Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Hari/tanggal : Senin/20 November 2017

Pengantar Ilmu Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium terpadu


Asisten Praktikum : Reikha Rahmasari, S.Pt.
Tera Fit Rayani, S.Pt.

CAFETARIA FEEDING PADA UNGGAS

Oleh
Kelompok 3 Senin Pagi
1. Muhammad Fatchurahman Siddiq D24160004
2. Ayu rahayu D24160028
3. Maya Sofiah D24160042
4. Ahmad Suebnovryzal D24160054
5. Viera Pujiastuti D24160071
6. Selina Andandari D24160109

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak unggas merupakan salah satu ternak yang mengkonsumsi pakan yang
hanya mengandung nutrisi yang diperlukan oleh tubuhnya. Sifat dari unggas tersebut
dapat digunakan sebagai tolok ukur nutrien yang dibutuhkan pada unggas. Selain
kandungan nutrisi yang terkandung pada pakan ternak, biasanya ukuran pakan ternak
unggas juga mempengaruhi jumlah pakan yang akan dikonsumsi oleh ternak juga.
Dengan mengetahui jumlah pakan yang dikonsumsi pada ternak unggas diharapkan
mampu memberikan informasi untuk menentukan komposisi yang tepat untuk pakan
yang dibutuhkan oleh ternak.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan menghitung konsumsi bahan pakan yang diberikan


secara terpisah dan menghitung konsumsi energi, protein, kalsium berdasarkan bahan
pakan yang dikonsumsi.
TINJAUAN PUSTAKA

Kafetaria

Kafetaria merupakan pemberian pakan dengan cara memberikan kesempatan


pada ternak untuk memilih sendiri pakan yang disukai secara bebas sehingga akan
diperoleh informasi mengenai selera makan hewan terhadap pakan. Teknik kafetaria
dilakukan dengan suatu cara memberi makan secara bebas yang mana ternak dapat
dengan instingnya memilih sendiri pakan yang disukai (Basri 2009).

Pakan

Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik yang diberikan


kepada ternak yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang
diperlukan dalam proses pertumbuhan, perkembangan serta reproduksi. Kebutuhan
jumlah dan zat-zat makan harus terpenuhi supaya pertumbuhan dan produksinya
menjadi maksimal (Suprijatna 2008).

Jagung

Jagung merupakan butiran yang memiliki total nutrien cerna (TDN) dan net
energi (NE) yang tinggi. Kandungan TDN yang tibggi sekitar 81,9% ialah karena
jagung sangat kaya akan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) yang hampir
semuanya pati, jagung mengandung lemak yang tinggi dibandingkan semua butiran
kecuali oat, mengandung sangat lemah serat kasar oleh karena itu mudah dicerna.
Kandungan ptotein jagung juga rendah dan defisiensi asam amino lisin. Dari semua
butiran hanya jagung yang mengandung karoten. Kandungan karoten jagung akan
menurun atau hilang selama penyimpanan (Suprijatna 2005).

Dedak Padi

Kualitas dedak padi secara kuantitatif dapat dilakukan dilaboratorium dengan


menggunakan metode proksimat. Dedak padi yang berkualitas tinggi mempunyai
protein rata – rata dalam bahan kering adalah 12.4%, lemak 13.6%, dan serat kasar
11.6%. dedak padi menyedakan protein yang lebih berkulitas dari jagung. Dedak padi
kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin (Sobri 2008).
Bungkil Kedelai

Bungkil Kedelai merupakan salah satu pakan yang disukai oleh ternak.
Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai. Kandungan
yang terdapat pada bungkil kedelai kaya akan protein sebesar 41%, lemak sebanyak
4,8% dan rendah akan serat kasar. Pada penggunaan sebagai bahan pakan bungkil
kedelai memiliki zat penghambat berupa trypsin yang dapat dihilangkan dengan
perlakuan pemanasan atau dengan pemberian enzim tripase (Rasyaf 1994).

Kapur

Kapur pada bahan pakan ternak biasanya digunkan untuk memenuhi


kebuuhan ternak akan kalsium. Pemberian kapur pada pakan ternak biasanya tidak
diperlukan dalam jumlah banyak mengingat jumlah kalsium yang diperlukan oleh
hewan ternak tidak terlalu banyak pula. Akan tetapi dalam penggunaannya pada
ternak unggas kalsium akan diperlukan dalam jumlah yang lebih banyak pada ayam
petelur daripada ayam broiler. Hal ini dikarenkan ayam petelur membutuhkan untuk
asupan kalsium lebih banyak daripada ayam broiler untuk memproduksi telur yang
baik. Adapun kekurangan kalsium pada ternaka akan mebuat ternak tersebut menjadi
lemas untuk beraktivitas dan menghasilkan telur dengan kualitas yang kurang baik
(Nawawi 2003).

Ransum Mash

Ransum mash merupakan bahan pakan yang diberikan ke unggas dalam


bentuk tepung.. Ransum mash sendiri memiliki kandungan yang berbeda-beda
tergantung perusahaan yang memproduksi ransum tersebut. Pada ransum mash
kandungan nutrisinya biasanya sudah disesuaiakan dengan kebutuhan ternak untuk
memenuhi kebutuhannya akan energi, protein, serta kandungan nutrien lainnya untuk
produksi (Wahju, 1997).

Ransum Crumble

Ransum crumble merupakan ransum yang diberikan ke ternak dengan bentuk


seperti bongkahan. Ransum crumbel biasanya dibuat dengan cara pencampuran
berbagai bahan pakan yang diperlukan oleh ternak kemudian dibentuk menjadi
bongkahan-bongkahan kecil. Kandungan nutrisi yang terdapat pada ransum crumble
biasanya bervariasi terngantung perusahaan pakan yang mebuat ransum tersebut
(Tilman, 1991).
Konsumsi pakan

Konsumsi pakan ialah suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui


jumlah pakan yang dikonsumsi seekor ternak setiap ekor per hari. Kebutuhan energi,
protein,vitamin dan mineral merupakan kebutuhan unggas yang paling utama. Zat-zat
tersebut diperoleh unggas dari pakan/ransum yang dikonsumsi setiap hari (Wahyu
1984).

Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum adalah banyaknya ransum yang dimakan dalam waktu


tertentu. Konsumsi ransum dapat dihitung dengan cara mengurangi jumlah ransum
yang diberikan dengan jumlah ransum sisa. Konsumsi ransum dapat dipengaruhi
oleh besar dan berat badan ternak, kondisi fisiologis ternak serta laju makanan dalam
pencernaan ternak. Laju makanan dalam pencernaan mempengaruhi jumlah makanan
yang dikonsumsi, yakni makin cepat aliran makanan dalam alat pencernaan makin
banyak pula jumlah makanan yang dikonsumsi. Selain itu, faktor yang mempengaruhi
konsumsi adalah palatabilitas dan selera. Palatabilitas dipengaruhi oleh bau, rasa,
tekstur dan suhu makanan yang diberikan. Selera merupakan faktor internal yang
merangsang lapar. Faktor lain yang mempengaruhi konsumsi ternak adalah
lingkungan dan penyakit (Wahyu 2004).

Ayam

Ayam broiler adalah galur ayam hasil rekayasa teknologi yang memiliki
karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging,
masa panen pendek dan daging baik, dada lebih besar dan kulit licin (North, 1990).
Menurut Rasyaf (1999) ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami
pertumbuhan sangat pesat pada umur 1 – 5 minggu. Kemudian dipaparkan pula ayam
broiler berumur 6 minggu sama besarnya dengan ayam kampung berumur 8 bulan.
Keunggulan ayam broiler didukung oleh sifat genetik dan keadaan lingkungan yang
meliputi makanan teperature lingkungan, dan pemeliharaan.
MATERI DAN METODE

Materi

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah ayam broiler 24
ekor dibagi menjadi 4 kelompok setiap kelompok 6 ekor ayam, kandang kawat
(baterey) individu yang digunakan untuk sebagai tempat ayam yang diamati. Tempat
pakan dan air minum berbentuk cup yang digunakan sebagai tempat untuk
meletakkan pakan yang akan diamati setelah dikonsumsi oleh ternak. Timbangan
digunakan untuk mengukur banyak pakan yang akan diberikan ternak dan bobot
badan ternak. Sekam digunakan untuk sebagai tempat menampung kotoran di bawah
kandang. Adapun bahan pakan yang digunakan pada praktikum ini adalah jagung,
dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai, kapur, ransum mash, crumble, dan air
minum

Metode

Cafetaria Feeding
Pada praktikum ini digunakan metode cafetaria feeding yang digunakan untuk
mengetahui jumlah konsumsi pakan pada ternak. Metode ini dilakukan dengan cara
menggunakan 6 perlakuan sehingga digunakan 6 ternak yang telah dipuasakan
terlebih dahulu selama 24 jam yang kemudian ditimbang bobot badannya. Perlakuan
pertama yang deiberikan kepada ternak adalah pemberian pakan berupa jagung,
tepung ikan, bungkil kedelai, dan kapur. Perlakuan kedua yaitu pemberian pakan
berupa dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai, dan kapur. Perlakuan ketiaga yaitu
pemberian pakan berupa jagung, dedak padi, tepung ikan, dan kapur. Perlakuan
keempat yaitu pemberian pakan berupa jagung, dedak padi, bungkil kedelai, dan
kapur. Perlakuan kelima yaitu pemberian pakan berupa jagung, dedak padi, tepung
ikan, bungkil kedelai, dan kapur. Perlakuan keenam yaitu pemberian pakan berupa
ransum mash dan ransum crumble. Takaran pakan yang diberikan ke ternak adalah
jagung sebanyak 50 gr, dedak padi sebanyak 50 gr, tepung ikan sebanyak 50 gr,
bungkil kedelai sebanyak 50 gr, kapur sebanyak 10 gr ransum mash sebanyak 50 gr,
dan ransum crumble sebanyak 50 gr. Setelah diberikan pakan selama 24 jam jumlah
konsumsi pakan oleh ternak dihitung berdasarkan sisa pakan pada tempat pakan.
Setelah diketahui jumlah konsumsi pakan pada ternak kemudian dicari konsumsi
energi, protein, dan kalsium yang diperlukan oleh ternak menggunaka persamaan
yang telah ditentukan
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pada praktikum cafetaria feeding pada ternak ayam dengan enam perlakuan,
data rataan konsumsi pakan, serta masing-masing konsumsi sumber nutrien dapat
dilihat pada tabel berikut

Tabel 1 Rataan konsumsi pakan pada ternak Ayam

Konsumsi Pakan
Bahan Pakan
P1 P2 P3 P4 P5 P6
Jagung 18,21 0,00 3,16 7,16 6,54 0,00
Dedak Padi 0,00 1,63 3,28 1,63 1,38 0,00
Bungkil Kedelai 18,93 2,94 0,00 8,49 10,20 0,00
Tepung Ikan 3,61 0,79 1,47 0,00 0,78 0,00
Kapur 0,12 0,47 0,29 0,09 0,18 0,00
Mash 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 17,63
Crumble 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 15,63
TOTAL 40,87 5,83 8,19 17,37 19,08 33,27

Tabel 2 Rataan konsumsi pakan sumber energi pada ternak Ayam

Sumber Energi
Bahan Pakan
P1 P2 P3 P4 P5 P6
Jagung 60,10 0,00 10,41 23,61 21,60 0,00
Dedak Padi 0,00 3,10 6,23 3,10 2,62 0,00
Bungkil Kedelai 42,58 6,63 0,00 19,10 22,95 0,00
Tepung Ikan 52,05 8,10 0,00 23,34 28,05 0,00
Kapur 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Mash 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 52,90
Crumble 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 46,90
TOTAL 154,72 17,83 16,64 69,16 75,21 99,80
Tabel 3 Rataan konsumsi pakan sumber protein pada ternak Ayam

Sumber Protein
Bahan Pakan
P1 P2 P3 P4 P5 P6
Jagung 1,55 0,00 0,27 0,61 0,56 0,00
Dedak Padi 0,00 0,21 0,43 0,21 0,18 0,00
Bungkil Kedelai 9,08 1,41 0,00 4,07 4,90 0,00
Tepung Ikan 2,17 0,47 0,88 0,00 0,47 0,00
Kapur 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Mash 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,88
Crumble 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3,44
TOTAL 12,80 2,10 1,57 4,90 6,10 7,32

Tabel 4 Rataan konsumsi pakan sumber mineral pada ternak Ayam

Sumber Mineral
Bahan Pakan
P1 P2 P3 P4 P5 P6
Jagung 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Dedak Padi 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Bungkil Kedelai 0,05 0,01 0,00 0,02 0,03 0,00
Tepung Ikan 0,23 0,05 0,10 0,00 0,05 0,00
Kapur 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Mash 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,18
Crumble 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,16
TOTAL 0,29 0,07 0,10 0,03 0,08 0,33

Tabel 5 Konsumsi pakan sumber energi, sumber protein dan sumber mineral pada
setiap perlakuan

P1 P2 P3
Bahan Pakan
K1 K2 ∆K K1 K2 ∆K K1 K2 ∆K
Jagung 50,0 44,5 5,5 0,0 0,0 0,0 50,0 49,4 0,6
Dedak Padi 0,0 0,0 0,0 50,0 48,9 1,1 50,0 49,0 1,0
Bungkil 50,0 34,8 15,2 50,0 40,5 9,5 0,0 0,0 0,0
Kedelai
Tepung Ikan 50,0 49,7 0,3 50,0 50,0 0,0 50,0 50,0 0,0
Kapur 10,0 10,0 0,0 10,0 10,0 0,0 10,0 10,0 0,0
Mash 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Crumble 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
P4 P5 P6
Bahan Pakan
K1 K2 ∆K K1 K2 ∆K K1 K2 ∆K
Jagung 50,0 47,2 2,8 50,0 47,7 2,3 0,0 0,0 0,0
Dedak Padi 50,0 48,4 1,6 50,0 49,2 0,8 0,0 0,0 0,0
Bungkil Kedelai 50,0 47,9 2,1 50,0 50,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Tepung Ikan 0,0 0,0 0,0 50,0 50,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Kapur 10,0 9,6 0,4 10,0 10,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Mash 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 50,0 50,0 0,0
Crumble 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 50,0 49,3 0,7
Keterangan : K1 : keadaan pemberian pakan awal
K2 : keadaan pakan sisa
∆K : konsumsi pakan
Pembahasan

Sistem pemberian pakan secara kafetaria atau cafeteria feeding system adalah
pemberian pakan dengan cara memberikan kesempatan kepada hewan untuk memilih
pakan yang disukai secara bebas. Dalam penelitian aspek nutrien hewan budidaya,
sistem pemberian pakan secara kafetaria sudah sering digunakan untuk memperoleh
informasi selera makan hewan terhadap pakan (Basri 2009).
Komposisi tubuh ternak dipengaruhi oleh umur, jenis ternak dan makanan
yang dimakan. Tubuh ternak dibangun dari zat-zat makanan yang diperoleh dari
ransum yang dikonsumsi. Ayam akan memenuhi energi sesuai dengan yang
diperlukan. Jika energi di dalam ransum rendah, ayam akan makan lebih banyak.
Begitu pula bila kandungan energi ransum tinggi, akan mengurangi jumlah
makanannya. Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum dan kebutuhan
protein ayam, yaitu ukuran dan bangsa ayam, temperatur lingkungan, sistem
perkandangan, ruang tempat makan per ekor ayam, luas ruang kandang, air minum
bersih dan dingin, tingkat penyakit dalam kandang, dan kandungan energi dalam
ransum (Rahayu et al 2011).
Selera hewan terhadap pakan yang disukai mempunyai batas waktu tertentu,
bila hewan terlalu lama mengkonsumsi pakan tertentu, selera makan hewan pada
pakan tersebut menurun meskipun pakan itu sangat disukai penurunan selera makan
ditandai dengan penurunan konsumsi (Basri 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh bahwa ayam lebih
memilih mengonsumsi jagung sebagai sumber energi dibandingkan pakan yang lain
sebanyak rata-rata 19, 27 gram per ayam. Data tersebut membuktikan bahwa jagung
memiliki palatabilitas yang tinggi. Jagung merupakan butiran yang memiliki total
nutrien cerna (TDN) dan net energi (NE) yang tinggi.
Kandungan TDN yang tinggi sekitar 81,9% aalah karena jagung sangat kaya
akan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) yang hampir semuanya pati, jagung
mengandung lemak yang tinggi dibandingkan semua butiran kecuali oat,
mengandung sangat lemah serat kasar oleh karena itu mudah dicerna (Suprijatna
2005).
Konsumsi protein tertinggi adalah pada bahan pakan bungkil kedelai dengan
rata-rata 3,24 gram tiap ayamnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rasyaf
(1994) yang menyatakan bahwa bungkil kedelai merupakan salah satu pakan yang
disukai oleh ternak. Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji
kedelai. Kandungan yang terdapat pada bungkil kedelai kaya akan protein sebesar
41%, lemak sebanyak 4,8% dan rendah akan serat kasar.
Sumber mineral yang diguanakan dalam pengamatan ini adalah kapur
sebanyak 10 gram tiap ayamnya. Rata-rata konsumsi ayam sebesar 0,15 gram. Kapur
pada bahan pakan ternak biasanya digunkan untuk memenuhi kebuuhan ternak akan
kalsium. Jumlah kapur yang dikonsumsi ayam pada pengamatan terbilang sedikit. Hal
ini sesuai dengan pernyataan dari Nawawi (2003) yang menyatakan bahwa
pemberian kapur pada pakan ternak biasanya tidak diperlukan dalam jumlah banyak
mengingat jumlah kalsium yang diperlukan oleh hewan ternak tidak terlalu banyak
pula.
Ayam ras pedaging pada periode starter memerlukan energi 3000 kkal/kg dan
protein 23%, periode finisher membutuhkan energi 2860-3410 kkal/kg ransum pada
tingkat protein 17.5-21 % (Zulfanita et al. 2011). Pada masing-masing perlakuan
jumlah pakan sumber energi yang paling disukai ternak berupa jagung yang
dikonsumsi tidak mencapai 5 gram, artinya dalam satu hari ternak hanya memperoleh
kurang dari 16.75 kkal. Sumber protein yang dikonsumsi juga rata-rata tidak
mencapai lebih dari 10 gram, hanya memenuhi kurang dari 5 % dari kebutuhan
protein ayam broiler. Sehingga menyebabkan penurunan bobot badan pada ternak
ayam broiler. Sumber mineral pada pakan tidak diberikan terlalu banyak karena
jumlah yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak (Nawawi 2003), terlihat pada salah
satu hasil perlakuan dimana sumber mineral yang dikonsumsi hanya mencapai 0.4
gram.
Ayam perlakuan empat pada kelompok 3 hari pertama mengalami kematian
sekitar jam 12 siang. Hal ini karena faktor kandang yang kurang mendukung bagi
beberapa ayam sehingga menyebabkan sebagian ayam mati. Karena kandang ayam
tersebut terlihat pengap dan kebanyakan dari ayam tersebut lemas dan tidak banyak
bergerak atau aktif. Keadaan kandang tersebut membuat konsumsi pakan ayam
menurun sehingga akan mengakibatkan ayam mengalami kematian (Rahayu et al
2011). Kematian/mortalitas pada ayam broiler sering terjadi pada periode finisher,
tingkat mortalitas dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya bobot badan, bangsa,
tipe ayam, iklim, kebersihan lingkungan dan lain-lain (Manurung 2011).
SIMPULAN
Sistem pemberian pakan secara kafetaria sudah sering digunakan untuk
memperoleh informasi selera makan hewan terhadap pakan, ternak unggas
mengonsumsi pakan berdasarkan kebutuhan nutrien, kandungan nutrien serta
mempertahankan kondisi nyaman untuk kelangsungan hidup. Pada perlakuan
keseluruhan bobot ayam turun menunjukkan bahwa pakan yang dikonsumsi tidak
mencukupi kebutuhan nutrisi ternak, penurunan bobot ini disebabkan oleh penurunan
selera makan.

DAFTAR PUSTAKA
Basri M. 2009. Selera makan anoa gunung (Babalus quarlesi) pada system kafetaria
(Studiprabudidaya untuk penangkaran Anoa di Palu, Sulawesi Tengah). J.
Agroland. 16(3) :283-289.
Manurung EJ. 2011. Performa ayam broiler pada frekuensi dan waktu pemberian
pakan yang berbeda [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.
Nawawi M. 2003. Ransum Ayam Kampung. Jakarta(ID): Penebar Swadaya.
North MO, DD Bell. 1990. Commercial Chicken Product Manual. New York(USA):
Van Nostrand Reinhold.
Rahayu I, Sudaryani T, dan Santosa H. 2011. Panduan Lengkap Ayam. Penebar
Swadaya : Jakarta.
Rasyaf M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Jakarta(ID): Kansius.
Rasyaf. 1999. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta(ID): Penebar Swadaya.
Sobri dan Prihatini. 2008. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum.
Malang(ID): Universitas Brawijaya
Sprijatna E. Atmomarsono U, Kartasudjana R. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Jakarta(ID): Penebar Swadaya.
Suprijatna, E Umiyti, A Ruhyat. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Jakarta(ID):
Penebar Swadaya.
Tilman ADS, S Pawirokusumo, dan S Lebdosekejo. 1991. Ilmu Makanan Ternak
Dasar. Yogyakarta(ID): Universitas Gajah Mada.
Wahju J. 1997. Ilmu Nutrisi Ternak Unggas. Yogyakarta(ID):Universitas
Gajah Mada.
Wahyu J. 1984. Penuntun Praktis Beternak Ayam. Cetakan ke-4. Bogor(ID): Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor
Wahyu. 2004.Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-5. Yogyakarta(ID): Gadjah Mada
University Press.
Zulfanita, Eny R, Utami DP. 2011. Pembatasan ransum berpengaruh terhadap
penambahan bobotbadan ayam broiler pada periode pertumbuhan. Mediagro.
7(1) : 59-67.