berakibat pada produktivitas yang

menurun. Kecelakaan kerja bukan hanya menimbulkan korban jiwa maupun kerugian

material bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga mengganggu proses produksi secara

menyeluruh dan merusak lingkungan yang akhirnya berdampak kepada masyarakat luas.

Karena itu, perlu dilakukan upaya yang nyata untuk mencegah danmengurangi resiko

terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara maksimal. Kecelakaan,

peledakan, kebakaran dan penyakit akibat kerja pada umumnya disebabkan oleh tidak

dijalankannya syarat-syarat K3 secara baik dan benar.

2
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

Keselamatan dan kesehatan kerja menuntut komitmen bersama dari pekerja dan

pengusaha. Pekerja dan pengusaha harus siap untuk menghormati prinsip-prinsip

keselamatan dan kesehatan kerja yang disetujui bersama. Tingkat komitmen yang tinggi

hanya dapat dibangun jika pekerja, supervisor dan manajer mampu bekerja sama untuk

menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja dimengerti bersama.

Praktek kerja lapangan (PKL) adalah bentuk implementasi secara sistematis dan

sinkron antara program pelatihan calon ahli K3 umum di kelas dengan penguasaan keahlian

secara real yang diperoleh melalui kegiatan observasi dan analisis secara langsung di

tempat kerja untuk meningkatkan keahlian. PKL ini diadakan sebagai kegiatan pemungkas

dalam rangka untuk memenuhi persyaratan teknis sertifikasi ahli K3 umum (AK3 umum).

PKL calon AK3 umum ini diadakan pada akhir proses training calon AK3 umum, yaitu

pada tanggal 3 April 2017. Kegiatan PKL diadakan di Pabrik Gula (PG) Gempolkrep yang

berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur. Pemilihan PG Gembolkrep sebagai tempat PKL

dikarenakan proses produksi gula di pabrik tersebut yang kompleks dan menggunakan

berbagai macam peralatan yang memiliki potensi bahaya besar, sehingga sangat ideal

untuk dijadikan tempat belajar mengenai sistem manajemen K3 (SMK3) dalam skala yang

besar dan lengkap.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang

diajukan dalam laporan PKL ini adalah; Bagaimana penerapan norma K3 pada Pabrik Gula

Gempolkrep pada kelistrikan, proteksi kebakaran dan kontruksi bangunan?

1.3 Maksud dan Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai pada laporan PKL ini adalah; Untuk mengetahui

penerapan Norma K3 pada Pabrik Gula Gempolkrep pada kelistrikan, proteksi kebakaran

dan kontruksi bangunan.

3
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup observasi dan analisis dalam kelompok ini adalah pada bidang-bidang

sebagai berikut:

1. Kelistrikan

2. Proteksi kebakaran

3. Konstruksi bangunan

1.5 Dasar Hukum

Peraturan perundangan yang digunakan sebagai dasar hukum bagi analisis kelompok

kami sesuai dengan ruang lingkup yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

1. Kepmenaker no. 75 tahun 2012 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia

(SNI) Nomor: SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000

(PUIL 2000) di Tempat Kerja.

2. Permenaker no. 33 tahun 2015 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Listrik di

Tempat Kerja.

3. Keputusan Dirjen Binwasnaker no. 47 tahun 2015 tentang Pembinaan Calon Ahli

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Bidang Listrik.

4. Permenaker no. 4 tahun 1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan

Alat Pemadam Api Ringan.

5. Kepmenaker no. 186 tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di

Tempat Kerja.

6. Kepmenaker no. 187 tahun 1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di

Tempat Kerja.

7. Permenaker no. 2 tahun 1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik.

8. Permenaker no. 38 tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat

Tenaga dan Produksi.

4
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

9. Permenaker no. 1 tahun 1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada

Konstruksi Bangunan.

10. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum no. 174

tahun 1986, no. 104 tahun 1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada

Tempat Kegiatan Konstruksi.

11. PP no. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (SMK3).

12. OSHA 3124-12R tahun 2003 tentang Stairways and Ladders.

5
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Profil Perusahaan

Pabrik Gula (PG) Gempolkrep didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah R.I No.15

tanggal 14 Februari Tahun 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik Negara dari

PT Perkebunan (Eks.PTP 19, Eks.PTP 21-22 dan Eks.PTP 27) yang dilebur menjadi PT

Perkebunan Nusantara X (Persero) dan tertuang dalam akte Notaris Harun Kamil, SH No.43

tanggal 11 Maret 1996 yang mengalami Perubahan kembali sesuai Akte Notaris Sri Eliana

Tjahjoharto, SH. No. 1 tanggal 2 Desember 2011.

Pada tanggal 2 Oktober 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan Holding BUMN

Perkebunan yang beranggotakan PTPN I, II, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, XII, XIII, XIV

dengan PTPN III sebagai induk Holding BUMN Perkebunan. Dasar hukum perubahan PTPN

X (Persero) menjadi PTPN X adalah Keputusan Para Pemegang Saham Perusahaan

Perseroan PT Perkebunan Nusantara X Nomor: PTPN X/RUPS/01/X/2014 dan Nomor: SK-

57/D1.MBU/10/2014 tentang Perubahan Anggaran Dasar.

PG Gempolkrep memiliki visi untuk menjadi perusahaan agroindustri terkemuka yang

berwawasan lingkungan. Untuk mencapai visi tersebut, maka PG Gempolkrep memiliki misi

yaitu 1) Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku tebu yang berdaya saing

tinggi untuk pasar domestik dan internasional dan berwawasan lingkungan; 2) Berkomitmen

menjaga pertumbuhan dan kelangsungan usaha melalui optimalisasi dan efisiensi di segala

bidang; dan 3) Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai-nilai perusahaan bagi

kepuasan stakeholder melalui kepemimpinan, inovasi dan kerjasama team serta organisasi

yang profesional.

6
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

2.2 Pengawasan K3 Bidang Listrik

Listrik merupakan salah satu energi yang paling banyak digunakan. Pelanggaran

terhadap panduan keselamatan selama menggunakan peralatan listrik, misalnya: saat

proses desain, praktek-praktek kerja, perawatan dan perbaikan, dan pengabaian terhadap

prosedur keselamatan listrik, sering menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan cidera

(bahkan kematian), kerugian harta benda, atau terganggunya suatu proses produksi.

Dalam banyak hal, peralatan listrik dan elektronik didesain untuk keselamatan dan

efisiensi yang maksimal. Namun demikian, kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya,

seperti kontak dengan listrik karena kekuranghati-hatian (mengabaikan), masih terjadi.

Bahaya-bahaya itu dapat terjadi pada saat melakukan analisis engineering, instalasi,

perbaikan, pengetesan, perawatan dan perbaikan peralatan listrik dan elektronik. Usaha

menurunkan potensi terpajan bahaya tidak sulit dan tidak mahal bila tindakan pengamanan

dan prosedur telah diberikan pada awal desainnya. Jika bahaya-bahaya tersebut diabaikan,

mungkin, kecelakaan serius bahkan kematian dapat terjadi.

Banyak orang memiliki sedikit pengetahuan tentang listrik. Secara tidak sadar

mereka telah melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.

Jadi, mereka maupun orang lain rentan terhadap bahaya yang memungkinkan terjadinya

kecelakaan, dan hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi.

2.2.1 Pengertian Pengawasan K3 Listrik

Beberapa pengertian dalam Pengawasan K3 Listrik adalah:

1. Instalasi Listrik adalah jaringan yang tersusun secara terkoordinasi mulai dari

sumber pembangkit atau titik sambungan supla daya listrik sampai titik beban

akhir sesuai maksud dan tujuan penggunaannya.

2. Perlengkapan listrik adalah sarana yang diperlukan dalam rangkaian instalansi

listrik.

3. Peralatan Listrik adalah semua jenis alat, pesawat, mesin dan sejenisnya yang

digerakkan dengan tenaga listrik atau sebagai pengguna listrik.

7
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

4. Besaran listrik: tegangan (volt), arus (ampere), frekuensi (Hertz), daya (watt) dan

resistensi (ohm).

5. Bahaya sentuhan listrik adalah sentuhan yang dapat membahayakan manusia.

6. Bahaya sentuh langsung adalah menyentuh pada bagian konduktif yang secara

normal bertegangan.

7. Bahaya sentuh tidak langsung adalah menyentuh pada bagian konduktif yang

secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan karena adanya

kebocoran isolasi.

8. Bahaya sambaran petir adalah bahaya pada manusia, binatang, bangunan atau

peralatan karena dilalui oleh arus petir baik langsung maupun tidak langsung.

9. Lift adalah sarana transportasi vertikal untuk mengangkut orang atau barang

dengan tenaga penggerak motor listrik dan dikendalikan secara otomatik melalui

sistem kontrol elektrik.

2.2.2 Dasar Hukum Pengawasan K3 Listrik

Dasar hukumnya adalah:

1. Undang-Undang No. 1/1970 tentang keselamatan kerja.

2. Undang-undang No 20 Tahun 2002 ketenagalistrikan mengenai Pengusahaan

Listrik.

3. Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 02/Men/1992 Tentang Tata Cara

Penunjukan Ahli K3

5. Permenaker no 31 tahun 2015 tentang instalasi penyalur petir.

6. Permenaker No 12 Tahun 2015 tentang K3 Listrik di tempat kerja.

7. Kepmenaker no. 75 tahun 2012 tentang Pemberlakuan Standar Nasional

Indonesia (SNI) Nomor: SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum

Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja.

8. Permenaker No 33 Tahun 2015 tentang K3 Listrik di tempat kerja.

8
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

9. Kepdirjen No 47 Tahun 2015 tentang Pembinaan AK3 Listrik.

10. Kepdirjen No 48 Tahun 2015 tentang PembinaanTeknisi Listrik.

11. Kepdirjen No.Kep-407/Bw/1999 tentang sertifikasi K3 teknisi listrik.

2.2.3 Ruang Lingkup Pengawasan K3 Listrik Pada PG. Gempolkrep

Pabrik Gula Gempolkrep memerlukan tenaga dalam jumlah relatif besar

untuk penggerak utama. Tenaga tersebut diperlukan terutama dalam bentuk listrik

untuk motor penggerak peralatan dan uap tekanan menengah hingga tinggi untuk

turbin uap dan mesin uap. Untuk proses produksi gula dibutuhkan energi uap dalam

jumlah besar. Dalam sistem cogeneration penggunaan energi uap yang pertama

adalah untuk penggerak mekanik melalui mesin atau turbin uap, bersamaan

dihasilkan uap bekas untuk proses pemanasan, penguapan dan kristalisasi.

Untuk mengolah nira tebu menjadi gula kristal juga diperlukan energi panas

dalam bentuk uap dengan jumlah besar. Panas tersebut dimanfaatkan melalui

kondensasi uap bekas pada pipa-pipa penukar panas. Dalam pabrik banyak

peralatan seperti pompa, blower, kompresor, centrifugal (low and high grate),

conveyor, feeder, vibrator dan mixer yang digerakkan oleh motor elektrik. Untuk

pabrik yang efisien, melalui turbin generator dalam sistem cogeneration seluruh

kebutuhan tenaga uap dan listrik dapat dipenuhi melalui pembakaran ampas pada

boiler. Maka terpenuhilah kapasitas kelistrikan pada Pabrik Gula Gempolkrep hingga

9 MW, dan itu pun masih dibantu pihak ketiga dari PT. PLN yang bekerja sama

dalam mengatasi masalah kelistrikan.

2.3 Pengawasan K3 Bidang Penanggulangan Kebakaran

Definisi kebakaran adalah nyala api baik kecil maupun besar pada tempat yang tidak

dikehendaki dan dapat menimbulkan kerugian yang pada umumnya sulit dikendalikan.

Kebakaran di tempat kerja berakibat sangat merugikan baik bagi perusahaan, perkerja

maupun kepentingan pembangunan nasional, oleh karena itu perlu ditanggulangi.

Penanggulangan kebakaran adalah berbagai usaha untuk mengendalikan setiap

9
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

perwujudan energi, pengadaan sarana proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan serta

pembentukan organisasi tanggap darurat untuk memberantas kebakaran. Untuk

menanggulangi kebakaran di tempat kerja, diperlukan adanya peralatan proteksi kebakaran

yang memadahi, petugas penanggulangan yang ditunjuk khusus untuk itu, serta

dilaksanakannya prosedur penanggulangan keadaan darurat. Petugas penanggulangan

kebakaran di tempat kerja harus dapat melaksanakan tugasnya secara efektif, dan perlu

diatur ketentuan tentang unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja dengan Keputusan

Menteri no. 186 tahun 1999.

2.3.1 Pengertian Penanggulangan Kebakaran

Pengurus atau perusahaan wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan

kebakaran dan melaksanakan latihan penanggulangan kebakaran di tempat kerja.

Yang dimaksud dengan penanggulangan kebakaran adalah meliputi:

1. Pengendalian setiap bentuk energi.

2. Penyediaan sarana deteksi, alarm, memadamkan kebakaran dan sarana

evakuasi.

3. Pengendalian penyebaran asap, panas dan gas.

4. Pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja.

5. Penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala.

6. Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi

tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja

dan atau tempat yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.

2.3.2 Dasar Hukum Penanggulangan Kebakaran

Dasar hukumnya penanggulangan kebakaran adalah sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

Mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1969 no.

55, Tambahan Lembaran Negara no. 2912.

10
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

2. Undang-undang no. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara

R.I. no. 1, Tambahan Negara no. 2918).

3. Keputusan Presiden R.I. no. 122/M/1988 tentang Pembentukan Kabinet

Reformasi Pembangunan.

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. 2 tahun 1992 tentang Tata Cara

Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. 4 tahun 1995 tentang Perusahaan Jasa

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

6. Keputusan Menteri Tenaga Kerja no. 28 tahun 1994 tentang struktur Organisasi

dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja.

7. Keputusan Menteri Tenaga Kerja no. 186 tahun 1999 tentang Unit

Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

2.3.3 Ruang Lingkup Penanggulangan Kebakaran di PG. Gempolkrep

Berdasarkan observasi kami, Pabrik Gula Gempolkrep telah melakukan

sistem penanggulangan kebakaran dengan baik. Berdasarkan Kepmenaker no. 186

tahun 1999, Pabrik Gula Gempolkrep dapat diklasifikan dalam tingkat resiko bahaya

kebakaran sedang III. Hal ini berarti tempat kerja mempunyai jumlah dan kemudahan

terbakar tinggi, dan apabila terjadi kebakaran, akan melepaskan panas tinggi

sehingga api akan menjalar dengan cepat.

Sarana penanggulangan kebakaran yang disediakan oleh Pabrik Gula

Gempolkrep sudah cukup mumpuni. Saluran hydrant sudah terdapat pada bagian

depan dan belakang pabrik, namun demikian berdasarkan info yang kami dapat,

saluran air untuk memadamkan kebakaran yang ada di dalam plant produksi sudah

rusak. Alat pemadam api ringan (APAR) juga sudah terdistribusi dengan cukup baik

di berbagai penjuru pabrik di mana terdapat resiko kebakaran yang cukup besar.

Namun demikian, terdapat beberapa APAR yang sudah memasuki masa kadaluarsa

dan tidak lengkap. Akan tetapi, Pabrik Gula Gempolkrep memiliki 1 unit truk

11
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

pemadam kebakaran yang dapat bergerak fleksibel untuk dapat membantu

memadamkan kebakaran di titik mana pun di sekitar pabrik.

Pabrik Gula Gempolkrep juga telah memiliki tim tanggap darurat berjumlah 50

orang yang siap siaga untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran. Tim tanggap

darurat secara rutin melakukan latihan dua kali dalam satu tahun. Dalam observasi

kami, kami tidak menemukan adanya alat pendeteksi kebakaran dalam bentuk

smoke atau fire detector, sirine kebakaran dan sprinkler.

12
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

BAB III
ANALISA KETIDAKSESUAIAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANGAN

3.1 Kelistrikan
No Temuan Analisa Potensi Bahaya Saran / Rekomendasi Dasar Hukum Foto
1 Kondisi kabel berserakan dan - Korsleting Kabel diletakkan secara - Permenaker no. 33
tidak rapi. - Tersandung rapi dalam cable tray tahun 2015.
- Tersengat listrik sehingga tenaga kerja - PUIL 2000
- Kebakaran dapat bekerja dengan
aman dan nyaman.

2 Tidak ada ahli K3 listrik Bahaya peledakan dari Harus ada ahli K3 listrik Kepdirjen
sedangkan mempunyai pembangkit tidak bersertifikasi. Binwasnaker no. 47
pembangkit listrik dengan daya > terpantau dan tahun 2015.
200 kVA. terkontrol.

3 Mesin gerinda duduk berdekatan Bunga api dari proses Mesin gerinda duduk - Permenaker no. 33
dengan panel listrik. gerinda beresiko harus diletakkan di tahun 2015.
menyebabkan tempat yang terpisah, - PUIL 2000
korsleting dan lecetnya jauh dari panel listrik.
kabel sehingga
beresiko kebakaran.

13
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

4 Ditemukan panel listrik yang - Korsleting Panel listrik harus dalam - PUIL 2000
kotor, berkarat dan tidak terkunci. - Terbakar kondisi bersih, terawat, - Permenaker no. 33
tertutup dan terkunci. tahun 2015.

5 Kabel listrik diletakkan secara Tersandung Kabel listrik harus - PUIL 2000
tidak aman pada ruang rapat. ditempatkan pada cable Permenaker no. 33
tray dan tidak tahun 2015.
menghalangi akses.

6 Tidak ada steker dan stop kontak Telah mengakibatkan Instalasi listrik untuk AC - PUIL 2000
pada AC dalam ruang rapat. kebakaran pada waktu harus dilengkapi dengan - Permenaker no. 33
lampau. steker dan stop kontak. tahun 2015.

14
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

3.2 Proteksi Kebakaran


No Temuan Analisa Potensi Bahaya Saran / Rekomendasi Dasar Hukum Foto
1 Tidak ada kartu kontrol dan SOP - APAR yang tidak APAR seharusnya - Permenaker no. 4
pada APAR. dikontrol bisa rusak dilengkapi dengan kartu tahun 1980.
dan tidak siap kontrol dan SOP. - Kepmenaker no. 186
digunakan di keadaan tahun 1999.
darurat.
- Pengguna APAR
kesulitan dalam
memadamkan api.

2 APAR yang sudah kadaluarsa APAR yang sudah APAR harus selalu - Permenaker no. 4
masih terpasang. kadaluarsa tidak siap dipantau tanggal tahun 1980.
digunakan di keadaan kadaluarsanya dan - Kepmenaker no. 186
darurat. diganti dengan yang baru. tahun 1999.

3 Ada tanda APAR pada beberapa Jika tempat tersebut APAR harus selalu ada - Permenaker no. 4
titik tetapi tidak ada APAR, dan terbakar, maka tidak pada lokasi di mana ada tahun 1980.
bahkan pemegangnya. ada APAR yang siap tanda APAR. - Kepmenaker no. 186
digunakan dalam jarak tahun 1999.
dekat.

15
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

4 Akses terhadap APAR terhalang Petugas akan kesulitan Akses terhadap APAR - Permenaker no. 4
drum-drum oli. dalam mengakses harus bebas dari tahun 1980.
APAR jika terjadi halangan. - Kepmenaker no. 186
kebakaran. tahun 1999.

5 Ditemukan oli sisa (bahan kimia - Bahan kimia berbahaya Bahan kimia berbahaya - Kepmenaker no. 186
berbahaya) dalam beberapa yang diletakkan di (rawan terbakar) harus tahun 1999.
drum yang diletakkan pada sembarang tempat ditempatkan tempat - Kepmenaker no. 187
akses jalan (menutupi pintu) di dapat memicu penyimpanan sementara tahun 1999.
ruang power house. kebakaran. (TPS) untuk limbah B3.
- Akses jalan pada ruang
berpotensi bahaya
tinggi yang tertutup
menghambat evakuasi
saat terjadi kebakaran.
6 Hydrant hanya tersedia di bagian Kebakaran berskala Saluran pemadam harus Kepmenaker no. 186 -
depan dan belakang pabrik. besar di tengah pabrik ada di sekitar pabrik tahun 1999.
akan sulit dipadamkan untuk keperluan hydrant
dengan menggunakan dan sprinkler.
APAR.
7 Tidak ada sprinkler, fire detector, Kebakaran berpotensi Harus ada penyediaan Permenaker no. 2 -
smoke detector dan sirine tidak terdeteksi jika sarana deteksi kebakaran tahun 1983.
kebakaran. tidak ada pekerja di dan alarm, seperti fire and
lokasi tersebut. smoke detector.

16
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

8 Ditemukan kebocoran pada pipa Jika pipa berisi cairan Kebocoran harus segera - Kepmenaker no. 186
di dekat tabung elpiji. mudah terbakar, maka diperbaiki dan tabung tahun 1999.
potensi kebakaran elpiji diletakkan di tempat Kepmenaker no. 187
meningkat. yang aman. tahun 1999.

9 Jalur evakuasi kebakaran Menghalangi proses Jalur evakuasi harus Kepmenaker no. 186
tertutup material bekas (seng). evakuasi jika terjadi dipastikan bebas dari tahun 1999.
kebakaran. rintangan / halangan.

10 Tidak ditemukan steam chest Tekanan chest tidak Steam chest pressure Permenaker no. 38
pressure gauge pada panel dapat diketahui dan gauge harus terpasang tahun 2016.
turbin. beresiko meledak. pada panel turbin.

11 Panel listrik terbuka, tidak dalam Terjadi korsleting jika Panel listrik harus selalu Permenaker no. 33
box pelindung. ada kontak dengan air ditempatkan dalam panel tahun 2015.
atau tersentuh pekerja. box.

17
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

12 Drum berisi oli diletakkan Sangat berpotensi Bahan-bahan berbahaya Kepmenaker no. 187
berdekatan dengan tabung mengakibatkan harus diletakkan pada tahun 1999.
oksigen dan elpiji yang peledakan dan tempat yang terpisah dan
tabungnya tidak terikat, serta kebakaran. aman.
dekat dengan aki.

3.3 Konstruksi Bangunan


No Temuan Analisa Potensi Bahaya Saran / Rekomendasi Dasar Hukum Foto
1 Perancah tidak dilengkapi Absennya Perancah harus - Permenaker no. 1
dengan palang penguat diagonal, perlengkapan penguat dilengkapi dengan tahun 1980.
pagar pengaman, toe board, struktur membuat perlengkapan sesuai - Keputusan bersama
landasan (base plate), angkur, perancah tidak kokoh dengan peraturan Menaker no. 174
sepatu perancah dan tangga. dan beresiko perundangan yang tahun 1986 dan
menimbulkan berlaku. MenPU no. 104
kecelakaan. tahun 1986.

2 Struktur perancah ditali dengan Sambungan yang tidak Struktur perancah harus - Permenaker no. 1
menggunakan tali (strapping kuat membuat disatukan dengan klem tahun 1980.
band) dan kawat bendrat. perancah tidak kokoh yang sesuai. - Keputusan bersama
dan beresiko Menaker no. 174
menimbulkan tahun 1986 dan
kecelakaan. MenPU no. 104
tahun 1986.

18
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

3 Perancah tidak dilengkapi Jika perancah tidak Perancah yang siap - Permenaker no. 1 -
dengan tag yang menyatakan aman untuk digunakan, digunakan harus tahun 1980.
bahwa perancah aman untuk dapat menimbulkan dilengkapi dengan tag Keputusan bersama
digunakan. kecelakaan. hijau yang menyatakan Menaker no. 174
aman untuk digunakan. tahun 1986 dan
MenPU no. 104
tahun 1986.
4 Adanya tiang penyangga (H- Dapat menimbulkan Harus diadakan inspeksi Permenaker no. 1
beam) yang sudah keropos. pelemahan pada berkala untuk tahun 1980.
struktur bangunan. memastikan seluruh
struktur bangunan dalam
keadaan baik.

5 Adanya bagian dari pelindung Resiko kebocoran asap Pelindung panas yang Permenaker no. 1
panas berbahan seng yang / uap panas. penyok dan sobek harus tahun 1980.
penyok dan sobek. diperbaiki dan dijaga
kondisinya.

6 Instalasi pipa berada pada anak Sangat membahayakan Instalasi pipa harus Permenaker no. 1
tangga. bagi tenaga kerja yang diletakkan pada tempat tahun 1980.
menggunakan tangga. yang aman, yaitu
dipendam dalam tanah
atau digantung di langit-
langit.

19
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

7 Adanya tangga yang tidak Pekerja beresiko jatuh Perlengkapan keamanan OSHA 3124-12R
memiliki handrail yang lengkap, dari tangga dan terjadi untuk tangga dan 2003
serta jarak dan lebar antar kecelakaan. konstruksi serta geometri
anak tangga yang tidak tangga harus dibuat
standard. mengikuti peraturan yang
berlaku agar aman
digunakan.

8 Ada tangga yang anak Beresiko Tangga harus dipastikan Permenaker no. 1
tangganya terhalang pipa mengakibatkan pekerja bebas dari rintangan agar tahun 1980.
panjang. tersandung dan terjadi pekerja menggunakannya
kecelakaan. dengan aman.

20
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Meskipun struktur organisasi P2K3 sudah terbentuk dan berjalan secara efisien serta

sudah memenuhi SMK3 sejak tahun 2015. Perlu diketahui bahwa Pabrik Gula Gempolkrep

dalam keadaan shut down dikarenakan overhaul tahunan. Namun ada beberapa hal yang

inkosisten dengan persyaratan dan standar yang berlaku. Berikut kami detailkan beberapa

hasil observasi yang kami lakukan :

1. Kelistrikan

a. Adanya kabel yang tidak tertata

b. Tidak memiliki Ahli K3 Listrik

c. Adanya instalasi listrik yang kurang terawat

d. Penempatan Instalasi listrik yang tidak sesuai standar

2. Proteksi kebakaran

a. Ditemukan APAR tidak pada posisinya, kadaluarsa, dan tidak ada

sartifikasinya

b. Ditemukan bahan-bahan yang mudah terbakar menjadi satu kesatuan

c. Ditemukan kebocoran pada pipa di dekat tabung elpiji

d. Jalur evakuasi tertutup benda atau peralatan

e. Tidak adanya instalasi alarem kebakaran otomatik

3. Kontruksi bangunan

a. Adanya perancah yang tidak dilengkapi perlengkapan sesuai standar

b. Adanya kerusakan pada bangunan

c. Tidak Adanya palang pengaman pada tangga

21
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

4.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diharapkan Pabrik Gula Gempolkrep harus

mengevaluasi atas inkosisten dengan persyaratan dan standar yang berlaku, dan

diharapkan kedepannya Pabrik Gula Gempolkrep lebih bisa konsisten atas SMK3nya yang

sudah berjalan sejak tahun 2015.

Berikut beberapa hasil observasi kami dari kelistrikan, proteksi kebakaran, dan

kontruksi bangunan yang berdasarkan kriteria kelompok kami yang masih harus diperbaiki :

1. Kelistrikan

a. Kabel diletakkan secara rapi dalam cable tray

b. Perusahaan mengharuskan memiliki Ahli K3 Listrik

c. Instalasi listrik diharapkan dilakukan perawatan secara berkala dan

pemberian check list perawatan.

d. Instalasi listrik diharapkan diletakan sesuai standar.

2. Proteksi kebakaran

a. APAR harus diletakan pada posisinya, melakukan cek berkala pada

kadaluarsanya, dan pemberian sartifikasinya.

b. Meletakan bahan-bahan yang mudah terbakar tidak pada lingkungan yang

memicu kebakaran dan peledakan (dipisahkan).

c. Kebocoran pada pipa di dekat tabung elpiji harap segera diperbaiki.

d. Jalur evakuasi harus bebas dari benda dan peralatan yang menghalangi.

e. Memberikan instalasi alarm kebakaran otomatik

3. Kontruksi bangunan

a. Perancah harus dilengkapi perlengkapan sesuai standar

b. Kerusakan pada bangunan harap segera diperbaiki.

c. Pemberian palang pengaman pada tangga dan tiang pegangan dua sisi.

22
Laporan PKL Calon AK3 Umum
PG Gempolkrep, Mojokerto

DAFTAR PUSAKA

A. K., Amri. 2017. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Keselamatan dan

Kesehatan Kerja. Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan

Kesehatan Kerja, Kementerian Ketenagakerjaan RI.

iii

Anda mungkin juga menyukai