Anda di halaman 1dari 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sectio Caesarea

1. Pengertian

Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan

anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus (Oxorn &

William, 2010).

Menurut Amru Sofian (2012) Sectio Caesarea adalah suatu cara

melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus

melalui dinding depan perut (Amin & Hardhi, 2013).

Sectio Caesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui

insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus

(histerektomi) (Rasjidi, 2009).

Dari beberapa pengertian tentang Sectio Caesarea diatas dapat

diambil kesimpulan bahwa Sectio Caesarea adalah suatu tindakan

pembedahan yang tujuannya untuk mengeluarkan janin dengan cara

melakukan sayatan pada dinding abdomen dan dinding uterus.

2. Etiologi

Menurut Amin & Hardi (2013) etiologi Sectio Caesarea ada dua

yaitu sebagai berikut:

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


a. Etiologi yang berasal dari ibu

Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para

tua disertai kelainan letak ada, disporporsi sefalo pelvik

(disproporsi janin/ panggul), ada sejarah kehamilan dan

persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, placenta

previa terutama pada primigravida, solutsio placenta tingkat I -

II, komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi-eklampsia, atas

permitaan, kehamilan yang disertai penyakit (jantung, DM),

gangguan perjalanan persalinan (kista ovarium, mioma uteri dan

sebagainya).

b. Etiologi yang berasal dari janin

Fetal distress/ gawat janin, mal presentasi dan mal posisi

kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil,

kegagalan persalinan vakum atau forseps ekstraksi.

3. Komplikasi

Menurut Wikjosastro (2007) komplikasi Sectio Caesarea sebagai

berikut:

a. Komplikasi pada ibu

1) Infeksi puerperal

Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu

selama beberapa hari dalam masa nifas; atau bersifat berat,

seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya. Infeksi

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


postoperatif terjadi apabila sebelum pembedahan sudah

ada gejala – gejala yang merupakan presdisposisi terhadap

kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban

pecah, tindakan vaginal sebelumnya).

2) Perdarahan

Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan

jika cabang – cabang arteri uterina ikut terbuka, atau

karena atonia uteri.

3) Komplikasi – komplikasi lain seperti luka kandung

kencing, embolisme paru – paru, dan sebagainya sangat

jarang terjadi.

4) Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah

kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada

kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri.

Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan

sesudah sectio caesarea klasik.

b. Komplikasi pada bayi

Nasib anak yang dilahirkan dengan Sectio Caesarea

banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk

melakukan Sectio Caesarea.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


4. Indikasi dan kontra Indikasi

Menurut Rasjidi (2009) indikasi dan kontra indikasi dari Sectio

Caesarea sebagai berikut:

a. Indikasi Sectio Caesarea

1) Indikasi mutlak

Indikasi Ibu

a) Panggul sempit absolut

b) Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang

adekuatnya stimulasi

c) Tumor-tumor jalan lahir yang menyebabkan

obstruksi

d) Stenosis serviks atau vagina

e) Placenta previa

f) Disproporsi sefalopelvik

g) Ruptur uteri membakat

Indikasi janin

a) Kelainan letak

b) Gawat janin

c) Prolapsus placenta

d) Perkembangan bayi yang terhambat

e) Mencegah hipoksia janin, misalnya karena

preeklampsia.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


2) Indikasi relatif

a) Riwayat Sectio Caesarea sebelumnya

b) Presentasi bokong

c) Distosia

d) Fetal distress

e) Preeklampsia berat, penyakit kardiovaskuler dan

diabetes

f) Ibu dengan HIV positif sebelum inpartu

3) Indikasi Sosial

a) Wanita yang takut melahirkan berdasarkan

pengalaman sebelumnya.

b) Wanita yang ingin Sectio Caesarea elektif karena

takut bayinya mengalami cedera atau asfiksia selama

persalinan atau mengurangi resiko kerusakan dasar

panggul.

c) Wanita yang takut terjadinya perubahan pada

tubuhnya atau sexuality image setelah melahirkan.

b. Kontra indikasi

Kontraindikasi dari Sectio Caesarea adalah:

1) Janin mati

2) Syok

3) Anemia berat

4) Kelainan kongenital berat

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


5) Infeksi piogenik pada dinding abdomen

6) Minimnya fasilitas operasi sectio caesarea.

B. Placenta Previa

1. Pengertian Placenta Previa

Placenta Previa adalah plasenta dengan implantasi di sekitar

segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh

Ostium Uteri Internum (Manuaba, 2002)

Menurut Winknjosastro(1999) placenta previa adalah plasenta

ada didepan jalan lahir (prae = didepan ; vias : jalan), di kutip dalam

buku (Rukiyah & yulianti, 2010).

Placenta previa adalah keadaan di mana implantasi plasenta

terletak pada atau didekat serviks (Saifuddin dkk, 2002).

Placenta Previa adalah keadaan dimana placenta berimplantasi

pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga

menutupi sebagaian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Ostium Uteri

Internal) (Mochtar, 1998 : Nugraheny, 2010).

Dari beberapa pengertian placenta previa diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa placenta previa adalah palcenta yang

implantasinya berada di depan jalan lahir sehingga menutupi seluruh

permukaan atau sebagian pembukaan jalan lahir.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


2. Etiologi

Etiologi placenta previa tidak diketahui namun lebih sering

dijumpai pada multipara dan kalau placentanya lebar serta tipis.

Diperkirakan kalau terdapat defisiensi endometrium dan decidua pada

segmen atas uterus, maka placenta akan meluas dalam upanyanya

untuk mendapatkan suplai darah yang lebih memadai (Oxorn &

William, 2010).

Sedangkan menurut Winkjosatro (1999) perdarahan tanpa alasan

dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dari placenta previa.

dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih

melebar lagi dan serviks akan lebih membuka. Darahnya berwarna

merah segar, berlainan dengan darah yang disebabkan solusio

placenta yang berwarna kehitam-hitaman (Rukiyah & Yulianti, 2010).

Faktor – faktor yang meningkatkan kejadian placenta previa

(Manuaba, 2010).

a. Umur penderita

1) Umur muda karena endometrium masih belum sempurna

2) Umur di atas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang

kurang subur.

b. Paritas

Pada paritas yang tinggi kejadian placenta previa makin besar

karena endometrium belum sempat tumbuh.

c. Hipoplasi endometrium bila kawin dan hamil diumur muda

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


d. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum

siap menerima hasil konsepsi

e. Endometrium yang cacat

1) Bekas persalinan berulang dengan jarak pendek

2) Bekas operasi, bekas kuretase atau placenta manual

3) Perubahan endometrium pada mioma uteri atau polip

4) Pada keadaan mal nutrisi.

3. Manifestasi klinis

Keluhan utama atau keluhan satu-satunya adalah perdarahan

pervaginam tanpa rasa nyeri. Pada kebanyakan kasus, perdarahan

tidak diketahui sebabnya namun mungkin didahului oleh trauma atau

coitus. Perdarahan pertama hampir tidak pernah membawa kematian.

Perdarahan ini dapat berhenti dan kemudian mulai lagi. Kadang-

kadang darah menetes terus-menerus sehingga pasien menjadi anemis.

Keistimewaan pada placenta previa adalah bahwa derajat anemia atau

syok setara dengan jumlah darah yang hilang (Oxorn & William,

2010)

Perdarahan pada placenta previa terjadi tanpa rasa sakit pada

saat tidur atau sedang melakukan aktivitas. Mekanisme perdarahan

karena pembentukan segmen bawah rahim menjelang kehamilan

aterm sehingga placenta lepas dari implantasi dan menimbulkan

perdarahan. Bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


menimbulkan penyulit pada janin maupun ibu. Penyulit pada ibu dapat

menimbulkan anemia sampai syok sedangkan pada janin dapat

menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim. Implantasi

placenta di segmen bawah rahim menyebabkan bagian terendah tidak

mungkin masuk pintu atas panggul atau menimbulkan kelainan letak

janin dalam rahim (Manuaba, 2002).

4. Klasifikasi

Menurut Oxorn & William (2010) Klasifikasi placenta previa

sebagai berikut:

a. Totalis atau ventralis: keseluruhan Ostium Internum Cervix

ditutup oleh placenta

b. Partialis: sebagian Ostium Internum Cervix ditutup oleh

placenta.

c. Marginalis: Placenta membentang sampai tepi Cervix tapi tidak

terletak pada Ostium. Kalau Cervix menipis dan membuka pada

kehamilan lanjut, placenta previa dapat berubah menjadi jenis

partialis.

5. Komplikasi

Menurut Nugraheny (2010) komplikasi yang terjadi pada

placenta previa adalah:

a. Prolaps tali pusat

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


b. Prolaps placenta

c. Placenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau

perlu dibersihkan dengan kerokan.

d. Robekan – robekan jalan lahir karena tindakan

e. Perdarahan postpartum

f. Infeksi karena perdarahan yang banyak

g. Bayi prematur atau lahir mati.

6. Patofisiologi

Menurut sarwono (2005) sumber perdarahannya adalah sinus

uterus yang terobek karena terlepasnya placenta dari dinding uterus,

atau karena robekan sinus marginalis dari placenta. Perdarahannya

tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen

bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan tersebut,

tidak sama dengan serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada

kala III pada placenta yang letaknya normal. Semakin rendah letak

placenta, maka semakin dini perdarahan yang terjadi. Oleh karena itu,

perdarahan pada placenta previa totalis akan terjadi lebih dini

daripada placenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah

persalinan mulai (Rukiyah & Yulianti, 2010).

Placenta previa adalah implantasi placenta di segmen bawah

rahim sehingga menutupi kanalis servikalis dan mengganggu proses

persalinan dengan terjadinya peredarahan. Implantasi placenta di

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


segmen bawah rahim dapat disebabkan oleh endometrium di fundus

uteri belum siap menerima implantasi, endometrium yang tipis

sehingga diperlukan perluasan placenta untuk mampu memberikan

nutrisi janin, vili korealis pada korion laeve yang persisten.

Pembagian placenta previa menurut tingkatannya:

a) Tingkat I

Placenta previa letak rendah (pada pembukaan 4 cm ujung jari

dapat meraba tepi plasenta).

b) Tingkat II

Placenta previa marginalis, tepi plasenta berimpitan dengan tepi

pembukaan, dulu dipergunakan pembukaan 4 cm.

c) Tingkat III

Placenta previa partialis, plasenta menutupi sebagian

pembukaan 4 cm.

d) Tingkat IV

Placenta previa totalis, seluruh osteum uteri internum tertutup

oleh plasenta, pada pembukaan 4 cm.

C. Masa Nifas

1. Pengertian masa nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari

persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-

hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998).

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,

placenta serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali

organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6

minggu (Saleha, 2009).

Dari pengertian diatas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa

masa nifas adalah masa sesudah kelahiran bayi sampai alat-alat

kandungan kembali seperti sebelum hamil berlangsung kurang lebih

dalam 6 minggu setelah persalinan.

2. Tujuan perawatan masa nifas

Asuhan masa nifas bertujuan menjaga kesehatan ibu dan bayi

baik fisik maupun psikologis; melaksanakan skrining yang

komprehensif; mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila

terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya; memberikan pendidikan

kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga

berencana, menyusui, pemberian imunisasi, perawatan bayi agar tetap

sehat; memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan

payudara; dan memberikan pelayanan keluarga berencana (KB)

(Vivian & Sunarsih, 2011).

3. Perubahan fisiologis

Menurut Vivian & Sunarsih (2011) perubahan fisiolgis selama

masa nifas antara lain:

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


a. Sistem reproduksi

1) Uterus

Pada kala tiga TFU setinggi pusat umbilikus dan beratnya

1000 gram. Selama 7-8 hari pertama mengalami involusi

dengan cepat. Post natal 12 hari sudah tidak dapat diraba

melalui abdomen, setelah 6 minggu ukuran seperti

sebelum hamil setinggi 8 cm dengan berat 50 gram.

2) Lochea

Yaitu pengeluaran darah dan jaringan desidua yang

nekrotik dari dalam uterus. Jenisnya:

a) Rubra (hari 1-4) jumlahnya sedang, berwarna merah,

terutama lendir dan darah.

b) Sanguinolenta berwarna coklat, lendir dari cairan

bercampur darah.

c) Serosa (hari 4-8) jumlah berkurang dan berwarna

merah muda.

d) Alba (8-14) jumlahnya sedikit, berwarna putih atau

hampir tidak berwarna.

3) Serviks

Setelah persalinan ostium eksterna dapat dimasuki 2-3 jari

tangan, setelah 6 minggu serviks menutup.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


4) Vulva dan vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan

yang sangat besar selama proses melahirkan bayi.

5) Perineum

Setelah melahirkan perineum menjadi kendur karena

sebelumnya teregang di tekanan kepala bayi yang

bergerak maju.

6) Dinding abdominal

Abdomen menonjol dan memberikan bentuk seperti masih

hamil selama 2 minggu pertama setelah persalinan

didinding abdominal berelaksasi, dibutuhkan waktu kira-

kira 6 minggu sebelum dinding abdominal kembali seperti

semula.

7) Payudara

Payudara tegang (bengkak), keras, perih dan hangat ketika

di sentuh. Pada hari ke 3 dan ke 4 payudara menjadi

penuh. Masa sebelum laktasi dimulai payudara terasa

lembut dan mengeluarkan cairan kekuningan yang disebut

kolostrum.

b. Sistem kardiovaskuler

1) Volume darah

Perubahan volume darah bergantung pada beberapa faktor,

misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


mobilisasi, serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema

fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan

volume darah total yang cepat, tetapi terbatas. Pada

minggu ke- 3 dan ke- 4 setelah bayi lahir, volume darah

biasanya menurun sampai mencapai volume darah

sebelum hamil. Perubahan terdiri atas volume darah dan

hematokrit (haemoconcentration). Pada persalinan

pervaginam, hematokrit akan naik, sedangkan pada Sectio

Caesarea, hematokrit cenderung stabil dan kembali

normal setelah 4-6 minggu (Vivian & Sutarsih, 2011).

2) Curah jantung

Denyut jantung, volume sekuncup, dan curang jantung

meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah

melahirkan, keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi

selama 30-60 menit karena darah yang bisanya melintasi

sirkulasi uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi

umum (Vivian & Sunarsih, 2011).

c. Perubahan tanda- tanda vital

1) Suhu

Suhu badan sesudah persalinan dapat naik ± 0,5 ºC dari

keadaan normal. Sesudah 12 jam pertama melahirkan,

umunya suhu badan akan kembali normal.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


2) Nadi

Dapat terjadi bradikardi biasanya 6-8 jam pertama setelah

persalinan.

3) Pernafasan

Respirasi akan menurun sampai pada keadaan normal

seperti sebelum keadaan hamil.

4) Tekanan darah

Hipotensi ortostatik yang diindikasikan dengan perasaan

pusing atau pening setelah berdiri dapat berkembang

dalam 48 jam pertama, sebagai akibat dari gangguan pada

daerah persyarafan yang mungkin terjadi setelah

persalinan.

d. Sistem urinaria

Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama setelah

persalinan. Kemungkinan terdapat spasme sfingter dan edema

leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara

kepala janin dan tulang pubis selama persalinan urine dalam

jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam

sesudah persalinan.

e. Sistem gastrointestinal

Setelah pemulihan yang sempurna dari analgetik, anestesi dan

kelelahan, kebanyakan ibu merasa lapar. Rasa sakit pada

perineum dapat menghalangi keinginan defekasi.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


4. Perubahan psikologis

Menurut Straight (2004) ada 3 tahap transisi ke peran menjadi

orang tua selama periode pascapartum, yaitu:

a. Periode Taking In

Selam 1-2 hari persalinan, sikap ibu pasif dan bergantung.

Kesehatan ibu tergantung pada tanggung jawab orang lain untuk

kebutuhan akan rasa nyaman, istirahat, makan, dan kedekatan

hubungan keluarga.

b. Periode Taking Hold

Periode ini berlangsung 3-4 hari setelah melahirkan. Ibu

menaruh perhatian pada kemampuannya untuk menjadi orang

tua yang berhasil dan menerima peningkatan tanggung terhadap

bayinya. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga

membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk

mengatasi kritikan ynag dialami ibu (Saleha, 2009).

c. Periode Letting Go

Setelah kembali serumah, ibu menerima tanggung jawab untuk

perawatan bayinya, ia harus beradaptasi terhadap kebutuhan

ketergantungan bayinya, dan beradaptasi terhadap penurunan

otonomi, kemandirian dan interaksi sosial.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


5. Penatalaksanaan post partum

a. Mobilisasi

Setelah periode istirahat pertama berakhir (biasanya sekitar 2

jam atau 8 jam). Dorong ibu untuk sering melakukan ambulasi

(Bobak, 2000). Sedangkan menurut wiknjosastro (2002) sesudah

8 jam ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan.

b. Diet

Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori,

mengandung cukup protein, cairan, serta banyak buah-buahan

karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi

(Wiknjosastro, 2002).

c. Miksi

Ibu diminta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam postpartum. Jika

dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali

berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi.

Akan tetapi, kalau ternyata kandung kemih penuh, tidak perlu

menunggu 8 jam untuk kateterisasi (Saleha, 2009).

d. Defekasi

Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar (defekasi)

setelah hari kedua postpartum. Jika hari ketiga belum bab maka

perlu diberi obat pencahar, tetapi jika tidak bab juga maka

dilakukan huknah (klisma) (Saleha, 2009).

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


e. Perawatan payudara

Menurut Saifuddin (2002), apabila terjadi payudara

bengkak sangat baik untuk ASI dilakukan:

1) Mengompres payudara dengan menggunakan air basah

dan hangat selama 5 menit.

2) Urut payudara dari arah pangkal menuju putting, untuk

mengurut payudara dengan arah “Z” menuju puting.

3) Keluarkan ASI di bagian depan payudara sehingga putting

menjadi lunak

4) Susukan bayi pada setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak

dapat menghisap seluruh ASI dikeluarkan dengan tangan.

5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.

f. Kebersihan diri

Kebersihan diri pada ibu post partum menurut Saifuddin (2002):

1) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh

2) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah

kelamin dengan sabun dan air.

3) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain

pembalut setidaknya dua kali sehari

4) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air

sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminya.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


5) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi,

sarankan pada ibu untuk menghindari menyentuh daerah

luka.

g. Pemeriksaan pasca persalinan

Pemeriksaan pasca persalinan adalah sebagai berikut:

1) Keadaan umum

2) Keadaan payudara dan putingnya

3) Dinding perut apakah ada hernia

4) Keadaan perineum

5) Kandung kencing, apakah ada sistokel dan retrokel

6) Rektum, apakah ada rektokel dan pemeriksaan tonus

muskulus sfingter ani.

7) Keadaan servik

h. Nasihat untuk ibu postnatal

Menurut Mochtar (1998) adalah:

1) Fisioterapi post natal sangat baik bila diberikan.

2) Sebaiknya bayi disusui.

3) Kerjakan gimnastik sehabis bersalin.

4) Untuk kesehatan ibu, bayi, dan keluarga sebaiknya

melakukan KB untuk menjarangkan kehamilan.

5) Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


D. Konsep Nyeri

1. Pengertian nyeri

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau

potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan

perawatan kesehatan (Smeltzer & Bare, 2002).

Menurut The International Association For The Study

ofPain/IASP (1979) mendefinisikan nyeri sebagai sesuatu yang tidak

menyenangkan, bersifat subjektif dan berhubungan dengan

pancaindera, serta merupakan suatu pengalaman emosional yang

dikaitkan dengan kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial,

atau digambarkan sebagai suatu kerusakan/ cedera (Potter & Perry,

2010).

2. Etiologi

a. Agen cedara fisik adalah penyebab nyeri karena trauma fisik.

b. Agen cedera biologi adalah penyebab nyeri karena kerusakan

fungsi organ atau jaringan tubuh.

c. Agen cedera psikologi adalah penyebab nyeri yang bersifat

psikologi seperti kelainan organic neurosis trumatik,

skizofreniad.

d. Agen cedera kimia adalah penyebab nyeri karena bahan zat

kimia tidak hanya satu stimulus yang menghasilkan suatu yang

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


spesifik dan nyeri, tetapi nyeri memilki suatu etiologi

multimodal. Nyeri biasanya dihubungkan dengan beberapa

proses patologis spesifik. Kelainan yang mengakibatkan rasa

nyeri, mencangkup: infeksi, keadaan inflamasi, trauma, kelainan

degenerative, keadaan toksik metabolic atau neoplasma. Nyeri

dapat juga timbul karena distorsi mekanis ujung-ujung saraf

misalnya karena meningkatnya tekanan di dinding viskus/

organ.

c. Manifestasi klinis

Menurut Amin & Hardhi (2013):

a. Klien melaporkan nyeri secara verbal atau non verbal

b. Tingkat laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada,

iritabel, nafas panjang, mengeluh).

c. Menunjukan kerusakan pada bagian tubuhnya.

d. Perubahan Posisi untuk menghindari nyeri

e. Sikap tubuh melindungi area nyeri

c. Perubahan tekanan darah

d. Tingkah laku berhati-hati

e. Fokus pada diri sendiri dan penurunan interaksi dengan

lingkungan

f. Perubahan dalam nafsu makan dan minum

g. Gangguan tidur.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


4. Klasifikasi

a. Berdasarkan Durasi dan Lamanya

Nyeri dikatagorikan dengan durasi atau lamanya nyeri

berlangsung (akut atau kronis), atau dengan kondisi patologis

(contoh: kanker atau neuropatik) (Potter & Perry, 2010)

1) Nyeri akut

Pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan

yang actual atau potensial atau digambarkan dalam hal

kerusakan sedemikian rupa (international Association for

the study of pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari

intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat

diantisipasi atau prediksi dan berlangsung < 6 bulan

(Amin & Hardhi, 2013).

2) Nyeri kronis

Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak

menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan

yang actual atau potensial atau digambarkan dalam hal

kerusakan sedemikian rupa (international Association for

the study of pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat

dengan intesitas dari ringan hingga berat, terjadi secara

konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


atau prediksi dan berlangsung > 6 bulan (Amin & Hardhi,

2013).

b. Berdasarkan intesitasnya (alat pengukur nyeri)

Terdiri dari nyeri berat, sedang, ringan. Masing- masing

diukur berdasarkan skala dan bersifat subyektif. Macam-macam

skala pengukuran nyeri:

1) Anak – anak

Gambar 2.1: Alat pengukuran skala nyeri pada anak-anak.

Sumber: Potter & Perry (2010)

2) Dewasa

a) Skala intensitas nyeri deskritif

Gambar 2.2: Skala nyeri deskritif

Sumber: Smeltzer & Bare (2002)

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


b) Skala identitas nyeri numerik

Gambar 2.3: Skala nyeri numerik

Sumber: Smeltzer & Bare (2002)

c) Skala analog visual

Gambar 2.4: Skala nyeri visual (Smeltzer & Bare, 2002)

Keterangan :

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan, secara obyektif klien dapat berkomunikasi

dengan baik

4-6 : Nyeri sedang, secara obyektif klien mendesis, dapat

menunjukan lokasi nyeri, dapat mengekspresikannya, dapat

mengikuti perintah dengan baik.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


7-9 : Nyeri berat, secara obyektif klien terkadang tidak dapat

mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan,

dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat

mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi

nafas panjang dan distraksi.

10 : Nyeri sangat berat, pasien sudah tidak mampu lagi.

e. Faktor – faktor yang mempengaruhi nyeri

Menurut Smeltzer & Bare (2002) adalah sebagai berikut:

1) Usia

2) Jenis kelamin

3) Kultur

4) Ansietas

5) Efek plasebo

6) Pengalaman masa lalu

7) Pola koping

8) Support keluarga dan social

D. Anatomi dan fisiologi

Organ reproduksi wanita yang biasa di sebut traktus genitalis terletak

dalam rongga panggul terbagi atas organ genitalia eksterna dan interna

(Manuaba, 2012).

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


1. Organ Genetalia Eksterna

Gambar 2.6: Gambar Genitalia Eksterna Wanita

Sumber: Manuaba (2009)

Organ genitalia eksterna wanita terdiri atas bagian-bagian berikut:

a. Mons Veneris/ mons pubis

Adalah bagian yang menonjol berupa bantalan lemak yang

ditutupi oleh kulit, yang terletak di atas simfisis pubis. Setelah

pubertas, bagian ini akan ditumbuhi rambut (rambut pubis).

Pertumbuhan rambut kemaluan ini tergantung dari suku bangsa.

Pada wanita, umunya batas atasnya melintang sampai pinggir

atas simfisis, sedangkan ke bawah sampai ke sekitar anus atau

paha.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


b. Labia mayora (bibir besar)

Merupakan dua lipatan membulat besar, terdiri atas bagian

kanan dan kiri, lonjong mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan

lemak yang serupa dengan yang ada di mons veneris. Ke bawah

belakang kedua labia mayora bertemu dengan membentuk

komisura posterior. Permukaan sebelah dalam labia mayora

halus dan mengandung banyak kelenjar keringat (glandula

sudorifera) dan kelenjar minyak (glandula sebacea).

Sedangkan, permukaan luarnya setelah pubertas akan tertutup

oleh rambut.

c. Labia Minora (bibir kecil)

Dua lipatan kulit berwarna merah muda yang lebih kecil

terletak memanjang di bagian dalam labia mayora. Kedua labia

minora ini halus, tertutup oleh rambut, tetapi mengandung

sejumlah kelenjar keringat dan kelenjar minyak. Ke depan bibir

kecil bertemu dan membentuk klitoris preputium klitoridis (atas)

dan klitoris frenulum klitoridis (bawah). Ke belakang, kedua

bibir kecil menyatu dan membentuk fossa naviculare/ fourcette

di mana pada wanita yang belum pernah melahirkan tampak

masih utuh, cekung seperti perahu, pada wanita yang pernah

melahirkan kelihatan tebal dan tidak rata, serta dapat mengalami

robekan saat melahirkan. Ujung-ujung urat saraf menyebabkan

labia minora sangat sensitif dan jaringan ikatnya mengandung

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


banyak pembuluh darah, serta beberapa otot polos yang

menyebabkan bibir kecil ini dapat mengembang.

d. Klitoris

Kira – kira sebesar kacang ijo, tertutup oleh preputium

klitoridis dan terdiri atas gland klitoridis, korpus klitoridis, dan 2

krura yang menggantungkan klitoris ke arah tulang pubis. Gland

klitoridis terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh

dengan urat saraf hingga amat sensitif. Klitoris dapat disetarakan

dengan penis pada pria.

e. Vestibulum/ vulva

Untuk memeriksa vestibulum, maka kedua lipatan labia

minora harus dibuka agar vestibulum tampak. Terdapat enam

muara pada vestibulum.

1) Orifisium uretra eksternum

2) 2 duktus skene

3) Introitus vagina

4) 2 duktus dan glandula bartholini

5) Perineum

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


2. Organ Genitalia Interna

Gambar 2.7: Gambar Organ Genitalia Interna wanita

Sumber: Manuaba (2009)

Menurut Manuaba (2009) organ genitalia interna terdiri dari:

a. Vagina

Vagina merupakan saluran muskulo membranasea (otot-selaput)

yang menghubungkan rahim dengan dunia luar, bagian ototnya

berasal dari otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur)

sehingga dapat dikendalikan dan dilatih.

b. Uterus

Bentuk rahim seperti buah pir, dengan berat sekitar 30 gram,

terletak di panggul kecil di antara rektum (bagian usus sebelum

dubur), dan didepanya terletak kandung kemih.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


c. Tuba fallopi

Tuba fallopi berasal dari ujung ligamentum latum, berjalan ke

arah lateral, dengan panjang sekitar 12 cm. fungsi tuba untuk

menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi.

d. Ovarium

Berfungsi untuk menghasilkan sel telur kurang lebih sebesar ibu

jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan

tebal kira-kira 1,5 cm.

E. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Wiknjosastro (2007) sebagai berikut:

1. Anamnesis

Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung

tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida. Banyaknya

perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari

pemeriksaan hamatokrit.

2. Pemeriksaan luar

Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul, ada

kelainan letak janin.

3. Pemeriksaan inspekulo

Untuk mengetahui apakah pendarahan berasal dari ostium uteri

eksternum atau dari kelainan servik dan vagina.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


4. Penentuan letak placenta tidak langsung

Dilakukan dengan ultrasonografi, radiografi, dan radioisotopi.

5. Penentuan letak placenta secara langsung

a. Perabaan fornises

Bila janin presentasi kepala, sambil mendorong sedikit kepala

janin kearah pintu atas panggul perlahan-lahan raba seluruh

forniks dengan jari. Perabaan lunak bisa antar jari dan kepala

tidak terdapat placenta.

b. Pemeriksaan melalui kanalis servikalis

Setelah pada perabaan forniks dicurigai adanya placenta previa,

bila kanalis servikalis telah terbuka perlahan-lahan masukkan

jari telunjuk ke dalam kanalis servikalis untuk meraba kotiledon

plasenta jangan sekali-kali berusaha menyusuri pinggir plasenta

akan terlepas dari insersinya.

F. Penatalaksanaan

Menurut Oxorn & William (2010) penatalaksanaan placenta previa adalah:

1. Terapi menunggu (expectant management)

Karena episode perdarahan yang pertama kali jarang membawa

kematian dan karena janin masih terlampau prematur untuk dapat

hidup di luar kandunga, kehamilan diusahakan diperpanjang demi

keselamatan janin. Usia kehamilan ynag cukup layak untuk dicapai

adalah 37 hingga 38 mnggu.

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014


a. Perawatan rumah sakit: saat dan derajat efisode perdarahan

berikutnya tidak bisa diramalkan. Karena itu, pasien harus

tinggal dirumah sakit.

b. Transfusi: sedikitnya harus tersedia dua unit darah

c. Anemia: transfusi dan tablet besi diberikan bila terdapat anemia.

d. Maturitas paru – paru: Ratio lecithin/ sphingomyelin (L/S)

cairan amnion membantu menentukan waktu optimal kelahiran

bayi.

2. Mangakhiri kehamilan

a. Perdarahan berlebihan, maturitas janin tidak usah dipikirkan.

b. Kehamilan telah mencapai 37 minggu sampai 38 minggu dan

maturitas paru – paru diyakini sudah tercapai.

c. Sectio Caesarea

Operasi ini dilaksanakan dengan indikasi berikut:

a. Perdarahan yang banyak tanpa henti-hentinya

b. Placenta previa totalis atau partialis: diagnosis pasti ditegakkan

dengan pemeriksaan ultrasound.

c. Gawat janin

d. Presentasi abnormal (misalnya presentasi bokong, letak lintang).

Asuhan Keperawatan Pada..., DAHLIA, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014