Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PELANGGARAN ETIKA BISNIS OLEH OREO PT. NABISCO

OLEH :
FIKI MASDA SAPUTRA 1510011211023
RAHMATA YUNAL FIKRI 1510011211027
LIBERTO HARIZA HERMAN 1510011211033
ZICO JUNIARTA MULIA 1510011211035
NANANG GUSDIANTO 1510011211036

UNIVERSITAS BUNG HATTA


PADANG
2017
Etika Bisnis dan Pelanggarannya

Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang

mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga

masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma

dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan

sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.

Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika,

yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan

dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang

berlaku.

Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan

termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan

pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan

sikap yang profesional.

Tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :

1. Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada

konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya

mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada

masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya

serendah-rendahnya.

2. Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan

kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan

ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan

menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.


3. Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang

sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan

baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.

Contoh Kasus Pelanggaran Etika Bisnis oleh Oreo PT. Nabisco

Dijilat,diputer,lalu dicelupin. Itulah sepenggalan kata yang selalu

masyarakat dengar dari salah satu perusahaan biskuit ternama, Kraft Indonesia,

Oreo, sekitar dua tahun yang lampau.

Brand image dengan yel-yel yang mudah dicerna seperti kasus di atas,

sangat melekat kepada anak-anak. Segmentasi PT.Nabisco pun tepat dalam

mengeluarkan produk biskiut coklat berlapiskan susu ini, yaitu anak-anak. Ada

pepatah mengatakan “tak ada satu pun orangtua yang tidak menyayangi anaknya”.

Ini merupakan ungkapan yang tepat bagi orangtua yang mempunyai anak-anak

terlebih anak yang masih berusia kecil. Kekhawatiran orangtua ini, menjadi

membludak sebab diisukannya biskuit oreo, yang merupakan biskuit favorit anak-

anak, mengandung bahan melamin.

Hal ini cukup berlangsung lama di dunia perbisnisan, sehingga tingkat

penjualan menurun drastis. BPOM dan dinas kesehatan mengatakan bahwa oreo

produksi luar negri mengandung melamin dan tidak layak untuk dikonsumsi karna

berbahaya bagi kesehatan maka harus ditarik dari peredarannya. Pembersihan

nama oreo pun sebagai biskuit berbahaya cukup menguras tenaga bagi public

relation PT. Nabisco.

Kutipan BPOM, “Yang ditarik BPOM hanya produk yang berasal dari

luar negeri dan bukan produksi dalam negeri. Untuk membedakannya lihat kode

di kemasan produk tersebut.Kode MD = produksi dalam negeri,aman


dikonsumsi.Sedangkan ML = produksi luar negeri.”Gonjang-ganjing susu yang

mengandung melamin akhirnya merembet juga ke Indonesia.BPOM telah

mengeluarkan pelarangan terhadap peredaran 28 produk yang dicurigai

menggunakan bahan baku susu bermelamin dari Cina,diantaranya yang akrab di

telinga kita antara lain : Oreo sandwich cokelat/wafer stick dan M & M’s.

Maaf kalau mengecewakan para penggemar Oreo tapi ini kenyataan,ini bukan

hoaks lho.

Selain Oreo dan M & M’s ada beberapa produk yang diduga mengandung bahan

susu dari Cina seperti es krim Indo Meiji,susu Dutch Lady dll.

Seperti di ketahui heboh susu dan produk turunannya yang mengandung formalin

telah mengguncang Cina karena telah merenggut nyawa 4 bayi dan menyebabkan

sekitar 6244 bayi terkena penyakit ginjal akut.(sumber : Kompas,20 September

2008)

Analisis :

Dalam perusahaan modern, tanggung jawab atas tindakan perusahaan

sering didistribusikan kepada sejumlah pihak yang bekerja sama. Tindakan

perusahaan biasanya terdiri atas tindakan atau kelalaian orang-orang berbeda yang

bekerja sama sehingga tindakan atau kelalaian mereka bersama-sama

menghasilkan tindakan perusahaan.

Kita mengetahui bahwa Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan

mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral

sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika

bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke

dalam system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk


memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-

orang yang ada di dalam organisasi.

Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika

bisnis terhadap prinsip kejujuran perusahaan besar pun berani untuk mengambil

tindakan kecurangan untuk menekan biaya produksi produk. Mereka hanya untuk

mendapatkan laba yang besar dan ongkos produksi yang minimal.

Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan penggunaan zat

berbahaya dalam produknya . dalam kasus Oreo sengaja menambahkan zat

melamin padahal bila dilihat dari segi kesehatan manusia, zat tersebut dapat

menimbulkan kanker hati dan lambung.

Pelanggaran Undang-undang :

Jika dilihat menurut UUD, PT Nabisco sudah melanggar beberapa pasal,

yaitu :

Pasal 4, hak konsumen adalah :

Ayat 1 : “hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam

mengkonsumsi barang dan/atau jasa”.

Ayat 3 : “hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan

jaminan barang dan/atau jasa”.

1. Nabisco tidak pernah memberi peringatan kepada konsumennya tentang

adanya zat-zat berbahaya di dalam produk mereka. Akibatnya,

kesehatan konsumen dibahayakan dengan alasan mengurangi biaya

produksi Oreo.

Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah :


Ayat 2 : “memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan

jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan,

perbaikan dan pemeliharaan”

Pasal 8

Ayat 1 : “Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang

dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar

yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan”

Ayat 4 : “Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2)

dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib

menariknya dari peredaran”

PT Nabisco tetap meluncurkan produk mereka walaupun produk Oreo tersebut

tidak memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku bagi barang

tersebut.Seharusnya, produk Oreo tersebut sudah ditarik dari

peredaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi

mereka tetap menjualnya walaupun sudah ada korban dari produknya.

Pasal 19 :

Ayat 1 : “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,

pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi

barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan”

Ayat 2 : “Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa

pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang

sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau

pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku”


Ayat 3 : “Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari

setelah tanggal transaksi”

Menurut pasal tersebut, PT Nabisco harus memberikan ganti rugi kepada

konsumen karena telah merugikan para konsumen.

Tanggapan :

1. Nabisco sudah melakukan perbuatan yang sangat merugikan dengan

memasukkan zat berbahaya pada produk mereka yang berdampak buruk

pada konsumen yang menggunakan produk mereka. Salah satu sumber

mengatakan bahwa meskipun perusahaan sudah melakukan permintaan

maaf dan berjanji menarik produknya, namun permintaan maaf itu

hanyalah sebuah klise dan penarikan produk tersebut seperti tidak di

lakukan secara sungguh –sungguh karena produk tersebut masih ada

dipasaran.

Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan oleh PT. Nabisco yaitu

Prinsip Kejujuran dimana perusahaan tidak memberikan peringatan kepada

konsumennya mengenai kandungan yang ada pada produk mereka yang sangat

berbahaya untuk kesehatan dan perusahaan juga tidak memberi tahu.

Melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan pada dasarnya boleh

dilakukan asal tidak merugikan pihak mana pun dan tentu saja pada jalurnya.

Disini perusahaan seharusnya lebih mementingkan keselamatan konsumen yang

menggunakan produknya karena dengan meletakkan keselamatan konsumen

diatas kepentingan perusahaan maka perusahaan itu sendiri akan mendapatkan

keuntungan yang lebih besar karena kepercayaan / loyalitas konsumen terhadap

produk itu sendiri.


Contoh Pelanggaran Lainnya seperti:

1. Pelanggaran etika bisnis terhadap hukum

Sebuah perusahaan X karena kondisi perusahaan yang pailit akhirnya

memutuskan untuk PHK kepada karyawannya. Namun dalam melakukan

PHK itu, perusahaan sama sekali tidak memberikan pesangon

sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Dalam kasus ini perusahaan x dapat dikatakan melanggar prinsip

kepatuhan terhadap hukum.

2. Pelanggaran etika bisnis terhadap transparansi

Sebuah Yayasan X menyelenggarakan pendidikan setingkat SMA.

Pada tahun ajaran baru sekolah mengenakan biaya sebesar Rp 500.000,-

kepada setiap siswa baru. Pungutan sekolah ini sama sekali tidak

diinformasikan kepada mereka saat akan mendaftar, sehingga setelah

diterima mau tidak mau mereka harus membayar. Disamping itu tidak ada

informasi maupun penjelasan resmi tentang penggunaan uang itu kepada

wali murid.

Setelah didesak oleh banyak pihak, Yayasan baru memberikan informasi

bahwa uang itu dipergunakan untuk pembelian seragama guru. Dalam

kasus ini, pihak Yayasan dan sekolah dapat dikategorikan melanggar

prinsip transparansi

3. Pelanggaran etika bisnis terhadap akuntabilitas

Sebuah RS Swasta melalui pihak Pengurus mengumumkan kepada

seluruh karyawan yang akan mendaftar PNS secara otomotais dinyatakan

mengundurkan diri. A sebagai salah seorang karyawan di RS Swasta itu


mengabaikan pengumuman dari pihak pengurus karena menurut

pendapatnya ia diangkat oleh Pengelola dalam hal ini direktur, sehingga

segala hak dan kewajiban dia berhubungan dengan Pengelola bukan

Pengurus.

Pihak Pengelola sendiri tidak memberikan surat edaran resmi

mengenai kebijakan tersebut.Karena sikapnya itu, A akhirnya dinyatakan

mengundurkan diri. Dari kasus ini RS Swasta itu dapat dikatakan

melanggar prinsip akuntabilitas karena tidak ada kejelasan fungsi,

pelaksanaan dan pertanggungjawaban antara Pengelola dan Pengurus

Rumah Sakit.

4. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip pertanggungjawaban

Sebuah perusahaan PJTKI di Jogja melakukan rekrutmen untuk tenaga

baby sitter. Dalam pengumuman dan perjanjian dinyatakan bahwa

perusahaan berjanji akan mengirimkan calon TKI setelah 2 bulan

mengikuti training dijanjikan akan dikirim ke negara-negara tujuan.

Bahkan perusahaan tersebut menjanjikan bahwa segala biaya yang

dikeluarkan pelamar akan dikembalikan jika mereka tidak jadi berangkat

ke negara tujuan. B yang terarik dengan tawaran tersebut langsung

mendaftar dan mengeluarkan biaya sebanyak Rp 7 juta untuk ongkos

administrasi dan pengurusan visa dan paspor. Namun setelah 2 bulan

training, B tak kunjung diberangkatkan, bahkan hingga satu tahun tidak

ada kejelasan. Ketika dikonfirmasi, perusahaan PJTKI itu selalu berkilah

ada penundaan, begitu seterusnya. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa

Perusahaan PJTKI tersebut telah melanggar prinsip pertanggungjawaban


dengan mengabaikan hak-hak B sebagai calon TKI yang seharusnya

diberangnka ke negara tujuan untuk bekerja.

5. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kewajaran

Sebuah perusahaan property ternama di Yogjakarta tidak memberikan

surat ijin membangun rumah dari developer kepada dua orang

konsumennya di kawasan kavling perumahan milik perusahaan tersebut.

Konsumen pertama sudah memenuhi kewajibannya membayar harga tanah

sesuai kesepakatan dan biaya administrasi lainnya.

Sementara konsumen kedua masih mempunyai kewajiban membayar

kelebihan tanah, karena setiap kali akan membayar pihak developer selalu

menolak dengan alasan belum ada ijin dari pusat perusahaan (pusatnya di

Jakarta).

Yang aneh adalah di kawasan kavling itu hanya dua orang ini yang belum

mengantongi izin pembangunan rumah, sementara 30 konsumen lainnya

sudah diberi izin dan rumah mereka sudah dibangun semuannya.

Alasan yang dikemukakan perusahaan itu adalah ingin memberikan pelajaran

kepada dua konsumen tadi karena dua orang ini telah memprovokasi

konsumen lainnya untuk melakukan penuntutan segera pemberian izin

pembangunan rumah. Dari kasus ini perusahaan property tersebut telah

melanggar prinsip kewajaran (fairness) karena tidak memenuhi hak-hak

stakeholder (konsumen) dengan alasan yang tidak masuk akal.

6. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip kejujuran

Sebuah perusahaan pengembang di Sleman membuat kesepakatan

dengan sebuah perusahaan kontraktor untuk membangun sebuah


perumahan. Sesuai dengan kesepakatan pihak pengembang memberikan

spesifikasi bangunan kepada kontraktor. Namun dalam pelaksanaannya,

perusahaan kontraktor melakukan penurunan kualitas spesifikasi bangunan

tanpa sepengetahuan perusahaan pengembang.

Selang beberapa bulan kondisi bangunan sudah mengalami kerusakan

serius. Dalam kasus ini pihak perusahaan kontraktor dapat dikatakan telah

melanggar prinsip kejujuran karena tidak memenuhi spesifikasi bangunan

yang telah disepakati bersama dengan perusahaan pengembang

7. Pelanggaran etika bisnis terhadap prinsip empati

Seorang nasabah, sebut saja X, dari perusahaan pembiayaan terlambat

membayar angsuran sesuai tanggal jatuh tempo karena anaknya sakit

parah. X sudah memberitahukan kepada pihak perusahaan tentang

keterlambatannya membayar angsuran, namun tidak mendapatkan respon

dari perusahaan. Beberapa minggu setelah jatuh tempo pihak perusahaan

langsung mendatangi X untuk menagih angsuran dan mengancam akan

mengambil mobil yang masih diangsur itu.

Pihak perusahaan menagih dengan cara yang tidak sopan dan

melakukan tekanan psikologis kepada nasabah. Dalam kasus ini kita dapat

mengakategorikan pihak perusahaan telah melakukan pelanggaran prinsip

empati pada nasabah karena sebenarnya pihak perusahaan dapat

memberikan peringatan kepada nasabah itu dengan cara yang bijak dan

tepat.
Sumber :

 http://kelompok7rismatulkaromah.blogspot.co.id/2016/06/contoh-kasus-

pelanggaran-etika-bisnis.html