Anda di halaman 1dari 9

TEORI BELAJAR JEROME S.

BRUNER
ARTIKEL
Disusun untuk memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah
Belajar Dan Pembelajaran Kimia
Dosen Pengampu :
Riri Aisyah, M.Pd.
Imelda Helsy, M.Pd.

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Anggita Triyani (1162080009)
Astri Maulida (1162080012)
Bella Arina Nurintani (1162080013)
Cindy Phangestu (1162080014)
Dayana Nur Baeduri (1162080015)
Desi Latifah Fauziah (1162080016)
Enden Zenal Abidin (1162080025)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018
TEORI BELAJAR MENURUT JEROME S. BRUNER

A. Pengertian Pembelajaran Menurut Jerome S Bruner


Belajar ditentukan oleh bagaimana seseorang mengatur informasi bukan
oleh umur. Setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang
telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang telah dimilikinya Proses
belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru
beradaptasi dengan struktur kognitif yang dimilikinya dan telah terbentuk
didalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-
pengalaman sebelumnya (Asri, 2005).
Teori belajar kognitif mementigkan proses belajar dari pada hasil belajar,
melibtakan proses berfikir yang kompleks (Hamzah, 2006).
B. Proses Belajar Menurut Jerome S Bruner
Menurut Bruner, dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase, yaitu :
1. Informasi, bahwa dalam tiap pelajaran kita memperoleh sejumlah informasi,
ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang
memperhalus dan memperdalamnya, adapula informasi itu yang
bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya
2. Transformasi, kita menganalisa berbagai informasi yang kita pelajari itu dan
mengubah atau mentransformasikannya kedalam bentuk-bentuk informasi
yang lebih abstrak atau konseptual, agar dapat digunakan untuk hal-hal yang
lebih luas.
3. Evaluasi, kita menilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan
transformasikan itu dapat digunakan untuk memahami gejala gejala lain
atau memecahkan permasalahan yang kita hadapi (Tadjab, 1994).
Dalam proses belajar, ketiga fase selalu ada. Yang menjadi masalah ialah
berapa banyak informasi yang diperlukan agar dapat ditransformasikan. lama
tiap fase tidak selalu sama. Hal ini antara lain juga bergantung pada hasil yang
diharapkan, motivasi murid belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan
dorongan untuk menemukan sendiri.
C. Tema Belajar Manurut Jerome S Bruner
Dalam bukunya (Bruner, 1960), Burner mengemukakan empat tema
pendidikan :
1. Pentingnya arti struktur pengetahuan.
Kurikulum hendaknya memikirkan struktur pengetahuan. Hal ini
perlu sebab dengan struktur pengetahuan, kita menolong para siswa
untuk melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak memiliki
hubungan, dapat dihubungkan satu dengan lain, dan pada informasi
yang telah mereka miliki.
2. Kesiapan belajar.
Menurut Bruner (1960:29), kesiapan terdiri atas penguasaan
keterampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang
untuk mencapi keterampilan yang lebih tinggi.
3. Nilai intuisi dalam proses pendidikan.
Dengan intuisi, yang dimaksudkan oleh Bruner (1960:13), adalah
teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi tentatif tanpa
melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi itu
merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak. Hal yang dikemukakan
oleh Bruner ini ialah semacam educated guess yang kerap kali
digunakan oleh guru ilmuan, artis, dan orang-orang kreatif lainnya.
4. Motivasi atau keinginan untuk belajar dan cara-cara yang tesedia pada
para guru untuk merangsang motivasi itu.
Pengaalaman-pengalaman pendidikan yang merangsang motivasi
ialah pengalaman dimana para siswa berpartisipasi secara aktif dalam
menghadapi alamnya. Menurut Bruner, pengalaman belajar semacam
ini dapat dicontohkan oleh belajar pengalaman penemuan yang intuitif
dan implikasi. (Ratna Wilis D, 2006 : 74)

Kata Bruner belajar tidak untuk mengubah tingkah laku seseorang tetapi
untuk mengubah kurikulum sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa
dapat belajar lebih banyak dan mudah.
Sebab itu Bruner mempunyai pendapat, alangkah baiknya bila sekolah dapat
menyediakan kesempatan bagi siswa untuk maju dengan cepat sesuai dengan
kemampuan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Di dalam proses belajar
Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan
baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk meningkatkan proses belajar perlu
lingkungan yang dinamakan “discovery learning environment”, ialah
lingkungan di mana siswa dapat melakukan eksplorasi, penmuan-penemuan
baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah
diketahui. Dalam tiap lingkungan selalu ada bermacam-macam masalah,
hubungan-hubungan dan hambatan yang dihayati oleh siswa secara berbeda-
beda pula.

Dalam belajar guru perlu memperhatikan empat hal berikut ini, yaitu:

1. Mengusahakan agar setiap siswa berpartisipasi aktif, minatnya perlu


ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk mencapai tujuan tertentu;
2. Menganalisis struktur materi yang akan diajarkan, dan juga perlu disajikan
secara sederhana sehingga mudah dimengerti oleh siswa;
3. Menganalisis sequence. Guru mengajar, berarti membimbing siswa melalui
urutan pernyataan-pernyataan dari suatu masalah, sehingga siswa
memperoleh pengertian dan dapat men-transfer apa yang sedang dipelajari;
4. Memberi reinforcement dan umpan balik (feed-back). Penguatan yang
optimal terjadi pada waktu siswa mengetahui bahwa “ia menemukan
jawab”nya. (Slameto, 2010:11-12).
D. Prinsip-Prinsip Belajar Kognitif
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas
belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptualan
dan proses internal. Kegiatana pembelajaran yang berpijak pada teori belajar
kognitif banyak digunakan dalam merumuskan tujuan pembelajaran,
mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik
sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar sangat diperhitungkan, agar
belajar lebih bermakna bagi siswa, sedangkan kegiatan belajarnya mengikuti
pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses
berpikirnya, mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-
tahap tertentu.
2. Anak usia sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan
baik, terutama jika menggunakan benda-benda kognitif.
3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena
hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi
pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu
mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif
yang telah dimiliki siswa.
5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun
dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke
kompleks.
6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal.
Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan
dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah
menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa
yang telah diketahui siswa.
7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena
faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan
tersebut misalnya, pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir,
pengetahuan awal dan sebagainya.

Dengan demikian, Bruner lebih banyak memberikaan kebebasan kepada


siswa untuk belajar sendiri melalui aktivitas menemukan (discovery). Cara
demikian akan mengarahkan siswa kepada bentuk belajar induktif, yang
menuntut banyak dilakukan pengulangan. (Asri Budiningsih, 2005 : 48-49)
E. Prosedur Perkembangan Belajar Kognitif Jerome S Bruner
Bruner adalah tokoh yang mencetuskan konsep belajar penemuan
(discovery), Beliau juga seseorang pengikut setia teori kognitif, khususnya
dalam studi perkembangan fungsi kognitif, dan menandai perkembangan
kognitif menusia sebagai berikut:
Pertama Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan
dalam menanggapi suatu rangsangan. Kedua Peningkatan pengetahuan
tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara realis.
Ketiga Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan
berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang
tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini
berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Keempat Interaksi secara
sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan
bagi perkembangan kognitifnya. Kelima Bahasa adalah kunci perkembangan
kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Bahasa
diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang
lain. Keenam Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk
mengemukakan beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang
tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.
Teori free discovery learning bertitik tolak pada teori belajar kognitif, yang
menyatakan belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan ini
tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Asumsi
dasar teori kognitif ini adalah setiap orang telah memiliki pengetahuan dan
penglaman dalam dirinya. Pengalaman dan pengetauan ini tertata dalam bentuk
struktur kognitif. Maka dari itu Proses belajar akan berjalan dengan baik
apabila materi pelajaran yang baru, beradaptasi atau berkesinambungan secara
‘klop’ dengan struktur kognetif yang sudah dimilki oleh peserta didik. (Asri
Budiningsih, 2005 : 40-41)
Menurut brunner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga
mode representasi, yaitu:
1. Mode representasi enaktif (enaktif mode of representation). Pertumbuhan
intelektualnya ditandai oleh aktivitas atau tindakan.
2. Mode representasi ikonik (iconic mode of representation). Anak
menggunakan semacam icon atau gambaran mental tentang objek untuk
mendapatkan pengetahuan dan untuk meningkatkan pemahamanya
mengenai dunia.
3. Mode representasi simbolik (symbolic mode of representation) . Dalam
mode ini, anak merumuskan system simbolis yang paling efisien yakni
bahasa. (Neil J Salkind, 2009 : 364).
F. Langkah – Langkah Pembelajaran Perspektif Jerome S Bruner
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya
belajar dan sebagainya)
3. Memilih materi pelajaran.
4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif (dari
contoh-contoh ke generalisasi).
5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang
konkret ke abstrak, atau dari tahap enaklit, ikonik sampai ke simbolik.
7. Mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa.
(Asri Budiningsih, 2005 : 50)
G. Alat-Alat Mengajar
Jerome Bruner (dalam Nasution, M.A., 2000 : 15) membagi alat instruksional
dalam 4 macam menurut fungsinya :
1. Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”. Yaitu menyajikan
bahan-bahan kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka
peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat
dilakukan melalui film, TV, rekaman suara dll.
2. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip
suatu gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga
eksperimen atau demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-
langkah untuk memahami suatu prinsip atau struktur pokok.
3. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa
atau tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk
hidup, untuk memberi pengertian tentang suatu ide atau gejala.
4. Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma,
yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi
ballikan atau feedback tentang respon murid.
DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Dahar, Ratna Wilis.2006. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :


Erlangga

Hamzah B., Uno. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta :
Bumi Aksara

Nasution, S. 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar,


Jakarta: Bumi Aksara

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :


Rineka Cipta

Salkind, Neil J. 2009. Teori-Teori Perkembangan Manusia. Bandung : Nusa Media

Tadjab. 1994. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya : Abditama